Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 61 : Aswad 8 of 15 “To know who I am” (Part 07)



 


 


 


Cahaya mulai berwarna kemerahan, mentari mulai membenamkan dirinya di ujung cakrawala dan sebuah tirai hitam raksasa akan segera dibentangkan. Pada senja di hari yang padat tersebut, titik-titik cahaya di kota Mylta mulai dinyalakan tanpa sedikit pun menurunkan ramainya suasana kota yang mengalami progresif besar-besaran tersebut.


 


 


Penduduk yang keluar bekerja di pagi hari mulai pulang ke rumah mereka masing-masing, pelancong kembali ke penginapan yang mereka sewa dan para prajurit kembali ke barak sebelum pulang ke rumah atau asrama. Namun, tetap saja masih terlihat beberapa gelandangan di gang-gang jalan yang menjadikan tempat kumuh seperti itu untuk tempat tinggal. Sebuah tanda jelas kalau kota Mylta memiliki kesenjangan yang nyata.


 


 


Progresif perekonomian memang berdampak juga kepada para gelandangan, namun bukan berarti orang-orang pinggiran tersebut benar-benar bisa menikmati hasilnya. Hanya orang yang memiliki modal dan tahu cara mengolahnya saja yang bisa meraup keuntungan besar. Tak terkecuali, Odo Luke juga termasuk ke dalam orang-orang yang mendapat keuntungan tersebut.


 


 


Pada lantai satu Ordoxi Nigrum, penghitungan hasil penjualan hari pertama mereka masih belum kunjung selesai. Di dalam ruangan yang telah dibersihkan tersebut hanya ada Odo, Nanra, Canna, dan Elulu. Untuk para perempuan dari keluarga Demi-human pergi ke lantai atas setelah mereka mandi, lalu untuk anggota keluarga tertua mereka pergi keluar menemui kenalan-kenalannya yang masih menjadi gelandangan untuk menawarkan pekerjaan yang Odo sediakan.


 


 


Beberapa menit lalu, Matius Mitus juga pergi keluar setelah mendapat beberapa perintah dari Odo untuk mengurus sesuatu dengan Serikat Tukang Kurcaci Merah. Sedangkan istrinya, ia tidur di salah satu kamar pada lantai tiga bersama putrinya karena memang ras wanita tersebut memiliki ciri waktu tidur lebih banyak dari yang lain.


 


 


Untuk orang-orang yang masih berada di lantai satu toko yang sudah tutup beberapa jam yang lalu tersebut, akhirnya mereka hampir selesai menghitung pendapatan kotor dan melakukan pembukuan nota belanja untuk mengetahui pendapatan bersih. Nanra hanya mengurus dokumen serta beberapa nota belanja saja, sedangkan Canna dan Odo yang bertugas menghitung satu persatu uang koin yang mereka dapat, lalu Elulu melakukan pencatatan pengeluaran dan pemasukan.


 


 


Melihat jumlah penjualan hari pertama, sebagai seorang anak mantan pedagang Elulu benar-benar tidak percaya dengan hasil yang mereka dapat. Ia menelan ludah dengan berat, lalu menatap ke arah Odo dan berkata, “Tuan Nigrum, kalau tidak salah wadah daun jati yang kita punya itu sekitar 200 buah, ‘kan?”


 


 


“Iya, sekitar 200 buah kayaknya,” jawab Odo seraya menumpuk koin terakhir.


 


 


Menyodorkan beberapa tumpuk koin kepada Elulu, pemuda itu memintanya untuk melakukan penghitungan terakhir tersebut. Canna sedikit menghela napas karena pekerjaan akhirnya selesai, sedikit meregangkan jarinya menatap ke arah Odo tanpa berkata apa-apa.


 


 


“Semua itu habis dalam satu hari.” Elulu segera menghitung dengan sempoa, lalu dengan keringat mulai bercucuran ia berkata, “Kalaupun dihitung dengan menu Nugget Ikan yang termurah dan paling laris hari ini, hasilnya ....”


