
“Putriii!!!”
Laura segera berlutut di depannya dan menggunakan sihir pemulihan untuk mempertahankan kehidupan Tuan Putri Ulla. Tanpa memedulikan raga yang sudah sampai pada batasnya dari tadi, Laura tetap memaksa dirinya sendiri untuk menggunakan sihir. Lingkaran sihir muncul pada kedua telapak tangan yang di arahnya ke Tuan Putri Ulla, memancarkan partikel cahaya hijau untuk pemulihan. Tangan High Elf itu gemetaran melihat darah yang mengalir deras dari leher Tuannya, membuat sekilas struktur sihirnya terganggu.
“Se-Serius?! Putri!”
“Yang benar saja!”
“Ti-Tidak mungkin ....”
Ul’ma Lilitra, Magda Klitea, dan Notmarina Clienta segera membantu Laura menggunakan sihir pemulihan untuk mempertahankan kehidupan sang Tuan Putri. Mereka berlari dan berlutut mengitarinya, lalu memusatkan pemulihan untuk menghentikan pendarahan parah. Namun, tetap saja luka tidak bisa tertutup dan kesadaran perempuan rambut ungu itu tidak kembali.
Yang pertama menyadarinya adalah Notmarina, ia menghentikan sihirnya dan menatap penuh putus asa. Ul’ma dan Magda ikut menghentikan sihir, gemetar penuh rasa takut dan sedih menatap perempuan rambut ungu cerah yang terbaring di lantai tersebut. Tidak menerima fakta yang ada, Laura tetap menggunakan sihirnya dan berusaha menutup luka pada leher Tuannya.
Serihan kayu kapal menancap terlalu dalam dan pada tempat yang sangat vital, menghancurkan pembuluh darah dan mematahkan tulang leher. Darah yang mengalir sampai menggenang, membasahi kedua kaki Laura yang berlutut dengan wajahnya yang semakin memucat.
“Laura, Tuan Putri sudah ....”
“Kenapa kalian berhenti! Notmarina! Cepat gunakan sihir pemulihanmu!! Kumohon! Luka seperti ini pasti mudah bagimu, ‘kan?! Kumohon! Selamatkan Putri Ulla!!”
Laura begitu frustrasi, meminta dengan histeris dan sama sekali tak ingin menerima kenyataan. Ia terus menggunakan sihirnya, tidak memedulikan tubuhnya yang semakin sekarat dan darah mengalir dari hidung serta mulut karena kelelahan ekstrem.
Lalu ..., pada akhirnya kesadarannya perlahan pudar dan tidak bisa mempertahankan sihirnya.
Perempuan rambut pirang pendek itu ambruk ke atas Putri Ulla dengan lemas. Merasakan dinginnya tubuh perempuan yang telah ia rawat selama belasan tahun, air mata Laura tidak bisa terbedung lagi dan mulai menangis tersedu. Itu untuk kedua kalinya ia kehilangan sosok yang memberikannya arti kehidupan, rasa pedih tak terelakan dan dalam keheningan ia melepaskan tangisnya.
Awan mendung mulai menurunkan hujan yang berubah deras dengan cepat, seakan memang dunia ingin membasuh air mata perempuan itu. Ia menangis, merengek dan terus berkata, “Ulla ..., kumohon, bangunlah .... Jangan tinggalkan aku di tempat seperti ini .... Kumohon .... Aku tak ingin kehilangan lagi .... Aku sudah muak dengan semua itu .... Ulla, aku mohon, bangun ....”
Rekan-rekannya hanya terdiam. Meski suara hujan deras menghapus tangisan sendu Luara, mereka dengan jelas tahu kesedihan rekannya tersebut. Tak bisa melakukan apa-apa, mereka hanya bersimpuh lemas dengan rasa putus asa. Ombak semakin besar dan membuat kapal berguncang, hujan semakin deras dan bercampur dengan petir yang ganas di atas langit.
Berbanding lurus dengan itu ....
Tangisan perempuan rambut pirang tersebut semakin kencang, tak kunjung berhenti dan dengan erat mendekap tubuh sang Tuan Putri. Namun —
Bola mata Putri Ulla tiba-tiba terbuka, lingkaran sihir muncul pada keningnya dan perempuan yang seharusnya sudah menjadi mayat itu kembali bergerak dan berbicara dalam dekapan Laura.
