
Di dalam Dunia Astral, lebih tepatnya sekitar daerah Hutan Pohon Suci, Odo berjalan menyusuri jalan bersemak jarang dengan tatapan mata yang terlihat mengantuk. Setelah mendapat pengetahuan tentang tata cara penanaman struktur sihir untuk mengompresnya ke dalam medium dari Mavis, anak itu langsung menjalankan semua rencana yang telah tersusun rapi dan kembali ke Dunia Astral tempatnya berada sekarang ini.
“Haaah, rasanya berdosa mengelabui mereka seperti itu.”
Menghela napas dan melihat ke depan, hanya ada hutan belantara yang pepohonannya memiliki warna hue saturation yang aneh. Berbeda dengan pertama kali datang ke Dunia Astral, Odo tidak langsung dipindahkan oleh distorsi ruang yang menjadi sifat alami tempat tersebut. Bisa dikatakan berkat Bijih dan Buah Pohon Suci yang ditelankan Reyah padanya, tubuh anak tersebut secara bertahap memiliki sifat dan karakteristik Pohon Suci. Karena hal tersebut, setelah datang menggunakan Altar Gerbang Dunia Astral, Odo harus menelusuri hutan belantara meskipun sudah memanfaatkan distorsi ruang untuk bisa sampai di tempat tersebut. Ia tidak bisa berpindah langsung ke dekat Pohon Suci karena di sekitarnya terdapat medan sihir yang mencegah distorsi ruang. Alasan lain Odo bisa berpindah ke dekat tempat tersebut secara langsung pada saat pertama kali datang adalah karena kondisi Reyah sedang melemah, sehingga kendali Pohon Suci juga ikut demikian setelah serangan pertama Naga Hitam ke daerah hutan kekuasaan Dryad tersebut.
Lurus ke depan melewati hutan yang dilewatinya, terlihat pohon raksasa yang ditujunya. Meski begitu, jarak yang ada tidaklah dekat. Berhenti melangkah sejenak dan mempertimbangkan berbagai hal, Odo terpikir untuk menggunakan sihir dalam kekuatan tinggi untuk bisa langsung sampai ke Pohon Suci.
“Hmm, kalau menggunakan sihir, aku tak akan langsung terkena distorsi dan dilempar ke tempat aneh, ‘kan? Sihir butuh konsentrasi dan pembayangan yang kompleks, kalau saat itu terjadi distorsi ..., bisa-bisa .... Tunggu, seharusnya efek yang ditanamkan Reyah juga bisa mencegah itu, buktinya saat melawan Naga Hitam .... Tidak ..., itu mungkin saja hanya berlaku di Lembah Api .... Bentar, aku juga bertarung di daerah Hutan Pohon Suci juga, meski cuma di pinggirannya,” gumam Odo.
Berpikir dan berpikir mempertimbangkan semua hal yang ada, pada akhirnya Odo memutuskan untuk menggunakan sihir. Ia mengakses Inti Sihir, lalu mengeluarkan Mana dari dalam tubuh dan mulai membangun struktur sihir pada tubuhnya. “Tidak terjadi distorsi, tanda-tanda kelainan ruang tak ada,” benak Odo. Merasa aman, anak itu mulai membangun struktur sihir pelontar di bawah kedua kakinya. Sedikit membungkuk, lalu memasang kuda-kuda dengan sedikit melebarkan kedua kakinya ke samping, Odo langsung memunculkan lingkaran sihir pada tempatnya berpijak.
“Untuk lebih aman ..., satu lompatan ....”
