
Sayap putih terbentak lepas di atas langit, terbang tinggi dan menghamburkan bulu-bulu ringannya yang dengan cepat hancur menjadi partikel cahaya. Dengan kecepatan yang tak terlalu tinggi, pemuda itu terbang sembari membawa perempuan rambut ungu bersamanya.
Menggunakan sihir manifestasi malaikat tersebut, tak butuh waktu lama Odo dan Putri Ulla untuk sampai di kapal Korvet yang jaraknya cukup jauh dari kota Mylta. Sesampainya pada tempat tersebut, pemuda rambut hitam itu segera menurunkan perempuan yang digendongnya di depan selayaknya Tuan Putri tersebut.
Saat Odo mengambil satu langkah ke depan, sayap bulu pada punggungnya mulai rontok dan hancur menjadi butiran partikel cahaya. Halo di atas kepalanya dengan segera lenyap, hancur tak tersisa dan energinya tertarik ke langit. Saat melihat itu, sekilas Putri Ulla terpana akan cahaya terang yang redup dengan cepat tersebut, terlihat lebih indah daripada sayap para Prajurit Peri yang cenderung warnanya tak murni.
Dinginnya permukaan lantai besi membuat kaki pemuda itu memerah, berpijak tanpa alas dan melangkah dengan tujuan yang jelas. Udara dingin di malam hari seakan langsung meresap melalui kulit, terus masuk sampai ke dalam hati. Dengan tatapan layaknya orang yang pernah berdiri di puncak kepemimpinan seorang diri, ia menghentikan langkahnya di tengah-tengah tempat tersebut.
Aroma busuk mayat tercium jelas, bau amis darah samar-samar masih tercium. Melihat ke sekeliling tempatnya berdiri, terlihat mayat bergelimpangan di atas batu karang dan ada beberapa yang mengambang di laut. Kapal kayu yang jaraknya tak jauh dari tempat Odo berdiri, terlihat benar-benar hancur dan terapat bekas api. Melihat semua itu, pemuda rambut hitam tersebut sejenak memejamkan mata dan memastikan apa yang telah terjadi di tempatnya berdiri sekarang.
“Begitu, ya ....” Pemuda itu mendongak ke atas, melihat langit malam yang terasa lebih gelap dari biasanya.
Pusaran awan penuh distorsi terus mengikutinya, mengakuinya sebagai penguasa dan siap memenuhi segala yang diharapkan Odo menggunakan energi dalam jumlah luar biasa yang terkumpul atas sana. Sekilas menarik napas dan menghentakkan kaki kanannya di lantai geladak kapal korvet, ia berbalik ke belakang dan menatap datar perempuan rambut ungu yang berdiri di sana.
“Apa kalian punya banyak kapal seperti ini?”
“Hmm ....” Langkah perempuan itu terhenti, enggan menatap langsung mata pemuda itu dan menjawab, “Diriku pikir tidak terlalu banyak. Jenis kapal seperti ini hanya ada beberapa saja.” Mengangkat wajah dengan rasa takut, Putri Ulla berusaha melihat langsung wajah Odo. Hanya sekilas, wajahnya langsung memerah dan segera berbaling. “Na-Namun kalau untuk kapal besar dengan plat baja dan menggunakan reaktor fusi, di-diriku rasa kerajaan Moloia punya satu armada khusus dengan belasan sampai puluhan kapal,” lanjutnya dengan sedikit gugup.
Satu armada bukanlah jumlah yang sedikit, Odo sangat memahaminya dengan jelas. Mengingat apa yang disampaikan Rhea tentang tidak adanya pengembangan angkatan udara dan senjata masif yang bisa terbang, pemuda rambut hitam tersebut sedikit menundukkan wajah dengan rasa lega. Memagang dagunya sendiri dan menatap ke arah Putri Ulla, Odo Luke kembali bertanya, “Apa di Moloia juga banyak Prajurit Peri atau senjata untuk angkatan udara?”
Perempuan itu menggelengkan kepala, memberanikan diri untuk menatap pemuda itu secara langsung. Menarik napas dalam-dalam dan meletakkan tangan ke dada, ia kembali melangkah sembari menjawab, “Dalam Mahia Sistem, larangan itu sangat keras tercantum.”
