Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 30: Apa yang selalu ia lakukan .... (Part 01)



 


 


 


Menatap lurus apa yang ada di hadapan, mata anak rambut hitam itu mulai kebingungan. Tepat apa yang tercermin pada bola matanya adalah perempuan berambut pirang, tetes air yang mengalir dari rambut basahnya sekilas membuat anak itu membatu dengan mulut rapat. Ia berdiri di bawah salju yang turun dengan lambat, bersama Fiola di belakangnya dan masih belum masuk ke dalam panti asuhan.


 


 


Perempuan yang tidak asing baginya itu melontarkan pertanyaan, “Tuan Odo ...? Kenapa Anda menatap seperti itu?”


 


 


Perlahan mulut terbuka, wajah anak berkemeja putih itu seakan menjerit tanpa suara. Darah mengalir keluar dari hidungnya, bersama dengan mata yang mulai berkaca-kaca seakan ingin menangis dengan keras. Segera anak itu menundukkan wajah, sembari mengusap darah yang mengalir ia berkata, “Tak apa .... Hanya saja Kak Siska penampilannya berbeda dengan sebelumnya, ya .... Waktu di Gereja Utama.” Perempuan itu sadar ada yang aneh dengan perkataan tersebut, darah yang mengalir dari hidung dan mata berkaca-kaca anak itu membuat Siska sesaat tertegun.


 


 


Odo berjalan ke samping, lalu bersandar pada dinding bangunan dan mulai menunduk. Melihat anak itu memegang kepala dengan kedua tangan dan darah kembali mengalir dari hidungnya, Fiola dengan cemas menghampirinya. “Anda kenapa? Tadi masih ceria ... tapi kenapa sekarang wajah Anda pucat? Kelelahan?” tanyanya seraya menyentuh kening Odo.


 


 


Panas, suhu badan Odo benar-benar tinggi dan membuat Fiola terkejut. Itu sudah bukan suhu demam biasa, keringat anak itu yang keluar membasahi kemeja membuatnya seperti mandi keringat. Huli Jing itu benar-benar semakin cemas anak itu, ia terlihat bingung harus melakukan apa pada kondisi seperti itu.


 


 


Menatapnya dengan datar, Odo memasang senyum simpul dan berkata, “Ya ..., mungkin.” Darah tidak berhenti keluar dari hidungnya, terus menetes meski sudah diseka berkali-kali dengan lengan sampai kemejanya penuh bercak merah darah.


 


 


“Tuan ...? Hey, Tuan Odo?! Kenapa Anda mimisan seperti itu?” Odo sudah tidak bisa dengan jelas mendengar perkataan itu, ia hanya bisa melihat buram gerak bibir Fiola.


 


 


Menoleh panik ke arah Siska, perempuan rubah itu berkata, “Bisa biarkan kami masuk dulu? Tolong ....”


 


 


“Ya ....” Siska menjawab dengan wajah takut, melihat banyaknya darah yang dikeluarkan anak itu.


 


 


Masuk ke dalam, Odo dibaringkan pada salah satu kamar di panti asuhan tersebut dengan hidung disumbat kain dan posisi badan menghadap ke langit-langit. Sisika dan Fiola menemaninya dengan cemas. Anak-anak panti asuhan mengintip ke dalam ruang saat Odo memakai kamar yang dipinjam dari mereka itu.


 


 


Beberapa menit kemudian, perempuan berambut pirang tersebut pergi dari ruangan dan meninggalkan Fiola bersama anak itu. Anak-anak panti asuhan yang mengintip dari pintu pun diajak biarawati itu keluar untuk membiarkan Odo beristirahat.


 


 


Membuka matanya dengan sayu, Odo melihat langit-langit tanpa menjelaskan apa-apa pada Fiola. Tetapi saat beberapa menit berlalu, anak itu dengan lirih berkata, “Mbak Fiola, bisa tinggalkan aku sendiri ...? Tolong beritahu saja pada Kak Siska kalau aku sedang kelelahan ....” Huli Jing tersebut mengangguk, lalu pergi dari kamar seraya berkata, “Jangan terlalu memaksakan diri ..., Tuan Odo. Pakaian gantinya saya tinggal di situ, kalau sebaiknya ganti dulu pakaian Anda supaya keringatnya tidak membuat anda pengap.”


 


 


Tidak sampai lima menit setelah Fiola meninggalkan kamar, Odo segera duduk di pinggir ranjang dengan memasang wajah muram. Sembari mendongak ke atas ia bergumam, “Serius? Jangkauannya benar-benar mulai meluas. Apa ini karena pengaruh dari struktur sihir yang diberikan Seliari ..., makanya Spekulasi Persepsi dalam struktur Auto Senses semakin kuat hasilnya?” Anak itu kembali membaringkan tubuh ke atas ranjang seraya merentangkan kedua tangannya ke samping.


