Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 65 : Aswad 12 of 15 “Glaub mir” (Part 03)



 


 


“Aku hanya cemas!” Putra dari keluarga Rein itu berjalan menghadap pemuda rambut hitam tersebut. Memegang kedua sisi pundak Odo, ia mulai menatap tajam dan memastikan kondisinya. “Kau tidak dibunuh oleh Kaisar itu, ‘kan? Malam itu, yang menyelamatkan kami itu kamu, ‘kan? Dia bisa memanipulasi kematian dan kehidupan, di sana juga ada Jenderal sialan itu! Kau sungguh tidak apa-apa?!” tanya Arca dengan cemas.


 


 


Melihat reaksi yang sedikit tak terduga dari pemuda rambut pirang tersebut, Odo sekilas tersenyum ringan dan menjawab, “Itu benar, secara tidak langsung aku yang menyelamatkan kalian. Tak perlu cemas, aku baik-baik saja seperti yang kau lihat.”


 


 


Arca berhenti memeriksa Odo, mengambil satu langkah ke belakang dan menatap putra tunggal keluarga Luke tersebut dengan penuh rasa cemas. Memang secara fisik tidak ada yang janggal, namun dalam sorot mata Odo terasa ada sesuatu yang membuat Arca tidak bisa lapang dada melihatnya baik-baik saja.


 


 


“Kau … sungguh baik-baik saja, Odo? Kaisar Abadi itu bisa memanipulasi jiwa dengan mudah, jiwamu tidak dimanipulasi olehnya, ‘kan?”


 


 


“Tak biasanya kau mengkhawatirkanku seperti ini.” Odo sekilas memasang ekspresi terganggu, memalingkan sorot matanya ke arah lain dan kembali berkata, “Secara fisik aku baik-baik saja, tapi sepertinya masalah terus bertambah ….”


 


 


“Masalah? Masalah apa lagi memangnya?”


 


 


“Kau akan tahu itu beberapa hari lagi, saat hari pertunangan ku tiba ….”


 


 


Jawaban tersebut membuat Arca terdiam, bingung harus berkata apa karena melihat ekspresi wajah Odo yang begitu jenuh dan lelah. Mulut Arca terbuka dan ingin meminta pemuda rambut hitam itu untuk istirahat dulu, namun niat itu sama sekali tidak keluar dari mulutnya karena sadar Odo terlihat punya hal penting untuk dilakukan.


 


 


Odo memasang senyum simpul, menarik napas ringan dan berkata, “Arca, aku ingin memastikan. Kau tidak membuat heboh pihak pemerintah dengan kabar kalau Kaisar Abadi itu datang ke tempat ini, ‘kan?”


 


 


“Be-Belum ….” Arca menggelengkan kepala, lalu dengan sedikit cemas ia menjelaskan, “Kemarin awalnya Nona Lisia dan aku ingin membuat laporan darurat soal hal itu … Namun karena Elulu melapor kalau kau baik-baik saja, kami menundanya.”


 


 


“Bilang ke Lisia kalau aku baik-baik saja. Orang-orang kekaisaran itu tidak pernah datang ke sini, paham?”


 


 


Arca terdiam mendapat perintah tersebut, merasa memang telah terjadi sesuatu saat pemuda itu pergi. Meski ada keraguan dalam benak, Arca tidak mempertanyakannya dan berkata, “Baiklah, akan aku sampaikan itu nanti. Odo, apa⸻?” Arca begitu penasaran dengan apa yang Odo lakukan sekarang. Ia ingin menanyakan hal tersebut, namun sekali lagi rasa ragu dalam benak membuatnya terdiam.


 


 


“Kenapa?”


 


 


Menggelengkan kepala, pemuda rambut pirang tersebut menjawab, “Tak apa-apa.”


 


 


Paham apa yang dirasakan Arca, Odo tak terlalu memikirkannya dan merasa kalau putra keluarga Rein tersebut harus menyelesaikan masalah batinnya sendiri. Odo berjalan melewati Arca tanpa mengatakan apa-apa lagi, lalu menghampiri Canna yang masih terduduk di tempatnya.


