Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 56 : Aswad 3 of 15 “To Feel” (Part 04)



 


 


««»»


 


 


Layaknya hari-hari normal seperti biasanya, matahari terbit dan sebuah pagi baru datang dengan damai. Langit sedikit berawan, angin bertiup dingin dari laut ke arah kota pesisir tersebut dengan membawa aroma khas tanah dan debu sebelum hujan. Pagi baru terasa sedikit lebih sepi dari kemarin, mendungnya langit dan udara sejuk di pagi hari membuat kebanyakan orang sedikit enggan untuk bangun atau keluar dari rumah mereka.


 


 


Meski begitu, sebuah rutinitas perekonomian berjalan seperti biasanya di kota tersebut. Para pedagang, entah yang berasal dari dalam atau luar kota, mereka menjajakan barang-barang dagangan di distrik perniagaan dengan segenap semangat yang ada. Lalu-lalang terasa tidak terlalu ramai, bukan hanya karena mendung namun memang karena kebanyakan orang sedang pergi ke gereja untuk melakukan misa. Hanya orang-orang dari luar kota dan beberapa penjaga saja yang masih terlihat di sudut-sudut jalan distrik.


 


 


Sekarang sudah hampir lebih dari pukul 09.00, matahari yang terbit tertutup awan mendung sehingga terlihat seperti masih fajar. Di dalam lantai dua bangunan toko Ordoxi Nigrum, Mavis terbaring di atas ekor-ekor Fiola yang duduk tenang pada lantai. Wanita rambut pirang itu tidur dengan pulas dalam selimut halus bulu-bulu Huli Jing tersebut, ia meringkuk dan menjadikan salah satu ekor Fiola sebagai bantal gulingnya.


 


 


Melirik ke arah majikannya tersebut, Fiola hanya tersenyum kecil dan mulai menghela napas karena ia sama sekali tidak bisa tidur atau bergerak dari tempat. Kembali mengingat apa yang terjadi tadi malam setelah berpindah ke toko menggunakan kekuatan pria bernama Matius, Fiola merasa kalau memang banyak hal yang telah Odo lakukan tanpa sepengetahuannya.


 


 


Tadi malam, setelah sampai di toko, Odo dengan cepat mengarahkan orang-orang yang telah menunggunya. Seakan memang telah merencanakan hal tersebut dari awal, ia membawa Di’in dan Ra’an untuk membiarkan mereka berdua tidur di kamar pada lantai tiga sampai pulih. Setelah itu, pemuda rambut hitam itu lanjut menjelaskan beberapa hal terkait dua orang Moloia yang juga akan menjadi karyawannya tersebut.


 


 


Untuk Mavis sendiri, sebenarnya Odo telah menyediakan kamar di lantai tiga untuknya tidur bersama dengan Nanra dan Fiola. Namun karena beberapa alasan, wanita rambut pirang itu lebih memilih untuk tidur di lantai dua bersama Huli Jing kepercayaannya dan berakhir pada situasi sekarang.


 


 


“Eng, mana mungkin bisa tidur kalau begini ....” Fiola yang duduk sila hanya bisa memasang tatapan datar pada Mavis. Meski Huli Jing memiliki vitalitas yang tinggi dan tidak terlalu memerlukan istirahat, namun setelah menggunakan Mode Ilahi ia cukup lelah dan secara mental ingin beristirahat.


 


 


“Eng ..., Fiola? Apa sudah pagi?”


 


 


Mavis bangun dari ekor-ekor Fiola, tetap memeluk salah satu ekor Huli Jing tersebut dengan tangan kanannya dan mulai mengusap mata. Melihat ke kanan dan kiri, wanita rambut pirang tersebut langsung sadar kalau dirinya sedang tidak berada di Mansion.


 


 


“Selamat pagi, Nyonya.” Fiola melembar senyum dengan wajah lemasnya.


 


 


“Hmm ....” Mavis segera bangun, merapikan pakaiannya dan melangkah keluar dari lingkaran ekor-ekor Fiola yang dijadikannya tempat tidur. Merasa kalau pakaiannya terlalu kusut karena dibawa tidur, wanita rambut pirang itu memasang wajah muram dan mengeluh, “Seharusnya sebelum ke sini aku bawa pakaian ganti ....”


 


 


“Oh, kalau itu ....” Fiola menggeleng-gelengkan kepala untuk menyingkirkan sedikit kantung dan segera bangun, lalu meregangkan tubuh dan ekor-ekornya sejenak. Ia langsung menunjuk ke arah salah satu meja kerja yang ada di ruangan, lalu memasang senyum tipis dan berkata, “Tadi Tuan Odo meletakkan pakaian ganti untuk Nyonya, katanya itu seragam milik salah satu biarawati yang bertugas di Gereja Utama.”


