
۞۞۞
Pesta Pertunangan ⸻ Secara umum acara tersebut sering diadakan kalangan bangsawan atau pun konglomerat, baik itu di Kerajaan Felixia maupun negeri lain. Dalam sejarah awalnya kalangan atas mengadakan pertunangan hanya sebagai fase sebelum pernikahan resmi, membentuk relasi untuk mengembangkan sebuah keluarga.
Tetapi, seiring berjalannya waktu tujuan pertunangan sendiri secara harfiah telah berubah. Sebuah unsur kontrak masuk dalam tradisi tersebut, membuat sebuah pertunangan hanya dipandang sebagai alat untuk mengikat satu keluarga dengan keluarga lain.
Menjadi media untuk pra-kontrak dalam pernikahan politik, membunuh esensi yang seharusnya ada dalam sebuah keluarga dan menggantinya dengan peraturan mutlak dalam selembar kertas.
Dengan kata lain, hampir seluruh anak dari golongan aristokrat atau konglomerat pasti akan dijodohkan oleh orang tua mereka.
Untuk mempererat relasi dengan pihak lain. Membuat koalisi dan mendapatkan perlindungan dari keluarga aristokrat yang lebih berpengaruh, ataupun mendapat bantuan finansial dari keluarga konglomerat.
Dari sudut pandang pihak ketiga, pertunangan Odo Luke dengan Tuan Putri Arteria pun memiliki fungsi yang sama. Itu dilakukan dengan tujuan politik, mengatur dan menjaga hierarki Kerajaan Felixia tetap stabil dengan menjodohkan calon Ratu dengan anak dari keluarga terpandang seperti Luke.
Ketika matahari semakin meninggi dan hampir siang, para tamu yang kemarin malam menginap telah berkumpul di Aula Utama untuk mengikuti acara tersebut. Di gerbang Mansion, para tamu dari wilayah Luke yang baru datang satu persatu memasuki halaman dengan undangan yang mereka dapat untuk acara tersebut.
Tentu pesta pertunangan tersebut tidak diadakan secara umum, hanya bangsawan dengan gelar Baron ke atas serta beberapa pedagang besar sajalah yang diundang.
Dari semua teritorial dan kota di wilayah Luke, tidak semuanya bisa hadir karena beberapa alasan. Beberapa dari mereka lebih memilih untuk mengirim perwakilan ke dalam acara, sedangkan walikota dan bangsawan yang datang sendiri hanyalah kota-kota yang letaknya tidak terlalu jauh dari Mansion Keluarga Luke saja.
Selain masalah jarak, alasan sebagian besar dari mereka tidak bisa datang karena berita terkait perang yang akan pecah. Itu membuat para pemimpin teritorial dalam wilayah Luke sibuk memperkuat benteng-benteng mereka, terutama untuk kota yang berada di perbatasan.
Izta Maria, St. Lacus, Lignum ⸻ Para bangsawan yang memimpin ketiga kota tersebut tidak menghadiri acara dan hanya mengirim perwakilan mereka. Para perwakilan yang datang sebagian besar bergelar bangsawan ksatria, lalu di antara mereka ada juga kalangan konglomerat dari berbagai serikat dagang.
Selain ketiga wilayah tersebut, hampir semua bangsawan dari teritorial lainnya datang ke acara tanpa perwakilan dan itu didominasi oleh para bangsawan. Perbedaan jabatan dan gelar tamu yang datang dari masing-masing teritorial merupakan hasil sistem pemerintahan yang diterapkan, antara fokus ekonomi dan militer.
Berbeda dengan keenam teritorial lain, perwakilan dari Kota Mylta yang seharusnya masuk dalam bentuk pemerintahan fokus ekonomi datang dengan jumlah konglomerat atau pedagang paling sedikit.
Di antara para bangsawan yang baru saja datang dengan kereta kuda mereka yang megah, Lisiathus Mylta sebagai Walikota Pengganti dikucilkan. Ia semakin tidak percaya diri, murung dan memperlihatkan mimik wajah layaknya remaja yang labil.