 


 


Mengambil perkamen dari dimensi penyimpanan, pemuda rambut hitam tersebut meletakkannya ke atas meja dan berkata, “Ini materi untuk malam nanti, temanya adalah konsep kehidupan.”


 


 


“Eh?” Canna sekilas terlihat bingung tiba-tiba mendapat kertas berisi materi. Namun kembali mengingat apa yang disampaikan Elulu kemarin, penyihir berambut putih tersebut paham kalau materi tersebut untuk kelas diskusi sihir. Sembari mengambil perkamen Canna bertanya, “Apa tidak masalah? Sepertinya kamu sedang sibuk, bukan?”


 


 


“Tak masalah, nanti sekitar pukul tujuh malam aku bisa meluangkan waktu.” Odo meletakkan tangan kanan ke dagu, lalu dengan tatapan datar ia memastikan, “Oh, iya. Bukannya hari ini kau seharusnya ke gudang di dermaga? Alatnya sudah sampai kemarin, ‘kan?”


 


 


“Ya, diriku mampir ke sini hanya untuk memeriksa nota pembelian dari Tuan Arca. Odo tahu, seharusnya hari ini ….”


 


 


Sekilas Canna melirik ke arah Nanra, merasa sedikit heran pada gadis rambut putih keperakan tersebut. Odo ikut menatap ke arahnya, menghela napas ringan dan merasa kalau ada beberapa hal yang perlu dibenahi dari gadis tersebut.


 


 


Menarik kursi dari kolong dan duduk berhadapan dengan Nanra, Odo menatap datar gadis rambut putih keperakan tersebut. Sorot mata pemuda itu terlihat datar, tidak berkata apa-apa dan benar-benar membuat Nanra takut dimarahi. Melihat gadis itu mulai menundukkan kepala dan gemetar, Odo menghela napas ringan dan menggaruk bagian belakang kepala.


 


 


“Jujur rasanya aku pernah bilang ini padamu …. Nanra, aku memberimu pekerjaan bukan untuk dijadikan segalanya dalam hidupmu. Pekerjaan hanyalah sebuah metode untuk mencapai tujuan, bukan alasan hidup.”


 


 


Nanra segera mengangkat wajahnya setelah mendengar itu, ingin menyanggah namun tidak memiliki kalimat yang sesuai. Kembali menundukkan wajah, gadis itu hanya bisa mengelak, “Aku tidak menjadikan pekerjaan ini untuk alasan hidupku.”


 


 


“Lantas kenapa kau malah ke sini saat libur?” tanya Odo dengan mada datar. Pemuda itu memasang senyum hangat, lalu kembali memastikan, “Kau disuruh Mbak Siska supaya bersiap dan langsung ke Gereja Utama setelah selesai, ‘kan?”


 


 


Nanra hanya menganggukkan kepala untuk menjawab, tak berani menatap mata pemuda rambut hitam tersebut secara langsung karena beberapa alasan. Melihat gadis itu merasa bersalah seperti itu, Odo berhenti menggaruk bagian belakang kepala dan sekilas menarik napas ringan.


 


 


Arca kembali ke tempat duduknya di meja yang sama dengan mereka, menatap Nanra dan sekilas memperlihatkan mimik wajah menyindir. Melihat ekspresi tersebut, Canna dan Elulu sekilas merasa kalau putra dari keluarga Rein tersebut sangat kekanak-kanakan.


 


 


Meletakkan tangan ke depan dagu, Odo sejenak berpikir matang-matang untuk membuat Nanra segera ke Gereja Utama. Menyadari sesuatu, ia lekas menoleh ke arah Kirsi dan bertanya, “Kirsi, umurmu sekarang berapa, ya?”


 


 


“Eng?” Anak perempuan itu sekilas terlihat bingung harus menjawab apa, ia sendiri tak tahu sekarang sudah berusia berapa tahun karena ibunya tidak pernah membicarakan hal tersebut. Dengan suara ragu ia memberanikan diri menjawab, “Mungkin … umurku sudah 7 tahun, Tuan ….”


 


 


Jawaban tidak pasti tersebut membuat Odo memasang ekspresi datar. Setelah menghela napas ringan ia kembali bertanya, “Apa kau sudah pernah dibaptis?”


 


 


“Be-Belum ….”


