Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 32 : Ivory (Part 02)



 


 


Malam harinya. Setelah selesai melakukan perpanjangan sewa kamar di resepsionis penginapan, Odo dan Fiola segera beranjak dari lobi dan hendak kembali ke kamar. Tetapi langkah kaki anak rambut hitam tersebut tiba-tiba terhenti sebelum menaiki anak tangga, menoleh ke arah para pedagang yang sedang berdiskusi tempat duduk yang ada di ruangan paling depan penginapan tersebut. Apa yang membuat Odo tertarik pada dasarnya bukanlah orang-orang tersebut, melainkan isi sebuah kantung kecil di meja mereka.


 


 


Sorot mata anak tersebut menyipit, raut wajah berubah datar dan tatapannya semakin tajam seakan mengamati sampai ke dalam diri para pria itu. Bulu kuduk Fiola sempat berdiri saat merasakan hawa yang terpancar dari Odo tersebut, langkahnya terhenti pada anak tangga ke tiga dan menoleh dengan sedikit panik.


 


 


“Ada apa ..., Tuan Odo?”


 


 


Tak mendengarkan ucapan perempuan itu, haluan Odo beralih menuju ke tempat para pria berjas merah itu dengan langkah kaki cepat. Fiola sempat ingin menangkap tangan anak itu dan menghentikannya. Tetapi anak itu menghindar seakan memang tahu perempuan tersebut ingin menghentikannya, padahal dirinya sama sekali tidak melirik ke arah perempuan itu. Menghela napas ringan, pada akhirnya Shieal tersebut mengikuti Tuan Mudanya itu.


 


 


Beberapa pelayan penginapan yang sedang bersih-bersih sempat heran melihat anak itu berjalan dengan cepat menuju para pedagang dari Serikat Lorian, mereka mulai berbisik-bisik membicarakan anak itu, entah itu tentang kejadian di aula tadi pagi atau semacamnya. Tidak memedulikan semua tatapan yang diarahkan kepadanya, Odo tetap menghampiri para pria berjas tersebut dan berdiri di depan meja mereka.


 


 


Dari keempat pedagang Serikat Lorian yang duduk di meja tunggu lobi, Aprilo dan Igra ada di antara mereka. Odo tidak mengenal dua lainnya, tetapi dirinya tahu kalau mereka juga pedagang dari Serikat Lorian setelah melihat lencana di dada jas mereka. Tersenyum ringan, anak itu pun menyapa, “Selamat malam, tuan-tuan .... Mungkin ini tidak sopan dan tak tahu diri, tapi boleh saya ikut dalam pembicaraan kalian?” Secara refleks Aprilo dan pelayannya, Igra, sekilas melihat ke arah Fiola yang berdiri di belakang anak itu.


 


 


“Silakan saja .... Igra, tolong ambilkan kursi untuk Tuan O—”


 


 


“Tak perlu, Tuan Aprilo,” sela anak itu. Tersenyum ringan, ia berkata, “Saya cukup berdiri saja. Lagi pula, saya hanya tertarik dengan apa yang ada di meja itu ....”


 


 


Keempat orang yang duduk tersebut melihat ke tengah meja bundar mereka. Di sana terdapat sebuah kantong kain berisi sesuatu seperti biji-bijian, terlihat kering dan kasar. Kembali melihat anak itu, Aprilo dengan bingung bertanya, “Pada bijih kelapa sawit?”


 


 


“Hmm, jadi itu benar-benar bijih kelapa sawit .... Tuan Aprilo dapat itu dari ma—”


 


 


“Tuan,” sela salah satu pria yang tadinya sedang sibuk berbicara dengan Aprilo. Kedua pria tersebut terlihat tidak senang saat pembicaraan mereka diganggu anak kecil, mulai menatap Odo dengan rasa kesal dan memperlihatkan aura permusuhan.


 


 


Kedua orang yang tadi sedang berbicara dengan Eksekutif Serikat Dagang tersebut terlihat adalah pria paruh baya, keduanya berusia sekitar 30 tahun ke atas. Satu di antara mereka memiliki berewok dan kumis tipis, yang satunya lagi memiliki jenggot jarang yang pendek. Dari warna rambut kepala kedua orang tersebut yang kecokelatan dan mata berwarna biru cerah, jelas sekali kedua orang tersebut adalah orang asli Kerajaan Felixia.