Saat para tamu yang baru sampai berbincang satu sama lain dan membangun relasi mereka, perempuan rambut merah tersebut sama sekali tidak bisa masuk ke dalam pembicaraan mereka. Ia tidak dipedulikan, diremehkan karena seorang perempuan dan usianya yang masih muda, serta dipandang rendah karena berasal dari kota yang paling tertinggal.
Meski Mylta sedang memasuki fase progresif dalam bidang perekonomian dan mulai mengembalikan masa kejayaannya, penghasilan yang ada masih sangat jauh jika dibandingkan dengan kota lain yang berfokus ekonomi dalam sistem pemerintahan wilayah Luke.
Perempuan rambut merah tersebut berhenti melangkah, menyerah untuk berusaha masuk ke dalam pembicaraan para bangsawan dan konglomerat di sekitarnya.
Dari kota Mylta sendiri yang diundang hanyalah Lisiathus dan Wakil Walikota, Wiskel Porka. Selain mereka berdua, datang juga beberapa pedagang dari Serikat Dagang Lorian dan tentunya sang Eksekutif, Aprilo Nimpio, juga ikut serta.
Melihat perempuan dengan balutan Maxi Dress violet menundukkan kepala di antara para tamu, sang Eksekutif menghampirinya dan mengulurkan tangan. Sembari memasang senyum tipis, pria paruh baya dengan setelan kemeja formal tersebut menawarkan, “Jika Anda berkenan, Nona Lisiathus …. Mari kita masuk ke dalam bersama.”
Walikota Pengganti tersebut mengangkat wajahnya dan hanya bisa tersenyum kecut, tambah berkecil hati karena dikasihani oleh orang yang dirinya minta datang untuk formalitas.
Wiskel Porka yang datang bersama Lisiathus melirik sedikit tajam, merasa pedagang tersebut hanya bermaksud mengambil keuntungan dari putri sahabatnya. Namun saat dirinya mendengar suara cibiran beberapa tamu lain di sekitar, pria tua tersebut hanya bisa menghela napas.
“Nona Mylta, Anda tidak boleh memasang wajah seperti itu di depan publik. Sebagai bangsawan, Anda harus berdiri tegak dan berjalan dengan bangga. Nona sudah mempelajari hal tersebut dari kediaman Mylta, bukan?” saran sang Wakil Walikota.
“Paman tak perlu cemas, saya hanya sedikit kesal …. Tak saya sangka reaksi mereka akan sedingin ini,” ucap Lisiathus. Ia menarik napas dalam-dalam, membusungkan dada dan berusaha untuk tidak menampakkan emosi pada raut wajah.
Para pelayan dari kediaman Luke keluar dari bangunan. Dipimpin sang Kepala Pelayan, Fiola, mereka mengantar para tamu yang baru saja datang menuju Aula Utama untuk mengikuti pesta yang akan berlangsung sebentar lagi.
Mengikuti arahan para pelayan, sekilas Lisiathus merasa akan diperlakukan spesial karena kenal dengan Odo Luke dan pernah bertemu Fiola secara tidak formal. Namun seakan tidak memedulikan putri dari Baron Mylta, sang Huli Jing hanya fokus pada tugasnya dan memberikan arahkan kepada para pelayan.
Namun di tengah tugasnya, Odo datang dari arah perpustakaan dan menghampiri Fiola di teras. Tanpa memedulikan banyaknya tamu yang ada, pemuda itu dengan santainya bertanya, “Banyak juga tamunya, apa memang bangsawan di wilayah Luke sebanyak ini? Padahal pemasukan wilayah dari pajak sangat sedikit ….”
Perkataan itu tentu terdengar seperti sindiran secara frontal, membuat beberapa bangsawan yang mendengar itu langsung menoleh ke arah pemuda itu dengan tatapan tajam. Fiola ikut menatap ke arahnya, sedikit terkejut karena Odo tiba-tiba datang dan mengatakan hal seperti itu.
