Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 43: Mutual-Evîn 3 of 10 “Rondo” (Part 03)



 


 


Kerajaan Moloia, sebuah negeri kepulauan yang terletak pada barat laut benua Michigan. Negeri tersebut menganut bentuk pemerintahan Monarki Konstitusional. Negerinya sendiri dipimpin oleh Raja sebagai Kepala Negara, sedangkan untuk Kepala Pemerintahan dipegang oleh seorang Perdana Menteri.


 


 


Dengan adanya Trias Politika, kekuasaan yang ada di negeri tersebut dibagi menjadi bagian eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Pada pembagian kekuasaan terdapat empat fraksi departemen utama yang memiliki pembagian kekuasaan menurut ketentuan tersebut.


 


 


Meskipun setiap fraksi memiliki pengaruh kuat pada setiap bentuk kekuasaan, namun masing-masing memiliki kecenderungan dominan yang berbeda-beda. Pada fungsi kekuasaan Eksekutif, kekuasaan dominan dipegang oleh Fraksi Penjaga Keberlangsungan Kerajaan. Fraksi tersebut terdiri dari Raja, keluarga kerajaan, kabinetnya, beserta beberapa badan-badan yang membantu tugas-tugas kepala pemerintahan.


 


 


Untuk Legislatif, Fraksi Sistem Pengadilan dan Politik lebih dominan. Fraksi tersebut terdiri dari badan-badan yang mewakili rakyat, lembaga yang membuat beberapa peraturan negeri berdasarkan persetujuan badan lain, serta kebanyakan terdiri dari pejabat negeri.


 


 


Kekuasaan Yudikatif sendiri dipegang oleh Fraksi Pengembangan Teknologi dan Penelitian. Meski secara langsung fungsi Yudikatif juga dipegang oleh Fraksi Sistem Pengadilan dan Politik, namun secara nyata keputusan akhir ada di tangan Fraksi Pengembangan Teknologi dan Penelitian.


 


 


Hal itu terjadi karena kerajaan Moloia sendiri hampir keseluruhan dikendalikan oleh sebuah sistem dari sekelompok A.I (artificial Intelligence) Super Cerdas yang membangun negeri tersebut dari keterpurukan. Pusat dari kepemimpinan itu ada di semua bentuk kekuasaan, namun sebagai induk menetap pada yudikatif sebagai penegak supaya sistem yang bernama Hukum Pemerintah tetap berjalan.


 


 


Selain ketiga bentuk kekuasaan utama, ada juga Fraksi Militer yang secara penuh memegang kekuasaan militer kerajaan. Fraksi ini terbilang khusus karena bisa menginterpretasi semua fungsi kekuasaan jika terjadi kondisi-kondisi khusus, seperti ancaman dari luar atau dalam.


 


 


Selain hal-hal tersebut, Moloia juga memiliki sistem parlementer, senat dan Perdana Menteri sebagai Kepala Pemerintahan. Karena secara bentuk negara Kerajaan Moloia berbentuk Negara Kesatuan dengan sistem-sistem pemberian otonomi daerah penuh pada 5 negara bagian, yang benar-benar membagi kekuasaan negeri tersebut adalah fraksi-fraksi.


 


 


Pusat pemerintahan Moloia sendiri terletak pada Roter Pfeil, negara polis sekaligus Ibukota dari Kerajaan Moloia. Terletak di bagian barat daratan utama, pada puncak dataran tinggi Yim’jorden.


 


 


Di kota yang terletak di dataran tinggi tersebut, gedung-gedung bertingkat berdiri kokoh dengan gaya arsitektur modern dan benar-benar lebih maju dari semua negeri di daratan Michigan. Bangunan tersebut menggunakan beton khusus, fondasi anti longsor dan gempa, bahkan sampai memodifikasi daerah dataran tinggi tersebut dengan baja dan mineral khusus.


 


 


Ada beberapa bangunan yang berdiri di lereng, puncak, bahkan menumpang di atas sebuah tebing curam. Meski begitu, tidak pernah satu kali pun terjadi longsor karena arsitektur yang ada sudah secara penuh mengubah permukaan Yim’jorden.


