
“Bwah!” Julia menarik keluar wajahnya yang tertanam masuk di dalam salju. Menoleh dengan wajah memerah kedinginan, Ia berkata, “A-Apa yang anda lakukan sih!? Bukan waktunya bercanda tahu!”
“Aku tahu ....” Odo lekas mengambil belati milik Julia yang diletakkan pada sabuk yang melingkar pada pahanya, lalu dengan secepat kilat melemparkannya ke arah salah satu monster yang meloncat dari atas salah satu pohon dan hendak menunjam gadis berambut keperakan tersebut.
Belati yang dilemparkan tersebut tepat mengenai kepala Goblin yang memiliki tanda-tanda mutasi fisik di tubuh seperti tulang tajam yang mencuat ke depan dari kedua pergelengan atas monster tersebut. Sadar kalau Goblin itu merupakan monster yang telah masuk mutasi tahap awal, Odo lekas memegang kerah pakaian Julia dan menariknya ke belakang. Goblin yang kepalanya tertusuk belati itu belum mati, tanda mutasi juga memiliki arti kalau tubuh mereka lebih kuat dari sejenisnya sehingga senjata yang dilemparkan Odo tidak bisa menembus tengkorak monster kerdil hijau tersebut.
Goblin yang memiliki tulang tajam mencuat keluar seperti gading itu menyerang Odo dengan senjata yang menyatu dengan tubuhnya tersebut. Menggunakan refleks yang telah ditingkatkan, anak berambut hitam itu menangkap bagian tumpul kedua tulang runcing itu, lalu dalam hitungan kurang dari satu detik langsung menggunakan sihir penguatan untuk mempertahankan posisi kaki saat berpijak dan menahan daya hendak serangan Goblin.
Menggertakkan gigi, Odo memasang wajah marah sampai bibirnya melebar ke pipi, dan dengan cepat langsung meningkatkan aura sihir untuk menyelimuti tubuhnya dengan petir. “Blitz ....” Dalam jangkauan kedua tangannya, Odo menyebarkan petir ke depan dan menyetrum Goblin tersebut. Makhluk hijau itu langsung hangus dan terjatuh ke belakang.
Tindak selesai dengan serangan cepat itu, Odo langsung mendaratkan tendangan keras ke wajah Goblin yang tidak sadarkan diri itu seraya berteriak, “Kenapa Goblin melulu SIALAN!!!” tubuh monster kerdil itu melayang terpental dan menabrak empat ekor sejenisnya yang juga hendak menyerang. Sebelum kelima monster itu jatuh ke permukaan, Odo memusatkan Mana beratribut petir di atas telapak tangan kanan dan memanipulasi bentuknya menjadi sebuah busur berbentuk abstrak.
“HAA!” Menggunakan momentum elektromagnetik, busur petir itu melesat dan menancap pada salah satu tubuh Goblin yang melayang di atas udara dan meledak. Daging mereka yang hangus berceceran dan terpencar ke berbagai arah. Beberapa ada yang terciprat ke wajah anak itu dan jaket mantel yang dikenakan Julia.
Setiap orang di tempat itu tidak ada yang merisaukan tindakan Odo karena memang tidak ada waktu untuk protes, hal itu juga termasuk untuk Julia. Serangan Goblin itu hanya awal dari serbuan puluhan monster yang telah mengepung mereka dari berbagai arah. Layaknya sekawanan kera, para Goblin itu memiliki bentuk kaki yang bisa memaksimalkan loncatan, dan kedua tangan mereka bisa digunakan untuk bergelantungan serta memiliki bagian tubuh tulang mencuat seperti tanduk yang bisa digunakan sebagai senjata.
