
Odo terbangun di gazebu, segera duduk dengan napas terengah-engah dan benar-benar gemetar. Melihat orang-orang di sekitarnya menatap ke arahnya dengan cemas, pemuda itu berusaha menurunkan rasa takut dan tersenyum kaku.
Pikirannya masih kacau, teror yang diberikan bayangan hitam yang muncul sebelumnya masih terukir jelas dalam benak dan membuatnya ketakutan sampai keringat dingin bercucuran. Rasa itu perlahan menghilang, berganti dengan ratusan pertanyaan yang membuat pikirannya penuh.
“Ada apa, Tuan?” tanya Fiola di sebelahnya.
Pemuda itu tidak menjawab, menundukkan wajah dan mulai bergumam dengan cepat. Segera turun dari gazebu, mengambil beberapa langkah ke depan dan ia menatap ke arah langit. Menarik napas dalam-dalam, pemuda itu tak jelas berteriak, “Aaaaaaaaaaaaakh!! Ruwet amaaaaaaa!!! Ini itu!! Memangnya kalian apa, dasar jalang!!! Padahal baru mau selesai ini!! Tapi sudah muncul lagi persoalan kayak gitu!! Nyiksa orang apa!!? Nyiksa orang!!!”
Semua orang menatap bingung pemuda yang tiba-tiba berteriak tak jelas seperti itu. Di antara semua orang, Fiola yang sekilas membaca pikirannya dan terkejut dengan apa yang sedang Odo pikirkan saat itu.
Lisia mendekat, lalu bertanya, “Anda kenapa Tuan—”
“UWHAAAAAAAA!!” Perempuan itu dibentak Odo.
Saat Kepala Prajurit mendekat dan menegur, “Oi! Tak usah membentak seperti itu—!”
“UWHAAAAAAAA!!” Odo membentaknya juga.
Fiola meloncat turun dari gazebu, memegang pundak pemuda itu dari belakang. Saat Odo menoleh dan akan membentaknya, Fiola langsung menghujamkan pukulan sangat keras ke perut pemuda itu dan membuatnya kehilangan kesadaran. Menangkap dan menurunkannya perlahan, Fiola mengubah bentuk tubuh ke wujud semula dan menjadi wanita dewasa.
Setiap orang yang melihatnya langsung terkesima dengan sosok anggun dari Hewan Suci itu, namun rasa penasaran mengapa pemuda yang selalu terlihat tenang itu bisa berteriak-teriak tidak jelas membuat mereka tidak ada yang melontarkan sanjungan.
“Nona Lisia, boleh saya pinjam orang ini sebentar?”
Dengan wajah takut dan masih gemetar karena dibentak, perempuan rambut merah itu menganggukkan kepala satu kali.
««»»
Mereka telah bersiap dan segera melanjutkan perjalanan untuk Pembersihan Bandit di teritorial kota Rockfield. Pergi berangkat dari desa yang menjadi transit pada saat matahari mulai meninggi, kelompok pasukan pemerintah kota Mylta itu memacu kereta kuda membentuk sebuah rombongan.
Medan yang dilalui tidaklah semulus biasanya, naik turun daerah perbukitan dan dataran tinggi menjadi mayoritas medan jalan yang dilalui. Pemandangan tebing dan bukit di kanan kiri menjadi hal biasa, warna putih mendominasi di bawah paparan cahaya remang dari langit yang mendung.
Pada salah satu kereta kuda tempat Lisia, Fiola, Odo dan beberapa prajurit, atmosfer terasa sangat berat karena suara gumam pemuda rambut itu. Meski memiliki badan besar dan terlihat dewasa, pemuda rambut hitam itu duduk di pangkuan Fiola yang telah kembali ke wujud wanita dewasa.