 


 


“Sekitar 6.000 Rupl, berarti enam koin emas besar,” sambung Odo sebelum Elulu selesai menghitung.


 


 


Mendengar hal tersebut, tangan Nanra terhenti dan ikut menatap ke Odo yang duduk sembari tersenyum tipis. Samar-samar semua orang di tempat tersebut sadar akan hal jumlah itu karena mereka seakan tidak selesai-selesai menghitung penghasilan hari ini.


 


 


Sedikit memalingkan pandangan dari Elulu, Odo kembali berkata, “Dari kotor sebesar 6.000 Rupl tersebut, aku hanya mengambil sekitar 30% keuntungan dari penjualan hari ini. Berarti keuntungan bersihnya hanya 1.800 Rupl saja. Dikurangi pembelian papan dan tambahan lain, mungkin keuntungan bersih hanya satu koin emas besar doang.”


 


 


Meski telah mendengar hal tersebut, tetap saja bisa mendapat pemasukan mencapai 1.000 Rupl dalam satu hari adalah jumlah yang banyak untuk sebuah tempat yang hanya menjual makanan dan minuman. Elulu kembali terdiam, lalu lanjut mengerjakan tugasnya. Hal serupa juga dilakukan oleh Nanra yang lanjut memasukkan arsip dan menatanya. Canna yang telah selesai meletakkan wajahnya ke atas meja, lalu sedikit menghela napas sembari tetap menatap ke arah Odo dari samping tanpa berkata apa-apa.


 


 


Namun ketika mereka benar-benar selesai menghitung semuanya, hasil akhir sangatlah lebih banyak dari yang mereka perkirakan atau Odo sebutkan tadi. Elulu memilih tidak menyebutkannya langsung, ia meminta kepada Odo untuk memasukkan koin-koin uang di meja ke dalam dua kotak kayu berbeda. Laba bersih yang didapat 60% akan disimpan di Guild atau Serikat Dagang sebagai simpanan dan investasi, lalu lebihnya akan disimpan oleh Odo sendiri sebagai pemilik toko.


 


 


Menatap ke arah Odo sembari membuka perkamen berisi hasil pemasukan, perempuan dengan seragam pelayan itu berkata, “Kita berhasil menjual 343 porsi makanan hari ini, lalu untuk minumannya mencapai 350 gelas.”


 


 


Odo terdiam mendengar hal tersebut, mulai menghitung hasil keseluruhannya di dalam kepala. Memilih tidak mengatakan hal itu, ia sedikit memiringkan kepala dan berkata, “Terus, sebutkan semua laporannya.”


 


 


“Dari 343 porsi yang terjual, rinciannya antara lain : Nugget Ikan 165 Porsi, Nugget Ayam 50 Porsi, Nugget Sapi 55 Porsi, Rolade 35 Porsi, Ayam Fillet 38 Porsi.” Sekilas Elulu menatap ke arah Odo. Namun saat tidak melihat perubahan ekspresi darinya, dengan nada sedikit menyinyir ia kembali membacakan, “Lalu untuk penjualan minuman, Jus Apel 304 gelas dan menu baru yang tiba-tiba ditambah 46 gelas.”


 


 


“Hmm ....” Odo meletakkan tangan ke dagu, lalu mulai menghitung semua itu. Sembari menatap ke arah Elulu, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Berarti hasilnya sekitar 4.950 Rupl untuk Nugget Ikan, 2.000 Rupl untuk Nugget Ayam, 2.750 Rupl untuk Nugget Sapi, Rolade 1.750 Rupl, lalu Ayam Fillet 1.440 Rupl .... Apa tepat?”


 


 


Elulu segera memeriksa jumlahnya, lalu menatap pemuda itu dengan sedikit kesal karena memang jumlah tersebut tepat. Menghela napas sekali, perempuan rambut cokelat kepirangan tersebut berkata, “Bagaimana Tuan bisa menghitung secepat itu? Saya mulai merasa tak berguna di sini, padahal sudah hitung lama-lama.”