“Syarat kebangkitan dipindai, tidak terpenuhi. Syarat pemulihan ego alternatif, tidak terpenuhi. Memilah opsi dari 5.000 susunan algoritma dilakukan, selesai. Opsi 4.876 dipilih, dieksekusi. Selesai. Pemindaian tubuh dilakukan, kondisi kritis dikonfirmasi. Arteri Karotis mengalami kerusakan parah, tulang leher rusak dan mengalami kelainan kondisi. Dikonfirmasi benda asing bersarang dan menjadi penyebab. Dikonfirmasi tubuh kehilangan darah hampir mencapai 40% .... Tingkat kerusakan tubuh A, tindakan pemulihan dilakukan,”
Garis-garis cahaya berwarna merah mulai nampak pada tubuh Putri Ulla, bersumber dari jantung dan perlahan menyebar lalu kembali memusat pada luka pada lehernya. Serpihan kayu sebesar dua buah pensil yang bersarang perlahan mulai memuai menjadi Ether, lalu diserap tubuh untuk menutup luka luar yang ada.
“Pendarahan dihentikan. Proses perbaikan tulang leher dilakukan ....”
Krekg! Suara tulang leher yang dikembalikan posisinya terdengar. Cahaya mulai kembali pada kornea mata Putri Ulla, membuatnya terlihat hidup dan tubuhnya mulai menghangat. Melihat hal tersebut, Laura dan rekan-rekannya hanya bisa menatap bingung penuh rasa cemas bercampur takut. Mereka hanya bisa terdiam melihat keanehan tersebut, tak bisa percaya bahwa seseorang bisa bangkit dari kematian dengan cara seperti itu.
Perempuan rambut ungu cerah yang terlihat seperti mayat itu keluar dari dekapan Laura, berdiri dan sekilas bola matanya berputar kacau, lalu dengan tajam menatap ke arah High Elf rambut pirang di hadapannya. Darah milik Putri Ulla yang menggenang dan bercampur hujan dengan cepat berubah menjadi partikel-partikel cahaya, bersinar redup dan melayang ke udara membentuk sebuah kubus padat. Kubus merah darah itu sebesar telapak tangan, melayang ke dada Putri Ulla dan masuk ke dalam tubuhnya.
“Master ... Or’iama ....?” ucap Laura.
“Konfirmasi pembangkitan kepribadian. Tidak selesai. Pembangkitan tidak sempurna dipilih, selesai. Salah satu dari susunan algoritma Kode 101 dijalankan ....”
Lingkaran sihir pada kening Putri Ulla menghilang, lalu sekilas tubuhnya kembali dipenuhi oleh garis-garis sirkuit merah dan sebuah proses pemulihan dilakukan. Luka tertutup rapat, darah yang keluar sebagian dikembalikan ke tubuh dan ia benar-benar pulih secara fisik.
Suasana menjadi hening, pusat perhatian para Prajurit Peri terfokus pada perempuan rambut ungu yang berdiri di tengah-tengah. Hujan yang deras membuat rambut poni perempuan itu turun, menutupi wajah dan ekspresinya. Mereka ikut berdiri, penuh rasa penasaran namun terlalu takut untuk bertanya.
Dengan penuh rasa cemas, Laura mendekat dan ingin menyingkirkan rambut poni perempuan itu supaya bisa melihat wajahnya. Namun, tangannya langsung ditangkap dan pergelengan dipegang erat.
“Dirimu ..., gagal melindunginya, ya? Tak diri ini sangka akan kembali lagi ke dunia dengan cara seperti ini.”
“A— Anda ....”
Laura sangat kenal cara bicaranya, begitu nostalgia dan membuat suasana hatinya bercampur aduk. Ia merasa bahagia bisa melihat Masternya bangkit kembali, namun pada saat yang bersamaan ia merasakan kesedihan yang luar biasa karena kehilangan Tuan Putri yang dirinya sayangi.
“Benar ..., ini diriku. Engkau sudah diriku ini beritahu soal syarat pemulihan kepribadian, bukan? Kalau Putriku terbunuh, berarti engkau ....”
“Bu-Bukan!” Laura lekas membantah, ia menarik tangannya dari Putri Ulla dan dengan gemetar berkata, “A-Aku tak ingin Putri mati!! Hal ini ....”
“Ya, diriku paham ....” Perempuan rambut ungu itu mengangkat wajahnya, memperlihatkan ekspresi sendu yang berbeda dan berkata, “Pembangkitan tak sempurna ini, tidak salah lagi .... Kepribadiannya masih ada, ini hanyalah kerusakan sementara sebelum perbaikan? Kondisi ireguler, ya. Tak diriku ini sangka akan ada sebuah momen aneh seperti ini.”