Tetapi saat melihat apa yang pemuda itu kenakan untuk acara, rasa kesal yang akan keluar dari mulut berubah menjadi heran. “Kenapa … Anda malah mengenakan pakaian serba hitam seperti itu? Bukannya Julia sudah menyiapkan pakaian yang lebih pantas di kamar Anda?” tanya Fiola sembari mengerutkan keningnya.
“Kalau begitu Mbak Julia terlambat, aku bangun dari malam.”
“Eng …, Anda tidak tidur lagi?’
“Yah, begitulah ….” Odo sekilas melirik ke arah Lisiathus dan para tamu dari kota Mylta, ia segera melambaikan tangan dan melangkahkan kaki menuju mereka.
Tentu Fiola tidak mengizinkan Odo masuk ke dalam barisan para tamu dan tambah memperkeruh suasana. Ia hendak menarik kerah belakang pemuda itu. Namun saat ia kira berhasil meraihnya, itu hanyalah sisa bayangan Odo Luke yang dalam sesaat bergerak sangat cepat.
“Teknik Langkah Dewa … semudah itu ia gunakan?” benak Fiola heran. Ia dan para pelayan dibuat terkejut, begitu pula para tamu yang ada di tempat tersebut. Pergerakan pemuda itu sesaat membuat dirinya terlihat ada dua.
“Pagi, Nona Lisia dan Paman Aprilo! Kalian datang juga, senangnya!” ucap Odo dengan volume sedikit ditinggikan, sengaja untuk membuat para tamu lain mendengarnya.
Meski tidak melihat apa yang telah dilalui Lisia saat baru saja datang di kediaman Luke bersama tamu-tamu, Odo dengan sangat jelas paham kalau Keluarga Mylta diremehkan para bangsawan lain.
Senyum tipis Odo melebar, menatap ke arah Aprilo dan bertanya, “Apa Arca melakukan tugasnya dengan baik, Paman? Dia tidak mengacau soal negosiasi itu, ‘kan?”
Sang Eksekutif menangkap maksud Odo dan segera paham mengapa ia mengangkat topik pembicaraan tersebut. Sebagai seorang pedagang, menunjukkan pengaruh memang sangat penting dan itu juga berlaku pada dunia aristokrat.
Mengacungkan jari telunjuknya ke depan, pria paruh baya tersebut menjawab, “Tentu saja, kami sudah selesai soal itu. Tak berlebihan jika Distrik Pelabuhan dikatakan sudah jatuh ke tangan kita.”
“Hmm, sempurna. Setelah ini, kita akan memperluasnya sampai ke teritorial tetangga.” Odo meletakkan tangannya ke dagu, sedikit melirik ke arah para bangsawan di sekitar dan berkata, “Awalnya Mylta merupakan salah satu dari tiga kota pusat perekonomian di Wilayah Luke. Namun karena regresif dampak dari berakhirnya Perang Besar, peran tersebut digantikan oleh St. Lacus yang menjadi kota semi perdagangan-militer. Tetapi dengan fase ini, seharusnya sistem kembali ke kondisi seharusnya.”
Beberapa bangsawan dan konglomerat yang mendengar itu menunjukkan beberapa reaksi. Ada yang acuh, meremehkan, tak suka, kesal dan bahkan menatap benci karena menganggap itu sebuah perkataan sombong dari keluarga bangsawan militer untuk ikut campur urusan perekonomian.
Mengingat wajah dan reaksi mereka, Odo melakukan Spekulasi Persepsi untuk mendapatkan beberapa kesimpulan. Layaknya lembaran-lembaran dokumen yang mengalir deras ke dalam kepala, beberapa rencana ia pikiran pada saat itu juga.
“Baiklah, sudah kuputuskan ….” Odo menurunkan tangan dari mulut, memasang ekspresi datar dan dengan tanpa ragu mendeklarasikan, “Setelah ini, waktunya pembersihan besar-besaran.”
“Pem … bersihan?”