 


 


“Tenang saja, aku hanya membantu di awal seperti ini. Seterusnya kalian yang mengurus tempat ini. Melihat hasil hitungmu yang tepat, kurasa tak masalah mempercayakan pekerjaan itu padamu,” ucap Odo dengan santai.


 


 


Sedikit tersentak mendengar itu, Elulu kembali menghela napas dan merasa memang benar apa yang dikatakan majikannya tersebut. Melihat perkamen laporan di atas meja, ia kembali melaporkan, “Untuk minuman, total akhir Jus Apel 6.080 Rupl dan Kopi Susu Kocok 920 Rupl. Jadi untuk pendapatan kotor secara keseluruhan hari ini mencapai .... 18.450 Rupl.”


 


 


Elulu menutup wajahnya dengan perkamen berisi laporan, lalu dengan hela napas berkata, ”Lebih dari 18 koin emas besar. Uwah, bahkan penginapan Porzan paling ramai satu hari saja hanya bisa mendapat empat koin emas besar ....”


 


 


Elulu menurunkan kertas ke atas meja, lalu menyerahkan laporan tersebut kepada Nanra untuk diarsipkan. Dengan gemetar dan sedikit enggan melihat jumlahnya, Nanra menerima itu dan memeriksanya untuk diarsipkan.


 


 


“Hmm ....” Odo menggaruk bagian belakang kepala, lalu dengan nada sedikit tidak puas berkata, “Hanya 18.450 Rupl, ya ....”


 


 


Semua orang di ruangan langsung menatap kecut ke arah pemuda itu. “Hanya? Sebanyak ini Anda sebut hanya, ya? Memangnya Tuan sudah pernah pegang uang berapa sampai-sampai menyebut 18 koin emas besar itu hanya?” tanya Elulu seraya memalingkan pandangannya.


 


 


“Yah, dari 18.450 Rupl itu aku dapat keuntungan bersih hanya 30% saja. Berarti sekitar 5.535 Rupl saja hari ini. Dalam operasional toko yang ingin aku buat menjadi 6 hari kerja, berarti pendapatan sampai tutup buku akhir minggu kurang dari 33.210 Rupl. Belum dikurangi biaya lain-lain seperti upah, makan kalian pegawai, kristal sihir untuk pembangkit daya, pajak, dan masih banyak lagi. Dalam perkiraanku seminggu bisa dapat pendapatan bersih 25.000 Rupl itu paling banyak.”


 


 


“Sebulan Anda bisa bangun desa sendiri, tahu!” Elulu mulai terbawa emosi.


 


 


“Tenang dulu.” Odo sedikit memasang senyum, menatap ramah Elulu dan kembali berkata, “Aku bersyukur dapat banyak, loh. Tapi kalau dihitung-hitung dengan modal yang aku keluarkan untuk membangun toko dan mengurus izin, kira-kira baru bisa tutup modal itu sekitar satu tahun kalau pendapatannya hanya segini.”


 


 


 


 


Elulu bangun dari tempat duduk, meletakkan kedua telapak tangannya ke atas meja dan dengan suara ditinggikan berkata, “Ayah saya dulu pernah bilang saat seseorang kalau membangun usaha besar seperti ini tuh paling cepat tutup modal 15 sampai 20 tahun, loh! Itu pun kalau mulus! Ada juga yang sampai generasi cucunya baru bisa tutup modal!”


 


 


Odo menatap heran mendegar hal semacam itu. Sedikit memiringkan kepalanya, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Itu kalau usaha dibangun untuk menyambung hidup. Aku membangun usaha untuk pengembangan, menyerap tenaga kerja dan menyejahterakan banyak orang. Karena itu toko ini harus maju dengan cepat, kau tahu kabar tentang itu dari Arca dan Lisia, ‘kan?”


