
۞۞۞
Desain arsitektur klasik, hiasan perisai dan pedang pada dinding. Beberapa perabotan hias diletakkan pada meja di sudut ruang, lalu di tengah tempat tersebut terdapat sebuah meja makan persegi panjang yang cukup untuk duduk 15 orang lebih.
Meski matahari masih bersinar terang, lampu gantung dengan kristal-kristal sihir dinyalakan di Ruang Makan Utama Kediaman Luke tersebut. Gorden pada setiap jendela ditutup, begitu semua pintu yang ada di sana. Terlihat juga beberapa Shieal yang berjaga di sekitar pintu serta jendela, mencegah ada yang masuk atau menguping pembicaraan penting yang akan dilakukan.
Fiola, Linkaron, Kinkarta, Imania dan Minda. Hanya kelima Sheial tersebut yang masih berada di Mansion dan berjaga di ruangan, sedangkan yang lain sekarang masih di kota Mylta karena sebelumnya diperintahkan oleh Mavis untuk menjemput Odo. Namun karena pemuda yang seharusnya ada di kota pesisir tersebut telah kembali, kemungkinan besar Julia, Xua Lin, dan Gariadin akan pulang dengan tangan kosong.
Di dalam ruangan tersebut, orang-orang penting Kerajaan Felixia duduk untuk membicarakan hal vital terkait Putra Tunggal Keluarga Luke. Mereka semua terlihat begitu tegang, terutama karena ada beberapa orang yang memaksa ingin ikut masuk ke dalam ruang pembicaraan.
Odo duduk sendirian di ujung meja makan, lalu di hadapannya pada ujung lain meja duduk sang Raja. Di sisi kanan pemuda itu duduk Kepala Kelurga Luke dan Kepala Keluarga Rein beserta istri mereka masing-masing. Sedangkan di sebelah kiri sang Raja, Putri Arteria duduk bersebelahan dengan Pangeran Ryan tepat di samping istri Thomas Rein.
Berhadapan dengan para anggota Tiga Keluarga Utama, terlihat dua Tetua yang mewakili golongannya. Wolnir Yhoan, sang Archbishop terlihat tak sabar untuk mengetahui kebenaran tentang pemuda rambut hitam yang mengajak mereka masuk ke Mansion. Ia menjalin jemari dan meletakkan kedua sikunya ke atas meja, memasang senyum seperti seorang anak kecil yang suka mendengar cerita dari seorang guru.
Di sebelah Archbishop, duduk seorang perempuan dengan karisma misterius. Rambutnya putih polos meski wajahnya terlihat masih sangat muda, dikepang dua ke belakang dan tetap terlihat panjang sampai menyentuh kursi tempatnya duduk. Ia memiliki warna mata biru terang seperti halnya mayoritas orang-orang Felixia, namun pupil matanya berbentuk pentagon dan sekilas tampak lingkaran sihir yang tertanam di dalamnya.
Seperti halnya para Tetua lain yang Odo lihat sebelumnya, perempuan itu juga mengenakan Vestimentum namun berupa Velum. Pakaian jubah liturgi tersebut berwarna putih dengan tambahan sulaman berbentuk pedang, timbangan, dan gandum dari benang berwarna keemasan. Pada kedua tangannya, ia mengenakan sarung tangan putih dari kain transparan.
Melihat perbedaan penampilan yang ada, Odo melakukan Spekulasi Persepsi untuk menebak siapa sebenarnya perempuan tersebut. Namun, informasi terkait perempuan itu terlalu minim. Ditambah ia sama sekali tidak bicara sejak masuk ke dalam ruangan, itu tambah membuat Odo sulit untuk melakukan Spekulasi Persepsi yang berfokus padanya.
Menghela napas ringan, fokus Odo berpindah ke orang-orang yang duduk di sebelah perempuan tersebut. Para perwakilan dari wilayah vital Kerajaan Felixia ⸻ Terdiri dari Keluarga Bangsawan Besar Garados dan Keluarga Bangsawan Jakall Sang Pemimpin Kepulauan Kritasil Bascal. Masing-masing patriark Keluarga Bangsawan tersebut datang sendiri mewakili wilayah mereka, tidak mengirim perwakilan seperti halnya beberapa bangsawan lain yang datang bertamu.
Dari Keluarga Garados, Adipati Midir Martanka Garados, terlihat duduk di tempatnya dengan penuh wibawa.
Pria berusia 50 tahun lebih tersebut terlihat mengenakan pakaian berjubah warna merah darah, terdapat medali emas dan tali sutra yang dipasang di depan dada untuk menahan jubahnya. Rambutnya berwarna merah darah dan terlihat sudah banyak yang memutih, namun tampangnya masih terlihat cukup muda untuk usianya tersebut.
