Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 25: Mereka yang disebut pemimpin 1 of 3 (Part 03)



 


 


Pada salah satu bangunan gudang dekat dermaga, terlihat beberapa orang berkumpul dengan waspada sebelum memasuki ruang penyimpanan tersebut. Beberapa kotak kayu dibawa ke dalam, lalu pintu gudang ditutup rapat-rapat oleh mereka. Di dalam bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu itu terlihat ramai, di bawah pencahayaan lentera-lentera minyak yang digantung orang-orang di dalam sana mulai berkumpul ke tengah gudang untuk membicarakan sesuatu.


 


 


Di dalam gudang yang seharusnya untuk menyimpan hasil laut itu juga terlihat beberapa orang dengan pakaian ketat hitam yang berbaur dengan kelompok nelayan di daerah pelabuhan dan penduduk Kota Mylta. Orang-orang yang mengumpulkan mereka tidak lain dan tidak bukan adalah sekelompok organisasi yang mengaku sebagai pedagang dari Kerajaan Moloia, tetapi pada kenyataannya mereka adalah kelompok militer dari kerajaan tersebut.


 


 


Orang-orang dari kerajaan Moloia itu terlihat seperti siap untuk berperang, mereka yang jumlahnya tidak lebih dari sepertiga jumlah orang yang berkumpul semuanya mengenakan pakaian hitam ketat dengan rangkap zirah yang dipasang fleksibel dengan pakaian yang mereka kenakan. Pada bagian sekitar sendi pakaian tempur mereka dipasang zirah rantai untuk menutupi sela zirah ringan, dan pada punggung terdapat senjata yang dibungkus kain putih.


 


 


Jumlah orang-orang tersebut tidak lebih dari sepuluh orang, tetapi dari pihak kelompok nelayan yang datang lebih dari belasan orang dan ditambah beberapa penduduk biasa dari anak-anak sampai orang tua.


 


 


Salah satu orang dari pihak kerajaan Moloia membuka kotak kayu yang sebelumnya dibawa masuk, lalu menunjukkan zirah fleksibel berwarna hitam seperti yang mereka pakai pada semua orang yang datang. Zirah itu adalah peralatan khusus dari kerajaan Moloia, dibuat dengan mengutamakan mobilitas dengan hanya memasang pelat zirah pada lengan sampai siku, lutut, dan bagian dada serta punggung saja, selain bagian itu hanya dilindungi oleh zirah rantai yang dirangkap dengan pakaian ketat.


 


 


Seorang pria berbadan kekar dengan tinggi dua meter lebih berdiri di depan kotak yang dibuka, lalu menarik napasnya dalam-dalam dan mulai berbicara dengan suara lantang, “Ini semua untuk kalian! Momen ini akan sangat krusial! Dengan revolusi yang kita bawa, keadilan dan kesetaraan akan dijunjung tinggi di negeri monarki ini! Kita harus menjunjung keadilan dan keseteraan! Seperti impian para saudara sekalian, kita akan memulainya dengan kota ini!”


 


 


Mendengar ucapan pemimpin berambut hitam tersebut, para nelayan dan orang-orang yang terhasut benar-benar bersorak mendukung. Mereka semua menginginkan sebuah perubahan sistem pemerintahan, ingin mengganti kekuasaan Kerajaan Felixia yang cenderung memihak para bangsawan ketimbang rakyatnya sendiri.


 


 


Di antara sorakkan ramai dan penuh ambisi tersebut, berdiri Nanra yang juga ikut mendukung kepentingan revolusi yang dijunjung orang-orang tersebut. Anak berambut putih itu hanya terdiam dengan tatapan gentar, rasa bersalah dan gelisah membuatnya hanya berdiri terdiam di antara orang-orang radikal tersebut.


 


 


Salah satu orang dari kerajaan Moloia menekati gadis kecil itu dari belakang, lalu menepuk pundaknya seraya berkata, “Rencana kali ini bergantung padamu, nak. Kau yang pernah bertemu dengan anak Marquess itu pasti bisa mendekatinya dengan mudah. Saat itu, tusukkan ini padanya dan rencana ini akan dimulai.”


 


 


Mendapatkan pisau hitam berlumur racun dari perempuan berpakaian hitam yang menghampirinya itu, Nanra tambah gemetar ketakutan. Dirinya ikut dalam kelompok radikal tersebut bukan hanya karena terbawa suasana saja, kebencian dalam benaknya kepada bangsawan sangatlah berperan besar pada dirinya. Tetapi saat diperintahkan untuk membunuh anak Marquess dengan tangannya sendiri, rasa ragu dan takut benar-benar mengisinya.


 


 


“A-Apa kita memang perlu membunuh anak Marquess itu?” ucap gadis kecil tersebut dengan gemetar.


 


 


Mendapat pertanyaan polos dan lugu darinya, perempuan rambut cokelat yang menyerahkan pisau kepadanya tersenyum dalam hati seakan menertawakan gadis itu. Ia menepuk pundaknya, lalu kembali berkata, “Tentu saja, ini demi memutus garis keturunan bangsawan yang selalu menindas rakyat lemah. Kita harus mengakhiri sistem monarki ini.” Ucapan tersebut begitu masuk akal di telinga Nanra, dirinya tak tahu kalau hanya dimanfaatkan mereka. Rasa benci dan dendam yang ada membuatnya buta akan tujuan yang sebenarnya orang-orang itu rencanakan.


