
Catatan: Cerita ini tidak cocok untuk anak di bawah 18 tahun. Cerita ini tidak bermaksud menggunjing atau merendahkan kelompok, ras, agama, atau pihak manapun. Penulis tidak memiliki maksud buruk dalam pembuatannya.
Di depan bangunan Gereja Utama, Odo dan Fiola berdiri dengan suasana hati sedikit gelisah. Hari sudah mulai siang tetapi matahari masih belum terlihat jelas karena awan mendung yang mengisi langit. Melihat bangunan yang sebagian besar terbuat dari olahan semen dan batu bata hitam tersebut, nuansa Gothic terasa terpancar cukup kuat. Bangunan itu memiliki atap runcing dan terdapat simbol Soter dan Uios di puncaknya yang terbuat dari logam, genteng berwarna agak gelap dan dari luar dinding yang ada terkesan lebih mewah dari bangunan lain di kota karena memiliki warna-warnai kaca hias.
Sebelum Odo masuk atau melangkahkan kaki menaiki anak tangga, di depan pintu utama terlihat seorang pendeta pria bermata hijau yang mengenakan jubah putih dengan pelengkap Vestimentum. Pada kepalanya terdapat sebuah Mitra dan di tangan kanan dirinya memegang sebuah tongkat gembala berwarna keperakan dengan beberapa ornamen di ujungnya. Saat Odo melihat sulaman-sulaman pada jubahnya, sekilas ia tahu kalau pria tersebut bukanlah orang sembarangan karena jenis sulaman pada pakaian juga dapat menandakan status seseorang dalam pihak Religi.
Berdiri di sisi lain depan pintu masuk, terlihat juga Siska Inkara yang mengenakan pakaian tidak kalah khusus dan mencolok dengan pendeta pria di sebelahnya. Ia mengenakan Alba dengan sulaman khusus berwarna merah pada lengannya. Berbeda dengan pendeta pria, Siska mengenakan Cappa Magna, sebuah jubah Mantel Kebesaran berwarna kebiruan sebagai tanda statusnya dalam pihak Religi kota.
Disambut oleh kedua orang yang terlihat sangat penting tersebut, Fiola terlihat semakin gelisah. Sebagai Huli Jing yang juga termasuk dalam Hewan Suci, dirinya cenderung tidak nyaman dekat-dekat dengan tempat dari kepercayaan lain. Menepuk ringan pundak gadis rambut cokelat kehitaman tersebut, Odo berkata, “Tak usah cemas, mereka sudah tahu aku akan datang.”
“Eh? Sudah tahu?”
“Hmm, kemarin aku meminta Mbak Imania mengirim surat pengantar. Dari detik ini baru akan dilakukan pembicaraan formal.”
“Tangan Anda cepat sekali .... Jadi ini alasan Anda meminta waktu persiapan, ya.” Julia menatap datar, sedikit menggerakkan alisnya ke atas.
“Bukan pembicaraan formal, wahai anak sang Saint,” saut pendeta pria. Ia berjalan menuruni anak tangga dari depan pintu sampai kakinya yang mengenakan sepatu indah menginjak tanah bersalju.
“Pembicaraan yang akan dilakukan adalah demi hamba-hamba yang butuh penerangan. Para domba tersesat yang dihasut negeri lain itu harus kita sadarkan ....”
Mendengar cara bicara yang layaknya seorang penganut yang taat, sekilas rasa bersalah menyerang Odo karena beberapa saat lalu ia menggunakan intonasi serupa untuk menghasut Lisia. Sedikit memalingkan wajah, ia melihat Fiola yang menatap dan seakan berkata, “Bagaimana rasanya?” dalam wajahnya.
“Andreass ..., engkau tak perlu berkata seperti itu. Kalau soal ketulusan menolong orang, Tuan Odo lebih tinggi darimu. Kalau tidak ..., tak mungkin dirinya membantu Panti Asuhan Inkara yang diriku rawat ....”
Siska ikut berjalan menuruni anak tangga dan berdiri di sebelah pendeta pria itu. Rasa penasaran Odo semakin menguat saat mendengar Siska berkata demikian, dengan jelas anak itu pun bertanya, “Apa Mbak Siska juga seorang Imam?”
