
“Tentu saja karena Bunda cemas!” Mavis mendekat, memegang kedua sisi pundak pemuda itu dan tegas berkata, “Kau tiba-tiba menggunakan manifestasi malaikat dan terbang seperti itu tanpa menjelaskan apa-apa! Wajar Bunda siaga barangkali engkau sedang melawan sesuatu!”
“Aku tidak melawan siapa-siapa ....” Odo berhenti menggaruk bagian belakang kepala, tersenyum ringan dan membalas, “Lihat, aku baik-baik saja .... Tidak ada luka.”
Sekilas Mavis melihat bekas darah yang masih ada pada sekitar hidung Odo, ia segera mengusapnya dan berkata, “Apanya yang baik-baik saja .... Manifestasi malaikat pasti meninggalkan efek samping kaut pada pengguna ....”
“Tenang saja, kepribadianku tidak akan rusak meski menggunakan itu, kok.”
Mavis dan Fiola tersentak saat pemuda rambut hitam tersebut mengatakan hal itu dengan santai. Penyihir Cahaya menurunkan kedua tangannya dari pundak putranya, menatap kesal dengan wajah masam menahan amarah. Mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, wanita rambut pirang itu langsung menampar putranya tersebut dengan keras.
“Kenapa kamu bisa berkata seperti itu dengan entengnya? Kalau kepribadianmu rusak, itu sama saja kamu mati!”
Mavis langsung memeluk erat putranya tersebut, dengan gemetar dan mulai menangis tersedu-sedu. Dalam pelukan ibunya Odo hanya bisa memasang ekspresi bingung, sekilas masih tidak paham kenapa wanita rambut pirang di hadapannya tersebut tiba-tiba menangis dan memeluknya dengan erat. Merasakan tubuh Mavis yang gemetar tidak karauan, pemuda rambut hitam tersebut paham kesalahan yang telah dirinya lewatkan.
“Maaf .... Maafkan aku, Bunda ....”
Pemuda itu balik memeluk, sesaat ikut gemetar karena bingung harus berkata apa lagi selanjutnya. Ditampar langsung oleh Mavis cukup membuat Odo bimbang, memikirkan berkali-kali alasan kenapa dirinya harus mendapat itu dan mulai merasa bersalah karena bertindak egois tanpa memikirkan rasa cemas ibunya tersebut.
Fiola yang melihat mereka segera menarik napas dalam-dalam, merasa lega Tuan yang telah dirinya layani dalam waktu lama tersebut bisa melepas emosinya tanpa harus ada pertengkaran antara Ibu dan Anak. Namun saat dirinya melirik ke arah Di’in, nafsu membunuh sekilas terpancar dari Huli Jing rambut cokelat kehitaman tersebut.
Odo tersentak merasakan nafsu membunuh yang begitu kuat itu. Ia segera melepaskan pelukan Mavis dengan pelan, lalu menoleh ke arah Huli Jing tersebut. Menarik napas dalam-dalam, pemuda itu membentak, “Fiola!”
“Eh?!” Bulu-bulu pada kesembilan ekor Huli Jing tersebut berdiri tegak, ia berbalik ke arah Odo dan dengan gemetar berkata, “A-Ada apa, Tuan Odo? Kenapa Anda terlihat marah sekal —!”
“Kenapa Mbak Fiola ingin membunuh mereka?!” Odo segera berjalan ke arah Di’in dan Ra’an yang terbaring di dekat salah satu pohon cemara yang seluruh daun-daunnya rontok, lalu berjongkok di depan dua perempuan yang setengah telanjang itu dan bergumam, “Padahal sudah susah-susah aku selamatkan, malah mau dibunuh ....”
“Kau ... menyelamatkan mereka, putraku? Orang-orang Moloia itu?” tanya Mavis dengan sedikit cemas melihat Odo sangat dekat dengan mereka.
“Bunda bisa langsung tahu kalau mereka dari Moloia, ya?” Odo menoleh ke arah Mavis, lalu dengan tatapan heran kembali bertanya, “Apa dari pakaian mereka?”
“Bukan ....” Mavis menggelengkan kepala, berjalan mendekat dan ikut melihat mereka dengan waspada. Menunjuk perempuan rambut cokelat ikat kucir yang terbaring, Penyihir Cahaya berkata, “Aura serta hawa keberadaan mereka sangat berbeda, orang-orang Moloia cenderung memiliki aliran sihir sangat lemah pada tubuh mereka ....”
“Hmm ....” Odo kembali melihat ke arah kedua perempuan dari Moloia tersebut. Tidak seperti ibunya, ia sama sekali tidak merasakan perbedaan seperti itu. Kembali menoleh ke arah Mavis, pemuda itu berkata, “Yah, jangan cemas. Bunda tahu, mereka bisa dianggap antek-antekku.”