 


 


“Hmm?” Mavis melepaskan ekor yang dipeluknya dan menoleh dengan cepat, memberikan tatapan tajam pada Fiola dan bertanya, “Odo sudah bangun? Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!”


 


 


“Ha-Habisnya ....” Fiola memalingkan pandangan dan melontarkan alasannya, “Anda tidurnya lelap sekali. Saya sudah sangat lama tidak melihat Nyonya tidur sepulas itu, jadinya ....”


 


 


Mavis menarik napas dalam-dalam, memalingkan pandangan dan tidak mempermasalahkan hal tersebut. Tubuh wanita rambut pirang itu mulai terasa gatal karena tidur di atas tempat berbulu, dengan ekspresi risih ia berjalan ke meja yang sebelumnya Fiola tunjuk untuk melihat pakaian yang terlipat rapi di atas tempat itu.


 


 


Apa yang tersedia berbeda dengan ekspektasi Mavis, itu hanyalah pakaian sederhana yang biasa digunakan oleh para puritan yang mengabdi kalangan gereja. Alba, Amik, dan Singel, ketiga hal tersebut memang merupakan vestimentum yang sering digunakan saat beribadat, namun tetap saja bagi Mavis kualitasnya terlihat terlalu rendah.


 


 


“Huh ....” Sembari memegang permukaan pakaian yang tersedia untuknya, wanita rambut pirang itu memasang ekspresi remeh dan mengeluh, “Kainnya bahkan terasa sangat rapuh dan sama sekali tidak ada ornamen—”


 


 


Perkataan Mavis terhenti, ia teringat pembicaraan tadi malam soal kesetaraan dan perbedaan pola pikir kalangan atas. Mulutnya yang ingin mengeluh perlahan tertutup, lalu tanpa berargumen atau memaki pemilik asli pakaian itu ia mulai mengambilnya dan melihat vestimentum itu dengan seksama.


 


 


“Fiola ....” Sembari membawa Alba, Mavis berbalik ke arah Huli Jing itu dan dengan nada ramah meminta, “Bisa tolong kau bantu aku mengenakan ini?”


 


 


Fiola sekilas terkejut melihat ekspresi majikannya tersebut, dalam benak ia merasa kalau Mavis pasti akan mengeluh saat melihat pakaian kalangan bawah yang disediakan untuknya. Sedikit mengingat pembicaraan tadi malam, wanita berpakaian kimono itu merasa kalau Odo telah benar-benar berhasil mempengaruhi Mavis.


 


 


“Tentu saja, Nyonya ....”


 


 


Meski paham akan hal tersebut, dalam benak sang Huli Jing hal itu bukanlah sesuatu yang buruk. Asalkan Mavis bisa tersenyum dan tidak muram lagi seperti sebelum Odo Luke lahir, perubahan semacam itu bisa dirinya terima dengan lapang dada.


 


 


Fiola berjalan mendekat, lalu dengan cerita berkata, “Apa tidak perlu mandi dulu? Di lantai satu ada kamar mandi, Nyonya bisa menggunakannya. Pasti tubuh Nyonya juga gatal, bukan?”


 


 


“Eng ....” Sekilas Mavis memasang ekspresi tak suka, ia meletakkan kembali Alba ke atas meja dan memalingkan pandangan dengan cemberut. Melirik kecil ke arah pelayan setianya, wanita rambut pirang itu bertanya, “Pasti itu digunakan oleh semua orang di tempat ini, ‘kan?”


 


 


“Mungkin ...” Langkah Fiola terhenti, kembali mengingat-ingat apa yang disampaikan Odo saat meninggalkan pakaian ganti. Mengacungkan jari telunjuk dan memasang ekspresi sedikit kaku, Huli Jing itu menjawab, “Kata Odo itu satu-satunya kamar mandi di tempat ini soalnya ....”


 


 


“Kalau begitu ....”


 


 


Mavis melepaskan ikatan sabuk kain merah yang melingkar pada pinggang, lalu mulai melepas rompi hijau toska berjumbainya dan meletakkan semua itu ke atas meja. Ia juga melepaskan anting kristal hijau, lalu meletakkannya ke atas tumpukan pakaian. Namun saat dirinya melepaskan gelang berwarna putih ganding pada lengan kanan, ia meletakkannya ke atas telapak tangan dan mulai menyalurkan Mana pada alat sihir tersebut.


 


 


Menatap ke arah Fiola dan menyerahkan itu kepadanya, Mavis berkata, “Pakai ini dan gunakan sihir atribut air untuk membersihkan tubuhku, seharusnya akurasi kontrol sihirmu akan meningkat dengan alat ini.”


