Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 65 : Aswad 12 of 15 “Glaub mir” (Part 01)



 


 


Saat angin laut mulai berhembus, cerobong asap rumah-rumah di kota pesisir mulai mengepul ⸻ Tanda penghuninya telah bangun dan memulai rutinitas dini hari. Jalan utama yang menuju ke balai kota masih sepi, hanya terlihat beberapa penjaga yang akan pulang setelah shift malam mereka selesai.


 


 


Langit masih gelap, pada teluk terlihat beberapa titik-titik cahaya kapal sampai ujung cakrawala. Sebagian besar nelayan masih mengandalkan layar untuk perahu mereka, sebab itulah mereka baru berangkat saat malam dan kembali dini hari sekarang menggunakan angin laut.


 


 


Berdiri di atas bangunan toko Ordoxi Nigrum, pemuda rambut hitam tersebut menatap datar ke arah kota dan memperkirakan apa saja yang terjadi seharian selama dirinya pergi. Sorot mata pemuda itu sekilas berubah datar, lalu dengan suara pelan bergumam, “Tch! Spekulasi Persepsi sama sekali tidak aktif, hanya kalkulasi dasar saja yang bisa diakses. Tak kusangka kehilangan sihir yang biasa ku gunakan bisa membuatku tidak nyaman seperti ini.”


 


 


Setelah menghela napas ringan, ia langsung meloncat turun dari atas atap bangunan tiga lantai tersebut. Tepat saat melayang beberapa meter di udara, distorsi ruang terjadi di sekitarnya dan momentum saat jatuh dari gaya tarik gravitasi langsung diserap ke dalam dimensi penyimpanan. Ketika ia mendarat di tanah, semua gaya ke bawah sama sekali tidak menimbulkan efek padanya dan ia menyentuh permukaan layaknya sebuah kapas.


 


 


Tanpa membuang waktu pemuda itu segera berbalik, menyipitkan sorot matanya dan segera berjalan ke arah pintu lantai satu toko. Meletakkan telapak tangan ke permukaan pintu kayu tersebut, seketika kunci secara otomatis terbuka dan ia pun langsung berjalan masuk. Saat kembali tertutup, terdengar suara lubang kunci terputar sendiri dan pintu kembali terkunci.


 


 


Bangunan toko yang juga berfungsi sebagai Atelier tersebut telah mengidentifikasi Odo sebagai tuannya, sehingga hanya dengan keberadaannya saja sudah cukup untuk menggerakkan beberapa fungsi dasar. Duduk pada salah satu meja di ruangan toko yang sunyi, sejenak pemuda itu menutup mata dan membayangkan apa saja yang telah dilakukan para pegawainya selama toko buka kemarin.


 


 


Ia membayangkan para pelayan menerima pesanan, kasir menghitung uang, dan para juru masak di dapur menyiapkan pesanan. Lalu-lalang para pria yang membawa bahan makanan juga dirinya masukan dalam gambaran di kepalanya, memperkirakan semua itu menggunakan informasi yang dirinya dapat saat berbicara dengan Elulu memalui kemampuan telepati perempuan tersebut.


 


 


Apa yang Odo bayangkan bukan hanya sebatas imajinasi, melainkan rekaman yang disimpan oleh para roh tingkat rendah dan Ether yang terikat dalam Atelier. Menggunakan Aitisal Almaelumat, ia mengakses memori mereka yang bersentuhan dengan kulitnya.


 


 


Kembali membuka mata dan sejenak tersenyum tipis, ia merasa lega karena memang tidak ada kendala selama dirinya pergi. Meski Arca dan Lisia sangat cemas padanya, namun selain itu tidak ada kendala lain di toko. Lekas bangun dan berdiri tegak, pemuda itu kembali mengakses Atelier dan melakukan aktivasi paksa pada kekuatan salah satu pria yang tidur di lantai atas.


 


 


Membuka telapak tangan kirinya, sebuah cairan biru bercahaya keluar dari pori-pori dan menetes ke lantai ⸻ Membuat genangan di tempatnya berdiri. Sembari memasang wajah heran pemuda itu bergumam, “Ini aneh sekali, aksesnya terlau kuat. Tadi waktu aku melakukan akses jarak jauh untuk datang ke sini juga bisa dengan mudah terhubung ….”