“Imam? Bukan, bukan .... Imam di kota ini adalah dia, Andreass Rein.”
“Rein ....?” Kedua alis Odo terangkat saat mendengar itu/
“Perkenalkan ..., saya adalah Imam kota ini, Andreass Rein. Saya telah mendengar banyak hal tantang Anda dari Madan Siska dan Kakak Tercinta saya, Thomas Rein.”
“Ah! Adiknya paman Thomas, ya ....” Odo benar-benar baru mengetahui fakta tersebut. Sedikit memalingkan wajah, ia berpikir, “Berbeda dengan keluarga Luke, Rein memang punya keturunan banyak tapi kenapa ....” Odo kembali menatap dengan bingung, fakta bahwa pria itu dari keluarga Rein sudah cukup membuktikan kalau ia bukanlah orang yang mudah diajak berdiskusi.
“Ada apa, Tuan Odo?” tanya pria itu dengan ramah.
“Anda ... dari Keluarga Rein, bukan? Tapi kenapa ... di tempat seperti itu? Terlebih lagi menjadi ....” Odo benar-benar menunjukkan rasa enggannya pada Andreass, tatapannya sangat memperlihatkan hal tersebut.
“Oh, soal itu yang Anda pertanyakan rupanya. Memang benar saya dari Keluarga Bangsawan Rein, tetapi saya sendiri sudah lepas dari keluarga tersebut dan menjadi orang buangan setelah masuk ranah puritan. Yah, setelah meninggalnya Kepala Keluarga terdahulu dalam perang, saya yang masih sangat kecil saat itu dikirim ke gereja oleh kerabat untuk mengamankan nyawa saya dari perselisihan yang saat itu sedang memanas.”
“Kepala Keluarga terdahulu, ya .... Ngomong-omong, usia Tuan Andreass berapa?”
“Hmm, tahun ini sudah lebih dari tiga puluh,” ucap Andreass dengan sangat lembut dan santun.
“A!! Tiga puluh?! Tapi apaan wajahnya, muda sekali! Apa orang puritan awet muda semua!” benak Odo mendengar fakta tersebut.
“Tuan Odo ...., tidak sopan berbicara seperti ini di luar. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam?” ajak Andreass.
“Eh? Ah .... ya, tentu saja.”
Saat Odo dan pendeta pria itu melangkah menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam bangunan, Siska berkata, “Tunggu sebentar!” Itu membuat mereka berhenti dan menoleh secara bersamaan.
“Tuan Odo ..., apa Anda yakin soal ini? Surat yang sampai kemarin itu ..., apa Anda benar-benar yakin soal itu?” tanya Siska seraya menatap Odo dengan cemas.
“Tentu saja yakin, kenapa harus ragu?” tanya balik anak itu.
“Tapi ... kami ... Panti Asuhan Inkara sudah mengkhianati kepercayaan Anda. Bahkan salah satu anak panti asuhan adalah orang yang menusuk Anda dari belakang .... Kami ....”
Pada anak tangga ke empat dari bawah, Odo berbalik dan menatap ke arah Siska dengan wajah sedikit muram. Ia paham apa yang ada dalam benak perempuan berambut pirang tersebut, rasa seperti itu sangat wajar timbul ketika seseorang tetap memberikan kebaikan meski telah mendapat perlakuan jahat.
“Jujur ... itu memang benar sangat menyakitkan ditusuk oleh orang yang pernah kuselamatkan .... Tetapi ... ini dan itu berbeda lagi urusannya. Aku melakukan rencana itu demi kepentinganku sendiri. Apa Mbak Siska sudah tahu tentang diriku yang ingin membuat kantor perusahaan?”
“Ya ..., Nona Lisiathus pernah berbicara soal itu pada saya .... Katanya Anda sudah membeli tanah dan mendapat surat izin. Tapi ... jujur saya tidak bisa melihat Anda sebagai orang yang serakah dan hanya menginginkan uang.”
“Bukan uang yang aku cari, tapi kepercayaan dari rakyat,” ucap Odo tegas. Mendengar itu, baik Siska atau Andreass terkejut dan sedikit mulai paham orang seperti apa Odo Luke itu sebenarnya.