 


 


Fiola sekilas terpana, menatap Mavis dengan ekspresi terkejut. Meski pencahayaan di dalam ruang tersebut hanya berasal dari kristal-kristal lampu yang digantung di sudut ruang dan jendela masih tertutup rapat, Huli Jing itu dapat dengan jelas melihat beberapa bagian kulit Mavis yang terbuka.


 


 


Fiola segera memalingkan pandangan dengan wajah memerah, menutup mulut dengan telapak tangan dan tatapannya seakan berenang ke sana kemari melihat tiap sudut tubuh Mavis yang hanya tertutup gaun tipis bertali. Tanpa sadar, Huli Jing tersebut mengaktifkan Mata Batin dan menjamah tubuh Mavis dengan penglihatannya.


 


 


 


 


“Ba-Baiklah, Nyonya ....”


 


 


Fiola menggelengkan kepala dan menghentikan tingkah aneh tersebut. Menarik napas dalam-dalam, ia menenangkan diri dan berusaha menahan hasrat. Ia segera memakai gelang yang diterima, sedikit terlihat enggan menatap tubuh Mavis dan napasnya mulai berat. Untuk beberapa alasan, instingnya sebagai Huli Jing mulai menguat saat melihat kulit pucat wanita rambut pirang di hadapannya.


 


 


“Kalau dipikir-pikir, kau tidak pernah membantuku berganti pakaian, ya?”


 


 


Mavis melepaskan gaunnya, itu turun dengan cepat ke lantai dan wanita rambut pirang tersebut benar-benar telanjang bulat tepat depan Fiola. Setelah melepas ikatan rambut dan membuatnya terurai lepas, Mavis merentangkan kedua tangannya ke depan dan memasang senyum simpul seraya berkata, “Tolong lakukan dengan cepat dan lembut. Kau bisa menggunakan sihir atribut air untuk membersihkan tubuh, ‘kan?”


 


 


Darah mengalir keluar dari hidung Fiola, wajahnya benar-benar memerah seperti tomat yang telah matang di kebun. Segera mengusap mimisan, dengan tubuh gemetar dan menahan hasratnya, Huli Jing tersebut menggunakan sihir atribut air untuk membasuh tubuh Mavis tanpa harus membasahi lantai atau tempat sekitarnya.


.


.


.


.


 


 


Setelah membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya, Mavis keluar dari ruangan dan menuruni anak tangga yang tertetak di samping bangunan toko tersebut. Alba hitam yang berjumbai sampai mata kaki, tali Singel yang melingkar pada pinggang sebagai sabuk, serta Ambik putih yang terikat bersama simpul pada sekitar pundak dan leher sebagai penutup bagian tersebut. Mengenakan semua itu, wanita rambut pirang itu menuruni anak tangga dengan anggun. Angin dingin menerpa, membuat rambut pirangnya berkibar dengan indah bagaikan helai-helai benang emas.


 


 


Kecantikan sang Penyihir Cahaya membuat perhatian beberapa orang yang lalu-lalang di depan toko tertuju padanya, menghentikan langkah kaki dan menatap terkesima sosok tersebut. Tidak memedulikan mereka atau sekadar menoleh, Mavis segera menuruni anak tangga bersama Fiola untuk menemui putranya yang mungkin ada di lantai satu toko.


 


 


Kedua sosok itu bagaikan sosok yang turun dari langit bersama pelayannya, memancarkan aura mulia yang membuat setiap orang terpana saat melihat kedua sosok tersebut. Begitu anggun, bermartabat, luhur, dan terkesan kudus. Saat menuruni anak tangga terakhir dan berpijak pada tanah dengan sepatunya, perhatian orang-orang tidak kunjung terputus dan malah semakin banyak berkumpul.


 


 


Baik Fiola atau Mavis, mereka sama sekali tidak memedulikan hal tersebut karena hal itu sudah menjadi hal wajar bagi mereka saat keluar dari kediaman atau dilihat oleh orang selain mereka yang tinggal di Mansion. Ia berjalan ke arah pintu yang sedikit terbuka, lalu sejenak menarik napas dengan sedikit resah.


 


 


Membuka pintu toko dan melangkah masuk ke dalam bersama Fiola, wanita rambut pirang itu langsung mencari sosok putranya. Namun melihat ke setiap sudut di dalam ruangan, ia sama sekali tidak melihat Odo. Mavis hanya bisa melihat beberapa orang saja seperti Elulu, Matius, Arca dan kedua Butler pribadinya, lalu dua perempuan Moloia yang tadi malam dibawa ke toko oleh putranya.


