
Kediaman keluarga Luke. Saat matahari mulai meninggi dan mendung perlahan tersingkir, para pelayan yang bekerja di tempat tersebut telah lama memulai pekerjaan mereka. Menyiapkan sarapan, mencuci pakaian, mengepel, membersihkan kaca, serta kegiatan rumah tangga lainnya.
Selain para pelayan, tukang kebun yang kebanyakan adalah Lizard Man juga terlihat sibuk merapikan taman bunga dan kebun herbal. Mereka menata dedaunan teh herbal yang tubuh pada beberapa sudut pagar, lalu tak luput juga gazebo yang ada di tengah taman dibersihkan.
Hari ini sedikit berbeda dan mereka terlihat lebih sibuk dari biasanya. Karena nanti siang rombongan dari Ibukota dijadwalkan akan sampai, Keluarga Luke harus mempersiapkan penyambutan sesuai protokol kebangsawanan. Sesudah menyelesaikan pekerjaan utama mereka, para pelayan mulai menyiapkan penyambutan tersebut.
Aula yang jarang digunakan telah dibersihkan dan disiapkan untuk pesta, bahan-bahan makanan yang mereka pesan beberapa hari lalu mulai dibongkar dan dibawa masuk ke dapur. Bendera Kerajaan Felixia di pasang pada beberapa titik pagar dan Mansion¸ lalu jalan menuju pintu masuk utama dihiasi dengan kerangka bunga indah musim semi.
Tidak ada yang menganggur, setiap orang bekerja secepat mungkin karena bisa dikatakan persiapan mereka tergolong sedikit terlambat. Selain persiapan lini depan penyambutan, di dapur juga tak kalah sibuk. Beberapa juru masak mengolah bahan makanan yang baru saja datang, menyiapkan tungku, wajan, dan oven untuk memasaknya.
Makanan yang disajikan juga harus sesuai dengan protokol pesta penyambutan Keluarga Kerajaan, tak boleh menyediakan menu makanan yang diluar peraturan yang ada. Bertugas di bagian dapur untuk memastikan tidak ada masalah nantinya, Fiola terlihat sibuk memberikan arahan pada para juru masak.
“Jangan terlalu banyak rempahnya, takar dengan sesuai! Masukkan keju di akhir saja supaya tidak terlalu lembek! Itu rotinya sudah mau matang, periksa cepat! Jangan lupa siapkan susu almond, ada beberapa bangsawan yang tak bisa mengonsumsi makanan hewani atau minuman keras. Hey! Kau! Tak perlu tambahkan sayur ke salad buah! Biarkan saja seperti itu! Kalkun tolong diperiksa lagi, jangan sampai terlalu matang! Sosis juga jangan lewatkan! Tak perlu siapkan teh dulu, nanti malah dingin saat disajikan! Siapkan Ale dan Wine!”
Huli Jing tersebut benar-benar dibuat sibuk dengan semua hal tersebut, memerintah orang-orang secara bergantian dan sama sekali tidak diberi waktu untuk sejenak melemaskan pundak. Sebagai penanggung jawab dapur, dirinya harus menyiapkan sekitar 50 porsi makanan dan minuman beserta puluhan piring camilan dengan belasan jenis yang berbeda.
Itu hanya sebatas untuk pesta penyambutan dan bukan untuk acara utama yang akan dilakukan besok sampai lusa nanti. Pada acara utama berupa pesta pertunangan, menu yang disajikan pun berbeda dan Fiola harus mengkoordinir juga.
Fioal tak seperti biasanya mengenakan seragam pelayan sama seperti yang lain, terjun langsung ke lapangan dan membantu para juru masak yang tidak tahu standar dasar makanan yang harus disediakan dalam acara penyambutan keluarga kerajaan. Kediaman Luke sendiri bukan untuk pertama kalinya mendapat kunjungan dari sang Raja, namun dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya Raja Gaiel selalu meminta untuk tidak usah mengadakan acara penyambutan karena ia selalu datang secara privat. Karena itulah, ini pertama kalinya mereka harus melakukan sebuah pesta penyambutan secara formal.
