Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 67 : Aswad 14 of 15 “Bangsawan, Kewajiban, dan Ambisi” (Part 03)



 


 


Arteria tersentak, terlihat panik karena tiba-tiba diajak bicara. Sembari memalingkan pandangan dan berusaha untuk tidak menatap langsung sumber aura kehidupan bagaikan raksasa tersebut, ia pun berusaha mengelak, “A-Arteria sudah menjelaskannya kok! Arteria sudah bilang kalau Anda adalah Odo Luke ….”


 


 


“Terus?”


 


 


“Ha-Hanya itu ….” Perempuan rambut biru tersebut terlihat begitu menyesal, mulai menundukkan wajahnya dan dengan suara lirih berkata, “Mereka tidak percaya-percaya dan malah bertengkar …. Arteria juga tak mengira akan menjadi seperti ini. Maaf ….”


 


 


Ekspresi Odo seketika berubah datar mendengar hal tersebut. Dirinya seketika paham kalau memang tidak mungkin sang Dewi Kota, Asmali Oraș, akan keluar di hadapan sang Raja dan menjelaskan kesalahpahaman menggantikan Putri Arteria yang masih anak-anak. Meletakkan telapak tangan ke jidat dan menghela napas, pemuda itu naik ke teras bersama Mavis.


 


 


Mavis berjalan ke arah Fiola dan suaminya, sedangkan Odo menuju Tuan Putri Arteria untuk kembali bertanya sesuatu. Namun, sang Pangeran langsung berdiri di hadapan menghalangi Odo.


 


 


Remaja rambut merah gelap tersebut mengaktifkan Inti Sihirnya, mengulurkan tangan kanan ke depan dan merapalkan mantra, “Wahai api! Ranah membara dalam jiwaku! Berkumpullah pada tapak ini dan jadilah tombak yang menunjam dada musuhku⸻!”


 


 


Sebelum Mana terkumpul dan perubahan sifat selesai, Odo memegang erat pergelangan tangan Pangeran Ryan dan menonaktifkan sihir tersebut menggunakan Aitisal Almaelumat. Pangeran terkejut karena sirkulasi Mana seketika terhenti dengan sendirinya, ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Odo namun tidak bisa karena selisih kekuatan fisik yang ada.


 


 


“Pangeran, tenanglah sedikit …. Bukan berarti aku akan melukai adikmu atau melakukan hal buruk padanya. Lihat Ayahmu, apa dia berusaha menyerang diriku ini?” ucap Odo dengan nada datar.


 


 


Saat tangannya dilepaskan, Pangeran Ryan langsung melangkah mundur dan menggandeng Tuan Putri Arteria untuk menjauh. Tatapan takut sekilas tampak pada sorot mata sang Pangeran, membuat Odo menghela napas karena kesalahpahaman semakin bertambah.


 


 


“Kakanda, jangan tarik-tarik Arteria …. Kenapa Kakanda gemetar seperti? Tuan Odo tidak akan melakukan apa-apa pada Arteria.”


 


 


“Adinda ….” Raut wajah Pangeran Ryan seketika tampak bingung, menatap Arteria dan dalam benak bertanya-tanya dengan sikap adiknya tersebut. Dengan nada gemetar ia pun bertanya, “Kamu kenapa, Adinda?!Apa kamu tidak takut dengannya? Di-Dia ⸻”


 


 


Raja Gaiel meletakkan tangannya ke pundak putranya, Pangeran Ryan pun segera menoleh. Melihat Ayahnya menggelengkan kepala, ia sejenak menarik napas dan berusaha menahan rasa takut.


 


 


Odo segera berlutut hormat di hadapan sang Raja, menundukkan kepala dan mulai menyanjung, “Selamat siang, Yang Mulia Gaiel Vi Felixia. Senang bertemu dengan Anda di kediaman Luke ini.”


