
Sekarang, musim semi tahun 2.699 Kalender Pendulum.
Hembusan angin dari arah laut, melewati ombak untuk sampai ke bebatuan karang dan daratan. Awan kelabu berjalan di udara ke arah daerah hutan rimbun, suara gemerisik dedaunan yang terdengar menandakan keheningan. Mentari pagi yang seharusnya mengawali hari tak terlihat sama sekali, tertutup kelabu abu-abu yang semakin tebal. Ombak menabrak bebatuan karang yang menjadi dermaga alami bagi dua kapal besar orang-orang Moloia, terletak pada teluk yang kedua sisinya dihimpit oleh tebing besar namun memiliki arus laut yang cukup tenang.
Pada pelabuhan alami bebatuan karang, dua kapal besar yang berlabuh tersebut datang dengan tujuan masing-masing. Salah satunya adalah sebuah kapal kayu dengan tiga tiang layar utama milik Unit Khusus dari gabungan fraksi-fraksi kerajaan Moloia. Kapal tersebut sedemikian rupa mengalami perombakan, dari kapal yang biasanya diisi dengan meriam dan balista api menjadi sebuah kapal yang benar-benar terlihat seperti kapal dagang. Namun untuk generator yang menjadi teknologi Moloia tidak dihilangkan, itu disembunyikan dan posisi cerobong diubah serta sirip besi diganti dengan kayu.
Tidak jauh dari kapal kamuflase untuk menyusup tersebut, terlihat sebuah kapal jenis Korvet yang sama sekali tidak menyembunyikan unsur kapal perangnya. Lambung kapal yang dilapisi armor baja dan daya apung yang bisa disesuaikan untuk bermanuver, dua cerobong asap pada bagian buritan, dua baling-baling yang terhubung dengan mesin dan sirip untuk lajur arah yang terhubung dengan roda kemudi pada anjungan.
Pada geladak utama, terdapat dua senjata utama — Meriam 76 mm dan AK-360 30 mm. Selain senjata tersebut, ada juga beberapa senapan mesin pada setiap sudut geladak yang baru saja digunakan dan selongsong peluru masih berserakan di lantai. Perbedaan teknologi antara kedua kapal tersebut terlihat sangat jelas, begitu jauh dari segi peradaban meski masih milik satu kerajaan dan hanya berbeda fraksi.
Dingin, lembab, dan sedikit berbau amis. Namun, angin laut yang bertiup kencang ke arah daratan itu cukup untuk membawa aroma darah yang ditumpahkan pada bebatuan karang dan mulai bercampur dengan ombak yang menerpa. Keheningan terasa, burung camar terbang tinggi di sekitar kedua tebing dan tak mau turun ke bawah setelah pertempuran singkat di teluk bebatuan tersebut.
Mayat-mayat bergelimpangan pada batu karang, ada yang mengambang di teluk dan tergeletak di geladak kapal Korvet itu. Bersandar pada pagar pembetas geladak, Laura Sam’kloi duduk lemas seraya mengeluarkan peluru yang bersarang pada pinggang kanannya. Ia menyobek pakaian ketat, menusuk perutnya sendiri dengan pisau dan mengambil timah panas yang bersarang.
Sebelum pendarahan lebih parah, ia menggunakan sihir untuk memanaskan mata pisau dan menutup lukanya. Raut kesakitan terlihat jelas, ia ingin berteriak keras namun terlalu lemas untuk melakukannya. Asap keluar saat permukaan datar pisau yang menempel lukanya, daging tertutup luka bakar dan ia segera menjatuhkan pisaunya dan mendongakkan kepala menahan rasa sakit luar biasa.
“Akh! Ini .... Sialan, seharusnya aku bawa anestesi lebih saat ke sini. Siapa sangka misinya akan berakhir begini .... Persetan!”
High Elf tersebut bangun dan memegang pembatas geladak untuk berdiri. Melihat ke sekeliling, sekilas ia menyipitkan mata dan kembali mengingat pertempuran antar saudara sebangsa yang terjadi sangat singkat di tempat tersebut. Diawali dengan perdebatan dengan pendapat dari Unit Khusus dari gabungan fraksi-fraksi yang tersisa di markas utama dalam misi sabotase, baku tembak terjadi saat salah satu petinggi dari Fraksi Militer tidak menerima pendapat Laura untuk mundur sesaat dan membatalkan misi jangka panjang mereka.