“Nona Fiola, sepertinya ada masalah dengan pesanan. Ki-Kita tidak punya cukup Ale untuk sepanjang kunjungan!” lapor salah satu pelayan yang membantunya di dapur.
Segera Fiola menoleh ke arah pelayan tersebut, lalu dengan tatapan tegas ia pun bertanya, “Apa pesanannya salah? Jumlahnya kemarin sudah diperiksa cukup, ‘kan?”
“I-Iya, Nona ….” Sembari membawa botol Rum dengan kedua tangannya, pelayan itu menjelaskan, “Sepertinya ada beberapa Rum yang tercampur dalam kotak. Isi botol ini lebih sedikit dari Ale yang telah kita pesan.”
“Berapa jumlah yang tercampur di kotak?”
Dengan ragu pelayan tersebut menjawab, “Sekitar 5 botol ….”
Fiola sama sekali tidak terlihat bingung, dengan segera ia mengambil botol Rum yang dibawa pelayan tersebut. Berbeda dengan Ale, Rum merupakan minuman beralkohol yang dibuat dari hasil fermentasi air tebu dan memiliki kadar alkohol sekitar 37,5 % ⸻ Dengan kata lain lebih tinggi dari Ale yang hanya sekitar 6 %.
Mempertimbangkan hal tersebut, Huli Jing itu memutuskan untuk mengambil risiko dan memerintahkan, “Campur Rum ini dengan sedikit air gula, perbandingannya 5/1 saja.”
“Apa tak masalah, Nona?”
“Tak masalah, lebih baik daripada kurang. Kita harus memberikan pelayanan terbaik selama dua hari ini.” Sembari menyerahkan kembali botol Rum, perempuan rambut cokelat hitaman tersebut menjelaskan, “Kadar alkohol Rum lebih tinggi dari Ale atau Wine, para bangsawan juga tak suka kalau mabuk di acara pesta nanti.”
“Baiklah, akan segera kami lakukan!”
Pelayan itu segera keluar untuk menyampaikan informasi tersebut kepada rekan-rekannya yang kebingungan karena pesanan yang datang salah. Sekilas Fiola merasa heran mengapa ada yang berani menjual barang tak sesuai pesanan ke keluarga Luke. Mengambil kertas laporan belanja di atas meja dapur dan memeriksanya, seketika sorot mata Huli Jing tersebut berubah datar.
“Ah, rupanya Ale dibeli dari wilayah Garados. Berarti mereka ingin mencari muka dengan mengirim yang kualitasnya lebih tinggi?” Fiola sejenak menarik napas ringan, meletakkan laporan belanja kembali ke atas meja dan bergumam, “Aku kira mereka ingin membuat semua orang mabuk saat acara pasta.”
Tak memikirkannya terlalu dalam, Kepala Pelayan tersebut kembali memberikan arahan kepada para juru masak di dapur. Sesekali mendapat masalah seperti bahan kurang atau salah pesanan, ia bisa mengatasinya dengan mencari alternatif dengan cepat seakan memang telah terbiasa mengatur hal-hal dapur seperti itu.
.
.
.
.
Pada Aula Utama Mansion, para pelayan keluarga Luke juga terlihat sibuk mempersiapkan dekorasi Kerajaan Felixia pada langit-langit serta dinding. Aula tersebut sedikit lebih luas jika dibandingkan dengan lantai dasar perpustakaan Luke Scientia, memiliki banyak jendela dengan hiasan kaca patri dengan bentuk hiasan pedang, timbangan, bunga, dan seorang wanita yang memiliki spektrum warna unik.
Ruangan luas tersebut memiliki empat pintu masuk, dua di antaranya adalah pintu utama. Pada tengah ruangan memiliki empat pilar besar yang terbuat dari marmer, serta lantai keramik berwarna krem cerah. Sumber pencahayaan utama ruangan adalah lampu gantung besar yang ada di tengah, lalu lampu-lampu kristal pada beberapa sudut ruangan.