Ia menurunkan tangannya dari atas dada, menatap tanpa rasa takut dan terus melangkah mendekat. Dengan tanpa gemetar, Putri Ulla menjelaskan, “Saat orang-orang mengembangkan senjata atau teknologi untuk terbang, para A.I di sana secara serempak akan menyetujui penghancuran proyeknya.” Langkah kakinya terhenti, berdiri di hadapan Odo dan menatap seakan ingin menunggu pemuda itu kembali bertanya.
Sekilas kornea mata Odo berubah hijau, memahami sepenuhnya dan tanpa bertanya ia berbalik. “Begitu rupanya,” gumamnya pelan.
Putri Ulla terlihat bingung mendengar itu, ia memegang pundak Odo dari belakang dan bertanya, “Engkau tak penasaran soal itu? Apa dirimu tahu sebabnya?”
Saat langkah kaki pemuda itu terhenti dan menoleh ke belakang. Memberikan tatapan datar yang terlihat apatis, ia pun menjawab, “Kekuatan udara bisa mengubah alur peperangan di masa depan, menjadi semakin luas dan tak terkendali. Karena hal tersebut, langit dijadikan hal tabu untuk dikuasai. Ketika orang-orang mendapat kekuatan untuk terbang di langit, batasan negara, jarak, waktu, semuanya akan berubah. Mungkin mereka menyadarinya, bahwa dunia ini belum siap untuk itu.”
Putri Ulla terkesima mendengar itu, detak jantungnya menjadi kencang dan membuat wajahnya memerah. Ia pernah mendengar alasan seperti itu dari Rhea, namun itu adalah sebuah kesimpulan yang dikeluarkan oleh mesin kalkulasi sistem yang tidak bisa dibandingkan dengan makhluk hidup. Mendengar ada pemuda yang mengatakan itu secara langsung dari pemikirannya sendiri, Putri Ulla merasa memang pemuda di hadapannya tersebut adalah sebuah titik singulatitas.
“Lalu, apa engkau tahu mengapa pengembangan Prajurit Peri yang diriku lakukan tidak dilarang?” tanya Putri Ulla dengan penasaran menunggu jawaban pemuda itu.
“Hmm ....” Odo berhenti memegang dagu, sekilas memalingkan pandangan dan menjawab, “Kau menanamkan unsur Ageha ke dalam tubuh mereka, ‘kan? Famili kupu-kupu yang dalam mitos dekat dengan alam lain .... Kalau di dunia ini, jenis kupu-kupu itu juga tinggal di Dunia Astral dan beberapa spesiesnya bisa menyeberang ke Dunia Nyata. Setahuku, kalau tidak salah itu disebut kupu-kupu kematian.”
“Kalau di dunia ini?” Perempuan rambut ungu itu terlihat bingung, wajahnya memucat dan gerigi pikirannya bergerak dengan cepat memikirkan apa yang telah terucap dari mulur pemuda itu. Menyusun beberapa spekulasi, perempuan itu kembali bertanya, “Jadi kau benar-benar dari dunia sebelumnya .... Apa engkau pernah melihat jenis kupu-kupu itu?”
“Kalau spesies yang bisa menyeberangi dimensi, aku tak pernah melihatnya hidup-hidup, hanya beberapa sampel diawetkan saja yang pernah kupegang. Yah, lagi pula aku juga pernah membantu penanaman unsur seperti itu di masa lalu.”
Pemuda itu kembali melihat ke depan, tak menjelaskannya lebih lanjut dan terus berjalan ke arah anjungan kapal. Melihatnya melangkah pergi seperti itu, sekilas Tuan Putri Ulla melihat sebuah ilusi yang tercipta dari pikirannya sendiri. Untuk sesaat, Odo terlihat nampak seperti sedang menggunakan jubah lab putih dan warna rambutnya berubah merah. Berkedip sekali, ilusi semacam itu menghilang dan pemuda itu terlihat seperti sediakala.
