Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Epilog Arc 02 “Regalia of Felixia : Antequam Aurora” (Part 02)



.


.


.


.


Tujuh belas tahun berlalu dengan lambat baginya, waktu yang begitu lama tersebut sudah lebih dari cukup untuk mengembalikan kepercayaan diri Pemuda itu yang runtuh dan mendorongnya untuk berlari ke depan. Namun, bayaran yang diberikan memang tidaklah sedikit. Pada kurun waktu tersebut, ia kehilangan banyak hal untuk bisa kembali menatap ke depan dan hidup dengan rasa bangga.


Pada usianya yang sudah menginjak 40 tahun, ia telah belajar arti kehilangan. Sekitar enam tahun lalu, Ibunya meninggal karena penyakit yang telah lama dideritanya. Lalu beberapa tahun kemudian, Ayahnya pun menyusul karena usianya yang memang sudah tidak muda lagi.


Kehilangan orang tua menjadi tamparan keras dalam kehidupannya, memaksa Pemuda itu keluar dari zona nyaman dan seakan dilempar ke jalanan. Ia yang selalu bergantung pada perusahaan Ayahnya dipaksa mewarisinya dan memimpin, membuat keputusan untuk orang banyak dan mendapat beban tanggung jawab yang tidak pernah dirinya bayangkan.


Adik satu-satunya pun tidak selalu menjadi anak kecil selamanya. Beberapa tahun sebelum kedua orang tuan mereka meninggal, sang Adik tumbuh menjadi wanita mandiri yang bisa diandalkan dan berhasil menyelesaikan pendidikannya sampai tingkat sarjana.


Di usia 25 tahunan, Adik yang lebih muda beberapa tahun darinya itu menikah dengan seorang pria yang bekerja sebagai perwira militer dan lebih memilih tinggal dengan suaminya tersebut. Meninggalkan sang Kakak yang baru saja mewarisi perusahaan dan dalam masa susah.


Karena itulah, Pemuda itu benar-benar merasa berjuang sendirian. Mati-matian untuk mempertahankan kenangan dari Ayahnya supaya tidak dijual, bertahan dari krisis ekonomi dan politik yang melanda dan menahan godaan dari tawaran-tawaran untuk menjual perusahaan di saat ia membutuhkan uang.


Meski selama beberapa tahun banyak hal di sekitarnya yang berubah, dirinya merasa sama sekali tidak berubah. Sama seperti saat dirinya masih berumur 20 tahun, masih berpikiran naif dan hanya mementingkan diri sendiri. Bahkan wajah dan tubuhnya pun tak menua, sama seperti saat dirinya muda.


Duduk di ruang pribadi pada Kantor perusahaan yang sekarang dipimpinnya, Pemuda itu menatap keluar jendela gedung 14 lantai. Gedung tersebut adalah miliknya, hasil dari apa yang ia kembangkan selama enam tahun terakhir dari Ayahnya.


Namun, apa yang dirinya dapat tersebut sama sekali tidak bisa mengisi kekosongan hati.


Dalam senja sepi di dalam ruangan yang hanya ada dirinya, sinar kemerahan masuk ke dalam ruangan dan perlahan menjadi gelap. “Meski anggur yang tumpah akan dilupakan, namun noda merah pada pakaian tidak bisa hilang dengan mudah,” gumam Pemuda itu seraya mengingat kembali kegagalan dan penyesalannya di masa lalu.


Ia paham tidak ada gunanya lagi mengungkit-ungkit hal tersebut karena sekarang dirinya telah berhasil membuktikan, bahwa dirinya mampu dan bisa lebih baik dari Ayah dan Ibunya. Tetapi, semua itu seakan tidak berarti. Mereka tidak ada, ia tak bisa membanggakan hasil kerja keras tersebut kepada siapa pun.


“Dari CV kecil berubah menjadi PT, lalu semakin berkembang dan banyak ingin bergabung. Dari yang baru mulai dan yang sudah lama, satu persatu menjalin hubungan dengan perusahaan ini. Pada akhirnya, Group Oarlam Orgin ini berkembang pesat seperti sekarang. Yah, mungkin ini efek dari kondisi global selama beberapa tahun silam. Siapa yang menyangka kalau negara Adikuasa akan berakhir seperti itu.”