 


 


Perempuan berpakaian ketat berbalut zirah itu berdiri di hadapan Nanra, mendekatkan mulut ke telinganya, lalu berbisik, “Jangan cemas, ini keadilan yang kita junjung. Kita bukanlah kejahatan, apa yang kau lakukan bukanlah dosa, Nak.” Perkataan itu langsung mempengaruhi gadis kecil itu layaknya sebuah sugesti kuat yang tak bisa dibantah, tatapnya berbuah kosong dan ia pun mengangguk patuh.


 


 


Melihat ekspresi yang ada pada gadis kecil tersebut, perempuan rambut cokelat itu tersenyum lebar dan langsung berbalik menuju pimpinannya yang sedang membagikan perlengkapan pada orang-orang yang akan dimanfaatkan untuk rencana pembunuhan anak Marquess. Mereka berencana menggunakan mereka sebagai kambing hitam dan membuat konflik internal sebelum penyerangan utama yang akan dilakukan pada musim semi nanti.


 


 


««»»


 


 


Di lain tempat. Keluar dari bangunan Kantor Pusat Pemerintah Kota, Odo sedikit menghela napas ringan dengan lega karena salah satu rintangan tersulit dari rencananya telah terlewati. Berbalik dan melihat ke arah bangunan, ia tersenyum kecil dengan rasa senang karena menemukan partner yang menarik dalam pembicaraan sebelumnya.


 


 


Memasukkan tangan ke dalam saku celana, ia mengambil surat pengantar yang pada awalnya direncanakan untuk diserahkan saat pembicaraan. Tanpa ragu sedikit pun anak itu merobek surat tersebut, dan membakarnya menggunakan sihir atribut api dari Hariq Iliah sampai kertas perkamen itu menjadi abu dan lenyap tertiup angin.


 


 


Melangkahkan kaki dan kembali memikirkan tahap selanjutnya dari rencana, anak itu memutuskan kembali ke Panti Asuhan Inkara terlebih dulu untuk memeriksa pekerjaan Siska dan Julia. Menyusuri jalanan kota yang tertutup salju dan terlihat memutih, anak itu melihat beberapa orang yang sudah mulai melakukan kegiatan rutinitas.


 


 


Ada beberapa yang baru saja kembali setelah mengambil air bersih dari danau buatan yang sebagian airnya membeku, ada yang terlihat membawa hasil buruan berupa babi hutan, dan ada juga beberapa gerobak pedagang keliling dari luar kota. Melihat semua itu, Odo sangat paham kalau kota tempatnya berada sekarang masih memiliki potensi kuat untuk tetap maju.


 


 


“Yah, kalau dimaksimalkan pasti bisa .... Masalahnya hanya soal pengolahan dan rute. Berbeda dengan jalur laut, jalur darat cenderung lebih berbahaya dan lama ditempuh. Yang dibutuhkan untuk memajukan kota ini pertama pengamanan rute darat, lalu baru metode pengawetan produk  yang akan dijual nanti ....”


 


 


Saat dirinya memikirkan cara-cara lainnya dalam kepala, tanpa disadari dirinya telah melewati tempat tujuan. Odo berdiri di daerah dekat dermaga dengan laut yang membeku dan kapal-kapal yang tidak bisa berlayar karena terjebak es. “Ah, aku melamun lagi?” benak anak itu seraya melihat melihat ke arah laut lepas dengan tatapan kosong, sedikit merasakan nostalgia aneh dalam benak seakan dirinya pernah melihat pemandangan laut beku tersebut.


 


 


Odo berjalan di atas dermaga kayu dan pergi menuju ujungnya, lalu melihat ke arah laut yang sebagian besar membeku sampai batas laut lepas. Sedikit memasang senyum simpul pada wajah, anak itu bergumam, “Indahnya .... Padahal tempat ini indah, tetapi kenapa masalahnya banyak sekali ....”


 


 


Jleb!!


 


 


Sebelum menyadarinya, sebuah pisau tiba-tiba menancap pada punggung Odo. Itu tepat sasaran tembus dari belakang dan menusuk jantungnya. Sensasi hangat yang mengisi dadanya langsung terasa, dan pada saat bersamaan rasa sakit luar biasa membuat tubuhnya gemetar.


 


 


Ia tidak sempat mengurangi rasa sakit dengan mematikan indra atau menyiapkan sihir regenerasi, itu terlalu tiba-tiba dan bahkan dirinya tidak sadar kalau ada seseorang yang mendekatinya. Menoleh ke belakang, Odo terkejut melihat siapa yang menusuknya.


 


 


“Nan ... ra ....?”


 


 


Gadis kecil berambut putih itu membuka tudung jubahnya putihnya. Sekilas Odo melihat partikel berwarna putih cerah yang mengelilingi Nanra, dirinya langsung tahu kalau itu merupakan salah satu sihir kamuflase dari atribut alam untuk menyamarkan keberadaan dengan lingkungan.