 


 


Reaksi pemuda itu terasa begitu aneh, baik untuk raja atau semua orang di sekitarnya. Saat Odo mengangkat wajah dan menatap Raja Gaiel, sekilas kornea mata pemuda itu berubah hijau dan tanpa Spekulasi Persepsi aktif sebelum percakapan penting dimulai.


 


 


“Berdirilah dan jawab pertanyaanku ini. Apa engkau benar-benar putranya Dart?”


 


 


Odo segera bangun dan dengan nada ringan menjawab, “Tentu saja! Yang Mulia seharusnya tahu itu dengan sangat baik setelah melihat reaksi Ibu dan Ayahku, bukan?”


 


 


“Hmm, memang ….”


 


 


Sekilas suasana menjadi senyap. Percakapan tersebut membuat beberapa orang terlihat tegang menunggu keputusan sang Raja terkait kondisi calon tunangan Putri Arteria yang memiliki aura iblis.


 


 


Thomas Rein yang sedari tadi terdiam memberanikan diri untuk masuk ke dalam pembicaraan, ia melangkah ke arah pemuda rambut hitam tersebut dan bertanya, “Tuan Odo, bolehkah saya mengetahuinya? Kenapa bisa Anda saling kenal dengan Putri Arteria? Saat Anda ditangkap, saya tidak pernah melihat beliau menemui Anda ….”


 


 


Pertanyaan tersebut sedikit mengusik sang Raja, rasa penasaran pun kembali muncul dalam benak dan ingin mengetahui hal tersebut. Melihat ke arah Putri Arteria untuk memastikan, sang Raja pun bertanya, “Arteria, apa engkau sebelumnya pernah bertemu dengan pemuda ini? Jawab sejujurnya, putriku …. Ayahanda tidak akan marah.”


 


 


Thomas lekas menatap ke arah Putri Arteria, lalu dengan penasaran kembali menanyakan, “Apa benar Anda merasakan sesuatu semacam takdir dengannya, Tuan Putri?!”


 


 


“Ta-Takdir?” Arteria terlihat sedikit takut dengan aura kehidupan penuh rasa penasaran Thomas Rein, ia lekas bersembunyi di balik kakaknya dan menjawab, “A-Arteria tidak merasakan hal semacam itu ….”


 


 


“Lalu kenapa Anda bisa langsung percaya dengannya?” tanya Thomas memastikan.


 


 


Arteria sepenuhnya bersembunyi di belakang kakaknya, dengan suara sedikit gemetar ia menjawab, “Arteria pernah berbicara dengan Tuan Odo waktu rombongan istirahat di hutan tadi malam …, hanya itu.”


 


 


Itu terdengar sangat tak wajar untuk mempercayai orang yang hanya pernah diajak bicara satu kali. Raja Gaiel balik menatap ke arah Odo, memberikan sorot mata datar. Arteria bukanlah anak yang mudah percaya dengan orang lain, Raja Gaiel sebagai seorang ayah tahu hal itu dengan sangat jelas. Namun dari cara bicara dan sikap putrinya dari tadi, Arteria seakan-akan telah sepenuhnya percaya pada Odo Luke.


 


 


“Apa … yang telah kau lakukan pada Putriku? Apa kau memantrai Arteria?” tanya Raja penuh kecurigaan.


 


 


Mendengar hal semacam itu, Odo Luke langsung memalingkan pandangan dan terlihat malas untuk menjelaskan semuanya. Membunyikan lidah dan menatap kesal, tanpa menunjukkan kesopanan ia dengan tegas berkata, “Kau sama saja seperti Ayahku ya, Raja Gaiel …. Menyusahkan, apa susahnya percaya perkataan putrimu sendiri? Aku sudah lelah secara mental dan belum sempat istirahat sejak kemarin …. Jangan perpanjang masalah ini!”