 


 


Mendapat jawaban tersebut, dengan segera Odo kembali menatap ke arah Nanra. Gadis yatim piatu tersebut paham apa yang dimaksudnya, ia seketika memasang wajah enggan dan bertanya, “Kamu ingin aku sekalian mengantarnya ke Gereja Utama?”


 


 


“Hmm, biarkan dia juga ikut upacara pembaptisan.” Odo menaikkan kaki kanannya ke atas kursi, menyandarkan punggung ke belakang dan dengan nada sedikit lesu menegaskan, “Mbak Siska tidak mengajaknya mungkin karena dia tidak tahu usia Kirsi. Melihat gelagatnya begitu, pasti di panti asuhan dia diam terus, kan? Kau harus mengurusnya supaya selama pembaptisan.”


 


 


“Ta-Tapi ….”


 


 


“Anggap saja ini pekerjaanmu.” Odo mengacungkan jari telunjuknya ke depan. Sembari sedikit memiringkan kepalanya, pemuda itu memasang senyum dingin dan memerintahkan, “Antar dia bersamamu, urus semua keperluannya supaya dapat surat pengakuan penduduk. Kalau soal wali, bilang saja ke Mbak Siska untuk mewakilinya.


 


 


Odo menarik napas ringan dan kembali berkata, “Ku harap ini bisa menjadi pelajaran untukmu supaya mematuhi aturan. Waktu libur digunakan untuk hal yang lain dan waktu bekerja digunakan untuk bekerja, paham?”


 


 


Setelah mengatakan hal tersebut, Odo menurunkan kaki kanannya dari kursi dan segera menatap ke arah Arca. “Kau juga, Arca. Sebaiknya kau benahi sikapmu itu. Jangan mengintimidasi rekanmu sendiri. Lama-lama sikapmu itu bisa mengundang banyak musuh yang bisa merusak rencanaku,” tegur Odo seraya berdiri dari tempat duduk.


 


 


 


 


“Kau tak perlu takut seperti itu, mengubah sifat dasar memang sangat sulit dan aku tidak meminta itu darimu. Aku hanya ingin kau sedikit menahan diri,” tambah Odo seraya berjalan ke arah pintu.


 


 


“Kau mau ke mana, Odo?” tanya Arca seraya ikut bangun dari tempat duduk.


 


 


Pemuda rambut hitam tersebut menghentikan langkah, berbalik ke arahnya dan menjawab, “Tidur sebentar. Kau tahu, dari kemarin aku belum tidur ….”


 


 


Mendengar jawaban tersebut, Arca paham kalau itu adalah kebohongan besar. Ekspresi Odo sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang mengantuk, namun malah terlihat penuh gairah menyelesaikan urusan lain.


 


 


Paham Arca menyadari kebohongan dari ucapannya, Odo meletakkan jari telunjuk kanannya ke kening dan berkata, “Nona Lisia ….”


 


 


Putra keluarga Rein tersebut langsung menangkap maksudnya, kembali duduk dan tidak protes atau menanyakannya kembali. Melihat pemuda yang biasanya selalu meragukan orang lain itu mundur dengan cepat, Elulu sekilas menatap datar ke arah Arca.


 


 


“Oh, iya. Aku baru saja ingat ….” Odo menurunkan telunjuk dari kening, menatap ke arah pegawai lain dan bertanya, “Apa kalian tidak masalah kalau kekurangan tenaga? Hari ini berarti libur dua ….”


 


 


Sebagai perwakilan Elulu menjawab, “Tak masalah. Lagi pula, anak baru itu juga masih belum bisa bekerja dengan baik. Lalu untuk pencatatan, saya dengan Canna sudah mendiskusikan itu kemarin.”


 


 


“Hmm, berarti tak masalah.” Odo memalingkan pandangan, sekilas merasa tidak ada hal yang perlu disampaikan lagi. Berbalik dan hendak melangkah keluar dari toko, sekali lagi dirinya dihentikan.


 


 


“Tunggu sebentar, Tuan Odo!” panggil Elulu sembari berjalan menghadap ke arah Owner tempatnya bekerja sekarang. Dengan sorot mata sedikit curiga dan penasaran soal apa yang pemuda itu lakukan selama pergi, perempuan rambut cokelat kepirangan tersebut bertanya, “Anda mau ke mana hari ini?”