“Kalau memang benar susunan dunia seperti itu, berarti dimensi fondasi memiliki informasi yang malah lebih sedikit tetapi rekaman dunia seharusnya lebih bayak di sana. Lagi pula, kenapa dia bisa ada di situ? Dewi? Apa sialan itu yang membuatnya ada di sana? Tunggu, sebelumnya itu juga apa? Bayangan hitam yang keluar itu apa? Kenapa ada? Apa itu ada kaitannya dengan mereka? Kalau mereka adalah dirinya, mengapa bisa membelah seperti itu? Kenapa bisa? Dia bilang setengah-setengah? Apa maksudnya? Aku dulu pernah melawan Singgasana? Singgasana apa? Langit? Dewa? Dunia? Kerajaan? Kenapa aku melakukannya? Kalau apa yang dikatakannya benar, berarti ‘aku tidak mati setelah dibacok dengan kampak itu’ dan malah hidup panjang? Kalau begitu, ingatanku dari momen itu dihapus dan saat mati diriku diseret ke sini. Tunggu, kalau aku berumur panjang dan tidak mati dengan dibacok, bagaimana aku bisa mati? Dari yang dikatakan wanita itu, sosok yang disebut Helena itu tidak ingin membiarkanku memilih. Kalau iya, berarti dia juga tidak membiarkanku memilih kematian. Kenapa bisa seperti itu? Katanya juga wanita itu tercipta dari kepingan ingatanku. Kalau iya, siapa dia? Tetua di desa sebelumnya juga sangat mencurigakan, apa dia ada kaitannya juga? Tunggu dulu, apa yang dimaksud wanita rambut ungu itu dengan penebusan? Apa yang menjadi penyebabnya dan—”
Odo terus bergumam dan bergumam di atas pangkuan Fiola, sampai membuat kereta kuda yang mereka tunggangi penuh dengan suaranya yang berdengung bagai sekawanan lebah yang mengamuk. Itu benar-benar membuat Lisia dan para prajurit lain tertekan, merasa ada yang salah dengan pemuda yang mereka anggap bisa diandalkan tersebut.
“Apa kepalanya baik-baik saja?”
“Yah, ini pertempuran pertamanya di medan penuh darah dan mayat, kurasa dia terlalu memaksakan diri.”
“Apa dia punya gangguan jiwa?”
“Kurasa bukan itu, kau lihat saat dia bertarung bukan? Dia pasti memaksakan diri dan pada saat tidur mimpi buruk menyerangnya.”
“Begitu, ya. Hmm, kurasa memang wajar. Saat aku pertama kali membunuh orang juga rasa beraslah menghantuiku.”
Para prajurit mengobrol satu sama lain, menggunakan pemuda yang terus bergumam seraya menutup mulutnya dengan tangan kanan itu sebagai bahan bahasan utama. Odo sama sekali tidak melirik meski mendengar mereka, ia terus menundukkan kepala dan duduk dalam pangkuan Fiola seraya menyelonjorkan kaki kirinya ke depan. Meski terlihat penuh sesak, Fiola sama sekal tidak protes dan malah perempuan itulah yang sebenarnya menyeret Odo untuk duduk di atas pangkuannya.
“Terus, kenapa dia bisa duduk di pangkuan Nona Shieal? Jangan-jangan benar kalau Nona naksir padanya?” ucap salah satu prajurit kepada rekan-rekannya. Saat mereka melirik ke arah Lisia, perempuan rambut merah itu menunjukkan ekspresi yang berbeda dari apa yang mereka bayangkan.
Lisia terlihat cemas, terus menatap ke arah Odo meski pemuda itu sama sekali tidak melirik ke arahnya semenjak menaiki kereta kuda. Suasana menjadi senyap seketika saat para prajurit menjadi canggung setelah sadar akan ekspresi itu, kereta hanya diisi suara dengung Odo yang menemani perjalanan. Kereta sesekali berguncang karena tidak ratanya permukaan jalan yang dilalui, meski begitu mereka tetap terdiam.