 


 


Apa yang terjadi sebelumnya bukanlah pengulangan waktu atau semacamnya, hal semacam itu tidak mungkin bisa dilakukan di dunia tanpa faktor kemungkinan dan Odo sendiri tidak memiliki kekuatan semacam itu. Semua kejadian yang ada sebelumnya hanyalah terjadi dalam kepala anak itu, sebuah perkiraan dan gambaran dari hasil pemikiran super cepat sebuah struktur sihir yang tertanam bersama Auto Senses.


 


 


Kemarahan, pertengkaran, pembicaraan, dan kejadian yang membuat Odo marah dan menyesal itu tidak benar-benar terjadi. Semuanya hanya sebuah spekulasinya dari hasil informasi yang anak itu punya tentang semua orang yang ada di sekitar dan tempatnya berada. Sebuah lingkaran sihir yang dirasakan Odo sebelum masuk adalah sebuah penanda awal dari aktifnya sihir Spekulasi Persepsi tersebut dan membuatnya merasakan sensasi seperti telah memasuki panti asuhan sebelumnya, lalu melakukan segala sesuatu yang telah terlintas dalam kepalanya seperti kenyataan itu.


 


 


Pada dasarnya Spekulasi Persepsi adalah salah satu sihir dari struktur Auto Senses yang berfungsi untuk membantu Odo dalam melakukan kalkulasi. Menggunakan informasi yang ada dalam alam sadar dan bawah sadarnya, sihir tersebut melakukan perhitungan dan memberikan sebuah gambaran pada Odo berupa prediksi tentang apa yang akan terjadi jika memilih sebuah tindakkan yang ada.


 


 


“Padahal dalam keadaan normal ... kalau sihir itu aktif seharusnya aku hanya melihat kejadian yang bisa saja terjadi padaku atau sekitarku. Tapi ..., tadi rasanya seperti aku sendiri yang merasakannya.”


 


 


Menutup mata dengan lengan, anak itu masih merasakan gejolak emosi yang begitu kuat dan keruh. Membuat napasnya sesak, dada terasa sakit, dan itu seakan menahan tubuhnya untuk tetap berada di atas tempat tidur.


 


 


“Sialan naga itu ..., jadi efek sampingnya benar-benar mempengaruhi struktur sihir lain sampai separah ini. Rasanya seperti ada virus di dalam tubuhku .... Lagi pula, apa tadi? Rasanya keterlaluan ....”


 


 


Odo bangun dari atas ranjang, lalu memeriksa tubuh secara fisik untuk memastikan tidak ada hal yang aneh lainnya. Mencabut kain dari hidung karena pendarahan sudah berhenti, ia segera melepas kemejanya. Terdiam sesaat, anak itu menatap lentera minyak yang digantung di dekat pintu.


 


 


“Apa ... itu benar-benar salah satu kepingan yang aku rasakan dan mungkin aku lakukan? Aku ... ingin melakukan itu?” Wajahnya kembali muram, apa yang dirasakannya dalam kejadian sebelumnya masih membekas. Pemikiran tentang kekesalan lahir di keluarga bangsawan pun masih dengan jelas terngiang dalam kepalanya.


 


 


“Sebaiknya aku segera memperbaiki kerusakan sihir ini .... Kalau dibiarkan, aku sama saja seperti orang gila ....”


 


 


Odo mengambil tunik yang disediakan Fiola untuk pakaian ganti. Selesai merapikan diri, anak itu segera berjalan keluar ruangan untuk menjelaskan beberapa hal pada mereka yang terlihat cemas saat melihat dirinya jatuh lemas sebelumnya. Tetapi saat baru membuka pintu, hal serupa terjadi kembali dan sebelum dirinya sadar ia telah duduk kembali di atas ranjang kamar.


 


 


“Eh?” Melihat ke kanan dan kiri, Odo benar-benar kebingungan. Ia masih mengenakan kemeja dengan bercak darah pada lengan dan pintu kamar masih tertutup. Melihat tunik yang seharusnya dikenakan masih terlipat rapi di dekat meja dekat ranjang, ia baru sadar kalau apa yang dilakukannya tadi hanya berupa dalam kesadarannya saja.


 


 


“Ah ..., apa ini? Loop? Bukan, ‘kan? Tadi hanya kesadaranku yang bergerak dan melaju sendiri?”


 


 


Kening anak itu mengerut, ia benar-benar merasa kesal dan segera bangun dari ranjang. Lekas keluar dari kamar tanpa mengganti pakaian, Odo berjalan di lorong dengan pencahayaan lentera sedikit redup yang digantung pada salah satu sudut. Sedang tergesa-gesa menuju ruang makan panti asuhan, tanpa  sengaja dirinya berpapasan dengan Nanra.