 


 


Nanra memutar pisau yang menancap pada tubuh Odo, lalu tambah mengoyak jantung anak berambut hitam itu. Saat pisau dicabut darinya, tubuh anak itu langsung lemas dan darah berceceran di atas lantai kayu dermaga. Berusaha menggunakan Instan Regen untuk menyembuhkan luka dan meregenerasi jantung yang terluka parah, tiba-tiba rasa lemas terlebih dulu menyerangnya. Racun yang ada mulai aktif, menyerang pembuluh darahnya dan membuat seluruh ototnya kejang dan pernapasan menjadi kacau. Matanya memerah, darah keluar dari hidung dan telinganya.


 


 


Mendapat serangan pada bagian vital tanpa persiapan benar-benar diluar perkiraan anak itu, sihir pertahanan dan sistem sihir regenerasi tidak sempat dirinya siapkan. Dengan pandangan yang mulai buram, anak itu menatap ke arah gadis di hadapannya yang membawa pisau hitam di tangan.


 


 


Tatapan gadis bermata biru keunguan itu terlihat sedih, berkaca-kaca dan terlihat seperti tidak ingin melakukan apa yang dirinya lakukan sekarang. Berusaha bertanya pada gadis itu, Odo muntah darah dan tubuhnya langsung ambruk ke lantai dermaga. Darah mengalir, membanjiri sampai merembes dan menetes ke permukaan air beku di bawah dermaga. Tubuhnya tidak bergerak, kaku dan tatapannya kosong dengan posisi tengkurap.


 


 


Melihat Odo terbaring bersimbah darah seperti itu, kedua kaki Nanra langsung lemas dan dirinya duduk berlutut dengan rasa sesal yang mulai mengisinya. Ia meneteskan air mata, tetapi setelah itu senyum penuh rasa putus asa nampak pada raut wajahnya.


 


 


“Apa kau sudah membunuhnya?” tanya seseorang yang datang menghampiri gadis itu, ia adalah pria berbadan besar yang terlihat mengenakan pakaian ketat serba hitam berlapis zirah. Tinggi pria itu lebih dari 170 cm, berambut pirang dan memiliki kornea mata kecokelatan. Pada pakaian yang dikenakannya terdapat beberapa sabuk perlengkapan yang melingkar, berisi senjata seperti belati, pedang pendek, dan tabung-tabung besi.


 


 


Tidak jauh dari pria itu berdiri, terlihat beberapa pria dan wanita yang mengenakan pakaian hampir serupa dengan pria tersebut. Beberapa dari mereka ada yang mengenakan jubah berwarna putih untuk kamuflase, dan sebuah senjata yang digendong dan terbungkus rapat dengan kain putih.


 


 


Nanra hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan pria yang mendekatinya. Ia menundukkan kepalanya, hanya terdiam terduduk di depan Odo yang terkapar. Pria itu mendekati gadis kecil tersebut, lalu memegang pundaknya seraya berkata, “Maaf membiarkan anak kecil sepertimu melakukan hal ini, tapi ... bukannya ini yang kau inginkan saat bergabung dengan kelompok? Kita akan melakukan revolusi, merombak sistem kuno Kerajaan ini dengan dibantu pihak luar ....” Pria yang berkata seperti itu adalah orang asli dari kota, dan bahkan seorang ketua nelayan yang mengajak penduduk kota lainnya untuk membelot dan bergabung dalam kelompok revolusi yang didanai oleh orang-orang Moloia yang mengaku sebagai pedagang.


 


 


Seorang pria berbadan kekar menghampiri Nanra dan pria berambut pirang itu. Ia mengenakan pakaian ketat berwarna hitam, dan membawa kapak berukuran besar serta senjata yang dibungkus kain di punggungnya. Mengambil senjata yang terbungkus kain, ia membukanya dan sebuah senapan lontak terlihat. Ia mengisi moncongnya dengan bubuk mesiu dari tabung besi yang dirinya ambil dari sabuk, lalu mendorong bola timah ke dalam laras senapan. Tanpa ragu sedikit pun, pria kekar berambut hitam itu langsung menyalakan sumbu dengan sihir api dan langsung menembak kepala Odo untuk memastikan kematiannya.


 


 


Suara tembakkan menggema di udara, membuat orang-orang di tempat itu tersentak kaget. Asap dari musket mengepul tipis, sumbunya mulai padan bersamaan dengan pria itu yang kembali membungkus kembali senjatanya dengan kain.


 


 


[Catatan: Senapan lontak atau disebut juga musket adalah senjata yang populer di antara abad ke-15 sampai pertengahan abad 19. Senapan lontak hanya dapat ditembakkan sekali setelah diisi dengan amunisi bola timah dan mesiu yang diisi dari moncong laras senapan]


 


 


“Hah, awalnya kukira Pembunuh Naga itu sekuat apa, tapi ternyata selemah ini. Kalau tahu begini, lebih baik aku tidak perlu membuat rencana pemberontakan dan menghasut lama-lama penduduk kota busuk ini .... HAAAH!”


