
“Ah, sebelum kita lanjut. Bisa kalian memperkenalkan diri? Aku belum tahu nama kalian ....”
Sesaat mereka terdiam dan kembali bingung, terlihat pada mata mereka rasa ragu dan curiga pada pemuda di hadapannya karena penampilannya berbeda dengan apa yang mereka tahu. Tak ada satu pun dari mereka yang berani memperkenalkan diri terlebih dulu.
“Namaku Sittara, Kakak Penyihir!” ucap gadis kecil yang mendekap Odo. Ia mendongak penuh keceriaan, lalu tersenyum lebar seakan memang ia telah akrab dengan putra keluarga Luke tersebut.
“Oooh, senang kenal denganmu, Dik Sittara.”
Odo hanya tersenyum kecil meski sedikit terganggu karena aroma Demi-human berbulu seperti mereka memang sedikit tidak sedap. Sedikit memalingkan pandangan, pemuda itu merasa kalau perlu membuat sampo atau pewangi untuk mereka nanti.
“Aku Totto, Tuan Penyihir,” ucap kakak laki-laki tertua dari keluarga Demi-human tersebut. Ia adalah pria 25 tahunan dengan warna kulit sawo matang yang sedikit berbulu, memiliki badan yang sedikit berotot dan kornea matanya kuning keemasan.
“Nama saya Ritta,” ucap kakak perempuan tertua. Perempuan kucir tunggal tersebut memiliki warna rambut sama dengan kakak laki-laki di sebelahnya, warna krem dengan corak hitam yang khas di antara kedua telinga tikus. Ia memiliki kulit pucat yang terlihat sedikit kering karena kurang gizi. Kornea mata Ritta sama dengan adik termudanya, yaitu merah darah. Terpaut cukup jauh dengan kakak tertuanya, perempuan itu berusia sekitar 19 tahunan.
“Saya Mattari,” ucap kakak perempuan termuda. Ia memiliki ciri fisik sama dengan Ritta, dari rambut sampai warna kulit. Yang membedakannya dengan kakaknya tersebut, antara lain rambut yang dikepang dua ke belakang dan kulitnya yang berwarna putih cerah serta terlihat lebih sehat dari kakaknya tersebut. Selai itu, warna mata Mattari cenderung sama seperti Totto yaitu kuning keemasan.
Mengangguk ringan mendengar nama mereka, Odo berkata, “Aku sudah ingat nama kalian. Sekarang, mari masuk ke pembahasan pertama. Kalian bisanya mendapat upah berapa kalau bekerja?”
“Ka-Kami bekerja secara bergantian,” jawab Mattari.
“Biasanya kami hanya dapat satu atau dua koin perunggu besar,” ucap Ritta.
“Paling banyak kita bisa mendapat satu koin perak kecil sehari. Tapi, bukan berarti kami bisa bekerja setiap hari .... Kami hanya kerja serabutan,” ucap Totto.
“Hmm, 10 sampai 50 Rupl perhari. Berarti paling banyak 350 Rupl perminggu, ya?”
“““Eh?”””
Ketiga Demi-human itu terlihat bingung meski itu hanya perhitungan sederhana.
“Tidak apa ....”
Odo tersenyum kaku melihat ekspresi bingung mereka. Sedikit melirik ke belakang dan melihat Mavis yang duduk pada salah satu meja, pemuda itu merasa lega karena memang tidak ada dari semua orang di ruangan yang sadar kalau perempuan itu adalah Mavis Luke.
Kembali menatap ketiga Demi-human tersebut, pemuda itu bertanya, “Jadi, karena kalian akan bekerja di sini, aku ingin memberikan upah yang layak. Bagaimana kalau upah awal untuk minggu ini 100 Rupl perminggu?”
“100 Rupl?” Totto terlihat bingung.
“Satu koin perak besar .... Sama juga dengan 10 koin perunggu besar.”
“Itu ....” Pria Demi-human tersebut merasa kalau uang tersebut terlalu kecil untuk biaya hidup empat orang, ingin menawar namun merasa tidak enak karena telah mendapat banyak hal dari orang yang ada di hadapannya.
