
Kedua mata Luna terbuka lebar, Ia dengan cepat kembali teringat dengan salah satu bab pembahasan dari sebuah buku tua yang pernah dirinya baca di Miquator. Memikirkan kembali hal tersebut, ia dengan sedikit ragu balik bertanya, “Vegetatif …, membelah diri? Dikatakan itu cara reproduksi aseksual dari makhluk tingkat rendah, atau bisa juga dikatakan makhluk hidup paling sederhana.”
“Tepat!” Odo bertepuk tangan satu kali, lalu sembari melempar senyum kecil ia pun berkata, “Makhluk primordial itu merupakan bentuk kehidupan sangat paling sederhana, susunan mereka bahkan lebih sederhana daripada para Protozoa seperti Amuba, Paramesium, atau Cilliata. Jika dalam pemahaman para penyihir, makhluk primordial itu bahkan dalam Hierarki Pohon Kehidupan urutannya lebih rendah dari amoeba.”
“Pohon Kehidupan? Ah ⸻!” Luna mengingat sesuatu lagi dari salah satu makalah yang pernah dibuat oleh instrukturnya di Miquator. Itu berkaitan dengan apa yang Odo bahas tentang Pohon Kehidupan, mengungkapkan klasifikasi dan klarifikasi terkait jenis-jenis tingkatan makhluk hidup. Sembari meletakkan telapak tangan ke depan mulut dan menundukkan wajah, perempuan rambut cokelat kemerahan yang masih mengenakan piyama tersebut bertanya, “Apa itu ada kaitannya dengan penggolongan seperti Mamalia, Aves, Vertebrata, dan klasifikasi makhluk hidup lainnya?”
“Hmm, kurang lebih begitu.” Odo mengangguk ringan, lalu sembari mengangkat jari telunjuknya ke depan ia berkata, “Meski Kak Luna bilang hanya fokus pada bidang Alkimia, tapi Kakak juga tahu hal semacam itu, yah.” Ia segera menurunkan jarinya, menatap ramah dan sekilas mengaktifkan Spekulasi Persepsi secara terpusat kepada Luna.
“Tentu saja tahu, itu sedikit berkaitan dengan studi bahan-bahan untuk proses transmutasi. Ada beberapa kandungan hewan seperti lemak, darah, tulang, bahkan jantung hewan yang dipakai dalam beberapa ritual, tak aneh kalau seorang Alkemis punya sedikit pengetahuan zoologi. Bahkan ada juga loh logam atau kristal yang hanya didapat dari hewan tertentu.”
Mendengar hal tersebut, Odo sedikit heran karena Alkemis seharusnya berorientasi pada logam dan zat-zat kimia saja saja. Namun memikirkan beberapa zat seperti gelatin dari lemak hewan atau asam, ia bisa memaklumi hal tersebut karena di daratan Michigan tidak masih sulit mendapat zat-zat seperti itu dan harus mengekstrak sendiri dari alam.
Memikirkan dengan saksama kalimat terakhir Luna, Odo sesaat termenung. Ia merasa kalau hewan dengan unsur logam atau kristal yang disebut tersebut ada kaitannya dengan bentuk mutasi para monster atau hewan-hewan yang ada. Dirinya juga merasa ada kemungkinan para makhluk seperti itu dalam proses mutasinya menyerap unsur dari luar sehingga memunculkan varian.
Paham sekarang bukan waktunya memikirkan hal tersebut, Odo segera menarik naps kecil dan menatap ke depan. Sembari tersenyum simpul ia pun bertanya, “Setelah tahu hal itu, pasti Kak Luna sadar bukan? Alasan mengapa semua makhluk hidup sekarang memiliki banyak perbedaan dan bermacam-macam? Proses reproduksi aseksual dengan membela diri menciptakan perbedaan …. Karena tak ada jaminan hasil pembelahan melewati lingkungan yang sama dengan tubuh utama. Dalam legenda juga dikatakan, bukan? Istri Adam, Eva, terlahir dari tulang belakang suaminya. Adam adalah pria, sedangkan Eva adalah wanita. Perbedaan nyata sudah tampak dari awal pembelahan. Kurang lebih itulah gambaran kasar dari prosesnya.”