Pria kekar dengan otot-otot kencang dan menonjol sampai tampak di permukaan kulit itu merupakan seorang veteran masa Perang Besar. Meski tidak terlalu tenar seperti Dart Luke atau Mavis, Midir telah melewati banyak medan perang.
Pria tua itu bahkan sampai mendapat julukan Archduke dari Tanah Rendah, sebab ia telah berhasil menahan gempuran serangan musuh dari kerajaan lain selama Felixia fokus dengan peperang melawan Ungea selama masa Perang Besar. Karena itulah ia mendapat gelar kehormatan dan meningkatkan reputasi Keluarga Garados, lalu berhasil menjadi Kepala Keluarga setelah perdamaian datang.
Untuk Keluarga Bangsawan Jakall, sang patriark dari wilayah paling ujung tenggara tersebut terlihat berbeda dari kebanyakan Kepala Keluarga yang duduk di tempat. Ia tidak tampak seperti seorang petarung atau veteran perang, hanya seorang pria berusia 40 tahunan yang tampangnya sesuai dengan usianya.
Ia adalah Rick Mol Iari Jakall, sang Earl Penguasa Lautan Tenggara. Rick memiliki rabut cokelat muda yang diikat kucir tunggal ke belakang, matanya berwarna keemasan dan terlihat tajam. Ia mengenakan setelan kemeja formal seorang bangsawan, dasi jenis cravat berwarna merah, dan celana bahan hitam. Penampilan tersebut cenderung terlihat seperti pedagang daripada seorang bangsawan dengan gelar tinggi.
Dalam sejarah, meskipun Keluarga Jakall tergolong paling jarang ikut peperangan secara langsung, namun merekalah pihak yang paling sering memberikan pasokan dalam peperangan.
Wilayah tropis dan bentuk geografis kepulauan, hasil laut melimpah serta iklim lautan yang ganas. Meski sebagai wilayah paling ujung, Jakall terkenal memiliki ratusan masalah mereka sendiri karena banyak bajak laut berlayar melewati wilayah tersebut.
Meski begitu, wilayah Jakall bisa dikatakan sebagai tempat yang paling stabil perkembangan ekonominya setelah Wilayah Rein.
Midir dan Rick tidak pergi dari wilayah mereka sendirian, tentu saja kedua patriark tersebut membawa orang-orang kepercayaan mereka. Selain pengawal-pengawal kepercayaan mereka yang berjaga di luar ruangan, Midir dan Rick mengajak tangan kanan mereka masing-masing untuk mengikuti pembicaraan di dalam ruangan.
Firfarda Oltliana, ia adalah orang kepercayaan Midir. Meski bukan seorang veteran perang, namun ia memiliki gelar Viscount di usianya yang baru mencapai 30 tahun dan itu tergolong cukup muda. Firfarda memiliki rambut pirang cepak, kulit sawo matang dan mata biru cerah.
Pria itu mengenakan pakaian yang hampir sama dengan mantan mentor sekaligus tuan yang dirinya layani sekarang, namun tidak mengenakan jubah. Layaknya seorang ksatria agung, kewibawaan yang menjunjung tinggi kehormatan tampak pada dirinya.
Sedangkan untuk orang kepercayaan Rick, ia terlihat tidak seperti seorang petarung atau ksatria. Bormatia Ik, seorang sarjana tanpa gelar bangsawan yang lahir dari keluarga seorang Baron. Tampangnya lekat dengan kesan intelektual tinggi dengan kacamata yang dikenakannya.
Bormatia memiliki rambut pendek berwarna cokelat cerah, sedangkan kornea matanya berwarna cokelat agak gelap. Kulitnya sedikit pucat dan tidak terlau tinggi. Ia mengenakan pakaian jubah berwarna hitam mirip seperti yang dipakai kebanyakan penyihir dari Miquator, memegang buku kecil sebagai catatan dan tatapannya terlihat selalu mengantuk.
Odo sesaat terdiam dan mengamati kombinasi semua orang yang ada. Mengerutkan kening dan menatap ke arah Raja Gaiel, dalam benak ia merasa sedikit heran karena sang Raja membiarkan para Kepala Keluarga dari wilayah-wilayah vital tersebut masuk untuk mengikuti pembicaraan.
Sekilas melihat Fiola berjalan ke belakang Mavis, pemuda rambut hitam tersebut tambah mengerutkan keningnya karena harus berhati-hati dalam berbicara mengingat Huli Jing tersebut bisa dengan mudah membongkar kebohongan. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya peralahan, ia kembali menatap ke arah sang Raja dan hanya terdiam.
Raja Gaiel membalas dengan senyum tipis dan berkata, “Bisa kita mulai pembicaraannya, wahai putranya Dart.”
