
Mavis tersentak, pola pikir tersebut benar-benar mirip seperti cara pikir orang-orang Moloia yang tujuan akhir mereka adalah kesetaraan sosial. Namun saat meninjau bangsa yang sebagian besar penduduknya tidak bisa menggunakan sihir itu, Mavis merasa hal tersebut bukanlah hal yang baik.
Ada dua negeri yang dalam persepsinya Mavis anggap buruk di daratan Michigan. Pertama adalah kekaisaran yang penduduknya terbagi antara pemuja sang Kaisar dan yang tidak, hal itu menyebabkan perang sipil jangka panjang yang sampai sekarang belum kunjung usai. Yang kedua adalah Moloia, sebuah negeri meritokrasi yang mengumbar sistem yang dari luar terlihat sangat ideal, namun pada kenyataannya pernah mengalami perang sipil besar-besaran karena sistem pemerintahannya sendiri,
Mavis menatap penuh rasa cemas, sedikit menajamkan tatapannya dan bertanya, “Apa kau yakin semua orang bisa berjalan berdampingan? Tanpa memedulikan batasan status sosial atau ekonomi? Tanpa batasan keturunan? Tanpa batasan ras dan asal-muasalnya? Bukannya kau sendiri yang pernah bilang kalau keadilan bukanlah kesetaraan? Lalu ... mengapa engkau ingin mencapai itu, putraku?”
“Bunda tahu, sebenarnya bukan itu yang aku tuju ....” Odo melepaskan tangan Mavis, menatap dengan sorot mata sedih dan berkata, “Aku hanya tak ingin ada peperangan. Salah satu hal yang paling aku benci adalah perang. Kalau ingin bertarung, bertarunglah sendiri dan jangan libatkan orang lain yang tidak ingin ....”
“Bunda juga tak ingin ada peperangan ....”
Mavis kembali memasang ekspresi muram. Ia memang tidak ikut serta langsung dalam klimaks Perang Besar seperti para seri Homunculus Intara Hexe lainnya, namun karena peranglah takdir kakak-kakaknya berakhir naas dan meninggal tanpa bisa merasakan kehidupan layaknya makhluk hidup pada umumnya. Wanita rambut pirang itu paham perang memberikanya dan para kakak-kakaknya sebuah kehidupan, namun memang dalam lubuk hatinya ia tidak bisa menyukai peperangan karena hal tersebut juga menjadikan para Intara Hexe sebagai senjata di medan pertempuran.
Menundukkan wajahnya, tubuh Mavis gemetar dan dengan suara pelan ia berkata, “Tapi mau bagaimana lagi? Kalau memang negeri sudah bergerak ke arah itu, kita tidak bisa mengubah haluannya ....”
“Kalau aku bilang itu bisa diubah?” Odo memegang kedua pundak Mavis, membuat wanita rambut pirang tersebut mengangkat wajahnya. Kedua mata biru wanita itu bertemu dengan sorot mata penuh semangat putranya, sekilas merasakan hangatnya semangat anaknya itu.
“Memangnya ..., bagaimana caranya?” Mavis dalam benak mulai berharap, menatap dengan rasa ingin tahu dan kembali bertanya, “Kau bilang tak ingin menggunakan Tuan Putri Arteria, lalu memangnya apa yang ingin kau lakukan untuk menghentikan perang? Meskipun kehendak Felixia bisa dihentikan, bukan berarti negeri lain akan mundur dengan mudah .... Mereka juga punya kehendak sendiri, di dalam peraturan mereka dan kita tidak bisa ambil bicara soal itu.”
“Aku ....” Mulut Odo terhenti dan perkataannya tertahan. Menarik napas dan menyusun kalimat dalam kepala, pemuda rambut hitam itu dengan tegas berkata, “Aku belum bisa bilang bagaimana cara pastinya, tapi yang jelas aku punya cara untuk menghentikan perang yang akan terjadi ini! Sebelum perang ini pecah, aku masih punya kesempatan! Waktuku sangat terbatas, karena itu aku tidak boleh kehilangan komponen atau menyia-siakan waktu!”
“Komponen ...?” Mavis tertegun mendegar kata seperti itu keluar dari mulut Odo, seakan putranya tersebut menganggap orang-orang tidak lebih dari sebuah gerigi dalam mesin.
“Iya!” Odo menjawab tegas. Ia semakin memegang erat kedua pundak Mavis, lalu dengan ekspresi ambisius berkata, “Komponen untuk simulasi besar di dalam kepalaku! Karena itulah aku harus membangun toko, lalu ingin memajukan dan menyelesaikan semua masalah yang ada di kota Mylta! Aku melakukan itu untuk simulasi besar dalam menggerakkan gerigi negeri ini! Aku perlu pengalaman! Persepsi! Cara pandang para ahli! Teknik! Sumber daya! Dan segala komponen yang diperlukan untuk membentuk sebuah simulasi kesatuan!”
