Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 15 : Para Shieal (Part 01)



Pada tempat hamparan putih yang sangat luas, Odo terbaring dengan mata terbuka, wajahnya terlihat malas dan tatapannya seperti ingin menatakan sesuatu yang kasar. Ia bangun dan duduk bersila, mengamati Alam Jiwa miliknya itu dengan tatapan malas.



Selain hanya ada hamparan lantai putih yang sangat luas dan langit biru yang sangat tinggi, terdapat sebuah pohon berdaun hijau yang terlihat lebih besar dari terakhir kali dirinya lihat.



“Sering sekali ya aku datang ke sini?” pikir Odo.



“Tentu saja, ini Alam Jiwamu,” suara Auto Senses menggema di dalam kepalanya.



Mengacuhkan sihir pertahanan terakhir itu, Odo berdiri dan berjalan ke arah pohon yang tumbuh di tengah tempat hamparan putih tersebut. Tidak hanya bertambah besar, pada bagian bawah pohon juga mulai tumbuh rerumputan dan gulma seluas enam meter dari pohon, dan juga tumbuh beberapa bunga berkelopak biru terang.



Berdiri menginjak batas terluar rerumputan, Odo mendongak dan melihat dedaunan lebat pohon itu, terlihat sangat hijau, rimbun dan memanjakan mata dengan warnanya yang alami.



“Benar-benar cepat pertumbuhannya ya pohon ini .... Kira-kira tingginya sudah berapa meter?” ucap Odo.



“Sekarang sudah lebih dari dua puluh meter,” suara Auto Senses dalam kepala Odo. Mendengar hal itu, anak berambut hitam tersebut sedikit menyipitkan mata dengan wajah yang terlihat kesal, sihir pertahanan terakhir itu terasa seperti selalu membaca pikirannya.



“Ngomong-ngomong, kenapa aku sampai datang ke sini?” tanya Odo.



“Entahlah, mungkin karena kau tidur saat sedang meditasi, diriku. Ya, kemungkinan besar aksesmu ke Alam Jiwa sudah semakin membaik setelah mendapat kekuatan dari Seliari itu, atau juga karena struktur yang ditanamkan Reyah sudah semakin berkembang ....”



“Oh ....”



Odo berjalan lebih mendekat lagi ke pohon, lalu berbalik dan duduk bersandar pada batangnya seraya menyelonjorkan kedua kakinya. Dalam kedua bola mata Odo, tercermin hamparan putih yang amat luas dan kosong, sangat mencerminkan jati dirinya yang sebenarnya. Tidak ada angin bertiup di dalam tempat tersebut, meski begitu hawa sejuk dari pohon yang rimbun membawa rasa tenang bagi anak berambut hitam itu.



“Oh, iya .... Seliari ..., dia di mana? Bukannya seharusnya di⸻”



Kratak! Bruak!



Dari atas cabang dan ranting pohon, tiba-tiba jatuh gadis naga yang baru saja hendak dibicarakan. Melihat Putri Naga itu jatuh dengan posisi terkapar dengan sangat keras, Odo hanya memasang tatapan datar, bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang dilakukannya sampai jatuh dari atas.



Gadis itu sekarang mengenakan pakaian yang sangat berbeda dari sebelumnya, berupa gaun polos panjang selutut berwarna putih dan terlihat seperti pakaian santai dilihat dari kainnya yang tipis.



“Sedang apa kau, Seliari?” tanya Odo.



“Ah ..., ketahuan, deh .... Padahal mau mengejutkan kamu ....” Seliari duduk bersimpuh di atas rerumputan, menghadap ke arah Odo dan menatap tajam dengan mata birunya. Meskipun ekspresinya yang polos dan wajahnya terlihat sangat kekanak-kanakan, tetapi dengan jelas aura berwibawa dan menakutkan terpancar darinya.



“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Odo.



“Kamu selalu mengenakan itu, ya? Apa kamu tidak bosan, wahai manusia bernama Odo?”