Menghela napas dan memasang ekspresi kesal, Laura bergumam, “Mau taruh di mana mukaku saat kembali, kah ...?” Hal semacam itulah yang dikatakan oleh seorang perwira dengan pangkat tertinggi yang bertugas pada saat itu. Perwira tersebut bersikeras ingin melanjutkan misi, mengajak para bawahannya dan mulai melakukan kekerasan. Hal tersebutlah yang membuat baku tembak pecah, tak terelakkan dan menjadi pembunuhan satu arah oleh para Prajurit Peri karena perbedaan kekuatan yang ada.
Menyandarkan tubuhnya pada pembatas, Letda itu kembali bergumam, “Apa yang dipikirkan Athena sampai-sampai menjadikan orang seperti itu sebagai satu perwiranya. Tch! Sialan, kenapa bisa seperti ini .... Rasanya ... persis seperti apa yang Bocah rambut hitam itu sampaikan.”
Dengan tertatih lemas, perempuan rambut pirang itu berjalan ke arah haluan dan melihat mayat-mayat yang juga bergelimpangan di bawah. Tidak hanya dari gabungan fraksi-fraksi, beberapa anak buah Laura juga ada yang menjadi korban dan kebanyakan adalah teknisi yang tidak memiliki kemampuan tempur yang tinggi. Menyipitkan mata hijau zamrudnya, High Elf tersebut merasa muak dengan perselisihan satu bangsa yang selalu dirinya hadapi di medan perang.
“Laura!”
Terdengar seseorang memanggil dari kapal kayu di sebelah kapal tempatnya berada. Letda tersebut perlahan menoleh, melihat ke arah kapal kamuflase yang sama sekali tidak tergores itu dan melihat Notmarina dan kedua Prajurit Peri lain ada di geladak kapal tersebut. Mereka bertiga segera menciptakan sayap partikel cahaya anti-gravitasi, lalu terbang ke tempat Laura dan mendarat.
“Bagaimana? Apa ada orang lagi di sana? Kalian sudah menghabisi semuanya?” tanya Laura.
“Tidak ada, sepertinya mereka yang ada di luar tadi itu semuanya. Dua puluh satu personel, terdiri dari 5 teknisi dan 16 tentara.” Notmarina segera mendekat, melihat luka di perut Laura dan kembali bertanya, “Kau sungguh baik-baik saja? Meski kekuatan senapan lontak tidak sekuat senapan semi otomatis, tapi kau tertembak sangat dekat setelah menggunakan sihir pelindung pada kapal.”
“Jangan cemas ... Memang Mana-ku hampir benar-benar kosong, tapi untuk penanganan pertama sudah selesai. Yang lebih penting, apa kau yakin sudah menghabisi semuanya ....”
Laura menatap ke arah kapal layar, terlihat cemas karena merasa tahu apa yang bisa saja terjadi selanjutnya. Beberapa informasi kemungkinan yang pernah dirinya terima dari Odo membuat High Elf tersebut tidak bisa tenang, merasa cemas kalau ada yang masih hidup dan terjadi hal buruk lainnya.
“Ya .... Semuanya selesai, pembantaian kali ini selesai”
“Marina ....”
Laura menoleh saat mendengar hal tersebut. Melihat baik-baik wajah ketiga bawahan dan rekannya, Letda itu segera paham bahwa apa yang telah dilakukan mereka memang bukanlah hal yang enteng. Membunuh orang dari satu kampung halaman yang sama bukanlah hal yang menyenangkan, sekali lagi Laura diingatkan dengan perasaan kelam dalam benaknya.
“Laura ..., apa ini keputusan tepat? Membunuh mereka seperti ini ....”
Mendapat pertanyaan tersebut dari Notmarina, Laura menoleh ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan di bawah dan dengan nada serius berkata, “Kau lihat sendiri, ‘kan? Orang bodoh yang memimpin unit itu hanya ingin mencari nama dan naik pangkat dalam misinya .... Pada kondisi seperti itu, dia juga berani menentang putusan dari orang pangkat yang lebih tinggi.”
“Bukan itu .... Maksudku, soal pemuda itu .... Orang yang mengaku dirinya Unsur Hitam.”
“Ah ....” Laura menatap dengan ekspresi ragu, sedikit memalingkan pandangannya ia menjawab, “Aku juga merasa percaya padanya itu bukanlah keputusan yang tepat. Tidak ..., sampai sekarang juga aku tidak percaya.”
“Lalu kenapa harus ada hal seperti ini lagi?! Kenapa kita harus membantai rekan kita sendiri?!!” tanya Notmarina dengan suara tinggi.