“Dirimu sebelumnya bilang ..., para Prajurit Peri yang melayaniku itu belum mati. Apakah itu benar? Atau hanya salah kebohongan yang dirimu buat?”
Mendengar itu, langkah kaki Odo kembali terhenti dan mulai merasa kesal. Ia berbalik menghadap perempuan itu, menatap tajam dan mengepalkan tangan kanannya. Dengan mata melotot, pemuda itu berjalan ke arahnya dan mengangkat tangannya seperti akan memukul
“Hiii ...!” Perempuan rambut ungu tersebut segera membungkuk takut dan melindungi kepala dengan kedua lengan. Namun tangan Odo tidak menyentuhnya, ia berhenti dan mengurungkan niat untuk memukulnya. Segera melepas kepalan tinjunya, pemuda itu meletakkan telapak tangan ke kepala perempuan itu dan berkata, “Maaf, itu benar juga .... Ini bukan salah siapa-siapa, dari awal kalian sama sekali tak salah.”
Perempuan itu perlahan mengangkat wajahnya dengan bingung, menatap Odo yang sekilas terlihat sedih. Sorot mata pemuda itu seperti sedang menahan air mata, seakan ada sesuatu yang melarangnya untuk menangis. Segera memasang senyum kaku, Odo mengangkat tangannya dari kepala perempuan itu dan berkata, “Baklah, akan aku bawa mereka kembali ke dunia ini. Kalau lama-lama, koneksiku bisa saja putus dan mereka terjebak di sana selamanya. Untuk itu, boleh aku minta tolong?”
“Minta tolong?” Putri Ulla menatap bingung.
“Bisa kau membiarkanku menyalin Unsur Aktivasi Mahia Sistemnya?”
Meski dengan jelas mendengar apa yang diminta pemuda itu, Putri Ulla sama sekali tidak memahaminya dan merasa apa yang dikatakannya itu sangatlah tak masuk akal. Kening perempuan rambut ungu itu langsung mengerut, lalu dengan heran berkata, “Bicara apa dirimu? Unsur Aktivasi hanya bisa dibagi melalui keturunan dan sumpah kepada para A.I di kerajaan Moloia, itu bukanlah sesuatu yang bisa dibagi dengan mudah. Bahkan untuk diriku ini, mustahil membagi hak seperti itu.”
“Tenang saja!” Odo melipat kedua tangannya ke pinggang, memasang ekspresi penuh percaya diri dan berkata, “Akan kusalin aktivasimu. Pejamkan mata dan aktifkan itu dalam kondisi maksimal, selebihnya biar aku yang melakukannya.”
Putri Ulla kembali mengingat apa yang sebelumnya dilakukan Odo padanya saat di hutan. Manipulasi informasi, dari memberi dan mengubah informasi menjadi bidang yang dikuasai pemuda rambut hitam tersebut.
“Dirimu bahkan bisa melakukan itu, ya?”
“Ya, itu tidak sulit.”
Sejenak Putri Ulla terdiam, mempertimbangkan beberapa hal dan kemungkinan apa yang terjadi bila Odo mendapat Unsur Aktivasi tersebut. Merasa semuanya pantas untuk dipertaruhkan mengingat pemuda di hadapannya itu memang singularitas yang tercantum dalam Mahia Sistem, Putri Ulla dengan jelas mengangguk sekali.
“Baiklah, diriku akan percaya. Kita telah membuat perjanjian, sekarang diriku ini hanyalah budakmu. Akan kupatuhi semua perintahmu ....”
Sekilas Odo hanya memasang senyum simpul saat mendengar itu. Ia membuka dan menawarkan tangan kanannya, lalu dengan nada ringan berkata, “Ulurkan tanganmu dan aktifkan aktivasinya ....”
“Hmm ....”
Putri Ulla meraih tangan Odo, meletakkan tangannya ke atas telapak tangan pemuda itu. Memejamkan mata, perempuan rambut ungu itu perlahan masuk ke alam bawah sadarnya dan mulai membuka gerbang informasi aktivasi. Pada kening perempuan itu mulai muncul sebuah simbol Basque berwarna putih, lalu sekilas tekanan udara di sekitarnya berubah.