 


 


Pria berbadan kekar tinggi itu menginjak kepala Odo yang terkapar. Injak, injak, dan injak melampiaskan rasa kesalnya. “Bangsat! Bangsat! Bangsat! Kenapa juga ada anak seperti ini! Bangsat! Si Ahli Pedang itu juga katanya sedang tidak ada di kediamannya! AH! Buang-buang waktu .... Apa rencana hasil kalkulasi USGM itu benar-benar tepat? Apanya yang individu potensi malapetaka! Padahal sampai membawa Mahia Drive untuk jaga-jaga, tapi kalau begini hanya buang-buang sumber daya!” lanjutnya seraya terus menginjak-injak kepala Odo yang terkapar dan sama sekali tidak bergerak.


 


 


Mendengar itu, pria berambut pirang yang berdiri di dekat Nanra terkejut. Tubuhnya gemetar dan penuh dengan pikiran negatif. Dengan tatapan penuh rasa takut, ia bertanya, “A-Apa yang anda katakan? Bukannya kalian ingin membantu revolusi kami ...? Bukannya kalian ingin memerdekakan kami dari sistem monarki ketat Kerajaan Felixia!!”


 


 


Mendengar itu, pria kekar yang tingginya hampir mencapai dua meter itu hanya melirik dengan tatapan gelap. Mengangkat tangan kanannya, ia berkata, “Ganti rencana dari Alpa ke Delta, bunuh mereka!” Saat pria berambut hitam itu menurunkan tangan, rekan-rekannya yang berasal dari kerajaan Moloia langsung menyalakan sumbu senapan dan menembaki orang-orang dari kota yang membelot pada mereka. Layaknya sebuah sampah yang tak berarti, mereka dengan mudahnya disingkirkan.


 


 


Mayat-mayat bergelimpangan dari para pembelot kota, mereka semua dibunuh oleh orang-orang yang sebelumnya menjanjikan sebuah revolusi semu dengan hasutan sesat. Suara raungan senapan lontak seakan membawa teror instan di tempat itu dan membuat kepanikan dengan cepat.


 


 


Kepulan asap tipis mengisi tempat itu, aroma menyengat darah yang bercampur dengan bubuk mesiu mulai tersebar di udara. Para penduduk kota yang tidak bisa menggunakan senjata tak bisa melawan, meski berusaha menggunakan senjata yang ada di tangan itu tetap percuma karena lawan mereka adalah orang-orang terlatih yang sudah terbiasa menggunakan senapan lontak.


 


 


Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, mereka yang membutuhkan waktu kurang dari sebulan susah-susah dihasut disingkirkan dengan entengnya. Melihat rekan-rekannya dibunuh layaknya sampah, pria rambut pirang yang mengajak orang-orang yang telah menjadi mayat itu hanya terbelalak tanpa bisa bergerak melihat rekan-rekannya terbunuh.


 


 


Setelah mengisi kembali peluru dan menyiapkan senjatanya, pria kekar berambut hitam menggendongkan senapannya ke bagian belakang kepala ketua kelompok nelayan itu.


 


 


“Apa kau pikir kami akan suka rela memberikan peralatan kami pada kalian orang-orang tidak berguna? HAH! Kalian hanya ternak, sebaiknya jadilah ternak yang baik dan jangan menggigit majikanmu! Ini akibatnya kalau ternak membelot ke majikan lain.”


 


 


Dengan air mata berlinang dan ekspresi penuh kemarahan, pria rambut pirang itu menoleh dan menatap dengan kebencian yang meluap. Orang dari Moloia hanya melihat datar saat mendapat tatapan itu, lalu berkata, “Tenang saja, setelah ini mungkin akan ada perubahan. Yah, tentu saja kalian akan dikenang sebagai penjahat yang membunuh anak Marquess dan memulai peperangan.” Tanpa ragu sedikit pun dan dengan santainya, pria berbadan kekar itu menarik pelatuknya dan melubangi kepala ketua nelayan itu dengan timah panas. Tubuhnya ambruk dan darah mengalir deras membasahi lantai dermaga.


 


 


Nanra yang terduduk lemas di lantai dermaga tak berani menoleh, suara lantunan melodi kematian antara suara senapan dan jeritan masih mengiang dalam kepalanya. Ia memucat, tubuhnya gemetar dan sampai mengompol membasahi gaun putih polosnya. Suara tidak bisa keluar dari mulutnya, tenggorokkan terasa sangat serat sampai-sampai napas terengah-engah.


 


 


Pria besar berambut hitam itu berjalan mendekati Nanra, lalu menjambak rambut gadis kecil itu dan menyeretnya. “Le-Lepaskan .... Tolong .... lepaskan!” Ia meronta, tetapi tenaganya tidak cukup kuat untuk membuat pria itu berhenti. Ia diseret keluar dari dermaga dengan kasar dan turun ke jalan yang tertutup salju. Melihat mayat-mayat yang bergelimpangan dan darah yang bercampur dengan salju, gadis kecil itu menjerit keras.


 


 


“HAAAA—  Ukkhh!!”


 


 


Wajahnya ditendang sampai tubuhnya terpental dan membentur tiang dekat dermaga tempat mengikat tali kapal. Mulutnya mengeluarkan darah, beberapa giginya rontok. Tubuh Nanra semakin gemetar penuh ketakutan dan rasa sakit. Melihat pria besar yang mendekatinya lagi, gadis kecil itu berusaha merangkak kabur.


 


 


“Oi! Jangan pikir kau bisa kabur, bocah tengil!”