 


 


“Ah, maaf .... Saya tidak bermaksud mengganggu pembicaraan tuan-tuan. Kalau tidak keberatan, saya akan menunggu sampai kalian selesai dan tetap diam di sini,” ucap Odo. Ia sedikit melangkah ke belakang dan paham kalau telah terbawa hasrat penasaran tadi.


 


 


“Anda sama sekali tidak berniat untuk pergi, ya .... Meski Anda anak dari Keluarga Luke itu, kami para pedagang tidak tunduk pada keluarga Anda. Tolong ingat itu,” ucap pria berkumis dan berewok tipis, Wicead Richard. “Tolong jangan bertingkah sok seperti berkuasa seperti itu, Tuan Luke,” lanjutnya tegas.


 


 


“Itu benar, tolong jangan besar kepala seperti itu, wahai Pembunuh Naga,” sambung rekannya, pria dengan jenggot pendek jarang, Joe John.


 


 


“Tuan Wicead, Tuan Joe, tenang saja. Saya tidak lupa kalau sekarang saya sedang berbicara dengan kalian ....”


 


 


Aprilo sempat bangun dari tempat duduk, membujuk mereka untuk tetap tenang dan tidak termakan amarah karena harga diri. Kedua orang tersebut tidak tahu tentang identitas asli gadis kecil berambut hitam kecokelatan di belakang Odo, mereka tidak tahu kalau gadis itu dapat menghentikan karier mereka sebagai pedagang di Kerajaan Felixia hanya dengan ucapan saja.


 


 


Berbeda dengan tuannya, Igra hanya menghela napas melihat tingkah kedua orang tersebut. Pria dengan sorot mata itu bertatapan dengan Odo, lalu tersenyum ringan dengan ekspresi sedikit kebingungan harus berkata apa.


 


 


Odo hanya terdiam mendapat senyum seperti itu. Memejamkan mata, sekilas ia mengaktifkan sihir kalkulasinya dan memperhitungkan beberapa hal. Fiola yang sedari tadi mengawasi isi kepala anak itu sempat terkejut, ia langsung tahu Odo menggunakan sihir Spekulasi Persepsi.


 


 


Memegang pundak anak itu dari belakang, Fiola berkata, “Tuan, jangan gunakan itu dulu. Kondisi Anda masih belum pulih sepenuhnya ....”


 


 


“Hmm?” Odo menoleh, darah mengalir dari hidung tetapi wajahnya terlihat seakan tidak peduli dengan itu. “Ada apa?” tanyanya seraya mengusap darah yang mengalir dengan lengan.


 


 


“Tidak ... apa.”


 


 


Fiola terdiam melihatnya. Meski dirinya sudah tahu kalau dalam benak memiliki perasaan tersebut kepada tuannya tersebut, tetapi hal seperti itu dalam diri Odo tetap tidak bisa diterima olehnya. Anak itu memang sangatlah baik dan selalu memikirkan orang lain saat bertindak, Fiola sangat tahu hal tersebut. Tetapi, karena itulah tindakkan Odo yang tidak memedulikan pikiran orang-orang di sekitarnya membuat Fiola tidak menyukai bagian tersebut darinya.


 


 


Kembali menatap Aprilo dan lainnya, anak itu tersenyum ringan. Melihat sedikit bekas darah yang tertinggal di sekitar hidung anak itu, Wicead dan Joe terlihat sedikit enggan. Mereka sadar kalau anak itu memang tidak normal. Mengingat kembali pertandingan masak yang digelar tiba-tiba oleh Owner penginapan dan dimenangkan anak itu, kedua pria dari Serikat Dagang itu sedikit menelan ludah dengan berat.


 


 


Tatapan yang ada pada anak itu tidak wajar, secara insting mereka paham itu. Kedua pria itu sedikit mengubah persepsi, memberikan tatapan yang sewajarnya diberikan kepada seorang anak dari Keluarga Luke yang dikenal keganasannya di medan perang, tatapan yang layak diberikan kepada penguasa.


 


 


“Tuan Odo, Anda tadi katanya demam? Apa sudah baikkan?” tanya Aprilo memecahkan ketegangan yang sekilas terasa. Ia kembali duduk, menarik napas lega karena paham kedua pria itu paham situasi yang ada meski tidak tahu fakta tentang gadis di belakang anak itu.


