Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 39: Maiden like Iris Flower (Part 02)



Rombongan yang dibawa Lisia sampai pada tempat mereka meninggalkan Odo dan Fiola di sekitar jalan bertebing. Melihat porak-porandanya tempat tersebut, mereka terbelalak bukan main.


Jalan berjurang runtuh dengan bentuk seperti telapak tangan, pada lembah di bawah jurang pepohonan berserakan dan tercabut tanah seperti membuat jalan lurus di tengah hutan. Tempat itu jelas terlihat bekas dari pertarungan dahsyat yang tak bisa mereka perkirakan.


 


 


Fiola berjalan ke ujung tebing yang runtuh dengan rapi membentuk tangan, melihat ke bawah dan tertegun saat mengetahui kedalaman longsor tak alami tersebut. Saat dalam benak paham itu ulah siapa, ia menelan liur dalam mulut dengan berat.


 


 


“Apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai tempat hancur seperti ini?”


 


 


Perempuan itu mengamati sekitar, bersama dengan beberapa orang yang ikut bersamanya. Sejauh mata mereka memandang tak ada raksasa tengkorak, ataupun pemuda serta Shieal yang mereka tinggalkan, hanya ada pemandangan porak-poranda bekas dari sebuah pertarungan dahsyat yang nampak.


 


 


“Nona, lihat di sana!” ucap salah seorang pemburu.


 


 


Menoleh ke arah yang ditunjuknya, semua orang melihat Fiola yang datang menggendong Odo di tengah porak-porandanya pepohonan di lembah. Wajah Lisia langsung berseri, penuh rasa senang dan segera berteriak, “Nona Fiola! Tuan Odo!!!”


 


 


Dua orang yang datang di bawah paparan sinar senja itu sedikit mendengar suaranya. Odo yang digendong Fiola memasang wajah kesal, langsung paham kalau identitasnya sudah terbongkar dan merasa apa yang dilakukannya selama rencana percuma.


 


 


“Aku benci melakukan hal percuma .... Dicemaskan berlebihan juga aku benci,” gumam Odo dalam gendongan Fiola.


 


 


Mendengar apa yang diucapkan pemuda itu di punggungnya, Fiola sedikit tersenyum dan merasa senang mendengar perkataan seperti itu datang dari lubuk hati Odo. Menaikkan wajah dan sedikit melirik ke belakang, Huli Jing itu berkata, “Yah, saya rasa itu tak masalah. Lagi pula situasinya sudah seperti ini, wajar kalau Nona Lisia cemas seperti itu ....”


 


 


Kembali melihat ke depan, Huli Jing itu kembali berkata, “Tuan Odo tahu, gadis itu menyukai Anda, loh.”


 


 


“Aku tahu ....”


 


 


“Eh?”


 


 


“Aku tahu dan mengacuhkannya. Mbak Fiola paham sendiri situasiku, ‘kan? Aku kandidat tunangan Tuan Putri yang bahkan belum pernah aku temui.”


 


 


“Ah ....”


 


 


Mereka berdua terus berjalan sampai di depan tebing yang longsor. Lisia yang berada di atas segera meluncur turun melalui lereng berbatu, lalu berdiri di hadapan mereka dengan wajah penuh rasa lega. Beberapa prajurit dan pemburu mengikutinya, sedangkan dua penyihir yang ada tetap berada di atas karena tak berani meluncur turun ke bawah.


 


 


“Syukurlah ..., kalian baik-baik saja,” ucap Lisia.


 


 


Melongok dari balik bahu Lisia, pemuda rambut hitam yang digendong Huli Jing itu menatap dengan penuh rasa kesal. Matanya seakan ingin menyerapah dan memarahi segila mungkin, namun itu ditahan karena ada banyak orang di tempat tersebut.


 


 


Menghela napas ringan, Odo melihat memindai orang-orang yang ada dan memastikan jumlah mereka sekitar empat belas orang, terdiri dari sembilan prajurit, tiga pemburu, dan dua penyihir. Itu sudah lebih dari setengah jumlah anggota rencana yang ada.


 


 


Turun dari gendongan Fiola, pemuda itu berdiri dipapah pelayannya tersebut. Itu membuat Lisia benar-benar terkejut, kondisi fisik Odo sangat memprihatinkan seperti orang penyakitan dan kurus sampai otot-ototnya yang terbentuk rapi terlihat menjijikkan. Orang-orang lain yang melihat itu juga merasa serupa, tubuh pemuda itu memang kondisinya seperti orang tua yang penyakitan.


 


 


“Tuan Odo ..., tubuh Anda .... Apa itu ulah Raja Iblis itu?” tanya Lisia cemas.


 


 


“Aaah, anggap saja seperti itu. Yang lebih penting, Nona Lisia .... Kenapa Anda membongkar identitasku? Anda tahu kalau identitasku terbongkar ... rencana ini jadi percuma bagi kalian, bukan?”


 


 


“Ta-Tapi ...! Situasinya .... Tadi yang datang itu Raja Iblis yang bahkan tidak bisa Tuan Dart dan Master Mavis kalahkan saat Perang Besar! Kalau tetap merahasiakannya, bisa-bisa semua orang benar-benar meninggalkan Anda ....”


 


 


“Aku tak selemah itu.” Odo menatap datar. Sedikit menghela napas, ia berkata, “Kalau aku butuh bantuan, aku pasti akan mengatakannya. Jangan terlalu cemas seperti itu, Nona.”


