
Meski Dart paham pemuda itu sama sekali tidak menunjukkan niat bertarung, namun hawa keberadaan iblis yang terpancar kuat darinya membuat Kepala Keluarga Luke tersebut tidak berniat menurunkan pedang. Fakta bahwa pemuda itu memiliki aura makhluk yang menjadi musuh umat manusia sudah cukup untuk membuat pria tua itu membasminya.
“Boleh aku pergi dari sini? Aku tak bermaksud menghadang kalian, tadi hanya kecelakaan tragis. Siapa juga yang menyangka akan jatuh ke atas batuan keras seperti tadi.”
Dart memedulikan perkataannya. Pria tua itu telah membatasi indra pendengarannya sendiri, lalu meningkatkan pesat persepsi instingnya. Mengambil langkah pembuka dan menambah intensitas Mana pada pedang pemadatan, Dart Luke langsung menggunakan teknik Langkah Dewa untuk mempersempit jarah.
Di mata para prajurit elite gerakan itu sangatlah cepat sampai tak bisa terlihat. Namun bagi Odo yang mengetahui konsep kerjanya, Dart hanya terlihat sedang melesat cepat ke arahnya menggunakan langkah lebar dan bersiap melancarkan serangan.
Odo menurunkan kedua tangan, meningkatkan persepsi dan indranya untuk melawan ayahnya sendiri dengan tangan kosong. Memasang kuda-kuda dengan melebarkan kaki kiri ke belakang dan menekuk lutut kaki kanan, pemuda itu membuka telapak tangan kiri ke depan untuk membidik sembari menyiapkan tinju dengan tangan satunya.
Sekilas Dart merasa tak asing dengan kuda-kuda yang digunakan pemuda itu. Namun tidak menghentikan serangan, pria tua tersebut mengencangkan otot lengan kanannya dan memantapkan pijakan kaki tepat di depan Odo. Tanpa ragu dan dengan sekuat tenaganya, ia langsung mengayunkan pedang secara vertikal.
Tebasan itu terlihat jelas oleh Odo, kecepatannya masih bisa diimbangi dan ia pun melancarkan tinju tangan kanan ke arah ayunan pedang. Pada saat yang bersamaan, dimensi penyimpanan pada sarung tangan diaktifkan untuk menyerap energi kinetik tebasan tersebut.
Teng!
Benturan keras terjadi, suara lantang terdengar bersama hembusan angin kencang yang tercipta. Merasa semacam sihir dalam sarung tangan pemuda itu, Dart segera mengubah posisi pergelangan tangan dan menggunakan teknik pedang lainnya. Pada waktu kurang dari satu detik tersebut, dengan refleks super pria tua itu menarik pedangnya ke belakang dan membuat momentum pukulan Odo tidak berarti.
“Pengubah Alur!”
Dart mengubah posisi kaki kanannya yang berpijak sebagai titik gravitasi melebar ke samping, lalu menekuk lutut kaki satunya untuk menurunkan posisi tubuh. Mengangkat pedang setinggi dada dengan ujung menghadap ke depan, ia langsung melancarkan Teknik Tanduk Tunggal ke arah tenggorokan pemuda itu.
Satu tusukan tersebut benar-benar mengincar titik vital dan penuh dengan niat membunuh. Pedang yang datang melewati bagian bawah lengannya masih bisa dilihat oleh Odo. Dengan reaksi cepat, pemuda tersebut mengepalkan tangan kiri dan menariknya ke belakang untuk mendapat keseimbangan setelah momentum serangannya dialirkan ke udara oleh Dart menggunakan teknik Pengubah Alur. Tepat sebelum ujung pedang pemadatan Mana menusuk lehernya, Odo mengayunkan tinju tangan kanan ke bawah dan memukul sendi suku Dart.
Itu membuat arah tusukan meleset karena tangannya menekuk ke atas. Sekilas Dart terkejut ada orang yang bisa bereaksi seperti itu pada detik-detik terakhir dan lepas dari kematian. Namun bukannya mundur untuk menyiapkan serangan lain, pria tua itu langsung melepas senjatanya dan membiarkan itu terlempar ke udara.
Dart memutar pergelangan, menghadapkan telapak tangan kanan yang telah melepaskan pedang ke arah dada Odo. Menggunakan momentum saat sikunya dipaksa menekuk ke atas, pria tua itu kembali menyerang.
“Teknik Tarung Tangan Kosong : Tangan Tanduk ….”
