Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 40: Alstroemeria (Part 01)



Pagi hari yang cerah—mentari bersinar terang dengan indah sebagai awal baru sebuah musim semi, tanah tandus mulai ditumbuhi rumput meski masih basah karena lelehan salju. Tunas-tunas pada dahan mulai bermekaran, pada permukaan muncul tanaman baru sebagai hasil bijih yang jatuh pada musim gugur dan melewati musim dingin untuk sampai pada momen tersebut.


 


 


Pada taman kediaman keluarga Luke, beraneka ragam bunga liar jenis Lantana bermekaran—menghasi taman dengan warna-warni kuat seperti merah darah, ungu gelap, oranye dan merah muda. Tanaman herbal liar pun mulai tumbuh pada— hasil dari benih herbal yang sebelumnya layu di musim gugur dan mulai memunculkan tunas sebagai tanda masuknya semi di benua Michigan ini.


 


 


Suhu mulai naik, para bintang yang hibernasi mulai terbangun dan suara-suara mereka terdengar dari hutan serta semak-semak. Meski di tengah suasana hangat dari sekian lama musim dingin berlalu, seorang pemuda rambut hitam yang berdiri di tengah taman terlihat tak menikmatinya. Menatap lurus ke arah bunga ilalang yang tumbuh, ia sama sekali tak tersenyum dan ekspresinya penuh akan beban pikiran.


 


 


“Padahal sudah ada Spekulasi Persepsi .... Kalau ditambah kekuatan ini, bukannya terlalu berlebihan? Bisa-bisa aku jadi makhluk mahatahu kalau ini terus berkembang ....”


 


 


Pemuda itu berjalan ke atas taman, turun dari jalan susunan batu hias dan menginjak tanah. Mengambil sebatang bunga Lantana merah, ia kembali naik ke atas jalan taman dan duduk di bangku. Menatap datar bunga yang belum mekar sepenuhnya di tangan, Odo Luke sedikit menghela napas ringan.


 


 


Bunga tumbuh dengan cepat, mekar dan warnanya berubah-ubah dengan singkat sesuai apa yang dikehendaki oleh Odo. Itu adalah kekuatan yang dirinya dapat dari Odrania Dies Orion— sebuah kemampuan untuk memanipulasi informasi, Aitisal Almaelumat.


 


 


Memang awalnya Odo mengira kekuatan yang akan didapatnya adalah semacam manipulasi Anti Materi atau semacamnya, namun ternyata itu sangat melenceng. Tingkat kekuatan yang sebenarnya dimiliki Raja Iblis itu lebih kompleks dari yang dirinya kira.


 


 


Aitisal Almaelumat merupakan kemampuan manipulasi informasi secara penuh selama Odo bisa melakukan kontak fisik dengan objek yang akan dimanipulasi informasinya. Tentu saja itu bukanlah mutlak seperti dengan bebas bisa mengubah informasi bentuk fisik atau tingkat akses di atasnya, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam penggunaan kekuatan tersebut. Dalam contoh, Odo hanya bisa membagi sebuah paket informasi kepada seseorang jika bersentuhan secara fisik dengan orang tersebut.


 


 


“Aitisal Almaelumat— sebuah koneksi, memodifikasi, manipulasi, dan penghapusan informasi .... Pada tingkat yang kutahu, kekuatan ini sampai bisa menginterpretasi kausalitas sederhana seperti menghilangkan akibat dari api yang membakar atau ....”


 


 


Odo menjatuhkan bunga dari tangannya. Namun, apa yang terjadi bertentangan dengan hukum sebab akibat yang ada. Bunga jatuh seharusnya ke bawah, namun itu langsung melayang ke atas seakan bertentangan dengan hukum gravitasi.


 


 


“Memanipulasi informasi sebab akibat seperti itu masih mudah dalam jangkauan ini, tanpa struktur sihir pun aku bisa melakukannya. Namun kalau menghilangkan akibat dari tebasan pedang atau sayatan benda tajam — itu butuh beberapa syarat yang harus dipenuhi .... Yah, kurasa ini setimpal untuk bayaran untuk semua struktur sihirku yang hilang.”


 


 


Odo sejenak memejamkan mata, berusaha mengakses Inti Sihir dan mulai membangun ulang struktur sihir eksternalnya untuk pengaktifan sihir luar. Menyusun informasi, menginstal dari awal dan melakukan skrip struktur pada jaringan tubuh.


