
Tidak lebih dari satu jam setelah Julia mengantarnya ke kamar, Odo langsung membuka matanya dan duduk di atas ranjang dengan tatapan datar. Kantuknya hilang layaknya anak itu sudah tidur penuh seharian, dan rasa lelah sama sekali tidak terlihat padanya.
Menekan Rune pada punggung tangan kanan, Odo mengeluarkan Gelang Dimensi dan mengenakannya. Ia menekan permukaan gelang hitam tersebut, lalu mengakses salah satu ruang penyimpanan dan mengeluarkan sebuah kristal sihir beratribut api yang dirinya dapat dari Reyah. Dalam penilaian normal, kristal beratribut api sihir berukuran segenggaman tangan tersebut itu masuk ke dalam kategori Tingkat Atas dan berdasarkan berat masuk dalam Kualitas A.
Mempertimbangkan kedua faktor tersebut, bisa sangat pasti apa yang Odo punya dalam dimensi penyimpannya jelas-jelas lebih besar nilainya daripada hasil ekspedisi yang telah dirinya lakukan. Sedikit menghela napas ringan, anak itu sadar kalau dirinya melakukan hal yang kurang efektif.
“Yah, kalau aku terang-terangan memberikan kristal yang kupunya ... pasti mereka akan tanya aneh-aneh.”
Menggenggam erat kristal di tangan kanan, Ia menyerap kandungan sihir di dalamnya, lalu perlahan kristal sihir tersebut kehilangan warnanya dan berubah menjadi putih sedikit transparan. Terus diserap oleh anak tersebut, kristal di tangannya mulai hancur dan berubah menjadi butiran debu. Itu adalah fenomena saat sebuah kristal yang mengandung sihir dihisap habis energinya.
Turun dari atas ranjang, Ia berjalan menuju sakelar di dekat pintu dan menyalakan lampu bertenagakan energi dari reaktor sihir di Mansion Luke tersebut. Mengulurkan tangan ke arah ranjang, Odo menggunakan atribut air untuk membiaskan cahaya yang terpancar dari lampu gantung. Anak itu menggunakan sihir tipe manipulasi, ia membiaskan cahaya dan membuat ilusi optik berupa dirinya yang sedang tidur di atas ranjang.
“Hmm, paling tidak itu bisa menipu orang yang iseng melongok ke kamarku,” benak Odo seraya berjalan keluar kamar, lalu penutup pintu sebelum pergi.
Tujuan kaki anak itu melangkah adalah kembali ke ruang arsip untuk memastikan apa yang diingatnya. Berjalan dengan menipiskan hawa keberadaannya, anak itu akhirnya sampai di depan bangunan Arsip Utama di halaman belakang tanpa terlihat oleh siapa pun. Ia membuka pintu besi dengan kunci, lalu masuk ke dalam.
Menekan sakelar dan menyalakan lampu-lampu kristal yang terpasang berbaris di langit-langit, susunan rak berisi folder-folder warkat terlihat rapi mengisi tempat tersebut. Mengamati tempat itu kembali, di dalam ruangan arsip tersebut memang memiliki banyak sekali warkat yang tersusun rapi. Semua itu dibagi menjadi arsip aktif dan inaktif yang dipisah penyimpanannya oleh kode jejeran rak yang ada.
Tanpa membuang waktu, anak itu berjalan menuju rak yang terdapat warkat yang dirinya cari. Rak tersebut berada dalam susunan arsip inaktif atau bisa disebut juga arsip yang memiliki nilai sejarah atau sangat penting dan tidak boleh dimusnahkan dalam penyusutan periodik. Mengambil sebuah folder dari salah satu rak, ia duduk di lantai dan memilah kertas-kertas yang ada. Menemukan selembar perkamen tua yang dirinya cari-cari, sekilas anak rambut hitam itu tersenyum.