“Itu untuk tiap orang,” ucap Odo sembari tersenyum kecil. “Jadi upah kalian di awal minggu ini adalah 300 Rupl. Itu sudah dipotong uang makan dan biaya tempat tinggal, apa keberatan?”
“Tunggu!” Arca mendekat dengan tidak puas, memegang bahu Odo dan membutanya berbalik. Dengan tidak puas ia bertanya, “Bukannya itu berlebihan? Mereka sudah diberi tempat tinggal, bukannya sudah wajar bekerja di sini?”
“Memangnya perusahaan ini apa?” Odo menatap tak senang, lalu dengan hela napas berkata, “Aku tak ingin hanya memeras tenaga mereka demi keuntungan, kesejahteraan perlu diperhatikan. Lagi pula, upahnya sudah kecil, loh.”
“300 Rupl memang kecil, tapi itu kalau dikalikan empat sudah setara dengan harga meja dan kursi di sini! Satu bulan mereka sudah—!”
“Tenanglah Arca ....” Odo menepuk pundak putra sulung keluarga Rien itu, lalu dengan nada ringan berkata, “Upah yang aku beri akan setara dengan kontribusi mereka pada toko ini, kok.”
“Memangnya apa yang bisa mereka berikan? Mereka hanya gelandangan tanpa keahlian!”
Perkataan itu dengan jelas terdengar oleh semua orang di tempat tersebut dan hal itu tidak terbantahkan. Itu membuat Totto, Ritta, Mattari terlihat muram dan kehilangan rasa percaya diri, bahkan Sittara yang mendekap Odo terlihat gemetar mendengar suara lantang Arca.
Ekspresi Odo seketika berubah marah, namun dalam keheningan dan hanya menatap datar. Dengan nada menekan ia berkata, “Katamu kasar sekali. Yah, aku tak bisa membantahnya.Tapi, bukan berarti mereka tidak punya potensi untuk dapat keahlian, bukan?”
Kedua mata Arca terbuka lebar, mengangkat tangannya dari bahu pemuda itu dan bertanya, “Apa ... kau berniat mengajari mereka?”
“Hmm, tentu saja.” Pemuda itu kembali menatap keluarga Demi-human, lalu sembari menunjuk Totto ia berkata, “Kau biasa membawa barang berat, bukan?”
“I-Iya, aku sering menjadi buruh angkut.”
Odo berhenti menunjuk, mengamati postur pria itu yang memang tubuhnya yang kekar didapat karena sering mengangkat barang berat. Tangan kasar dan jemari yang pendek, wajah yang sedikit menghitam dan kusam serta rambut yang tak terawat, itu menjelaskan kepada Odo kondisi pria tersebut. Tersenyum kaku, pemuda rambut hitam itu memutuskan, “Kalau begitu, kau akan kutugaskan untuk hal seperti itu. Membongkar bahan masakan, menata gudang, dan semacamnya.”
“Memanya ada barang lain yang akan datang?” tanya Totto.
“Hmm, nanti juga bakal sibuk. Tenang saja, Totto.” Pindah menunjuk ke arah Ritta, Odo Luke kembali bertanya, “Kalau kau? Biasanya kerja apa?”
“Sa-Saya ....” Perempuan dengan wajah pucat itu ragu untuk menjawab, dari kulitnya keluar keringat dingin dan matanya enggan untuk menatap Odo. Dengan suara pelan dan gemetar, perempuan yang terlihat lesu itu berkata, “Sa-Saat akhir pekan biasanya saya pergi ke distrik dekat pelabuhan.”
“Hah!” Arca menunjuk hina Ritta, lalu dengan suara keras berkata, “Ternyata ada juga yang menjual tubuh— Ugh!”
“Diamlah ...!” Odo menyikut Arca dengan keras dan membuatnya diam. Putra sulung keluarga Rien itu kesakitan memegang pinggangnya, lalu berjalan ke arah kursi dan duduk menundukkan wajah.
Menghela napas dan menatap datar Ritta, Odo paham kenapa kulit dan tubuh perempuan itu terlihat paling tidak sehat jika dibandingkan saudara-saudarinya. Kulit pucat kemungkinan besar disebabkan karena bedak yang mengandung merkuri yang biasa digunakan oleh kalangan bawah, mata yang sedikit menguning serta tubuh kurusnya bisa dengan jelas nampak karena penyakit.