 


 


Pria berbadan besar itu menjambak rambut Nanra dan mengangkat tubuhnya sampai kakinya terangkat dari tanah. Menampar wajah gadis kecil itu, pria tersebut membentak, “Diam kau, tengil! Kau jangan buat aku membunuhmu juga! Kau akan menjadi pelatuk peperangan ini setelah kematian anak Marquess itu!” Salah satu gigi Nanra kembali rontok, wajahnya memar dan ia pun terdiam dengan tubuh gemetar. Tubuh Nanra dilempar keras ke tanah, anak itu langsung mengulat kesakitan dan memuntahkan darah dari mulutnya sampai kehilangan kesadaran.


 


 


“Ikat dia ..., dan juga ambil peralatan kita dari mayat-mayat itu! Jangan sampai ada jejak .... Selesaikan sebelum ada orang lain melihat tempat ini!” perintah pria besar itu kepada semua bawahannya.


 


 


Nanra yang terkapar langsung diikat tangan dan kakinya dengan tali, lalu mulutnya dibungkam dengan kain. Gadis kecil itu diangkat oleh dua orang berpakaian hitam, lalu dibawa pergi dari tempat itu untuk dijadikan kambing hitam pembunuhan anak Marquess.


 


 


Pria besar yang memimpin komplotan orang-orang Moloia itu berjalan menuju tubuh Odo yang terkapar di dermaga. Berjongkok di depannya, ia memaki, “Hah! Mereka terlalu melebih-lebihkan kabar itu! Kuat apanya! Dia hanya anak-anak .... Apa sistem tua itu sudah mulai bobrok sampai-sampai memasukkan anak seperti ini dalam daftar individu berbahaya?” Ia menjambak rambut Odo, lalu mengangkat kepalanya untuk melihat wajah anak itu yang tengkorak bagian kanannya hancur.


 


 


“Aktivasi Sihir Pertahanan Terakhir Selesai, Mode Auto dimulai secara bertahap diukur berdasarkan situasi .... Kausalitas dimulai untuk keamanan dan potensi kerusakan tambahan.”


 


 


“!!!”


 


 


 


 


“Dia ... masih hidup? Serius? Padahal sudah terkena racun dan ditembak kepalanya, kenapa bisa dia masih hidup!!?”


 


 


Pria itu melangkah mundur, menyiapkan senapan lontaknya dan bersiap untuk menembak Odo. Tetapi sebelum pria itu selesai menyiapkan senjatanya, anak yang bahkan matanya tidak benar-benar terbuka itu langsung bergerak sangat cepat dan memukul dada pria itu dengan sangat keras. Tubuhnya melayang ke udara dan baru berhenti saat membentur bangunan gudang. Semua orang yang melihat itu terkejut saat pemimpin mereka tiba-tiba melayang. Melihat ke arah anak berselimut aura hitam tersebut, mereka langsung menggigil dan secara serentak menodongkan senapan lontak ke arah Odo.


 


 


Berdiri tegak dan perlahan membuka mata, anak itu memunculkan beberapa lingkaran sihir di sekitar tubuhnya. Dengan sendirinya racun yang mengontaminasi tubuhnya terpisah dari darah yang mengalir dalam pembuluh nadinya, cairan bening itu keluar dari punggung Odo yang berlubang dan menetes keluar ke lantai dermaga.


 


 


Bola mata kanan anak itu berputar dengan cepat dan tidak beraturan, lingkaran sihir muncul di atas tengkorak kanannya yang hancur karena tembakkan. Timah panas ditarik keluar dari dalam kelapa menggunakan elektromagnetik dari lingkaran sihir, dan saat jatuh ke bawah, luka pada kepalanya perlahan beregenerasi dengan kecepatan tinggi. Partikel Ether dikumpulkan dari udara, diakses dengan Mana internal dan digunakannya untuk membentuk kembali tulang, daging, dan kulit kelapanya. Tanpa butuh waktu satu menit, luka pada kepalanya pulih dan bahkan rambutnya pun terbentuk kembali menggunakan Ether yang dikombinasikan dengan Mana.


 


 


Bola mata kanan Odo berhenti berputar dengan cepat, penglihatannya kembali pulih dan apa yang dirinya pertama kali lihat setelah sadar adalah hamparan penuh mayat yang memenuhi tempat beraroma darah dan mesiu. Ia menatap datar, menyerahkan regenerasi luka tusukan pada punggung kepada Auto Senses.


 


 


Tatapan matanya langsung terfokus cepat pada Nanra yang hendak dibawa pergi oleh dua orang berpakaian ketat khusus berangkap zirah. Membuat lingkaran sihir pelontar pada bawah tempat berpijak, Odo langsung melesat dengan sangat cepat dan mendaratkan tendangan ke wajah salah satu orang yang mengangkat Nanra. Sebelum berpijak di tanah, ia dengan cepat mengayunkan tangannya dan memukul satu orang lagi. Mereka berdua terpental dan jatuh terkapar, Odo mendarat dan menangkap gadis tak sadarkan diri itu dengan kedua tangannya.


 


 


Menatap mereka semua dengan datar, Odo mempercepat regenerasi tubuhnya dan segera mengaktifkan Inti Sihirnya sampai batas maksimal. Petir keluar, menyelimuti tubuhnya dan Nanra. Merasakan intimidasi yang sangat kuat dan seakan ditatap oleh monster, secara serentak orang-orang berpakaian hitam itu menarik pelatuk dan menambakkan timah panas ke arah Odo.