“Hmm ….” Canna tampak mulai memahami hal tersebut, mengerti kenapa bisa para makhluk hidup memiliki bentuk berbeda meski bersumber yang sama. Dari hal tersebut, ia mengambil kesimpulan, “Sebelum muncul makhluk dengan tingkat hierarki yang lebih tinggi atau bisa dikatakan makhluk dengan susunan lebih rumit, makhluk primordial tersebut telah membelah dari menjadi banyak dan masing-masing melakukan evolusi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Benar begitu, Tuan Odo?”
“Yah, kurang lebih seperti itu.” Odo menarik napas ringan. Ia sedikit cemas saat melihat mimik wajah Luna yang begitu serius menangkap materi tersebut, seakan-akan itu memang sudah menjadi sebuah fakta.
Tak ingin membiarkan perempuan itu tenggelam dalam pemahaman yang salah, Odo sedikit menambahkan, “Ini hanya teori, kita tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Bahkan Ilmu Arkeologi atau Sejarah pun tidak bisa benar-benar tahu apa yang terjadi sebenarnya saat dunia masih diisi dengan para makhluk tingkat rendah.”
“Hmm, memang …. Diriku juga paham itu!” Luna berhenti meletakkan tangan ke depan mulut. Segera mengangkat wajah dan menatap ke depan, ia dengan tegas bertanya, “Namun, saya rasa ini bisa dipakai untuk bahan percobaan. Jika memang semua makhluk hidup berasal dari akar yang sama, berarti jika dibalik kita bisa mencapai akar tersebut! Jika meneliti diri kita sendiri lebih dalam lagi, mungkin ada sebuah kebenaran lain yang akan terkuak!”
Mendengar hal tersebut, Odo sekilas mengerutkan kening dan memperingatkan, “Kak Luna, jangan coba-coba mencoba hal tabu seperti melakukan transmutasi dengan tubuh Kakak sendiri loh. Tubuh orang lain juga ….”
“Hmm?” Luna sedikit memiringkan kepalanya ke kanan, lalu dengan mimik wajah sedikit kesal bertanya, “Tentu saja tidak, apa Tuan Odo menganggap saya bodoh? Sebelum belajar bidang yang saya dalami ini, hal itu sudah diajarkan di dasar dan banyak contoh kegagalan dari para pendahulu.”
“Benar-benar ada lagi yang melakukan hal semacam itu,” benak Odo seraya perlahan memalingkan sorot matanya.
“Boleh … saya bertanya?” Di tengah pembicaraan, Opium yang terlihat pasif mulai mengangkat tangannya karena rasa penasaran.
“Silahkan saja,” jawab Odo ringan.
“Meskipun kita telah tahu kalau makhluk hidup berasal dari sumber yang sama, lalu apa kegunaannya untuk masyarakat atau lingkungan? Itu hanya berguna untuk penelitian mengejar Awal Mula saja, ‘kan?”
Sekilas mencermati pertanyaan itu, Odo sempat merasa heran dan dalam benak bertanya-tanya mengapa ia menanyakan hal seperti itu. Namun saat mengingat sihir yang dikuasai oleh Opium adalah atribut Air, Petir, dan Angin yang berkaitan dengan cuaca, Odo memperkirakan bidang yang dipelajari perempuan rambut cokelat keemasan tersebut berkaitan dengan agrikultur.
“Apa Kak Opium belajar sihir untuk pertanian?” tanya Odo untuk memastikan.”
“Eh?” Opium sempat terkejut karena pemuda itu bisa menebaknya dengan tepat, mengangguk sekali dan berkata, “Dulu saya belajar sihir awalnya untuk membantu kedua orang tua saya yang bekerja sebagai petani, studi yang saya dalami adalah sihir cuaca dan dasar dari sihir kehidupan.”