 


 


“A ...?”


 


 


Mata mereka bertatapan. Saat Odo hendak mengucapkan sesuatu, sekali lagi sebelum dirinya sadar ia kembali duduk di atas ranjang dan apa yang terjadi tadi itu hanyalah apa yang ada di dalam kepalnya. Kali ini itu membuat keringat dinginnya keluar, anak itu mulai panik dengan apa yang terjadi.


 


 


“A-Apa ini ...? Apaan, nih?! Rasanya kayak gim PC bajakan yang banyak kena bug melulu. Pas main malah kembali ke start melulu ....”


 


 


Odo hendak mengambil tunik yang diletakkan oleh Fiola untuknya. Sebelum mengambilnya, sekali lagi apa yang hendak dilakukannya itu ternyata hanya kesadaran Odo saja yang berjalan dan dirinya sendiri masih duduk di atas ranjang tanpa bergerak.


 


 


Menarik napas dalam-dalam, anak itu segera duduk bersila di atas ranjang. Memasang posisi meditasi, ia mulai mengakses beberapa struktur sihir pasif yang beroprasi pada tubuhnya. Spekulasi Persepsi, Refleks Super, Pengaturan Sihir Otomatis, dan berbagai sihir pasif lainnya dalam kesatuan struktur Auto Senses satu persatu dirinya matikan.


 


 


Tetapi saat hendak mengakses inti dari Auto Senses, sebuah reaksi penolakan terjadi dan kesadaran Odo terhentak keluar secara paksa. “Ah!? Aku tidak bisa mengakses strukturnya?” Dengan sangat cepat seluruh kesatuan sihir pasif yang ada pada tubuhnya aktif kembali dengan sendirinya.


 


 


“Serius? Kenapa tubuhku? Rasanya seperti PC rusak saja ....”


 


 


Odo berhenti meditasi dan turun dari atas ranjang. Tetapi sebelum kakinya menyentuh lantai, ternyata apa yang hendak dilakukannya itu hanyalah terjadi dalam pikirannya dan tubuhnya sendiri masih duduk sila di ranjang.


 


 


“Aaaaaaah ....”


 


 


Menarik napas dalam-dalam, Odo berusaha menenangkan diri dan memahami situasi. Mempertimbangkan beberapa hal dan memeriksa kejanggalan, anak itu tetap tidak bisa menangani sihir yang hilang kendali tersebut. Selama dirinya menggunakan sihir, Odo baru sadar betapa menyusahkannya jika sihir yang ditanamkan dalam kepalanya hilang kendali seperti itu.


 


 


Lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi. Hampir sampai ribuan kali Odo, dalam setiap 30 detik ia akan kembali duduk sila di atas ranjang. Selama ribuan kali tersebut sebenarnya ia sama sekali tidak bergerak dari tempat, hanya kesadarannya saja yang bergerak dan apa yang terjadi terasa nyata baginya.


 


 


“Oiiiiiiii! Paling tidak kalau ada pengulangan kayak gini dibuat dramatis .... Gak penting amat ulang-ulang kayak gini!” Odo membaringkan tubuhnya ke ranjang. Setelah tiga puluh detik, ia kembali duduk dan apa yang dilakukannya tadi hanyalah terjadi dalam kepalanya.


 


 


“Ah, samp—“


 


 


Penglihatannya tiba-tiba memudar. Ambruk ke depan dan jatuh dari ranjang, dengan cepat Odo kehilangan kesadaran dan pandangan anak itu hitam sepenuhnya. Sensasi jatuh dengan jelas ia terus rasakan. Dalam, dalam, dan amat dalam. Ia seraya terjun bebas ke dalam sebuah lubang raksasa yang begitu gelap sampai membuat dadanya sesak.


 


 


Cahaya sekilas terlihat di tengah sensasi jauh tersebut. Berusaha meraihnya, gemerlap tersebut menghilang dan seketika seluruh pandangannya menjadi terang. Menarik napas dengan cepat, Odo segera bangun dan melihat sekitar. Ia berada di sebuah hamparan rumput yang amat luas, tak terlihat seseorang sampai batas cakrawala dan langit yang ada terlihat begitu biru.


 


 


Saat menoleh ke kanan, sebuah pohon raksasa yang begitu kokoh dan megah tercermin pada matanya. Odo langsung sadar kalau dirinya sedang berada di dalam Alam Jiwanya sendiri. Sedikit tersenyum tipis, dirinya baru mengingat kalau ada cara lebih ampuh untuk mengakses inti sihir.


 


 


“Ah, benar juga. Kalau di dalam sini pengaruh sihir yang hilang kendali itu tidak ada.”