 


 


Suasana menjadi hening, Lisia dan semua orang yang datang bersamanya terdiam karena merasa keberanian yang telah dikumpulkan menjadi seakan tak berarti. Odo paham kalau hal itu dibiarkan bisa berakibat buruk, harga diri para pejuang yang terluka bisa berdampak negatif nantinya.


 


 


Menghirup udara dalam-dalam dan mengatur pernapasan, pemuda yang dipapah Fiola itu berkata, “Aku menghargai apa yang kalian lakukan dengan kembali untuk menolongku di sini. Aku sangat amat menghargainya .... Karena itu, bisa aku minta tolong? Apa boleh?”


 


 


“Te-Tentu saja!”


 


 


“Di belakangku ada bangkai Odrania Dies Orion .... Seperti yang Nona Lisia lihat, kondisiku seperti ini. Kami tadi tak sempat mengurusnya dan mungkin bangkai Raja Iblis itu bisa saja menyebarkan wabah lain atau menciptakan monster. Bisa tolong urus?”


 


 


“Tu-Tunggu! Berarti Anda sudah mengalahkan Raja Iblis itu?!”


 


 


“Bukan aku, tapi Nona Fiola. Aku hanya membantunya.”


 


 


Setelah itu, pemuda rambut hitam itu berbicara dengan nada menjelaskan. Perkataannya seakan membuat Raja Iblis dikalahkan bukan karena dirinya, namun sepenuhnya berkat kekuatan Fiola seorang diri. Fiola yang mendengar itu hanya terdiam, tak mengoreksi atau membantah perkataan Odo. Huli Jing tersebut sudah tahu kalau Tuannya tersebut akan membuat kebohongan seperti itu, ia sedari tadi mengawasi isi kepala Tuannya itu dan sangat mengerti pola pikirnya.


 


 


Setelah menerima mentah-mentah penjelasan dalam bentuk kebohongan tersebut, Lisia dan bawahnya segera bersiap untuk membasmi monster yang mungkin tercipta dari bangkai Raja Iblis. Iitla bersama orang-orang datang menyusul ke tempat itu menggunakan kereta kuda, segera menuruni tebing dan mendengar penjelasan dari rekan-rekannya.


 


 


Kebohongan yang ada menular dengan cepat dan mereka percaya. Tanpa meragukan perkataan Odo, sebagian besar orang pergi memeriksa mayat Raja Iblis dan selebihnya menetap untuk membantu pemuda itu menaiki tebing.


 


 


Tentu saja sewajarnya mereka pasti tidak akan menemukan monster di tempat mayat Odrania Dies Orion. Namun atas apa yang Odo Luke beritahukan kepada anak-anak Witch, hal tersebut bisa diatasi. Ia meminta mereka menggiring beberapa kawanan monster, untuk membuat sebuah drama seperti memang kalau para monster terpancing oleh mayat Raja Iblis.


 


 


Duduk di ujung tebing dengan lemas, pemuda rambut hitam itu menatap ke arah hutan yang porak-poranda. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menatap dengan wajah pucatnya. Fiola yang duduk di sebelahnya juga terdiam, hanya membiarkan pemuda itu bersandar pada sisinya.


 


 


Huli Jing tersebut juga mengetahui rencana Odo, serta alasan jelas di baliknya. Ia tahu apa yang dilakukan Tuannya itu untuk melindungi harga diri orang-orang Mylta tersebut, mencegah runtuhnya loyalitas karena merasa tak berguna untuk Tuan mereka.


 


 


“Anda terlalu memikirkan banyak hal,” ucap Fiola seraya membaringkan pemuda di sisinya, membiarkannya berbaring pada pangkuannya.


 


 


Dalam pemandangan senja yang semakin gelap, itulah akhir dari salah satu perjalanan yang mereka lalui bersama. Kisah singkat antara Hewan Suci dan Unsur Hitam, hubungan yang terjalin bagaikan sebuah Yin dan Yang. Tak bisa menerima pandangan satu sama lain, namun merasa cocok untuk terus berdampingan.


 


 


Beberapa penyihir dan pemburu yang berjaga di sekitar kargo dan kereta kuda menatap mereka dengan rasa sedikit iri, merasa kalau kedua orang tersebut memang sangat serasi. Di bawah langit yang berubah gelap dipenuhi gugusan bintang yang redup, salah satu tirai dari kisah kecil ditutup. Bukan untuk sebuah akhir, namun awal sebuah lajur baru bagi diri pemuda itu.


 


 


Setelah berakhir rencana pembasmian para bandit dan dikalahkannya Raja Iblis yang tidak diduga-duga muncul, orang-orang Mylta tersebut menaiki kereta alat transportasi untuk kembali ke kota. Itu mereka lakukan saat menjelang pagi, setelah para prajurit memburu habis monster receh yang datang ke tempat mayat Raja Iblis. Dalam rencana  tersebut, pencapaian benar-benar sangatlah besar lebih dari apa yang direncanakan di awal.


 


 


Tetapi, apa yang menjadi tujuan Odo tidak sepenuhnya tercapai. Seperti dugaan pemuda itu, setelah mereka kembali ke kota sebagian besar orang menganggap rencana tersebut adalah hasil dari anak Tuan Tanah wilayah mereka, Odo Luke. Bagi kalangan konglomerat dan bangsawan, itu sangat sesuai harapan mereka untuk dalih politik dan menolak hasil prestasi Keluarga Mylta dalam mengolah serta menjaga teritorial mereka sendiri.