Tekanan sihir bertambah drastis, dan pada saat lingkaran sihir mulai memusat sehingga ukurannya mengecil, sihir pelontar dengan kekuatan tujuh kali lipat dilepaskan. Bous! Odo melesat cepat secara diagonal ke atas, mengarah langsung menuju pohon suci. Saat melesat, anak berambut hitam itu tidak memasang sihir lain sehingga Ia sedikit kesulitan untuk membuka mata karena tekanan angin yang ada. Kurang dari semenit di udara, jaraknya dengan Pohon Suci sudah semakin dekat. Momentum dari sihir pelontar habis, dirinya melayang jatuh dari ketinggian beberapa puluh meter di udara. Melihat pemandangan yang ada, anak itu menyeringai penuh rasa senang. Mendongak ke atas, di sana terlihat matahari yang sangat jauh dan terasa berbeda dengan yang bisa dilihatnya saat di dunia nyata.
“Wow, kalau tahu begini, buat apa aku jalan kaki dua jam lebih di hutan!? Kerad! Haha!”
Saat kecepatan jatuh mulai bertambah, Odo menyiapkan sihir pelontar dan membuat lingkaran sihir dengan posisi miring ke bawah, tepat menghadap ke bagian bawah Pohon Suci. Menyesuaikan kekuatan sihir untuk loncatan kali ini, Odo mengaturnya lebih lemah dari sebelumnya. “Meluncur!” ucapnya. Sihir pelontar dilepaskan, dan Odo melesat lurus ke bawah dengan cepat. Saat akan mendarat di atas permukaan tanah berumput, Ia membuat lingkaran sihir gravitasi di hadapan dan menabraknya, secara perlahan kecepatannya berkurang dan Ia mendarat dengan mulus.
“Yah , kalau aku bisa pakai sihir terbang kayak Vil, mungkin akan lebih mudah lagi.”
Sebelum sempat melangkah setelah mendarat, beberapa meter di depan Pohon Suci, mulai tumbuh akar dari dalam tanah dan mulai membentuk lingkaran sihir. Itu mulai bercahaya, partikel-partikel cahaya keluar dari lingkaran, dan muncullah sosok Dryad Pohon Suci yang berwujud perempuan muda berambut hijau daun.
Membuka mata dan menatap lurus ke arah Odo, Dryad tersebut tersenyum, dan berkata, “Selamat datang kembali ..., Odo. Diriku sudah lama menunggu, loh.” Perkataannya itu sedikit membuat Odo terpana, rambut hijau Dryad tersebut yang berkibar tertiup angin dan parasnya yang memikat, itu terasa sangat indah untuk sesaat di mata anak berambut hitam itu.
“Benar juga ya, di sini seharusnya sudah sebulan berlalu .... Jadi, apa sudah siap ..., apa yang kuminta, Reyah?” tanya Odo sambil berjalan mendekat ke arah Roh Agung tersebut. “Tentu saja sudah,” jawab Reyah.
Sampai di depannya, Odo sedikit mendongak dan melihat ke arah Roh Agung tersebut. Mengamati kembali Reyah yang memakai pakaian lebih modis dari sebelumnya, Odo bertanya, “Hmm, tumben gak pakai topi kerucut itu lagi?” Pertanyaan itu membuat Reyah tersenyum seakan memang sudah ditunggu keluar dari mulut anak tersebut. Berputar dan memerkan gaun tipis dan polos berwarna hijau yang dikenakan, Roh Agung tersebut memasang wajah bahagia. “Bagaimana?” tanyanya. Roh itu meletakkan kedua tangan ke pinggang, lalu sedikit membusungkan dada dan membanggakan postur tubuhnya yang indah itu.
Dimintai pendapat seperti itu, Odo hanya diam. Ia sendiri tidak terlalu paham tentang model pakaian, bukti dari itu adalah apa yang dikenakan anak berambut hitam itu sendiri sekarang sangat sederhana. “Yah, paling tidak ..., sekarang lebih baik daripada kau telanjang,” jawab Odo.
“Haha, apa sulitnya sih bilang cocok dan cantik? Memangnya engkau tidak suka yang seperti ini? Apa ini bukan seleramu?” tanya Reyah.
“Tak juga, malah aku suka .... Gaun tipis yang kalau terpapar cahaya sedikit transparan seperti itu ..., jujur sangat memikat ....”