 


 


Dataran tinggi yang jika dilihat dari lembah itu penuh dengan bangunan-bangunan besar, telah dimodifikasi dan hampir 80% permukaannya adalah logam campuran dan mineral keras. Tanah, pohon, rumput, semua itu hanyalah sebuah buatan, tidak tumbuh dan ada secara alami.


 


 


Saat Perang Besar, orang-orang kekaisaran dan Ungea menyebut kota tersebut Kota Baja karena hampir semuanya terbuat dari logam. Meski sekarang sudah ada sistem penghijauan dengan mempertimbangkan fungsi sebagai tempat tinggal, namun polusi dari disel dan mesin berbahan bakar fosil menghasilkan polusi lebih banyak. Karena itulah langit kota selalu terlihat abu-abu meski berada di dataran tinggi.


 


 


Pada istana kerajaan yang berada di puncak kota Roter Pfeil, seorang perempuan dengan tiara berhiaskan batu permata merah duduk di depan meja teh di balkon kamarnya. Ia mengenakan gaun panjang berwarna putih murni, memiliki renda pada bagian lengan panjangnya dan kalung roda gerigi kecil dari logam mulia berwarna keperakan.


 


 


Duduk di atas kursi besi dengan bantalan empuk, ia menghadap ke arah kota dan mengamati bangunan-bangunan besi  di bawah sana. Berbeda dengan semua bangunan yang ada di kota, istana masihlah terbuat dari dominasi batu marmer dan mempertahankan aspek sejarah kerajaan Moloia. Apa yang dilihat perempuan berusia 19 tahun tersebut hanya pernah didatanginya beberapa kali dalam seumur hidupnya.


 


 


“Selalu saja kelabu,” gumamnya saat menatap langit kota. Memalingkan pandangan ke arah kamar, ia merasa kalau kamarnya terasa tidak jauh berbeda dengan kota. Terlihat sempurna dan rapi, tata letak semua barangnya begitu efektif sampai tingkat membosankan.


 


 


Perempuan tersebut adalah Ulla Vrog Ma’tar, Tuan Putri ke-30 dari pasangan Raja Hadrian Vorg Mathias Pol Rune dengan salah satu mendiang selirnya, Or’iama.


 


 


Raja Kerajaan Moloia itu sendiri memiliki lebih dari 28 selir dengan satu Ratu. Dari sekian banyak pasangan yang ada, sang Raja generasi kelima Moloia tersebut memiliki 40 keturunan— Terdiri dari 30 Tuan Putri dan 10 Pangeran, mereka semua ada juga yang telah memiliki keluarga dan memberikan cucu untuk sang raja.


 


 


Di antara sekian banyak Tuan Putri yang ada, Ulla Vrog Ma’tar atau yang lebih dikenal dengan Putri Amethyst tersebut merupakan anak terakhir dari sang Raja sebelum jatuh sakit dan berhenti membuat keturunan.


 


 


Tak lama setelah Ulla lahir, ia kehilangan ibunya dan tidak pernah dilirik oleh sang raja. Hal tersebutlah yang membuatnya menjadi pendiam, bahkan dari sekian banyak Putri sang Raja yang tinggal di istana.


 


 


“Entah siang atau malam, kota ini memang selalu terasa kelabu.”


 


 


Tuan putri berambut ungu itu mengangkat cangkir teh mint dari piring cawan, meminumnya sembari menikmati pemandangan metropolitan negara polis tempatnya dilahirkan. Kepadatan penduduk di Roter Pfeil merupakan salah satu yang paling tinggi setelah ibukota kekaisaran, penuh dengan pekerja dan pabrik-pabrik serta laboratorium.


 


 


Mobil-mobil uap dapat terlihat lalu-lalang memadati jalan. Cerobong-cerobong asap dari pabrik dan laboratorium mengepul, memenuhi langit dengan warna abu-abu pekat. Kebanyakan SDM Moloia terorganisir dengan sangat rapi, hampir tak ada satu pun orang berwarga negara kerajaan tersebut menyandang gelar pengangguran.


 


 


Semuanya memiliki pekerjaan. Pendidikan yang dilakukan berfokus pada vokasi, mementingkan keahlian daripada pengetahuan. Karena hal tersebut, secara teori memang Moloia tidak mengalami kendala SDM.