Dalam kurung waktu yang telah dirinya lewati, yang mengalami banyak hal tidak hanya Pemuda itu. Dunia pun diterpa banyak guncangan yang membuat sistem tatanan berubah dan hubungan antar negara dirombak ulang.


Pandemi yang telah berlangsung selama setengah dekade saat itu membuat negara-negara maju sempat kehilangan kekuatan mereka. Bahkan Negara Adikuasa, Amerika Serikat, sempat mengalami keruntuhan kekuasaan dan negara bagian di bawahnya pecah, lalu terjadilah kekacauan sipil yang berlangsung selama dua tahun lebih.


Hal tersebut membuat perekonomian di Asia pun mulai terkena dampak besar. China mengambil alih pasar dunia, lalu lebih dominan mempengaruhi PBB untuk setengah tahun lamanya. Tetapi, itu tidak berlangsung lama dan pada akhirnya digantikan oleh negara-negara Timur Tengah dan Eropa dengan perkembangan teknologi serta sumber daya bumi yang melimpah.


Namun, pada akhirnya Amerika yang perlahan pulih mulai menyusul. Itu terjadi layaknya seperti Jerman setelah kalah perang, berkembang pesat demi mengejar ketertinggalan.


Karena banyak perselisihan yang ada, sekitar 5 tahun lalu negara-negara berperang untuk memperebutkan sumber daya dan membuktikan dominasi. Itu benar-benar dekade penuh kekacauan, banyak orang yang mati dan kemanusiaan mulai dipertanyakan kembali. Hanya karena pemicu kecil yang tidak terhentikan sampai sekarang, dunia benar-benar berubah.


******* akhir dari kekacauan tersebut adalah hulu ledak nuklir diluncurkan oleh Russia, Amerika, dan China. Dalam sejarah, itu dikenal sebagai Perang Dunia Ketiga dan tercatat sebagai titik jatuh umat manusia. Memang banyak kemajuan teknologi yang didapat selama peperangan, namun pada saat yang sama sifat kemanusiaan semakin dipertanyakan.


Orang-orang meragukan satu sama lain, sifat rasis semakin menguat dalam diri tiap individu dan generalisasi antara penduduk terjadi secara terang-terangan. Saling memberi nilai satu sama lain, lalu merendahkan seakan lebih baik dari yang lainnya.


Tentu dampak dari perang nuklir yang terjadi tidak hanya dalam bidang sosial politik dunia, iklim di seluruh dunia pun terpengaruh. Anehnya, tidak terjadi pemanasan global seperti yang para orang-orang perkirakan. Namun, bumi malah mengalami penurunan suhu secara signifikan.


Dalam berita yang disiarkan, dikatakan kalau medan magnet bumi terpengaruh karena ledakan fusi nuklir secara berturut-turut. Itu mengubah efek gravitasi bumi dan membuatnya malah mengorbit menjauhi matahari secara perlahan-lahan untuk beberapa abad ke depan.


Bahkan, sekarang pada negara yang terletak di Asia Tenggara tempat Pemuda itu tinggal pun terdapat empat musim. Tidak seperti beberapa dekade lalu yang hanya memiliki dua musim layaknya tempat beriklim tropis.


Efek yang diterima bumi bukan hanya itu saja. Sekitar dua tahun setelah berakhirnya perang, dikatakan kepadatan ozon mengalami perubahan dan kehilangan beberapa fungsinya. Salah satu dampaknya adalah bumi akan sering mengalami hujan meteor, karena lapisan atmofer tidak bisa membakar habis bebatuan yang datang dari luar angkasa.


Entah apapun dampaknya, yang pasti banyak hal berubah selama dalam dua dekade terakhir. Baik dalam diri Pemuda itu, ataupun dunia tempatnya tinggal. Tanpa dirinya banyak ikut campur pun roda takdir terus bergerak.


Bangun kursinya, seorang yang seharusnya telah menjadi pria tua itu menghela napas. Ia tampak begitu muda, bahkan memang lebih cocok disebut dengan Pemuda bahkan remaja.