 


 


Itu ia lakukan secara bertahap, tak bisa secara keseluruhan karena bisa membuat cacat pada struktur. Sebenarnya ia juga bisa saja melakukan manipulasi informasi pada tubuhnya sendiri dengan kekuatan barunya tersebut dan memulihkan seluruh informasinya tersebut. Namun karena struktur sihir adalah sesuatu yang sensitif, bisa sangat berpotensi buruk melakukan hal seperti itu karena bisa membuatnya cacat secara permanen jika melakukan satu kesalahan saja.


 


 


Informasi yang telah diubah dengan Aitisal Almaelumat cenderung bersifat permanen. Jadi jika melakukan satu kesalahan pemasukan informasi, itu bisa membekas selamanya dan harus ditimpa ulang dengan informasi lain. Melakukan penimpaan akan memakan struktur tubuh dan membuat perkembangan sihir menjadi cacat.


 


 


Selesai memulihkan beberapa struktur sihirnya sampai 5%, pemuda itu bangun dari tempat duduk dan melihat ke arah pintu Mansion. Mengetahui siapa yang akan membuka pintu itu beberapa detik ke depan, Odo menghela napas.


 


 


“Tuan Odo! Semua surat-suratnya selesai kami urus!” ucap Julia dengan tergesa-gesa. Gadis kucing berseragam pelayan membuka pintu —datang dari Mansion dan menatap ke arah tuannya. Menggerakkan ekor dan telinga keperakannya, ia memasang wajah heran saat mengetahui tuannya tersebut terlihat resah.


 


 


“Ada apa, Tuan Odo? Bukannya rencana Anda berjalan lancar? Kayu dan bahan bangunan lain sudah disetujui para tukang di kota Mylta, kita hanya tinggal urus pembayarannya dan mereka akan membangun toko sesuai dengan desain yang Anda kirim kemarin ....”


 


 


Julia berjalan ke arah Odo, Nekomata berbulu perak itu menatap heran dan penuh rasa penasaran. Melihat ekspresi dan sikap seperti itu, Odo merasa lega karena Julia tidak lagi murung dan merasa bersalah tentang kejadian di dermaga. Namun karena paham dan memikirkan apa yang disampaikan olehnya, itu tak bisa membuat Odo tersenyum.


 


 


“Aku memang telah menyelesaikan semuanya dan tinggal bangun gedungnya. Tapi tetap saja, kalau seperti ini bukannya gawat?”


 


 


“Gawat kenapa?” Fiola sedikit memiringkan kepala, ekor dan telinga berkedut-kedut.


 


 


“Anggaranku tak cukup .... Ujung-ujungnya harus minta ke Bunda.”


 


 


“Ouh ...” Mulut Julia sedikit terbuka bersama matanya, lalu berkata, “Saya rasa itu tak masalah. Nyonya pasti mau memberi sumbangan untuk Tuan! Lagi pula ... itu untuk membangun kota juga, pasi beliau mau atau  ... jika perlu kita minta saja pada Walikota Sementara itu?”


 


 


“Uwah~ utang?” Odo menatap malas, memalingkan wajah dan sedikit mengeluh, “Mbak Julia tahu, utang itu seperti lumpur hisap. Kalau sekali melakukannya, pasti akan ketagihan dan tanpa sadar perekonomian pribadi tidak bisa berkembang.”


 


 


Julia terdiam, merasa seakan perkataan Odo tersebut diambil dari pengalamannya sendiri. Menatap mata tuannya itu, Demi-human jenis kucing itu memalingkan pandangan dengan canggung karena masih belum terbiasa dengan penampilan tuannya tersebut.


 


 


“Be-Begitu, jadi Tuan tidak ingin utang~! Eeeh~ sikap yang bagus saya rasa,” ucap Julia dengan wajah memerah, memalingkan pandangan dan terlihat canggung.


 


 


Odo hanya memberikan tatapan datar pada perempuan rambut keperakan di hadapannya itu. Meski paham apa yang dirasakan Julia, pemuda itu merasa kalau hal tersebut tidaklah terlalu penting mengingat masalah yang sedang menjerat.


 


 


“Hmm, apa boleh aku pergi berburu mo—?”


 


 


“Gak boleh!” potong Julia.


 


 


“Kalau mencari kristal di Dunia Ast—?”


 


 


“Gak boleh pokoknya! Tuan Odo sadar enggak, sih?! Kondisi Anda sekarang sedang lemah! Anda bisa terbunuh dengan mudah oleh sekawanan Goblin! Tolong jangan berbuat nekat terus, pahami kondisi Anda baik-baik ...!”