Fiola yang duduk bersimpuh melongok dari balik pemuda yang dipangkunya, lalu menatap Lisia dengan sorot mata datar. Sekilas Huli Jing tersebut tahu apa yang ingin dikatakan perempuan itu, namun dirinya tidak mencegah dan merasa kalau itu tidak masalah untuknya mengatakan itu.
“Tuan Odo ..., apa Anda baik-baik saja?”
Para penumpang di kereta kuda terkejut saat mendengar nama itu, begitu juga kusir yang duduk di depan. Lisia baru sadar telah melakukan kesalahan, segera menutup mulut dan terlihat panik karena memanggil Odo dengan namanya dan bukan Nigrum.
“Nona ..., kata Anda tadi ... Odo? Kenapa Nona memanggil tunangan Anda seperti itu?” tanya prajurit yang duduk di sebelah Lisia.
Lisia segera menatap panik ke arah Fiola dengan ekspresi meminta bantuan padanya. Huli Jing berwujud wanita berbadan elok dengan rambut cokelat kehitaman itu sedikit menghela napas. Menatap datar ke arah prajurit yang bertanya, ia berkata, “Pemuda ini memang Odo Luke, anak dari Tuan kalian.”
Fiola memeluk erat tubuh pemuda yang duduk di atas pangkuannya, membuat para prajurit dan Lisia sedikit terkejut. Perempuan rambut merah tersebut memalingkan pandangan karena beberapa hal. Saat sedikit melirik untuk melihat reaksi Odo saat dipeluk, pemuda itu tetap tidak merespons dan terus menutup mulut dengan tangan kanan seraya bergumam.
“Apa ... yang Anda maksud? Bukannya dia tunangannya Nona Lisia?” tanya prajurit di sebelah Lisia. Melihat gelagat seperti itu, Fiola tahu kalau prajurit tersebut merupakan perwira berpangkat dan cukup dekat dengan Kepala Prajurit saat mendengar cara bicaranya yang sedikit mirip.
“Itu hanya kebohongan yang Nona Lisia buat,” jawab Fiola dengan entengnya. Tersenyum tipis, ia menjelaskan, “Tuan Odo sebenarnya hanya perlu menyembunyikan identitasnya sampai rencananya selesai. Wujud ini ..., Tuanku sedang menggunakan sihir transformasi. Kalian tahu itu, bukan? Kalian juga sudah melihat itu ....”
Fiola tambah memeluk Odo, mengendus aroma rambut pemuda itu dari belakang dan menatap datar ke arah para prajurit. Melihat itu dengan jelas, mereka tidak punya pilihan selain percaya karena tidak mungkin seorang Shieal melakukan itu tepat di depan perempuan yang katanya menjadi tunangan pemuda itu.
“Maaf ..., Nona Fiola,” ucap Lisia sesal.
“Tak masalah, hal seperti itu kalau disembunyikan terus pasti akan percuma. Lagi pula, kondisinya sedang seperti ini .... Bahkan sebenarnya sekarang juga saya ingin membawa pulang Tuan Odo kalau bisa .....”
Suasana kembali senyap, keraguan dan pertanyaan mengisi benak Lisia dan para prajurit. Mereka menatap dengan rasa ingin tahu, namun rasa cemas pada beberapa hal membuat mereka mengurungkan niat untuk bertanya.
Seakan tidak memedulikan atmosfer yang ada, prajurit yang duduk memangku senjata dan helmnya di sebelah Lisia bertanya, “Apa ... rumor itu benar? Katanya penyakit yang Master derita itu penyakit turunan, dan Tuan Odo juga terkena itu?”
“Penyakit apa yang kau maksud?”
“Itu ... kepribadiannya. Mungkin ini sangat kasar, tapi ada beberapa kabar angin yang bilang kalau Master mentalnya sedikit terganggu dan sering kambuh.”