 


 


Anak itu bangun dan berjalan menuju pohon hijau tersebut. Saat kembali mengamati, bagian ranting dan cabang pohon tersebut yang terpotong bertambah. Alis Odo terangkat saat melihat tumpukan buku di atas rumput yang jumlahnya semakin banyak dari terakhir kali dirinya datang.


 


 


“Di mana kadal itu?! Seli! Seliari!!”


 


 


“Kamu mencariku!?”


 


 


“Uwah!”


 


 


Gadis naga itu bergelantungan dengan ekornya di ranting dan keluar dari dedaunan pada salah satu batang pohon besar. Meloncat turun, ia terlihat memegang sebuah buku dan masih dengan antusias membacanya. Kalau saja itu benar-benar buku sastra yang wajar, mungkin hati Odo akan berdebar senang. Sebuah penampilan polos dari seorang gadis belia bergaun putih yang memegang sebuah buku dengan tangan yang mengenakan sarung tangan hitam, itu terlihat seperti sesuatu yang sesuai seleranya. Tetapi, sayangnya itu bukanlah apa yang anak tersebut harapkan.


 


 


“Masih baca begituan ....?”


 


 


“Apa maksud kamu begituan? D*uj*jin dan Manga H*n*t* itu sebuah mahakarya sastra indah\, tahu! Hih\, kasarnya ....” Gadis tanpa alas kaki itu benar-benar memasang ekspresi kesal. Melirik tajam dari balik buku yang dirinya baca\, ia berkata\, “Bukannya kamu sudah merasakan kehebatannya?”


 


 


“Huh!” Odo mengendus kasar, memasang wajah kesal dan tidak ingin mengingat kejadian itu. Menatap gadis naga tersebut, ia berkata, “Sudahlah, aku datang bukan untuk itu.”


 


 


“Hmm, sepertinya memang begitu. Diriku juga bingung dan kaget karena kamu tiba-tiba mimisan seperti itu .... Memangnya kenapa?”


 


 


Itu benar-benar cara buruk untuk menyembunyikan sesuatu, meski ekspresi Seliari memang tidak jelas nampak tetapi Odo dengan jelas tahu kalau ada kebohongan dalam perkataan itu. “Eh? Kamu tidak tahu penyebabnya? Itu bukan karena struktur yang kau berikan padaku?” ucap anak rambut hitam itu dengan niat mengikuti kebohongan itu.


 


 


“Bukan, bukan! Struktur sihir yang kuberikan hanyalah sebuah kunci untuk memaksimalkan Hariq Iliah. Tidak ada efek samping seharusnya.” Berhenti membaca bukunya, Seliari terlihat berusaha memikirkan masalah itu dengan serius. “Ah?!” Tiba-tiba memasang wajah seperti menyadari sesuatu, ia berkata, “Mungkin karena aku tadi mengutak-atik beberapa struktur sihir di Inti Sihir kamu ....”


 


 


“Eh?”


 


 


“Tadi suara dari langit-langit ...\, ah sihirmu ‘kan itu? Katanya dia punya hal yang lebih menakjubkan dari buku-buku ajaib ini. Dia bilang Galge dan Er*g* lebih hebat. Untuk membuat itu di tempat ini\, katanya butuh peningkatan beberapa hal. Makanya kami mengubah beberapa hal. Yah\, sayang sekali tidak berhasil. Alam Jiwamu tidak punya unsur mineral kuat\, jadinya gagal ....”


 


 


“Tunggu ....” Odo menunduk gemetar. “Tadi katamu mengotak-atik Inti Sihirku?”


 


 


“Hmmm.”


 


 


“Dari sini?”


 


 


“Ya.”


 


 


Anak rambut hitam itu menyeringai seram, menatap gelap dan berteriak, “Se-li-ari!!!” Ia langsung menarik hidung gadis naga itu dengan kasar.


 


 


“Sakit! Sakit! Odo, apa yang kamu lakukan! Lepaskan! Bisa patah hidungku!”


 


 


Berhenti menarik hidungnya, Odo berganti mencengkeram kepala gadis itu dengan keras sampai bunyi retak terdengar.


 


 


“Kau ini ..., padahal numpang tapi kebanyakan tingkah, ya. Apa perlu aku ancurin nih kepala?! Dasar kadal lacur!”


 


 


“Seram! Wajahmu seram sekali, Odo ...!”


 


 


Setelah itu, sang Putri Naga untuk pertama kalinya dalam hidup ia dimarahi dengan bentakkan dan kata kasar seperti itu, oleh seorang manusia. Lebih dari tiga puluh menit, gadis naga itu dipaksa duduk sila dan mendengarkan perkataan Odo yang cenderung berbentuk cacian.


 


 


.


.


.


.