Perkamen tersebut adalah sebuah surat saham atas milik pelabuhan yang sekarang tidak terlalu aktif beroperasi di Kota Pesisir. Dalam pembangunan pelabuhan beberapa dekade lalu, tertera kalau Keluarga Luke memiliki saham atas pelabuhan sebesar setengahnya. Saham tersebut tidak bersifat aktif, hal itu disebabkan karena tingkat operasional pelabuhan menurun drastis setelah perdagangan bebas diberlakukan dan rute menuju pelabuhan di Kota Pesisir tersebut terpotong oleh rute lain.
Hasilnya, Keluarga Luke tidak lagi menuntut pembagian hasil atas operasional pelabuhan karena hasil yang didapat terlalu sedikit untuk penghasilan sebuah kota. Meski tidak lagi menarik hasil saham, tetapi dalam kalkulasi itu juga masih berlaku Keluarga Luke memiliki hak atas pelabuhan.
“Paling tidak untuk awal-awal ... mengancam walikota di sana lumayan menarik.”
Anak rambut hitam itu tersenyum gelap, lalu menyimpan surat saham tersebut ke dalam Gelang Dimensi. Setelah merapikan kembali warkat-warkat yang berserakan, Odo segera meninggalkan Ruang Arsip Utama tersebut.
Langkah kakinya tidak berakhir, anak rambut hitam itu menuju ke Luke Scientia yang telak di halaman samping Mansion. Berdiri di depan bangunan perpustakaan yang terlihat seperti menara dan memiliki dua belas lantai tersebut, sesaat ia terdiam dan merasa ragu untuk masuk ke dalam. Setelah membaca rahasia Vil yang juga tercatat dalam Arsip, anak rambut hitam itu semakin sadar dengan jelas alasan Roh Agung yang tinggal di perpustakaan kediamannya tersebut selalu mengenakan pakaian hitam seperti sedang berkabung.
Membuka sebelah pintu dari pintu utama perpustakaan, anak rambut hitam itu melangkah masuk dan hawa hangat langsung menyelimutinya. Meski dirinya sudah menahan dinginnya salju dengan sihir pengatur suhu, tetapi rasa hangat dalam perpustakaan tersebut sedikit terasa berbeda.
“Hmm, ini bukan suhu ruang ...,” benak Odo merasakan keganjilan tersebut. Ia melangkah masuk dan sampai di ruang utama dimana lantai pertama langsung bisa terhubung dengan langit-langit berkubah di atas.
Odo melihat Vil yang sedang duduk di lantai dan membaca sebuah buku. Sangat jarang melihat Roh Agung tersebut menyentuh permukaan, biasanya ia lebih suka melayang-layang di udara. Gaun hitam yang dikenakannya terbentang di lantai keramik kecokelatan berpola, bersama dengan rambut biru panjangnya yang mengkilat terkena sorotan lampu-lampu yang mengisi penuh perpustakaan.
Saat Odo mendekatinya, Vil mendengar suara langkah kaki anak tersebut dan perhatiannya teralih dari buku. Anak rambut hitam itu langsung terhenti, ia terbelalak melihat Vil meneteskan air mata dan membasahi cadarnya. Itu pertama kalinya Odo melihat perempuan yang selalu bersikap tenang dan berekspresi datar itu memperlihatkan emosi dengan lepas.
Vil segera memalingkan wajah, lalu mengusap air mata yang mengalir. “Ada apa, Odo? Kamu datang baca buku lagi?” tanya perempuan rambut biru itu tanpa menatap ke arah anak tersebut.
Odo berjalan mendekat, lalu ikut duduk di atas lantai tepat di sebelahnya. Di bawah kubah yang penuh dengan ukiran struktur sihir untuk mempertahankan keberadaan Roh Agung tersebut, mereka hanya duduk bersebelahan tanpa berbincang. Suhu lantai tak terasa dingin, udara di ruang malah terasa hangat. Tetapi, suasana di antara mereka terasa senyap seakan membuat mereka merasakan rasa dingin dalam benak. Vil tidak mau menatap wajah Odo dan terus memalingkan wajahnya.
“Vil ..., kenapa menangis?” tanya Odo.
Berbeda dengan Julia orang-orang lain di Mansion, hanya Roh Agung tersebutlah yang dipanggil anak itu langsung dengan namanya. Odo tidak menambahkan rasa formal atau semacamnya, anak itu selalu berbicara dengan posisi setara dengan Vil. Entah dimulai sejak kapan, tetapi cara pandang anak itu memang sedikit berbeda saat berbicara dengan Vil.
