Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 62 : Aswad 9 of 15 “Yang menyedihkan dari masa lalu” (Part 02)



 


 


 


Arca tambah kencang melingkarkan tangan kanannya, tidak melepaskan Odo dan kembali berkata, “Tentu akan aku ingat! Benar begitu, Tuan Aprilo?”


 


 


Kedua pemuda itu menatap ke arah pria paruh baya rambut pirang pendek di dekat mereka. Sekilas melihat senyum puas yang nampak pada mimik wajah eksekutif tersebut, Odo memastikan kalau rencananya memang berjalan dengan lancar. Rekan-rekan Aprilo juga memperlihatkan ekspresi yang hampir serupa, begitu pula pelayan pribadi eksekutif tersebut.


 


 


“Hmm!” Aprilo mengangguk. Sembari melempar senyum ke arah Odo, pria rambut pirang tersebut berkata, “Mungkin ini akan menjadi momentum besar bagi kami Serikat Lorian Cabang Mylta. Semuanya berkat anda, Tuan Odo!”


 


 


Odo tidak terlalu memedulikan ucapan yang terdengar hanya untuk formalitas tersebut, ia tetap berusaha melepaskan diri dari Arca dan pada akhirnya berhasil. “Aku sedang buru-buru, kalian pergi ke toko dulu,” ucap pemuda itu seraya lekas melangkah pergi membawa Lisia.


 


 


Namun sebelum Odo bisa menjauh dari mereka semua, rombongan kecil orang-orang kekaisaran menghampiri mereka dan memanggil, “Permisi, boleh saya minta waktu kalian sebentar?”


 


 


Suara tersebut membuat langkah kaki Odo Luke terhenti, menarik napas dalam-dalam dan mulai berdiri tegak. Rute kabur benar-benar hilang untuknya. Meski tak pernah berbincang dengan pemilik suara sopan tersebut, Odo dengan jelas paham kabur dari pria itu adalah hal mustahil dalam kondisinya sekarang.


 


 


Yang pertama menoleh adalah Arca, lalu diikuti Aprilo dan dua orang dari serikat dagang. Saat mereka melihat Hanfu berlapis-lapis dan wibawa yang terpancar darinya, sekilas mereka mengira kalau pria dari kekaisaran tersebut adalah seorang pedagang kelas atas. Namun ketika melihat dua orang budak yang dibawanya, mereka dengan cepat paham kalau pria tersebut adalah militan atau seorang bangsawan dari kekaisaran Urzia.


 


 


Arca berusaha tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan peraturan yang ada tentang perbudakan. Menatap ramah pria yang dikawal oleh tiga orang ahli bela diri tersebut, sang Putra Sulung Keluarga Rein itu berkata, “Boleh saja. Namun sebelum itu, bisa Anda memperkenalkan diri terlebih dulu?”


 


 


“Ah, maafkan ketidaksopanan saya.” Pria itu sedikit membungkuk dengan meletakkan telapak tangan kanan ke depan dada, lalu dengan nada sangat sopan memperkenalkan diri, “Saya adalah seorang Perwira Tinggi dari Magetsu, Fai Fengying.”


 


 


Nama tersebut sempat membuat Arca dan Aprilo terkejut, begitu pula rekan-rekan mereka dari serikat dagang. Lisia pun sempat tersentak, segera melepaskan tangan pemuda yang menggandengnya dan berbalik menatap pria yang memperkenalkan diri tersebut. Arca segera menajamkan sorot matanya, lalu dengan curiga putra keluarga Rein itu bertanya, “Ada perlu apa sang Pendekar Hitam Dari Utara datang ke kota ini?”


 


 


Fai Fengying — Untuk semua orang yang dekat dengan ranah militer, pasti nama tersebut pernah singgah ke telinga mereka. Setelah konsep militer 12 Komandan Zodiak mulai runtuh setelah Perang Besar, sebuah konsep baru bernama Jenderal Empat Arah dibuat sebagai ujung tombak kekaisaran yang baru menggantikan pendahulunya. Tidak seperti 12 Komandan Zodiak dimana hierarki mereka masih di bawah sang kaisar, seseorang yang bertempatkan dalam posisi Jenderal Empat Arah statusnya setara dengan sang Kaisar dalam bidang militer. Dengan kata lain, mereka bisa dikatakan memegang wewenang kekuasaan sangat tinggi yang bisa dengan mudah menggerakkan ribuan pasukan sekaligus.