Para Goblin yang masuk ke dalam bentuk mutasi tahap awak itu tidaklah terlalu kuat jika dibandingkan dengan kemampuan para Shieal, tetapi dalam segi jumlah mereka kalah telak. Jumlah Goblin itu benar-benar lebih dari lima puluh ekor dan terus berdatangan semakin banyak. Mengintai di atas cabang dan ranting pohon, membuat salju yang tertumpuk di atasnya berjatuhan dengan tingkah gaduh dan biadab yang ada.
Menarik Julia dan membantunya berdiri, Odo lekas mendekat dan berbisik, “Mbak ..., jangan cemaskan aku dan bertarung saja sepuasnya. Aku akan baik-baik saja. Kalau seperti ini kita benar-benar terkepung habis. Aku akan mengarahkan setengah dari mereka.”
“Tuan Odo, tunggu!”
Tidak mendengarkan perkataan Julia, Odo lekas memancarkan aura mengerikan yang persis digunakan untuk memancing para monster mendekat. Para Shieal tersentak, para monster gemetar terkejut, dan Julia berusaha meraih anak berambut hitam yang berlari menjauh dari formasi lingkaran. Tak bisa digapai oleh Julia, Odo lekas mengaktifkan Sihir Khusus miliknya yang didapat dari Inti Sihir Naga Hitam.
“Hariq Iliah, aktivikasi penuh!”
Hembusan angin panas membuat Julia terdorong ke belakang dan membuat salju dalam radius lebih luas langsung mencair. Dalam radius lebih dari satu kilometer, suhu yang ada terasa jelas menghangat sampai seperti musim panas. Secara otomatis perhatian sebagian besar para Goblin terarah pada anak kecil yang berlari keluar dari formasi pertahanan melingkar.
Salah satu Goblin menyerang pertama ke arah Odo. Menyeringai gelap karena telah memprediksi semua pergerakan di tempat itu menggunakan sihir sensor getaran, anak berambut hitam itu berhenti berlari setelah menjauh beberapa meter dari formasi. Ia merentangkan kedua tangannya ke samping dengan posisi telapak tangan terbuka. Dalam proses cepat, struktur sihir terbentuk dan kalkulasi yang dibantu Auto Senses selesai dilakukan dalam waktu kurang dari dua detik.
“Blitz ..., Decke.”
Petir langsung menyambar keluar dari tubuhnya ke berbagai arah dan menjatuhkan beberapa Goblin yang meloncat ke arahnya dari atas cabang pohon. Tubuh hangus makhluk-makhluk hijau itu berjatuhan seperti daging gosong yang tidak bernilai. Melihat apa yang dilakukan Odo, Gariadin sempat terkejut dan konsentrasinya terganggu. Salah satu Goblin yang mengincarnya menyerang dan mengincar leher pria berambut merah gelap tersebut. Sebelum tulang runcing yang mencuat keluar dari lengan Goblin menembus lehernya, Xua Lin meninju Goblin tersebut menggunakan teknik Qi Gong, sebuah teknik bela diri yang mengombinasikan pernapasan dengan tinju tenaga dalam.
Bruak! Tengkorak Goblin tersebut remuk dan tubuhnya terpelanting jauh sampai membentur salah satu pohon di sekitar tempat tersebut. “Jangan lengah!” ujar Xua Lin seraya mengatur pernapasannya dan kembali menghajar monster yang menyerang menggunakan tinju berlapis gauntlet logam.
“Maaf!”
Gariadin mengangkat tombaknya dan ikut menyerang para Goblin yang berjatuhan dari atas pepohonan dan menyerang tak henti-henti. Dalam formasi lingkaran yang berfungsi melindungi titik buta masing-masing anggota dalam formasi, para Shieal bertahan dari serangan para monster.
Dalam formasi tersebut, Julia tidak bisa meninggalkan perannya meski dirinya merasa cemas karena tuannya berlari keluar dari salah satu teknik pertahanan bertarung kelompok yang digunakan. Gadis Demi-human itu sadar kalau dirinya keluar, dengan sangat cepat formasi yang ada akan hancur melihat jumlah Goblin yang menyerang.