 


 


Perkataan tanpa rasa sopan tersebut membuat semua orang di teras terkejut, begitu pula sang Raja. Berusaha tidak terpancing provokasi tersebut, sang Raja menyampaikan, “Ini penting untuk menentukan apakah engkau pantas atau tidak menjadi pasangan putriku, tentu saja diriku ingin memperjelasnya.”


 


 


“Untuk apa?” Odo menatap datar dan membuat sang Raja benar-benar tercengang. Melangkah mendekat dan tambah menatap tajam, sekali lagi Odo bertanya, “Untuk apa memangnya?”


 


 


Raja Gaiel sampai melangkah mundur mendapat tatapan tersebut, sorot mata Odo seakan melihat masuk ke dalam dirinya sampai ke lubuk hati. Saat keringat dingin mulai mengalir dari pipi, pria tua tersebut menjawab, “Engkau akan menjadi tunangan putriku. Menjadi seorang Raja dan mengamban masa depan negeri ini. Sebagai seorang Raja yang masih berkuasa, diriku memiliki kewajiban untuk memastikan engkau pantas atau tidak.”


 


 


“Wahai Raja …. Engkau sungguh yakin berkata seperti itu? Apa itu berasal dari dalam benakmu dan bukan kemunafikan?” Odo mengambil satu langkah ke belakang dan memasang senyum tipis. Sembari mengangkat tangannya dan menunjuk lurus sang Raja, pemuda itu kembali bertanya, “Bukan untuk segera melepaskan singgasana yang kau pegang sekarang? Karena kehilangan alasan untuk berkuasa setelah Ratu Dahlia berpulang, hasrat untuk menduduki kekuasaanmu seketika hilang dan rasa hampa menyelimuti ….”


 


 


Kedua mata Raja Gaiel terbuka lebar, ekspresi tenang yang selalu dirinya perlihatkan seketika runtuh. Giginya menggertak, sorot mata berubah tajam dan benar-benar termakan emosi karena zona privasinya terusik dengan pertanyaan tersebut.


 


 


 


 


Semua orang yang mendengar itu terkejut, itu pertama kalinya sang Raja yang biasanya terlihat tenang tersebut termakan emosi. Para tamu yang tadinya hanya menonton dari jauh mulai kembali ke taman, mereka terlihat penasaran dan heran mendengar suara lantang sang Raja.


 


 


Beberapa ada yang terheran-heran karena kehadiran pemuda rambut hitam tersebut, lalu beberapa lainnya ada yang menatap penuh rasa penasaran. Ada yang menganalisa dan ada yang memberikan tatapan tak suka. Di antara mereka semua, yang berani melangkah paling dekat hanyalah para Tetua Kerajaan dari Pihak Religi dan perwakilan dari wilayah-wilayah vital Kerajaan Felixia.


 


 


Sadar sebagai seorang Raja tak boleh kehilangan pikiran tenangnya di hadapan orang-orang penting di negerinya, Raja Gaiel menarik napas dalam-dalam dan sekilas melihat ke arah para bangsawan dan tamu yang berkumpul. Tidak mengatakan apa-apa kepada mereka semua, ia kembali menatap ke arah Odo dengan rasa tak senang dalam benak.


 


 


“Engkau … apa benar masih anak-anak? Cara bicara dan sorot matamu itu ….”


 


 


Odo menurunkan tangannya, memasang senyum ringan dan menjawab, “Menjadi seorang Raja menyusahkan, bukan? Apa istrimu tidak memperingatkan Anda soal itu, Raja?”


 


 


“Istriku? Memperingatkan?”


 


 


“Engkau tahu, Raja Gaiel ….” Odo meletakan jari telunjuknya ke depan mulut, memasang seringai lebar dan mengungkapkan, “Untuk naik ke singgasana dan menjadi seorang Raja tidaklah sulit. Memang tidak semua orang mampu untuk itu, namun banyak yang bisa mencapainya. Banyak orang Bijak yang pantas menjadi seorang pemimpin yang agung, itu dibuktikan di masa lalu dimana banyak Kerajaan berdiri. Lantas …, menurut Anda apa yang membuat orang-orang di masa ini tidak banyak yang berusaha mencapainya?”