Melihat simbol tersebut, pemuda rambut hitam itu bertanya, “Sudah aktif sepenuhnya?”
Sebelum perempuan itu menyelesaikan perkataannya, Odo langsung memakai Aitisal Almaelumat untuk membaca semua informasinya. Dari ingatan sampai susunan genetik yang menjadi Faktor Aktivasi, semuanya pemuda itu baca dan dipilah sebelum menyalinnya. Dalam proses tersebut, tubuh Putri Ulla seakan diraba-raba oleh tangan besar dan dipelototi oleh banyak orang sekaligus. Terasa menjijikkan, mengerikan, dan menakutkan. Namun ada sebuah kehangatan di dalamnya, dalam proses tersebut terasa sebuah kepedulian untuk memahami sepenuhnya tanpa membantah satu pun unsur.
Selesai menyalin beberapa unsur yang diperlukan dan menyimpannya dalam informasi pasif di dalam otak, kornea mata Odo sekilas berubah hijau dan saat berkedip itu berubah kembali menjadi biru. Memasang senyum simpul, ia dengan ringan bertanya, “Eng, mungkin ini terdengar aneh dan sedikit telat, tapi kurasa ini cukup penting. Sebaiknya aku panggil kau apa? Putri Ulla? Atau sebaiknya Or’iama?”
Meletakkan tangan kiri ke depan dada, perempuan rambut ungu tersebut dengan penuh keyakinan menjawab, “Sekarang ini diriku adalah Ulla Vrog Ma’tar .... Meski jiwa yang menguasai raga ini adalah Or’iama, namun peranku adalah Tuan Putri ke-30 Kerajaan Moloia, putriku ini.”
Odo tidak terlalu memahami keteguhan semacam itu, namun ia mengerti kasih sayang seorang ibu yang diberikan kepada putrinya. Alasan Or’iama membuat salinan jiwanya di dalam putrinya sendiri bukanlah untuk mengambil alih tubuhnya, melainkan untuk melindunginya. Ia sangat mengerti bahwa dunia sangat kejam, menyeleksi makhluk yang ada tanpa kompromi atau mempertimbangkan latar belakang.
Karena itu, sebagai seorang ibu, Or’iama memberikan kesempatan pada Ulla untuk berhenti dan melempar semua kewajibannya untuk menghilang dari dunia. Tanpa harus merasakan kesedihan, penderitaan atau berputus asa. Karena hal itu jugalah, salinan kepribadian Or’iama hanya akan aktif jika raga Ulla saat masuk ke dalam kritis, sebab itu hanya berfungsi sebagai pelindung semata.
Sekilas memejamkan mata, pemuda itu merasa sedikit bersalah pada sang Raja Iblis Kuno, Odrania Dies Orion. Meski jiwa itu merupakan salinan yang tercipta tanpa kehendak Odo sendiri, namun tetap saja jiwa tersebut pantas untuk disebut seorang anak dan ia juga memanggil Odo dengan sebutan ayahanda.
Sejenak menundukkan kepala, pemuda rambut hitam tersebut merasa, “Kalau saja aku tak memangsa ingatannya dan membiarkannya memangsaku, mungkin itu tindakkan paling cocok sebagai seorang Ayah.” Tak sampai satu menit memikirkan hal tersebut, Odo kembali mengingat Seliari dan sesuatu yang tinggal di Awam Jiwanya. Mengangkat wajah, pemuda itu dengan teguh paham pilihan yang telah diambilnya memang sudahlah tepat. Sekejam atau seburuk apapun itu, Odo tak bisa menganggap itu salah karena itu sudah bukan miliknya sendiri.
Setelah menurunkan tangan perempuan di hadapannya, Odo mengangkat tangan kanannya sendiri tinggi-tinggi dan menunjuk pusat pusaran awan yang selalu mengikutinya. Mengaktifkan Unsur Aktivasi yang telah dirinya salin, sebuah lambang Basque hitam pekat muncul di keningnya dan mulai mengakses kapal besi tempatnya berdiri.