“A-Apa yang kau bicarakan, Odo?” Mavis gemetar bingung, tak mengerti apa yang putranya katakan dan tanpa sadar melangkah mundur sampai kedua tangan pemuda itu tidak bisa meraih pundaknya.
Sekilas Odo tertegun melihat ekspresi ibunya. Ia segera menarik napas dalam-dalam dan mengeliminasi perasasan bimbang dalam benak, lalu meletakkan tangan kanan ke depan dadanya sendiri dan berkata, “Aku ingin mengumpulkan orang-orang dari semua negeri dalam satu wadah, lalu mengatur, memantau, mengarahkan dan memberikan tujuan pada mereka untuk melihat apakah perbedaan yang ada akan melahirkan keselarasan atau kekacauan.”
Mavis terdiam mendengar itu, memikirkannya dengan serius dan sedikit mulai paham apa yang hendak putranya tersebut lakukan. Menyipitkan mata dan mengambil satu langkah mendekat, wanita rambut pirang itu bertanya, “Apa engkau ingin membuat tempat seperti Miquator?”
“Bukan .... Bukan itu!” Odo sedikit emosi karena ibunya tersebut tidak bisa menangkap maksud dengan benar. Menarik napas dan memaklumi kalau memang tak semua orang mengerti hal seperti itu, pemuda itu menjelaskan, “Bunda tahu, aku hanya ingin peperangan hilang dari daratan ini. Tidak harus ada penguasa mutlak seperti Miquator, aku hanya ingin sebuah keselarasan.”
“Keselarasan?”
“Ya ....” Odo memasang senyum simpul yang terkesan sedih, lalu kembali meletakkan tangan kanannya ke depan dada dan berkata, “Pemerintah akan berperan sebagai penegak hukum, namun mereka tidaklah mutlak karena suara penduduk akan berlaku dan bisa mengubah hukum itu sendiri. Pajak dibayar kepada pemerintah, namun itu tak semuanya digunakan untuk kepentingan pemerintah atau kalangan atas. Sebagian akan diwajibkan untuk pengembangan fasilitas serta kesejahteraan penduduk. Itulah yang ingin aku lakukan, mengembalikan esensi peraturan ke wujud aslinya untuk melindungi orang-orang yang lemah.”
Mavis hanya tertegun mendengar perkataan tersebut, kembali melangkah mundur dan sejenak terdiam dengan ekspresi tidak percaya. Apa yang Odo pikirkan memang terdengar sangatlah benar dan bermanfaat bagi khalayak banyak, terutama kalangan bawah. Namun pada saat yang sama, semua itu pasti tidak akan berjalan dengan baik karena sebagian besar kalangan atas pasti akan menolak perubahan tersebut.
Mavis juga paham, kalangan keluarga Rein dari dulu menginginkan kestabilan semacam itu untuk memajukan kerajaan Felixia. Namun, sampai detik ini hal tersebut masih belum bisa dicapai. Protes para bangsawan kelas menenang atas dari wilayah Garados, pandangan untuk bisa berdiri sendiri dari kekuasaan Jakall di kepulauan Kritasil Bascal, hal-hal seperti itu membuat sebuah kemajuan sulit terjadi karena para kalangan atas takut akan perubahan yang ada bisa mengganggu kekuasaan mereka setelah perang berakhir.
“Putraku ....” Mavis melangkah mendekat, memeluk Odo dan dengan penuh rasa cemas berkata, “Bunda bangga engkau memiliki pemikiran seperti itu, Bunda juga ingin mendukungnya. Namun ..., tidak semua orang ingin mencapai apa yang engkau harapkan itu. Para bangsawan cenderung menginginkan kestabilan kekuasaan mereka, layaknya engkau menginginkan kestabilan untuk kalangan bawah.”
“Aku tidak berharap Bunda membantuku ....”
Perkataan Odo membuat wanita rambut pirang itu tersentak, melepaskan pelukan dan menatap dengan wajah pucat pasi. Mendapat tatapan tajam dari putranya sendiri, Mavis paham kalau pemuda itu benar-benar membulatkan tekatnya dan sama sekali tidak ada niat untuk berhenti.
“Begitu, ya ....”