“Eh?” Mavis bingung mendengar itu, ia menyeka air mata yang mengalir dan menatap dengan bingung.
Bangun dan menarik napas dalam-dalam, Odo meloncat-loncat kecil untuk meregangkan tubuh. Selesai melakukan pemanasan kecil, ia mengambil belati perak dari Jubah Dimensi dan bersiap untuk melakukan manifestasi malaikat lagi. Namun saat pemuda itu hendak menusuk telapak tangannya sendiri untuk mengalirkan darah sebagai katalis, Mavis langsung menangkap tangannya dan membentak, “Apa yang kau lakukan!”
“Eh?”
“Bantu aku, Fiola!”
Fiola segera mendekat, ikut menahan tangan Odo dan merampas belati perak itu darinya. Kedua tangan pemuda itu langsung ditahan ke belakang oleh Huli Jing itu, lalu Jubah Dimensinya direbut oleh Mavis.
“Eng, boleh aku tahu kenapa kalian melakukan ini?” tanya Odo dengan tatapan heran ke arah Mavis. Ia berusaha melepaskan kedua tangannya yang dikunci ke belakang punggung oleh Fiola, namun perbadaan kekuatan fisik yang ada membuat pemuda itu menyerah dan menghela napas kecil.
“Putraku ..., tadi kau ingin melakukan manifestasi malaikat lagi, bukan?”
“Hmm, memang.”
“Kau ini!!” Mavis kembali marah, mencubit pipi pemuda itu dengan keras sampai memerah. Memegang kedua sisi pipi Odo, wanita rambut pirang itu memaksa putranya menatap lurus kedua matanya dan berkata, “Kau selalu saja membuat Bunda khawatir! Kau ini kenapa?!”
Sesaat Odo terdiam, hanya memasang ekspresi datar dan menjawab, “Bunda tak perlu cemas, aku tak akan mengalami kerusakan kepribadian seperti kakak Bunda.”
Mavis dan Fiola terkejut mendengar hal tersebut. Mendapat kesempatan dari lengahnya Huli Jing yang mengunci kedua tangannya, Odo melepaskan diri dan langsung memegang tangan kanan serta pinggang ibunya. Layaknya berdansa, ia berputar bersama Mavis untuk menjaga jarak dari Fiola.
Berhenti dan berdiri saling berdekatan, pemuda itu kembali berkata, “Metode yang digunakan berbeda ....”
“Berbeda ...?”
“Ya ....” Odo mengangkat tangannya dari Mavis, mengambil dua langkah ke belakang dan menjelaskan, “Metode yang aku gunakan berbeda dengan sihir manifestasi malaikat rancangan Penyihir Agung. Daripada mengirim kesadaran ke dimensi lebih tinggi dan menarik kekuatan dari sana ke dimensi Dunia Nyata ini, aku menggunakan darah sebagai katalis dan menarik kekuatan dari dimensi lebih tinggi itu untuk turun ke dunia ini.”
Mavis terdiam bingung, hal seperti secara teori memang memungkinkan namun sangatlah mustahil dilakukan oleh makhluk yang bahkan tidak perlah mengakses dimensi tingkat tinggi tempat para malaikat. Kembali memikirkan hal tersebut dalam-dalam, kedua mata Mavis terbuka lebar saat menyadari sesuatu dan ia bertanya, “Jangan bilang .... Karena Ayunda pernah mengakses dimensi tingkat tinggi secara masif dengan kesadarannya, raganya ini terpengaruh dan engkau lahir dengan sifat tubuh ....”
“Ya, karena aku anak Bunda, aku bisa menggunakan metode ini.” Odo tersenyum kecil, mengacungkan jari telunjuknya ke depan dan berkata, “Karena aku lahir dari sosok yang pernah mengakses dimensi tingkat tinggi dan mengambil kekuatan suci dari sana, tubuhku ini juga memiliki sifat akses tersebut. Tanpa perlu mengalami kerusakan kepribadian sebagai efek samping, aku bisa mengakses kekuatan suci dari sana hanya dengan mengorbankan darahku.”
Meletakkan tangan kanan ke depan dadanya sendiri, wanita rambut pirang itu menatap dengan sorot mata penuh rasa cemas. Angin malam berhembus, membuat gaun hijau toska serta rambutnya sekilas berkibar di bawah paparan rembulan. Perkataan putranya itu memang merupakan hal yang membahagiakan, salah satu alasan awal para Homunculus diciptakan oleh Penyihir Agung adalah sebuah wadah untuk mengakses dimensi lebih tinggi. Namun sebagai seorang ibu, Mavis merasa tidak senang karena putranya bisa saja menghilang jika terus menerus menggunakan manifestasi malaikat yang secara struktur esensinya belum diketahui secara penuh.