 


 


Sejenak Odo terdiam dan kembali mengingat apa yang dirinya lakukan beberapa menit lalu. Waktu kabur dari rombongan dan berlari beberapa jam di dalam hutan, ia sempat mencoba akses struktur sihir pada toko dari jarak lebih dari 30 kilometer dan berhasil menggunakan Puddle yang merupakan kekuatan milik Matius Mitus ⸻ Dengan cara itu jugalah ia bisa sampai di kota pesisir dengan cepat.


 


 


Mengaktifkan kembali Puddle dengan koneksi kuat melalui struktur sihir Atelier tempatnya berdiri, Odo memastikan satu hal. Menutup telapak tangan kiri dan menghentikan aktivasi paksa Puddle, tatapannya berubah datar dan bergumam, “Apa efeknya sama seperti kondisi keabadian tubuhku? Ini … seperti aku merebut kekuatan Native Overhoul. Yah, pada dasarnya kekuatan itu juga adalah Kode Khusus namun dengan lima digit. Tak aneh kalau⸻”


 


 


Perkataan terhenti saat Odo menyadari penyebabnya. Menghela napas dengan mimik wajah resah, ia dengan kesal berkata, “Apa Auto Senses menyalin susunan kodenya dan menerapkannya pada tubuhku?”


 


 


Pemuda kembali mengaktifkan Puddle, namun kali ini dirinya tidak melakukan koneksi dulu dengan struktur Atelier atau pun melakukan aktivasi paksa. Itu murni langsung diaktifkan oleh Odo dengan kemampuannya sendiri. Membuka telapak tangan kirinya, cairan biru bercahaya keluar dari pori-porinya. Meski carian yang keluar tak sebanyak saat dirinya terhubung dengan struktur sihir pada toko, namun dengan jelas kekuatan tersebut memang bisa aktif menggunakan kemampuannya sendiri.


 


 


“Gawat, ini benar-benar tersalin. Kalau seperti ini, berarti kemampuan Arca dan Elulu juga bisa saja aku gunakan tanpa sirkuit sihir eksternal ….”


 


 


Odo langsung menggelengkan kepala, mengurungkan niat untuk mencobanya karena merasa hal tersebut memang bisa saja terjadi dan tubuhnya sekarang mampu melakukannya. Sebagai hasil dari tidak aktifnya Spekulasi Persepsi yang biasa aktif secara pasif, ruang informasi dalam otaknya menjadi terbuka dan mudah menyerap struktur informasi dari luar.


 


 


“Sebaiknya aku tidak menguatkan koneksi dengan bangunan ini dulu, bisa-bisa sihir semua orang yang masuk ke sini tanpa kusadari tersalin ke dalam kepalaku.”


 


 


Menghela napas sejenak, Odo melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk memeriksa Inti Struktur dan Suplai Tenaga di basement. Namun saat dirinya mendorong pintu dapur dan hendak masuk, tiba-tiba pandangannya menjadi sedikit rabun dan darah mengalir keluar dari hidung.


 


 


“Akh, aku lupa …. ” Ia melangkah sempoyongan ke dalam, bersandar pada dinding dapur dan bergumam, “Sekarang ini struktur sihirku sedang masa perbaikan ….”


 


 


Dengan pandangan kabur, pemuda itu berjongkok dan mengusap darah yang mengalir dari kedua lubang hidung. Setelah sejenak berdiam diri, ia kembali bangun dan menginjak bagian lantai yang memiliki mekanisme untuk membuka pintu ruang bawah tanah.


 


 


Saat papan penutup terbuka, ia segera menuruni anak tangga untuk memeriksa ruang bawah tanah dan melakukan beberapa penyesuaian ulang terhadap Reaktor Sihir di tempat tersebut. Odo melakukan pemeriksaan kristal sihir yang dijadikan beban dan telah diganti oleh Canna saat dirinya tidak ada.


 


 


Selain melakukan sedikit modifikasi susunan Rune dan memeriksanya, ia juga melakukan beberapa percobaan pada keabadian tubuhnya sendiri. Sembari duduk di lantai ruangan penuh dengan struktur sihir tersebut, Odo menonaktifkan sihir penguatan pada sarung tangan dan melepaskannya.


 


 


Meletakkan itu ke lantai, pemuda itu mulai meneliti kondisi tubuh di ruangan dengan sumbar pencahayaan Reaktor Sihir dan cahaya-cahaya dari Rune di dinding serta beberapa sudut lantai. Namun saat dirinya melihat telapak tangan kanannya sendiri, sebuah hal yang mengejutkan terlihat.