“Tidak juga .... Siapa yang menangis. Kalau kamu, kenapa ke sini? Bukannya kau sibuk ekspedisi atau semacamnya?”
Roh Agung tersebut melipat kedua kakinya dan meringkuk, ia tetap tidak mau menatap wajah Odo. Suaranya terdengar tersedu-sedu, menyembunyikan rasa sedih yang jelas mengisinya. Menarik napas dalam-dalam, Odo langsung memaksa Vil untuk menatap wajahnya. Odo memegang kedua pundak perempuan itu, lalu memaksanya menghadap dan menatap tajam ke arahnya.
Mata perempuan rambut biru itu jelas kemerahan, tanda baru saja menangis cukup lama. Tidak memahami alasannya atau pun bisa menebak-nebak, anak itu bertanya secara terang, “Kenapa menangis?” Tatapan tajam anak itu lurus mengarah pada kedua bola mata Vil.
“Tidak ada alasan .... Ini ... bukan urusanmu, bukan? Setelah bosan dengan tempat ini kau tidak akan pernah datang ke tempat ini lagi .... Sama seperti ibumu, saat dia mendapatkan tujuannya ....”
Anak rambut hitam itu langsung memahami maksud perempuan itu dan alasan mengapa dirinya menangis. Menarik napas dalam-dalam, Odo berkata, “Manja banget, ya ....”
“AA!?”
Wajah sedih Vil langsung terbelalak. Duk!! Sebelum dirinya berkata, Ia langsung disundul Odo sampai jatuh terkapar dan berguling-guling kesakitan. “Apa-apaan, sih?! Dasar kepala batu! Keras kepala! Sakiiit ....,” ucap Vil seraya meringkuk kesakitan memegangi keningnya yang memerah.
“Itu frasa atau kalimat langsung?” ledek Odo.
“Dua-duanya! Kamu keras kepala, baik kepalamu keras dan juga sifatmu!”
Vil langsung duduk dengan posisi melipat kakinya ke belakang. Wajahnya terlihat seperti ingin merengek, tetapi harga diri menahannya. Menunjuk lurus ke arah Odo, ia berkata, “Kau gak ada imut-imutnya sama sekali! Padahal waktu kecil imut, tapi kenapa pas besar malah nyebelin!!”
Odo hanya tersenyum kecil mendengar itu, rasa lega melihat Vil yang terlihat tidak sedih lagi mengisi benaknya. Memasang senyum sedikit sombong, anak itu membalas, “Tentu saja. Aku sudah dewasa, dan semua orang dewasa itu menyebalkan dan tak ada imutnya. Aku belajar dari lingkungan, kalau aku tidak imut berarti itu salah Vil juga.”
“Eh, bisa cakap juga anak ini ....” Vil memasang wajah cemberut, tatapan jengkel terlihat jelas padanya. Melihat kedua tangannya ke depan dada, ia memalingkan wajahnya dengan cemberut.
“Apa kau kesepian, Vil?” tanya Odo dengan tiba-tiba.
Roh Agung tersebut terkejut, menatap dengan mata terbuka. Ia lekas memalingkan wajah dan tidak menjawab. Diamnya perempuan itu Odo anggap sebagai jawaban ‘iya’. Membaringkan kepala dengan paksa ke atas pangkuan Roh Agung tersebut, Odo berkata, “Jangan cemas, aku tidak akan meninggalkanmu.”
Gelembung-gelembung air di sekitar mereka langsung muncul dan melayang-layang cepat dengan kacau. Wajah Roh Agung tersebut memerah, ia panik dan merasa geli karena pahanya digunakan untuk bantal dengan tiba-tiba.
“Bo-Bodon—!!” Lidahnya tergigit sendiri karena saking kagetnya. Secara refleks, ia langsung melancarkan sikutan ke arah Odo yang terbaring di pangkuan. Tepat pada perutnya, sebuah serangan mendarat telak dan membuat anak itu sampai ingin memuntahkan isi perut.