Mencermati perkataannya dengan baik-baik, Odo sekilas merasakan sebuah cerita kelam di balik alasan Opium memilih bidang sihir tersebut karena menggunakan kata lampau. Tidak mengusiknya lebih dalam, pemuda itu mengangkat jari telunjuknya ke depan dan berkata, “Tadi Kakak tanya untuk apa, bukan? Sebenarnya pengetahuan seperti itu tak terlalu berguna seperti ilmu terapan. Namun kalau digunakan dengan tepat, hal semacam ini bisa sangat berguna.”
Odo menurunkan jari telunjuk, menatap dengan sorot mata datar dan menjawab, “Ini berguna untuk mengetahui, menguak, dan memahami makhluk hidup dengan susunan informasi yang lebih padat dari kita. Dengan kala lain …, makhluk tingkat tinggi.”
“Makhluk … tingkat … tinggi?”
Baik Luna ataupun Opium, mereka terkejut karena tak berpikir sampai ke titik tersebut. Saat dipikirkan kembali, hal itu memang sangat mungkin bisa terjadi. Jika memang para makhluk primordial bisa berevolusi sampai membentuk para makhluk yang ada saat itu, pasti tak aneh kalau ada makhluk dengan tingkat lebih tinggi lagi.
Sadar kalau makhluk tersebut sudah ada di dunia, Opium dengan sedikit takut bertanya, “Maksudnya … para makhluk dimensi tingkat tinggi? Seperti malaikat …dan Dewa-Dewi?”
“Tepat ….” Odo bertepuk tangan satu kali, lalu dengan tatapan serius mengungkapkan, “Mereka pada dasarnya makhluk seperti kalian. Namun untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru mereka di dimensi yang lebih tinggi, mereka menjadi seperti itu. Apa kalian tidak mempertanyakannya? Mengapa para malaikat atau Dewa digambarkan seperti makhluk Mortal?”
Itu sekilas terdengar tak masuk akal bagi kebanyakan orang. Tetapi untuk mereka yang telah mendengar penjelasan Odo sebelumnya, Opium dan Luna tak bisa membantah pernyataan tersebut. Secara rasional itu bisa saja terjadi, banyak hal yang saling berhubungan dan itu juga berkaitan dengan banyak sejarah kuno yang hilang.
Melihat ekspresi tak percaya Luna dan Opium, Canna yang sedari tadi terdiam menepuk bahu pemuda di sebelahnya. Penyihir rambut putih tersebut mendekatkan mulut ke telinga dan berbisik, “Apa tidak masalah berkata seperti itu? Bukannya bisa gawat kalau Pihak Religi tahu? Anda bisa dianggap kafir loh ….”
“Ah …!” Ekspresi cemas Odo tampak dan ia mulai merasa sedikit berlebih mengungkapkan pengetahuannya. Bertepuk tangan satu kali untuk menarik perhatian Luna dan Opium, ia dengan segera menambahkan, “Ini hanya spekulasi saja, sungguh hanya apa yang aku perkirakan dan bukan berarti itu fakta. Jadi tolong jangan terlalu dipikirkan dalam-dalam, anggap saja itu sebuah cara pandang baru untuk kalian.”
Mendengar hal tersebut, Luna dan Opium malah merasa kalau apa yang dijelaskan Odo sebelumnya terdengar semakin nyata. Mereka secara serempak menatap datar, penuh rasa curiga dan merasa kalau pemuda itu masih menyembunyikan sesuatu. Tetapi saat paham mereka tak punya banyak waktu untuk kelas, tidak ada yang berusaha menguak apa yang disembunyikan Odo.
“Baiklah, saya akan mencari kebenarannya sendiri. Kalau tidak salah, Anda sekarang tidak punya terlalu banyak waktu, ya?” Luna kembali mengambil cangkir kopi yang sudah hangat dan meminumnya. Sembari memegang cangkir dan menatap datar pemuda yang duduk di hadapannya, pemilik Lokakarya Hulla tersebut bertanya, “Boleh saya lanjutkan kelas ini dan bertanya lagi? Anda tidak bisa menjelaskan dengan baik kalau tidak ditanya, bukan?”