 


 


Meski hasil yang ada tidak sesuai, namun reputasi Pihak Pemerintahan Kota Mylta cukup naik sampai mereka bisa berdiri seimbang dengan Pihak Religi kota pesisir tersebut. Lisiathus Mylta, sebagai seorang Walikota Pengganti dan sementara mengurus kota diakui kemampuannya oleh  para rekan-rekan pejabatnya.


 


 


Ia berhasil mendapat kepercayaan para pedagang dari Serikat Dagang Lorian dalam beberapa hari setelah rencana selesai. Di tambah rumor kalau Putri Keluarga Mylta itu dekat dengan Odo Luke, Aprilo Nimpio sebagai Eksekutif serikat dagang di kota pesisir tersebut segera membentuk koalisi demi menguatkan posisinya di tengah persaingan dagang dalam serikat dan mengamankan rute dengan biaya pajak murah.


 


 


Iitla Lots, Kepala Prajurit tersebut juga reputasinya melonjak pesat. Meski itu karena informasi simpang siur yang mengatakan kalau pria tersebutlah yang menggerakkan semangat para prajurit saat melawan Raja Iblis, namun dengan jelas ia semakin dihormati terutama oleh prajurit serta penjaga kota.


 


 


Iitla sendiri membantah kabar tersebut, namun rumor yang telah tersebar tidak bisa dihentikan dan benar-benar menganggap pria itu berperan banyak dari pembasmian para bandit dan kalahnya Raja Iblis.


 


 


Pihak Pemerintah Kota Rockfield, di bawah kekuasaan Keluarga Baron Stein, mengucapkan rasa terima kasih mereka kepada Keluarga Mylta atas apa yang telah Lisia lakukan dengan mengerahkan pasukan dan mengalahkan Raja Iblis yang muncul di wilayah Rockfield. Meski ada juga masalah tentang mobilitas angkatan bersenjata ke wilayah tetangga, namun hal itu tidak terlalu diungkit dan para bangsawan lain tak bisa mempermasalahkan hal tersebut.


 


 


Hal itu karena rumor yang beredar antara kedekatan Odo Luke dengan Lisiathus Mylta. Dari rumor tersebut, para bangsawan yang cenderung tak kompeten dan suka mengamankan posisi mereka sendiri dalam hierarki kekuasaan menjadi tak bisa ungkap pendapat. Meski itu sebuah rumor, kemungkinan besar kalau keluarga Marquess menjadi semakin dekat dengan Myta membuat mereka tak bisa unjuk suara secara terang-terang.


 


 


Untuk nasib pemimpin bandit, Tox Tenebris, dan keluarganya yang secara resmi ditangkap dalam setelah rencana selesai, sebuah persidangan akan dilakukan dalam kurun waktu yang belum ditentukan. Proses interogasi mereka dilakukan secara internal dilakukan oleh Kepala Prajurit Kota Mylta dan para bawahannya yang ikut rencana pembasmian sebelum nanti akan diserahkan ke pengadilan pusat di Ibukota Kerajaan Felixia, Millia.


 


 


Dalam pencapaian yang ada, memang tak seluruhnya seperti apa yang Odo Luke harapkan sebagai pembuat inovator rencana. Namun bagi Lisiathus Mylta sendiri rencana yang telah selesai itu sangatlah besar dampaknya, bisa mengubah hierarki para bangsawan yang ada di wilayah Luke. Membuka lembar baru dari sistem semu yang cenderung berpihak pada kalangan bangsawan yang tidak menyukai perubahan karena situasi mereka bisa terancam.


 


 


««»»


 


 


Bulan 03, Tahun 2.699 Kalender Pendulum.


 


 


Sebagai tanpa musim dingin telah sampai pada penghujung, salju berhenti turun dan awan mending pada langit perlahan menyingkir. Suhu udara semakin naik dan perlahan salju mencair, tunas-tunas baru mulai bermunculan, kelak akan menjadi kecambah kehidupan baru yang akan dimulai dalam musim semi yang akan segera datang.


 


 


Pada kediaman keluarga Luke, pewaris sekaligus anak tunggal keluarga tersebut duduk pada kursi di dekat teras samping Mansion. Sekitar sebulan setelah rencana pembasmian para bandit selesai, pemuda yang beberapa berminggu lalu kondisi fisiknya memprihatinkan tersebut sudah terlihat mulai pulih—Tidak lagi kurus kerempeng atau bola matanya masuk ke dalam seperti orang penyakitan.


 


 


Odo seperti biasanya mengenakan pakaian tipis berupa kemeja putih dan celana bahan hitam. Itu sudah menjadi ciri pemuda itu. Meski sudah tidak bisa menggunakan sihir manipulasi suhu, ia tetap tak menghilangkan kebiasaan tersebut. Namun ada beberapa hal yang berbeda dari pemuda itu, ia sedikit memendekkan rambutnya dan mengenakan sarung tangan hitam di kedua tangan.


 


 


Mengangkat cangkir herbal dari atas meja di depannya, ia menikmati obat penambah stamina itu seraya melihat pemandangan salju yang perlahan meleleh di penghujung musim dingin dan membuat permukaan tanah mulai terlihat. Hawa masih dingin, angin bertiup pelan, menyusuri kulit pemuda itu dan sedikit membuatnya menggigil.