“Apa dia kena penyakit kelamin? Kalau terinfeksi HIV bisa gawat, di dunia sebelumnya bahkan obat untuk virus itu belum ada. Yang bisa dilakukan hanya rehabilitasi untuk memperlambatnya,” benak Odo dengan tatapan iba.
Bernapas berat, Odo menghapus rasa seperti itu dengan cepat dan fokus pada analisanya. Pekerjaan di distrik rumah bordil kebanyakan adalah soal pelayanan, meski itu termasuk prostitusi dan berbeda secara dasar dengan pekerjaan pelayan di sebuah restoran atau toko. Memegang dagu dan mempertimbangkan beberapa hal, pemuda itu sejenak bingung.
“Ranah pelayanan, ya. Kalau begitu, nanti kau bekerja sebagai pelayan.” Menatap ke arah Elulu yang berdiri di sebelah keluarga Demi-human tersebut, Odo bertanya, “Apa kau bisa mengajarinya tata cara menjadi pelayan? Paling tidak supaya dia bisa membawakan pesanan pelanggan dengan benar .... ”
“Eng ....” Perempuan rambut cokelat kepirangan yang mengenakan seragam pelayan itu terlihat bingung. Setelah mengingat-ingat sesuatu ia pun bertanya, “Bukannya anda memberi saya tugas dapur?”
“Sejak kapan kau memerintahkan itu padanya, Odo?” tanya Arca. Pemuda yang duduk memegang pinggangnya itu menatap datar, terlihat sedikit pasrah dengan keadaan.
Menoleh ke arahnya, Odo dengan santai menjawab, “Tentu saja pakai kekuatannya, sekalian mengawasimu.”
“Ap—!” Arca menganga, memalingkan wajahnya dengan resah dan mulai cemberut. Pemuda itu benar-benar merasa kalau keberadaannya tidaklah terlalu penting di ruang tersebut.
“Sudahlah ....” Odo pindah menatap ke arah Mattari, lalu kembali bertanya, “Kalau kau? Apa kau punya kelebihan dan biasanya melakukan pekerjaan apa?”
“Saya ... sama seperti kakak, menjadi buruh. Tapi, kurang lebih saya bisa melakukan perhitungan sederhana. Mendiang ayah saya pernah mengajari hitungan dan pengurangan.”
“Hmm, berarti kau cepat belajar.”
Sekilas Odo mengamati Mattari. Meski perempuan itu bilang menjadi buruh, namun secara postur tubuh ia tidak sekekar Totto dan itu memang kurang meyakinkan. Mempertimbangkan keahlian kecil soal pertambahan dan pengurangan yang dimiliknya, Odo memutuskan.
“Baiklah, kau akan menjadi kasir di meja Counter.” Odo menunjuk lurus perempuan rambut kepang dua tersebut, lalu dengan tegas berkata, “Perhitungan dan pengurangan di bagian itu kurasa tidak terlalu sulit. Asal kau belajar itu pasti bisa dikuasai.”
“Kasir?” tanya bingung Mattari.
“Menerima pesanan, menerima pembayaran dan memasukkannya ke laci uang.”
“Tunggu, Odo!” sela Arca. Dengan tidak setuju pemuda keluarga Rein itu bertanya, “Bagian sepenting itu diserahkan padanya? Bukannya lebih baik Logi atau Ligh saja yang melakukannya?”
“Protes lagi?” Odo menoleh dan menatap risih. Menghela napas ringan dan menggaruk bagian belakang kepala, pemuda itu menjawab, “Mereka akan mengurus arsip bersama Nanra. Mereka tahu cara mengusus surat dan dokumen, bukan?”
“Ya, memang bisa!” Arca bangun dari tempat duduk, lalu sembari masih menahan rasa sakit pada pinggang berjalan ke arah Odo dan bertanya, “Tapi untuk bagian penerimaan uang bukannya bahaya? Bisa saja dia malah menyimpan uangnya ke dalam sakunya sendiri!”
“Kalau dia melakukan itu tinggal aku pecat, sekalian keluarganya aku usir dari tempat ini, kenapa bingung?”