Fiola sedikit terkejut, dirinya baru tahu kalau ada rumor seperti itu beredar di kalangan militer. Menatap datar, ia membantah, “Nyonya sehat secara mental dan fisik. Saya tidak peduli siapa yang menyebarkan rumor itu, tapi saya sarankan kau tidak menyebarkan rumor tak jelas seperti itu kalau kau tak ingin diberhentikan.”
“Tentu saja saya tidak berani melakukan itu ..., tapi ....”
Mengikuti sosok yang seakan menjadi perwakilan mereka, para prajurit menatap ke arah Odo yang duduk di pangkuan Fiola. Pemuda itu tetap menundukkan kepala, menutup mulut dengan tangan dan terus bergumam. Sorot matanya seakan menandakan jiwanya tidak ada dalam raga, benar-benar kosong dan sangat berbeda dengan pemuda yang mereka lihat selama seminggu terakhir.
“Kalian menyebutku gila, ya. Kurang ajar sekali.” Odo berhenti bergumam, memejamkan mata sesaat dan menghela napas panjang. Dengan sedikit kesal, pemuda itu berkata, “Padahal aku memikirkan ini untuk kalian, tapi ini yang aku dapat?”
Mereka tidak menjawab, hanya terkejut melihat raut wajah Odo yang berubah dengan cepat. Tidak memedulikan hal itu, pemuda tersebut menatap tajam ke arah Lisia. “Nona, lain kali kau tak perlu menggawaikanku,” ucapnya tegas.’
“Saya minta maaf, Tuan ....”
Berhenti menutup mulut dengan tangan kanan, pemuda itu berkata, “Tak perlu minta maaf. Yang lebih penting ..., sekarang aku akan memberi saran perubahan rencananya ....”
“Kali ini kita akan langsung ke pusat para bandit.”
“Eh? Bukannya kita akan memutar dulu dan membereskan markas-markas kecil? Itu yang Anda katakan saat rapat ....” Lisia benar-benar bingung, tidak mengeri atau menebak alasan Odo mengubah rencana secara 180 derajat seperti itu.
“Kita kehabisan waktu, mereka mungkin sudah kabur dan dihancurkan.”
“Tunggu! Kenapa Anda bicara seperti itu?” tanya prajurit di sebelah Lisia. Ia sedikit kesal mendengar saran tak masuk akal dari pemuda yang sedari tadi bergumam tak jelas.
Melirik datar dan mengintimidasi, Odo tegas berkata, “Aku tahu ..., aku paham dan aku bisa memprediksinya. Kau meragukanku setelah apa yang kurencanakan sejauh ini?”
“Tapi ....”
“Alasan, ya ....” Odo mengatakan itu seakan telah memperkirakan prajurit itu akan menolak, lalu dengan nada datar ia berkata, “Kalau aku sebut alasannya adalah Aliran Sesat, apa kalian akan percaya?”
“A—!” Prajurit itu langsung panik, begitu pula rekan-rekannya. “Maksudmu Aliran Sesat yang selalu membuat kekacauan dengan ritual Pemanggilan mereka?”
“Ya ....”
“Kenapa ... Anda tiba-tiba mengatakan itu?!”
“Entahlah, hanya itu yang bisa aku perkirakan. Kalau kalian tak percaya, silakan saja gunakan rencana awalku .... Itu juga tidak terlalu penting bagiku, pada dasarnya tujuan perjalanan ini sudah tercapai saat kita mencapai titik transit.”
Odo bangun dari pangkuan Fiola, meminta wanita itu bergeser dan duduk di pojok dengan posisi meringkuk. Sekilas melirik ke arah Fiola, ia berkata, “Tolong beritahu mereka supaya tidak menyebarkan identitasku ke yang lainnya ....” Fiola hanya melihat dengan sedikit ekspresi sedih, paham dengan jelas apa yang sedang pemuda itu pikirkan.
“Apa maksudmu?! Kenapa kau berkata seperti tak peduli?!”
“Itu benar! Meski Nona Fiola bilang kau adalah Odo Luke, aku belum percaya itu sepenuhnya!”
