
Setelah keramaian di aula selesai dan ruangan tersebut ditata ulang kembali, semuanya pergi dari tempat itu. Para pedagang masuk ke kamar mereka masing-masing untuk membersihkan tubuh dengan lap kain hangat yang disediakan para pelayan penginapan. Berbeda dengan mereka semua, Odo, Porzan, Fiola, dan Aprilo berpindah tempat untuk melakukan pembicaraan serius terkait apa yang anak berambut hitam itu tawarkan.
Tempat pembicaraan mereka adalah kamar khusus milik Aprilo di lantai tiga penginapan. Saat masuk dan melihat isi kamar, Odo sempat terkejut dan menghentikan langkah kaki. Berbeda dengan kamar yang dirinya dan Fiola sewa, tempat itu terdapat lebih banyak barang dan lebih seperti kamar pribadi. Mengamati semua itu, anak tersebut tersenyum ringan karena mendapat informasi berguna lainnya dari pengamatan.
“Jangan sungkan, masuklah, Tuan Luke.”
“Ya ....”
Di dalam kamar yang cukup luas itu, mereka berempat duduk di depan meja berbentuk bundar di depan ranjang. Model meja dan kursi tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di aula, hanya saja warna dan sulaman taplaknya sedikit lebih mewah. Saat Odo menyentuh permukaannya dengan telapak tangan, ia tahu kalau itu terbuat dari sutra.
Seorang bawahan pengawal Eksekutif tersebut menutup pintu, lalu berdiri di sana sebagai penjaga. Dia adalah pria yang tadi ikut sebagai juri, sekarang berpakaian seperti Butler dan menunjukkan statusnya sebagai pendamping Eksekutif tersebut.
“Kalau begitu, mari kita mulai pembicaraannya,” ucap Aprilo seraya tersenyum ramah. Senyuman palsu itu sangat mirip dengan apa yang sering Odo perlihatkan, itulah yang Fiola rasa dari pria paruh baya dengan sorot mata biru itu.
“Tunggu, sebelum itu boleh saya tanya?” sela Porzan. “Sebenarnya siapa gadis kecil yang selalu mengikuti Tuan Luke? Tadi saat di aula, Anda juga memintanya sebagai juri ....”
“Maaf telat memperkenalkan diri, wahai tuan-tuan sekalian ....” Fiola bangun dari tempat duduk, mengambil beberapa langkah menjauh dari meja dan sedikit membungkukkan tubuhnya. Kembali berdiri tegak, ia berkata, “Diriku adalah salah satu dari Shieal sekaligus Kepala Pelayan di Mansion Keluarga Luke, Fiola. Salam kenal, tuan-tuan ....”
Semua orang kecuali Odo terbelalak mendengar nama itu, bahkan pria yang berjaga di dekat pintu saking terkejut mulutnya sampai menganga. Aprilo dan Porzan bangun dari tempat duduk, lalu membungkuk hormat kepada perempuan rambut cokelat kehitaman tersebut.
Kembali duduk di tempat masing-masing, suasana menjadi sedikit canggung karena perkenalan Fiola tadi. Untuk memecahkan suasana, Aprilo bertepuk tangan satu kali dan berkata, “Igra, tolong bawakan teh dan cemilan untuk kami ....”
“Ya, Tuanku.” Pria itu membuka pintu dan keluar dari ruangan.
Saat pelayan pria tersebut keluar, Odo membuka mulut dan baru berbicara, “Boleh aku langsung ke intinya?”
“Ya, silakan saja,” jawab Aprilo.
“Bagaimana caranya kalian mendapat bahan masakan itu dari kekaisaran? Maksudku, kecap itu .... ”
Pertanyaan tersebut membuat kedua pria itu tersentak, mulai tidak tenang dan keringat dingin keluar deras. Melirik secara bersamaan ke arah Shieal di ruangan itu, kedua pria itu mulai saling menatap satu sama lain dan menelan ludah dengan berat.
“Saya pedagang, tentu saja dari jual beli. Memangnya apa lagi ...?”
“Hmm, jual beli rupanya. Hah, aku tidak tahu itu .... Jual beli dengan negeri yang sedang konflik? Lagi pula, bukannya jalur perdagangan kota ini sedang bermasalah?” Odo mengangkat tiga jari kanannya, lalu berkata, “Anda tahu, bahkan pemerintah ingin mengekspor barang ke luar kota juga sulit karena ulah bandit, monster dan sekarang ada juga badai.”