 


 


Fai Fengying sendiri adalah salah satu Jenderal muda yang diangkat pada awal masa perang sipil, masih berusia 32 tahunan dan berparas tampan dengan karismanya. Ia mendapat julukan Kesatria Hitam Dari Utara setelah melewati puluhan perang sipil, sebagai seorang pengguna pedang tunggal dan ahli bela diri. Pria itu juga memiliki nama lain dalam gelarnya yaitu, Xuan Wu. Sebuah sosok yang disimbolkan dengan seekor penyu dan ular yang juga dikenal dengan sebutan Genbu.


 


 


Fai Fengying memasang senyum ramah, mengangkat tubuhnya dengan tegak dan menjelaskan, “Saya datang ke kota ini tanpa maksud buruk, hanya dalam misi kecil dari Yang Mulia Kaisar. Tolong jangan menatap saya seperti itu. Meski seorang Jenderal, saya juga seorang manusia dengan hati.”


 


 


“Ah, maafkan saya.” Arca dengan segera berhenti mengintimidasi, begitu pula Aprilo dan yang lainnya. Mengikuti keramahan pria yang tangan kanannya membawa rantai para dua budak tersebut, Putra Sulung Keluarga Rein itu bertanya, “Anda tadi bicara soal misi. Memangnya misi apa yang sedang Tuan Fai Fengying lakukan di sini? Sepenting itukah sampai-sampai seorang Jenderal seperti Anda meninggalkan garis depan peperangan dan pergi ke pojokkan wilayah Luke ini?”


 


 


“Meski disebut misi, saya datang ke kota ini sebenarnya hanya untuk liburan saja. Di awal cuti saya sebenarnya ingin pergi ke Ibukota ....” Sekilas Fai Fengying melirik ke arah Odo yang terdiam di tempat, sedikit penasaran dan ingin memastikan. Kembali menatap lurus ke arah Arca, pria congkak kekar berbalut Hanfu berlapis-lapis itu lanjut berkata, “Tuan Arca sendiri tahu kalau di sana baru saja ada upacara pemakaman sang Ratu, bukan? Akan bermasalah kalau seorang Jenderal dari negeri tetangga datang tanpa diundang.


 


 


Arca sekilas memasang ekspresi datar, mulai sadar kalau sebagian besar perkataan Fai Fengying adalah kebohongan. “Dia tahu menyebut namaku meski aku belum memperkenalkan diri,” benak Arca seraya kembali memasang wajah ramah untuk mengikuti alur pembicaraan.


 


 


“Saya paham kondisi Tuan Fai Fengying, Anda pasti ingin mengganti suasana dengan berlibur dan melemaskan pundak, bukan?” Arca kembali menatap curiga dan memagang dagunya sendiri, lalu sembari tersenyum tipis bertanya, “Tetapi, mengapa harus di kota ini? Bukannya di Felixia masih banyak tempat yang lebih menarik seperti kepulauan Kritasil Bascal? Atau di Wilayah Luke ini  ..., ada juga kota Izta Maria. Kenapa harus Mylta? Apa karena perkembangan ekonomi pesat yang sedang terjadi di sini? Atau ada alasan lain?”


 


 


“Itu ....”


 


 


Fai Fengying mulai kehabisan kata-kata untuk mengelak, namun tetap saja sesekali sorot matanya terarah ke arah Odo berdiri pada tempatnya dan sama sekali tidak ada niat menoleh sedikit pun. Di tengah rasa bingung harus menjawab apa, mimik wajah tergesa-gesa lebih jelas nampak padanya dan membuat Arca sedikit penasaran dengan apa yang membuat perwira sepertinya sampai seperti itu.


 


 


Dengan heran putra keluarga Rein itu bertanya, “Anda tidak fokus seperti itu. Memangnya ada yang salah dengan Tuan Odo?”


 


 


“Odo?” Kedua mata Fai Fengying terbuka lebar, ia menjatuhkan kedua ujung rantai yang dibawanya dan segera memegang kedua sisi pundak Arca. Mendekatkan wajah dengan penuh rasa ingin tahu, sang perwira itu kembali memastikan, “Apa benar pemuda di sana itu Odo Luke?!”