Perempuan rambut hijau pudar itu terlihat murka, merasa ada yang salah dengan situasi yang ada. Alasannya mau ikut dengan Laura lagi karena ia mengajukan sebuah misi khusus yang mungkin bisa mencegah perang, namun melihat hasil yang ada membuat Notmarina kehilangan rasa percayanya.
Laura terdiam sesaat, angin berhembus dan membuat rambut para Prajurit Peri itu bergelombang. Menatap dengan penuh rasa bingung, perempuan rambut pirang itu menjawab, “Karena .... Apa yang pemuda itu sampaikan adalah benar.”
“Kau sebut pembantaian ini benar?!” bentak Notmarina.
“Bukan itu ....” Laura menggelengkan kepala, berusaha mencari kalimat yang tepat dan berkata, “Benar yang aku maksud, apa yang akan terjadi pada kita benar apa adanya. Kau tahu, saat kita kembali tadi malam mereka — Unit gabungan fraksi-fraksi itu sudah menunjukkan gelagat tidak percaya. Mungkin karena kita kembali terlalu cepat dan ada beberapa yang tidak kembali .... Dari itu, sebagian dari mereka sudah memutuskan untuk menghabisi kita dan Tuan Putri.”
“Tuan Putri juga?” Notmarina menyipitkan mata, lalu kembali bertanya, “Bukannya mereka hanya tidak setuju dengan pendapat kita dan menyerang karena alasan itu?”
Notmarina tersentak, kedua rekannya juga mulai merasa hal tersebut masuk akal. Memegang dagu dan sedikit memalingkan pandangan, High Elf rambut hijau pudar itu dalam benak merasakan hal serupa dari gelagat Unit Khusus gabungan fraksi-fraksi sebelum baku tembak pecah.
“Mereka ... dari awal tidak suka kedatangan kita?” tanya Notmarina.
“Kurasa ... itu lebih buruk lagi .... Dari awal gabungan fraksi-fraksi hanyalah umpan, semua anggota di markas misi sabotase kerajaan Felixia ini kebanyakan dari Fraksi Militer.”
“A-Apa kau yakin?!” tanya Notmarina.
“Letda yakin itu?” Magda Klitea memastikan.
“Ti-Tidak mungkin .... Pasti ada kesalahan.” Ul’ma Lilitra meragukan.
“Aku tak terlalu pandai mengingat orang lain ....” Laura berbalik, melihat ke bawah dan kembali mengamati wajah mayat-mayat yang bergelimpangan di bawah. Selama pertempuran singkat, ia merasa ada yang aneh karena senjata yang digunakan oleh mereka kebanyakan adalah milik Fraksi Militer dan sama sekali tidak ada senjata khusus yang seharusnya dibawa oleh Fraksi Pengembangan Teknologi dan Penelitian.
Kembali berbalik dan menatap Notmarina, Letda dua itu berkata, “Tapi! Kalau wajah dan jenis seragam aku sangat paham. Jumlah yang ada terlalu aneh .... Seharusnya untuk unit khusus adalah 25% dari setiap fraksi, tapi di sini terlalu fraksi militer. Kalau di tambah yang mati di hutan karena Di’in dan Ra’an, jumlah mereka lebih dari 25% ....”
“Kenapa ... bisa seperti itu?” Magda sedikit menundukkan wajah, memikirkan banyak hal yang janggal dan menyimpulkan, “Apa Athena ... sengaja melakukan ini?”
“Iya ..., kemungkinan besar A.I sialan itu punya rencana sendiri dengan Unit Khusus dari gabungan Fraksi-Fraksi ini.” Laura menggertakkan giginya dan gemetar. Bukan karena kesimpulan yang ia dan rekan-rekannya dapat, namun ia mulai merasa takut karena kemungkinan tersebut juga disampaikan oleh Odo kepadanya.
Laura perlahan menutup rapat mulutnya yang menganga, lalu dengan gemetar mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran, “A.I itu pasti menambah personelnya sendiri, lalu berniat melakukan sesuatu. Kalau 100 lebih Unit Khusus yang dikirim untuk sabotase ke tiap negeri memiliki kejanggalan seperti itu, pasti telah terjadi sesuatu ....”