“Master Or’iama ...?”
“Su-Sungguh itu anda?”
“Ti-Tidak mungkin .... Lalu, apa yang terjadi pada Tuan Putri? Kenapa ....”
Ul’ma Lilitra, Magda Klitea, dan Notmarina Clienta meragukan kebangkitan sosok yang memberikan kekuatan pada mereka. Hal seperti itu hanya diketahui oleh Laura, bagi Prajurit Peri generasi lanjutan seperti mereka informasi semacam itu cukup membuat perasaan bercampur aduk.
Berbalik dan kembali menatap Laura, perempuan itu bertanya, “Kenapa engkau memasang wajah seperti itu? Apa ... engkau tak bahagia diriku ini kembali hidup?”
“Master ... apa maksud perkataan Anda tadi?” tanya Laura pucat.
“Seperti yang diriku bilang, ini pembangkitan tak sempurna.”
“Kenapa ...? Bukannya Tuan Putri Ulla masih remaja .... Usianya masih ....”
“Hmm .... Kau tahu, Putriku sudah masuk fase dewasa. Purwarupa, apa engkau tidak menghitung waktu saat ia masih berada di tabung penstabil?”
Kedua mata Laura terbuka lebar, ia benar-benar melewatkan hal tersebut dan memang ia menghitung usia Putri Ulla dari pertama kali ia membawanya keluar dari Laboratorium Ma’tar. Dengan gemetar, ia melangkah mundur dalam perasaan kacau dan bingung harus melakukan hal apa.
“Engkau tak perlu cemas ....” Perempuan rambut ungu itu berjalan mendekat, mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi kanan Laura dengan lembut. Sembari memasang senyum tipis, ia berkata, “Tenang saja, diriku ada di sini. Bisa engkau jelaskan situasinya, Purwarupa? Yah, kurang lebih diriku bisa menebaknya dari ingatan putriku ini ....”
««»»
Kota Mylta, pada lingkungan Gereja Utama yang terletak di dekat lingkup pemukiman kalangan atas dan para pejabat kota. Hujan deras yang turun membuat orang-orang berteduh pada teras atau di bawah genteng pinggir bangunan. Hujan bercampur petir, suara gemuruh, angin dan terlihat gelap di atas sana.
Air turun ke genteng dan tanah, terus turun dan bercampur tanah sampai ke dalam saluran irigasi dan membuat alur kuat di sana. Gemericik mengisi seluruh tempat, derasnya sampai membatasi jarak pandang.
Pada bangunan Gereja Utama Kota Mylta, Odo berdiri di teras depan dan sekilas menatap ke anak tangga di hadapan dengan sorot mata datar. Air hujan mengalir turun dari satu anak tangga ke anak tangga lain, sekilas mengingatkannya pada sebuah tempat. Memejamkan mata sebentar, ia memalingkan pandangan ke arah langit gelap terus bergerak ke arah daerah pegunungan. Menarik napas dalam-dalam, pemuda rambut hitam itu bergumam, “Begitu, ya .... Informasi dari Rhea itu asli, berarti sekarang di sana ....”
Kornea mata pemuda itu sekilas menghijau, mendapat beberapa gambaran dan kesimpulan dari kejadian yang jaraknya sangat jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Di tengah lamunan pemuda yang selalu mengenakan setelan kemeja putih dan celana hitam itu, pintu utama tempatnya berteduh terbuka dan seseorang dari dalam keluar.
“Kamu tidak masuk?” tanya Nanra. Gadis kecil rambut putih keperakan tersebut memasang ekspresi jengkel, menarik jubah cokelat pemuda itu dengan sedikit kasar.
Odo menoleh, sedikit tersenyum kecil dan berkata, “Apa sekolah mingguanmu sudah selesai?”
“Hmm!” Nanra memalingkan pandangan, lalu mulai menggerutu, “Karena kamu mengajak datang ke sini, aku jadi ditarik Mbak Siska masuk kelas dan dimarahi ....” Sedikit melirik kecil dengan rasa penasaran, gadis itu bertanya, “Memangnya mau apa sih datang ke sini? Kita sedang sibuk, bukan? Sampai buang-buang waktu di tempat seperti ini ....”
“Tempat seperti ini, ya?” Odo berbalik menghadap Nanra, sedikit menatap tajam dan dengan tegas berkata, “Ini salah satu pusat Nadi Sihir di kota ini, loh.”