“Nona Siska, apa Nona sudah tahu tentang penyerangan yang akan dilakukan oleh Moloia satu tahun lagi?”
Perempuan itu sama sekali tidak bergeming saat anak itu mengubah cara memanggilnya. Ia tetap memasang wajah dengan penuh rasa bersalah dan gelisah. “Ya ..., katanya Anda mendapat informasi itu dari salah satu orang Moloia,” ucapnya seraya sedikit menundukkan kepala.
“Yang pertama kali mereka serang adalah kota ini, tempat dimana Pedang Kerajaan Felixia berkuasa.”
“A—! Kota ini? Mengapa?!”
“Karena ini wilayah Luke dan paling dekat dengan kediaman Marquess. Saat ini kekuatan tertinggi dari Kerajaan Felixia adalah Dart Luke dan sosoknya itu menjadi ancaman bagi mereka karena namanya yang menggelegar saat Perang Besar. Demi mempertahankan wilayah ujung tombak ini, pertama yang harus dilakukan adalah memulihkan kestabilan pemerintahan, lalu baru memulihkan perekonomian dan setelah itu baru membangun kekuatan. Setelah tahap-tahap itu selesai, baru dilakukan perencanaan strategi untuk bertahan dari serangan.”
“Jadi itu alasan anda ....”
Mengambil Rosario dari saku celana, Odo menunjukkan itu kepada mereka. Seperti saat waktu Lisia, mereka pun langsung paham benda apa itu dan sangat mengerti betapa penting nilai dan makna yang ada di dalamnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berdua langsung berlutut hormat pada anak itu layaknya seorang hamba.
“Tak usah seperti itu .... Aku hanya mendapat kepercayaan dari Ibuku, berdirilah.”
Mereka pun bangun dan berdiri dengan tegak. Ekspresi ragu entah mengapa hilang pada raut wajah saat Odo kembali melihat wajah mereka. Saat itu dirinya baru paham betapa pentingnya Rosario yang dirinya pegang dan beban apa yang ada di dalamnya.
“Tuan Odo, kalau begitu mari kita mulai pembicaraannya di dalam,” ucap Andreass.
“Ya ..., baiklah.”
Setelah mereka masuk yang pertama terlihat adalah Nave, sebuah tempat penuh bangku memanjang yang biasanya digunakan untuk para jamaah dan terdapat mimbar pada ujung. Tidak mengkhianati kesan yang ada di luar, di dalam nuansa Gothic terasa semakin kuat dengan desain-desain yang ada. Pilar-pilar marmer, lantai keramik dan kaca hias serta lilin yang menyala memberikan nuansa tersebut dengan jelas.
Di dalam terlihat beberapa biarawati dan pendeta yang sedang melantunkan doa, ada juga yang terlihat sedang merawat orang-orang yang jatuh sakit karena musim dingin. Kebanyakan orang yang ada di tempat tersebut adalah orang tua dan anak-anak, muda-mudi sama sekali tidak terlihat di antara mereka.
Setelah Odo masuk melalui pintu utama, anak itu langsung dipandu menuju ke ruangan belakang untuk melakukan diskusi. Ruangan utama hanya digunakan untuk mereka yang membutuhkan bantuan dan bukan untuk ruang diskusi, itulah yang disampaikan oleh Andreass saat memandu Odo dan Fiola.
Sampai di ruangan belakang yang tidak jauh berbeda dengan ruang dapur dengan adanya meja makan dan perapian, mereka duduk dan hendak memulai pembicaraan. Sebenarnya itu sudah tidak menjadi diskusi seperti apa yang Odo perkirakan, Siska dan Andreass sepenuhnya berniat membantu rencana anak itu karena Rosario yang ditunjukkannya tadi. Meski sudah disampaikan bisa saja rencana itu melenceng dari ajaran kepercayaan yang dianut mereka, tetapi kedua orang itu tetap pada pendirian untuk membantu Odo.
Alasannya sangat sederhana, itu karena kehendak Mavis Luke juga setara dengan seorang Uskup. Mendengar alasan yang keluar dari mereka itu tidak membuat Odo senang. Mereka seakan tidak berniat memikirkannya lebih dalam, tidak seperti waktu berbicara dengan Lisia yang sempat memberikan opini. Berusaha untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut, anak itu langsung melanjutkan penjelasan tentang rencana.