“Bena⸻”
“Tapi hambar.”
“Hambar!? Kenapa!?”
Odo memalingkan pandangan dan sedikit menghela napas. Sambil melirik Roh Agung yang mengenakan gaun tipis panjang selutut tersebut, Odo berkata, “Pilihlah tempat dan waktu yang tepat .... Kau tahu, Reyah .... Sekarang bukan waktunya seperti pamer-pamer seperti itu ....”
“Hmm, benar juga .... Kalau diriku pilih waktu dan tempat yang tepat, apa engkau akan menyerangku seperti binatang buas?” tanya Reyah. Mendapat pertanyaan seperti itu dari Roh Agung yang ekspresi wajahnya terlalu sering datar itu, Odo bingung harus menjawab seperti apa dan terdiam.
“Bagaimana? Apa engkau akan menyerang dan menjatuhkan diriku ke tanah?” tanya Reyah kembali, kali ini Ia mendekatkan wajah dan menatap Odo dengan penuh rasa berharap.
Odo memalingkan wajahnya, dan menjawab,” Y-Ya ..., mungkin, ” Dengan wajah yang sangat ragu, “Tapi itu hanya mungkin, loh.”
“Baiklah ..., akan diriku coba lain waktu. Ternyata memang benar manusia memedulikan hal-hal seperti itu ya, meski itu dirimu ....” Reyah berbalik, lalu mengulurkan kedua tangannya ke arah Pohon Suci. “Kalau begitu, ayo masuk. Barangnya sudah ada di dalam .... Engkau datang kali ini untuk itu, bukan?” ucap Reyah seraya menoleh ke arah Odo.
“Y-Ya ....”
Mereka berdua masuk ke dalam Pohon Suci menggunakan lingkaran sihir yang dibuat Reyah. Saat sampai di dalam ruangan dalam Pohon Sakral tersebut, anak berambut hitam itu sempat terkejut karena barang yang dimintanya lebih dari yang diperkirakan. Tepat di tengah ruang yang sepenuhnya didominasi kayu tersebut, terlihat tumpukan kristal sihir yang jumlahnya lebih dari yang diminta. Menarik napas dan berusaha tidak mempermasalahkan jumlah yang ada, Odo melihat Reyah yang berdiri di sampingnya. Dalam hati anak itu, Ia sempat berpikir kembali kalau Dryad tersebut akal sehatnya memang agak aneh. Tidak bisa protes karena memang apa yang ada adalah yang dimintanya meski sedikit tidak sesuai, Odo hanya bisa menghela napas.
Pada saat sebelum Odo kembali ke dunia nyata sebelumnya, Ia terlebih dahulu meminta Reyah untuk menyiapkan semua apa yang diperlukan untuk rencananya seperti kristal sihir dan lain-lain. Anak berambut hitam tersebut sadar setelah mengalahkan Naga Hitam dan mendapat obat belum tentu semua masalah yang ada akan selesai, masih ada krisis di wilayah yang dipimpin ayahnya. Oleh karena itu, sekitar seminggu yang lalu menurut laju waktu dunia nyata, lebih tepatnya sebelum kembali ke dunia nyata setelah mendapat obat dari Reyah, Odo membuat perjanjian dengan Roh Agung tersebut.
“Reyah ..., Aku tidak minta sebanyak ini, loh.”
“Hmm, jangan cemas .... Meski diriku mengambil kristal sihir sebanyak ini, semua itu hanya kristal dari Lembah Api. Karena bebasnya tempat itu dari kekuasaan Naga Hitam, Roh Agung yang dulunya tinggal di sana memberikan semua kristal itu secara cuma-cuma .... Katanya sebagai ucapan terima kasih karena telah membebaskan tempat tinggalnya.”
“Hmm, ada juga yang tinggal di tempat seperti itu, ya?”