 


 


“Tentu saja karena mereka tak punya ambisi. Seorang penguasa harus memiliki visi dan misi yang jelas! Demi bisa menyatukan pengikutnya!”


 


 


“Itu juga benar, namun bukan itu yang aku maksud.” Odo menurunkan telunjuk dari depan mulut, menatap datar dan berkata, “Seorang yang telah naik ke singgasana tidak diperbolehkan turun. Saat ia turun, itu adalah akhir bagi dirinya …. Orang-orang bijak yang mempelajari sejarah pasti paham hal tersebut.”


 


 


“Akhir? Maksudmu mati?”


 


 


“Hmm, itu benar. Kematian ….” Odo menyeringai gelap, melihat kedua tangannya ke belakang pinggang dan sembari sedikit membungkuk ia pun bertakat, “Raja Gaiel, kau pikir berapa banyak orang yang berkorban untukmu supaya bisa naik ke singgasana Anda sekarang? Berapa ratus? Berapa ribu?”


 


 


Pertanyaan tersebut seketika membuat Raja Gaiel teringat masa mudanya di medan perang. Tumpukan mayat, tangisan dan rintihan, serapah dari keluarga para prajurit yang meninggal di medan perang, dendam dan kebencian, semua itu terngiang di dalam kepala dan membuatnya gemetar.


 


 


“Ayahanda ….” Putri Arteria menarik pelan jubah Raja Gaiel saat melihat aura kehidupannya memancarkan rasa bersalah yang begitu kuat.


 


 


Sedikit tersentak dan menatap putrinya, Raja Gaiel menggelengkan dan berusaha melupakan masa lalunya yang kelam.


 


 


Melihat reaksi tersebut, Odo berhenti melihat kedua tangannya ke belakang dan berdiri tegak. Sembari tersenyum ringan ia kembali berkata, “Seorang Raja tidak akan mudah mati, meski ditangkap oleh kerajaan lain ia tidak akan langsung dibunuh. Apa Anda tahu alasannya? Tentu anda paham, bukan? Sebagai seorang Raja ….”


 


 


Raja Gaiel kembali menatap ke arah Odo. Menarik napas dalam-dalam, pria tua itu bertanya, “Engkau menuntut pertanggungjawaban? Memangnya kau punya hak ⸻?”


 


 


“Punya! Tentu saja punya!” Odo langsung memotong ucapannya dengan tegas. Sembari memasang mimik wajah kesal ia berkata, “Kau telah seenaknya menggunakan kedua orang tuaku layaknya seorang kacung!”


 


 


Odo melangkah ke depan dan menarik kerah pakaian Raja Gaiel, menatap dekat mata pria tua yang rambutnya telah menguban tersebut. Dalam rasa murka Odo dengan lantang membentak, “Kau pikir bisa turun dari singgasana dengan mudah, Raja Felixia!”


 


 


“Sudah cukup, Odo ⸻!”


 


 


Dart ingin menghentikan putranya, namun tangannya diraih Mavis dan berhenti. Menoleh ke arah istrinya, wanita rambut pirang tersebut menggelengkan kepala dan meminta Dart untuk membiarkan putranya mengungkapkan pendapat meski dengan cara yang salah.


 


 


Raja Gaiel hanya terdiam, balik menatap dan merasa heran karena putra kawan lamanya tersebut sama sekali tidak takut dicap sebagai pengkhianat atau dijebloskan ke penjara karena sikapnya tersebut. Meski kepada anak seorang Marquess sekalipun, hal semacam itu bisa dilakukan dengan mudah oleh seorang Raja.