Aprilo tertegun mendengar itu. Pada saat yang sama, ia juga merasa takut karena paham kepribadian Odo tidak jauh berbeda dengan Arca tentang cara pandang pemuda itu kepada para aristokrat dan konglomerat yang korup.
“Pohon bernama Wilayah Luke sudah terbengkalai terlalu lama, kurasa beberapa tahun saja sudah cukup untuk menumbuhkan cabang dan ranting yang hanya bisa menjadi hama.” Odo mengangkat dua jari tangan kanan dan membentuk gunting, lalu sembari memasang senyum tipis ia pun berkata, “Karena itu, aku akan memotongnya.”
Itu merupakan deklarasi sekaligus peringatan langsung kepada para bangsawan dan pedagang yang ada di wilayah Luke. Melihat Tuan Mudanya menaburkan benih permusuhan seperti itu, Fiola segera menarik pundaknya dari belakang dan membuat pemuda itu menghadap ke arahnya.
“Tuan Muda, Anda ….”
Odo hanya memasang senyum tipis mendapat tatapan cemas dari sang Huli Jing. Balik menatap tanpa rasa cemas maupun takut, ia dengan percaya diri berkata, “Mbak Fiola tak perlu menatap seperti itu. Aku hanya melakukan kewajibanku, mulai detik ini juga diriku tidak akan setengah-setengah lagi.”
“Anda kenapa …? Tuan Odo bukan orang yang suka terjun ke dalam masalah seperti ini, ‘kan?”
“Itu benar ….” Odo menyingkirkan tangan Fiola dari pundak, membuka telapak tangan kanan dan menatapnya sendiri dengan sedikit murung. Kembali menatap sang Huli Jing, ia dengan jelas menjawab, “Tapi sang Raja Tua memberikan masalah ini kepadaku. Karena itu, akan aku selesaikan ini dengan cepat.”
Odo mendekatkan mulut ke telinganya, lalu dengan nada menekan berbisik, “Aku tidak akan menahan diri lagi, Mbak Fiola …. Dalam kondisi seperti ini, aku tak bisa menahan diri lagi.”
Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut berjalan melewati sang Kepala Pelayan tersebut. Wajah Fiola seketika tampak terkejut, kalimat yang pemuda itu bisikan membuatnya gemetar dan segera menoleh ke arah Tuan Mudanya yang berjalan pergi ke arah sebelumnya ia datang.
Fiola hendak mengejar dan meminta penjelasan dari kalimat yang dibisikkan. Namun saat partikel cahaya berkumpul dan membentuk tubuh seorang perempuan rambut biru yang melayang di sebelah Odo, Fiola seketika membeku di tempat.
“Vil?! Kenapa bisa dia bisa muncul seperti itu dan mempertahankan bentuk fisiknya di luar perpustakaan tanpa terurai ⸻? Jangan bilang, Tuan Odo berhasil menemukan caranya? Bukan dengan gelang sihir itu …. Dia berhasil? Dia bisa mempertahankan Roh Agung di Dunia Nyata tanpa Kontrak Jiwa atau mengurangi jangka hidup?”
Apa yang Odo lakukan bukanlah bentuk Kontrak setara antara manusia dan makhluk astral, namun semacam Kontrak yang biasa dilakukan oleh penyihir roh untuk mengikat Roh Tingkat Rendah atau Menengah sehingga bisa dengan bebas mengatur bentuk fisiknya di Dunia Nyata.
Alasan Fiola bisa melihat bentuk astral tersebut dengan jelas adalah karena Mata Batin yang dirinya miliki, membuat Huli Jing tersebut sesaat salah mengira Vil memiliki wujud fisik secara utuh di Dunia Nyata.
.
.
.
.
Odo melangkahkan kakinya pada salah satu koridor Mansion, mimik wajahnya tampak sedikit tak puas. Menyipitkan sorot mata, ia kembali mengingat orang-orang yang dirinya temui di teras depan. Pemuda itu sangat paham, bahwa memang di antara para tamu yang baru saja datang banyak orang-orang korup.