“Odo ..., berjanjilah pada Bunda.” Mavis berjalan ke arah Odo, mendekap erat putranya tersebut dan dengan suara lembut berkata, “Tolong, putraku .... Jangan engkau gunakan manifestasi malaikat itu kecuali kau benar-benar perlu. Kekuatan yang tidak diketahui esensinya itu ..., kita tidak boleh menggunakannya sembarangan.”
Perkataan itu juga memberitahu Odo bahwa Mavis juga masih bisa menggunakan manifestasi malaikat. Menarik napas dalam-dalam, pemuda rambut hitam itu menjawab, “Baiklah, aku berjanji .... Namun, Bunda ....”
“Hmm?” Mavis melepaskan pelukan, menatap putranya dengan sorot mata sayu. Odo sekilas paham kalau ibunya tersebut baru saja menangis sebelum datang, kantung mata wanita itu yang memerah memberitahukannya hal tersebut.
“Bisa kita bicara sebentar? Ini tentang dua orang Moloia di sana ....”
“Apa ... kau ingin membawa mereka ke kota?” Mavis melihat ke arah Di’in dan Ra’an, memasang ekspresi wajah tak suka dan kembali menatap putranya dengan tatapan sedikit khawatir soal apa yang dingin dibicarakannya.
“Iya ....” Odo mengangguk, memasang senyum masam dan berkata, “Tapi, bukan itu saja. Ada hal-hal lain yang ingin aku bicarakan. Mari kita bicara dulu, aku ingin bicara sebentar malam ini. Bunda .... belum mengantuk, ‘kan?”
Mavis tersenyum dingin, sedikit memiringkan kepalanya dan berkata, “Setelah kejadian ini, bagaimana Bunda bisa mengantuk, putraku?”
“.... “ Odo sesaat terdiam, menarik napas dalam-dalam dan dengan senyuman lepas berkata, “Berarti kita begadang malam ini.”
Mavis mengangkat tangannya dari Odo. Pemuda itu segera mengambil dua langkah ke belakang, lalu menunjuk ke arah Di’in dan Ra’an sembari berkata, “Tapi, sebelum kita bicara panjang lebar bisa Mbak Fiola pakaikan dulu mereka baju? Kemeja dan celana hitam seharusnya ada di dekat mereka ....”
“Fiola ....”
“Baiklah, Nyonya.”
.
.
.
.
Sesudah Fiola selesai memakaikan kemeja serta celana bahan hitam pada Di’in dan Ra’an, dirinya duduk di atas batang pohon cemara yang sebelumnya ambruk karena sambaran sihir petir. Huli Jing tersebut duduk bersebelahan dengan Mavis, menghadap ke arah pemuda rambut hitam di hadapan mereka untuk mendengarkan apa yang ingin ia sampaikan.
Angin malam bertiup kencang, langit mulai sedikit terlihat mendung dan rembulan perlahan tertutup awan. Dinginnya udara tidak menggerakkan mereka dari tempat, hanya saling menatap tanpa mengeluarkan suara sesaat. Dalam benak Odo, ia menghapus beberapa gejolak emosi yang dirinya anggap tidak diperlukan dalam benak. Sekilas raut wajah sedih nampak padanya, namun itu dengan cepat menghilang dan berganti dengan senyum simpul yang kaku.
“Sebelum masuk ke pembicaraan, aku ingin kalian melihat ini ....”
Pemuda rambut hitam tersebut merentangkan kedua tangannya ke samping, dengan telapak terbuka dan mulai menyipitkan sorot mata. Tanpa lingkaran, formula, Rune, atau struktur sihir, partikel Ether di udara dengan cepat terkumpul pada kedua telapak tangan pemuda itu dan proses pembakaran terjadi. Api terbentuk dengan cepat, menyelubungi kedua lengan Odo dan gas yang membentuk api tersebut perlahan mengamali kristalisasi. Dalam hitungan detik, api padam dan kedua tangan pemuda itu diselimuti oleh Gauntlet merah yang permukaannya seperti sisik reptil.
Hanya dengan sekali lihat Mavis mengetahui dasar dari proses perubahan zat tersebut, ia menganga tidak percaya dan bertanya, “Itu ... sisik naga? Putraku, apa kau ....”