Sadar para Shieal kewalahan menangani para Goblin yang seakan tidak ada hentinya berdatangan, Odo kembali meningkatkan aura mengerikan miliknya untuk memancing perhatian para monster kerdil tersebut. Tetapi itu berakibat sangat buruk dan melebihi perkiraan, semua monster di tempat itu perhatiannya langsung tertuju anak berambut hitam itu dan langsung mengincarnya. Lebih parah dari itu, kelompok Goblin tidak bermutasi yang baru saja datang langsung menetapkan Odo sebagai target mereka.
“Ah ..., ini ... kenapa ... HARUS GOBLIN MELULU!!”
Julia dan para Shieal yang juga disibukkan oleh para Goblin yang tidak ada habisnya melihat sesekali sambaran petir biru keluar dari arah Odo yang dikerumuni jumlah monster lebih banyak dari mereka. Berniat menolong anak berambut hitam itu, tetapi mereka sama sekali tidak bisa melepas formasi dan bergerak dari tempat karena serangan para Goblin yang tidak ada habisnya.
Odo meloncat dan menjadikan salah satu Goblin yang menyerang sebagai pijakan, lalu kembali meloncat menggunakan Goblin lain yang berada di udara sebagai pijakan sampai mendapat ketinggian yang cukup untuk menghindari kawanan monster yang terus berdatangan tersebut.
Saat berada di udara, anak berambut hitam itu berteriak sekencang dirinya bisa, “Mbak Julia!! Kita berpencar dulu!! Kumpul lagi kalau semuanya sudah beres di tempat Drake diparkir!!” Mendengar suara lantang dari anak berambut hitam yang melayang beberapa meter di udara itu, perhatian para Shieal dan monster langsung terarah kepadanya secara keseluruhan.
Kembali meningkatkan aura mengerikan untuk memancing para monster, Odo lekas membuat lingkaran sihir sebagai pijakkan dan mengubahnya menjadi lingkaran sihir pelontar untuk melesat menjauh dari tempat itu, memancing para Goblin yang jumlahnya sudah mencapai ratusan pergi dari para Shieal.
Saat sudah menjaga jarak cukup jauh dengan masuk lebih ke dalam hutam, Odo berhenti di atas salah satu cabang pohon setelah menggunakan sihir pelontar secara beruntun untuk bergerak di udara melewati pepohonan. Melihat ke bawah masih banyak Goblin yang mengejar dan di jarak pandang sejajarnya masih banyak Goblin bermutasi meloncat-loncat seperti kera ke arahnya, Odo menjatuhkan tubuh ke bawah dan langsung mengarah ke salah satu Goblin yang hendak memanjat pohon.
“Mati!” Anak berambut hitam itu menendang dengan lututnya dan merotokan mulut makhluk hijau tersebut. Tetapi dalam hitungan detik, sejenisnya langsung menerkam ke arah Odo dari berbagai arah seperti binatang buas yang kelaparan.
“Blitz!” Petir menyambar ke penjuru arah dari tubuh Odo dan membakar semua Goblin yang menyerangnya. Mendapat pijakan di permukaan salju, anak berambut hitam itu berputar dengan kaki kanan sebagai tumpuan dan langsung melesat menjauh menggunakan sihir pelontar untuk menghindari kepungan makhluk-makhluk hijau yang mengejarnya dengan gigih.
“Akh ..., rasanya turun peringkat .... Dari Dragon Slayer kok jadi Goblin Slayer .... Gak lucu! Kenapa juga banyak banget yang gagal hibernasi monsternya!!? Apa mereka bangun gara-gara ulahku tadi!!”
Dengan keluh kesah sendiri, Odo terus menggunakan sihir pelontar untuk menjauh dari mereka dan sesekali menyerang balik untuk mengurangi jumlah para makhluk hijau yang mengejarnya. Tetapi seperti tidak ada habisnya, Odo dibuat terus menjauh dari para Shieal lebih dari lima jam lamanya sampai jumlah para Goblin itu benar-benar berhenti berdatangan.