 


 


Sedikit mengingat saat pertama kali kembali bersama Fiola setelah rencana pembasmian bandit, ia hanya bisa tersenyum ringan karena saat itu dirinya dimarahi oleh Mavis. Rasa senang ada dalam benak Odo, ia merasa memang seperti itulah rasanya dikhawatirkan oleh orang tua. Dimarahi oleh sosok Ibu itu sama artinya dengan masih dipedulikan dan dicintai, paling tidak itulah yang dirasakannya.


 


 


Waktu itu kediaman menjadi ramai karena Mavis membentak-bentak, penuh rasa cemas yang meluap-luap. Hal tersebut sangatlah terasa aneh bagi Odo karena ibunya tersebut tidak mempermasalahkan wujud fisiknya yang terlihat lebih dewasa. Meski setelah itu Mavis menghujani Odo dengan pertanyaan, namun pelukan hangat ibunya saat menyambut membuatnya tidak mempermasalahkan hal lain lagi.


 


 


“Meski aku diseret ke sana kemari, hal seperti itu memang yang paling diinginkanku.”


 


 


Menghabiskan teh herbalnya, pemuda itu meletakkan cangkir ke atas piring cawan. Namun sebelum beranjak dari tempat dan hendak masuk ke dalam, Fiola datang menghampiri dan bertanya, “Tuan, apa sudah lebih baikkan? Sudah bisa jalan sendiri?”


 


 


Melihat senyum kecil Huli Jing rambut hitam kecokelatan itu, alis Odo sedikit berkedut. Perkataan Fiola bukanlah sindiran halus biasa, namun sebuah fakta memang Odo tak bisa berjalan saat kembali ke Mansion Keluarga Luke dan dalam kondisi digendong gadis rubah tersebut.


 


 


“Ya, kurang lebih .... Ramuan teh ini lumayan efektif. Meski hanya pakai bahan seadanya di dapur dan penyimpanan obat Bunda, tapi kurasa itu tak masalah kalau hanya untuk meningkatkan stamina.”


 


 


Pemuda itu kembali duduk, bersandar pada sandaran kursi dan sesaat meregangkan tangannya ke atas. Melihat pemuda itu dengan tatapan ringan, Fiola ikut duduk di depan Odo pada meja yang sama. Meletakkan siku kanan ke atas meja dan menyangga kepala sembari menatap pemuda itu.


 


 


“Sungguh?”


 


 


“Sungguh, baca saja pikiranku kalau tidak percaya.”


 


 


“Uuuh, sudah saya bilang jangan anggap saya seperti tukang intip isi kepala orang.”


 


 


“Hmm.”


 


 


Pemuda rambut hitam itu memalingkan pandangan ke koridor, mengamati kediamannya sendiri yang terlihat sepi. Tetes embun mengalir basah pada kaca hias jendela di sepanjang teras samping, permukaan lantai yang basah karena lelehan salju, serta suasana damai yang ada membuat seakan Raja Iblis yang muncul sekitar sebulan lalu hanyalah mimpi belaka.


 


 


Sedikit menatap sedih Tuannya tersebut, Fiola bertanya, “Apa Tuan Odo mendapat kemampuan baru dari Raja Iblis itu? Apa Anda merebut kemampuan lawan yang Anda kalahkan lagi?”


 


 


Itu sedikit membuat Odo tersentak. Menoleh dan menatap Huli Jing tersebut dengan mata sedikit terbuka, ia balik bertanya, “Kenapa Mbak Fiola berpikir seperti itu?”


 


 


“Saya tahu .... Aliran Mana, peruahan aura dari perubahan Inti Sihir, atau hal-hal seperti itu sangat mudah saya sadari. Ras Huli Jing itu adalah salah satu Ras yang memiliki kepekaan tinggi dengan hal semacam itu.”


 


 


“Hmm ....”


 


 


Odo kembali memalingkan pandangan dari perempuan yang mengenakan Hakama hitam dengan atasan merah tersebut. Sedikit melirik, pemuda itu paham kalau sebenarnya Fiola ingin mengajaknya membahas hal lain yang sulit dan berat untuk dibicarakan.


 


 


“Kalau mau tanya, tinggal tanya saja. Apa susahnya,” benak Odo.


 


 


“Kalau begitu, saya tanya.”


 


 


“Ah.” Odo sedikit terbelalak seraya menoleh ke arah Fiola.


 


 


Suasanya sedikit senyap kembali, Huli Jing tersebut menatap tajam dengan ekspresi wajah muram. Angin yang sebelumnya tak terasa dingin bagi pemuda itu perlahan-lahan mulai membuatnya menggigil, bukan secara fisik namun benaknya menggigil takut pada tatapan Fiola.


 


 


“Pertama, ini pertanyaan atas perwakilan Nyonya. Beliau tidak menanyakan ini karena mempertimbangkan perasaan Anda ..., namun memang sebaiknya saya tanyakan.”


 


 


“Hmmm.” Odo mengangguk, balik menatap dan serius mendengarkan.


 


 


“Apa ... Anda memang masih Tuan Odo?”


 


 


Tanpa ragu pemuda rambut hitam itu menjawab, “Aku masih Odo Luke. Meski fisikku seperti ini, tapi jiwa masih Odo Luke. Apa mungkin ... alasan Mbak Fiola tanya itu karena merasa ada Jiwa Iblis dalam diriku?”