Suasana menjadi tegang, mereka mulai berkeringat dan mengerti apa arti di balik hal tersebut. Athena merupanya A.I Super Cerdas yang cenderung memilih peperangan dalam menyelesaikan permasalahan untuk melindungi Moloia, keputusan yang diambil akan sangat brutal dan bahkan kemungkinan bisa dengan mudahnya menurunkan perintah membunuh habis penduduk sebuah kota. Mempertimbangkan hal-hal semacam itu, tidak heran dalam waktu dekat mungkin perang akan pecah karena serangan yang dilakukan oleh pasukan Moloia tanpa perintah resmi.
“Bukannya ... lebih baik kita kembali dan melaporkan ini kepada A.I lainnya,” ucap Notmarina cemas.
“Aku ... juga merasa—”
Duarkkkkk!!!!!!!!!!!
Tiba-tiba ledakan besar terjadi di kapal kayu, serpihannya yang terpental sampai ke geladak kapal Korvet tempat Laura dan rekannya berada. Gelombang kejut cukup kencang terasa, membuat kapal bergoyang dan ombak menjadi sedikit kacau. Kepulan asap dan api terlihat membesar dari geladak kapal kayu di seberang, semakin besar dan menjalar cepat membakar kapal yang sebagian besar badannya terbuat dari kayu tersebut.
Laura hanya menganga, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Perlahan tertutup mulut, wajahnya semakin memucat dan perlahan melangkah mundur. Dengan suara gemetaran ia berkata, “Dia ... juga memprediksi ini? Apa-apaan orang itu ....”
“Tch! Apa Generator Fusi Mini kapalnya dipicu?!” tanya Notmarina cemas.
Magda balik bertanya, “Siapa yang memicu itu memangnya? Bukannya orang-orang di sana sudah kita habisi?”
“Maaf .... Aku ....”
Ul’ma Lilitra melangkah mundur, wajahnya pucat pasi dan dipenuhi rasa bersalah. Melihat ekspresi rekannya tersebut, mereka semua tahu siapa yang telah membiarkan seseorang hidup dari Unit Khusus dan membuat kapal tersebut meledak.
“Kenapa kau berbohong dan membiarkan salah satu dari mereka hidup!” Magda membentak keras rekannya tersebut. Ia langsung menghajar Ul’ma sampai terjatuh ke lantai, lalu mengambil senapan di punggung dan menodongkannya. Dengan wajah murka dan muak, Magda kembali berkata, “Sifatmu yang seperti itu selalu membuatku kesal! Kalau sinyal reaktor yang hancur diterima para A.I lain, itu bisa menciptakan kekacauan! Mereka bisa mempercepat serangan dan peperangan tak bisa dihentikan lagi!!”
“A-Aku tidak tahu kalau dia akan meledakkan kapalnya! Yang a-aku biarkan hanya orang dari bagian mekanik, aku tidak menyangka kalau dia ....”
Di tengah pertengkaran tersebut, pintu anjungan kapal yang tertutup rapat perlahan terbuka dan suara terdengar, “Laura ...? Kenapa ... kapal ... mereka ....”
Itu sangat tidak asing bagi Laura, segera menoleh dan menatap cemas perempuan yang keluar dari bagian anjungan tersebut. Di sana terlihat sang Tuan Putri ke-30 Kerajaan Moloia, Ulla Vrog Ma’tar. Perempuan rambut ungu cerah panjang sepunggung itu berjalan dengan ekspresi cemas, sedikit mengangkat gaun merah tua yang memiliki lipatan-lipatan yang dikenakan.
Melihat perempuan dengan julukan Tuan Putri Amethyst itu berjalan mendekat, seketika salah satu kemungkinan yang Laura dapat dari Odo mulai terngiang dalam kepala dan sebuah gambaran buruk nampak. Laura dengan sekuat tenaga berjari ke arah Tuan Putri Ulla, mengabaikan rasa sakit pada luka di perut yang belum pulih dan berteriak, “Kenapa Anda keluar! Masuk ke dalam!!”
“Eh ...?”
Duaaarrkk!!!
Sebuah ledakan susulan terjadi pada kapal kayu di seberang, itu lebih dahsyat dari sebelumnya dan membuat sepihan kayu terbakar terpental kencang dari sumber ledakan. Sebelum Laura sempat, salah satu kepingan kayu tajam dari ledakan melesat kencang ke arah Tuan Putri Ulla.
Itu tepat menancap ke leher perempuan rambut ungu cerah panjang sebahu itu, masuk ke dalam sampai mematahkan tulang lehernya. Seketika cerminan cahaya pada matanya hilang, lalu tubuhnya yang rapuh terdorong ke samping dan jatuh ke lantai. Darah mengalir di lantai geladak, tubuhnya kejang-kejang dan mulai memuntahkan darah.