“Jawab! Jangan malah bergumam lagi!”
Seakan tidak memedulikan sekitarnya, Odo kembali menenggelamkan pikirannya dalam siklus tanya jawab dan mengacuhkan mereka semua. Sebagai gantinya, Fiola menjawab pertanyaan mereka satu persatu dan meminta semua orang di dalam kereta kuda tersebut yang mendengar identitas pemuda itu untuk tidak menyebarkan atau membicarakannya selama rencana berlangsung.
Saat Fiola menjelaskan itu kepada mereka, Odo yang duduk meringkuk sedikit mengintip dari sela tangannya yang dilipat ke atas lutut. Menatap tajam ke arah kereta kuda yang melaju di depan, terlihat tiga dari lima penyihir Miquator di sana. Seakan telah memahami sesuatu, ia kembali memasukkan wajahnya ke dalam sela antara kedua kakinya yang dilipat.
“Kalau Tetua itu dikeluarkan dari seleksi perkiraanku, berarti hanya mereka yang mencurigakan.... Yah, hidup atau tidak itu bukan urusanku ....”
Odo kembali meringkuk, memejamkan mata dan dalam benak menyusun kembali siklus tanya jawab untuk mencari jalan keluar yang sesuai dari situasi yang dihadapkan padanya. Dalam gumaman tersebut, sebuah kalimat keluar dari mulutnya, “Sebenarnya kelemahan dan amarah adalah musuh tak berbentuk, maka pahami diri sendiri sebelum mengenal musuh yang datang dari luar.”
««»»
Pada hari yang sama, di rute perdagangan menuju kota Rockfield. Kedua bukit yang menjadi tempat markas utama para Kelompok Bandit Tox Tenebris benar-benar telah diporak-poranda oleh mereka orang-orang berjubah hitam. Rumah kabin dibakar, mayat bergelimpangan dan darah mengalir membasahi permukaan putih salju.
Mayat membusuk lebih cepat meski berada dalam tempat dengan suhu rendah, menghitam dan kulit serta dagingnya mulai digerogoti belatung dari dalam. Tepat di kedua bukit yang sebelumnya menjadi markas para bandit, terdapat beberapa altar sihir yang terbuat dari potongan tubuh orang yang disusun membentuk sebuah tempat ritual mengerikan tersebut.
Usus yang diambil dari mayat-mayat bandit digunakan sebagai lingkaran sihir di lapangan markas bandit, dipasak ke tanah dengan tulang dan kepala disusun sebagai titik-titik median dari gabungan lingkaran sihir yang dibentuk menjadi altar oleh para Pemuja Iblis.
Mayat yang membusuk adalah salah satu efek dari Ritual Invoke tersebut, dengan menggunakan energi kehidupan yang dihisap dari mayat-mayat di kedua bukit. Keenam tempat ritual tersebar pada kedua tempat tersebut, dengan satu lagi sebagai pusat yang bertempatkan di tengah rute jalan perdagangan. Di sana sebuah singgasana kecil dari susunan daging dibentuk dengan posisi memblokade jalan.
Fondasinya terbuat dari potongan tangan dan kaki, usus sebagai tali yang menyatukan antar bagian, kepala sebagai dekorasi, badan sebagai panggung, itulah wujud dari singgasana penuh kegilaan yang dibangun oleh para anak-anak Korwa. Meski para bandit pantas untuk mati atas apa yang telah mereka lakukan selama hidup, namun perlakukan terhadap mayat mereka dengan cara seperti itu juga termasuk penghujatan kepada langit.
Setelah beberapa hari membangun tempat untuk ritual yang akan menjadi tugas untuk keinginan mereka, para anak Korwa yang hanya tersisa beberapa puluh orang saja memulai ritualnya. Seorang perempuan rambut ungu berjubah hitam berdiri di depan singgasana bersama saudara-saudaranya, merentangkan kedua tangannya ke depan dengan ekspresi euforia penuh kegilaan.