 


 


“Ya, itu jelas-jelas ada dalam diri Tuan,” ucap Fiola. Sedikit menundukkan wajah dan semakin muram, perempuan yang mengenakan Hakama itu berkata, “Bukan hanya Iblis, namun Naga, Monster, Roh, bahkan pada gelang hitam di tangan Anda terasa keberadaan aneh. Sebenarnya saya tidak terlalu memasalahkan hal itu selama Tuan Odo bisa mengendalikannya, namun Nyonya cemas karena Iblis yang terasa dari Tuan persis dengan Iblis yang Nyonya dan Tuan Dart lawan dulu. Saya kurang paham seperti apa tepatnya, sih.”


 


 


“Kalau sudah tahu sebanyak itu, kurasa  tak perlu dijelaskan panjang lebar. Aku memang punya semua itu, tubuhku sudah menjadi semacam wadah bagi mereka dan mereka juga memberi kekuatan padaku. Alasanku bisa kuat bukan karena aku kuat dari awal, tapi karena pinjaman mereka.”


 


 


“Pinjaman?” Fiola sedikit terkejut, mengangkat wajah dan bertanya, “Apa Malak juga .... Ah, namanya Pengembangan Malak, Gott fällt, ya? Sihir itu juga pinjaman?”


 


 


“Ya, pinjaman.” Odo mengangkat cangkir kosong, lalu membaliknya di atas piring cawan.


 


 


“Berarti dalam diri Anda juga ada Dewa?”


 


 


“Bukan ....” Odo sedikit menghela panas ringan, mengetuk permukaan cangkir yang dibalik dan mulai menjelaskan, “Aku meminjam itu dari Naga Hitam, berupa kekuatan mentah untuk perubahan sifat dalam bentuk gas, serta kristalisasi. Setelah itu, aku ubah dengan struktur sihirku untuk mengakses Malak yang telah ada. Menggunakan pemrosesan beruntun untuk menghasilkan energi dalam jumlah besar, aku memperluas jangkauan Malak dan mengembangkannya. Intinya, itu semacam reaktor sihir dalam tubuh.”


 


 


“Hmmm.”


 


 


Fiola mengangguk paham, sedikit mengerti mengapa Odo tidak kehilangan wujud manusianya meski menggunakan Malak. Secara mendasar sihir Manifestasi Malaikat itu secara keseluruhan menggunakan energi alam untuk bahan bakar pengaktifannya, karena itulah tubuh fisik makhluk yang menggunakan sihir itu akan dihancur seperti digerogoti energi alam dan sepenuhnya hancur bersama jiwa.


 


 


“Apa itu semacam sumber Mana yang tak terbatas?” tanya Fiola.


 


 


 


 


“Hmm ....”


 


 


“Ngomong-omong, Sihir Invoke yang Mbak Fiola gunakan itu apa?”


 


 


“Eh? Anda melihatnya?”


 


 


“Ya, saat itu kesadaranku sudah kembali .... Waktu itu rambut Mbak Fiola jadi putih dan Duar! Daur! Boom! Zuuuz! Duarrrk! Seperti itu ....”


 


 


Melihat Odo mengatakan itu dengan ekspresi datar dan tak bersemangat, Fiola hanya bisa tertegun dalam rasa aneh. Memalingkan pandangan, Huli Jing itu berkata, “Seperti apa memangnya? Absurd amat ....”


 


 


“Jadi, itu apa?” tanya Odo serius.


 


 


Sedikit memalingkan pandangan ke arah taman, Huli Jing itu menjawab, “Yah, itu semacam Mode Ilahi. Dengan mengaktifkan kekuatan suci yang ada dalam tubuh secara serentak dalam jumlah tertentu, saya memerasnya untuk mencapai wujud Pseudo seorang Dewi. Hasilnya, memanggil Magical Beast itu memungkinkan bagi saya.”


 


 


“Magical Beast? Bukan Heavenly?”


 


 


“Magical Beast itu berada di Kayangan, itu sudah sangat hebat, loh.”


 


 


“Kenapa tak disebut Heavenly Beast?”


 


 


“Heavenly Beast juga ada di Kayangan, namun mereka lebih sering di Surga, dimensi lebih tinggi tempat para Dewa-Dewi Utama tinggal. Yah, perbedaan kedua jenis itu hanya pada tingkat kekuatan, pada dasarnya mereka sama-sama makhluk yang diberkahi kekuatan ilahi.”


 


 


“Hmmm ....”


 


 


Odo memalingkan pandangan dan hendak mengakhir pembicaraan. Namun sebelum beranjak dari tempat, Fiola bertanya, “Jadi, apa yang Anda dapat dari Raja Iblis itu?”


 


 


Ekspresi pemuda itu sedikit tercengang, tujuannya melebarkan pembicaraan untuk tidak membahas hal itu menjadi percuma. Dengan tatapan malas, ia balik bertanya, “Serius mau tahu?”


 


 


“Tentu ....” Fiola mengangguk cepat.


 


 


Menghela napas panjang, Odo menjawab, “Itu kemampuan untuk mengirim informasi dengan singkat.”


 


 


“Hmm?” Fiola kebingungan.


 


 


“Mengompres informasi besar menjadi sebuah data kecil, lalu mengirimnya dalam bentuk sinyal. Karena pada dasarnya otak bisa menerima frekuensi sinyal tertentu, aku bisa melacaknya dan melakukan pengiriman data yang telah disiapkan itu,” jelas Odo.


 


 


Mendengar itu, Fiola malah tambah bingung sampai telinga dan ekornya bergerak-gerak cepat. Kesembilan ekornya seakan menari-nari, masuk ke sela-sela sandaran kursi dan menunjukkan apa yang dirasakan perempuan yang memasang ekspresi datar itu.