Setelah selesai dengan urusannya di ruang tersebut, Pemuda itu bertepuk tangan satu kali untuk mengaktifkan sistem yang akan secara otomatis menutup jendela. Ia merapikan jas hitam dan dasi yang dikenakan, lalu melangkah menuju pintu.


“Sistem keamanan pertama, aktifkan. Jangan biarkan orang lain masuk ke ruangan. Perlindungan data, level 10. Kirimkan laporan ke jaringan database perusahaan. Kalkulasi ulang opsi yang ada, lalu persempit menjadi lima opsi.”


Dengan otomatis kunci pintu terbuka, lalu lantai tempatnya berdiri yang merupakan screen berubah dari putih menjadi hitam. Senjata api, kamera, serta sensor panas yang tersembunyi di dalam perabotan langsung aktif pada saat itu juga. Saat Pemuda itu melangkah keluar, pintu dengan sendiri tertutup dan sistem pertahan yang terpasang dalam ruangan tersebut aktif sepenuhnya mengikuti perintahnya.


“Yah, salah satu alasan banyak orang mengajak perusahaan ini bekerja sama adalah hal ini juga sih. Penyedia jasa pemrograman A.I dan Sistem keamanan publik. Di zaman dimana orang-orang saling meragukan satu sama lain, banyak yang mendamba-dambakan punya sistem keamanan otomatis di rumah dan kantor mereka.”


Oarlam Orgin dulunya memang adalah perusahan kontraktor swasta biasa, hanya melayani proyek pembangunan dan hal-hal konstruksi lainnya. Namun setelah diwariskan kepada Pemuda itu, konsepnya perlahan berubah. Ditambah dengan tuntutan zaman dan perkembangan teknologi serta digitalisasi, banyak konstruksi bangunan yang memerlukan rancangan sistem keamanan otomatis.


Perusahaan pertama di dunia yang menjadi pelopor penerapan A.I dan Robot pada keamanan lokal adalah Oarlam Orgin. Meski sekarang banyak yang meniru konsep tersebut dalam jasa, namun tetap saja perusahaan yang dipimpinnya itu masih menduduki puncak karena disokong oleh beberapa pengusaha dari perusahaan maju.


Saat Pemuda itu sampai di depan lift, sensor panas aktif dan identifikasi individu dilakukan. Setelah mencocokkan informasi ke dalam database, dengan sendirinya pintu lift terbuka. Ia pun melangkah masuk dan saat berada di dalam berkata, “Menuju basement, slow.”


Dengan kecepatan cukup lambat lift turun ke lantai paling dasar. Sembari menunggu, ia mengambil device khusus berbentuk earphone nirkabel yang terhubung langsung dengan sistem di bangunan. Seraya memejamkan mata, ia sejenak mengakses channel ternama dan mendengarkan berita-berita terbaru.


Dalam perusahaannya, sebenarnya ia tak perlu sering berangkat ke kantor karena memang sistem yang dibuat hanya membutuhkannya untuk mengambil keputusan penting.


Seperti hari ini, banyak laporan dikirimkan kepadanya dari beberapa cabang. Untuk memproses semua informasi yang ada, dirinya perlu menggunakan sistem kalkulasi pada kantornya di lantai 14 gedung perusahaan dan mengambil keputusan.


Selain tugas tersebut, sebagai seorang pemimpin perusahaan ia tidak memiliki banyak kegiatan selain mendengar berita ataupun membuat program baru dan menyampaikannya ke para bawahan untuk dikembangkan.


“Entah mengapa, ini sangat membosankan ….” Pemuda itu hendak mengambil pulpen dari saku celananya. Namun saat tidak menemukan sesuatu, ia dengan sorot mata datar bergumam, “Benar juga, bulan lalu alat tulis benar-benar dihapus karena dianggap tidak efisien lagi. Semuanya sudah ditentukan akan dibuat digital. Sudah berapa lama aku tidak keluar rumah? Apa sebaiknya nanti aku mampir ke supermarket? Belakangan ini aku selalu pakai delivery untuk pesan makanan sih. Apa … sebaiknya aku sewa pelayan supaya di rumah tidak sepi, ya?”