 


 


“Hmm, kurang lebih aku sudah mendingan ....” Odo menatap datar mata Eksekutif Serikat Dagang tersebut, sangat dalam dan seakan melihat pria itu sampai ke dalam kepalanya. Tersenyum ringan kepada mereka semua, anak itu berkata, “Saya tidak ingin mengganggu pembicaraan kalian tentang Jalur Laut Tenggara atau hasil lahan Kepulauan Kritasil Bascal, jadi boleh saya langsung ke intinya?”


 


 


Keempat pria yang duduk pada tempatnya masing-masing itu tersentak kaget mendengar itu. Sejak Odo datang seharusnya memang tidak ada yang mengatakan tentang kedua hal tersebut, tetapi dengan entengnya anak itu mengucapkan kedua komponen proyek dagang mereka.


 


 


Tersenyum ringan dengan sedikit rasa takut di dalam matanya, pria bernama Joe bertanya, “Hmm ..., apa yang ingin Anda bicarakan?”


 


 


“Tolong jual bijih kelapa sawit itu padaku .... Berapa harganya?”


 


 


“Baiklah, kami bersedia menjualnya. Mau menawar berapa?”


 


 


Odo menoleh ke belakang, menatap Fiola dan berharap perempuan itu memberi uang. Dengan wajah jengkel, Huli Jing tersebut menatap balik dengan tajam dan berkata, “Gak ada .... Tahu sendiri tadi digunakan untuk apa, ‘kan?” Anak itu tersenyum ringan dan sebenarnya sudah tahu dari awal kalau dirinya tak lagi punya uang untuk transaksi.


 


 


Kembali menghadap keempat pria tersebut, Odo sedikit mengangkat kedua pundaknya. Anak yang mengenakan baju tunik itu tersenyum ringan, lalu berkata, “Maaf, tuan-tuan ..., sepertinya saya sudah kehabisan uang. Kalau boleh, bisa kita gunakan saja sistem barter?”


 


 


“Barter?” tanya Wicead bingung. “Memangnya barang apa yang ingin Anda tawarkan?”


 


 


Odo memasukkan lengan kanan ke saku celana sampai Gelang Dimensinya tak terlihat mereka, lalu mengambil sesuatu dari dimensi penyimpanan. Mengeluarkan sesuatu seperti dirinya mengambilnya dari saku, anak itu berkata, “Bagaimana kalau ini?” Mereka terkejut melihat barang di tangan Odo. Memang tidak ada di antara keempat pria itu pernah melihatnya secara langsung sebelumnya, tetapi dengan jelas mereka tahu kalau benda tersebut itu adalah asli mengingat reputasi anak itu.


 


 


“Jangan bilang ... itu Sisik Naga Hitam?” tanya Aprilo panik. Melihat sisik hitam selebar telapak tangan anak itu, pria tersebut sedikit tidak percaya merasakan aura mistis yang terpancar dari benda itu.


 


 


“Ya, ini sisiknya.”


 


 


“Apa itu asli?” tanya Joe ragu.


 


 


“Aku menjaminnya. Lagi pula, tuan-tuan tahu kalau aku yang mengalahkan makhluk itu, bukan?”


 


 


Mereka menelan ludah dengan berat. Melihat apa yang ditawarkan, sekantung bijih kelapa sawit dan satu buah Sisik Naga Hitam tidaklah perlu dibandingkan lagi nilainya. Tetapi karena perbedaan nilai yang terlalu besar itu, rasa ragu dalam diri menguat dan membuat mereka sulit mengambil keputusan.


 


 


“Tuan Odo, saya rasa  .... bukannya barter ini tidak setara? Sebuah Sisik Naga Hitam ditukar dengan bijih kepala sawit ..., itu terlalu ....” Aprilo memasang wajah cemas. Sebagai seorang pedagang, mendapat tawaran menguntungkan seperti itu tanpa alasan yang jelas memang membuatnya cemas.


 


 


“Hmm, kalau begitu jawab saja tiga pertanyaan saya ini, Tuan Aprilo. Barang itu, bijih sawit itu milik Anda,  bukan?”


 


 


“Ya ..., itu milikku ....”


 


 


“Kalau begitu, jawab pertanyaan saya. Anggap saja itu sebagai bayaran tambahan Anda padaku.”