“Aku mengatakan ini bukan untuk meminta izin dari bunda atau semacamnya, aku mengatakannya hanya untuk memberitahu.” Odo sedikit memiringkan kepala, menatap dengan sorot mata sayu dan dengan nada sedikit sedih berkata, “Bunda dan Ayah sendiri adalah bangsawan, pola pikir kalian berbeda denganku .... Meski aku lahir dari kalangan bangsawan, aku tidak suka perbedaan yang menganggap individu lebih superior dari yang lainnya. Aku paham ini pemikiran naif, namun tetap saja apa yang aku tidak suka ya memang tidak bisa aku sukai. Aku —”
Perkataan Odo terhenti, ia segera memalingkan pandangan dan meletakkan telapak tangan kanan ke telinga. Sekilas keningnya mengerut, lalu dengan nada sedikit kesal mulai bergumam, “Ya, baiklah ... Hmm, bilang ke yang lain sebelum istirahat malam ini. .... Oh, iya. Beritahu Matius untuk menjemputku dengan kekuatannya, koordinatnya pakai kunci lokasi keberadaanku yang ada padamu. Hmm, sekarang. Jangan lama-lama .... Nanti aku akan menjelaskannya di sana, sekalian ada tambahan pengarahan.”
Saat kembali menatap ke arah Mavis, Odo menghela napas ringan dan merasa memang harus menjelaskan sesuatu pada ibunya tersebut karena ia memasang ekspresi heran. Meletakkan jari telunjuk kanan ke depan mulut, pemuda itu menjelaskan, “Tadi itu telepati dari Elulu, salah satu perempuan yang membantuku masak di toko. Bunda pernah melihatnya, ‘kan?”
“Tele ... pati? Sampai jarak sejauh ini?!” Wanita rambut pirang itu sedikit bingung. Saat sebelumnya bertemu dengan Elulu, Mavis sama sekali tidak mendeteksi sirkuit sihir perempuan pelayan itu pernah dilatih.
“Emm, tapi bukan berarti dia seorang penyihir.” Odo menurunkan jarinya dari depan mulut, menghela napas kecil dan kembali menjelaskan, “Elulu Indul Kalama, perempuan itu seorang Native Overhoul. Kekuatannya adalah Radd Sendangi, kemampuan mengirim suara tanpa batasan jarak dan waktu.”
“Native ... Overhoul? Odo, kau tahu kalau mereka itu—!”
“Ta-Tapi .... Bukannya Native Overhoul itu sama sekali tidak mengenal konsep kesetiaan dalam diri mereka?”
“Hmm ....” Odo memegang kedua sisi pundak Mavis, mengajaknya mengambil delapan langkah menjauh dari tempat mereka berdiri sebelumnya. Berhenti dan menatap ibunya dengan senyuman tipis, pemuda itu berkata, “Aku tak perlu kesetiaan yang berlebihan. Asal kondisiku masih menguntungkannya, perempuan itu pasti akan terus bekerja untukku.”
“Te-Tetap saja! Kalau dia tiba-tiba berkhianat dan melukaimu—!”
Perkataan Mavis terhenti karena hawa keberadaan yang tiba-tiba muncul di tempat Odo berdiri sebelumnya. Suara air menetes ke atas sebuah genangan terdengar samar, membuat suasana senyap untuk sesaat. Penyihir Cahaya dan Fiola secara serentak menoleh ke arah seorang pria yang tiba-tiba muncul itu, lalu menatap tajam dan segera mengaktifkan inti sihir mereka dengan penuh kewaspadaan.
“Tenanglah, Bunda ..., Mbak Fiola ....”
Pria yang tiba-tiba muncul itu berdiri di atas genangan air yang seakan memancarkan cahaya biru. Ia adalah Matius Mitus, seorang pria dengan mata Heterochromia keemasan dan biru, memiliki rambut pirang dan parasnya sekitar 30 tahunan. Ia segera menoleh ke arah Odo, menatap dengan bingung karena tempatnya setelah teleportasi sangat jauh dari kota.
Saat Mavis melihat wajah pria itu, ia langsung mengingat salah satu orang dari toko milik putranya. Ia benar-benar terkejut karena pria itu juga seharusnya tidak memiliki sirkuit sihir yang aktif, secara langsung Mavis segera menyimpulkan, “Apa dia juga Native?”
“Hmm, kemampuannya adalah Puddle, teleportasi objek dengan cairan seperti genangan di bawah kakinya itu.”
Mendengar penjelasan tersebut, Mavis menatap datar putranya dan kembali bertanya, “Apa ada lagi Native yang bekerja untukmu? Dan juga, kenapa kau bisa mendapat para Native dengan mudah? Bunda rasa kasus seperti mereka itu sangat langka ....”
“Selain dia, Elulu, dan Arca, aku tidak punya kenalan Native lain.”
“Arca ...?” Sekilas Mavis menyipitkan mata dan kembali mengingat kalau putra dari Lady Calista tersebut juga seorang Native. Sedikit menghela napas kecil, Penyihir Cahaya bergumam, “Putranya juga ada di sana, ya? Kalau begitu ....”