Pertanyaan seperti itu membuat Odo sejenak bertanya-tanya dengan pola pikir Putri Naga itu. Sedikit memalingkan pandangan sejenak dan melihat ke arahnya lagi, Ia menjawab, “Memangnya masalah kalau aku mengenakan ini? Kemeja putih dan celana hitam panjang itu satu set yang ideal.”



“Bukannya diriku mempermasalahkannya, hanya saja diriku tanya, apa kamu tidak bosan?” Seliari bangun dan berdiri dengan tegak. Sekilas menyibak kepang sebelah kirinya, lalu Ia sedikit membusungkan dada dan berputar dengan kaki kanan sebagai tumpuan, berniat memamerkan gaun putih dengan desain polos yang menonjolkan kecantikannya yang murni yang dikenakannya sekarang. Melihat itu Odo hanya memasang ekspresi datar dan hanya diam, tanpa mengubah ekspresi atau memberikan reaksi.



“Diriku, dia sedang menunggu komentarmu tentang pakaiannya, loh.”



“Eh?” Odo terkejut, Ia tidak tahu hal itu sebelum diberitahu Auto Senses. Berpikir dengan segera, anak itu mencari kata-kata untuk memenuhi ekspektasi sang Putri Naga tersebut. Mengubah posisi duduk dengan bersila, Odo berkata, “Hmm, pakaian itu ... bagaimana kau membutanya di tempat ini, Seliari?” Itu bukan komentar apalagi sebuah sanjungan, hanya sebuah lontaran rasa penasaran.



Seliari terdiam mendengar itu, tetapi ekornya bergerak ke sana kemari dengan cepat, pipinya mengembung dan sorot matanya berbaling dari Odo. Dengan sangat jelas kalau Putri Naga itu menunggu komentar dari anak berambut hitam tersebut.



“Dasar Dungu ...!” suara Auto Senses menggema keras di dalam kepala Odo sampai membuatnya mengerutkan alis dan kening. Menarik napas dan melihat santai Seliari, anak berambut hitam itu berjalan menghampirinya dan berdiri di depan Putri Naga tersebut.



“Pakaianmu itu ... mirip dengan yang dipakai Reyah, ya? Kenapa kau ganti penampilan dan menirunya?” tanya Odo. Seliari terkejut anak itu menyadarinya. Memalingkan wajar dengan angkuh dan melipat kedua tangan ke depan dada, Seliari melirik ke arah Odo. “Hmm, diriku tidak menirunya! Jangan samakan manipulasi Mana-ku dengan Roh Pohon itu ya ....”



“Wah,wah ..., malu-malu kucing .... Tidak, malu-malu Naga yang benar ya ....Shy Dragon,” pikir Odo. Karena tinggi badan mereka yang bisa dikatakan hampir sama, saat Odo melihat ke depan, matanya langsung bertatapan dengan mata Seliari. Tidak kuat dengan tatapan penuh rasa tenang dan tajam itu, Putri Naga terus memalingkan wajah dan enggan melihat Odo secara langsung.



“Manipulasi Mana, ya? Berati sekarang pakaian itu terbuat dari Mana?” tanya Odo.



“Tentu saja, ini terbuat dari Mana murni .... Lagi pula ini Alam Jiwa kamu, tentu saja hampir semuanya terbuat dari Mana ....”



Jawaban itu juga berarti kalau Seliali menggunakan Mana Odo untuk pakaian yang dikenakannya sekarang, dan itu juga berarti di hadapannya sekarang sedang ada gadis yang telanjang kalau Mana itu dirinya tarik kembali.



Menyeringai kecil dan membayangkan hal-hal tidak senonoh, Odo berbalik dan berjalan ke arah pohon. Meletakkan kedua telapak tangan ke batang pohon dan menempelkan keningnya, Odo bertanya berusaha membuang semua pikiran negatif dan kurang ajar dalam kepala.



“Seliari, kenapa kamu susah-susah ganti penampilan seperti itu?” tanya Odo tanpa melihat ke arah Putri Naga karena imajinasinya masih meliar. Berhenti berpaling dan melihat ke arah Odo dengan tingkah yang dirasa aneh, Seliari sedikit memiringkan kepalanya ke kanan dengan bingung.