 


 


Tepat di tengah telapak tangan kanannya terdapat huruf LV. Sekilas Odo merasa kalau itu merupakan sebuah kode, namun saat diamati kembali dirinya sadar. “Ini … angka romawi?” gumamnya seraya menyentuh rajah hitam berbentuk LV yang tertulis jelas tersebut.


 


 


Angka LV berarti 55, dipikirkan kembali Odo tetap merasa kalau itu sebuah kode yang merujuk pada sesuatu. Tidak bisa memastikan hal tersebut dengan jelas, pemuda itu memutuskan untuk mengambil sebuah belati yang terlebih dulu dirinya keluarkan sebelum melepaskan sarung tangan.


 


 


 


 


Mencabut belati dan mengamati luka pada telapak tangan, itu perlahan tertutup namun prosesnya sangatlah lambat. Dari hal tersebut ia memastikannya, kalau memang keefektifan Auto Regen benar-benar menurun. Kembali mengingat tingkat regenerasi saat jatuh dari Elang Putih dan ditebas Dart, pemuda itu mengerutkan kening karena merasa ada yang sangat janggal.


 


 


“Ini memang ada hubungannya dengan Dunia Kabut yang tercipta saat aku melakukan manifestasi. Apa Realm itu telah menjadi singgasana ilahi untukku?”


 


 


Odo sejenak terdiam, mengubah posisinya menjadi duduk sila dan memutar-putar belati di antara jemari. Merasa tidak bisa mencapai kesimpulan hanya dengan berpikir, ia memutuskan untuk mengambil risiko.


 


 


Mengangkat belati di genggaman tangan kiri dan mengarahkan ujungnya ke leher, ia sejenak menarik napas ringan dan langsung menusukkannya tepat di bagian tengah ⸻ Seketika membunuh dirinya sendiri. Belati terjatuh ke lantai bersama darah yang mengalir deras dari leher, lalu ia pun ambruk ke belakang dengan darah yang mulai menggenang.


 


 


Dalam hitungan kurang dari tiga detik, waktu milik Odo seakan diputar kembali dan susunan informasi fisiknya ditata ulang. Darah yang menggenang di lantai sepenuhnya kembali ke tubuhnya, lalu luka tusuk pada leher seketika tertutup. Kembali membuka matanya dan duduk sila, napasnya sesaat terasa sesak dan sensasi kematian tertinggal jelas layaknya ia mati saat jatuh dari ketinggian.


 


 


Melihat luka pada telapak tangan, itu juga telah tertutup dan rajah hitam pada telapaknya berubah. LIV ⸻ Itulah yang tertara pada telapak tangannya. Menghela napas ringan dan sejenak merasa resah, kali ini ia benar-benar memastikannya dengan sangat jelas alasan kenapa dirinya bisa kembali hidup setelah mati dan luka pada tubuhnya langsung pulih setelah mati.


 


 


“Angka ini jumlah nyawaku? Yang benar saja, berarti Dunia Kabut itu benar-benar menjadi singgasana ilahi milikku ….”


 


 


Odo sejenak terdiam, menatap datar rajah hitam pada telapak tangan yang menunjukkan angka 54 dalam bilangan romawi. “Kalau memang setiap kali aku mati jumlahnya berkurang, berarti sekarang di Realm itu proses penciptaan tubuh tanpa kepribadian terus berlangsung?” benaknya sembari menyentuh telapak tangan kanannya sendiri.


 


 


Belum kurang dari satu menit, jumlahnya bertambah dan rajah kembali ke angka LV. Melihat itu bisa bertambah dengan sendirinya seperti itu, sorot mata Odo berubah datar dan keningnya mengerut. “Serius? Setiap berapa menit ini bertambah sendiri?” gumamnya sembari berdiri.


 


 


Menggaruk bagian belakang kepala, ia sekilas merasa cemas kalau angka di telapak tangannya terus bertambah. Itu merupakan hitungan jumlah dari tubuh cadangan yang ada di Dunia Kabut. Tubuh-tubuh cadangan Odo tersebut akan secara otomatis diubah menjadi susunan informasi dan ditimpa ke tubuhnya di Dunia Nyata jika dirinya mati ⸻ Itulah rahasia mengapa Odo bisa kembali hidup dan kondisi tubuhnya akan kembali seperti semula setelah mati.