 


 


Elulu tersentak mendengar hal tersebut, ia juga dengan cepat memahaminya dengan jelas kabar kemungkinan perang dari pembicaraan tadi pagi sebelum toko dibuka. Dalam sebuah peperangan dana dalam jumlah sangat banyak sangatlah penting, begitu menentukan kemenangan dan nyawa seseorang. Kembali duduk, perempuan rambut cokelat kepirangan tersebut sedikit merenung.


 


 


“Kau tak perlu cemas,” ucap Odo seraya meletakkan kedua tangannya ke atas meja. Menatap datar Elulu, sembari memasang senyum simpul pemuda itu berkata, “Aku akan berusaha mengatasinya.”


 


 


Perkataan tersebut terdengar mencemaskan di telinga Elulu, seakan memang pemuda rambut hitam itu rela membuang nyawanya sendiri demi menyelesaikannya. Namun tidak mengatakan apa yang dirasa dalam benak, perempuan rambut cokelat periangan tersebut malah berkata, “Ngomong-omong, kita kehabisan semua bahan makanan, loh. Buat besok bagaimana?”


 


 


Senyum Odo berubah hangat ketika mendengar itu, lalu sembari meletakkan jari telunjuk ke bawah bibir ia berkata, “Kalau itu, tadi pagi aku sudah menitipkannya ke Arca. Nanti setelah dia selesai dengan urusannya, kemungkinan mereka juga akan datang membawa bahan-bahannya. Bukannya kau juga dengar pembicaraan itu, ya? Tadi pagi ....”


 


 


Elulu menyangga kepala, lalu dengan senyum tipis berkata, “Ah, kalau diingat-ingat benar juga. Anda bicara tentang itu dan menyerahkah daftar belanja padanya .... Memangnya Anda memerintah Tuan Arca ke mana?”


 


 


“Ke Tempat Paman Aprilo,” jawab Odo seraya menurunkan jari telunjuknya. Mengingat sesuatu, pemuda rambut hitam tersebut kembali berkata, “Oh, iya! Kalau nanti Arca datang bersama orang dari serikat dagang, tolong buatkan salah satu menu kita untuk mereka. Bilang saja traktiran dari Odo, lalu tagihannya arahnya ke Arca.”


 


 


“Anda jahat sekali sama Tuan Arca.” Elulu menatap kecut. Memalingkan pandangan dan sekilas mengangkat kedua sisi bahu, ia kembali berkata, “Saya juga ingin sering-sering melihat wajah kesal anak mama itu, sih. Secara pribadi saya tak suka dengan anak keluarga Rien itu.


 


 


Sekilas Odo terdiam, menundukkan wajah dan terlihat sedang memikirkan banyak hal. Melihat lamunan yang seakan jiwa pemuda itu keluar dari raganya, sekilas Elulu cemas dan memanggil, “Tuan Odo?”


 


 


“Ah, eng ...? Maaf, masih banyak yang perlu aku pikirkan.”


 


 


Elulu dan Canna juga cemas melihat ekspresi muram pemuda itu. Sorot mata, mimik wajah, dan suara, semua yang nampak dari Odo benar-benar memperlihatkan ekspresi penuh rasa jenuh seorang pria paruh baya yang duduk di kursi jabatan yang tak membiarkannya istirahat.


 


 


Canna duduk tegak, lalu dengan sedikit ragu bertanya, “Memangnya apa saja yang Odo pikirkan?”


 


 


Pemuda rambut hitam itu sesaat terdiam. Meletakkan kedua telapak tangannya ke atas meja dan membuka telapak tangannya lebar-lebar, ia sekilas memasang ekspresi ingin menjerit keras namun dipendam dalam-dalam. Mulai tersenyum dengan sorot mata lelah, ia dengan panjang lebar mulai berbicara.