“““!!!”””
Keluarga Demi-human tersentak mendengar itu, orang-orang yang mendengarnya terdiam tanpa bisa membantah. Perkataan tegas dan sederhana itu begitu masuk akal, begitu jelas dan terasa kejam untuk orang yang memberikan banyak toleransi pada mereka orang-orang pinggiran.
“I-Itu ....” Arca masih merasa tidak puas, namun ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
“Tidak ....”
Pembicaraan terkait keluarga Demi-human selesai. Menarik napas dalam-dalam, Odo sekilas memalingkan pandangan ke sudut ruang dan melakukan Spekulasi Persepsi untuk mendapat beberapa kesimpulan untuk pokok pembicaraan selanjutnya.
“Hmm ....” Menatap ke arah Matius dan Isla, pemuda rambut hitam itu bertanya, “Untuk upah kalian, apa tak masalah kalau sementara disamakan dengan mereka? 100 Rupl per minggu.”
“Aku tak keberatan,” jawab pria rambut pirang bermata Heterochromia merah dan biru tersebut. Dengan rasa loyalitas ia menambahkan, “Kami berhutang banyak pada Anda.”
Jawaban itu sekilas membuat Odo menyipitkan mata karena itu bisa berbahaya untuk menggunakan kata ‘Kami’ dalam situasi sekarang. Sekilas melirik kecil ke arah Mavis yang duduk pada kursi tak jauh dari pintu masuk, pemuda itu menarik napas dan berusaha untuk tidak mengungkit hal tersebut.
“Saya ... juga, Tuan,” jawab Isla dengan suara lirih dan lemas.
“Hmm, untunglah.” Odo memegang dagu, menatap datar mereka berdua dan memerintahkan, “Kalau begitu, Matius, kau akan bertugas sebagai keamanan di tempat ini. Jika ada masalah atau keributan, kau bertugas menghentikannya. Kau cukup kuat, bukan?”
“Hmm, aku bisa melakukannya.” Pria itu merasa tidak masalah soal tugas itu. Namun karena ia tidak lagi memiliki kepercayaan diri seperti saat masih menjadi Pemimpin Bandit, Tox Tenebris, ia akhirnya menanyakan, “Tapi kalau yang membuat keributan lebih kuat dariku, apa yang harus kulakukan?”
“Panggil saja aku, dengan kekuatanmu.”
“Siap!” jawab pria itu dengan tegas.
“Untukmu ....” Odo melihat ke arah Isla, lalu dengan sedikit ragu berkata, “Bantu Elulu di dapur. Kau bisa masak, bukan?”
“Iya ....” Wanita Demi-human tipe kukang itu menatap dengan ekspresi lesunya yang khas, lalu dengan nada sayu menjawab, “Saya tidak awam soal dapur.”
Odo berdiri tegak dan menatap kedua orang yang akan bekerja sebagai juru masak, Elulu dan Isla. Mempertimbangkan beberapa hal terkait dapur yang akan digunakan mereka, pemuda itu mengusap Sittara yang masih mendekapnya dan berkata, “Bisa lepaskan aku dulu, Dik?”
“Hmm~!” Gadis kecil itu mengangguk dengan riang dan melepaskan dekapannya.
Segera berjalan ke arah dapur, pemuda rambut hitam itu memerintah, “Elulu, Isla, kalian berdua ikut aku! Akan ku tunjukkan alat-alat dapurnya!”
“Eh?” Elulu terkejut bingung, lalu dengan heran bertanya, “Bukannya saya tadi disuruh melatih Ritta?”
Perkataan itu membuat Odo terhenti, berbalik menghadapnya dan kembali berpikir. Melihat ke arah Ritta dan Mattari, pemuda itu merasa kalau ada sesuatu yang perlu diarahkan lagi. Menghela napas dan sedikit malas karena masih banyak yang harus dikerjakan, Odo mengubah haluannya dan berjalan ke arah karung berisi roti tawar pada meja di sudut ruang.
Odo mengambil salah satu roti tawar itu dengan tangan kanan, pemuda itu menggunakan Aitisal Almaelumat untuk menanamkan paket informasi pada objek tersebut. Sekilas kilatan elektrik menjalar pada roti tawar, lalu keringat yang ada pada telapak tangannya mulai meresap ke dalam roti lonjong dengan permukaan kering tersebut dan menanamkan paket informasi ke dalamnya.