“Panggil saja Odo ….”
“Hmm, baiklah. Kalau begitu, Odo …. mari kita mulai pembicaraannya.” Sang Raja menegakkan posisi duduknya, meletakkan kedua telapak tangan ke atas meja dan menunggu Odo Luke membuka topik terlebih dulu.
Namun, pemuda itu sama sekali tidak berbicara. Ia hanya menatap alat-alat makan yang tersedia rapi di atas meja, tanpa adanya makanan atau camilan yang bisa dinikmati. Sekilas kornea mata pemuda itu berubah hijau dan Spekulasi Persepsi aktif pada batas tertentu, sampai-sampai darah mengalir keluar dari hidungnya.
Menyeka itu sebelum terlihat jelas oleh semua orang di ruangan, Odo mengangkat wajahnya dan menatap ke arah orang-orang dari Wilayah Jakall dan Garados.
“Yang Mulia, sebelum itu boleh aku tahu alasan mengapa Tuan Midir dan Tuan Rick berada di sini? Bukannya Anda sebelumnya bilang akan menjelaskan sesuatu kepada para tamu?” tanya Odo sembari melirik ke arah sang Raja.
“Apa itu menjadi masalah untukmu, pemuda dengan hawa iblis?” tanya Midir sebelum Raja Gaiel sempat menjawab.
Mendapat tatapan tajam dan intimidasi dari veteran perang tersebut, Odo hanya memasang ekspresi datar. Ia merasa kalau mereka duduk di tempat ini sekarang bukanlah keinginan sang Raja, melainkan tuntutan.
“Huh!” Midir mengendus kasar dan menegakkan posisi duduknya, lalu dengan wajah sedikit angkuh ia pun berkata, “Kau bergurau? Meski kepalamu dipenggal, kau masih hidup, ‘kan?”
“Eh?”
Mavis terkejut mendengar hal tersebut, ia segera menatap cemas ke arah putranya dan ingin tahu apa maksud perkataan tersebut. Memang sebelumnya ia mendengar bahwa Odo telah menjadi abadi, tetapi ia hanya mengira kalau itu hanyalah hal yang dilebih-lebihkan oleh Dart.
Dengan penuh rasa cemas Penyihir Cahaya bertanya, “Putraku …, apa benar yang dikatakan Tuan Midir.”
“Bunda, aku tidak bisa bilang itu perkataan itu sepenuhnya benar.” Odo pindah menatap ke arah Mavis. Sembari membuka sarung tangan kanannya, pemuda itu menjelaskan, “Saat dipenggal ataupun ditusuk tombak, aku benar-benar mati. Itu adalah hal yang pasti ….”
“Dipenggal … dan ditusuk? Siapa yang melakukan itu kepadamu?!” Mavis seketika murka.
Odo sesaat terhenti, melirik ke arah Dart yang terlihat cemas karena Mavis bisa saja marah kepadanya kalau tahu siapa yang melakukan hal tersebut. Sembari lanjut menonaktifkan sihir penguatan dan melepaskan sarung tangan, Odo kembali berkata, “Itu ulah para prajurit elite yang mengawal Yang Mulia.”
“A⸻! Gaiel!” Mavis langsung menatap murka ke arah sang Raja.
“Tolong tenanglah dulu, Bunda. Meskipun aku mati, itu jujur tidak masalah selama aku punya ini,” ucap Odo seraya membuka telapak tangan kanannya ke depan.
Mavis dan semua orang yang ada di ruangan melihat ke arah telapak tangannya, heran dengan apa yang dimaksud pemuda itu. Untuk Mavis sendiri yang seorang Penyihir dan memiliki banyak pengetahuan sihir kuno, ia tidak terlalu mengerti makna Rajah berbentuk huruf VI pada telapak tangan putranya.
“Itu … sebuah Rune? Menunjukkan angka enam?” tanya Mavis dengan bingung.
“Hmm, ini memang menunjukkan angka enam.” Odo menutup telapak tangan kanannya, menurunkan siku ke atas meja dan menyangga kepala. Sembari menatap ke arah sang Raja yang terlihat paling penasaran, pemuda itu menjelaskan, “Itu adalah jumlah nyawa yang aku miliki. Selama punya nyawa cadangan, aku bisa bangkit kembali.”
“Nyawa … cadangan?”
Raja Gaiel begitu terkejut mendengar hal tersebut, begitu pula semua orang yang ada di ruangan. Mengingat kembali bagaimana kondisi Odo setelah terbunuh, itu memang terlihat seperti bangkit kembali dan bukan regenerasi tubuh.