Vil meringkuk kesakitan karena menggigit lidahnya sendiri, sedangkan Odo meringkuk memegangi perut karena disikut tadi. “Akh ..., apa yang kau lakukan? Kalau tadi aku makan, pasti sudah muntah ...,” ucap Odo.
Beberapa menit berlalu dan situasi mereka kembali seperti saat pertama Odo datang, duduk berdekatan tanpa saling menatap dan berbicara. Vil masih kesakitan karena menggigit lidahnya sendiri, sedangkan Odo sudah tidak merasakan sakitnya sikutan perempuan itu.
Duduk saling membelakangi, Odo menyandarkan punggungnya pada punggung Vil. Wajah kesal sekilas terlihat dari balik cadar perempuan rambut biru tersebut. Tetapi saat menoleh dan mata keemasannya melirik ke arah Odo, dirinya langsung mengurungkan niat menegur. Wajah anak itu terlihat damai, sangat tenang dan menatap lurus ke arah langit-langit cekung di atas.
“Mau apa kau ke sini, sih? Bukannya kamu sibuk?” tanya Vil dengan nada pelan. Emosi yang meledak-ledak sebelumnya tidak lagi dilepas, ia kembali ke dirinya yang biasanya. Terlihat tenang, kalem, dan bersuara halus seperti halnya Siren yang menjadi konstruksi dasar dirinya sebelum diubah menggunakan Tongkat Veränderung.
“Mau mampir doang, aku bulan ini jarang ke sini lagi, sih. Jadi ....”
“Jadi apa?”
“Entahlah ....”
Odo menundukkan wajahnya, terlihat murung dan menatap datar susunan struktur pada lantai. Anak itu menyadarinya, kalau sebenarnya perpustakaan tempat Vil tinggal juga merupakan penjara baginya. Meskipun Vil pernah memberitahukan Odo kalau impiannya adalah tinggal di Dunia Nyata, tetapi itu bukan menjadi penunggu atau terikat pada sebuah tempat.
“Kebebasan yang terbatas .... Asal merasa bebas, tak apa terkekang oleh sesuatu. Tetapi saat persepsi bebas itu hilang, seseorang akan baru sadar kalau dirinya terkekang,” benak Odo seraya menoleh melihat Vil. Mata mereka bertatapan, tetapi tidak ada kata yang keluar dari mereka berdua.
Berhenti bersandar, Odo bangun dan sesaat meregangkan kedua kakinya. Menghadap perempuan yang duduk melipat kedua kakinya ke depan itu, Odo bertanya, “Apa kau ingin ikut denganku pergi dari perpustakaan ini?” Vil hanya menatap datar saat mendengar itu. Memalingkan pandangan, ia menjawab dengan lirih, “Itu tidak mungkin. Roh Agung hanya bisa tinggal di dunia nyata dengan membuat kontrak dengan sesuatu yang memiliki struktur kompleks untuk menampung keberadaannya. Meski Odo bisa membuat kontrak denganku, kau pasti mati dalam beberapa tahun ....”
“Kalau aku bisa menampung keberadaanmu tanpa mengurangi jangka hidup, apa kau mau ikut denganku?”
Vil terkejut mendengar itu, ia kembali menoleh dan tatapannya berseri dan penuh rasa berharap. Dalam benaknya memang ada keinginan untuk pergi melihat dunia yang luas, tetapi pada saat yang sama dirinya sadar kalau itu tidak mungkin karena dirinya seorang Roh Agung.
“Itu tidak mungkin ....” Wajahnya berubah sedih kembali dengan cepat.
“Kata siapa? Asal bisa diteliti unsur keberadaanmu, aku bisa mengakalinya ....”
Odo mulai melangkahkan kakinya ke arah tangga spiral di pojok ruang. Melihat ke arahnya, Vil benar-benar tidak ingin percaya perkataan Odo. Dirinya tidak ingin berharap lagi, ia tahu kalau itu hanya akan membuatnya merasa sakit karena berharap pada sesuatu yang mustahil.