Mavis melirik ke arah Odo, memikirkan beberapa hal dan sedikit tersenyum kecil. Menarik napas dalam-dalam dan sedikit membusungkan dada, wanita rambut pirang itu berkata, “Baiklah, bunda tidak akan protes lebih dari ini. Terserah kau ingin mempekerjakan mereka atau apa ....”
Meski tanpa kemampuan membaca pikiran, dengan jelas Odo paham apa yang sedang ibunya pikirkan saat ia bereaksi pada nama Arca. “Ah, pasti Bunda bakal minta Arca untuk mengawasiku atau semacamnya,” benak Odo seraya memalingkan pandangan.
Menatap ke arah Matius yang masih terlihat bingung dengan apa yang ada di sekitarnya, Odo menunjuk pria rambut pirang itu dan berkata, “Apa kekuatanmu masih terhubung dengan tempat toko?”
“Ya, Tuan .... Saya menetapkan titik satunya di lantai dua, tidak ada orang selain Elulu di sana. Semuanya sudah kembali ke kamar dan baru akan istirahat.”
“Hmm ....” Mendengar jawaban tersebut, Odo segera melirik ke arah Di’in dan Ra’an. Sekilas kornea mata pemuda itu berubah hijau, melakukan beberapa perhitungan dan mempertimbangkan banyak hal. Menunjuk ke arah dua perempuan yang tak sadarkan diri tersebut, pemuda itu berkata, “Kalau begitu kita sekalian pindahkan dua perempuan yang terbaring di sana,”
Odo berjalan ke arah mereka berdua, sekilas melirik ke arah Fiola dan memberikan ekspresi kesal karena beberapa hal. Kembali menatap ke arah dua perempuan Moloia tersebut, pemuda itu berjongkok dan membopong tubuh Di’in seraya berkata berkata, “Mbak Fiola, bisa tolong angkat yang satunya?”
“Eh—?” Fioal tersentak karena masih cemas dengan lirikan tajam Odo tadi. Dengan nada sedikit kaku, ia menjawab, “Ba-Baik, Tuan Odo ....” Huli Jing itu segera berjalan ke arah Ra’an, lalu membopongnya dengan enteng dan berjalan mengikuti Odo ke arah pria rambut pirang yang berdiri di atas genangan air.
Sebuah tempat untuk teleportasi itu luasnya kurang dari empat meter, berbentuk seperti cairan dan saat diinjak sama sekali tidak menggenang kaki. Sekilas dilihat apa yang ada di bawah Matius memang terlihat cair, namun pada kenyataannya itu cukup padat dan hanya bergelombang-gelombang secara visual karena sifat perubahan molekul yang ada.
Sembari membopong Di’in, Odo menginjak Puddle milik Matius dan masuk dalam jangkauan kekuatannya. Partikel cahaya transparan mulai mengapung dari zat seperti genangan air bercahaya tersebut, lalu menyelimuti tubuh pemuda rambut hitam itu bersama perempuan yang dirinya angkat. Saat Fiola masuk ke dalam jangkauan kekuatan tersebut, ia bersama perempuan yang dibawanya juga mengalami proses pelapisan partikel yang sama.
“Ayo, Bunda ....” Odo menatap ke arah Mavis, tersenyum kecil dan mengajak, “Kita kembali dulu ke toko, aku sudah mengantuk.”
“Eh, jangan bilang pakai kekuatan itu?” Mavis menunjuk dengan cemas, terlihat enggan untuk melangkah masuk ke dalam jangkauan kekuatan itu.
“Tentu saja, ini lebih praktis.”
Meski dengan rasa enggan, wanita rambut pirang itu pada akhirnya melangkah masuk ke dalam jangkauan kekuatan tersebut. Saat partikel menyelimuti tubuhnya, Mavis sedikit merinding dan segera memeluk Odo dari samping.
“Matius,” ucap Odo.
“Baiklah, Tuan ....”
Proses penyelarasan menggunakan partikel terjadi, objek-objek yang ada di atas genangan air dan diselimuti partikel dirangkap menjadi sebuta satu objek. Cara kerja sama seperti sihir penguatan, menjaga posisi molekul pada tempatnya supaya posisi atom tidak berubah. Saat semua orang di atas genangan zat menjadi objek tunggal dalam selimut partikel, teleportasi atom terjadi.
Layaknya tenggelam dalam air danau yang dalam, mereka semua langsung masuk ke dalam zat bercahaya tersebut dan menghilang dari tempat. Kurang dari dua detik, genangan zat tersebut juga menghilang dengan cepat tanpa meninggalkan jejak.