“Hmm, ini kekuatan Naga Hitam.” Odo membuka kedua telapak tangannya ke depan, memasang wajah muram dan berkata, “Saat mengalahkannya, aku juga mendapatkan kekuatan naga pembawa malapetaka itu. Kemampuan untuk mengendalikan api, kekebalan suhu, kristalisasi gas, dan pembentukan molekul plasma, itulah Hariq Iliah milik Naga Hitam.”
Bukan hanya Mavis yang terkejut mendengar itu, Fiola sekilas tertegun tak percaya anak di hadapannya itu benar-benar menguasai kemampuan lawan yang pernah dikalahkannya. Menarik napas dalam-dalam dan menatap datar, Huli Jing tersebut bertanya, “Setelah membongkar kemampuan Anda seperti ini, apa yang ingin Tuan Muda sampaikan? Anda tidak bermaksud pamer soal kekuatan Anda, ‘kan?”
“Tentu saja tidak ....” Odo bertepuk tangan satu kali untuk menonaktifkan Hariq Iliah, kristalisasi pada kedua tangannya dengan cepat lapuk dan langsung lepas. Lempengan-lempengan merah itu jatuh ke tanah, pecah dengan mudah seperti keramik dan mulai berubah kembali menjadi gas.
Menatap serius ke arah Mavis dan Fiola, pemuda itu berkata, “Aku ingin menghentikan Perang Besar Kedua yang kemungkinan akan pecah tahun depan.”
Mereka berdua hanya diam mendengar perkataan Odo. Sekilas Fiola melirik ke arah majikannya, dengan sedikit takut menunggu apa yang akan dikatakan wanita rambut pirang di sebelahnya itu. Mavis menarik napas dalam-dalam, terlihat tidak terkejut seakan memang telah mengetahui hal tersebut meski hanya samar-samar saja.
“Kau tahu, putraku. Engkau mungkin telah paham hal ini .... Perang merupakan urusan negeri dengan negeri, hal seperti itu tidak bisa dihentikan hanya dengan kehendak satu orang ..., meskipun itu seorang Raja sekalipun.”
Perkataan Mavis sangat tegas dan jelas, tidak terkesan melarang namun memaparkan kenyataan yang tidak bisa Odo tolak secara langsung. Pemuda itu hanya memasang ekspresi datar, lalu sembari tersenyum kecil menjawab, “Aku tahu itu, Bunda. Namun ..., negeri juga bergerak karena kepentingan orang-orang di dalamnya. Kalau begitu, bukan berarti itu tidak mungkin untuk diubah.”
Mavis sekilas terkejut, ia menyadari sesuatu dan bertanya, “Apa itu alasanmu tidak menolak pertunangan itu? Untuk alasan politik kau akan menggunakan Tuan Putri Arteria—”
“Aku tak akan menggunakannya.” Odo dengan jelas membantah. Ia sekilas memperlihatkan tatapan dingin, menunjuk ke arah Mavis dan berkata, “Menggunakan satu orang — Membebankan semuanya pada satu individu, hal seperti itu bukanlah caraku. Bunda tahu, aku secara pribadi membenci keluarga Kerajaan dan para senat di Ibukota yang terlalu mengandalkan keturunan murni! Dekat dengan Dewa? Keajaiban? Roh Kudus? Kenapa mereka selalu mengandalkan hal semacam itu?”
Mavis bangun, menatap cemas setelah mendengar pola pikir putranya tersebut. Hal seperti keturunan murni dan keluarga Kerajaan Felixia yang diandalkan menjadi kekuatan terbesar merupakan sebuah tradisi, hal yang tidak boleh diganggu gugat karena telah menjadi identitasi bangsa Felixia sendiri. Sembari berjalan mendekat, wanita rambut pirang tersebut berkata, “Tentu saja mereka mengandalkan hal seperti itu .... Kau tahu, putraku! Tidak semua orang sekuat dirimu!”
Mavis memegang kedua sisi pipi Odo, menatapnya dengan sorot mata sayu seakan-akan ingin menangis kembali. Pemuda itu sendiri paham kalau hal semacam tradisi, budaya, serta peraturan-peraturan tak tertulis seperti itu tidak boleh dihilangkan karena merupakan ciri sebuah bangsa, namun tetap saja ia tidak suka membebankan segalanya pada satu individu sebagai fondasi.
“Setiap orang memang tidaklah sekuat diriku, aku akui itu .... Tapi!” Odo menggenggam kerat kedua tangan ibunya, menatap dengan sorot mata yang berapi-api dan berkata, “Saat semua orang bersatu, mereka akan menjadi kuat! Daripada mengandalkan satu orang dan memberikan rasa hormat berlebihan yang hanya akan menjadi beban, bukannya lebih indah jika semua orang saling berjalan beriringan?”