Ia menyandarkan punggung ke dinding besi yang dingin, sejenak menarik napas dalam-dalam dan kembali merasakan kekosongan dalam hidup. Di tengah lamunan yang seakan menenggelamkan dirinya dalam kesendirian, sebuah panggilan membuat siaran berita yang dirinya dengarkan terhenti.


“Eng? Panggilan dari siapa? Eng, Adikku? Tentu …, angkat.”


ↈↈↈ


Kota yang merupakan Daerah Khusus pada sebuah negara di Asia Tenggara, memiliki tingkat kepadatan penduduk tinggi dan angka kelahiran yang stabil. Pada sepanjang jalan, gedung-gedung berjejer rapi dengan sangat teratur. Entah itu bangunan kantor, supermarket ataupun rumah susun, semuanya tertata sesuai dengan topologi yang telah diatur dalam Sistem Keamanan Publik yang diterapkan pada kota tersebut.


Meski tempat tersebut merupakan Kota Uji Coba sebuah sistem pemerintahan berbasis teknologi modern menggunakan kalkulasi mesin pemrograman, manusia lebih cenderung dominan mengisi penjuru tempat. Entah itu di dalam gedung ataupun trotoar jalan, kegiatan orang-orang begitu lekat dengan suasana metropolitan yang ada.


Meski begitu, pada jalan-jalan utama ataupun kecil tidak ditemukan kemacetan. Kendaraan yang ada lalu lintas dengan sangat lancar, mematuhi peraturan yang ada dan tingkat kecelakaan lalu lintas sangatlah rendah. Hal tersebut tentu saja dapat dilihat pada kota tersebut, hampir semua alat transportasi pribadi dan umum telah diambil alih Sistem Keamanan Publik. Hampir semua pengemudi digantikan dengan program autopilot yang bisa mematuhi peraturan tanpa gangguan saat mengemudi.


Pada sepanjang jalan, selain papan reklame dengan screen berisi iklan-iklan produk lokal, tampak juga lampu-lampu jalan dengan sistem pengawas pada setiap sudut kota. Itu terhubung dengan jaringan database perusahaan Oarlam Orgin dan pemerintah, tersusun rapi memalui program Sistem Keamanan Publik yang telah diuji selama beberapa tahun terakhir.


Para A.I, sistem kecerdasan tinggi berfungsi mengawasi dan mengatur kota. Mereka juga perlahan belajar melalui informasi yang didapat, lalu secara bertahap mulai memberikan keputusan terbaik untuk orang-orang yang tinggal di dalamnya tanpa memerlukan bantuan manusia.


Berkat adanya sistem tersebut, polusi pun bisa dikurangi menjadi seminimal mungkin dan kebersihan kota bisa dijaga secara maksimal. Perhitungan zona hijau yang tepat memberikan ruang udara segar bagi kota, mengubah kota tersebut menjadi tempat yang benar-benar ideal untuk menyokong kehidupan manusia.


Bahan bakar fosil untuk kendaraan serta mesin-mesin pabrik juga telah diganti dengan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan. Minyak bumi mulai tergantikan oleh sumber tenaga dari matahari dan angin.


Setelah masa penuh kekacauan beberapa tahun silan, keamanan publik di dunia benar-benar diperbarui dan perannya digantikan oleh A.I khusus yang melakukan kalkulasi terkait hal tersebut.


Kota tersebut merupakan salah satu yang pertama yang menggunakannya, lalu di Amerika, China, Rusia, Inggris, Australia, Jepang, Korea, Saudi Arabia, Qatar, dan terakhir adalah Jerman. Meski di dunia baru beberapa yang mencoba penerapan Sistem Keamanan Publik, namun perlahan kota tetangga dari kota yang menerapkan sistem tersebut mulai terpengaruh dan tertarik untuk menggunakannya.


Dalam sistem memang yang berperan aktif adalah program, mesin, dan para kecerdasan buatan. Namun, bukan berarti peran manusia benar-benar digantikan. Basis dari susunan sistem mereka adalah untuk membantu supaya manusia bisa melakukan hal yang lebih penting, bukan menggantikannya.