Menurunkan kedua telapak tangan ke atas meja, anak lelaki itu memasang ekspresi wajah datar dan mulai melihat mereka berdua dengan tatapan curiga yang dipancarkan dengan jelas. Menyeringai datar, ia berkata, “Bandit ..., ya .... Hmp, bandit ....”
Aprilo dan Porzan gemetar mendengar kata itu, semakin memucat dan seakan tidak berkutik. Di dalam satu ruangan dengan Shieal dan melakukan pembicaraan seperti itu, mereka sama saja seperti diinterogasi oleh anak tersebut. Dari kedua pria tersebut, yang paling takut adalah Porzan. Koki itu melepas topi, lalu memangkunya dan mulai menundukkan wajah tanpa bisa berkata.
“A-Apa yang Anda bicarakan? Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu? Bukannya kita di sini untuk bicara tentang kerja sama?” ucap Aprilo.
“Ya, kerja sama .... Karena itu, maukah kalian mengakui apa yang telah kalian perbuat? Oh, wahai Eksekutif Pedagang dari cabang Kota Mylta dan partnernya, bagaimana?”
Aprilo benar-benar bungkam mendengar perkataan anak itu. Ia membuang pandangan dengan berat, lalu bergumam pelan, “Apa ini akhirnya, ya ....”
“Tetang saja, ini bukan akhir.” Odo mendengar itu. Tersenyum ringan, ia berkata, “Kalau Anda mengatakan yang sebenarnya, saya janji tidak melaporkan ini kepada pemerintahan. Anda tahu, saya bukan orang pemerintah.”
“Meski Anda tidak, tapi Shieal di sana punya wewenang yang bahkan setara dengan atau lebih tinggi dari Walikota .... Ini sama saja Anda mengancam kami ....” Aprilo menatap kesal, dirinya merasa dijebak oleh anak itu.
Tersenyum ringan, Odo kembali menekan, “Ceritakan saja, aku berjanji tidak akan melaporkannya dan takkan membiarkan Fiola melakukan sesuatu pada kalian. Benar begitukan, Mbak Fiola?” Menatap Huli Jing itu, Odo tersenyum ringan.
“Ya .... Sebenarnya saja tidak terlalu peduli dengan masalah seperti itu. Asal tidak ada yang mengancam nyawa Nyonya, diriku tidak akan melakukan sesuatu dengan wewenang yang diriku miliki. Apa lagi ..., kalau itu permintaan anak Nyonya.”
Meski telah mendengar itu, kedua orang tersebut tetap terlihat cemas dan tidak percaya. Tetapi saat paham tidak punya pilihan lain, Aprilo berbicara, “Baiklah, diriku akan bicara. Sebagai gantinya, kalau diriku tertangkap jangan tahan istri dan anak saya .... Apa yang diriku lakukan tak ada kaitannya dengan keluargaku.”
“Sa-Saya juga! Tolong jangan sentuh keluarga saya dan tempat ini!” ucap Porzan panik.
“Tenang saja, saya tidak akan melakukan hal sekejam itu,” ucap Odo dengan senyum ramah. Menarik napas ringan, ia pun mulai bertanya, “Jadi apa kalian berhubungan dengan para bandit?”
“Iya ...,” jawab Aprilo. “Kami membayar pajak pada mereka untuk rute aman tanpa monster dan penjarahan ....”
“Pajak?”
“Hmm, sejak apa yang dilakukan Marquess Dart dengan membantai sebagian besar bandit yang ada di hutan dan gunung, mereka mulai berpikir untuk bertahan hidup dan berhenti menjarah secara terang-terangan ....”
Odo langsung memahami apa yang dikatakan pria itu. Demi mengamankan rute yang ada, para pedagang lebih memilih percaya pada kelompok bandit dari pemerintahan. Alasannya sederhana, wilayah Luke secara mendasar tidak terlalu memikirkan pihak Serikat dan kebijakan-kebijakan memang selalu merugikan mereka. Memang Dart Luke sangatlah dermawan dan juga istrinya dikenal sangat bijak, tetapi itu hanya sebatas orang baik. Sebagai seorang pemimpin, kedua orang tersebut tidak terlalu memikirkan sebab akibat dari kebaikan yang diberikan mereka dapat menimbulkan api permusuhan di sudut yang tidak mereka ketahui.
“Begitu, ya .... Pungutan liar, kalau yang tak mau membayar mereka harus menyerahkan nyawa,” ucap Odo seraya menganggukkan kepala.
“Benar, semacam itu.”
“Kenapa Anda tidak melaporkannya ke pihak pemerintah?”