Saat sampai di lantai dua, anak itu berdiri di pinggiran dan menyandarkan punggungnya pada pembatas. Melihat Vil yang masih berada di bawah, ia berkata, “Bukannya buku yang kamu baca itu juga untuk mencari caranya?”
“Pengertian konsep Jiwa, Roh, Nyawa, dan Arwah di dunia ini masih belum bisa diketahui dan juga masih banyak misteri di dalamnya,” ucap Odo. Perkataan anak itu membuat mata Vil berseri karena apa yang dipikirkan Odo kurang lebih sama dengannya. Unsur-unsur yang membentuk kehidupan masih sangatlah misteri, banyak sekali hal yang tidak dipahami dan batasan masih sangat abstrak mengenai hal tersebut.
“Apa Odo juga ingin meneliti soal itu?” tanya Vil.
“Aku sudah punya gambarannya dalam kelapaku .... Di sini aku hanya untuk memastikan teoriku benar atau tidak. Yah, kalau salah tinggal pikir yang lain ....”
“Eh? Gambaran?” Raut wajah Roh Agung tersebut dipenuhi kebingungan. Ia segera bangun dan melayang menuju lantai dua tempat Odo berada. “Apa maksudnya, Odo?” tanya perempuan itu dengan penasaran seraya mendapat. Dengan jelas senyuman perempuan itu terlihat dari balik cadar.
“Seperti yang aku katakan, aku hanya ingin memastikan ..., karena itu aku cari buku-buku di perpustakaan super lengkap ini. Mau bantu cari?”
Mendapat tawaran itu, Vil langsung mengangguk setuju karena rasa penasaran. Mereka berdua pun pergi mencari buku-buku yang diperlukan untuk memastikan teori yang telah siap dalam kepala Odo. Mereka mengambil sekitar lima buku dari lantai dua dan embat buah dari lantai delapan perpustakaan, dan sebuah buku dari lantai tertinggi.
Membawa semua buku tersebut, mereka kembali ke lantai bawah untuk membacanya. Lebih memilih duduk di lantai dan tidak menggunakan kursi, mereka memulai penelitian yang ada. Membaca setiap buku, memahami kandungannya dan menarik beberapa kesimpulan.
Waktu berjalan begitu cepat saat mereka membahas ilmu pengetahuan dengan penuh semangat, tak terasa di luar sudah mulai gelap. Meski begitu, kedua orang tersebut masih belum selesai meneliti dan terus mencari kesimpulan dari unsur-unsur yang ingin mereka ketahui.
Selesai membaca salah satu buku dan memahami isinya, Odo berkata, “Hmm, kurang lebih pemahamanku tidak melenceng memang ....”
Vil yang duduk di hadapan Odo memasang wajah datar saat mendengar itu. “Tunggu sebenar, Odo. Dari tadi kamu belum bicara soal pemahamanmu! Yang aku lakukan dari tadi juga hanya meneliti seperti biasanya,” ucap perempuan tersebut.
“Tenang saja, akan aku jelaskan .... Pertama-tama, apa kau paham konsep Roh dan mengapa makhluk-makhluk yang tinggal di Dunia Astral disebut Roh?”
“Tentu saja karena bentuk kami para Roh sangat abstrak dan kandungan informasinya berbeda dengan para Mortal,” jawab Vil. Perempuan rambut biru itu mengubah posisi duduknya, ia melipat kakinya ke belakang dan mulai serius.
“Benar, tapi kurang tepat. Apa kau paham susunan utama yang membentuk para makhluk mortal, dengan kata lain makhluk yang tinggal di dunia nyata ini?” tanya Odo seraya mengubah posisi duduknya, ia bersila dan menyangga kepalanya dengan tangan kanan.
“Itu .... “ Vil tidak bisa menjawabnya, ia tidak pernah mencari tahu tentang hal seperti itu karena terlalu fokus tentang Roh dan konsepnya selama beberapa tahun terakhir.
“Komponen utama pembentuk keberadaan makhluk mortal di dunia nyata ini pada dasarnya ada tiga yaitu, Tubuh, Jiwa, dan Roh. Ketiga komponen itu ada pada setiap makhluk hidup, begitu juga di Dunia Astral. Tetapi, ada yang membedakan. Kadar keseimbangan ketiga komponen tersebut sangat berbeda antara makhluk Dunia Astral dan Dunia Nyata ini,” jelas Odo.