Pada sebuah contoh dalam sistem yang berkaitan dengan keamanan masyarakat, para petugas kepolisian masih memiliki pekerjaan yang nyata seperti menerima laporan dari sistem dan bergegas ke TKP jika terjadi tindak kejahatan. Jeda antara kejadian dan laporan terkirim ke kantor keamanan hanya dalam hitungan milidetik, benar-benar meningkatkan keefektifan keamanan publik. Dengan kata lain, program diatur tidak bisa untuk mengadili manusia secara langsung.


Pada akhirnya, yang memutuskan dan berperan di akhir adalah manusia itu sendiri. Program ⸻ Sebaik apapun itu dibuat hanya sebagai komponen pendukung. Apalagi untuk mereka para A.I prototype yang baru saja berumur belum genap empat tahun.


Meski ada banyak yang memprotes tentang pemberlakukan A.I dalam bagian-bagian vital kehidupan masyarakat, namun hasil nyata yang telah dinikmati tidak bisa dibantah. Salah satu wujud nyata dari itu adalah Kota pertama yang menerapkan sistem tersebut secara penuh, tingkat kejahatan berkurang drastis dan kesejahteraan meningkat pesat hanya dalam beberapa tahun saja.


Memang ada sebuah diskriminasi karena sistem hanya mengambil keputusan berdasarkan fakta dan bukan perasaan, tetapi dengan jelas setiap orang pun menggunakan jasa tersebut. Manusia menjadi konsumen dan program menjadi produsen serta distribusi jasa. Dari semua perkembangan teknologi, yang paling menikmati hal tersebut adalah kalangan menengah ke atas.


Untuk yang berada di strata pekerja, mereka terus dituntut untuk memiliki kemampuan dan keahlian yang tidak bisa digantikan mesin. Meski terdengar kejam, namun pada kenyataannya hal tersebut menjadi hal positif bagi perkembangan umat manusia itu sendiri.


Layaknya pertama kalinya mesin uap ditemukan dan terjadilah Revolusi Industri, proses revolusi pun samar-samar dari bawah permukaan mulai menunjukkan pergerakannya pada pergeseran zaman seperti sekarang ini.


Di atas trotoar jalan utama, salah satu orang yang mempelopori perubahan tersebut melangkahkan kakinya untuk sebuah reuni. Ia mengenakan pakaian santai berupa kemeja putih dengan dasi cravat berwarna merah, lalu celana hitam panjang sebagai bawahan dan sepatu kulit yang mengkilap.


Di sepanjang langkah kakinya banyak orang yang juga lalu-lalang, lebih memilih untuk berjalan kaki karena program zonasi yang ada juga diterapkan dalam ranah pekerjaan.


Seseorang setelah lulus akan dilakukan kalkulasi pada hasil belajarnya dan diukur kemampuannya. Setelah proses selesai hanya dalam hitungan hari, sebuah keputusan akan muncul dan menetapkan orang tersebut bisa bekerja apa saja di sekitar lingkungannya.


Sistem tersebut sangatlah efektif untuk mengurangi tingkat pengangguran, karena selama seseorang bersekolah sampai tamat pendidikan sesuai tingkat standar yang ditentukan maka ia bisa langsung memilih pekerjaan.


Meski Pemuda itu telah membawa perubahan dengan program yang dirinya buat bersama rekan-rekan kerjanya, tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Entah itu karyawannya sendiri ataupun warga biasa, tak satu pun ada yang tahu kalau Pemuda itulah pemimpin dari Oarlam Orgin.


Untuk banyak alasan dalam latar belakang, Pemuda itu menyembunyikan identitasnya. Setelah kedua orang tua meninggal, ia mengatur ulang identitas dan bahkan para kerabat jauhnya menganggap Pemuda itu telah meninggal. Hanya sebuah fakta bahwa namanya berada di puncak kepemimpinan Oarlam Orgin saja yang menjadi bukti bahwa dirinya masih ada.


Setelah sekian lama ia tidak keluar rumah dengan tujuan selain ke kantor, Pemuda itu merasa sistem yang dirinya buat bersama rekan-rekannya memang memberikan dampak positif yang jelas. Kesejahteraan meningkat, kota tampak bersih dan tidak ada kemacetan ataupun polusi.