 


 


Namun karena kesempurnaan efektivitas tersebut, sebuah kesenjangan kepuasan muncul dan membuat peluasan pembangunan menjadi terhambat. Dari tempat Ulla duduk, di bawah sana terlihat pembagian kota secara jelas. Entah itu distrik untuk pabrik, penelitian, pemukiman, dan militer, ada perbedaan pekerjaan yang sangat nampak. Distrik pabrik yang menjadi sumber perekonomian cenderung lebih berat porsi kerjanya daripada tempat lain.


 


 


Saat menikmati pemandangan menjelang senja tersebut, pintu kamar Putri Amethyst diketuk, lalu suara seseorang mengikuti, “Putri Ulla, apa Anda di dalam?”


 


 


Putri dengan rambut ungu terurai sampai punggung tersebut menoleh. Meletakkan cangkirnya ke atas piring cawan, lalu berkata, “Silakan masuk, pintunya tidak dikunci.”


 


 


“Ya ...!”


 


 


Suara pintu terbuka terdengar, lalu setelah itu tertutup kembali. Langkah kaki sepatu bot terdengar, memberitahukannya siapa yang datang di sore-sore hari seperti ini. Tersenyum ringan, Tuan Putri tersebut seakan telah menunggu kedatangan sosok tersebut.


 


 


“Selamat sore, Laura ....”


 


 


“Selamat sore juga, Master.”


 


 


Yang datang ke kamar Ulla adalah salah satu perwira militer. Dengan seragam kerja militer yang dominan warna hitam dengan aksen garis ungu di sekitar lengan, perempuan rambut pirang pendek sebahu itu terlihat sangat bermartabat. Beberapa medali ada pada dada seragamnya, menandakan tingkatnya yang seorang Letnan Tingkat Dua di ranah militer.


 


 


Kulit pucat, rambut pirang, mata hijau zamrud, dan telinga yang sedikit lebih pajang dengan ujung lebih runcing dari kebanyakan orang. Perempuan bernama Laura tersebut bukanlah manusia, ia adalah seorang High Elf.


 


 


Berdiri di dekat sang Tuan Putri, Laura bertanya, “Apa Anda sedang melihat pemandangan kota lagi?”


 


 


“Iya .... Pemandangan senja seperti ini memang satu-satunya yang indah dari kota. Kemerahan di tengah warna abu-abu, begitu menawan sebelum menjelang malam.”


 


 


“Anda ... lebih baik jangan terlalu sering membuka pintu balkon lama-lama, polusi dari luar nanti masuk semua, Master. Apa gunanya ruangan Anda dipasang penyaring udara kalau dibuka lebar begitu?”


 


 


Ulla menoleh ke arah Laura, menatap sendu dan bertanya, “Rasanya ironi, ya? Padahal kita seharusnya bisa bertahan karena kemajuan teknologi ini, namun sekarang kita malah terancam hancur karena sistem yang membawa perkembangan teknologi kita.”


 


 


Putri Ulla menarik kursi dari kolong meja teh, mempersilakan veteran militer tersebut duduk bersamanya. Menyiapkan cangkir kepada Laura, sang Putri menuangkan teh mint untuknya dan tersenyum ringan.


 


 


Laura duduk dan menatap kota, dengan tatapan sedikit sedih ia berkata, “Anda mendengar hasil kalkulasi Mahia Sistem itu dari mana?”


 


 


Setelah meminum habis tehnya, Tuan Putri tersebut menjawab, “Burung sekarat yang bilang itu pada diriku.”


 


 


Laura sedikit melirik datar, paham apa maksud dari perkataan tersebut. Meminum satu tegukkan teh yang disediakan untuknya, Luara bertanya, “Lalu apakah Putri Ulla akan ikut seperti para saudara Anda? Berlomba-lomba dan berselisih demi menjadi kandidat Raja berikutnya?”


 


 


“Mana mungkin ....” Putri Ulla tersenyum miris, menatap pengawal pribadinya tersebut dan berkata, “Saya hanya putri terakhir, paling nasibku hanya digunakan untuk kupetingkan negeri dan melakukan pernikahan politik dengan orang yang tak diriku kenal.”