 


 


“Hmmm ....” Odo memalingkan pandangan.


 


 


Melihat ekspresi tuannya itu yang sedikit murung, Julia sadar telah mengatakan sesuatu yang sangat menyinggungnya dan itu dilarang oleh Mavis. Ia mulai panik, ekor dan telinganya bergerak meriah dengan ekspresi cemas nampak pada wajahnya.


 


 


“A .... Maaf, bukannya saya menyindir Tuan Odo  ..... Hanya saja ..., saya khawatir .... Kalau kejadian itu terjadi lagi dengan kondisi Tuan yang seperti ini ..., Tuan mungkin akan ....”


 


 


“Tak perlu cemas,” ucap Odo santai. Mengangkat wajah dan menatap datar, ia berkata, “Aku paham kondisiku sendiri dengan jelas, kok. Lagi pula, kalau aku kewalahan pasti aku akan minta tolong pada kalian para Shieal. Karena itu sekarang aku meminta Mbak Julia dan yang lain mengurus surat-surat serta masalah pembangunan. Kondisiku sedang tidak prima dan tak kuat dibawa begadang.”


 


 


“Hmm ....” Menatap heran, Julia bertanya, “Lalu kenapa duduk-duduk di sini? Bukannya Tuan sebaiknya tidur di kamar?”


 


 


“Badanku bisa-bisa kaku .... Dan juga, rasanya sangat sayang terus tidur padahal matahari sudah bersinar seperti ini.”


 


 


Odo berbalik, mendongak ke arah mentari yang terlihat mulai bersinar di langit yang masih samar-samar tertutup awan. Memejamkan mata sekilas, pemuda itu merasakan hangat yang seakan melelehkan masalahnya yang membeku dalam benak.


 


 


 


 


“Hahah, itu kebiasaan orang barat.,” ucap Odo sepontan.


 


 


“Hmm, orang barat?”


 


 


Sedikit kebingungan, pemuda itu segera menoleh dan berkata, “Enggak, enggak, lupakan itu! Aku gak suka berjemur, kok. Tapi hanya suka saja melihat matahari, terutama nanti saat senja.”


 


 


“Ooh, Anda suka melihat matahari terbenam?”


 


 


“Suka, sangat suka ....”


 


 


Odo tersenyum dari lubuk hatinya, menatap lega dan seakan melepas semua masalah dalam pikirannya. Memejamkan mata sekilas dan menoleh ke arah matahari, pemuda itu menatap dengan sorot yang terlihat sedikit sedih.


 


 


“Mbak Julia tahu, rasanya itu bagai memberikan arti padaku setelah menjalani hidup seharian penuh. Begitu singkat, momen terbenamnya matahari di ujung cakrawala dan awal sebuah malam ....”


 


 


Julia tidak mengerti hal seperti itu, namun dirinya tersenyum kaku dan berkata, “Begitu, ya. Saya rasa matahari terbenam itu memang indah.”


 


 


Sejak Odo terdiam seakan mengerti kalau perkataan itu hanya untuk menyelaraskan dengan pembicaraan. Menghela napas ringan, ia berkata, “Sudahlah bahas hal seperti itunya.”


 


 


Odo menghadap ke arah Shieal tersebut, lalu menatap lurus dirinya. Tersenyum kecil, ia dengan jelas bertanya, “Mbak Julia, apa Mbak Julia masih menyesal tentang kejadian di dermaga itu?”


 


 


“Eh ... I-Itu ....”


 


 


Wajah Julia langsung terlihat pucat, rasa sesal memang jelas masih ada dalam benaknya. Ia memang merasa tak bisa berguna bagi tuannya, atau pun bagi kedua orang yang telah memberinya alasan hidup. Menundukkan kepada dengan murung, ia tidak menjawab dan hanya terdiam.


 


 


“Kalau memang Mbak Julia ingin melakukan sesuatu untuk menebus kesalahan itu, raihlah tangan ini ....”


 


 


Odo melepaskan sebelah sarung tangan hitamnya, lalu mengulurkan tangan kanannya ke depan. Saat Julia dengan gemetar hendak menjabat tangan yang terlihat rapuh dan pucat tersebut, Odo kembali berkata, “Jika Julia meraih tangan ini, Julia takkan pernah bisa turun di tengah jalan. Ini hanyalah tiket satu arah ....”


 


 


“A-Apa maksudnya?”