“Entahlah ..., diriku hanya ingin melakukan hal ini .... Tapi kalau kamu tanya kenapa, mungkin karena kamu pernah bilang kalau dirimu suka dengan pakaian yang kalau terkena cahaya sedikit transparan seperti ini ....”



“Eh?” Berhenti menempelkan keningnya ke pohon dan berbalik melihat Seliari dengan tatapan bingung. “Jadi kamu benar-benar bisa mendengarnya dari sini?” tanya Odo.



“Bukan mendengar, tatapi melihat, wahai manusia ber⸻”



“Kepanjangan, panggil saja Odo.”



“Odo ....”




“Dengan indra penglihatan milik kamu .... Karena sekarang diriku dalam wujud kekuatan sihir yang berada di Alam Jiwa ini, tentu saja diriku juga bisa mengakses hal seperti itu dari sini ....”



“Selama 24 jam?”



“Ya ....”



“Kalau aku mandi juga ....”



“Diriku lihat.”



“Kalau aku ke toilet?”



“Diriku juga melihatnya.”



Odo memalingkan wajar dan menjerit dalam hati, “Privasiku!!!”



Memikirkannya kembali, apa yang dilakukan Seliari memang sangat mungkin. Sekarang jelmaan Naga Hitam itu berada di dalam Alam Jiwa Odo, tidak aneh kalau Putri Naga tersebut bisa melakukan hal-hal semacam itu, karena kalau mau dia juga bisa menghancurkan Alam Jiwa milik Odo dengan mudah.



“Kalau dipikir lagi ..., membiarkannya berada di sini terus bahaya banget, ya?” pikir Odo.



“Baru sadar?” suara Auto Senses.



Menghirup napas dalam-dalam dan menenangkan diri, Odo kembali melihat ke arah Seliari dengan tatapan enggan sampai keningnya berkerut. Mendapat tatapan seperti itu, Putri Naga itu sedikit bingung dan dalam dadanya terasa hal aneh. Ia lebih mendekat kepada Odo, lalu menyentuh kepalanya dengan kedua tangan kecilnya dan berusaha merapikan kening anak berambut hitam tersebut yang mengkerut.



“Sedang apa kau?”



“Tidak .... Rasanya jelek kalau melihat kamu mengerutkan kening seperti ini .... Diriku ... tak suka itu.”



Odo terdiam, keningnya berhenti dikerutkan. Seliari tersenyum kecil melihat itu dan mengangkat tangan dari kepalanya. Senyuman itu benar-benar membuat Odo bingung, cara pikir Putri Naga lebih aneh dari yang dikiranya. Menatap lurus ke arah Putri Naga, Odo memasang ekspresi wajah serius. Sadar akan hal tersebut, Seliari berhenti tersenyum dan menatap balik Odo.



“Seliari ....”



“Hmm, ada apa, Odo?”



“Boleh aku tanya sesuatu?”



“Apa itu?”



“Terakhir kali aku datang, kamu memberikan kekuatanmu padaku .., apa alasannya?”



“Terakhir kali ...? Oh, waktu kamu habis marah-marah sama Roh Pohon itu, ya?”



“Ya ....”



Putri Sulung Dewa Naga itu terdiam sesaat dan memikirkan kembali alasan dirinya memberikan kekuatannya kepada Odo. Ia sadar kalau anak berambut hitam di hadapannya itu belum tentu akan terus membiarkan dirinya menetap di Alam Jiwanya untuk selamanya.



Meskipun mau, karena pada suatu saat nanti anak itu pasti akan mati mengingat jangka hidup makhluk mortal yang pendek, Seliari pada akhirnya akan dipaksa keluar. Sebab pada dasarnya kalau anak itu mati, Seliari yang berada di Alam Jiwanya pasti juga akan bernasib serupa.



Tidak ada alasan untuk terus-terus membantu Odo, Seliari bisa saja mengumpulkan Mana dari Alam Jiwa anak itu dan kembali membentuk tubuh fisik, dan segera keluar. Tetapi, yang menjadi pertanyaan Putri Naga tersebut adalah untuk apa dirinya keluar ke dunia yang sudah sangat berbeda dengan apa yang dirinya tahu.