 


 


“Apa ... yang Anda bicarakan? Mengompres? Maksudnya meletakkan kain dingin ke atas kening supaya demam turun?”


 


 


Pertanyaan itu membuat Odo paham kalau memang Fiola tidak mengerti dengan penjelasannya. Memalingkan sekilas pandangan darinya, Odo berkata, “Intinya semacam telepati. Tetapi, itu tidak kata per kata, tapi langsung dalam sebuah paket informasi.”


 


 


“Maaf, saya tidak paham ....”


 


 


“Ah, contohnya seperti ini.”


 


 


Odo membuka telapak tangannya ke depan, mengajak Huli Jing tersebut untuk bersalaman. Saat Fiola menjabat tangan pemuda itu seketika informasi masuk ke dalam kepalanya dan itu bukan hanya satu atau dua kata saja, melainkan sekumpulan pemahaman rencana secara kompleks disampaikan dan langsung membuatnya paham tanpa masalah.


 


 


“Ini ... apa ...? Kenapa bisa ....?”


 


 


“Itu kemampuannya. Aku bisa mengirim pemahamanku dan membuat orang lain paham apa yang ingin kusampaikan.”


 


 


Fiola sedikit tersentak dan berhenti menjabat tangan Odo. Dengan wajah bingung karena mengingat sesuatu, ia bertanya, “Jangan-jangan ... rumor yang beredar itu ulah Anda?”


 


 


“Rumor apa?”


 


 


“Jangan belaga bodoh, Tuan Odo! Segala rumor yang beredar tentang rencana pembasmian! Rumor yang sangat menguntungkan itu ....”


 


 


“Oh, soal itu toh. Aku memang yang menyebarkannya.”


 


 


Tubuh Fiola langsung gemetar. Semua rumor yang beredar kalau dipikir lagi memang terlalu mulus untuk menjadi keuntungan. Entah itu rumor tentang kedekatan Odo dengan Lisia yang membuat para bangsawan dan konglomerat tidak bisa menolak pencapaian Keluarga Mylta, pencapaian Iitla yang membuat harga diri para prajurit tak ternoda dan nama baik mereka terjaga, atau bahkan kontribusi pemimpin bandit dalam melawan Raja Iblis yang membuat eksekusi langsung dapat dihindari, semua itu memang terlalu janggal terjadi secara serentak dan teratur.


 


 


Sadar kalau semua itu adalah ulah Odo, Fiola benar-benar merasa kalau kecerdasan pemuda yang duduk di hadapannya tersebut tak bisa dipahami arahnya. Itu sama saja Odo telah memanipulasi semua orang meski dalam kondisi yang bisa dikatakan sangat lemah tanpa dirinya ketahui.


 


 


Melena liur dengan berat, Fiola bertanya, “Anda ..., benar-benar ingin melakukannya?”


 


 


“Tentu saja, Mbak Fiola sudah tahu tujuanku, bukan? Jadi, apa Mbak Fiola juga mau bergabung denganku?”


 


 


“Maaf ..., saya masih ragu.” Fioal menundukkan wajah dengan muram.


 


 


“Tak masalah .... Tapi, lebih baik Mbak Fiola cepat menentukannya. Sebentar lagi batas waktu akan berakhir dan gerigi akan bergerak. Jika satu ada yang berputar, maka semua gerigi akan berputar untuk menjalankan kembali dunia ini.”


 


 


Fiola sekarang tak mengerti apa yang disampaikan Odo tersebut, namun dirinya kelak akan tahu kalau sebuah perubahan pasti akan membawa perubahan lain. Dunia yang berjalan lambat akan berakhir, sebuah tahapan baru akan dimulai dengan gerigi yang baru dipasang.


 


 


Memahami keraguan yang ada pada diri Huli Jing tersebut, Odo memilih tidak memaksa atau menekannya. Pemuda itu beranjak dari tempat duduk dan berkata, “Aku masuk dulu, mungkin yang lain sudah menunggu di ruang makan.”


 


 


“Ah, saya lupa .... Saya datang kemari buat mengajak Tuan sarapan di ruang makan,” ucap Fiola seraya bangun. Merapikan Hakamanya, ia tersenyum kecil dan kembali berkata, “Ayo!”


 


 


Melihat itu Odo paham kalau Fiola menganggap tawaran sebelumnya tidak ada, Huli Jing tersebut benar-benar ingin tetap mempertahankan posisinya dengan tidak mendukung atau melarang.


.


.


.


.


.


Setelah perbincangan tersebut, Odo dan Fiola masuk ke dalam untuk sarapan. Suasana yang ada masih terasa sepi saat melewati lorong, para pelayan kecuali Shieal belum kembali dari cuti mereka, dan Dart Luke selaku Kepala Keluarga juga belum kembali dari Ibukota. Meski hanya ada beberapa orang di dalam Mansion yang luas tersebut, suasanya yang ada tidaklah terlalu senyap.


 


 


Pada ruang makan, Odo Luke duduk bersebelahan dengan Mavis. Wajah wanita rambut pirang di sebelah pemuda itu terlihat cerah, penuh rasa senang sembari menatap dari samping wajah putranya tersebut —sampai-sampai membuat Odo gelisah.


 


 


“Ada apa, Bunda?”


 


 


“Tidak apa .... Hanya saja kamu mirip sekali dengan Ayahmu saat muda, yah. Hmm, mungkin lebih tampan.”