“Ah, inilah momen yang kami tunggu-tunggu. Ayah! Oh, Ayah kami! Tolong temuilah kami anak-anak yang berbakti ini! Berilah kami hadiah dalam bentuk pertemuan yang dijanjikan ini!! Bebaskan kami dari rantai takdir dunia laknat ini!!”
Api mulai berkobar pada titik-titik altar di kedua bukit, menyala merah dan perlahan berubah menjadi biru terang tanpa membuat asap sama sekali. Beberapa Korwa yang berdiri di dekat altar dan bertugas mengoperasikannya ikut terbakar, namun mereka tersenyum lega seakan terbebas tanpa penderitaan dan hancur menjadi abu dalam kobaran biru.
Api biru yang berkobar menyebar dengan cepat, saling terhubung satu sama lain dan keenam titik membentuk sebuah lingkaran sihir raksasa dengan pusat tepat pada singgasana di antara kedua bukit tersebut. Api tidak melelehkan salju, tidak membakar pepohonan dan hanya menyala terang dengan cahaya birunya di bawah langit mendung.
Saat api mulai padam dan lingkaran sihir raksasa menghilang ke langit, sebuah hujan darah turun dengan deras menggantikan butiran salju yang turun. Itu benar-benar mengguyur tempat tersebut dengan warna merah, mewarnai kedua bukit putih dengan warna darah segar yang menyala.
Suara mengerikan mulai terdengar. Rintihan, jeritan dan erangan mulai mengisi seisi tempat di antara kedua bukit tersebut. Daging-daging yang menjadi singgasana mulai bergerak-gerak, tangan melambai dan kepala mulai membuka mulut dengan jeritan.
Para anak Korwa tersenyum lega melihat hasil dari ritual, apa yang mereka cari benar-benar tercapai. Dari seribu Korwa yang tercipta sejak masa Perang Besar pertama kali dimulai, yang tersisa pada titik tersebut hanyalah tiga belas dari mereka. Kedua belas dari Korwa berada di ritual tepat depan singgasana mengerikan, menatap ke arah langit dan merentangkan kedua tangan ke langit seakan mengharapkan sesuatu.
““Kakanda! Waktu yang dijanjikan sebentar lagi datang dan pertemuan akan terpenuhi! Oh, Adinda di tempat ini menunggumu! Engkaulah yang dijanjikan tempat untuk berdiri di sampingnya kelak! Pilihlah di antara kami untuk ikut bersamamu, wahai kehidupan yang pertama kali tercipta dari Ayahanda!””
Awan mulai berpusar spiral, membentuk lubang hitam di tengahnya yang terhubung dengan dimensi lain. Berbeda dengan ritual pemanggilan yang pernah dilakukan mereka saat Perang Besar, apa yang terjadi sekarang adalah keberhasilan mutlak karena tidak ada satu pun yang mengganggu. Para bandit hanyalah tumbal, saudara mereka hanyalah sebuah katalis pemanggilan sosok tersebut.
Tangan tengkorak raksasa mulai keluar dari pusat awan yang melingkar-lingkar spiral di langit, secuil daging busuk yang ada pada sekitar belulang raksasa itu berbentuk orang yang menjerit penuh penderitaan. Ialah sang Raja Iblis Kuno, Odrania Dies Orion, sosok pembawa malapetaka yang terusir dari dunia. Malapetaka berjalan, simbol kehancuran dan merupakan kekacauan itu sendiri.
Meski hanya bentuk tangan dari sosoknya yang terpanggil, seketika mayat-mayat bandit yang berserakan di zona ritual langsung terangkat ke langit dan satu persatu menempel pada tangan tengkorak raksasa tersebut. Menyatu, kembali bergerak dan terjerat dalam siklus antar hidup dan mati yang menjadi kekuasaan sang Raja Iblis Kuno tersebut.