Namun saat dirinya melihat masih ada seorang pak tua di pinggir jalan membawa papan bertulisan protes terhadap program yang ada, rasa lega dalam hatinya runtuh seketika.


Layaknya pepatah, selalu ada hal buruk di dalam hal baik dan ada hal baik di dalam hal buruk. Itulah sebuah keseimbangan.


Entah sebaik apapun seseorang berbuat, pasti itu bisa berdampak buruk kepada orang lain. Umat manusia tidak bisa memilih semuanya, karena kemampuan mereka terbatas dan dalam keterbatasan tersebut mereka harus bisa bertindak kejam demi kebaikan orang banyak. Mengambil keputusan untuk orang lain, itulah salah satu dosa yang masih Pemuda itu lakukan sampai sekarang.


“Yah, bukan berarti aku yang melakukan itu secara langsung. Aku hanya melakukan hal yang perlu kulakukan. Orang seperti itu yang salah karena tidak bisa mengikuti perkembangan dan terus keras kepala.”


Bergumam seperti itu dan meyakinkan diri sendiri atas keputusan yang telah dirinya ambil di masa lalu, Pemuda itu kembali melihat ke depan dan melanjutkan langkah kakinya. Memang Sistem Keamanan Publik yang terpasang di setiap sudut kota juga mengawasi orang-orang seperti pak tua tersebut, namun belum ditetapkan kalau orang-orang seperti itu bisa membahayakan keamanan publik.


Dalam benak, ia kembali mengingat salah satu saran dari laporan yang diberikan rekan kerjanya tentang rencana untuk menertibkan orang-orang seperti itu karena dianggap merusak pemandangan kota. Namun merasa belum saatnya untuk mengeliminasi, Pemuda itu hanya memasukkan rencana tersebut ke dalam draft di database dan akan diproses jika kondisi memungkinkan.


Setelah lima belas menit berjalan dari kediamannya, ia turun ke terowongan menuju stasiun kereta bawah tanah untuk pergi ke kota tetangga yang berjarak delapan pemberhentian stasiun.


Pada masa kini, alat transportasi lain hampir dihapus karena kereta bawah tanah menjadi opsi paling bijak dan murah.


Rendah angka kecelakaan karena jalurnya berada di bawah tanah, lebih cepat dan waktu keberangkatannya teratur. Satu-satunya kekurangan dari alat transportasi tersebut adalah rute yang terbatas karena masalah infrastruktur pembangunan yang sulit diperhitungkan.


Salah satu kendala yang menyebabkan hal tersebut adalah masih adanya beberapa kota yang belum setuju menggunakan Sistem Keamanan Publik dari Oarlam Orgin. Itu membuat A.I yang bertugas untuk bagian infrastruktur kesulitan untuk melakukan kalkulasi karena jangkauan informasinya terbatas.


Dalam perjalanan kereta bawah tanah sepanjang 170 kilometer lebih tersebut, tak ada hal yang menarik karena memang itu berfokus sebagai alat transportasi dan bukan rekreasi. Tak butuh waktu sampai setengah jam, ia sampai di tempat tujuan.


Kota tetangga tampaklah sangat berbeda, masih terlihat beberapa kendaraan umum yang membutuhkan sopir dan bahkan menggunakan bahan bakar fosil. Meski hanya berjarak kurang dari 200 kilometer dari Kota Uji Coba dan berada di pulau serta negara yang sama, perbedaan teknologi benar-benar tampak dengan jelas.


Ia memilih untuk tidak memikirkan hal tersebut lebih dalam lagi. Pemuda sangat memahaminya, perlahan-lahan pasti pengaruh Oarlam Orgin akan terus menyebar dan secara penuh menancapkan akarnya di seluruh kota pada negaranya.


Sembari mengaktifkan Device yang terpasang pada telinganya dan mendengarkan hasil kalkulasi yang telah diproses sejak malam, ia melangkahkan kaki menuju tempat pertemuan.


Hari ini sang Pemuda keluar kota karena panggilan dari Adiknya yang setelah beberapa tahun akhirnya menelepon, untuk reuni dengan satu-satunya orang yang dirinya anggap keluarga.


Memasuki kafe yang terletak tak jauh dari jalan raya utama dan dekat stasiun, Pemuda itu sempat bingung karena tidak menemui Adiknya. Karena seharusnya ia datang tepat waktu.