 


 


Anak berambut hitam itu menghentakkan kaki kanannya dua kali ke permukaan jalan batu, lalu menghantarkan petir secara menyebar untuk membuat daya elektromagnetik kuat dan menarik paksa timah panas yang melayang jatuh ke bawah. Laju semua peluru yang melesat ke arahnya dibelokkan secara paksa ke bawah, lalu mengenai permukaan jalan dan mayat-mayat yang tergelatak di tempat itu. Melihat apa yang terjadi, mereka semua gemetar dan baru tahu kekuatan asli anak yang dipanggil Pembunuh Naga tersebut.


 


 


“Kenapa. Jadi. Kalian. Melakukan. Bodoh. Hal. Ini. Apa. Kerajaan. Moloia. Berperang. Ingin?”


 


 


Kemampuan linguistik Odo mengalami gangguan, regenerasi otaknya belum benar-benar pulih dan beberapa fungsi tubuhnya masih dalam kondisi tidak prima. Ia berbicara dengan kacau dan suaranya tidak jelas. Itu terdengar seperti suara mesin kaku yang susunan katanya kacau, terdengar mengerikan bagi mereka semua yang tidak asing dengan suara seperti itu.


 


 


Anak berambut hitam itu memejamkan mata, lalu mengakses kembali sihir regenerasinya untuk mengatur pemulihan fungsi tubuh dan kerusakan otaknya. Tanpa butuh waktu sepuluh detik, ia selesai dan membuka matanya.


 


 


“Hah, jadi kalau otakku rusak akan seperti itu, ya ....”


 


 


Odo melirik datar Nanra yang diangkatnya dengan kedua tangan. Kembali menatap ke orang-orang dari Moloia itu, Odo meningkatkan tekanan sihirnya kembali dan benar-benar berniat membantai semua orang di hadapannya.


 


 


“Bangsat!!” tiba-tiba suara lantang terdengar. Pria yang sebelumnya Odo hajar sampai membentur tembok gudang mulai berdiri lagi, kepalanya mengeluarkan darah tetapi itu tidak cukup untuk membuatnya tetap diam.


 


 


Mengambil kapak besar di punggungnya, pria kekar berbadan besar itu meningkatkan tekanan aura tempurnya dan bersiap untuk melawan Odo. “Apa yang kalian lakukan! Anak itu belum mati! Angkat senjata kalian dan bidik dia!” perintah pria besar itu.


 


 


Semua anak buahnya di tempat itu segera menyiapkan senjata mereka, dan memasukkan bola timah serta bubuk hitam ke dalam selongsong senapan. Melihat orang-orang itu menungkan bubuk hitam dari tabung yang diambil pada sabuk yang melingkar pada pinggang, Odo langsung tahu kalau itu adalah mesiu. Ia lekas mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi, mengumpulkan Mana dan menggunakan struktur sihir untuk mengubahnya menjadi petir.


 


 


Menghentakkan kaki kanannya ke bawah, elektrik langsung menjalar cepat melewati mayat-mayat yang bergelimpangan dan menggunakan darah mereka sebagai konduktor. Listrik tersebut menyambar tabung-tabung besi kecil berisi bubuk mesiu mereka, dan ledakkan beruntun dari mayat-mayat yang ada sampai tabung mesiu yang dibawa orang-orang berpakaian hitam itu tercipta.


 


 


Ledakkan dahsyat terjadi. Daging, darah, tulang, semuanya berceceran tidak karuan di tempat itu dan membuat merah kepulan asap yang tercipta dari ledakkan. Pria besar yang berada di luar jangkauan ledakkan hanya bisa menganga, dirinya sama sekali tidak bisa bergerak saat Odo mengincar tabung-tabung mesiu dengan sihir petirnya.


 


 


Menatap datar satu-satunya pria yang masih berdiri di tengah kobaran api yang membakar mayat-mayat, Odo bertanya, “Senjata itu ..., senapan lontak, bukan? Kalian berasal dari mana? Kekaisaran atau Kerajaan Moloia? Dilihat dari pakaian dan jenis keterbatasan aktivasi sihir, sepertinya kalian berasal dari Moloia, ‘kan?”


 


 


Pria berbadan kekar itu merasa terhina, urat wajahnya mengencang dan segera mengangkat kapaknya untuk menyerang Odo. Tetapi tanpa bisa mendekat lebih dari dua langkah, pria itu langsung tertahan ke bawah karena senjatanya ditarik oleh gaya elektromagnetik dari permukaan jalan yang masih Odo kendalikan. Kedua tangan pria itu terjepit senjatanya sendiri, tidak bisa bangun dan semua logam yang melekat pada tubuhnya seakan membuatnya tunduk di hadapan Odo.


 


 


“Kenapa ... kenapa harus ada orang sepertimu! Dasar tengik! Padahal kalau misi ini berhasil Tuan kami bisa menjadi Raja selanjutnya ....”