 


 


Suara yang sedikit lantang dan antusias ingin tahu tersebut sangat berlebih, sempat membuat Arca menatap sedikit jijik. Sadar akan tatapan tersebut, Fai Fengying mengangkat kedua tangannya dan melangkah mundur. Memalingkan pandangan dengan sedikit menyesal, perwira itu berkata, “Maaf, saya terbawa suasana .... Saya datang hanya karena ingin bertemu dengan Odo Luke, putra dari sang Ahli Pedang.”


 


 


“Hmm, ketemu Tuan Odo?” Aprilo masuk dalam pembicaraan, sedikit melihat peluang bisnis dari hal tersebut. “Memangnya Anda ada perlu apa dengan putra Lord Luke?” tanya eksekutif tersebut dengan senyuman ramah.


 


 


“Saya hanya ingin bicara dengannya.” Fai Fengying terlihat sedikit enggan berurusan dengan seorang pedagang, ia kembali menatap ke arah Odo dan kembali memastikan, “Apa benar pemuda di sana itu Odo Luke? Bukannya ia masih anak-anak dengan usia kurang dari sepuluh tahun?”


 


 


“Yah, ada banyak hal yang terjadi.” Arca sedikit menghela napas, menggelengkan kepala dan menjawab, “Dia memang Odo Luke yang Tuan Fai Fengying cari.”


 


 


“Wah, leganya. Akhirnya saya bisa bertemu dengannya—”


 


 


Sebelum Fai Fengying menyelesaikan kalimatnya, salah satu budak yang dibawa pria itu tiba-tiba menarik Hanfu-nya dari belakang. Perwira itu sentak segera menoleh ke arahnya dengan ekspresi sedikit panik. Gadis budak itu memiliki postur dan paras wajah seperti anak-anak berusia 14 tahun, namun rambut panjangnya yang sampai terseret ke jalan jelas-jelas menandakan kalau usianya lebih dari itu.


 


 


Menatap tajam ke arah sang pemiliknya, budak dengan pakaian tipis tersebut dengan kasar memerintah, “Menyingkirlah ..., Fai.”


 


 


Paras, gestur tubuh, sorot mata, tingkah laku, dan aura, semua yang ada pada gadis berambut hitam sangat panjang itu benar-benar tidak mencerminkan seorang budak. Tanpa membantah perintah tersebut, Fai Fengying memberi jalan dan sedikit membungkuk saat gadis dengan kalung rantai budak tersebut lewat. Para ahli bela diri yang mengawal juga bereaksi serupa, begitu pula gadis budak satunya yang terlihat sedikit lebih dewasa.


 


 


Melihat apa yang mereka lakukan, Arca dan semua orang di tempat itu sempat bingung dengan hubungan yang ada di antara mereka dan mulai bertanya-tanya siapa sebenarnya gadis budak berambut sangat panjang tersebut.


 


 


Saat berdiri di hadapan Arca dan yang lainnya, gadis berbalut kain tipis itu menatap tajam dan bertanya, “Benarkah pemuda yang berdiri di sana itu bernama Odo Luke?”


 


 


 


 


“Apa dia Odo Luke?”


 


 


Pertanyaan yang dilontarkan untuk kedua kalinya itu seakan meresap ke dalam raga Arca. Itu terdengar bagaikan bisikan yang dituturkan dengan halus ke telinganya, secara langsung merambat ke dalam tubuhnya dan membuatnya gemetar. Tanpa bisa membantah tekanan tersebut, putra keluarga Rein itu menjawab, “I-Iya, dia Odo Luke ....”


 


 


“Terimalah ucapan terima kasihku ini, pemuda .... Menyingkirkan.”


 


 


Dengan gemetar Arca mematuhi perintah tersebut dan membiarkan gadis itu lewat. Lisia samar-samar menyadari aura mengerikan dari mata gadis tersebut, ia hendak menghalanginya dan berkata, “Tunggu sebentar, apa yang ingin kau—!” Suaranya terhenti, hal serupa yang dialami Arca juga menerpanya saat ditatap gadis tersebut.


 


 


Suara bising di sekitarnya terdengar semakin pelan sampai tak terdengar, lalu hanya menyisakan suara-suara gemerencing rantai gadis rambut hitam tersebut. Seakan memang kesadarannya dipaksa memusat hanya untuknya, fokus pada individu tunggal dalam bentuk gadis tersebut. Tubuh Lisia membatu, sama sekali tidak bisa bergerak dari tempat atau sekadar mengangkat kakinya.