“Nadi ... sihir?” Nanra sedikit bingung mendengar istilah asing tersebut, ia semakin mendekat dan bertanya, “Apa itu ada hubungannya dengan papan perak yang kau tinggalkan di bukit dan hutan?”
“Yah, kurang lebih seperti itu ....”
Odo menoleh ke arah kota. Dari tempatnya berdiri, terlihat anak tangga menurun dan terus lurus dapat terlihat kota dengan cukup jelas. Gereja Utama di bangun pada tanah bukit bukan hanya supaya terlihat mencolok sebagai pusat peribadatan, namun juga merupakan sebuah tempat untuk menjaga aliran sihir kota.
Mengamati kembali tata letak bangunan-bangunan yang ada di kota, Odo menutup mulut dengan tangan kanan dan bergumam, “Semuanya memang bisa digunakan untuk struktur. Kalau tidak salah kota ini dirancang oleh salah satu leluhur Luke, apa dia seorang Ahli Sihir? Tapi mengingat Luke sekarang adalah keluarga Ahli Pedang, rasanya sedikit aneh ....”
“Apa yang kamu bicarakan?” tanya Nanra heran melihat pemuda itu terdiam.
“Enggak .... Sepertinya hujannya bakal lama, ya?”
“Hmm, kita terjebak di sini. Gara-gara kamu yang ingin mampir segala ....”
“Nanra!!” seseorang dari dalam Gereja Utama memanggil gadis kecil itu. Tetapi, ia malah diam dan tidak menjawab.
Melirik kecil ke arah Nanra, Odo berkata, “Dipanggil tuh .... Mbak Siska, ‘kan?”
“Pa-Paling cuma disuruh ikut pelajaran menjadi biarawati ....” Nanra memalingkan pandangan, dengan wajah cemas ia berkata, “A-Aku tak punya cita-cita jadi orang puritan.”
“Hmm .... Padahal bakal lumayan kalau kau bisa sihir pemulihan, sayang sekali.”
“Eh?” Nanra segera menatap pemuda rambut hitam itu dengan antusias, lalu kembali menarik jubahnya dan bertanya, “Apa kamu perlu sihir semacam itu? Bukannya kamu punya sihir regenerasi tingkat tinggi?”
“Regenerasi itu butuh Mana. Kalau Mana-ku habis, tentu saja itu tidak akan aktif. Berbeda dengan itu, pemulihan yang dilakukan dari luar itu hampir sama dengan membagi Mana dengan orang lain.”
“Benar juga ....” Nanra memalingkan pandangan, memikirkan beberapa hal dan bergumam, “Mungkin tidak buruk juga ikut pelajaran yang sangat disukai Nesta itu.”
Pintu utama gereja terbuka, seorang perempuan dengan penampilan biarawati keluar dan segera menatap ke arah Nanra. Ia adalah salah satu pendeta terkemuka di kota, pengasuh anak-anak panti asuhan Inkara, Siska Inkara. Perempuan bermata biru itu segera menjewer telinga Nanra dan menegur, “Kenapa kau suka sekali kabur dari kelas, sih? Padahal kakak hanya berpaling sebentar, tapi malah langsung bolos—”
Kalimat Siska terhenti saat melihat Odo, ia menatap terkejut dan segera berhenti menjewer Nanra. Gadis kecil rambut putih keperakan tersebut segera bersembunyi di balik Odo, menatap tajam dan mulai menggerung seperti anak kucing yang bertengkar dengan induknya. Dijadikan tameng seperti itu, sekilas Odo memalingkan pandangan dan menghela napas.
“Yo, Mbak Siska ....” Pemuda itu bertingkah santai, mengangkat tangannya setinggi dada untuk menyapa dan bertanya, “Apa semuanya lancar? Itu ..., tentang syarat yang ajukan dan peningkatan pendidikan yang aku sarankan.”
Siska sedikit tersentak, berhenti bengong dan menjawab, “Sejauh ini lancar, Tuan Odo. Pembelian alat-alat, tunjangan untuk para pengajar dan pembuatan salinan-salinan buku ajar sudah dilakukan.”
“Hmm, syukurlah. Kalau begitu, izinkan aku tanya satu hal. Selain mengajar, para pengajar di sini biasanya bekerja apa di hari-hari lain? Kelasnya hanya ada di hari minggu, ‘kan?”
“Bekerja ...?”
“Ya, bekerja.”