 


 


Pria itu terlihat sangat kecewa, tetapi ia sama sekali tidak menyerah dan tetap berusaha berdiri melawan elektromagnetik yang menarik tubuhnya ke bawah. Odo kembali menghentakkan kakinya, lalu menambah kekuatan gaya elektromagnetik dan membuat pria besar itu terhentak keras ke permukaan karena zirah pada tubuhnya tertarik ke bawah.


 


 


“—Kenapa? Seharusnya aku yang bilang seperti itu .... Kenapa kalian melakukan hal seperti ini? Padahal suasana hatiku sedang bagus tadi, tapi kenapa harus ada hal seperti ini segala? Haaaah! Kenapa pas aku mendapat hal bagus, selalu saja ada hal seperti ini. Mengerikan rasanya. Aku tidak mengira akan ditusuk seperti itu oleh orang yang kukenal .... Mengingatkanku saja dengan kejadian itu ....”


 


 


Aura hitamnya mulai menyatu dengan petir, dan membuatnya menjadi berwarna biru gelap. Api mulai keluar di sekitar anak itu, lalu kembali menyatu dengan petir di sekitarnya dan membuatnya menjadi merah gelap. Tekanan sihir yang terpancar darinya benar-benar mengerikan, lebih dari apa yang pria yang terhentak ke bawah itu kira.


 


 


Melangkakan kaki ke depan, Odo bersiap untuk menghabisi pria tersebut. Tetapi saat baru maju beberapa langkah, sebuah timah panas melesat dari arah yang tidak dikira oleh anak itu. Peluru tersebut melesat cepat dan melewati daerah elektromagnetik milik Odo tanpa berubah sedikit pun jalurnya, lalu dengan telak mengenai kepalnya. Mata dan sebagian wajah Odo hancur, itu lebih kuat dari senapan lontak biasa.


 


 


“!!!”


 


 


Odo sama sekali tidak menyadarinya sebelum sebagian penglihatannya memerah karena darah. Tubuh anak itu langsung ambruk dengan sebagian kepala hancur dan darah kembali mengalir banyak dari kepalanya. Ia jatuh tengkurap bersama Nanra dan menindihinya.


 


 


Lebih dari 500 meter dari tempat Odo tertembak, tepat di atas salah satu gudang penyimpanan ikan terlihat dua orang berpakaian hitam yang tubuhnya ditutupi jubah putih dan berkamuflase menyamarkan keberadaannya. Satu orang tiarap seraya membidik menggunakan senapan, dan satunya lagi berlutut dan melihat sasaran dengan teropong jari.


 


 


“Target, tereliminasi,” ucap orang yang melihat dengan teropong.


 


 


Mereka melepas jubah kamuflase saat memastikan tembakkan tepat mengenai sasaran. Orang yang memegang senapan laras panjang adalah seorang perempuan rambut panjang cokelat cerah, sedangkan satunya adalah gadis muda berambut pirang pendek sebahu. Layaknya orang-orang Moloia lainnya, mereka mengenakan pakaian ketat khusus berwarna hitam.


 


 


Senapan yang dibawa perempuan rambut cokelat itu sangat berbeda dari senapan lontak yang dibawa mereka yang ada di sekitar dermaga, senapan tersebut merupakan jenis modern dengan peluru menggunakan amunisi peluru selongsong dan bermegasin. Peluru yang digunakan bersifat balistik, terdiri dari bagian sederhana seperti proyektil dan bahan peledak yang berfungsi sebagai propelan, membuat proyektil melesat menggunakan daya ledak dalam ruang sempit pada selongsong. Senapan tersebut sangatlah mirip dengan senapan laras panjang jenis Springfield dengan tambahan bidikan tipe M84.


 


 


Jenis senjata seperti itu menggunakan sistem mekanisme Bolt Action,  kokang senjata api yang mana bagian bolt dioperasikan secara manual dengan cara menggesernya ke belakang handle agar bagian belakang laras terbuka, selongsong peluru kosong yang sudah dipakai terlempar keluar dan peluru baru masuk ke dalam breech kemudian bolt ditutup kembali. Mekanisme tersebut sangat lebih instan jika dibandingkan dengan senapan lontak yang harus mengisi peluru setiap akan menembak.


 


 


“Itu akibatnya mereka tidak percaya hasil kalkulasi USGM. Memangnya siapa yang membuat negeri kita bisa semakmur seperti sekarang ini?” ucap perempuan rambut cokelat tersebut.


 


 


“Hmm, itu benar. Meski beliau hanya sistem, tetapi beliaulah yang telah membesarkan kita orang-orang pihak Pengembangan, Peneliti dan Mekanik. Mereka orang-orang militer tidak pernah percaya hasil perhitungan dan menganggap kemenangan yang mereka dapat adalah hasil usaha sendiri. Apa mereka pikir senjata yang kita pakai ini hasil pemikiran sendiri?” ucap gadis berambut pirang  di sebelahnya.


 


 


Kedua orang tersebut memang berasal dari pihak Moloia, tetapi dari faksi berbeda karena kerajaan tersebut juga terbagi menjadi beberapa paham pihak. Saat mereka berbincang, tiba-tiba dari sekitar target sasaran mereka keluar asap putih hasil dari salju yang  menguap dengan cepat karena panas.