 


 


Laura menatap datar, meletakkan tangannya ke depan dada dan berkata, “Master, saya, Laura Sam’kloi adalah Senjata sekaligus Wali Anda. Sejak Nyonya Or’iama meninggal, saya bersumpah akan melayani Anda. Kalau Anda ingin, saya tak akan ragu melakukan apa saja. Meski itu pekerjaan kotor sekalipun ....”


 


 


“Hentikan itu, Laura ....” Putri Ulla menggelengkan kepala, menatap sedih mengingat mendiang ibunya dan nasibnya sebagai Tuan Putri dari kerajaan Moloia. Dengan suara sendu, ia berkata, “Bagiku engkau sudah seperti Kakak, tak tega hatiku memerintahkan hal kejam seperti itu.”


 


 


“Lalu apa Anda rela orang lain memutuskan hal kejam kepada Anda?” Laura menggenggam kedua tangan Ulla di atas meja, menatap Tuannya tersebut dan berkata, “Master tahu sendiri sistem apa yang ada di negeri ini, ‘kan? Kalau Master tidak berkontribusi, kebebasan tidak akan Master dapat.”


 


 


Laura menatap ke arah kota, bersama Ulla ikut melihat orang-orang di sana. Dengan nada sedikit menekan, perwira militer tersebut berkata, “Lihat orang-orang di bawah sana, mereka yang bekerja di pabrik karena tak bisa berkontribusi lebih dengan kemampuan mereka .... Master berbeda dengan mereka.”


 


 


“Apa ... bedanya? Sejak kecil diriku dibatasi ....”


 


 


“Tapi ....” Laura menatap penuh rasa sedih, hatinya merasa perih melihat sosok yang sudah dirinya anggap keluarga itu pasrah dengan takdir yang ada.


 


 


Putri Ulla menundukkan wajah, dengan sendu berkata, “Ya, memang harus diriku akui diri ini lebih beruntung dari mereka. Tanpa mencucurkan keringat diriku bisa mendapat makanan enak, tak perlu memikirkan kebutuhan primer untuk hari berikutnya. Dibandingkan dengan para prajurit, diriku juga tak perlu mempertaruhkan nyawa.”


 


 


Laura sekilas terdiam, sedikit menangkap maksud perkataan Putri Ulla. Melepaskan tangan Putri tersebut dan menurunkan tangannya sendiri ke atas pangkuan, Luara bertanya, “Apa ... Master tak setuju dengan keputusan perang tersebut?”


 


 


 


 


Laura sesaat terdiam mendengar pendapat Tuannya tersebut. Menatap ke arah kota, ia berkata, “Saya para senat tidak menganggap mereka sebagai makhluk hidup .., mereka hanya menganggap orang-orang di luar Moloia tidak lebih dari sekadar angka. Terutama pihak militer, mereka benar-benar serius ingin memulai perang. Faktanya, bahkan fraksi-fraksi lain yang sudah mengirim mata-mata ke negeri tetangga.”


 


 


Sesaat suasana menjadi hening, angin senja bertiup kencang dan mengibarkan rambut mereka. Pada kota dengan tanpa satu pun burung terbang di atasnya, keheningan tersebut diselingi oleh suara dentang mesin-mesin di bawah sana.


 


 


“Perang ini ....” Putra Ulla menatap perempuan rambut pirang panjang sebahu tersebut. Dengan nada serius, ia bertanya, “Apa benar hanya untuk mengurangi potensi konflik internal? Bukannya rapat seperti itu sudah sering dibahas dan Unit 00, Rhea, selalu menolaknya. Kalau Mahia Sistem sebagai Administrator itu tidak menerima usulan dari Athena, bukannya perang tidak akan terjadi?”


 


 


“Saya kurang tahu, wewenang saya untuk mengakses itu masih kurang.” Luara balik menatap, memasang ekspresi serius dan berkata, “Tapi menurut kalkulasi Nartaya dan Moska ada hasil lain yang muncul. Itu juga yang mendorong Athena untuk terus mendesak Rhea menyetujui proposal rencana perangnya.”