 


 


“Tidur …. Tadi sudah ku bilang, bukan?” ucap pemuda itu sembari menoleh ke arah Elulu. Berbalik dan menghadap ke arahnya, Odo sekilas merasa kalau terlalu membebankan masalah toko kepadanya.


 


 


“Di mana?” tanya Elulu untuk memastikan.


 


 


Odo hanya tersenyum ringan karena dicurigai seperti itu. Menghela napas, pemuda rambut hitam tersebut menjawab, “Ke Realm yang aku ciptakan, aku perlu melakukan beberapa penyesuaian di sana.”


 


 


“Realm?” Elulu yang tidak memiliki pengetahuan hal-hal tersebut hanya bisa menatap bingung, begitu pula Arca dan semua orang di dalam ruangan.


 


 


Berbeda dengan mereka semua, mimik wajah Canna terlihat begitu terkejut dan mulutnya menganga. Menciptakan Realm bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan oleh kalangan Mortal, bahkan di antara para Dewa hanya beberapa saja yang bisa melakukannya.


 


 


Menelan ludah dengan berat, penyihir Expert Tingkat Kedua dari Miquator tersebut berusaha untuk tidak bertanya. Ia segera kembali memeriksa perkamen yang diterimanya dari Odo, sadar kalau materi tersebut juga berkaitan dengan penciptaan alam.


 


 


“Ah, benar juga. Lebih baik aku sampaikan ini juga,” gumam Odo sembari mengangguk. Pemuda itu melihat arah Arca, lalu dengan ringan menyampaikan, “Nanti siang sepertinya ibumu juga akan datang ke kediamanku loh, Arca.”


 


 


“Ibunda?!” Arca benar-benar terkejut mendengar hal tersebut.


 


 


“Hmm, mungkin nanti siang atau sore kau akan diminta ke sana.”


 


 


“Apa soal pertunangan itu?” Arca benar-benar tidak memperkirakan kalau ibunya, Lady Calista, akan datang ke acara tersebut. Sekilas wajahnya memucat dan keringat dingin bercucuran, lalu dengan bingung ia kembali bertanya, “Itu dilakukan kapan memangnya? Bahkan aku tidak tahu hari pastinya, aku hanya dengar kalau itu akan dilakukan minggu ini. Apa benar aku akan diundang? Acara itu … hanya dihadiri orang-orang penting saja, ‘kan?”


 


 


Odo sekilas mengangkat kedua sisi pundaknya. Lalu dengan tidak meyakinkan ia menjawab, “Aku rasa dua atau tiga hari lagi. Untuk diundang atau tidak, jujur aku tidak tahu pastinya, sih.”


 


 


“Kau juga akan kembali ke kediamanmu sendiri bersama ku, ‘kan?”


 


 


Odo menggelengkan kepalanya, memasang senyum ringan dan menjawab, “Mungkin aku baru bisa kembali besok.” Pemuda itu segera berbalik, dan sembari melangkah keluar berkata, “Karena itu, bisa aku minta tolong? Sampaikan ke ibuku kalau aku sedang ada urusan lain!”


 


 


“Sampaikan itu sendiri!”


 


 


“Tolong ya, Arca!”


 


 


“Oi! Tunggu!” Arca bangun dan hendak mengejar pemuda itu.


 


 


“Aku pergi dulu! Nanra juga jangan sampai telat, antara Kirsi dan siapkan pakaiannya supaya pantas!”


 


 


“Eh, aku juga harus menyiapkan pakaian⸻?!”


 


 


“Tentu saja, anggap saja itu persiapan manajemen perjalanan dinas untukmu!”


 


 


Setelah melemparkan semua itu kepada mereka, pemuda itu berlari pergi dengan sangat cepat. Saat Arca keluar dan mencarinya, pemuda itu sudah tidak terlihat di mana-mana dan benar-benar hilang.


 


 


Nanra ikut keluar, menatap datar ke arah Arca dan berkata, “Tuan Arca, menurut Anda ini bagaimana? Tuan Odo ….”


 


 


“Ya, dia memang seenaknya.”


 


 


۞۞۞