Memikirkan mereka semua berasal dari Wilayah Luke, Odo semakin resah dan merasa malas mengurus semua masalah yang pasti harus dirinya hadapi. Meski dirinya tak tahu apa saja yang telah dilakukan orang-orang semacam itu, namun ia membuat beragam spekulasi dari reaksi mereka saat mendapat provokasi.
“Jika engkau mudah terprovokasi, maka engkau juga mudah untuk dikendalikan. Tetapi kalau situasinya seperti ini ….” Odo menghela napas ringan, melirik keluar jendela dengan kaca hias dan kembali bergumam, “Aku malah dirugikan karena memprovokasi mereka sekaligus.”
Langkah kaki Odo melambat, ia berusaha untuk tidak mengeluh lagi dan melihat ke depan. Di tengah langkahnya, pemuda rambut hitam tersebut kembali teringat tentang calon tunangannya.
Kekuatan untuk melihat jiwa seseorang, dengan kata lain mengamati esensi kehidupan secara langsung dan memahami sifat serta kepribadiannya. Memahami beban dari kekuatan yang bisa membuatnya melihat bentuk jiwa makhluk hidup, Odo kembali menghela napas dan sekilas berpikir, “Aku mulai paham perasaan Arteria. Ini memang seperti bisa melihat isi hati orang lain, mengadili mana orang yang baik dan mana yang buruk secara mutlak …. Bentuk dari jiwa, warna api dari makhluk hidup.”
Di tengah langkah Odo menuju kamarnya, partikel Mana dari para Roh Tingkat Rendah berkumpul pada satu tempat. Membentuk wujud fisik dari seorang Roh Agung mantan Penguasa Laut Utara Dunia Astral, Vil.
Menapak di atas lantai keramik dengan sepatu hak tingginya, ia berjalan di samping pemuda rambut hitam tersebut dan sedikit melirik heran.
“Bukannya lebih baik Odo tidak memprovokasi mereka seperti itu?” Vil melipat kedua tangannya ke belakang pinggang, menatap bingung dan kembali berkata, “Meskipun tetap akan melakukannya cepat atau lambat, diriku rasa lebih baik kamu melakukannya dengan cara halus. Tak perlu terang-terangan dan secara massal seperti itu.”
Odo melirik tajam, setelah menghela napas ringan ia pun menjawab, “Itu aku lakukan untuk memastikan mana musuh dan kawan, bukan berarti ingin mencari musuh loh. Dengan deklarasi seperti itu, garis jelas akan terbentuk dan memudahkan ku untuk bergerak.”
“Hmm ….” Vil tampak tak mengerti, dari sudut pandangnya Odo hanya terlihat seperti musuh dengan provokasi. Berhenti melipat tangan dan melihat ke depan, perempuan rambut biru tersebut berkata, “Jujur diriku tak paham hal semacam itu. Kenapa bisa seperti itu?”
“Aku paling benci musuh dalam selimut, lebih baik membuat mereka mengumbar kebencian supaya mudah untuk dihancurkan.”
Vil masih merasa itu hanya mengundang musuh lainnya, tak mengurangi kemungkinan ada musuh dalam selimut yang disebutkan Odo. Namun merasa pemuda itu memiliki pemikiran lain yang tidak dirinya ketahui, Vil hanya berkata, “Hmm, begitu ya ….”
Sesaat Vil membisu, memikirkan tindakan yang Odo ambil dan merasa itu lebih agresif dari biasanya. Mengingat kembali pembicaraan pemuda itu dengan Tuan Putri Arteria saat di perpustakaan, ia merasa kalau ada sesuatu di antara mereka yang tidak dirinya ketahui.
Langkah Odo terhenti di depan salah satu jendela kaca hias, Vil pun mengikuti dan menatap pemuda itu dengan rasa heran. Begitu tajam, terasa dingin dan tampak terburu-buru, hal semacam itu terasa dari ekspresinya.