Tiga jari merapat, lalu pada jarak yang sangat dekat langsung melesat dan mematuk dada kiri Odo. Seketika gelombang energi kinetik destruktif merambat dan menyerang jantungnya. Beberapa pembuluh darah putus, membuat kesadaran pemuda itu seakan melayang ke udara dan kehilangan keseimbangannya.
Tak membuang kesempatan tersebut, Dart berhenti menekuk lutut dan berdiri tegak sembari melingkarkan tangan kanannya ke lengan Odo untuk menguncinya. Dart mencengkeram erat bahu pemuda itu. Memanfaatkan berat badan lawan, ia menjegal kaki dan membantingnya tanah dengan sangat keras.
“Ugh!”
Odo tak bisa langsung berdiri, beberapa organ dalam yang memang belum pulih sepenuhnya membuat tubuh pemuda itu tak bisa digerakkan setelah sirkulasi darah terganggu. Tak membiarkannya memberikan perlawanan, Dart menginjak dada pemuda itu dan menahannya ke tanah.
“Kenapa kau masih tetap hidup juga? Apa-apaan kau ini?”
Mendengar apa yang dikatakan Dart, pemuda rambut hitam tersebut sekilas memasang senyuman tipis seakan menertawakan. Memegang kaki yang menginjaknya, Odo menggunakan Unsur Aktivasi untuk memperluas jangkauan sihir dimensi.
Merasakan mobilitas Ether tak wajar di sekitar tempat berdiri, Dart segera sadar kalau pemuda itu mengaktifkan sihir lainnya. Dart membuka tangan kanan ke atas, lalu menangkap pedang pemadatan Mana yang sebelumnya terlempar ke udara. Menggenggam senjata dengan kedua tangan, tanpa ragu Dart langsung menebas kepala Odo sampai terbelah menjadi dua.
Darah muncrat, otak yang terbelah seakan meleleh keluar dari tengkorak bersama cairan merah kental. Mata biru pemuda itu keluar dari rongga, jatuh ke tanah bersama darah yang mengalir deras. Dengan sangat jelas, Dart benar-benar telah menghabisi pemuda rambut hitam tersebut. Pria tua itu melepas pedang pemadatan, mengubahnya menjadi aura yang kembali masuk ke dalam tubuhnya.
Namun sebelum pria tua itu mengangkat kakinya dari tubuh Odo, tangan pemuda itu kembali bergerak dan langsung mencengkeram kaki kanan Dart dengan erat. Seakan waktu diputar mundur ⸻ Darah, otak, tengkorak kepala, lalu organ-organ lainnya kembali ke tempatnya dan membentuk utuh kepala pemuda itu.
“A⸻ Dasar kau iblis‼”
“Kau seharusnya tak berkata seperti itu padaku ….”
Menggunakan sihir dimensi, Odo menciptakan distorsi dan langsung menelan kaki Dart ke dalam dimensi penyimpanan. Namun pada detik terakhir, pria tua tersebut menggunakan refleks super untuk menghindar dan meloncat ke belakang. Apa yang tertelan ke dalam dimensi penyimpanan hanya sepatu kulit pria tua tersebut.
“Kejamnya, padahal aku dari tadi bilang tak ingin bertarung loh.”
Odo kembali berdiri, kepalanya benar-benar telah beregenerasi hanya dalam beberapa detik saja. Dalam waktu singkat, kecepatan pemulihan pemuda itu telah naik ratusan kali lebih cepat dari sebelumnya. Para prajurit elite yang melihat kejadian itu bertambah waspada dan merasa harus ikut bertarung membantu sang Ahli Pedang. Sebagian ada yang menyiapkan sihir, lalu sebagian lagi ada yang bersiap dengan Battle Art mereka.
Dart yang sebelumnya menjaga jarak juga kembali mencitakan pedang pemadatan Mana. Kali ini bukan pedang biasa seperti sebelumnya, namun sebuah Katana beserta sarungnya diciptakan pria tua itu menggunakan teknik pemadatan Mana. Ia membungkukkan tubuh, lalu memasang kuda-kuda Iai ⸻ Teknik menarik pedang dari sarung.
Odo sekilas terkejut ayahnya menggunakan teknik pedang dari kekaisaran. Namun sebelum dirinya bertanya atau mengucapkan kalimat, kepala pemuda itu terputus dan lepas dari tubuh. Dengan kecepatan luar biasa, Dart telah menarik pedangnya dan menebas leher pemuda itu tanpa terlihat siapa pun.