 


 


“Setelah ini aku juga berniat untuk meningkatkan daya tarik pariwisata kota supaya banyak orang dari luar datang ke kota ini, karena itulah aku membuka toko ini sebagai daya tarik Kuliner. Namun sebelum itu, aku ingin memperbaiki kualitas hidup para gelandangan dengan membuat sebuah rumah susun atau semacamnya untuk mereka. Tentu saja aku juga ingin memberikan mereka pekerjaan yang layak. Sebelum itu lagi aku harus menghadapi arca penting minggu depan, pertunangan itu bisa menjadi pengubah arus politik di kerajaan Felixia. Aku perlu ikut serta mengurus pemindahan pemukiman Klista nanti dalam minggu ini, lalu membuat ladang kerja untuk mereka juga. Konflik para pedagang pasti muncul karena perusahaan dagang yang kubangun ini, karena itu aku juga perlu membangun hubungan dengan pedagang luar. Terutama para pedagang dari Kekaisaran. Aku perlu mendapat status politik, atau paling tidak gelar bangsawan resmi supaya bisa ikut campur di ranah militer dalam sekala besar. Aku perlu relasi dengan kota lain untuk, dengan keluarga bangsawan sebanyak yang aku bisa. Aku perlu kekuatan lebih untuk bisa membuktikan kompetensi dan kapabilitasku —”


 


 


“Tuan Odo!” panggil Elulu dengan suara keras.


 


 


Itu membuat pemuda rambut hitam tersebut tersentak, langsung keluar dari gumam panjangnya dan segera menatap sekeliling. Meletakkan tangan kanan ke wajah, dengan lirih ia berkata, “Banyak sekali yang harus kulakukan, ya ....”


 


 


Entah Elulu, Nanra ataupun Canna, tak ada di antara mereka yang berani mengatakan untuk membagi semua beban tersebut bersama mereka. Apa yang dituju pemuda bukanlah sesuatu yang bisa mereka capai, apa yang ia lakukan tidak semua orang bisa melakukannya, dan apa yang ia lihat sangatlah berbeda dengan orang lain.


 


 


Odo menarik napas dalam-dalam, membersihkan pikiran dengan hal-hal semacam itu dan segera mengganti suasana yang ada dengan bertepuk tangan satu kali. Menatap ramah ke arah Elulu, pemuda itu bertanya, “Oh, iya. Kalau kau ingin mengajak adikmu untuk tinggal di sini, besok atau nanti malam aku tidak keberatan, kok. Kau bisa minta Matius untuk membawa adikmu dengan kekuatannya. Kau tahu dia di mana, ‘kan?”


 


 


“I-Iya ....”


 


 


Melihat perubahan suasana hati secepat itu, Elulu sekilas merasa takut pada Odo. Namun pada akhirnya, perempuan tersebut tetap mengikuti pembicaraan dan dalam beberapa menit tidak mempermasalahkannya lagi. Hal serupa juga dirasakan Nanra, ia merasa ada sesuatu dalam diri Odo yang tidak boleh diusik oleh siapa pun.


 


 


Berbeda dengan mereka berdua, Canna yang tahu identitas Odo sekilas hanya menatap sedih dan hanya ikut pasif dalam pembicaraan mereka. Canna dengan jelas tahu beban yang pemuda itu pikul, kewajiban apa yang ia emban dan jalan terjal apa yang akan dirinya lalui.


 


 


Sebelum Arca datang atau Totto dan Matius kembali, pemuda rambut hitam itu mengakhiri pembicaraan dengan satu kalimat, “Maaf, aku baru ingat ada hal lain yang harus diselesaikan.”


 


 


Ia bangun dari tempat duduk, melempar senyum ramah dan berjalan keluar. Tak ada yang berani menghentikannya atau sejenak membuatnya duduk lebih lama lagi di tempat. Membuka pintu toko dan kembali melempar senyum, pemuda itu pergi ke dalam malam yang semakin pentang.


 


 


\============================================


Catatan :


 


 


Sesuai janji lebih banyak dari biasanya. Yah, entah review nya lama atau enggak sih.


Dukung terus seri ini supaya gak drop di tengah jalan.


Saya sangat menghargai dukungan kalian, kurasa sekarang hanya itu yang membuatku terus mengetik untuk membuat cerita.


 


 


See You Next Time‼