Odo tertegun mendengar perkataan Eksekutif tersebut. Dirinya tidak terlalu mengerti apa saja yang telah dilakukan Ayahnya sebagai seorang pemimpin, anak bernama Odo Luke tersebut pada dasarnya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengurung diri di perpustakaan atau berkeluyuran di hutan demi meningkatkan sihirnya. Ia mulai baru benar-benar peduli pada apa yang diurus keluarganya barulah beberapa bulan yang lalu.
Aprilo mulai terlihat kesal, mengepalkan kedua tangannya ke atas meja dan tegas berkata, “Terlebih lagi, Ayah Anda itu sangat keterlaluan .... Padahal sudah menelantarkan wilayah selama beberapa tahun dan menyerahkannya pada Tuan Rein, tetapi saat baru mengambil alih kembali ia langsung meminta hal seperti itu. Memang sejak dia mengambil alih haknya, wilayah Luke ini semakin bersatu. Tetapi, itu karena mereka yang tertindas dan sisa-sisa peperangan ditekan secara paksa ....”
“Apa ... Anda membenci Ayahku?”
“Tidak juga .... Tetapi, saya lebih suka saat Tuan Rein mengatur wilayah ini. Mendiang ayahku juga mengatakan hal serupa ....”
Odo tahu maksud perkataan itu. Menghormati privasi pria tersebut, ia memilih tidak lanjut bertanya arti di baliknya. Menghela napas ringan, anak itu berkata, “Untuk memastikan saja, aku sama sekali tidak ada kaitannya dengan Ayahku untuk apa yang kulakukan di sini.”
“Diriku tahu .... Dart Luke, pria itu memang tipe orang seperti itu .... Dia memiliki ego tinggi dan sedikit temperamental. Yah, tidak aneh memang kalau keluarga militer seperti Luke memiliki sifat seperti itu.”
Odo memasang wajah kewalahan, tersenyum simpul dan berkata, “Eng, Tuan Aprilo, bisa tolong Anda tidak terlalu bicara buruk tentang Ayahku? Aku ini anaknya, loh.”
“Maaf, diriku sepertinya terlalu tak sopan. Saya paham Anda bukan orang semacam itu, dari pembicaraan Anda di aula tadi juga saya sudah paham kalau Tuan— Boleh saya panggil Tuan Odo saja?”
“Silakan.”
“Ehm, Tuan Odo bisa menahan emosi dan berpikir logis layaknya pemimpin yang berkepala dingin. Tuan berbada sekali dengan ayah Anda, malah sikap Anda sangat mirip dengan Saint Mavis.”
“Saint?” Odo sedikit terkejut, sedikit melebarkan mata, ia bertanya, “Apa Anda dekat dengan pihak religi?”
“Ya, begitulah. Meski seorang pedagang, diriku seorang penganut yang taat.”
Kepingan dalam kepala Odo seakan terkumpul sempurna. Tersenyum ringan, dirinya mulai menurunkan tingkat kewaspadaan. “Begitu, ya .... Dana-dana yang katanya sering masuk ke Gereja Utama jadi dari Anda?” ucap anak itu dengan santai.
“Apa Anda juga memiliki hubungan dengan Gereja Utama kota ini?”
Odo mengambil Rosario dari saku celana, lalu meletakkannya ke atas meja. Ketiga pria di ruangan itu kembali dibuat terkejut anak itu, benar-benar merasa seperti hewan buruan yang sudah dijerat. Dengan cara yang sama seperti saat dirinya membujuk pengganti sementara Walikota dan Pihak Religi, pembicaraan pun berjalan lancar seperti apa yang anak itu harapkan.
Mereka membicarakan tujuan Odo yang ingin mengubah kondisi ekonomi kota dan membuat tempat tersebut menjadi lebih baik. Dari hal itu, sebuah kantor distributor perlu dibangun olehnya untuk memeratakan barang dari tempat lain dan menjual hasil perekonomian kota.
Hal tersebut bertabrakan dengan fungsi kantor Serikat Dagang di kota Mylta tersebut. Dari hal itu, Odo meminta rincian tentang barang apa saja yang dijual Serikat Dagang supaya barang yang akan dijualnya tidak bertabrakan dan terjadi perang harga nantinya. Dalam hal tersebut, Aprilio tidak terlalu banyak bicara karena memang dirinya tertarik dengan barang yang akan dijual Odo nantinya. Alasannya karena dirinya telah merasakan sendiri perbedaan rasa makanan dari bahan yang berbeda. Selain itu, pria tersebut juga dapat menjual barang-barang unik yang dibicarakan anak itu kepada pedagang lain melalui relasi yang ada.