 


 


“Hasil lain?” Putri Ulla terkejut, segera bangun dari tempat duduk dan bertanya, “Apa itu, Laura?”


 


 


“Katanya ... ada MacGuffin muncul di Kerajaan Moloia.”


 


 


“MacGuffin?” Alis Putri Ulla terangkat, sedikit bingung dengan hal tersebut dan berkata, “Kalau tidak salah itu salah satu elemen untuk sebuah plot cerita di novel atau teater, bukan? Semacam objek atau semacamnya yang membuat sebuah tokoh mendapat motif untuk bertindak.”


 


 


Putri kembali duduk, menutup mulut dengan tangan kanan dan sedikit memalingkan pandangan untuk berpikir. Menyadari sesuatu, ia bertanya, “Mengesampingkan Athena, memangnya apa yang memberi motif para A.I cinta damai itu memutuskan untuk berperang? Bukannya saat melawan kekaisaran, ketiga dari mereka menolak untuk melanjutkan invasi dan berhenti di kepulauan barat kekaisaran?”


 


 


“Saya juga kurang tahu .... Namun, katanya ada desas-desus Unsur Hitam sudah muncul di sana.”


 


 


“Eh, unsur hitam?” Putri Ulla benar-benar terkejut mendengar hal seperti itu. Mengerutkan kening dan menatap tajam, ia bertanya, “Rumor itu yang katanya ingin dipanggil oleh Aliran Sesat saat Perang Besar? Apa ... itu semacam Iblis atau semacamnya?”


 


 


“Saya rasa bukan .... Beberapa minggu lalu ada kabar kalau Odrania Dies Orion dipanggil di kerajaan Felixa dan itu bukanlah Unsur Hitam menurut kalkulasi Athena.”


 


 


“Raja Iblis Kuno itu?!” Putri Ulla kembali bangun, menatap kaget dan memastikan, “Yang bahkan katanya tidak bisa dihancurkan saat Perang Besar?!”


 


 


“I-Iya  .... Menurut kabar dari mata-mata pihak militer, Raja Iblis itu dikalahkan oleh Hewan Suci yang melayani Keluarga Luke. Kalau tidak salah ..., namanya Fiola.”


 


 


Putri Ulla gemetar, kembali duduk dan mulai cemas pada pihak militer yang serius ingin melawan semua negeri sekaligus. “He-Hebat juga orang Felixia itu .... Kalau tidak salah, dulu pernah beberapa kali kerajaan kita menjadi ladang pemanggilan iblis dan kita benar-benar kewalahan, bukan?”


 


 


“Ah, kejadian di Gurun Muhdara itu.” Laura sedikit memalingkan pandangan, mengingat dirinya pernah ikut dengan perang di gurun tersebut. Meski dirinya terlihat memiliki paras remaja dan feminin, High Elf tersebut sebenarnya sudah hidup lebih dari 400 tahun lamanya dan telah melayani kerajaan Moloia sejak generasi Raja kedua.


 


 


Menghela napas resah, Laura kembali berkata, “Memang, dalam segi seperti itu kita kalah dari negeri lain .... Orang-orang kerajaan kita, tepatnya yang bukan keturunan Peri atau Demi-human kebanyakan memiliki aktivasi sihir rendah .... Sihir suci yang menjadi kelemahan utama para iblis tidak kita miliki. Berbanding terbalik dengan kita, Felixia dan Miquator banyak pengguna sihir seperti itu.”


 


 


“Jadi, ujungnya Unsur Hitam itu apa? Kalau bukan Raja Iblis itu, apa yang para A.I itu cari sampai-sampai ingin perang? Dan juga, diriku dengar kalau Rhea tiba-tiba memberikan larangan untuk menunda penyerangan dan mengurangi kekuatan untuk menggempur Felixia?”


 


 


“Anda mendengar sampai sedetail itu rupanya .... Yah, pihak militer juga mendapat itu dan terpaksa harus menunda serangan. Rhea pemegang wewenang tertinggi setelah Sistem Utama, kalau A.I lain menolak berarti mereka juga menentang pencipta mereka. Otoritas sangat penting bagi para A.I itu.”