 


 


“Ketua, gawat .... Anak itu masih hidup!!” gadis yang melihat Odo dengan teropong jari benar-benar terkejut. Anak yang dengan telak terkena tembakkan kepalanya berdiri kembali seraya mengangkat gadis dengan kedua tangannya. Meski kepalnya sebagian sudah rusak dan tidak karuan, ia tetap berdiri kembali.


 


 


“Aku akan mengincar kakinya! Koordinatnya!” Perempuan rambut cokelat segera tiarap lagi dan bersiap membidik. Ia menarik handle senapan dan mengeluarkan selongsong kosong, lalu mendorongnya dan memasukkan peluru baru dari megasin.


 


 


“Ya!” Gadis rambut pirang menggunakan kekuatannya dan melakukan kalkulasi laju tembakkan. Lingkaran sihir dalam sekala mikro muncul pada lensa teropong, menganalisa gaya elektromagnetik yang ada dan membuat perhitungan laju tembakkan.


 


 


“Koordinat sasaran, 05.76 koreksi 0— Tch! Sasaran tertutup terhalang kabut ....”


 


 


Ia menghentikan kalkulasinya, Odo benar-benar menyelimuti tubuhnya dengan asap putih dan mengulur waktu untuk meregenerasi kepalanya yang terkena tembakkan. Dari balik kabut putih tersebut, sesekali terpancar kilatan biru dan merah terang.


 


 


Saat kabut menghilang, sosok Odo masih berdiri di tempatnya. Tetapi, luka pada kepalanya benar-benar sudah pulih pada bagian luar dan anak itu terlihat sangat murka. Elektromagnetik dan petir di sekitarnya benar-benar kacau, semua logam di tempat itu sampai melayang ke udara karena ulahnya.


 


 


Odo langsung memancarkan sihir sonar pada permukaan tanah seluas beberapa kilometer, lalu mendeteksi keberadaan penembak dengan getaran yang ada. Tanpa butuh usaha keras, Ia menemukan kedua orang tersebut dan langsung menatap tajam ke arah mereka.


 


 


“Mati kau tengil!”


 


 


Pria besar yang tadi tertahan ke tanah selesai melepaskan seluruh perlengkapan besinya karena sadar akan adanya gaya elektromagnetik. Ia lekas berlari ke arah Odo dan hendak mendaratkan pukulan.


 


 


Tetapi tanpa bisa menyentuhnya, tubuh pria itu langsung terbakar dari dalam dan meledak. Ledakkan itu tidak dahsyat, tidak menimbulkan suara dan tubuhnya langsung terbakar menjadi bara rapuh yang hilang tertiup angin. Apa yang Odo lakukan adalah salah satu kekuatan Hariq Iliah, memanipulasi suhu dalam tubuh pria itu dan menciptakan plasma dari dalam untuk menghancurkannya menjadi abu.


 


 


Kedua perempuan yang berdiri di atas atap menggigil mendapat tatapan anak itu. Apa yang mereka tahu dari informasi USGM lebih mengerikan dari apa yang mereka kira. “Anak itu ... dia benar-benar monster .... Sebenarnya apa yang kita lawan? Kenapa Tuan ingin menyerang tempat ini dulu daripada tempat lain ...?” ucap perempuan rambut cokelat, tubuhnya mulai menggigil ketakutan.


 


 


“Kita mundur ....”


 


 


“Ya .... Misi kali ini gagal ....”


 


 


Odo hanya berdiri pada tempatnya dan menatap mereka, ia tidak bisa melangkah atau bergerak lagi karena seluruh sistem motorik tubuhnya terganggu sebab regenerasi kepalanya belum selesai sepenuhnya. Pergerakan yang dilakukan anak itu sebelumnya hanya mengandalkan sistem sensorik tulang belakang, dengan kata lain hanya mengandalkan refleks dan tidak secara sadar dirinya menggunakan sihir. Itu adalah salah satu bentuk dari Sistem Sihir Pertahanan Terakhir yang dirinya miliki.


 


 


“Nan ... ra ....”


 


 


Anak berambut hitam itu menatap gadis yang dibopongnya, wajah gadis itu bonyok dan beberapa giginya rontok. Merasakan amarah yang meluap-luap, ia merasa frustrasi karena sama sekali tidak bisa bergerak dari tempatnya.


 


 


\=========================


 


 


Catatan: Hanya sekadar mengingatkan, penggunaan kata dermaga dan pelabuhan itu berbeda, ya. Bukan menggurui, hanya mengingatkan.


 


 


Pelabuhan itu cenderung ke tempat untuk berlabuh, atau daerah atau kompleks berlabuh yang isinya bisa gudang, perahu, dan dermaga. Kalau dermaga sendiri itu tembok rendah yang memanjang di tepi pantai menjorok ke laut di kawasan pelabuhan. Yang pernah ke daerah pelabuhan pasti paham.


 


 


Tambahan informasi lagi:


 


 


Kerajaan Moloia memang secara sihir sangat amat tertinggal dari negeri lain karena orang-orang di sana aktivasi/ inti sihirnya lemah-lemah. Tetapi, dalam hal teknologi dan sains bisa dikatakan mereka paling maju. Kenapa? Tahu sendiri di sana ada apa?:v


 


 


Kalau pakai perumpamaan sederhana, saat Indonesia masih pedang-pedangan dan pakai santet, Eropa sudah mulai pakai senapan.