 


 


Melihat sang Raja diperlakukan seperti itu, beberapa Prajurit Elite bergegas menghampiri dan hendak menangkap pemuda rambut hitam tersebut. Namun sang Raja mengangkat tangan kanannya ke arah mereka, meminta para prajurit tersebut berhenti sebelum naik ke teras.


 


 


“Memangnya kau punya kekuatan untuk menghentikan kehendakku? Apakah engkau punya wewenang untuk menghentikan diriku ini menyerahkan impian Kerajaan Felixia kepada generasi selanjutnya?” tanya sang Raja sembari kembali menatap Odo.


 


 


“Begitu, ya ….” Odo melepaskan kerah sang Raja. Melangkah mundur dan meletakan telapak tangan ke depan dada, pemuda itu dengan lantang berkata, “Jika kau bersikeras tetap ingin turun dari singgasana, aku di sini bersumpah akan menghancurkan Felixia! Meski kau tidak menunjuk diriku sebagai tunangan Putri Arteria dan memilih orang lain, aku bersumpah akan menghancurkan negeri ini saat kau menyerahkan kewajibanmu kepada orang lain‼ Dengan jiwa dan raga ini, akan aku pastikan kau mendapat akhir terburuk sebagai seorang Raja, Gaiel Garados!”


 


 


Bersama sumpah yang terucap tersebut, aura yang berbeda dari sebelumnya terpancar kuat dari Odo. Sejenis Dewa ⸻ Hawa seorang entitas dari dimensi tingkat tinggi terpancar sangat kuat menyingkirkan aura iblis dan naga yang sebelumnya menyelimuti pemuda itu.


 


 


Sebuah Halo muncul di atas kepala Odo, namun bentuknya berbeda dengan apa yang dimiliki malaikat karena terdapat semacam tanduk yang melengkung di kedua sisi lingkaran cahaya tersebut. Pada saat yang bersamaan, kornea mata pemuda itu berubah keemasan dan esensi sihirnya benar-benar berubah.


 


 


“Ketahuilah ini! Wahai Raja Manusia! Ada dua hal yang membuat seorang Raja turun dari puncaknya! Satu jalan adalah jalan kematian! Itu adalah cara paling damai yang bisa kau raih! Jalan terakhir adalah peperangan dan konflik!”


 


 


Suara itu menggema ganda, terdengar bagaikan peringatan ilahi dari langit dan benar-benar membuat Raja Gaiel mematung. Keringat dingin bercucuran, wajahnya memucat dan tidak bisa mengeluarkan suara. Setiap orang yang merasakan aura tersebut juga ikut gemetar dan terdiam membisu, jiwa mereka tunduk di hadapan aura makhluk tingkat tinggi yang terpancar dari Odo Luke.


 


 


Di antara semua bangsawan dan para tamu, seorang kakek-kakek yang mengenakan Vestimentum berlapis Kasula Biru melangkah ke depan dengan tatapan mata tak percaya. Ia sangat berbeda dari para Tetua lain lainnya dari Pihak Religi Kerajaan Felixia, sulaman benang emas dan pola pada pakaian kakek tersebut melambangkan statusnya dalam hierarki golongannya.


 


 


Ialah sang Archbishop, utusan utama dari Ibukota Kerajaan Felixia, Wolnir Yhoan. Kulit kakek berusia hampir 70 tahun tersebut terlihat sudah sangat mengeriput, matanya masuk ke dalam dan tampak begitu rapuh. Namun berkat salah satu berkah yang dirinya dapat dari Dewi yang disembah masyarakat Felixia, ia masih bisa berjalan cepat di usia tuanya dan terlihat begitu sehat.


 


 


Dengan ekspresi penuh harapan, sang Archbishop mengulurkan kedua tangannya ke arah Odo dan bertanya, “Aura makhluk dimensi tingkat tinggi itu …. Wahai pemuda yang lahir dari Penyihir Cahaya dan sang Ahli Pedang, apakah engkau seorang inkarnasi Dewa? Tolong jawab pertanyaan kakek tua ini ….”