“Ngomong-omong, bagaimana tubuhmu? Sejauh ini apa ada yang tak nyaman?” tanya Odo sembari menatap ke arah perempuan di sebelahnya.
Vil mengambil satu langkah ke belakang dan berputar penuh satu kali. Sembari tersenyum ringan, ia dengan senang menjawab, “Seperti yang Odo lihat, ini benar-benar nyaman. Tidak diriku sangka kamu bisa menemukan caranya secepat ini.”
“Uuuhk ….” Odo menatap kesal.
“Eh?! Apa salah?”
“Ini hanya sementara, aku juga terasa seperti terkuras habis dari dalam.”
“A-Apa ini terlalu membebani kamu?”
Pemuda itu memalingkan pandangan dari Vil, memasang mimik wajah tak tenang dan menjawab, “Aku hanya mengubah susunan informasi supaya kau setara dengan Roh Tingkat Menengah dan menjalin Kontrak Roh biasa denganku. Situasi kita sekarang hanya seperti Penyihir Roh dan Roh Kontrak, jadi tolong ingat itu.”
“Diriku paham kok, tenang saja! Diriku tak akan membuat Odo kering kerempeng kok,” ucap Vil dengan nada bercanda.
Mendengar itu, Odo tidak bisa menganggapnya sebagai gurauan. Meski Kontrak Roh yang digunakan memberikan wewenang seimbang dan lebih condong kekuasaannya dipegang oleh Odo, namun Vil sebagai Roh Agung bisa dengan mudah mengambil otoritas tersebut dan menghisap Mana miliknya melalui jalur Kontrak.
“Tch!” Odo membunyikan lidah, lalu dengan kesal bergumam, “Apa lebih baik aku turunkan sampai 1 : 10 saja, sampai ke Roh Tingkat Rendah untuk cari aman.”
“A⸻!? Itu sama saja dengan budak dong! Diriku tak mau!”
“Kalau begitu, jangan buat candaan seperti itu. Meski bagimu lucu, aku tak bisa tertawa saat kau benar-benar membuatku kering.”
“Baiklah, diriku tak akan bercanda seperti itu lagi.”
Meski mengatakan itu, Vil sama sekali tidak tampak merasa bersalah dan malah memasang senyum lebar. Rasa senang lebih dominan mengisi hatinya sekarang. Bisa keluar dari perpustakaan dan membuat Kontrak dengan Odo benar-benar membuatnya bahagia. Tanpa menggunakan alat, terikat langsung dengan pemuda rambut hitam tersebut.
Melihat senyuman Vil, Odo merasa akan bermasalah membiarkan Roh Agung tersebut terlalu percaya diri. Tanpa ragu ia pun menyinggung, “Kau tidak lupa apa yang terjadi saat dirimu terlalu senang, bukan?”
Vil tersentak, ia seketika teringat kenangan kelam di Laut Utara Dunia Astral. Ia seketika muram, menatap kesal Odo dengan mimik wajah cemberut.
“Kalau dipikir-pikir, Odo punya kepribadian yang sangat buruk, ya? Apa kamu tidak bisa membiarkan seorang perempuan senang untuk satu hari saja?”
“Ini hari pertunangan ku, rasanya tak menyenangkan melihat kau lebih senang dariku.”
“Uwah⁓ Sifat Odo memang sangat buruk.”
“Kau tahu itu dari dulu, ‘kan?”
“Hmm, namun belakangan diriku tak paham sifatmu sih.”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan : Edisi pendek-pendek berakhir.
Sekalian jeda, nanti update lagi kayaknya rabu depan.
Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.
Tapi!
Dilarang promo di cerita ini!
Oke?
Bukannya pelit, hanya saja secara pribadi aku tidak suka orang yang suka melanggar batas-batas kebebasan dalam hal berkarya.
Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.
Di Facebook sudah ada tempat khusus.
Jadilah orang yang mencerminkan literasi tinggi, bukan tambah kayak pedagang asongan yang asal masuk ke bus.