 


 


“Laura, kamu tidak menjawab pertanyaanku!” Putri Ulla mulai kesal, Laura seakan terus menghindari pertanyaannya. Duduk dan melihat kedua tangannya ke depan, ia menekan, “Kamu pasti tahu tentang Unsur Hitam itu, ‘kan? Apa yang dicari para sistem itu?”


 


 


“Master, jujur saja ini masih hanya rumor ....”


 


 


“Rumor yang kamu dengar biasanya benar! Katakan saja!”


 


 


“Eng, mereka katanya telah menemukan Father di wilayah Luke.”


 


 


“Eh? Father?” Pikiran Putri Ulla sekilas kosong, tidak mengerti kenapa kata itu tiba-tiba muncul dalam hasil kalkulasi para A.I. Memalingkan pandangan, ia berkata, “Kalau tidak salah para A.I itu menyebut pencipta Sistem Utama Mother, berarti itu .... Apa Felixia juga punya A.I?!”


 


 


“Itu mustahil .... Negeri itu cenderung sangat dekat dengan Roh dan Sihir. Hal seperti teknologi dibenci mereka. Kalau kekaisaran masih mungkin muncul hal seperti itu karena mereka cenderung toleran pada unsur kita, namun Felixia itu cenderung mirip dengan Miquator dan tidak suka dengan apa yang kita sebut sains.”


 


 


“Lalu Father yang mereka sebut itu apa? Jangan bilang kalau orang yang menciptakan mereka datang entah dari mana di Felixia?”


 


 


“Bukan itu .... “ Laura memalingkan pandangannya dengan berat, dengan ragu berkata, “Rumornya bukan mengatakan datang, namun itu sebuah inkarnasi. Dalam sudut pandang pengetahuan kekaisaran, itu semacam Avatar.”


 


 


“Avatar? Tunggu! Para sistem itu percaya dengan inkarnasi ilahi semacam itu?!” tanya Putri Ulla panik.


 


 


“Entahlah, itu hanya rumor. Lagi pula, masih banyak yang belum kita ketahui tentang dunia ini .... Master tahu sendiri, para A.I yang telah membangun dan menyelamatkan negeri ini dari kehancuran pun belum bisa mencapai kebenaran yang mereka didambakan. Mereka mirip dengan para penyihir Miquator, mengincar Awal Permulaan. Hanya saja ... melakukan pendekatan dengan cara yang berbeda.”


 


 


Putri Ulla terdiam, dirinya kurang lebih tahu tujuan utama para A.I tersebut karena hal itu tertera dalam Perjanjian Kuno Moloia saat membangkitkan Mahia Sistem ratusan tahun lalu dalam reruntuhan. Darah — Tepatnya peta genetik yang tertanam padanya membuat Ulla memiliki aktivasi dari Mahia Sistem dan bisa membangkitkan teknologi yang tertidur semacam itu.


 


 


Ia juga memiliki hak akses atas informasi-informasi tersegal, yang di antaranya adalah apa yang ada sebelum Banjir Besar yang menenggelamkan dunia ada sebuah peradaban yang hampir mencapai Awal Permulaan.


 


 


Namun saat memikirkan hal seperti itu, dirinya menjadi takut karena bisa saja bencana serupa yang didatangkan dari langit tersebut terjadi kembali dan menghancurkan peradaban yang ada. Menghapus sejarah — meluluhlantakkan peradaban yang telah terbentuk selama 2.699 tahun kalender pendulum.


 


 


“Apa ... memang kita harus tahu semua itu? Diriku rasa ... ada kalanya kita tak apa-apa menjadi makhluk yang tidak tahu ....”


 


 


Mendengar itu Laura sedikit paham perasaan Tuannya tersebut. Dirinya yang seorang High Elf dan telah mengetahui banyak rahasia Moloia merasa kalau pengetahuan yang ada memang ada beberapa yang sebaiknya tetap terpendam. Menarik napas dalam-dalam, ia berkata, “Memang benar .... Namun, mereka yang sudah menikmati pengetahuan dan terpana pada hal itu tidak akan berhenti. Bagi mereka, mengejar kebenaran adalah kenikmatan tersendiri ....”


 


 


“Diriku tak paham .... Mereka seharusnya tahu kalau kebenaran bagaikan matahari. Semakin mendekat maka akan terbakar.”