 


 


“Jadi ..., kadal pari, apa kau paham apa yang kau perbuat?” Odo menatap dalam-dalam gadis yang duduk sila di hadapannya itu. Mereka saling duduk berhadapan di atas rerumputan, benar-benar dalam situasi tidak ramah di antara mereka.


 


 


Mendekat ke wajahnya, anak rambut hitam itu menatap mata gadis yang terus menundukkan wajahnya tersebut dan berkata, “Lihat mataku .... Apa kau mendengarkan?”


 


 


“Ya ..., ma-maafkan diriku. Diriku janji tidak akan melakukan itu lagi.”


 


 


Berhenti menatap, Odo menghela napas ringan dan memasang wajah malas. Saat Seliari mengangkat wajahnya, anak berambut hitam itu kembali melirik dengan tajam dan berkata, “Kau sungguh-sungguh mengutak-atik Struktur Sihirku hanya karena alasan seperti itu?” Pertanyaan itu membuat gadis naga tersebut tersentak. Tidak menjawab, ia hanya memalingkan pandangan dengan ekspresi takut.


 


 


Odo menatap datar Putri Naga tersebut. Tidak mengucapkan apa-apa, tanpa kembali bertanya atau memaksa, hanya menatap dalam-dalam dengan hening. Seliari semakin gemetaran, ia meletakkan kedua telapak tangan ke atas pangkuan dan berusaha menatap mata Odo.


 


 


“Diriku hanya tak ingin kamu rusak, Odo.”


 


 


Seakan ada sebuah benang yang putus, anak rambut hitam itu langsung menangkap maksudnya tanpa berpikir lebih lanjut. Sedikit tersenyum simpul dengan ekspresi tidak senang, ia berkata, “Bukannya yang bisa membuatku rusak itu tindakanmu itu? Kalau itu terus-terusan terjadi, bisa-bisa aku gila karena merasakan secara langsung kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Kau tahu, sihir itu sudah tepat kalau aku hanya berada dalam kondisi mengamati diriku melakukan potensi terburuk.”


 


 


“Karena itu .... Odo, kamu sudah berapa kali menggunakan sihir itu secara penuh?”


 


 


 


 


Seliari memejamkan matanya dengan lambat, sejenak terdiam ia kembali membuka mata dan berkata, “Justru karena itu kamu akan rusak, wahai sosok penyelamatku. Lambat laun jika kamu terus menggunakan itu ..., kamu akan kehilangan kemanusiaanmu.”


 


 


“Tahu apa kau tantang sihirku itu?” Odo menatap tajam, penuh rasa kesal dan tak jernih pikirannya.


 


 


“Diriku tahu, karena diriku sendiri ada di inti sihirmu ini.”


 


 


Anak rambut hitam itu paham perkataan sang gadis naga tersebut. Alam Jiwa pada dasarnya perwujudan dari Inti Sihir, sebuah dunia dari dunia kesadaran yang bisa tercipta dari seseorang yang Inti Sihirnya mencapai tingkat tertentu dalam kultivasinya.


 


 


“Begitu, ya .... Mengotak-atik, itu juga berarti kamu bisa melihat strukturnya. Ehm, apa kau juga melihat fungsinya?”


 


 


Mendapat pertanyaan itu, Seliari sejenak tersenyum sedih dan menundukkan kepala. Tanpa mendapat jawaban langsung, Odo paham kalau gadis di hadapannya itu telah mengetahui rahasia yang terdapat dalam struktur sihirnya tersebut.


 


 


“Menurutmu ... itu bagaimana?” tanya Odo dengan sayu.


 


 


“Mengerikan,” jawab Seliari. “Awalnya itu terlihat seperti sebuah tali kain berwarna putih murni yang indah .... Tetapi saat masuk lebih dalam, ratusan struktur itu terus bertambah jumlahnya sampai jutaan dan semakin kusut, terikat satu sama lain. Ya ..., itu seperti kekacauan.”


 


 


“Begitu, ya.” Odo tersenyum lega, menatap gadis yang duduk sila di hadapan dan berkata, “Itu pandanganmu tentang diriku.”


 


 


“Odo ..., kumohon jangan gunakan struktur sihir itu lagi? Kata sihir hidup yang sering bicara dengan diriku itu juga struktur sihir tersebut sangat tidak cocok untuk kamu! Itu merusak kepribadianmu!”


 


 


Melihat Seliari mati-matian membujuk seperti itu meski dirinya tidak biasa melakukannya, Odo hanya tersenyum kecil. Dengan ramah ia bertanya, “Merusak bagaimana?”


 


 


“Itu ... membuatmu membusuk dari dalam. Menjadi pengamat itu membuat seseorang membusuk dari dalam, mereka akan memandang rendah lainnya .... Terlebih lagi, dirimu mengamati dirimu sendiri melakukan hal salah ratusan kali dalam hitungan detik! Meski dalam kepala dan tidak benar-benar terjadi, itu tetap menjadi racun dan merusakmu!”