 


 


Odo meletakkan Sisik Naga Hitam ke atas Meja. Saat benda itu diletakkan, suara cukup keras seperti logam berat terdengar dan itu menunjukkan kalau sisik itu tidaklah seringan yang terlihat. Mereka tersentak fokus pada sisik tersebut, pada saat itu Odo sekilas menyeringai melihat reaksi mereka.


 


 


 


 


“Tidak jauh-jauh soal bijih ini, kok.” Anak itu mengambil satu bijih, mengamatinya dan mencium aroma yang terpancar dari bijih tersebut. Melirik datar ke arah Eksekutif tersebut, ia bertanya, “Bijih ini sering digunakan untuk pembuatan minyak goreng, bukan? Selain minyak zaitun yang sering diimpor dari Kerajaan Ungea, sumber minyak besar lainnya adalah bijih yang ada di Kepulauan Kritasil Bascal di tenggara Kerajaan Felixia ini, benar begitu?”


 


 


“Ya .... Saya sendiri kurang paham sebenarnya apa bedanya kedua minyak itu, tetapi kata Porzan kedua minyak tersebut berbeda fungsinya untuk memasak. Karena itu kedua jenis minyak itu harganya tidak terlalu sering bentrok saat di pasaran.”


 


 


Aprilo mengambil sisik tersebut. Saat mengangkatnya, ia sedikit terkejut karena itu lebih ringan dari apa yang diduganya. Diketuk-ketuk, ia kembali terkejut karena suara yang dikeluarkan tidak nyaring dan itu tanda kalau kekerasan benda itu sangatlah tinggi. Tetapi saat dibalik dan mengetuk sisi lain sisik naga tersebut, teksturnya sedikit empuk dan tetap tidak mengeluarkan suara.


 


 


“Apa kalian mengolahnya menjadi minyak di sini? Atau diolah dari kepulauan, lalu dibawa ke sini?” tanya Odo.


 


 


Aprilo menurunkan sisik naga itu, lalu melihat ke arah Odo dan berkata, “Diolah dari kepulauan .... Mereka menggunakan sihir khusus untuk prosesnya, itu rahasia orang-orang di sana sepertinya. Kami membawa ini hanya ingin mencoba apakah bisa atau tidak membudidayakannya di pulau utama.”


 


 


“Ini takkan bisa tumbuh di sini, loh.”


 


 


“Eh?” Aprilo terkejut mendengar itu. Tidak jauh berbeda dengan pria itu, ketiga pria lainnya juga ikut menunjukkan ekspresi serupa mendengar ungkapan itu.


 


 


“Kepala sawit itu tumbuhan tropis. Meski pun bisa tumbuh, musim dingin akan mati karena tidak bisa menyesuaikan dengan iklim.”


 


 


“Yah, kami juga tahu kemungkinan itu. Ada juga beberapa petani di sana yang bilang hal yang sama .... Nyatanya kami sedang bicara seperti ini karena telah gagal. Itu ... sudah di tanam pada lahan sekitar kota ini dan sama sekali tidak tumbuh selama musim dua musim, loh.”


 


 


“Oh, begitu.” Odo memasang ekspresi datar dan paham kalau hal tersebut adalah hal yag sudah semestinya terjadi. Sedikit menyeringai, ia berkata, “Jelas saja ada aroma tanah dan warnanya ada beberapa ada yang agak hitam.”


 


 


“Hmm ....” Kembali menatap Eksekutif itu dengan ramah, Odo tersenyum simpul dan berkata, “Ini pertanyaan terakhir. Dari pada pertanyaan, lebih tepanya tawaran, sih.”


 


 


“Tawaran?” Aprilo tersenyum ringan, sedikit menunjukkan rasa tertarik ia pun dengan nada semangat bertanya, “Tawaran tentang apakah itu, Tuan Odo?”


 


 


Sedikit memiringkan kepala dan memasang senyum layaknya seorang penguasa angkuh dan sombong, ia anak itu berkata, “Aku akan mencari cara supaya bijih pohon ini bisa tumbuh di sekitar kota. Sebagai gantinya, bisa Serikat Dagang mendapatkan metode cara pengolahan bijihnya supaya menjadi minyak?”