“Tentu saja ada, Roh Api Agung, Ifrit. Asal engkau tahu, dulunya Lembah Api itu memang miliknya. Karena Naga Hitam datang, Ia dikalahkan dan diusir dari tempatnya sendiri .... Meski ada banyak tempat lain yang bisa menjadi tempatnya setelah terusir, tetapi katanya tinggal di rumah memang lebih nyaman .... Sebab itu ..., seperti yang engkau lihat ..., dia sangat berterimakasih .... Engkau tak perlu cemas kalau keseimbangan tempat itu rusak, pada dasarnya semua kristal sihir itu berasal dari tambang-tambang di Lembah Api yang beratus-ratus tahun tak dipanen. Oh, tentu saja menurut waktu Dunia Astral, loh ....”
Melihat ke arah tumpukan kristal yang menggunung itu, Odo baru sadar kalau sebagai besar kristal yang ada memang memiliki atribut elemen api. Menarik napas dan memahami situasi, Odo merasa tidak ada yang rugi kalau menerima semua itu. Sedikit melirik ke arah Dryad di sampingnya, Odo bertanya, “Ngomong-omong, Ifrit itu Roh Agung macam apa?”
“Hmm, dia itu api .... Bentuknya memang bisa berubah sesuka hatinya, tapi pada dasarnya Ifrit adalah api putih yang berpijar terang seperti bintang.”
“Penjelasannya abstrak ....”
“Memang seperti itu .... Dia itu api, tidak ada yang bisa menggambarkannya lebih dari itu .... Api terkuat di Dunia Astral. Yah, satu-satunya yang bisa membuatnya babak belur sejauh ini hanya Naga Hitam dan Iblis yang muncul di Pantai Utara Dunia Astral bertahun-tahun yang lalu ....”
Mendengar hal tersebut, Odo memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut tentang itu karena ada hal lain yang membuatnya terusik. “Reyah ..., kau mengubah cara bicaramu?” tanya Odo. Reyah melihat anak tersebut dengan tatapan datar, lalu berkata, “Hmm, apa cara bicaraku ini aneh?”
“Tidak juga. Hanya saja, walau kau mengubah cara bicara, intonasi itu tetap kau pakai, ya?”
“Ini sudah menjadi ciri diriku ini .... Lemah lembut dan berwibawa.”
Odo tidak memedulikan perkataan yang membanggakan diri itu. Menatap ke arah tumpukan kristal di depan, anak itu berjalan menghampirinya dan duduk di atas permukaan lantai kayu di depan itu. Perilaku anak berambut hitam tersebut membuat Reyah bingung karena sikapnya berubah dengan cepat. Menghampiri dan duduk di sebelahnya, Roh Agung itu memandang wajah Odo yang mulai serius dan tak terlihat mengantuk lagi seperi beberapa saat tadi.
Anak berambut hitam itu mengambil kristal sihir beratribut api, lalu memeriksanya. Dari berat sampai muatan sihir di dalamnya, Ia memeriksa dengan teliti dan sesekali dibalik-balik untuk memeriksa semua sisinya.
“Hmm, kualitasnya ini benar-benar sangat tinggi. Kristal sihir yang aku dapat dari mayat Goblin atau monster-monster di hutan dekat kota saja harganya per bijih sudah sampai 50 Rupl dan paling mahal yang pernah aku coba jual 200 Rupl. Tentu kualitasnya tidak sebaik ini .... Mungkin harganya kristal ini sampai ...,” pikir Odo. Selesai mengamati kristal tersebut, Odo kembali meletakkannya ke tumpukan.
“Ngomong-omong ..., cara membawa semua ini bagaimana, Odo?” tanya Reyah seraya melihat tumpukan kristal sihir. Dari jumlahnya memang tidak jelas berapa, tetapi dari beratnya, dapat diperkirakan kalau semua itu secara keseluruhan mencapai setengah ton lebih mengingat satu kristal sihir dengan kualitas tinggi bisa mencapai satu kilogram dengan ukuran sebesar bola pingpong tetapi berbentuk lonjong dengan kedua ujung berbentuk heksagram lancip.