 


 


Odo tersenyum remeh mendengar itu. Sedikit menyelonjorkan kaki dan berhenti bersimpuh, ia berkata, “Kau mencemaskanku, ya. Setelah melihatku menggunakan sihir itu beberapa kali, apa ada yang berubah dariku?”


 


 


“Ada!” jawab Seliari dengan tegas. “Kau mulai menjadi semakin angkuh! Dan juga .... saat itu ....”


 


 


“Saat itu?”


 


 


Menegakkan posisi tubuhnya dan menatap lurus dengan penuh keyakinan, gadis naga itu berkata, “Kamu menjadi angkuh sampai-sampai tidak memedulikan perasaanmu sendiri!”


 


 


“Hah? Apa maksudny—“


 


 


“Delete ....”


 


 


Satu kata yang keluar dari gadis naga berambut perak itu membuat mulut Odo merapat. Menyipitkan tatapan, anak lelaki itu mulai tidak terlihat senang dan benar-benar mulai memendam rasa marahnya.


 


 


“Kau ... juga tahu itu rupanya ....”


 


 


“Kenapa kamu menghapus perasaanmu sendiri?” tanya Seliari. Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca, mendapat itu Odo hanya menatap sunyi tanpa berkata apapun. “Diriku selalu mengamati kamu dari sini. Pada saat engkau mengatakan itu, diriku sadar kalau itu ... momen kamu menghapus rasa cintamu pada gadis Demi-human itu, ‘kan?”


 


 


Tersenyum remeh, Odo membalas, “Hah, jadi itu alasanmu memintaku melakukan hal seperti itu denganmu .... Tetapi, tahu apa kau? Dasar kadal. Jangan sok tahu tentangku, memangnya siapa kau?”


 


 


“Odo ....” Wajah Seliari semakin sedih. Kata hinaan itu tidak melukainya, gadis naga itu hanya merasa tak suka melihat perubahan sifat anak itu.


 


 


“Serahkan!” Odo mengulurkan tangan kanannya ke depan, menatap dengan gelap dan begitu dingin. “Serahkan kontrol sihirnya! Yang mengaktifkannya tadi kau, ‘kan? Melakukan itu sampai ribuan kali, kau benar-benar membuatku kesal,” ucapnya dengan wajah tanpa ekspresi. Tatapan yang ada pada mata anak itu sudah bukan lagi rasa kesal atau benci, hanya ada sebuah ketidakpedulian.


 


 


“Takkan kuserahkan.”


 


 


“Hah?”


 


 


“Takkan kuserahkan sampai kamu berjanji tidak menggunakannya seperti itu!”


 


 


Melihat ekspresi gadis itu yang benar-benar terlihat cemas, Odo paham. Seliari melakukan hal tersebut karena memang benar-benar peduli. Meski awalnya mengucapkan alasan konyol dan membuat anak itu kesal, tetapi itu hanya untuk membuat suasana tidak lekas canggung. Siliari benar-benar berharap Odo tidak berubah sikapnya karena sihir tersebut.


 


 


Pada saat yang sama, Odo juga paham kalau sihir seperti itu memang sangatlah mempengaruhi sifatnya. Pada awal menggunakan salah satu struktur sihir tersebut saat melawan Giftmelata di hutan, Odo memang tidak terlalu menyadari efeknya karena mulainya Auto Senses berbicara dan itu membuatnya tidak sempat merasakan efeknya. Tetapi saat menggunakan itu untuk melawan Naga Hitam dan melakukan pembicaraan dengan Reyah, anak itu sadar akan perubahan yang ada pada dirinya.


 


 


Awalnya seperti benang kain putih murni, lalu kemudian semakin kusut dan terlilit satu sama lain. Persis seperti perkataan Seliari, Spekulasi Persepsi yang sering digunakan Odo memang seperti itu. Awalnya penerawangan dari hasil kalkulasi tidaklah lebih dari sebuah jalan yang terbagi dua. Dapat melihat ujung dari tiap jalan itu sebelum melewatinya, itu tidaklah terlalu rumit untuk memilih mana yang lebih baik.


 


 


Tetapi setelah memilih, muncul jalan lain dengan jumlah yang lebih banyak. Itu tidaklah memuat Odo kesulitan karena bisa melihat setiap akhir dari tiap-tiap jalan. Tetapi saat terus berlanjut dan jalan semakin banyak, ia semakin menganggap remeh jalan yang tidak dipilihnya. Itu sama saja seperti orang yang dibiarkan terus berbuat curang, dan lama kelamaan kecurangan tersebut dianggap biasa sampai membuatnya mulai berpikir kalau apa yang didapat dari kecurangan itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri.