Sembari berbalik dan menatap Elulu, pemuda rambut hitam tersebut menjawab, “Latih dia nanti malam ... Kita akan begadang hari ini. Kalian tadi malam sudah tidur, bukan?”
“I-Iya ....” Elulu terlihat sedikit ragu.
“Kalau begitu, tak masalah!” Odo segera berjalan ke hadapan Mattari, lalu dengan nada ringan bertanya, “Katamu tadi cukup bisa matematika, ‘kan?”
“Sa-Saya hanya bisa penjumlahan dan pengurungan sederhana,” jawab Mattari sedikit gugup mendapat tatapan tajam pemuda itu.
“Apa semua saudaramu belajar juga dari ayahmu?”
“I-Iya ....” Menatap Odo dengan penuh rasa gugup, perempuan rambut kepang dua itu dengan kaku menjawab, “Kak Totto dan Ritta juga pernah diajari, ta-tapi mereka tidak terlalu pandai soal itu kata mendiang Ayah kami ....”
“Itu benar, Tuan.” Totto masuk ke dalam pembicaraan, lalu sedikit menambahkan, “Mattari yang paling pintar dari kami semua, dia juga yang mengurus keuangan supaya kami tidak ditipu saat mendapat bayaran.”
“Hmm, kalau begitu tak masalah.” Odo menyodorkan roti tawar yang dipegangnya kepada perempuan rambut kepang tersebut, lalu berkata, “Simpan ini dan makan saat akan tidur nanti malam.”
“Eh? Ini ... roti tawar?”
“Aku sedikit menanamkan trik di dalamnya, setelah makan ini kau mungkin akan sedikit lebih cerdas dan bisa dengan mudah melakukan perhitungan sampai tujuh digit.”
“Ba-Baiklah ....” Meski masih bingung dan tidak mengerti apa yang dimaksud Odo, perempuan itu menerima roti tawarnya dan mengangguk ringan.
Menarik napas dalam-dalam dan mengangguk, pemuda rambut hitam itu kembali berjalan menuju dapur seraya berkata, “Kalian berdua cepat ikut aku ....”
“Tunggu, Odo!” panggil Arca.
“Hmm?” Langkah kaki pemuda itu kembali terhenti, lalu dengan ekspresi resah menoleh ke arah Arca dan bertanya, “Apa?”
“Tugas kami?”
Pertanyaan tersebut sekilas membuat kening Odo mengerut kesal, merasa kalau Arca memang tidak terlalu berguna untuk urusan seperti sekarang. Pemuda itu memang pandai soal mengatur dan memengaruhi orang lain, namun soal inovasi dan improvisasi keadaan sangatlah kurang.
“Kau manajer, loh. Kenapa malah tanya?”
“Akh ....” Arca balik menatap kesal mendapat perkataan seperti itu. Ia berjalan arah Odo dan menatap tajam, lalu dengan keras berkata, “Kau tahu! Aku belum pernah menjadi manajer sebelumnya!”
“Benar juga ....” Odo memalingkan pandangannya dan berusaha untuk memaklumi hal tersebut. Kembali menatap ringan pemuda dari keluarga Rein tersebut, Odo mengangkat jari telunjuknya ke depan dan berkata, “Ya, bagaimana dengan ini? Pergi ke dermaga dan amankan paling tidak empat sampai lima kontrak kelompok pelayan!”
“Kontrak?” Arca terlihat bingung mendengar tugas yang terkesan sangat tiba-tiba tersebut.
“Kau lihat kondisi di sana, ‘kan?” Berhenti mengacungkan jari, pemuda rambut hitam itu mengambil perkamen dari dimensi penyimpanan pada jubah dan menyerahkan sebuah agenda kepada Arca. Menerima itu dan membacanya, pemuda rambut cokelat itu sedikit mengerutkan keningnya karena susunan rencananya terlalu rinci dan itu membuatnya seakan dikendalikan oleh Odo.