Melihat simbol yang muncul pada kening Odo dan mendengar suara aktifnya reaktor fusi mini pada kapal, mata Putri Ulla sempat terbuka lebar penuh rasa tak percaya. Dalam hitungan detik, pemuda itu bisa mengakses salah satu cabang Mahia Sistem dan mengaktifkan objek yang berada dalam susunan tersebut. Suara mesin terdengar dengan jelas, lampu-lampu di pembatas geladak mulai menyala dan menghapus kegelapan yang ada. Pada permukaan lantai geladak, bersinar garis-garis sirkuit merah yang menyalurkan energi dari reaktor.
Kapal korvet tempatnya berdiri memiliki struktur sama seperti senjata khusus yang dipegang oleh para Prajurit Peri, namun tentu jumlah struktur dan susunan yang ada lebih banyak dan dalam ukuran masif. Menjangkau setiap sudut kapal, menyalurkan energi yang dihasilkan oleh reaktor di ruang mesin.
Pusat dari semua sirkuit tersebut tertuju adalah Odo — Tepat di mana pemuda itu berdiri. Semua garis-garis merah pada lantai itu seakan hidup dan bergerak layaknya sekumpulan ular yang berbodong-bodong menuju sarang. Dengan cepat merambat ke kakinya, membuat tubuh pemuda itu dipenuhi oleh garis-garis merah aliran energi dan mulai terhubung dengan rajah Khanda pada bahu kanan.
Aliran dengan kuat memusat pada tangan kanan, terus membentuk susunan sampai penuh dengan sirkuit sihir. Membuka telapak tangan kanan yang terlulur ke atas, dengan lantang pemuda itu berteriak, “Mista Ceza! Open!”
Pusara awan mulai berputar, garis spiral semakin jelas dan gemuruh terdengar kencang. Dalam hitungan detik, petir langsung menyambar dari pusat spiral awal tersebut dan mengenai telapak tangan Odo. Sambaran petir tersebut tak putus, terus menyalurkan energi dari pusat distorsi ke atas telapak tangan pemuda itu.
Menggunakan susunan sirkuit pada kapal, pemuda rambut hitam itu menyalurkan beban yang seharusnya diterima tubuhnya ke lantai dan membuatnya terpencar. Hanya mengumpulkan energi murni berisi susunan informasi unik, sebuah bola petir biru tercipta pada di atas telapak tangan kanannya. Itu hanya sebesar bola sepak, namun memiliki kepadatan energi sangat tinggi dan gravitasi kuat dalam jangkauan sangat sempit.
Menarik napas dan mengencangkan otot tangan kanannya, Odo langsung menggenggamnya sampai hancur, menyerap energi murni tersebut dan mulai memakai Aitisal Almaelumat untuk mengubah susunan informasi yang ada. Saat ia kembali membuka telapak tangannya, bola petir yang hancur mulai tersusun kembali menjadi bola energi sempurna tanpa unsur apapun.
“Apa ... itu? Energi suci? Plasma? Atau ... Mana?” Putri Ulla tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sedikit melirik, pemuda rambut hitam itu ringan membalas, “Kau tahu kalau ini semua itu, ‘kan?”
Tak menjelaskan apa sebenarnya esensi dari energi yang dipegangnya, Odo Luke menghadap ke samping dan langsung menggelindingkannya ke lantai sampai menabrak pembatas geladak. Dalam hitungan detik, bola itu mulai memancarkan cahaya dan lingkaran sihir tercipta di lantai. Bersama dengan kabut yang meledak keluar dari lingkaran sihir dimensi tersebut, keempat Prajurit Peri muncul dan berhasil dipanggil dari dimensi kabut tak berujung.
Pakaian yang dikenakan mereka sedikit sobek, pada kulit terdapat beberapa bekas luka bakar ringan. Namun meninjau semua yang ada, keempat Prajurit Peri itu memang terlihat baik-baik saja meski seharusnya tubuh mereka telah hancur menjadi abu di langit kota Mylta. Pada saat itu, untuk pertama kalinya Odo melihat Rajah gabungan beberapa garis yang membentuk kupu-kupu pada punggung salah satu dari mereka.