Beberapa ukiran patung dewi kepercayaan masyarakat Felixia dipajang pada meja-meja dengan taplak biru tua. Karpet-karpet dengan warna khas kerajaan juga digelar pada lantai, lalu tata letak meja yang mengarah pada satu titik di pusat aula juga tidak luput dari penataan. Di dalam aula juga terdapat bendera Kerajaan Felixia sebagai tanda acara yang akan berlangsung adalah acara kenegaraan.
Pada beberapa meja utama, diletakkan sebuah Menorah ⸻ Sebuah tempat lilin dengan tujuh cabang dan alas yang cukup lebar. Menorah itu terbuat dari emas murni dan beratnya mencapai 14 kilogram, lalu memiliki pola-pola unik pada permukaannya. Meja dengan simbol keagamaan itu dikhususkan untuk tokoh agama penting yang akan ikut dalam acara pertunangan, hanya berjumlah empat meja saja.
Di tempat tersebut, Minda dan Imania bertugas sebagai pengawas persiapan tempat. Mereka bekerja lebih dulu daripada bagian dapur atau lini depan penyambutan, karena itulah persiapan Aula Utama terlihat hampir selesai dan hanya perlu beberapa sentuhan saja untuk merampungkan.
Menarik napas dalam-dalam, Minda mengusap keringatnya dan sejenak merasa lega karena pekerjaan yang dimulai sejak pagi-pagi buta tersebut hampir selesai. “Tinggal membawa camilan dari dapur nanti setelah masak dan persiapan awal selesai,” ucap perempuan rambut hitam tersebut.
Imania menepuk pundak Minda, lalu meraih tangan kanan perempuan itu dan menuliskan pesan ke telapak tangannya. “Belum selesai, tugas kita masih banyak sampai acara selesai nanti,” tulis pelayan bisu berambut abu-abu tersebut.
“Tolong jangan diingatkan dong, saya tahu bagian kita itu paling berat kok. Setelah hari terakhir juga kita masih belum selesai ….”
Mendengar rekannya berkata seperti itu, sekilas Imania tertawa kecil dengan manis. Minda hanya membalas dengan senyum ringan mendengar hal tersebut. Meski kedua Shieal itu harus bekerja lebih keras dari biasanya, Minda dan Imania tidak keberatan dan malah cukup menikmatinya karena merasakan tantangan yang berbeda dari pekerjaan yang dibebankan kepada mereka.
Melingkis lengan seragamnya, Minda dengan semangat berkata, “Mari kita selesaikan ini!” Ia segera berbalik ke arah para pelayan yang masih merapikan Aula Utama, lalu dengan semangat berkata, “Untuk yang sudah selesai ikut saya! Kita akan mengambil camilan dari dapur! Tapi jangan sampai ada yang mengutil, ya!”
Mendengar perintah yang diselingi gurauan, beberapa pelayan ada yang tertawa kecil. Setelah itu, mereka yang telah menyelesaikan bagiannya di Aula Utama pergi mengikuti Minda untuk membawa makanan pembuka ke tempat tersebut.
Kursi hanya diletakkan di luar ruangan, disediakan untuk mereka yang sakit atau lelah berdiri. Meskipun ada beberapa kursi di dalam ruangan, itu hanya dikhususkan untuk orang-orang penting atau permintaan khusus dari sang Raja saja.
Hal tersebut bukanlah sikap intoleran kepada mereka yang sakit atau lanjut usia, melainkan memang prosedur yang diterapkan oleh kerajaan untuk menjunjung tinggi kesetaraan perlakuan kepada peserta pertunangan, kecuali untuk sang Raja yang memang harus diperlakukan spesial.
Minda dan beberapa pelayan berjalan menuju dapur, lalu melewati koridor depan Mansion. Menoleh ke taman, perempuan rambut hitam tersebut sempat melihat Julia yang sedang mengkoordinir bahan makanan untuk acara utama dan penataan taman sampai ke depan perpustakaan sihir. Tak ingin mengganggunya, Minda tidak menyapa dan terus melangkahkan kaki bersama para pelayan lain.