“Kurang lebih aku punya cara membawanya.” Odo menekan Rune pada punggung tangan kanannya, lalu mengeluarkan sebuah gelang dari dimensi penyimpanan. Memegang gelang logam berwarna hitam pekat dengan tangan kiri, Odo meletakkannya ke lantai.
“Itu ...?” tanya Reyah.
“Gelang yang terbuat dari logam adi campuran, lebih tepatnya perak hitam, Myaht,” jawab Odo.
“Hmm, salah satu jenis logam dengan kekuatan medium, ya .... Itu memang sering digunakan untuk menyimpan struktur sihir .... Hebat juga engkau punya benda seperti itu, bukannya Myaht itu sangat langka dan hanya diproduksi di Miquator?”
“Memang, tapi sayangnya ini aku dapat dari gudang rumahku. Kau tahu, Penyihir Cahaya punya barang-barang mewah seperti ini .... Tapi tidak kusangka ya, kau juga tahu tentang kota sihir itu ....”
Odo memulai pembuatan alat sihir penyimpanan dengan bahan utama gelang tersebut. Berbeda dengan saat membuat Jubah Dimensi, Odo tidak menggunakan teknik menulis Rune secara langsung pada objek, tetapi dengan cara membuat media lingkaran sihir terlebih dahulu untuk menanamkan struktur secara kompres ke dalam gelang tersebut. Tahapannya sangat sederhana sesuai cara yang Mavis beritahukan padanya, dari pembuatan lingkaran sihir dengan struktur sederhana sebagai media untuk menanamkan Rune, lalu mengompres lingkaran sihir yang telah tertanam Rune dimensi ke dalam gelang, kemudian baru membuat kuncinya aksesnya dengan Rune lain. Melatakan gelang di atas lantai, anak itu memulai prosesnya.
“Hmm ..., Odo .... Kota itu sudah ada sejak masa Awal Kiamat, engkau tahu ...?” Perkataan Reyah yang sangat tiba-tiba itu membuat konsentrasi Odo hilang seketika dan lingkaran sihir pecah menghilang. Perlahan memalingkan wajah dan melihat ke arah Reyah yang duduk bersimpuh di sampingnya, anak itu bertanya, “Apa ... maksudnya? Kota itu ...?”
“Ya, kota itu merupakan satu-satunya tempat yang masih ada sejak ratusan ribu tahun yang lalu di zaman Perang Dewa dan Iblis .... Bahkan, Tuan kota tersebut merupakan Penyihir Agung yang umurnya itu lebih tua dari semua Roh Agung yang ada, loh.”
Menelan ludah dengan berat dan kembali memulai pembuatan struktur sihir pada gelang dari awal, Odo kembali bertanya, “E-Eeh ..., seberjarah itu kah kota itu?” Wajahnya terlihat bingung dan panik. Dalam beberapa hal, ada yang mengganggu pikirannya saat Reyah mengatakan hal tersebut.
Melihat Odo seperti itu, Reyah bertanya, “Apa diriku mengganggu konsentrasimu?”
“Tenang saja ..., aku akan membagi konsentrasiku .... Kita lanjut saja pembicaranya.” Odo memejamkan mata, lalu menyerahkan kontrol sihir pada Auto Senses, dan hanya dengan membuka kedua telapak tangan ke arah gelang, proses penanaman sihir dimensi berlangsung secara otomatis. Membuka mata dan melirik ke arah Reyah, Odo bertanya, “Jadi ..., maksudmu Miquator sudah ada sejak masa Awal Kiamat itu apa? Terlebih lagi, apa itu Awal Kiamat? Memangnya dunia ini sudah pernah berakhir apa?”
“Tentu saja sudah .... Dunia ini merupakan Dunia Ketiga setelah kiamat dua kali ....”