 


 


“Kalau tubuhku restart setiap kali mati, kapan sirkuit sihirku bisa pulih?” keluh pemuda itu sembari membungkuk dan mengambil sarung tangan di lantai. Melihat telapak tangan kanan sebelum kembali mengenakan sarung tangan, angka sama sekali tidak bertambah dengan cepat seperti sebelumnya.


 


 


Merasa perlu kembali meneliti batas dari jumlah tubuh cadangan dan kecepatannya bertambah, ia kembali duduk dan mengambil belati. Tanpa ragu sama sekali, ia menusukkan benda tajam tersebut ke lehernya sendiri dan bunuh diri.


 


 


Mati, hidup kembali, mati, hidup kembali, mati dan hidup kembali. Odo terus mengulanginya berkali-kali sampai mendapat semua informasi yang dirinya perlukan. Saat kematian kelima dalam percobaan, ia mulai mati rasa dan tidak lagi merasakan sakit ketika menusuk lehernya sendiri. Pada kematian seterusnya, Odo mulai terbiasa dengan itu dan sama sekali tidak memedulikannya lagi.


 


 


Saat rajah pada telapak tangan kanannya menjadi X, Odo memutuskan untuk berhenti karena selama satu jam percobaan itu sama sekali tidak bertambah kembali. Duduk sejenak di ruangan redup tersebut, angka baru berubah menjadi XI setelah waktu berlalu dua jam sejak terakhir kali angka tersebut dilihatnya bertambah.


 


 


Melihat durasi untuk jumlah tubuh cadangan bertambah, Odo merasa kalau memang Dunia Kabut memulai proses penciptaan tubuh tak lama setelah dirinya keluar dari Realm tersebut. Menarik napas dalam-dalam, pemuda rambut hitam itu kembali bangun dan segera mengeluh, “Aku lebih suka Auto Regen …. Rasanya ini seperti main game retro yang statusnya akan reset setiap kali mati.”


 


 


Bukan hanya hal tersebut saja yang Odo cemaskan. Kalau dirinya memilih untuk bertindak hati-hati supaya tak mudah mati, berarti jumlah tubuh cadangan pada Dunia Kabut akan terus bertambah karena tak pernah digunakan. Itu sedikit membuat Odo cemas dengan apa yang akan terjadi nantinya jika itu mencapai jumlah ribuan atau jutaan.


 


 


Sembari melihat telapak tangannya sendiri pemuda itu bergumam, “Kurasa ini tidak akan berhenti sendiri. Kalau terus bertambah, bukannya ini keterlaluan? Bahkan para dewa tidak bisa menambah nyawa mereka seenaknya, loh.”


 


 


Kening Odo mengerut kencang, terlihat lelah dan kesal pada situasi yang dihadapkan kepadanya. Memiliki tubuh cadangan yang bisa ditimpa ke tubuh utama memang bukanlah hal yang buruk, itu membuatnya bisa menghindari akhir yang membuatnya menyesal. Namun karena hal tersebut, Odo benar-benar kehilangan pilihan untuk membuat akhir untuk dirinya sendiri.


 


 


“Mahia …, memangnya kau ingin aku melakukan apa? Sudah ku bilang kalau makhluk seperti kita tak seharusnya boleh ikut campur terlalu jauh pada dunia ini, ‘kan? Setelah aku menyelesaikan kewajiban, aku hanya ingin akhir ….”


 


 


Menghela napas dan paham kalau mengeluh tak bisa mengubah apa-apa, Odo memutuskan untuk tetap bergerak dan menyelesaikan urusannya datang ke toko. Kembali memakai sarung tangannya, pemuda itu mengaktifkan sihir penguatan untuk menguncinya pada tangan kanan.


 


 


Setelah memasukkan belati ke dimensi penyimpanan, Odo mengambil pakaian ganti berupa kemeja putih dan celana hitam karena apa yang dikenakannya sekarang sudah rusak. Sembari berganti pakaian, pemuda itu sekilas merasa kalau dosa dari masa lalu memang tak bisa lepas dengan mudah.


 


 


Apa yang telah Odo lakukan di dunia sebelumnya adalah sebuah kesalahan besar. Mengambil sesuatu dari Awal Permulaan dan menyimpannya untuk kepentingan pribadi ⸻ Demi meninggalkan jejak bahwa ada eksistensi di dunia sebelumnya, meninggalkan pesan untuk penghuni dunia selanjutnya supaya tidak melakukan kesalahan yang sama dan membuat keseimbangan hancur.


 


 


۞۞۞