 


 


Tak memedulikan perempuan rambut merah tersebut, sang gadis kembali menatap ke arah Odo dan memegang lengan kannanya dari belakang. “Bisa engkau berbalik sebentar dan membiarkanku menatap wajahmu itu, Unsur Hitam?” pinta sang gadis.


 


 


Odo perlahan menoleh. Lalu saat kedua pasang mata tersebut bertemu, dalam kepala mereka seakan ada dua buah garis pita merah yang dengan cepat terikat satu sama lain dengan cepat. Mereka dalam benak seakan telah mengenal satu sama lain dan terasa sebuah rasa nostalgia dalam benak, paham apa yang sedang dituju, dan merasa mengeri sifat serta kepribadian masing-masing.


 


 


Dalam senyum sedih, sang gadis mengambil langkah semakin mendekat. Ia berjinjit sembari menaikkan tangan kanannya sampai ujung jarinya menyentuh pipi Odo. Saat mata mereka masih saling menatap satu sama lain, dengan suara lembut ia berkata, “Diriku ingin memastikannya, tolong matilah satu kali.”


 


 


Suara kertas dirobek tiba-tiba terdengar keras di dalam kepala Odo. Sorot matanya seketika menjadi kosong, detak jantungnya terhenti, dan semua organ tubuhnya kehilangan fungsi kinerjanya dan berhenti beroperasi. Dalam jeda hanya dalam dua detik setelah kalimat tersebut terucap, Odo Luke ambruk ke jalan dan terbaring menjadi mayat. Lisia, Arca, dan yang lainnya cemas melihat hal tersebut. Namun dari semua orang yang cemas, wajah Fai Fengying yang terlihat paling pucat karena tahu pemuda itu benar-benar telah mati hanya karena satu disentuh sang gadis.


 


 


“O-Odo?” Lisia dengan panik segera berlutut di dekat pemuda yang terbaring di jalan tersebut, memastikan denyut nadi pada leher dan napasnya. Namun ia sama sekali tidak merasakan tanda-tanda kehidupan dari Odo, pemuda rambut hitam itu benar-benar telah mati seperti apa yang dikatakan sang gadis. Seketika wajah Lisia memucat dan langsung menatap tajam ke arah sang gadis budak. “Apa yang kau lakukan padanya?!” bentaknya dengan tatapan murka.


 


 


“Menghancurkan susunan kehidupan ....” Sang gadis membuka telapak tangannya ke arah Lisia, lalu dengan senyum tipis berkata, “Kurasa manusia takkan paham hal semacam itu. Sederhananya, diriku membunuhnya.”


 


 


Perkataan tersebut membuat atmosfer di sekitarnya menjadi tegang. Arca segera mengaktifkan The Ritman Library dan pada tangan kanannya memunculkan Buku Hukum, Ferman. Namun sebelum dirinya mengaktifkan buku tersebut untuk membalikkan karma ke arah sang gadis budak itu, Fai Fengying mencengkeram tangannya dari samping dan menghalau aliran Mana menuju Grimoire untuk membatalkan Aktivasi secara paksa.


 


 


“Tch!” Arca segera mengepakkan tangan kirinya, lalu langsung melayangkan pukulan ke arah perwira tersebut meski tahu itu bisa dihindari dengan mudah. “Sudah kuduga kalian—!”


 


 


“Kau tak perlu panik, Arca.”


 


 


Ucapan tersebut menghentikan tangan Arca sebelum mengenai wajah sang perwira. Pada momen tersebut, hampir semua orang yang mendengar suara itu terkejut. Lisia yang memastikan kematian Odo benar-benar tak percaya ia masih hidup, Fai Fengying dan orang-orangnya juga menunjukkan ekspresi serupa. Hanya Aprlilo dan orang-orang dari serikat dagang yang terlihat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


 


 


Dari semua orang yang menatap ke arah pemuda rambut hitam tersebut, hanya sang gadis dengan kalung rantai budak yang memperlihatkan ekspresi sangat berbeda. Menatap ke arah pemuda yang terbaring miring di jalan tersebut, gadis rambut hitam sangat panjang itu terlihat begitu terpesona dan berkata, “Engkau memang yang sesungguhnya, inkarnasi asli dari dirinya.”