“Kalau itu tentu saja sudah tahu! Tentu saja berbeda, Odo. Makhluk Dunia Astral akan menjadi abstrak kalau di Dunia Nyata, dan makhluk Dunia Nyata akan tidak stabil keberadaannya kalau di Dunia Astral. Itu sudah menjadi pengetahuan umum ....”
“Itu benar,” ucap Odo seraya mengangkat jari telunjuk. “Tetapi apa kamu sudah tahu penyebabnya?” lanjutnya.
“Perbedaan susunan informasi ....”
“Dalam hal apa?”
Wajahnya langsung terbelalak, dirinya tidak memikirkan hal seperti itu. “Apa kau tahu soal itu?” tanya Vil dengan semangat.
“Kadar Roh dan Tubuh berbeda .... Makhluk Dunia Astral cenderung memiliki unsur Roh yang kuat, karena itu mereka disebut Roh. Bertolak belakang dengan makhluk di Dunia Nyata, di sini unsur Tubuh terlalu kuat .... Jadi, dari sini perbedaan antara Tubuh, Roh, dan Jiwa mulai menjadi sedikit membingungkan. Sampai mana kehidupan disokong oleh jiwa, sampai mana di dukung oleh tubuh, dan sampai mana oleh roh.”
“Hmm, benar juga .... Konsep kehidupan masih membingungkan. Saat tubuh mati, roh belum tentu menghilang. Ada juga kasus seperti perubahan makhluk dunia nyata menjadi makhluk Dunia Astral,” ucap Vil seraya mengangguk paham.
“Itu benar, dalam kasus lain ada juga undead yang sering digunakan para Necromancer. Meski hanya tersisa tubuh, mereka bisa menghidupkan kembali mayat. Tetapi karena itulah, satu unsur lagi yang perlu diperhatikan .... Jiwa, sebuah unsur yang selalu dimiliki semua makhluk berintelegensi ....”
“Jiwa ...? Apa itu berbeda dengan Roh? Kalau tidak salah, jiwa itu seperti unsur roh dan masuk dalam komponen pendukungnya,” ucap Vil.
“Salah .... Jiwa itu unsur tersendiri dan bahkan lebih kompleks dari Tubuh dan Roh. Kalau diumpamakan ..., makhluk hidup itu layaknya sebuah alat sihir. Tubuh adalah sebuah wadah, roh seperti Mana untuk energi mengaktifkan alat sihir tersebut, dan jiwa sendiri adalah sebuah struktur program untuk bisa membuat alat sihir tersebut beroperasi. Dengan kata lain, jiwa adalah sebuah identitas dari sebuah makhluk hidup berintelegensi,” jelas Odo.
“A ... Benar juga, konsep itu berbeda dengan Roh. Unsur Roh hanya seperti energi saja, sebuah unsur yang bisa membuat sebuah makhluk hidup bisa bergerak dan berpikir. Dasar seperti sesuatu yang bisa membuat makhluk hidup bergerak dan berpikir itu ... adalah Jiwa?”
Vil baru menyadari hal seperti itu. Unsur Jiwa dan Roh, kedua hal tersebut memang sangat mirip tetapi berbeda. Dalam penataan bahasa yang sesuai, Soul dan Spirit memang memiliki makna berbeda tetapi tujuan sama, yaitu membuat makhluk menjadi hidup.
“Benar, Jiwa itu semacam program ... atau jiwa juga disamakan dengan semacam struktur kehidupan. Untuk bisa hidup, harus ada sebuah jiwa, baru roh untuk energi dan tubuh sebagai wadah. Kata nyawa yang sering digunakan adalah kondisi saat jiwa dan roh sinkron membentuk kehidupan, sedangkan arwah adalah kondisi jiwa saat terputus dari roh dan meninggalkan tubuh,” jelas Odo.