“A⸻ Emm …, silahkan saja.” Odo merasa ditekan, tatapan Luna yang begitu ambisius membuat pemuda itu sampai memalingkan pandangan.
Opium mengambil cangkir kopi yang suhunya sedikit turun, meminumnya setengah untuk menghilangkan kantuk. Saat ia mengembalikan cangkir ke atas piring cawan, perempuan rambut cokelat keemasan tersebut bertanya, “Tuan Odo dan Kak Canna tidak minum?”
“Hmm, tentu saya minum.” Canna mengambil cangkirnya dan meminum kopi sampai habis setengah.
Berbeda dengan mereka, Odo tidak meminum atau bahkan mengangkat cangkir kopi yang disediakan untuknya. Ia hanya menatap datar ke cangkir, merasa ada kandungan lain di dalam kopi tersebut. Sekilas Spekulasi Persepsinya aktif, mendapat kesimpulan kalau memang ada zat lain yang tercampur pada kopi yang disajikan untuknya.
“Ah, kalau tidak salah ini juga pernah terjadi sebelumnya. Memangnya untuk apa sih dia memasukkan hal semacam ini?” benak Odo seraya melirik ke arah Canna.
Melihat kopi milik Opium dan Luna, Odo memastikan kalau memang kopi yang disajikan di depannya itu berbeda. Ia tidak mengungkapkan hal tersebut, hanya menarik napas ringan dan berkata, “Nanti aku minum. Kita lanjutkan saja pembicaraannya. Sekitar pukul sebelas aku harus pulang, kalau lama-lama nanti mereka yang ada di rumah bisa curiga.”
“Hmm, begitu ya ….” Opium sedikit heran mendengar hal tersebut.
Berbeda dengannya, Luna sekilas menatap datar ke arah Canna dan bertanya, “Padahal kamu yang paling semangat menunggu kelas ini, tapi kok malah diam saja dari tadi?”
“Tak masalah ….” Luna menggelengkan kepala, kembali mengangkat cangkir. Setelah meminum kopi sampai habis, ia pun kembali berkata, “Saya tidak terlalu pandai bertanya …. Lagi pula, apa yang ingin saya tahu sudah diwakilkan Kak Luna dan Opium.”
“Ya, sifatmu memang seperti itu.” Luna sekilas memalingkan pandangan, ia sedikit paham alasan lain mengapa Canna mengajaknya dan Opium untuk mengikuti kelas.
“Silahkan, tak masalah kalau itu menjawab rasa penasaran Kak Luna.”
Luna mengambil salah satu lembar perkamen di atas meja, lalu menunjukkannya ke arah Odo dan berkata, “Tolong jelaskan 12 Simbol Kuno yang tertera di sini …. Ini masih berkaitan dengan konsep makhluk hidup, bukan? Tolong jelaskan lagi, dengan detail!”
“Eh?” Kening Odo dengan cepat mengerut, merasa itu terlalu lama untuk dijelaskan secara keseluruhan. Dengan sedikit heran ia bertanya, “Apa penjelasannya masih kurang di sana?”
“Anda sendiri yang bilang, ‘kan? Ini materi untuk memancing pertanyaan, jadi tolong jelaskan lagi ….”
Mendapat tuntutan semacam itu, Odo sekilas menarik napas ringan dan merasa tidak bisa mengelak. Paham tidak punya banyak waktu, pemuda rambut hitam tersebut meminta kompromi, “Tiga dulu untuk hari ini, lainnya di pertemuan selanjutnya.”
“Eng ….” Sekilas Luna terlihat tak puas, dalam benak merasa tak bisa tidur tenang malam ini karena rasa penasaran. Paham tidak bisa memaksa Odo, ia pun menjawab, “Baiklah, itu lebih baik daripada Anda tak mau menjelaskannya.”