 


 


“Sudah sesombong itu ‘kah aku?” ucap Odo seraya menundukkan kepala dan berusaha melawan gejolak perasaan keruh dalam benak.


 


 


“Engkau sangatlah cerdas, bisa menyadari itu dan menahannya untuk tidak timbul ke permukaan. Tetapi ... emosi sesuatu tidak bisa ditahan selamanya. Jika kamu terus menahannya, kelak pasti kamu akan rusak, Odo.”


 


 


“Ah ..., apa ini konsekuensinya?” Odo menunduk dengan murung, memegang kepalanya sendiri dan bergumam, “Memang aku belakangan ini seakan meremehkan sekelilingku. Aku ....”


 


 


“Berpikir kalau dunia berputar di sekelilingku,” sambung Seliari.


 


 


Mendengar itu Odo terkejut, ia memang berpikir seperti itu. Setelah diberitahukan tentang kenyataan dunia dari Reyah, Witch, dan Rhea, anak itu memang merasa seakan menjadi orang terpenting di dunia dan menganggap sekelilingnya tidak lebih dari media untuk memenuhi keinginan. Setiap kali pengetahuan bertambah, Odo merasa semakin tinggi dan tidak menghormati sekelilingnya.


 


 


“Apa kau sengaja melakukan itu padaku ...? Sampai-sampai aku ... mengingat sesuatu yang tak ingin kuingat.”


 


 


“Ya ..., aku sengaja melakukannya. Saat diriku melihat kamu membantu para Demi-human di gang itu dengan mata seakan menatap dari tempat yang tinggi, aku membulatkan keputusanku untuk melakukannya dengan dibantu sihir hidupmu.”


 


 


“Hmm ....” Sedikit mendongak, Odo berkata, “Kau sudah akrab dengan Auto Senses, ya. Jadi memang benar sihir itu sudah lepas dari kekuasaanku ....”


 


 


“Mulai lagi,” tegur Seliari.


 


 


“Hah?”


 


 


“Lepas dari kekuasaan .... Kenapa kamu memilih kalimat itu? Setahuku, Odo yang kukenal tidak akan mengatakan hal seperti itu.”


 


 


“Apa iya?”


 


 


“Ya!”


 


 


Odo terdiam, menghela napas dan berusaha menerima kalau memang dirinya telah berubah karena sihirnya sendiri. Ia masih tidak menganggap perubahan itu adalah hal yang buruk. Kalau memang sifat arogan muncul dan semakin kuat, Odo sendiri tidak mempermasalahkan itu. Ia menerima sifat itu karena memang bagian dari dirinya. Tetapi, saat melihat Seliari benar-benar menolak hal tersebut, anak itu sedikit menghela napas dengan resah.


 


 


“Baiklah, kita ambil toleransi.”


 


 


“Toleransi?” Putri Naga itu terlihat bingung dengan mulut sedikit terbuka, memperlihatkan gigi taringnya yang panjang sebelah.


 


 


“Ya. Kalau seperti ini terus kita tidak akan mendapat apa-apa, karena itu ayo kita buat toleransi .... Apa yang kau inginkan? Aku ingin kamu menyerahkan kontrol sihir itu dan berjanji tidak mengutak-atik Inti Sihirku.”


 


 


Seliari memasang wajah paham, tetapi tidak suka dengan saran seperti itu. “Aku ingin kamu tidak menggunakan sihir seperti itu lagi,” ucap gadis naga tersebut dengan ketus.


 


 


“Hmm, aku paham.” Odo mengangguk, lalu menatap dingin dan berkata, “Bagaimana kalau begini .... Kamu serahkan kontrol sihirnya padaku, tetapi aku berjanji tidak mengubahnya.  Jadi saat aku menggunakan sihir itu, secara otomatis aku akan seperti melakukan apa yang ada dalam kalkulasi dan mencegahku menjadi semakin angkuh.”


 


 


“Kenapa itu mencegah kamu semakin angkuh?”


 


 


“Aku menjadi semakin angkuh karena berada dalam posisi pengamat dalam Spekulasi Persepsi. Tetapi saat ini sihir tersebut protokolnya dilepas olehmu. Karena itu, saat sihir tersebut aktif, aku seperti berperan melakukan apa yang ada dalam kalkulasi super itu,” jelas Odo dengan wajah malas.


 


 


Sedikit menghela napas dan memasang senyum pasrah, ia kembali berkata, “Sensasi rasa sakit, pemikiran, perasaan, dan apa yang terjadi dalam pemikiran super cepat itu akan membekas karena pengamannya dihilangkan. Bukannya dengan itu rasa angkuh bisa dicegah tumbuh? Aku menjadi semakin sadar diri atas tindakkan apa yang kulakukan.”