 


 


“Ah? Bukannya Anda bilang tadi bijih itu tidak bisa tumbuh, ‘kan?” Aprilo tersenyum, meski dirinya berkata seakan tidak percaya. Melihat ekspresi kedua orang tersebut, Igra dan yang lainnya merasa sesuatu yang tidak enak dari mereka berdua. Ekspresi seperti itu sangat menunjukkan sifat serakah seseorang saat menemukan hal yang dapat mendatangkan keuntungan besar.


 


 


“Manipulasi Tanaman,” ucap anak itu. Menegakkan posisi berdiri dan menarik napas dalam-dalam, ia mulai menjelaskan, “Dengan penyesuaian, bijih ini mungkin bisa saja tumbuh. Syarat untuk tanaman ini tumbuh adalah daerah dengan curah hujan tinggi, ditanam di tanah Latosol atau bisa juga Alluvial, tanah gambut juga bisa tetapi itu terkadang tak menjamin. Yah, intinya ini sangat cocok tumbuh di daerah pesisir sungai dan hutan hujan tropis dengan unsur hara tinggi ....”


 


 


“Apa bisa ... mengatur kondisi tanah sampai seperti itu supaya bisa ditanami pohon sawit? Memang di sekitar daerah pesisir ini ada beberapa sungai, tetapi tempat ini iklimnya sub-tropis. Apa itu mungkin?”


 


 


“Hmm?” Odo sekilas terkejut karena pria tersebut salah mengartikan maksudnya.


 


 


“Ada apa?”


 


 


“Tak apa ....”


 


 


Sedikit memalingkan pandangan, anak itu berpikir, “Maksudku memanipulasi genetik bijihnya, sih .... Kalau peta genetiknya diubah, dengan menyalin peta genetik tumbuhan sub-tropis dan menindihnya ke dalam bijih ini dengan tetap mempertahankan sifat pembuahannya, itu mungkin bisa.”


 


 


Kembali menatap pria itu, Odo tersenyum ringan dan tidak mengatakannya karena hal tersebut dipikir berguna nantinya. Mengulurkan tangan kepada pria itu, ia berkata, “Apa Anda mau, Tuan Aprlilo?”


 


 


“Ya, kalau bisa tentu saja mau,” ucap Eksekutif itu seraya menjabat tangan Odo. “Setelah melihat pohon itu tumbuh nanti, saya akan segera membujuk orang-orang di sana untuk memberitahukan cara pengolahan minyak mereka.”


 


 


“Oke.”


 


 


Kesepakatan pun terjalin. Odo mengambil kantung berisi bijih pohon sawit itu, lalu memasukkannya ke saku dan menyimpannya menggunakan Gelang Dimensi tanpa diketahui para pedagang itu. Alasan Odo menyembunyikan gelangnya sangat sederhana, itu pasti akan membuat para pedagang di hadapannya tersebut menggiring ke pembicaraan pemuatan massal benda tersebut untuk perdagangan. Odo tak ingin itu, pada dasarnya alat sihir seperti gelang yang digunakannya itu juga merupakan senjata yang mengerikan tergantung cara penggunaannya.


 


 


“Kalau begitu, saya pamit dulu, tuan-tuan ....”


 


 


Odo berbalik, lalu meninggalkan tempat tersebut. Fiola membungkuk hormat kepada para pedagang dari Serikat Dagang itu, Aprilo dan Igra bangun dari tempat duduk dan membalas hormat perempuan tersebut. Wicead dan Joe merasa heran Eksekutif dan pelayannya itu sampai memberi hormat kepada seorang gadis kecil.


 


 


Setelah Odo dan Fiola naik ke lantai dua, dengan penasaran Wecead bertanya, “Tuan Aprilo, gadis yang bersama Tuan Luke itu siapa? Kenapa Anda membungkuk?”


 


 


“Ah, kalian .... Untung saja dia tidak tersinggung, kalian beruntung sekali .... Beliau adalah Fiola, Shieal dengan wewenang tertinggi di wilayah ini,” jelas Aprilo.


 


 


Pria itu terbelalak mendengar hal tersebut, begitu juga rekan yang duduk di sebelahnya. Mereka benar-benar berkeringat mengetahui hal tersebut, baru sadar kalau dari tadi mereka berada di depan mulut singa yang bisa dengan mudah menghancurkan hidup mereka sebagai seorang pedagang.