“Kalau begitu, mau membahas simbol kuno yang mana dulu?” tanya Odo.
“Ada tiga, berarti ….”
Memahami jumlah yang Odo berikan, Luna berusaha untuk tidak egois dan memutuskan untuk membaginya kepada kedua rekannya.
Canna, Luna, dan Opium berdiskusi memilih simbol yang ingin mereka tanyakan, memutuskannya bersama supaya tidak memilih simbol yang sama. Mereka saling benar-benar berdiskusi, memasukkan kemungkinan Odo tidak lagi memberikan kelas dan hanya memilih simbol dengan pengetahuan asal usul yang bisa berguna untuk penelitian mereka.
Setelah mereka mengambil keputusan dan Canna kembali duduk ke tempatnya, Luna segera bertanya, “Saya yang pertama, maksud dari simbol Triple Moon ini apa? Ini simbol adalah simbol yang ada pada bros gelar Expert Penyihir Miqutor. Dari penjelasan instruktur di sana, sejarah simbol terebut sangat samar dan mereka hanya mengatakan bahwa ini sebuah gambaran dari lambang kematangan seseorang.”
Canna lekas melepas Bros dan menunjukkannya sombol tersebut kepada Odo. Bukan tanpa alasan pemuda itu mencantumkan penjelasan singkat simbol tersebut dalam materi, ia hanya dari awal sudah tahu hal tersebut karena Mavis pernah bercerita kepadanya tentang penyihir-penyihir di Miquator dan dasar-dasar sistem pendidikannya.
Simbol Triple Moon sendiri seperti namanya, terdiri dari tiga tahapan bulang yang saling berdempetan. Bulan Waxing, Bulan Purna, dan Bulan Waning, melambankan siklus hidup seorang wanita dan juga bisa dikatakan sebuah lambang kematangan.
“Hmm, itu memang bisa diartikan lambang kematangan loh,” ucap Odo santai.
Kembali mengambil kertas perkamen, Luna menunjuk lambang Triple Moon dan dengan lantang berkata, “Di sini Anda berkata lambang kematangan hanya digambarkan oleh Bulan Penuh atau Purnama! Lalu dua simbol lainnya itu apa?”
“Baiklah, akan aku jawab …. Tunggu sebentar. “ Kening Odo sedikit mengerut.
Tak mengelak lagi karena merasa waktu bisa habis untuk hal seperti itu, ia sejenak memejamkan mata untuk menyusun kalimat seminimal mungkin dengan informasi padat. Memang dirinya bisa saja menggunakan Aitisal Almaelumat untuk mempercepat pembelajaran, namun ia merasa tak bagus melakukan hal tersebut secara berulang kali pada orang yang dirinya kenal dan memilih untuk menjelaskannya secara lisan.
Membuka kedua matanya, ia menatap kosong ke depan dan menjelaskan, “Triple Moon, pada dasarnya ini mewakili seorang Dewi yang digambarkan sebagai seorang wanita matang. Ini merujuk pada siklus bulan dalam tiga fase ⸻ Bulan Waxing, Bulan Purna, dan Bulan Waning. Ketiga fase tersebut merupakan simbol spiritual dan religius seorang dewi. Jika difokuskan lagi maknanya, itu mengandung makna perintah atau gagasan untuk menyelidiki sebuah realitas lebih dalam lagi.”
Sesaat Odo terhenti, menarik napas dalam-dalam dan kembali menjelaskan, “Dalam sudut pandangan kehidupan normal, Triple Moon juga identik dengan aspek feminin keilahian seorang Dewi seperti Intuisi atau wawasan secara psikis, hasrat kreativitas, serta kebijaksanaan dan daya pikat misteri. Itu juga melambangkan tiga tahap kehidupan wanita dari anak-anak, matang, dan tua.”