 


 


Seliari terdiam mendengar itu. Melihat wajah Odo yang penuh dengan rasa yakin, itu tidak membuat dirinya percaya pada anak itu. Apa yang nampak pada wajah anak lelaki itu sudah dengan jelas melambangkan rasa memuji diri yang sangat tinggi.


 


 


Menarik napas dalam-dalam, Seliari berkata, “Hapus ....”


 


 


“Eh?”


 


 


“Hapus struktur sihir itu?”


 


 


Rasa percaya diri pada wajah anak lelaki itu hilang dengan cepat, berubah menjadi tatapan tajam penuh rasa kesal layaknya seorang pemuda naif yang ditolak gagasannya.


 


 


“Itu sudah tidak menjadi pembicaraan, Seliari. Kau telah membuatku merasakan dan mengingat hal buruk, kau pikir aku tidak marah karena itu?”


 


 


“Hal buruk? Diriku rasa hal seperti itu penting dalam hidup .... Kamu harus merasakan itu dalam benak dan terus mengingatnya supaya tidak menjadi sosok naif.”


 


 


Menarik napas dalam-dalam, Odo benar-benar kehabisan cara untuk membujuk gadis naga di hadapannya. Pemikiran Seliari untuk menyingkirkan Spekulasi Persepsi benar-benar kuat, itu sudah tidak bisa ditolerani lagi.


 


 


“Kalau begitu, hapus saja sumber masalahnya,” ucap Odo kesal.


 


 


“Kamu sudah mau menghapus struktur sihir itu?” Seketika Seliari berseri-seri.


 


 


“Bukan itu ...! Sumber masalah adalah sesuatu yang ditakutkanmu. Keangkuhan, kau takut itu semakin menguat dalam diriku, bukan? Kalau begitu, tinggal hapus saja sifat seperti itu dariku.”


 


 


“Eh?” Seliari terlihat sangat bingung mendengar itu. Ia memang bisa memahaminya, tetapi secara akal sehat ada sesuatu yang salah dari itu.


 


 


“Aku bisa dengan bebas memanipulasi hal semacam itu. Kau tahu aku bisa dengan bebas menghapus perasaan, bukan? Hal itu sama dengan sifat-sifat alami makhluk hidup seperti rasa angkuh ....” Mengulurkan tangannya ke depan, ia menegaskan, “Aku bisa menghapus sifat angkuh secara permanen.”


 


 


“Kalau kamu melakukan itu, kenapa tidak hapus saja dari dulu?” tanya Seliari dengan bingung.


 


 


“Aku tidak menganggap sifat angkuh adalah hal buruk. Kemalasan, murka, iri, dengki, rakus, cemburu, cinta, dan berbagai sifat lainnya yang ada pada diriku adalah milikku dan juga sesuatu yang membentukku. Aku tidak perah menganggap semua sifat itu buruk. Aku punya akal, aku bukan binatang .... Aku bisa menjaga dan menekannya.”


 


 


Seliari menundukkan kepalanya, ia baru tahu alasan sebenarnya Odo membiarkan kekacauan dalam Inti Sihirnya itu. Anak itu menerima segalanya, entah itu baik atau buruk dalam dirinya sendiri. Memikirkan kalau Seliari memaksakan kehendaknya dan meminta Odo untuk menghapus struktur sihir tersebut, gadis naga itu merasa kalau dirinyalah yang angkuh.


 


 


“Bagaimana? Aku tidak keberatan .... Lagi pula, jujur aku tertarik apa yang akan aku lakukan kalau sifat angkuh hilang dariku.”


 


 


Mengangkat wajah dan menatap Odo dengan rasa sesal, Seliari berkata, “Boleh diriku sedikit mengubah perjanjiannya?”


 


 


“Hmm, aku dengar dulu ....”


 


 


“Diriku akan menyerahkan kontrol itu sepenuhnya dengan syarat kamu tidak mengubahnya .... Tetapi, bisa kamu segel sifat angkuh itu dan memberikan wewenangnya sifat itu padaku? Tak usah menghapusnya, bisa kau memberikan itu padaku?”


 


 


Wajah gadis berambut perak itu terlihat tersendu, matanya berkaca-kaca dan mulai mengalirkan air mata. Melihat wajah seperti itu dari wajahnya yang biasanya minim ekspresi itu, Odo paham betapa dalamnya Seliari memikirkan dan merasakannya.


 


 


Yang berubah bukan anak itu saja, Putri Naga tersebut juga sedikit demi sedikit berubah dan tidak lagi merasa sepi dalam hatinya. Ia sudah penuh dengan terus memikirkan Odo dan apa yang terbaik untuknya, sosok yang pernah mengalahkan dan menyelamatkannya.