 


 


Dalam rantai kepemimpinan Wilayah Luke, ada beberapa hal yang unik karena Tuan Tanah atau Marquess tidaklah selalu mutlak dalam beberapa aspek di wilayahnya sendiri. Sebuah keluarga cabang bernama Shieal yang juga dikenal dengan Perisai atau juga sebagai Sarung Pedang menjadi pendamping keluarga utama sebagai pemimpin wilayah. Dalam hal tersebut, ada beberapa kategori wewenang yang dimiliki Shieal tetapi tak dimiliki Tuan tanah.


 


 


Wewenang tersebut adalah melakukan Perintah Mutlak di tempat kepada seluruh lembaga yang ada di Wilayah Luke tanpa surat perintah ataupun resmi, setelah itu barulah diproses apa isi dari perintah tersebut oleh pemerintah pusat dan Tuan Tanah. Kalau perintah tersebut dibenarkan, maka hasil dari Perintah Mutlak akan dibiarkan. Tetapi jika dianggap tidak benar, maka hasil perintah akan dihilangkan atau diperbaiki ke kondisi semula.


 


 


Itu memang terbalik dalam hal prosedur normal, tetapi hal itu memang nyata dalam Wilayah Luke sebab para Shieal sendiri sebenarnya adalah keluarga asli yang dulunya menguasai wilayah yang ditempati Keluarga Luke sekarang. Keturunan Shieal murni yang garis keturunannya telah habis saat Perang Besar menyerahkan wilayah mereka pada Keluarga Luke pada awal pendirian kerajaan, lalu terciptalah sistem semacam itu.


 


 


Alasan penyerahan sangatlah sederhana, Keluarga Luke pada saat itu hanyalah menjual keahlian mereka kepada Kerajaan Felixia pada masa awal pembentukan dan menjadi Tiga Keluarga Besar Kerajaan, mereka tidak memiliki wilayah sama sekali layaknya bangsawan pada umumnya. Karena Kepala Keluarga Shieal dulu merasa berhutang besar kepada Kepala Keluarga Luke pertama, mereka dengan suka rela memberikan wilayah mereka kepada Keluarga Luke yang pada saat itu sama sekali tidak memiliki wilayah.


 


 


Tetapi saat dewasa ini, Keluarga Shieal telah dicatatkan resmi habis garis keturunannya dan diadakan seleksi Shieal sekitar tiga belas tahun lalu. Meski begitu, sistem yang ada masih berlaku sampai sekarang dan sama sekali tidak ada tanda-tanda perubahan untuk hal tersebut.


 


 


“Bukan hanya itu, loh .... Tuan Joe, Tuan Wicead, anak itu sudah tahu kalau Serikat Dagang Cabang Kota Mylta ini menggunakan cara itu untuk mempermudah rute dagang,” ucap Igra dengan sedikit rasa sindiran di dalamnya.


 


 


“A—!! Dia?! Anak itu tahu rahasia kita?!” Wicead bangun dari tempat duduk dan menggebrak meja, ia benar-benar mendengar fakta itu setelah tahu Shieal bersama anak itu.


 


 


“Jangan keras-keras, Wicead,” ucap Joe.


 


 


“Maaf ....” Wicead duduk kembali, melihat kanan dan kiri dengan gelisah.


 


 


“Tuan Aprilo, apa Anda yang memberitahu anak itu?” tanya Joe.


 


 


Tersenyum ringan, Eksekutif itu menjawab, “Tidak .... Dia tahu sendiri, menebaknya dan jujur saya saat itu serasa digerebek. Uh, rasanya tidak berdaya pokoknya.”


 


 


“Apa .... dia benar masih anak-anak? Kalau tidak salah, umurnya bahkan belum sepuluh tahun, ‘kan?” tanya Joe. Berbeda dengan rekannya yang sering terbawa emosi, pria itu lebih tenang, berpikir dan bertindak untuk memahami situasi yang ada.


 


 


“Hmm ..., menakutkan, iya’kan? Membuat jantung berdegup cepat dan rasanya menggigil, bukan? Anak bernama Odo itu ....” Aprilo menatap dengan wajah berseri, semangat mudanya serasa tampak pada wajah pria paruh baya tersebut dan menatap dengan penuh gairah ambisi.


 


 


“Anda ... menikmati hal ini, ya ....”


 


 


“Hmm, lumayan ....”