 


 


Odo hanya bisa membuka sebelah matanya, menatap ke arah gadis itu dengan tatapan kosong. Menggigit sarung tangan kanan dan melepaskannya, pemuda rambut hitam itu mengulurkan tangannya ke arah sang gadis dan berkata, “Bantu aku berdiri. Sebagian tubuhku masih lumpuh karena kau membunuhku tadi.”


 


 


“Tentu saja ..., wahai Unsur Hitam.”


 


 


Gadis itu tanpa ragu meraih tangan Odo. Namun tak sampai satu detik saat kulit mereka bersentuhan, Aitisal Almaelumat aktif dalam sinkronisasi sangat tinggi sampai-sampai kesadaran mereka berdua terhubung secara satu arah. Pemuda rambut hitam itu menyusup ke dalam kesadaran dan konstruksi Personal Realitas sang gadis, lalu membaca sebagian informasi yang dirinya miliki dan menyalin semua informasi lainnya dalam bentuk sebuah paket informasi.


 


 


Sadar ingatannya sedang intip, sang gadis segera melepaskan tangan Odo dan melangkah mundur. “Engkau ..., beraninya mengintip isi jiwaku seperti itu. Sungguh tak sopan sekali dirimu,” ucapnya dengan kesal.


 


 


Odo hanya memasang senyum tipis tanpa bisa bangun, lalu sembari membuka kedua matanya ia menyindir, “Aku tak ingin mendengar itu darimu. Kau sendiri membunuhku tanpa pikir panjang, ‘kan?” Pemuda rambut hitam itu kembali mengulurkan tangannya, lalu dengan senyum lesu berkata, “Maaf, bisa tolong bantu aku berdiri? Sebagian tubuhku masih lumpuh. Memulihkan sel yang terputus dari jaringan otak tak semudah yang kau kira, tahu. Lain kali saat membunuhku, bisa kau tidak mematikan koneksi sel-selnya?”


 


 


Gadis itu ragu untuk meraih tangan Odo untuk kedua kalinya. Namun paham tak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari makhluk yang sangat mendekati konsep Maha Tahu tersebut, ia menarik napas resah dan kembali meraih tangan pemuda rambut hitam itu. Gadis itu dengan segera melingkarkan tangan Odo ke tubuhnya, untuk memapahnya berdiri.


 


 


“Caramu beraksi, apa itu dari pengalaman dalam hidup panjangmu?” tanya Odo.


 


 


Dengan nada datar dan sedikit melirik pemuda yang dipapahnya, gadis tersebut menjawab, “Entahlah, mungkin saja begitu. Diriku sendiri tak ingat lagi. Waktu terlalu banyak menghapus hanya hal.”


 


 


Melihat pemuda rambut hitam itu tak bisa berdiri sendiri dan kembali mengingat apa yang sebelumnya terjadi, dengan cemas bertanya, “Tuan Odo, kau sungguh baik-baik saja, ‘kan? Tadi detak jantung Anda ....”


 


 


Odo menoleh ringan, lalu sembari memasang wajah lesu ia melontarkan sebuah kebohongan, “Tak masalah, aku tadi hanya terkejut karena kecantikan gadis ini. Yah, sangat disayangkan gadis secantik ini hanya seorang budak.”


 


 


Tentu saja Lisia dan Arca tidak percaya kebohongan yang sangat jelas itu, namun hal tersebut ditangkap lain oleh Aprilo dan rekan-rekannya. Eksekutif Serikat Dagang memasang senyum menggoda, lalu tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi ia menyindir, “Ho-hoh, apa Tuan Odo juga sudah lebih cepat dewasa pada hal seperti itu juga? Ternyata Anda juga tertarik pada hal-hal seperti itu’kah?”


 


 


Odo menatap ringan ke arah Aprilo, lalu dengan nada ketus berkata, “Jangan mimpi, paman. Aku tetap tak suka pelacuran .... Kasihan istri dan anak paman, loh!”


 


 


“Saya paham, kok. Cuma bergurau, saya tahu akan susah kalau Anda terkena skandal semacam itu,” ucap Aprilo dengan sedikit cengengesan. Bagi dirinya yang sering datang ke tempat semacam itu untuk hiburan, itu merupakan sindiran yang sangat frontal.