Ia kembali memasang kepala ke atas leher yang terputus, lalu beregenerasi dengan cepat dan kembali menyambungkan saraf serta jaringan yang terputus. Sadar akan bahaya teknik Iai yang dilancarkan Dart, Odo segera meloncat mundur untuk menjaga jarak.
Dart seketika paham setelah melihat tingkat regenerasi tersebut. Menghilangkan padatan Mana berbentuk Katana, pria tua itu menciptakan sebuah palu perang dengan bagian pegangan cukup panjang untuk dipegang dua tangan.
Odo hanya memasang senyum tipis, merasa kalau ayahnya tersebut memang sangat berpengalaman soal pertarungan dan bisa mengetahui kelemahan regenerasi miliknya dengan cepat. Tebasan mematikan memang tak efektif, karena untuk mengatasi Instan Regen tersebut haruslah menghancurkan sel-sel yang ada dan anggota tubuh untuk memperlambat pemulihannya.
Di tengah suasana tegang tersebut, tiba-tiba seorang perempuan dengan penuh rasa penasaran bertanya, “Kakanda! Apa dia itu bentuknya seperti raksasa?”
Itu merupakan suara Putri Arteria yang datang ke barisan para prajurit elite. Segera menoleh ke belakang, Dart melihat sang Raja dan Pangeran datang bersamanya. Konsentrasi sang Ahli Pedang seketika buyar, membuat pengawasannya pada Odo lepas. Tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, Odo langsung berlari ke arah Dart sembari menyiapkan sihir dimensi pada sarung tangan kanannya.
“Orang ini …!”
Dart mengayunkan lebar palu perangnya, membuat Odo dengan mudah menghindari itu dengan menunduk dan langsung masuk ke dalam titik buta pria tua tersebut. Mengira pemuda itu akan menyerangnya dari bawah, Dart segera melepaskan genggaman tangan kanan dari palu perang dan hanya memegang dengan tangan kiri. Dengan segera, ia menyikut ke bawah meski harus kehilangan keseimbangan karena ayunan lebar menjadi tak seimbang.
Tetapi perkiraan tersebut salah, Odo tidak ada di sana. Saat tubuhnya tertarik ke depan oleh momentum ayunan palu perang dan berputar ke belakang, Dart seketika terkejut karena pemuda itu malah berlari ke barisan prajurit elite dan terlihat jelas ingin mengincar sang Raja.
Dart melepaskan palu perang dan membiarkannya terlempar sampai membentur dinding tebing. Langsung memantapkan kedua kaki ke bawah setelah berputar, pria tua itu segera menciptakan belati pada kedau tangannya menggunakan teknik pemadatan Mana.
“Teknik Lempar : Mata Elang!”
Kedua belati tersebut langsung dilemparkan Dart dengan sangat akurat meski posisi tubuhnya belum seimbang sepenuhnya. Odo menyadari aura membunuh yang terpancar bersama lemparan belati, ia segera bereaksi dan mengayunkan tangan kanannya ke belakang. Mengaktifkan sihir dimensi pada sarung tangan, belati-belati tertelan ke dalam dimensi penyimpanan dan seketika lenyap.
Itu memang tujuan utama Dart untuk membuat perhatian pemuda itu sekilas teralihkan. Sebelum Odo kembali fokus ke depan, salah satu prajurit elite dari samping kanannya langsung menubrukkan perisai besar ke arahnya. Itu tepat mengenai pinggang Odo dengan sangat keras, tubrukan tiba-tiba tersebut membuat tubuhnya terangkat dan kehilangan pijakan untuk menahannya.
Pemuda itu terus terdorong sampai menabrak dinding tebing dan tertahan oleh kedua sisi⸻ Perisai dan tebing yang keras. Saat Odo hendak melawan balik setelah kedua kakinya mendapat pijakan, prajurit dengan tameng besar tersebut langsung mundur dan digantikan oleh para pemegang tombak yang siap menusuk. Jarak jangkauan serangan tangan dan tombak terlalu jauh, membuat Odo tak bisa menghindar dan dihujani tusukan tiga tombak sekaligus.
Dada bagian kanan, paha kiri dan perut kanan, ketiga tombak tersebut menahan Odo ke dinding tebing. Secara serempak, ketiga prajurit elite tersebut mengangkat pemuda yang tertusuk tombak itu ke atas supaya tidak mendapat pijakan untuk melawan balik. Darah mengalir dari bagian tubuh tempat tombak menusuk, menetes ke zirah ketiga prajurit tersebut.