Apa yang hendak dilakukan Odo sangatlah sederhana, yaitu menimpa paham dari luar dengan kepercayaan yang ada di Kerajaan Felixa. Dengan menggunakan Pihak Religi yang diberikan bantuan dana oleh Odo dengan beberapa kristal sihir kualitas terbaik yang bahkan bernilai lebih besar dari anggaran pemerintahan, Pihak Religi diminta menjalankan ajaran mereka dengan intensif dan mulai membantu khalayak kota dengan dana tersebut.
Dalam langkah tersebut memang sudah wajar bagi sebuah gereja untuk membantu penganutnya. Tetapi dalam syarat yang Odo berikan bersama dana yang ada, ia menuntut mereka untuk menyatakan bahwa paham dari Moloia itu sesat saat membantu rakyat jelata nanti dengan dana yang ada. Meski hal tersebut akan berpengaruh pada posisi Pihak Pemerintahan yang namanya tercoreng karena Pihak Religi lebih aktif, tetapi paling tidak rakyat akan menjadi lebih percaya perkataan Pihak Religi dan menghindari paham dari luar tersebut.
Tidak ada jaminan pasti dari rencana tersebut, karena itulah Odo tidak meminta Pihak Religi untuk membantah paham dari Moloia itu secara penuh tetapi dengan mengganti unsur-unsur yang dapat mengganggu kepemerintahan Kerajaan Felixia. Paham Moloia cenderung ke arah meritokrasi, serta menentang teokrasi dan sistem monarki. Dari hal tersebut dengan jelas ada sebuah unsur yang bertentangan.
Kerajaan Felixia adalah Teokrasi Matrilineal, itu sudah jelas bahwa Kepala Negara juga dianggap sebagai perwakilan dari sosok yang maha agung. Dengan sebuah slogan seperti, “Menentang Ratu sama saja menentang Kehendak Langit”, hal tersebut sudah bisa sangat efektif untuk menganggap bawah paham dari Moloia yang ingin menurunkan pemerintahan yang ada itu sesat.
Memang dari dilihat dari manapun cara tersebut adalah licik, tetapi tidak ada yang berlawanan dengan kepercayaan Kerajaan Felixia. Memang benar Ratu atau keturunan perempuan dari Keluarga Kerajaan Utama dianggap sebagai perwakilan Langit dan paham yang ingin menurunkannya itu juga bisa dianggap sesat karena menentang hal tersebut. Meski Siska dan Andreass tidak menganggap cara tersebut salah, tetapi Odo sendiri yang memikirkan cara tersebut tidak menganggapnya benar. Nama Odo Luke dengan pasti akan semakin naik karena sumber dana yang ada dengan jelas terbeberkan untuk mengurangi potensi konspirasi yang bisa muncul namanya.
Odo tidak bisa memikirkan rencana lain lagi, itu sudah menjadi batas dari pemikirannya dan menjadi satu-satunya jalan yang bisa dirinya ambil. Meski itu dapat menolong banyak orang, tetapi fakta bahwa Odo mengambil keuntungan dari itu tidaklah bisa dihilangkan.
.
.
.
.
Selesai melakukan pembicaraan lainnya dengan Andreass dan Siska, Odo keluar dari bangunan Gereja Utama bersama Fiola. Mengantar mereka sampai ke gerbang depan, kedua orang penting dari Pihak Religi itu mesam-mesem seakan telah mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Odo merasa sedikit terganggu dengan ekspresi mereka yang sama sekali tidak berusaha menyembunyikan rasa senang.
Berhenti melangkahkan kaki, anak itu berbalik dan berkata, “Kenapa dari tadi senyam-senyum begitu? Sesenang itu’kah kalian karena mendapat dananya?”
“Hmm, bukan itu, Tuan Odo,” ucap Andreass dengan wajah ceria. “Hanya saja Anda memang anak yang persis seperti perkataan Kakak Tercinta saya,” lanjutnya.
“Paman Thomas?”