Julia sekilas melihat perempuan rambut hitam tersebut berjalan cepat di koridor. Merasakan hal yang sama, ia juga tidak menyapa dan melanjutkan tugasnya untuk mengkoordinasi. Orang-orang yang bekerja di bawah wewenangnya kebanyakan adalah Lizard Man, lalu sebagian kecil lainnya adalah pedagang yang mengirim barang ke kediaman Luke.
Berbeda dengan para Shieal lain, Fiola hanya mendapat tugas untuk mengurus pemeriksaan barang masuk dan pengawasan. Penataan taman sudah didesain langsung oleh Mavis sendiri, beserta pesanan-pesanan bahan makanannya juga.
Tak lama setelah kotak-kotak berisi minuman keras datang, Linkaron, Xua Lin, dan Kinkarta datang dengan gerobak-gerobak kuda berisi kain serta bahan makanan untuk para tamu menginap nanti. Ketiga Shieal yang sebelumnya menemani Dart pergi ke ibukota tersebut telah kembali sekitar dua hari yang lalu, diperintahkan pulang terlebih dulu oleh Kepala Keluarga Luke untuk membantu persiapan pertunangan.
Di antara mereka bertiga, terlihat juga Gariadin yang ikut pergi membeli bahan makanan tambahan untuk acara utama.
Sembari membawa perkamen laporan belanja, Julia menghampiri mereka dan bertanya, “Apa semua pesanannya ada?”
Kinkarta turun dari gerobak, lalu menghadap ke Julia dan langsung menyerahkan nota belanjanya. Tanpa berkata apa-apa, pria rambut cokelat dengan status Knight tersebut segera berjalan melewati Julia dan menuju ke arah Mansion. Berbeda dengan Shieal lain, Kinkarta memang cenderung memiliki sifat sulit bergaul dan lebih angkuh.
Pria yang terlihat sering mengenakan baju halkah berlapis zirah kulit tipis tersebut merupakan anak bangsawan gagal dari wilayah Garados. Ia mendaftar menjadi Shieal saat masih muda dan berhasil diterima tanpa kendala. Sekarang usianya baru 23 tahun, memiliki badan yang lebih tinggi dan kekar jika dibandingkan dengan Gariadin ataupun Linkaron.
Tubuh dan sikap tersebut bukanlah sebatas untuk sombong belaka, Kinkarta juga bisa dikatakan genius dalam bidang seni tombak dan kapak. Sejauh ini dirinya telah menguasai hampir semua teknik tombak dan kapak aliran keluarga Luke. Karena keahliannya tersebut, Dart sendiri mengapresiasinya dengan memberi status Knight supaya bisa mengembangkan kemampuan secara langsung di lapangan.
Setelah turun dari gerobak Xua Lin menepuk punggung Julia yang menatap kesal ke arah kesatria tersebut. Dengan nada ringan, Demi-human tipe beruang itu berkata, “Jangan diambil hati, Julia. Anak itu memang dari dulu sifatnya begitu, ‘kan?”
“Tetap saja saya tak bisa suka sikapnya ….” Julia menghela napas ringan, segera berbalik dan menatap ke arah Xua Lin, Gariadin, dan Linkaron yang juga baru sampai. Sembari memasang senyum tipis ia bertanya, “Tidak ada masalah, ‘kan? Semua pesanannya ada?”
Gariadin meloncat turun dari gerobak bersama dengan Linkaron. Sembari berjalan melewati Nekomata, pria rambut merah tersebut menjawab, “Kau bisa memeriksanya di laporan, Kak Julia.”
“Itu benar, kami harus mengangkut barang-barang ke dalam,” sambung Linkaron dengan nada bercanda, ia pun berjalan melewati Julia.
Kedua pria tersebut menghampiri para Lizard Man dan meminta bantuan, lalu mereka pun segera membongkar barang-barang yang baru saja datang. Mendengar perkataan Linkaron dan Gariadin, Julia sekilas mengerutkan kening dan ekornya sempat berdiri tegak.
Menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri, Sheal berambut putih tersebut memeriksa laporan yang diterimanya dari Kinkarta. Dalam laporan tersebut hampir semuanya terpenuhi, kecuali satu bagian di akhir. Menatap ke arah Xua Lin yang juga hendak ikut membongkar barang-barang, Julia dengan ekspresi heran bertanya, “Kenapa malah ikannya yang kurang? Bukannya di kota pesisir ada banyak?”
“Ah, itu ….” Xua Lin kembali menghadap ke arah Julia, lalu setelah menghela napas ia menjawab, “Sejak kemarin sepertinya di kota sedang ada perang pasar hasil laut, jadi harganya naik sampai empat kali lipat. Anggaran yang diberikan tak cukup untuk membeli yang lain kalau tetap memaksa beli ikan-ikan di daftar.”
Melihat lembar perkamen lain dan merasa ada sedikit yang janggal, Julia kembali menanyakan, “Lalu kenapa malah kalian beli kerang dan udang?”
“Kerang dan udang harganya malah turun, mereka sepertinya hanya mengincar ikan. Kebanyakan pedagang dari kekaisaran datang mengincar ikan-ikan berkualitas dari kota Mylta, sih. Tak heran kalau ada perbedaan harga besar tersebut.”
Mendengar penjelasan itu, Julia merasa itu masuk akal dan bisa menerimanya. “Kota itu sekarang sedang masa progresif setelah rute dagang dibuka kembali, tak heran kalau ada banyak perubahan harga,” benak Julia sembari kembali memeriksa lembar-lembar laporan belanja.
Merasa ada hal lain yang perlu ditanyakan, Julia menatap Xua Lin dan kembali bertanya, “Omong-omong, apa kalian bertemu Tuan Odo?”
Mimik wajah Xua Lin terlihat bingung, sekilas mengangkat kedua sisi pundaknya dan menjawab, “Tidak …. Kami hanya bertemu Putra Sulung Keluarga Rein saat mau ke pelabuhan dan putri sang Baron di gerbang. Kata Nona itu sih …, Tuan Odo tidak ada di kota sejak kemarin. Kalau dipikir-pikir, bukannya kita seharusnya segera memanggil Tuan Odo supaya pulang? Beliau biasanya ‘kan ….”
“A⸻!” Julia menganga dan baru menyadari hal yang disampaikan rekannya tersebut. Mengingat kepribadian Odo yang suka kabur, Nekomata tersebut seketika memasang ekspresi cemas dan bingung harus melakukan apa.
“Sini, biar saya saja yang melakukan pencatatan,” tawar bantuan Xua Lin sembari mengambil papan berisi perkamen-perkamen laporan belanja. Dengan senyum ramah Demi-human tipe beruang tersebut menyarankan, “Julia coba tanya ke Nyonya, apa perlu Tuan Odo segera dipanggil pulang atau nanti.”
“Te-Terima kasih, Lin!”
Julia segera berlari ke Mansion untuk mengabari Mavis. Melihat Nekomata tersebut pergi, sekilas Xua Lin tersenyum tipis dan berbalik ke arah kedua rekannya yang sedang membongkar muatan. Namun saat dirinya melihat laporan belanja, seketika keningnya mengerut karena terlalu banyak hitungan dan itu merupakan salah satu bidang yang tidak dirinya kuasai.
“Eng, ada apa? Kenapa Kak Lin diam begitu?” tanya Gariadin dengan heran.
Mendengar apa yang dikatakan rekannya, Linkaron juga menoleh ke arah Demi-human tersebut. Kedua pria yang berdiri di atas gerobak dan mengoper kotak-kotak kayu kepada para Lizard Man tersebut seketika terdiam, memasang senyum tipis dan paham kalau Xua Lin memang tak pandai dalam aritmatika atau sejenisnya.
“Apa tak masalah kalau aku saja yang mengurus laporannya?” tawar Linkaron .
Dengan wajah sedikit memerah, Xua Lin dan berjalan ke arah pria rambut hitam tersebut. Sembari menyerahkan laporan belanja ia berkata, “Terima kasih ….”
“Tak masalah, lagi pula aku memang punya pengalaman mengurus daftar logistik saat masih menjadi Pemburu.”
۞۞۞