Vil benar-benar dibuat terkejut dengan pemahaman seperti itu. Konsep jiwa, roh dan tubuh dibongkar permukaannya dengan cepat oleh anak yang usianya bahkan belum mencapai satu dekade. “Te-Terus bagaimana caranya supaya strukturku, atau menurut cara pandang teorimu itu jiwaku bisa ditampung olehmu, Odo?” tanya Vil dengan gemetar semangat.
“Memasukan strukturmu ke dalam Alam Jiwaku .... Dengan itu, Vil bisa terikat denganku dan dengan bebas keluar dari perpustakaan ini selama di dekatku,” jawab Odo seraya menunjuk tengah dadanya sendiri.
“Bukannya kalau melakukan hal seperti itu tubuh manusia akan terbebani dan umur mereka akan berkurang drastis?”
“Memang .... Karena itulah perlu diperlakukan sebuah perluasan Alam Jiwa dan pengompresan struktur keberadaanmu. Dengan kata lain, kau haru siap kehilangan sebagian kekuatanmu dan memberikannya padaku ....”
“Eh ...?”
“Yah, itu juga harus melakukan ritual dulu dan bahan-bahan langka, sih. Aku kurang lebih sudah punya gambaran bahannya apa saja, tapi untuk mendapatkannya butuh waktu .... Mungkin ... sekitar empat tiga tahun atau empat tahun lagi aku baru bisa dapat ....”
“EEEHHH! Lah, terus bahas ini buat apa coba?”
“Memberimu harapan ....”
Odo berdiri, lalu menatap Vil dengan tajam. Mendapat tatapan seperti itu dari anak tersebut, ada Roh Agung tersebut merasa ada yang aneh padanya. Dirinya baru menyadari kalau dari tadi cara bicara dan perilaku Odo berbeda dari biasanya, anak rambut hitam tersebut terlihat lebih dewasa dan sama sekali tidak bersikap seperti anak-anak seperti dirinya sering lakukan saat bersama Vil.
Tetapi saat memahami itu kembali, Vil menyadari alasannya. “Begitu, ya .... Jadi kamu sudah tidak menahan diri lagi ..., Odo,” benaknya seraya tersenyum tipis.
\===============================
Informasi Pembantu:
«Lajur waktu Menurut Arsip (Kalender Pendulum)
Perang Besar Berakhir Melalui Konferensi = Tahun 2.670
Awal Perjalanan Dart dan Mavis, menikah = 2.671
Surat-Surat Titah Kepada Dart dari Pihak Konferensi = 2.671 sampai 2.683
Tragedi Kota Gahon = 2.683
Pengsiun Dart dan Mavis = 2.684
# Kembalinya Marquess Luke ke wilayahnya = 2.684
# Diadakannya perekrutan = 2.684
# Seleksi Shieal = 2.685
# Selesai dibangunnya Perpustakaan Luke Scientia = 2.685
# Pembasmian Iblis di Dunia Astral = 2.687
# Vil tercatat sebagai Roh yang dikontrak Mavis secara resmi = 2.688
# Odo lahir = 2.690
# Penarikan Dana Ekspedisi Dunia Astral Pertama = 2.693
# Ekspedisi Dunia Astral Pertama = 2.694
# Penarikan Dana Ekspedisi Dunia Astral Kedua = 2.698
# Ekspedisi Dunia Astral Kedua = 2.698.
# Utang Kepada Wilayah Rein dan Garados = 2.698
Tambahan: Kalau pembaca pernah menemukan kalau Perang Besar itu berlangsung 20 tahun lalu, itu maksudnya 20 tahun sebelum Odo lahir.
«Kristal»
+Harga Normal Kristal (Berdasarkan Tingkat Kandungan):
-Rendah A-E = 5 Rupl/gram
-Menengah A-E = 10 Rupl/gram
-Atas = A-E = 50 Rupl/gram
-Terbaik = Bisa mencapai 500/gram
+Berdasarkan Berat
-A= 1 Kilogram -E = 50 gram
-B = 500 gram
-C = 200 gram
-D = 150 gram
Catatan Penulis:
Alasan aku buat Past-Story panjang-panjang demi CH ini ....
See You Next Time!