Odo kembali berhenti. Ia mengangkat jari telunjuknya ke depan, lalu dengan volume suara yang sedikit dinaikkan ia kembali menjelaskan, “Jika dibahas secara terpisah, simbol Triple Moon dibagi menjadi tiga pokok seperti yang telah aku sebutkan sebelumnya. Pertama adalah Bulan Waxing atau Sabit Muda, ini melambangkan kemurnian, masa muda, kehidupan baru, sebuah peremajaan, kegembiraan, pesona, dan sebuah ekspansi dalam kehidupan. Untuk Bulan Purnama, itu melambangkan kematangan seperti yang kalian tahu. Namun bukan hanya itu saja, purnama juga bisa mewakili kesuburan, potensi, kasih sayang, pemelihara, pelindung dan dominasi. Tak jauh dari unsur wanita. Untuk yang terakhir, Waning. Bulan Sabit Mati ini mewakili Crone atau nenek tua, berkaitan dengan fase peristirahatan. Ini juga mewakili kebijaksanaan, pengalaman, pengetahuan, pemahaman, penyelesaian, kematian dan kelahiran kembali. Beberapa orang sering tertukar saat membuat simbol bulan sabit, itu juga bisa mengakibatkan efek berbeda karena secara dasar maknanya juga berbeda.”
Untuk ketika lakinya Odo sejenak berhenti, sembari mengatur napas dan menurunjan jari telunjuk ia pun menambahkan, “Dalam keseluruhan, simbol Triple Moon menandakan sebuah Samsara …. Itu merupakan simbol siklus kematian, kehidupan, dan kelahiran kembali.”
Mendengar penjelasan Odo yang terkesan seperti air terjun, mereka bertiga hanya terdiam dengan mulut menganga. Masing-masing dari mereka segera mengambil kertas perkamen kosong dan pena dari atas meja. Dengan serempak mereka pun berkata, “Bisa tolong diulangi? Kami akan mencatatnya ….”
Odo menghela napas ringan saat melihat ekspresi bengung mereka bertiga, merasa kalau mereka dari tadi terlalu menganggap enteng materi yang dirinya berikan. Tak ingin membuang waktu untuk memarahi ataupun mengeluh, Odo pada akhirnya menjelaskan ulang semua itu dengan perlahan supaya mereka bisa mencatat dan memahaminya.
Mereka juga sempat memberikan beberapa pertanyaan terkait simbol Triple Moon tersebut selama penjelasan, sehingga Odo harus mengupasnya lebih dalam dan penjelasan menjadi sedikit meluas. Karena hal tersebut, sampai akhir kelas kesempatan untuk bertanya tiga simbol hanya bisa dijawab satu karena batas waktu yang ada.
Meski begitu, ketiga perempuan itu tampak puas karena bisa mengetahui makna yang lebih dalam dari simbol yang disandangkan bersama gelar mereka. Tak banyak dari Penyihir Miquator yang peduli pada hal tersebut atau mau melakukan penelitian pada hal membosankan seperti itu. Sebagian besar besar mereka cukup gengsi memilih topik utama dari pendalaman materi dan penelitian.
Namun ketika Luna, Canna, dan Opium tahu bahwa di balik lambang-lambang kuno memiliki makna yang lebih dalam dan dapat berguna untuk membangun sebuah susunan sihir yang kuat jika asal usulnya diketahui secara benar, mereka menjadi cukup tertarik untuk mempelajarinya demi perkembangan penelitian mereka masing-masing untuk mencapai Awal Permulaan.
\=============================
See You Next Time‼
Ngebut Update sebelum kesibukan datang!
Bulan Agustus Author harus magang soalnya!
Semoga masih sempat update terus …..
\====================
Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.
Tapi!
Dilarang promo di cerita ini!
Oke?
Bukannya pelit, hanya saja secara pribadi aku tidak suka orang yang suka melanggar batas-batas kebebasan dalam hal berkarya.
Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.
Di Facebook sudah ada tempat khusus.
Jadilah orang yang mencerminkan literasi tinggi, bukan tambah kayak pedagang asongan yang asal masuk ke bus.