««»»
Di malam hari dimana langit musim dingin masih terlihat cerah dengan cahaya biru gelap berhiaskan butiran cahaya terang, Odo berdiri di tengah hamparan penuh tumpukan mayat di dekat sungai sekitar Inti Hutan Pando. Mayat para Goblin bertumpuk-tumpuk seakan membukit, darah merah mengalir bagaikan sebuah sungai yang salah musim di saat salju turun, dan di antara semua itu terlihat beberapa mayat Tarasque yang gosong seperti tersambar petir.
Melangkah dengan tubuh lemas, Odo bersandar pada salah satu batang pohon pando dan sejenak menarik napas untuk menenangkan diri setelah bertarung lebih dari tujuh jam. Ia perlahan jatuh terduduk lemas, kembali menyandarkan punggung ke pohon. Sekujur tubuh anak itu terdapat luka yang bahkan tidak bisa disembuhkan dengan sihir Instan Regen karena Mana miliknya sudah benar-benar habis dan sirkuit sihir dalam tubuhnya terlalu terbebani sebab terlalu sering menggunakan sihir dalam waktu singkat.
Anak dengan kemeja berlumur darah dan celana compang-camping tersebut melihat ke depan dengan pandangan buram, lalu menyeringai tipis saat melihat semua monster yang telah dirinya kalahkan, seakan puas dengan apa yang telah dilakukan. Menghembuskan napas dan membuat uap putih membumbung rendah di udara, anak itu mendongak ke atas dan melihat ke arah langit malam yang sangat cerah.
“Selesai juga ..... Aku kira mereka respawn gak ada habisnya. Sialan ..., akh .... Rasanya ini lebih para daripada saat lawan Naga Hitam. Apa karena saat itu aku dibantu Reyah? Ah ..., biarlah.”
Sejenak ingin memejamkan mata, tiba-tiba hawa keberadaan yang terasa aneh muncul dan memaksa Odo kembali waspada. Ia membuka mata lebar-lebar, menatap ke depan dengan penglihatan sedikit buram. Tepat di luar hamparan penuh mayat monster dekat sungai beku tempat dirinya berada, terlihat sosok wanita berambut pirang panjang yang berdiri tegak melihat ke arahnya.
Odo sentak terkejut, tambah membuka mata lebar-lebar dan berusaha untuk duduk. Tetapi karena tubuhnya terlalu lemas, Ia kembali bersandar pada pohon dan menghela napas dengan resah. Sesaat di antara mereka terasa keheningan tanpa kata-kata dan suara, seakan dunia benar-benar membiarkan mereka sendiri tanpa gangguan sedikit pun, menatap satu sama lain antara sorot mata merah.
Satu kali Odo berkedip dan berpikir sejenak. Saat kembali membuka mata, wanita yang mengenakan jubah panjang berwarna gelap panjang sampai mata kaki itu telah berdiri di hadapannya. Odo ingin berteriak karena kaget, tetapi tubuhnya terlalu lemas untuk melakukan itu. Menarik napas dalam-dalam, anak itu dengan sedikit pasrah mulai memejamkan matanya.
“Siapa kau?” tanya anak itu seraya kembali membuka mata dengan lemas.
Tidak menjawab pertanyaan tersebut, wanita itu berjongkok di hadapan Odo dan meletakkan telapak tangan kanan ke atas wajahnya. Merasakan hal aneh, perlahan kesadaran anak berambut hitam itu menghilang dan dengan sangat cepat penglihatannya yang buram menghitam.
======================================================
Terima kasih untuk kalian para penikmat yang sudah membaca seri ini. Semoga seri ini semakin menarik.
Untuk pembaca, silakan dukung seri ini dengan:
Like, Komentar, Saran, 5 bintang, dan Share kalian.
See You Next Time!!