 


 


Nekomata itu gemetar, menatap takut dan memikirkan dalam-dalam perkataan tersebut. Namun, dirinya tetap tidak bisa menemukan kesimpulan yang dirasanya benar. Bahkan dirinya tidak sempat memikirkan alasan mengapa Odo memanggil namanya langsung seperti itu.


 


 


Menurunkan tangan dan tidak berani meraih tangan Odo, ia sekali lagi bertanya, “Kenapa memangnya? Apa yang terjadi kalau saya meraih tangan Tuan kali ini ...?!”


 


 


“Julia harus mengikutiku selamanya ..., harus berada di pihakku meski kelak seluruh dunia memusuhiku. Entah apapun yang Julia rasakan, itu sudah tak penting kali kelak. Sebagai gantinya, aku’kan selalu bersamamu, sampai akhir hayat dan takkan pernah mengkhianatimu .... Bagaimana? Mau menerima kontrak ini?”


 


 


“Kontrak ...?” tanya Julia gemetar.


 


 


Tersenyum tipis, Odo kembali menegaskan, “Ya, kontrak . Antara kita berdua, sebuah janji pasti yang tak terbantahkan. Meski ini terkesan memaksa, namun kurasa inilah yang Julia butuhkan sekarang. Akan kuberi tujuan, akan kutanggung bebanmu ....”


 


 


“A-Apa yang Tuan bicarakan? Anda aneh .... Kenapa berkata seperti itu? Jangan menakuti saya!”


 


 


Julia melangkah mundur, menyembunyikan kedua tangannya ke belakang dan menatap dengan wajah pucat penuh keringat dingin. Melihat itu Odo paham kalau dirinya juga ditolak oleh Julia. Menarik napas dalam-dalam, ia tersenyum puas seakan sudah tahu jawaban itu dari awal.


 


 


“Bercanda, kok! Hehe, apa Mbak Julia terkejut? Aktingku tadi seperi seorang pembisnis hebat, bukan? Nanti pas aku berbisnis pasti akan lebih realistis lagi!”


 


 


Odo tersenyum polos, menghapus ekspresi serius tadi seakan-akan memang semuanya hanya akting belaka. Ia mulai kembali mengenakan sarung tangannya dan menganggap apa yang dikatakannya tadi tak penting.


 


 


Namun Julia paham, apa yang Odo katakan sebelumnya itu sungguh-sungguh. Ia paham kalau tuannya tersebut memang orang seperti itu, mengalihkan pembicaraan dan mengubah alurnya saat apa yang dituju tidak tercapai.


 


 


“Ayo, kita masuk .... Aku belum sarapan, menu kali ini apa?”


 


 


“Hari ini spesial katanya .... Karena tak usah lagi menghemat bahan makanan, Minda dan Imania membuat Pot Roast.”


 


 


“Sapi?”


 


 


“Iya, dari daging sapi sesuai kesukaan Tuan Odo.”


 


 


“Kalau begitu, ayo cepat masuk! Mumpung aku lagi lapar.”


 


 


Melihat tuannya itu berjalan ke arah Mansion, Julia masih tertegun memikirkan apa yang diucapkannya tadi. Ia mencernanya dengan baik, mengira-ngira apa yang akan terjadi jika tadi dirinya meraih tangan tuannya tersebut. Paham memikirkan itu sudah tidak penting  lagi, ia mengangkat wajah dan berusaha untuk terus berpikir positif seperti dirinya yang biasa.


 


 


Setelah itu, Odo masuk dan sarapan seperti biasanya dengan Mavis—ditemani oleh Fiola dan Julia saja karena Shieal lain sedang sibuk. Linkaron, Xua Lin sedang berada di ibukota menyusul Dart untuk mengabari tentang kasus percobaan pembunuhan Odo oleh orang-orang kerajaan Moloia dan belum kembali karena beberapa alasan, sedangkan Kinkarta sendiri sudah di sana dari musim akhir tahun lalu mendampingi tuannya dalam pertemuan.


 


 


Untuk Minda dan Imania, setelah memasak sarapan mereka pergi ke kota Mylta lagi untuk lanjut mengurus berkas dan memandori proses pengumpulan material konstruksi dalam persiapan pembangunan.


 


 


Untuk Gariadin sendiri juga ikut pergi ke Mylta, namun dengan tugas berbeda untuk mengurus masalah penengah antara Pihak Pemerintahan dan Pihak Religi. Karena dirinya sendiri dekat dengan hal religius dan juga bisa disebut Celric sebab pernah menjadi pendeta pada sebuah desa, ia cukup cocok untuk hal seperti itu.