Mavis bangun dari tempat duduk, menatap tak percaya dan meragukan, “Apa maksudnya nyawa cadangan? Bagaimana bisa kamu punya hal semacam itu, putraku?! Kamu tidak sedang berbohong supaya tak Bunda cemas, ‘kan?”
“Aku tidak berbohong ....” Odo membuka telapak tangan kanannya ke arah Mavis, lalu sembari menunjukkan Rajah tersebut ia sekali lagi menegaskan, “Aku bisa bangkit kembali sebanyak yang tertera di telapak ini.”
“Bagaimana bisa kamu mendapat hal semacam itu⸻!?”
“Tenanglah, Mavis ….” Dart memegang tangan istrinya. Saat Mavis menoleh ke arahnya, wanita rambut pirang tersebut memberikan tatapan yang tampak begitu cemas. Dart sempat terkejut melihat ekspresi.
Namun, setelah menarik napas ringan Dart tetap berkata, “Odo di sini untuk menjelaskannya kepada kita, Biarkan dia bicara dulu.”
Mavis terdiam, mulai terlihat kesal mendengar itu dari suaminya. Setelah kembali duduk, sang Penyihir Cahaya masih terlihat tak tenang dan tampak meragukan banyak hal.
Odo sangat paham perasaan dan kepribadian ibunya. Mempertimbangkan hal tersebut, pemuda itu sejenak menarik napas dan menyampaikan, “Kalau Bunda tidak percaya perkataanku, Bunda bisa tanya ke Mbak Fiola apakah aku sedang berbohong atau tidak.”
Mavis tersentak, bukan maksudnya untuk meragukan Odo. Namun sebelum bisa menyampaikan hal tersebut, Fiola yang berdiri di belakangnya Mavis berkata, “Tuan Muda tidak berbohong, sepertinya memang angka di telapak tangannya adalah jumlah Tuan bisa bangkit kembali.”
Midir, Firfarda, Rick, dan Bormatia terkejut mendengar perkataan yang seakan Huli Jing tersebut bisa mengetahui kebenaran dari perkataan seseorang. Sang Raja segera menatap ke arah Fiola, lalu dengan nada ringan memastikan, “Apa Nyonya Fiola benar-benar bisa tahu Odo berkata jujur atau tidak?”
“Saya hanya bisa membaca aura dan isi pikiran, itu sudah cukup untuk mengetahui apakah Tuan Muda sedang berbohong atau tidak,” jawab Fiola.
“Hmm, begitu rupanya. Jadi itu bukan keabadian dan hanya berupa nyawa cadangan.”
Raja Gaiel pindah menatap ke arah pemuda rambut hitam di hadapannya, memikirkan beberapa hal dan kembali bertanya, “Odo, bagaimana caranya kau bisa memiliki hal semacam itu? Sejauh yang diriku tahu, dalam sejarah tidak ada yang memiliki hal semacam nyawa cadangan.”
“Raja Iblis Kuno, Odrania Dies Orion …. Setelah memusnahkannya, aku berakhir seperti ini.”
Apa yang disebut Odo sekali lagi membuat semua orang terkejut. Raja Gaiel segera mengambil spekulasi bahwa kekuatan tersebut berasal dari iblis kuno yang disebutkan tersebut. Tetapi untuk Midir, Firfarda, Rick dan Bormatia yang baru saja mendengar hal tersebut, mereka benar-benar dibuatnya terbelalak.
Midir menggebrak meja sampai garpu dan pisau makan di depannya meloncat, lalu sembari menunjuk Fiola ia dengan lantang berkata, “Bukannya yang mengalahkan Raja Iblis Kuno itu adalah Huli Jing yang ada di sana?!”
Menunjukkan ekspresi tak percaya Rick pun ikut meragukan, “Anda sedang bergurau, Tuan Odo?” Pria rambut cokelat ikat kucir tersebut memberikan tatapan tajam, daripada terlihat meragukan ia lebih cenderung ingin mengetahui kebenarannya.
Melihat kedua Kepala Keluarga tersebut menekan putranya, Dart menatap ke arah Fiola dan berkata, “Bisa kau jelaskan itu kepada kami, Fiola?”
Huli Jing tersebut sekilas melihat ke arah Mavis, meminta persetujuan dari majikannya tersebut. Mavis hanya balik menatap dan mengangguk, sebagai tanda setuju untuk Fiola mengungkapkan kebenaran tersebut.
Sembari menatap orang-orang di seberang meja, Fiola dengan tegas berkata, “Yang melawan Raja Iblis Kuno itu memang adalah diriku, tetapi yang menghabisinya adalah Tuan Odo. Laporan serta kabar yang beredar soal diriku yang mengalahkan Raja Iblis Kuno itu hanyalah kebohongan yang Tuan Odo minta kepada saya.”