Berada cukup jauh dari tempat pemanggilan, beberapa bandit yang melihat Iblis itu keluar dari lingkaran awan tersebut menggigil penuh keputusasaan. Meski mereka berhasil kabur berkat mengikuti Ketua mereka, Tox Tenebris, bersama istri dan anak-anak. Namun saat mereka dihadapkan pada kenyataan yang mereka lihat, para bandit kehilangan harapan untuk menyerang balik dan benar-benar kehilangan kesempatan untuk kabur.
Anak dalam gendongan Isla Tenebris menangis, para anak kecil mulai menarik orang tua mereka untuk segera pergi dari tempat. Meski begitu, para orang dewasa terus menatap ke arah tangan tengkorak yang keluar dari langit itu seakan jiwa mereka terhisap dan membuat tubuh tidak bisa digerakkan.
Di arah yang berlawanan dari para tempat bandit berada, para pasukan kota Rockfield yang melihat kejanggalan sejak beberapa hari lalu baru melakukan investigasi dengan beberapa peleton pasukan. Namun belum satu hari berangkat dari kota, apa yang menanti mereka adalah bentuk dari malapetaka.
Para pasukan dengan zirah dan perlengkapan lengkap tersebut turun dari kuda yang sudah tidak mau melaju ke depan lagi, menatap penuh rasa takut ke arah tangan tengkorak raksasa di langit. Kepala Prajurit dari kota pegunungan tersebut melangkah ke depan, menunjuk ke langit dan berkata, “Itu ... iblis yang sama seperti saat di Lembah Gersang Sianama?”
Dirinya yang merupakan salah satu veteran dari Perang Besar mengenal telapak tangan tengkorak dengan daging-daging busuk di sekitarnya itu. Tangan iblis yang keluar dari langit tersebut memang adalah Iblis yang bahkan tidak bisa dibasmi oleh Mavis dan Dart, sosok yang tak bisa dihancurkan sejak Perang Kuno dan hanya bisa diatasi dengan cara dibuang ke celah dimensi.
“Bagiamana ini ...? Tuan Dart dan Master Mavis tidak ada ..., mustahil kita menghadapi monster seperti itu untuk mengulur waktu .... Kita tamat ..., kita akan menjadi tumbal iblis itu.”
Kepala Prajurit itu berlutut, menjatuhkan pedangnya dan air mata mengalir di balik helm yang dikenakan. Para prajurit yang berada dalam komandonya tidak bisa berkata apa-apa soal itu, mereka terlalu ketakutan dan bahkan tidak bisa mengeluarkan suara. Meski baru melihat sosok itu, suara mengerikan dan aura yang terasa sampai radius belasan kilometer membuat mereka benar-benar mati rasa dan tidak bisa menggerakkan tubuh.
Telapak tangan raksasa Odrania Dies Orion yang lebarnya dapat memenuhi bukit terus terulur ke bawah, lalu pada akhirnya menyentuh permukaan dunia dan saat itulah segel yang mengikatnya di celah dimensi hancur. Rantai-rantai yang mengikat tangan raksasa itu putus, berserakan dan bertebaran menghancurkan pepohonan di bukit-bukit.
Salah satu potongan rantai yang melayang saat putus mendarat ke barisan para prajurit kota Rockfield, menindih satu peleton yang ada dan memusnahkan mereka. Kepala Prajurit yang melihat itu hanya bisa terdiam dan menggigil ketakutan, potongan rantai raksasa tersebut mulai berubah bentuk menjadi monster Golem besi dengan aura iblis yang melekat kuat.
Mengambil mayat-mayat yang telah remuk, Golem tersebut memakan mereka layaknya cemilan. Daging dari sela sendi Golem itu semakin banyak, bergerak menggeliat seperti tentakel dan benar-benar membuat bongkahan besi itu tidak lagi menjadi sekadar bongkahan besi.
“Berakhir sudah .... Awal kekacauan benar-benar dimulai.”