“Ya, waktu Kak Thomas selesai dengan urusannya di kediaman Keluarga Luke, ia sempat mampir ke tempat ini. Katanya ia benar-benar kagum pada pola pikir dan kecerdasan Anda .... Bukan hanya memiliki kekuatan, tetapi Anda juga memiliki pikiran yang tajam. Tuan Dart dan Master Mavis pasti sangat bangga dengan Anda.”
Odo hanya menatap datar mendapat sanjungan seperti itu, tidak ada satu pun dari perkataan yang meresap ke dalam hati atau membuatnya senang. Sedikit menyipitkan mata, anak itu tegas berkata, “Saya hanya memaksimalkan kemampuan. Tidak memanfaatkan kemampuan yang dimiliki itu sama saja dosa, Anda tahu ..., Tuan Andreass ....”
Perkataan itu sangat menusuk pria tersebut. Pria berambut hitam itu melepas Mitra di kepalanya, ia menundukkan wajah seraya berkata, “Maafkan saya jika itu membuat hati Anda tidak nyaman. Ini sudah menjadi ketentuan saat saya kehilangan hak dari sebagai Rein ..., tolong Anda bisa memahaminya.”
Siska dan Fiola terlihat bingung, mereka tidak mengeri apa yang sedang Odo dan Andreass bicarakan. Odo sedikit menghela napas dan mulai paham mengapa selama pembicaraan di dalam pria itu sama sekali tidak menunjukkan pemikiran tajamnya seperti halnya kebanyakan keturunan Rein miliki.
“Lahir dari keluarga terpandang memang penuh beban, ya ....”
Andreass terkejut mendengar itu, ia merasa menemukan sosok yang senasib dengan dirinya yang terbebani oleh asal-usul keluarga. Sedikit tersenyum simpul, pria itu berkata, “Tetapi itu pantas untuk diperjuangkan dalam hidup, Tuanku ....”
“Ya ..., memang. Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu ....” Odo berbalik, lalu kembali berjalan pergi dari tempat tersebut. Tetapi sebelum benar-benar keluar melewati gerbang, dirinya teringat sesuatu dan kembali berbalik.
“Oh, iya .... Nona Siska .... Nanti sore atau besok saya akan mampir ke tempat Anda, tolong pastikan mereka berkumpul ...., tidak seperti sebelumnya.”
Siska paham makna yang terkandung dalam perkataan tersebut, wajahnya langsung berseri dan segera menundukkan kepala dengan rasa hormat. Perkataan Odo juga berarti bahwa dirinya memberikan kesempatan kedua untuk kembali percaya pada Panti Asuhan Inkara yang pernah mengkhianati kepercayaannya.
Melihat anak kecil itu pergi bersama gadis berambut cokelat kehitaman yang masih misterius dalam benak mereka, sejenak Andreass dan Siska menarik napas lega dan bisa melepas rasa tegang. Saling menatap satu sama lain, mereka tersenyum tipis.
“Bagaimana? Aku tidak mengada-ada soal Tuan Odo, ‘kan? Beliau memang sangat unik ..., hatinya sangat luas sampai bisa memaafkan kami yang pernah mengkhianati kepercayaannya,” ucap Siska.
“Ya, memang sangat menarik. Tapi ... kamu jangan sampai mengkhianati kepercayaannya lagi, loh. Jaga baik-baik anak asuhmu itu supaya tidak berulah,” balas Andreass.
“Tentu saja!”
Mereka kembali menatap ke arah Odo pergi. Pada wajah pendeta pria tersebut, ia dengan jelas merasa bahagia seakan menemukan tuan yang pantas dilayaninya. Sifat bawaan dari Keluarga Rein yang memang lebih suka melayani orang yang mengagumkan memang ada dalam diri Andreass, hal seperti itu tidak bisa hilang meski dirinya telah lama keluar dari keluarganya.
“Sungguh anak yang mengagumkan .... Padahal usianya yang bahkan belum sepuluh tahun, ia sudah memiliki kekuatan dan pemikiran seperti itu .... Pada situasi dimana Ratu kita baru saja meninggal, mungkin Tuan Odo adalah sosok berkah yang diberikan Langit pada kerajaan kita,” ucap Siska dengan rasa bangga.
“Ya ..., saya setuju denganmu, Madam.”