 


 


Laura menatap ke arah kota. Matahari yang mulai terbenam membuat langit semakin gelap, membawa angin dingin yang bertiup menyusuri kulit mereka. Lampu-lampu listrik mulai menyala di kota, membawa cahaya terang yang membuat kota tersebut seakan tak memiliki malam. Bersama tuannya, ia tersenyum tipis melihat gemerlap perkotaan dari tempa tinggi.


 


 


“Saya rasa ... pengetahuan tidak seburuk itu, Master. Berkat itu, pemandangan seperti ini bisa ada di negeri kita. Dulu sebelum Mahia Sistem berkembang ke penjuru Moloia, para penduduk negeri kita hanya bisa mengandalkan lentera minyak untuk penerang .... Ini, tidak terlalu buruk bagi saya.”


 


 


“Apa  itu salah satu alasan kamu keluar dari hutan?” tanya Putri Ulla tanpa menatapnya.


 


 


“Bukan .... Saya keluar dari hutan karena diajak Raja Generasi Kedua negeri ini. Mungkin Anda tidak tahu, tapi saya pernah menjadi selir Raja, loh.”


 


 


“Eh?! Sungguh?” Putri Ulla langsung menoleh, terkejut dan benar-benar baru pertama kalinya ia tahu hal seperti itu.


 


 


“Ya, meski saya tak pernah mendapat kunjungan malam, sih. Raja Generasi Kedua itu ... orangnya sangat aneh. Dia memiliki rambut hitam keriting, mata merah dan tatapannya selalu kosong. Meski lemah, ia sangat cerdas dan berhasil memperluas kerajaan. Dia juga selalu membawa kemenangan bagi negeri ini. Meski memiliki banyak selir, ia hanya memberikan keturunan untuk Ratu seorang. Bisa dibilang dia Raja yang sangat romantis.”


 


 


“Tapi ... setahuku dia yang paling banyak jumlah selirnya. Kalau tidak salah sampai seratus lebih.”


 


 


“Dia melakukan penikahan politik karena keharusan. Meski melakukan itu, hatinya hanya untuk sang Ratu. Jujur saya sempat merasa cemburu dengan Ratu yang dipilihnya.”


 


 


Setelah itu, kedua perempuan itu pun berbincang tentang hal asmara — seperti halnya pembicaraan yang disukai oleh para gadis. Sejenak melupakan pembicaraan serius mereka dengan canda kecil, bertukar rahasia dan senyuman. Dalam lubuk hati kedua orang tersebut ingin waktu seperti itu tetap ada sampai kapan pun.


 


 


Namun, jauh dalam lubuk hati mereka tahu kalau itu mustahil. Tahun depan, masa damai benua Michigan bisa dipastikan akan berakhir. Daratan akan kembali memasuki masa peperangan kembali. Itu sudah ditetapkan, jika tidak maka Moloia sendiri akan hancur dalam kurung waktu dekade ke depan.


 


 


Meski Ulla sendiri tidak merasakan sulitnya hidup di masa peperangan, namun mendiang ibunya sering menceritakan beberapa cerita masa perang kepada sang Putri Amethyst tersebut. Tidak ada satu pun cerita yang berakhir bahagia, entah itu kisah pangeran dan tuan putri, penyihir dan familiarnya, bahkan sampai gadis desa dan anak bangsawan.


 


 


Semuanya hanya ada akhir buruk, tidak ada yang tersenyum dan ditutup dengan air mata. Semua itu adalah kisah nyata semasa Perang Besar, sebuah masa peperangan ratusan tahun.


 


 


“Diriku harap ada cerita dengan akhir bahagia di luar sana .... Sebuah kisah tanpa pahlawan harus mati demi menyelamatkan negeri. Sebuah kisah tanpa harus ada tuan putri dikorbankan, tanpa harus ada bunuh diri bersama demi cinta atau sebuah kisah yang tak direstui karena perbedaan kasta.”


 


 


Sorot mata Ulla berkaca-kaca. Sebagai salah satu pemegang faktor aktivasi, ia terlalu banyak tahu meski terus berada di dalam istana.