Sembari menyeringai tipis pemuda itu berkata, “Kurasa kerja sama kalian memang lumayan.” Meski telah terpojokkan ia tetap tersenyum, terlihat tak merasakan sakit dan benar-benar memandang rendah orang-orang yang melawannya seakan dirinya sendiri adalah makhluk yang lebih superior.
Mengulurkan tangan kiri ke arah mereka, Odo memanipulasi darahnya sendiri yang menetes ke zirah dan mengubahnya menjadi Aseton Peroksida. Darah yang tadinya cair dan berwarna merah seketika menjadi butiran kristal putih. Tanpa membiarkan mereka berpikir arti di balik perkataan yang dilontarkan, Odo segera menjentikkan jari dan mengaktifkan senyawa campuran tersebut.
Aseton Peroksida merupakan bahan peledak tinggi primer, mudah meledak dan terbilang tak stabil. Dalam hitungan detik, zat kimia tersebut langsung meledak dan membuat ketiga prajurit tersebut terpental ke belakang.
Zirah mereka hancur, tubuh mereka terkena luka bakar sampai sebagian besar kulit mereka melepuh. Rekan-rekan ketiga prajurit itu dengan segera membantu melepaskan zirah mereka yang terus mengeluarkan asap dan suhunya tak segera turun.
Pada saat yang bersamaan, Odo terjatuh ke bawah dan segera mencabut semua tombak yang menancap pada tubuhnya. Anehnya, kali ini regenerasi tidak aktif dengan kecepatan seperti sebelumnya. Luka tidak tertutup, darah terus mengalir keluar sampai membuat tubuhnya kekurangan darah.
“Apa ini? Kenapa tidak aktif seperti tadi? Apa aku salah memperkirakannya? Jangan-jangan ini … bukan Instan Regen?”
Odo ambruk ke tanah, tubuhnya berhenti bergerak dan sepenuhnya mati. Namun beberapa detik kemudian, seakan waktu diputar mundur semua darahnya yang berceceran kembali ke tubuhnya dan luka lubang tusukkan tombak dengan cepat tertutup kembali.
“Ini …?”
Odo segera paham kalau itu memang bukanlah Instan Regen, namun lebih cenderung ada hubungannya dengan Realm yang tercipta saat dirinya berubah menjadi Manifestasi Dewa untuk melawan para Prajurit Peri di kota Mylta. Namun dirinya memikirkan itu lebih dalam, salah satu prajurit elite dengan tameng besar kembali menyeruduk ke arahnya.
“Tch! Kau pikir aku akan termakan cara yang sama dua kali?”
Odo segera menyandarkan punggung ke tebing, lalu menyatukan titik gravitasi dengan tebing tersebut. Tingkat kekerasan dari tebing dimanipulasi, lalu disalurkan ke tubuhnya sendiri tanpa mengubah bentuk fisiknya.
Mengepalkan tangan kanan tanpa mengambil langkah maju, pemuda itu langsung melancarkan pukulan ke arah prajurit elite tersebut saat masuk ke dalam jangkauan serangannya. Suara benturan keras terdengar nyaring. Perisai besar yang terbuat dari logam keras seketika berlubang, lalu pukulan tersebut langsung membuat tubuh besar prajurit elite itu terpental jauh ke belakang dan hampir jatuh ke jurang di sisi lain jalan.
Kembali melakukan manipulasi objek dan melepas penyatuan objek dengan tebing di belakangnya, Odo segera melangkahkan kaki ke depan dan menerjang para prajurit elite yang sedang membantu ketiga rekannya melepaskan zirah. Menyadari pemuda itu mendekat dengan cepat dan bersiap menyerang, seorang Penyihir Elite dari di antara mereka segera mengangkat tongkat sihirnya dan mulai merapalkan mantra.
“Api, api, oh wahai perlambang kekuasaan. Mengusir segala kegelapan, membawa kehangatan dan menerangi jalan. Namun pada saat yang sama engkau adalah lambang kemurkaan. Pinjamkan kekuatanmu padaku dan berikan kemurkaan itu padanya⸻‼”
Sebelum penyihir dengan lapis zirah tebal tersebut selesai merapalkan mantra, Odo langsung melesat cepat dan mengurangi jarak sampai satu meter di depannya. Aitisal Almaelumat diaktifkan dan unsur manipulasi menyelimuti tangan kiri pemuda itu. Tanpa membiarkan penyihir elite tersebut bereaksi, Odo langsung meletakkan telapak tangan kiri ke atas permukaan zirah besinya.