 


 


Tidak jadi memakan roti kering dan sup yang disediakan untuk sarapan, pemuda rambut hitam itu menoleh. “Apa Bunda tidak terganggu dengan penampilanku?” tanya Odo heran.


 


 


“Asal kamu sudah pulih itu sudah cukup untuk Bunda .... Sebenarnya Bunda awalnya tak suka melihatmu tubuh secepat ini, putraku. Namun setelanya kurasa tidak masalah, lagi pula sikap kamu tak berubah sama sekali. Malah Bunda rasa penampilan kamu saat ini lebih cocok.”


 


 


“Ah, benar juga .... Kebanyakan orang di Mansion ini sering merasa kalau sikapku tidak seperti anak-anak, sih.”


 


 


Para Shieal seperti Minda, Imania, Fiola, dan Julia yang berada di ruangan yang sama sedikit tersentak mendengar perkataan pemuda itu. Mereka semua memang sering berpikir seperti itu, merasa kalau Odo sikapnya tak sesuai dengan penampilannya.


 


 


Tidak memedulikan para pelayan yang berdiri di sudut ruang makan, Odo mengambil roti kering isi selai dan memakannya. Sembari menyantap sarapan Ia sekilas menyipitkan mata dan berpikir banyak hal, terutama tentang reaksi para Shieal yang juga seakan tidak terlalu membahas perubahan fisiknya.


 


 


“Apa ... Bunda mengatakan sesuatu pada mereka?” ucap Odo setelah menghabiskan rotinya dengan cepat, tanpa mengambil sesendok pun sup yang disajikan.


 


 


“Mengatakan apa?”


 


 


“Untuk tidak mempermasalahkan perubahan tubuhku ini karena struktur sihir transformasi rusak. Kalau Mbak Fiola memang wajar tidak tanya-tanya, tapi Mbak Julia yang cerewet seharusnya tanya terus .... Itu tak wajar.”


 


 


“Ah, begitu rupanya.”


 


 


Mavis sedikit menoleh ke belakang, melirik tajam ke arah salah seorang perempuan berseragam pelayan di antara para Shieal. Pelayan itu tentu saja adalah Julia, gadis kucing itu langsung menunduk bersamaan dengan ekor dan telinganya lemas layaknya mencerminkan rasa bersalahnya.


 


 


Menyudahi sarapan dengan membalik piring untuk meletakkan roti, Odo berkata, “Kalau Bunda memerintahkan itu pada mereka untuk menjaga perasaanku, sebaiknya hentikan saja. Bunda tahu, aku jujur tak terlalu peduli hal seperti itu. Entah mereka mau menggosip atau semacamnya, aku tak terlalu peduli.”


 


 


“Sungguh? Kalau para pelayan yang cuti kembali, mereka bisa-bisa langsung menyebarkan gosip itu sampai ke ujung wilayah ini, loh. Waktu kamu mengalahkan Naga Hitam pun itu menyebar dari mulut pelayan ke pedagang, lalu sampai ke penjuru tempat di Kerajaan Felixia ini.”


 


 


“Uwah~” Odo menatap datar ibunya, merasa tidak percaya dengan tingkat gosip tersebut dan berkata, “Jaringan informasi tempat ini parah. Serius mereka yang menyebarkannya?”


 


 


“Hmm, Bunda yakin itu mereka. Awalnya Bunda sendiri tak terlalu mencemaskannya. Namun karena itu kamu dijadikan calon tunangan Tuan Putri, jadi Bunda pikir lebih baik itu perlu dibenahi.”


 


 


“Karena itu mereka dilarang membahas perubahan fisikku?” tanya Odo.


 


 


“Iya, karena itulah.”


 


 


“Terus kabar tentang Mbak Fiola yang mengalahkan Raja Iblis, apa kabar itu juga sudah tersebar?”


 


 


Pertanyaan yang melenceng dengan tiba-tiba itu sedikit membuat Mavis terdiam sesaat, memikirkan hal yang tepat dan balik bertanya, “Fiola? Bukannya kamu yang mengalahkan Odrania?”


 


 


“Bunda tahu sendiri kabarnya, bukan? Mbak Fiola yang mengalahkannya,” elak Odo.


 


 


Mendengar kebohongan itu, Mavis menatap datar dengan ekspresi sedikit gelap dan tatapan seketika menajam. Mengangkat tangan kanan dan meletakkan telapaknya ke atas ubun-ubun Odo, wanita rambut pirang itu berkata, “Kamu tahu, puraku .... Bunda telah bersama Fiola sejak lama, Bunda tahu persis batas kemampuan dan perkembangannya. Tidak mungkin Fiola bisa mengalahkan Raja Iblis Kuno itu.”


 


 


“Ah ....” Odo sedikit memalingkan pandangan, dalam benak merasa percuma pura-pura bodoh di depan Ibunya tersebut.


 


 


Mengangkat tangan dari kepala Odo, Mavis berkata, “Bicara soal kandidat calon tunangan, sepertinya kamu sudah dipastikan menjadi Tunangan Putri Arteria, loh.”


 


 


“Sudah kuduga, pasti ujung-ujungnya seperti itu ....”


 


 


Mendengar itu, Fiola yang berdiri dalam barisan Shieal baru sadar kalau salah satu alasan Odo menyembunyikan identitasnya selama rencana pembasmian adalah untuk mengurangi kesempatannya terpilih menjadi tunangan sang Tuan Putri. Ia membuka mulut dan hendak bertanya, namun segera mengurungkan niat karena Ibu dan Anak itu sedang berbincang dengan asyik.