Menekan Device pada telinga dan memastikan waktu, dirinya memang tidak salah tempat dan bahkan lebih cepat lima menit.


“Apa dia telat? Tidak biasanya …. Yah, kepribadian orang bisa saja berubah seiring berjalannya waktu. Lagi pula, sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bertemu dengannya. Sekitar hampir enam tahun, setelah Ibu meninggal dia langsung pergi dari rumah sih.”


Merasa akan menunggu lama, Pemuda itu berjalan ke arah pelayan untuk memesan minuman. Namun sebelum sempat memesan, seseorang menarik pakaiannya dari belakang dan membuat Pemuda itu menoleh.


“Apa kabar, Kak?”


Pemuda itu sangat terkejut, kedua matanya terbuka lebar melihat Adiknya tersebut. Jika dibandingkan dengan terakhir kali dirinya bertemu, Adiknya itu benar-benar mengalami banyak perubahan.


Wanita yang dulunya terlihat cantik dan ceria sekarang tampak sedikit tua, keriput di wajahnya semakin jelas, badannya bertambah kurus dan benar-benar terlihat seperti tante-tente yang hampir menginjak usia kepala tiga.


Pada saat itu, sang Pemuda benar-benar sadar bahwa waktu adalah hal terkejam bagi umat manusia. Sesuatu yang dirinya anggap indah perlahan mulai pudar seperti itu. Adiknya yang dulu sangat cantik dan ceria pun berakhir menjadi wanita dengan keriput jelas di wajahnya dan tampak murung.


Melihat anak perempuan yang usianya sekitar lima tahun digandeng Adiknya, Pemuda itu kembali tersentak dan baru tahu telah memiliki keponakan. “Kau … sudah punya anak?” tanya Pemuda itu untuk memastikan.


“Hmm, itu benar. Anak ini … Putri ku. Namanya Shiea Lia, sekarang umurnya sudah lima tahun. Eng …, Kak, sebenarnya … aku sudah memberitahu Kakak lewat SMS saat anak ini lahir loh. Apa tidak dibaca?”


“Ah, waktu itu mungkin aku sudah membuang Smartphone ku ke sungai. Karena beberapa alasan …. Maaf, saat itu aku juga banyak masalah. Makannya aku baru bisa datang sekarang saat kau menghubungi ku melalui saluran perusahaan. Tak kusangka kau bisa tahu alamatnya.”


“Aku dapat dari orang yang mengaku kenakan Kakak. Kalau tidak salah …, namanya Richard …. Dia orang militer, rekan Milo dalam satu batalion.”


Reuni keluarga berakhir dengan sebuah rasa canggung, tanpa percakapan hangat untuk melepas rasa rindu ataupun diselingi pelukan mesra Kakak-Adik.


Adiknya menelepon dan memanggilnya bukan dengan kabar baik, Pemuda itu sangat memahami hal tersebut. Suasana canggung yang ada pun adalah hal yang tidak bisa dihindarkan.


Setelah terdiam dan saling menatap untuk sesaat, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk duduk di meja dekat jendela sesudah memesan kepada pelayan.


Hening, bahkan setelah pesanan datang pun mereka berdua tidak kunjung memulai percakapan. Hanya terdiam dan sesekali saling bertatapan, lalu kembali memalingkan pandangan dalam suasana yang sangat jauh dari kata kekeluargaan.


“Mama, Kakak ini siapa?” tanya anak dari sang Adik. Ia duduk di sebelah ibunya, memegang cup gelato dan memakannya dengan belepotan.


“Itu …, dia adalah Paman kamu, Lia. Dia adalah Kakaknya Mama. Namanya Paman aeahfiu cei0j mpaej.”


\===============


Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.


Tapi!


Dilarang promo di cerita ini!


Oke?


Bukannya pelit, hanya saja secara pribadi aku tidak suka orang yang suka melanggar batas-batas kebebasan dalam hal berkarya.


Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.


Di Facebook sudah ada tempat khusus.


Jadilah orang yang mencerminkan literasi tinggi, bukan tambah kayak pedagang asongan yang asal masuk ke bus.