Tidak memedulikan ekspresi tersebut, Odo kembali berkata, “Banyak orang kekaisaran yang berlagak seakan mereka pemegang modal terbesar di kota ini! Buat mereka sadar diri! Tekan mereka dan rebut kekayaan kota ini! Jadikan itu milik kita!”
“Bicara mudah ....” Arca menarik napas dalam-dalam, lalu dengan nada enggan berkata, “Kau tahu, mereka memang punya modal besar. Para konglomerat itu memang telah menanamkan investasi besar di kota ini ....”
“Kalau begitu, ambil ini ....” Odo mengambil dua kristal kualitas terbaik dari dimensi penyimpanan pada jubah, lalu mengangkat tangan kanan Arca dan meletakkan itu pada telapak tangannya.
“I-Ini ...!” Pemuda itu gemetar, melihat pancaran cahaya dan bentuk kristal sempurna merah darah tersebut.
Memasang senyum tipis dengan wajah santai, Odo memerintahkan, “Pergi ke Serikat Dagang Lorian, tukarkan itu untuk dananya.”
Arca terdiam, tidak bisa berkata apa-apa dan hanya memberikan tatapan datar atas apa yang dirinya dapat. Ia tahu bahwa kristal kualitas terbaik yang dirinya pegang sekarang bernilai sangat mahal, bahkan bisa mencapai setengah dari modal pembangunan toko tempatnya berada sekarang. Memikirkan berbagai macam hal dalam kepala, pemuda dari keluarga Rien tersebut tetap tak bisa mengerti kenapa Odo memberikan itu kepadanya.
Meski paham dengan ekspresi Arca dan tahu apa yang sedang dipikirkannya, Odo tetap menanyakan, “Kau bisa melakukannya, bukan? Seharusnya itu sudah setara dengan 10.000 Rupl. Hampir setara dengan bangunan ini.”
“Bu-Bukannya berlebihan?!” Arca terlihat cemas, lalu dengan gentar bertanya, “Dan juga, ini kau dapat dari mana?! Apa tak masalah kau mengeluarkan modal sebanyak ini?!”
“Tenang saja, aku dapat itu dari Dunia Astral. Seorang Roh Agung baik hati memberikannya padaku.”
“Roh ... Agung?”
“Sudahlah, fokus pada pembicaraan. Kau bisa melakukannya dengan modal sebesar itu? Atau tidak?”
Arca teridam, penuh rasa keraguan dan menggenggam erat dua kristal yang memenuhi telapak tangannya tersebut. Merasa kalau itu sesuatu yang bisa dilakukannya sekarang, pemuda rambut cokelat itu menjawab, “Akan ... kuusahakan! Tapi, kenapa ke Serikat Dagang Lorian? Bukannya lebih wajar menukarnya di Guild?”
Odo sedikit menghela napas, lalu dengan resah menjawab, “Aku coba menukarnya tadi, tapi penilainya mereka soal kristal sihir lebih rendah.”
“Begitu, ya ....”
“Oh, iya ....” Saat hendak berbalik dan pergi ke dapur, Odo kembali mengingat sesuatu dan sedikit menambahkan, “Setelah dapat dana, kalau bisa gandeng Pak Aprilo supaya dia ada di pihakmu.”
“A—!?” Arca terkejut mendengar itu, terlihat kesal dan dengan kasar berkata, “Sialan, kau tahu kalau hubunganku dengannya sangat buruk, ‘kan?! Dia pasti tak mau!”
“Eng ....” Odo memalingkan pandangannya dengan rasa sedikit acuh, lalu dengan nada ringan berkata, “Coba perbaiki, itu akan menjadi hal baru untukmu. Gunakan saja namaku, atau kalau bisa pakai nama Nigrum. Identitas itu lebih mudah dipakai untuk kalangan pedagang dan sejenisnya daripada nama Odo.”
“Nigrum?” Arca terlihat bingung.
“Ya, identitas yang sering kugunakan belakangan ini. Untuk hari ini, paling tidak cobalah lobi dengan Serikat Dagang dan tukarkan kristal itu untuk modal. Ingat, untuk modal. Pedagang memiliki kecenderungan untuk mengesampingkan perasaan jika itu terkait bisnis yang menghasilkan banyak uang.”
\=========================