 


 


“Apa kamu tak suka itu, putraku?”


 


 


“Bukannya tak suka, hanya saja Bunda tahu kalau aku sama sekali belum bertemu dengan Putri itu. Lagi pula, kalau penampilanku seperti ini pasti dianya juga terkejut.”


 


 


“Tenang saja ....” Mavis tersenyum kecil, meletakkan jari telunjuk kanan ke depan bibir dan berkata, “Meski Putri Arteria sekarang usianya masih sebelas tahun,  ia sudah memiliki Kontrak Jiwa dengan Roh Agung Baja, Nova El Luna. Ditambah warisan dari mendiang Ratu, Putri Arteria juga memiliki koneksi dengan Roh Kudus pelindung kerajaan kita.”


 


 


“Roh Kudus?” Odo pura-pura sedikit terkejut, lalu bertanya, “Ah, alasan perempuan keterurunan Kerajaan Felixia dianggap Suci itu, ya?”


 


 


“Ya, Roh Kudus, Oddya’ia  .... Kasusnya tak jauh berbeda dengan kamu. Meski Putri masih belia, ia sudah terlihat seperti remaja usia sekitar 20 tahunan dan sikapnya sangat dewasa karena mewarisi ingatan para Ratu sebelumnya ....”


 


 


“Hmm, aku mulai paham, Bunda ....”


 


 


Setelah itu, Odo terus berbincang dengan ibunya membahas tentang Putri Arteria. Dari hal tersebut, pemuda itu mengetahui beberapa hal menarik dari Keluarga Kerajaan tersebut.


 


 


Raja Gaiel memiliki dua istri, yaitu mendiang Ratu Dalia dan seorang selir bernama Sarawati Irbar. Setelah Ratu tiada, secara otomatis posisi orang nomor satu jatuh ke Raja dan selir ikut naik statusnya. Raja memiliki dua orang anak, dari selir dan Ratu. Anak pertama lahir dari selir, berjenis kelamin laki-laki dan bernama Ryan. Untuk anak kedua, yaitu Putri Arteria sendiri sebagai penerus tahta sah.


 


 


Memang dalam susunan keluarga tersebut tidak ada kendala, sang selir pun tidak menuntut putranya untuk dinaikkan menjadi Raja atau menuntut lebih. Namun itu tidak sejalan dengan apa yang diinginkan negeri asal Sarawati, Kerajaan Ungea. Karena di negeri tersebut juga mengalami proses pergantian kepemimpinan, hal seperti itu menjadi pendorong tuntutan selir itu untuk mendapat lebih.


 


 


Rapat yang dilakukan di Ibukota Kerajaan Felixia sendiri mengurus hal tersebut juga selain masalah pertunangan. Ditambah kabar tentang Kerajaan Moloia yang melakukan pergerakkan militer di negeri-negeri tetangga, itu membuat kondisi benua Michigan sedikit memanas dalam hal politik masing-masing negeri.


 


 


Meski belum ada tanda-tanda jelas adanya konflik militer, namun setiap negeri memang dengan pasti menggerakkan pasukan ke negeri-negeri tetangga untuk sabotase dengan hati-hati dan masih pada taraf menghindari perang. Entah itu Felixia, Moloia, Urzia, Ungea, atau bahkan Miquator, semuanya mengirim pasukan ke wilayah perbatasan masing-masing untuk meningkatkan keamanan.


 


 


Dalam penjelasan tersebut, hanya wilayah Luke di Kerajaan Felixia saja yang belum sepenuhnya meningkatkan keamanan. Meski sudah ada kejadian buruk seperti rencana pembunuhan pewaris keluarga Luke, para bangsawan di wilayah tetangga masih tidak menunjukkan tanda-tanda untuk membantu. Bahkan para bangsawan dan konglomerat di wilayah Luke sendiri belum ada yang melakukan pertemuan untuk membahas hal tersebut.


 


 


Lambatnya respons wilayah Luke pada perubahan kondisi politik Benua Michigan disebabkan oleh dua hal. Pertama, Dart Luke sebagai Tuan Tanah wilayah Luke sedang dipanggil ke Ibukota untuk melakukan rapat penting. Karena itu para bangsawan tidak bisa mencetuskan sebuah tindakkan karena itu akan dianggap sok memimpin dan mendapat kesan buruk di kalangan bangsawan.


 


 


Penyebab kedua adalah karena masalah bandit yang baru selesai serta Raja Iblis Kuno yang tiba-tiba muncul. Memang kedua hal tersebut telah selesai dan bisa menambah nilai tambah Kerajaan Felixia di mata negeri-negeri tetangga, namun itu hanya berlaku kalau Perjanjian Keempat Negeri masih berjalan seperti semestinya.


 


 


Jika perjanjian itu diacuhkan, Kerajaan Felixia yang telah mengalahkan ancaman dunia bisa saja tidak dipedulikan dan malah dianggap melemah karena telah kehilangan kekuatan militer sebab munculnya Raja Iblis Kuno tersebut.


 


 


Mendengar penjelasan-penjelasan itu dari ibunya, Odo sama sekali tidak bergeming dan merasa kalau semua itu memang masih dalam jangkauan rencananya. Pemuda itu memiliki banyak kartu rahasia untuk mengatasi itu, terutama hal untuk mencegah Moloia menjadi musuh dan mencegah agresi militer kerajaan dengan teknologi paling maju di benua Michigan tersebut.