 


 


Arca sedang duduk dan sibuk mengurus tumpukan dokumen pada meja bersama kedua anak buahnya, sedangkan Elulu dan Matius terlihat berdiri serius menjelaskan beberapa hal pada Di’in dan Ra’an yang duduk di hadapan mereka. Perhatian Mavis dan Fiola lekas fokus pada kedua perempuan dari Moloia itu, mereka menatap bingung dan bertanya-tanya sedang mendapat penjelasan apa mereka berdua.


 


 


“Sepertinya Tuan Odo tidak ada, Nyonya. Apa perlu saya tanya pada mereka?”


 


 


Namun sebelum sempat bertanya, perhatian semua orang di ruangan lekas tertuju pada Mavis dan Fiola saat kedua orang tersebut melangkah semakin masuk. Arca lekas bangun dari tempat duduk, menatap tidak percaya sampai kedua bola mata berbuka dan mulut menganga lebar.


 


 


“Lady ... Mavis?”


 


 


Cara memanggil Arca sentak membuat Mavis menoleh ke arah putra sulung keluarga Rein tersebut. Saat itu Mavis baru menyadarinya, ia segera memegang wajahnya sendiri dan memastikan kalau riasannya benar-benar telah hilang saat dirinya membasuh tubuh di lantai dua. Ia dengan cemas menoleh ke belakang, melihat orang-orang yang mulai berkumpul di luar karena penasaran.


 


 


“Sepertinya ini sangat gawat, Fiola ....”


 


 


“Ah, saya juga berpikir seperti itu, Nyonya ....”


 


 


Huli Jing tersebut juga baru mengingatnya, kalau majikannya tersebut datang ke kota dengan penyamarannya menggunakan riasan bedak khusus pada wajah. Ia segera menutup pintu utama toko untuk menghalau perhatian orang-orang di luar, lalu dengan bingung menatap orang-orang di dalam toko yang seakan ingin mendapat penjelasan.


 


 


Meski Fiola ingat untuk menggunakan sihir transformasi dan menyembunyikan kesembilan ekor rubahnya, namun dirinya benar-benar tidak ingat kalau Mavis harus menyembunyikan identitasnya saat datang ke kota supaya tidak menarik perhatian orang-orang. Menarik napas dalam-dalam, wanita rambut cokelat kehitaman itu merasa kalau semuanya telah direncanakan Odo saat meletakkan pakaian ganti untuk Mavis.


 


 


Arca segera melangkahkan kaki dan meninggalkan pekerjaannya, menghadap wanita rambut pirang tersebut dan kembali bertanya, “Apa benar Anda Lady Mavis? Sang Penyihir Cahaya itu?”


 


 


Mavis hanya memasang ekspresi tenang, tetap menjaga wibawanya dan menjawab, “Itu benar, diriku adalah Mavis Luke .... Sungguh lama kita tak bertemu, putranya Calista. Kalau tidak salah, sejak kunjungan ke kediaman Rein beberapa tahun lalu ....”


 


 


Jawaban tersebut membuat Arca dan orang-orang di dalam ruangan tersebut terkejut, kecuali Fiola yang hanya bisa menghela napas saat mendengar hal tersebut. Mavis menatap serius putranya sulung keluarga Rein di hadapannya, lalu melangkah mendekat dan bertanya, “Apa engkau melihat putraku? Ke mana dia pergi? Kenapa dia tidak ada di sini?”


 


 


Mavis sama sekali tidak memedulikan rasa bingung Arca dan yang lainnya. Ia menatap serius dan hanya fokus pada putranya sendiri, benar-benar ingin tahu sekarang Odo sedang ada di mana. Mendapat tatapan tersebut, Arca melangkah mundur dan dengan jujur menjawab, “Bu-Bukannya Odo sebelumnya naik ke atas bersama Nanra? A-Apa dia tidak bertemu Anda?”


 


 


Jawaban tersebut membuat Mavis dan Fiola tersentak. Kalau memang Odo Luke tidak kembali ke lantai satu setelah meletakkan pakaian ganti, berarti pemuda rambut hitam itu telah pergi sejak fajar dini sebelum Mavis bangun. Tanpa berpikir dua kali, wanita rambut pirang tersebut segera berbalik dan hendak keluar untuk mencari putranya.


 


 


“Tu-Tunggu sebentar, Master!” panggil Arca.


 


 


Wanita rambut pirang itu terhenti, menoleh dan sembari memberikan tatapan tajam bertanya, “Ada apa?”


 


 


“Be-Berarti ... Anda orang yang sama dengan wanita yang kemarin itu datang ke sini bersama Odo?”


 


 


“Ya, itu benar ....” Mavis sekilas memasang senyum tipis yang terkesan kaku, menatap lurus dan menjawab, “Engkau tahu, putranya Calista. Mana mungkin diriku membiarkan putraku pergi mencari bahaya lagi setelah apa yang terjadi, bukan? Tentu saja ia perlu diawasi ....”