Sinyal unik yang terpancar dari tubuh para Prajurit Peri dengan jelas Putri Ulla rasakan, membuatnya tak percaya Laura dan yang lainnya masih hidup setelah menghilang sepenuhnya dari dunia. Menatap ke arah Odo, dengan penasaran Putri Laura bertanya, “Engkau berkata mereka dikirim ke dimensi lain, kalau boleh tahu dimensi apa itu?”
“Sebuah neraka tak berujung ....”
“Hmm?” Putri Ulla tersentak gemetar mendengar perkataan yang terlontar datar tersebut.
Tak menjelaskan lebih dari itu, dengan ekspresi sedikit muram Odo melangkah ke arah para Prajurit Peri. Ia berjongkok di depan salah satu Prajurit Peri bernama Notmarina, lalu mengulurkan tangannya dan memegang kening High Elf rambut hijau pucat tersebut. Dalam hitungan detik, Odo memanipulasi beberapa ingatan tentang apa yang telah dilaluinya di dunia kabut. Beberapa hal dibalikkan, disesuaikan dan diubah supaya bisa menekan efek dari stres kematian tak berujung yang dideritanya.
Di dunia kabut yang tercipta dari jumlah pemadatan energi masif tak memiliki konsep waktu yang stabil, dengan kata lain waktunya bisa terus berubah-ubah tak menentu jika dibandingkan dengan Dunia Nyata. Dalam beberapa jam saat pertama kali para Prajurit Peri tersebut dikirim ke dunia kabut sampai sekarang, waktu di sana telah berlalu lebih lama dari itu.
“Lebih dari 8.960 jam, ya? Setahun lebih .... Perbandingannya memang tak stabil.” Odo bergumam dengan ekspresi kesal.
Putri Ulla berjalan mendekat, mendengar apa yang diucapkan pemuda itu dan bertanya, “Apa yang engkau bicarakan?”
“Tak apa, aku hanya ingin menyesuaikan efek sampingnya. Kalau mereka bangun tanpa penyesuaian, bisa-bisa mereka semua gila ...”
Pemuda itu kembali berdiri, berjalan ke arah Prajurit Peri lain dan memegang keningnya lagi. Menggunakan Aitisal Almaelumat, pemuda itu kembali memanipulasi ingatannya dan menyesuaikan efek dari dunia kabut. Tanpa mengatakan sesuatu yang penting lain, Odo melakukan manipulasi ingatan pada semua Prajurit Peri yang ada.
Selesai melakukan itu, Odo segera berdiri tegak dan mulai mengulat kecil. Menatap ke arah Putri Ulla, pemuda rambut hitam tersebut bertanya, “Urusanku di tempat ini sudah selesai. Eng, bisa kau mendekat ke sini sebentar?”
“Eh? Selesai?” Perempuan rambut ungu itu tidak sempat mengajukan pertanyaannya, merasa sedikit kecewa dan meluapkannya dalam bentuk pertanyaan, “Memangnya dirimu ke sini mau apa? Hanya untuk mereka?”
Odo dengan cepat memahami perubahan ekspresi wajah perempuan itu. Sekilas memalingkan pandangan dan tak memikirkannya, ia ringan menjawab, “Selain mengantarmu ke sini, sebenarnya aku ingin mencari sesuatu yang mungkin ada di kapal ini. Tapi, yah ....”
Pemuda itu menatap sedikit kecewa, sekilas mengangkat kedua sisi pundaknya dan berkata, “Setelah memiliki Unsur Aktivasi dan mengakses kapal ini, aku tahu kalau benda itu tak ada.”
“Memangnya apa yang kau cari? Sampai susah-susah mengantar diriku ini kemari dan mengembalikan mereka dengan utuh begitu ....”
“Itu rahasia.”
“Hmm ....”
Jawaban singkat pemuda itu benar-benar membuat Tuan Putri Ulla penasaran, wajahnya berubah cemberut dan dengan jelas memperlihatkan isi hatinya. Melihat betapa terbukanya perasaan salah satu makhluk Korwa tersebut, Odo hanya memasang senyum hangat layaknya seorang ayah yang baru saja bergurau dengan putrinya.