Lanjut ke pembicaraan selanjutnya, mereka mulai membicarakan masalah konflik internal kota soal masalah pihak radikal yang ingin revolusi. Serikat Dagang sendiri dirugikan karena hal tersebut, sebab mulai banyak tenaga kerja yang mogok dan ikut serta dalam kumpulan semacam itu. Pada pembicaraan yang Odo tawarkan, ia memberitahukan rencananya kepada pria itu tentang menggunakan Pihak Religi sebagai pembasi paham yang masuk karena ulah dari orang-orang Moloia.
Mendengar fakta kalau kepercayaan penduduk kota kepada pemerintah akan berkurang, pria Eksekutif itu setuju dengan cepat. Itu sangat menandakan tidak percayanya ia dengan pihak pemerintahan dan Odo hanya tersenyum miris mendapat jawaban cepat itu.
Pada pembicaraan terakhir mereka, Odo melontarkan sebuah pertanyaan kepada kedua pria tersebut, “Bagaimana para bandit menurut kalian?” tanyanya dengan nada sangat mendalam. Itu tidak mudah dijawab oleh mereka, sejenak berpikir dan sungguh-sungguh mencari jawaban.
Memasang wajah sedikit sedih, Aprilo menjawab, “Kurasa ..., jujur ini sangat miris. Saat melihat anak-anak dan perempuan desa yang diculik di markas para bandit, rasa sakit di dada memang memuatku ingin berhenti bekerja sama dengan orang-orang barbar itu. Membayangkan anak dan istriku diperlakukan seperti itu, rasanya sebagai seorang yang bermartabat diriku....”
Mendengar jawaban tersebut, Odo tersenyum ringan dan berkata, “Syukurlah, Anda masih menjadi punya sifat manusiawi ....”
Perkataan itu seakan menyelamatkan Aprilo dari rasa bersalah yang selalu menghantui, matanya berkaca-kaca menatap anak itu dan benar-benar merasa kagum padanya. Meski Odo masih anak-anak, Aprilo benar-benar menghormatinya sebagai seorang pria bermartabat.
Tersenyum ringan, anak itu berkata, “Saya sarankan lebih baik Anda putuskan hubungan Anda dengan para bandit, sekarang juga. Itu demi kebaikan Anda ....”
“Tapi ... kalau seperti itu kondisi pasar di tempat ini bisa terpuruk lagi.”
“Jangan cemas, bulan depan semua jalur mungkin akan terbuka. Tidak, itu pasti akan terbuka. Aku janji itu ..., Anda bisa memegang perkataanku sebagai jaminannya.”
.
.
.
Setelah selesai melakukan pembicaraan dengan mereka dan membuat kontrak yang sementara hanya sebatas lisan dulu, Odo dan Fiola meninggalkan kamar Eksekutif tersebut. Setelah saling membungkuk hormat, pintu ditutup dan pembicaraan benar-benar berakhir.
Tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut anak itu, Odo segera berjalan cepat menyusuri koridor penginapan dan menuruni anak tangga untuk pergi ke kamarnya sendiri. Fiola sempat terkejut, memanggil, “Tuan! Tuan Odo!” Tetapi anak itu sama sekali tidak menoleh dan tetap berjalan cepat.
Sampai di depan kamar mereka, anak itu bersandar di depan pintu dan duduk di lantai. Kepala tertunduk, membuat Fiola panik dan bertanya, “Anda kenapa?” Darah tiba-tiba menetas dari hidung anak itu, matanya sampai memerah dan dari telinga juga mulai keluar darah.
“Tu-Tuan Odo?! Kenapa and—!”
“Tolong jangan berisik ....”
Anak itu memegang keningnya sendiri, menunduk dan wajahnya terlihat seperti sedang menahan rasa sakit luar biasa dalam kepala. Gejala vitalitas yang turun sampai batas minim terlihat jelas dari anak itu, membuat wajahnya semakin pucat dan saat Fiola menyentuh lengannya, itu sangat dingin.
“Akh, dari lebih 578 rute kemungkinan, hanya satu yang paling pas untuk kondisi ini? Serius? Dulu sebelum Naga itu berulah aku bisa dengan bebas melihat pilihan-pilihan yang ada dalam kepala dan tinggal menggunakannya, tapi melakukannya sampai sebanyak itu demi hanya mendapat hasil ini sungguh keterlaluan .... Aku sampai jadi ahli masak, dasar sialan ...,” benak anak itu seraya menatap lemas Fiola yang terlihat cemas.