Di luar sana penuh dengan jejak penyesalan dan dosanya, kejayaannya sudah sirna, dan dirinya hanya memiliki reputasi yang buruk di luar Alam Jiwa milik anak tersebut. Tidak ada satu pun alasan untuknya keluar dari Alam Jiwa tempatnya berada sekarang. Memejamkan mata sesaat dan kembali berpikir. Ia sadar kalau semua itu hanya sebuah alasan, ada jawaban pasti yang menjadi pendorong dirinya memberikan salah satu kekuatannya kepada anak tersebut.



Saat Seliari membuka mata dan menatap Odo dengan mata yang bersinar penuh rasa percaya, Ia menjawab, “Sebenarnya diriku hanya tak ingin melihat kamu seperti itu, marah-marah dan frustrasi. Saat itu, diriku juga merasakan kecemasan yang hampir sama dengan dirimu. Hidup di dunia yang sangat berbeda, bimbang harus melakukan apa, tidak punya alasan hidup yang bisa digunakan sebagai pegangan ..., sungguh itu sangat membuat dadaku sakit .... Karena itu, paling tidak diriku bisa memberikan kekuatanku untuk sedikit menghilangkan rasa cemas dan gelisah .... Yang diriku tahu, kekuatan itu bisa menyingkirkan rasa ketidakberdayaan, karena itulah diriku memberikan Hariq Iliah padamu ....”



Odo sangat sadar apa yang sebenarnya dirasakan Seliari itu tidak jauh berbeda dengan yang dirasakan dirinya saat belum mengetahui fakta tentang dunia dari Reyah. Diberikan kehidupan kedua tanpa tujuan, hal itu sangatlah membuat gelisah karena pada dasarnya makhluk hidup memang memerlukan tujuan untuk memberi arti dalam kehidupan.



Karena itulah Odo sangat frustrasi saat bertanya pada Reyah, menekannya dan mencari jawaban yang bisa diterima oleh hati, mencari tujuan yang pantas untuk mempertaruhkan kehidupan keduanya.



“Begitu, ya .... Kurasa memang benar juga .... Aku memang saat itu frustrasi dan gelisah .... Tapi seperti yang kau lihat, sekarang aku penuh dengan semangat,” ucap Odo seraya tersenyum ke arahnya.



Balik membalas senyuman itu, Seliari berkata, “Ya, dengan jelas diriku tahu itu, Odo.” Sedikit mengamati wajah anak laki-laki di hadapannya, Putri itu tiba-tiba mendekap tubuhnya. Odo sempat terkejut dengan hal itu, tetapi kemudian Ia balik memeluknya dengan erat.



“Terima kasih, Odo .... Rasanya ... hangat ..., sudah lama sekali diriku tidak merasakan ini .... Ternyata hidup panjang juga tidak terlalu buruk juga .... Tidak diriku sangka ada manusia seperti kamu ....”



“Begitu ya .... Aku juga senang bi⸻”



Sebelum bisa menyelesaikan perkataannya, Odo tiba-tiba menghilang dari pelukannya dan lenyap dari Alam Jiwa, Ia telah keluar dari Alam Jiwa karena terjadi sesuatu pada tubuhnya di dunia nyata. Sekilas perasaan cemas dan takut mengisi benak Seliari, meskipun dirinya tahu kalau seperti cara Odo pergi dari tempat tersebut dan telah melihatnya beberapa kali, tetap saja itu terlihat menakutkan.



Membayangkan Odo kelak pergi dan tidak pernah kembali meninggalkannya di dunia sendirian, Seliarli gemetar ketakutan dan mulai terduduk di atas rerumputan dengan lemas. Ia meringkuk, dalam rasa cemas dan kegelisahan.



“Rasa takut ini ..., perasaan gelisah ini .... Meski kutukan itu telah hilang ..., kenapa harus ada hal seperti ini lagi .... Sudah cukup diriku dihantui perasaan takut kehilangan seperti ini .... Tolong jangan tinggalkan aku sendirian seperti Ayah dan Ibu ....”