
“Mirip Raja Iblis Kuno, ya?” Odo sedikit enggan untuk menatap mata ibunya, memasang ekspresi muram dan menjelaskan, “Bunda tahu, wujud para Dewa-Dewi itu sebenarnya seperti itu. Ukurannya begitu masif dan memancarkan aura mutlak, bisa mengubah hukum dunia hanya dengan keberadaannya.” Dengan serius Odo menatap mata wanita rambut pirang di hadapannya, lalu sembari menyipitkan mata menambahkan, “Sosok yang dipanggil Raja Iblis Kuno itu hanya meniru para Dewa, karena itu bentuknya sangatlah menjijikkan. Sebab itu hanyalah imitasi gagal.”
Mavis gemetar dan merasa ucapan putranya tersebut seakan menyinggungnya yang merupakan makhluk imitasi juga. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dari Odo, melangkah mundur dan segera mengusap air mata. Tidak memedulikan ekspresi tersebut, Odo menatap ke arah Fiola yang sedari tadi terlihat ingin bertanya. “Kalau ada yang ingin Mbak Fiola tanyakan, jangan enggan. Selagi aku mau menjawabnya,” ujar pemuda itu.
“Kalau begitu ....” Fiola menatap tajam, lalu dengan nada menekan berkata, “Beritahu kenapa Tuan Odo bisa-bisanya mendapat kekuatan semacam itu? Wujud Dewa? Memangnya Luke Scientia punya buku tentang sihir semacam itu?”
“Mbak Fiola tahu, aku merampasnya langsung dari Raja Iblis Kuno itu.” Jawaban singkat itu terdengar tidak masuk akal, baik untuk Fiola atau Mavis. Tidak memedulikan ekspresi mereka, pemuda itu kembali berkata, “Seharusnya Mbak Fiola juga sudah sadar, ‘kan? Aku tahu bagaimana caranya merampas kekuatan lawan yang telah kukalahkan. Entah itu Naga Hitam atau Raja Iblis Kuno, bagiku itu tidak ada bedanya.”
“Merampas ...? “ Fiola menatap cemas setelah mendengar perkataan tersebut.
Odo melihat memindai orang-orang yang berkumpul, memasang ekspresi gelap dan sekilas menyipitkan matanya. Meski tidak melihat semuanya dari awal, pemuda rambut hitam itu dengan jelas paham apa yang membuat mereka berkumpul. Suara geram dan tak suka sesekali menusuk telinga Odo, ada juga yang benar-benar mengharapkan putra dari keluarga Luke itu benar-benar mati demi kepentingan mereka.
Tak memedulikan mereka, Odo berjalan menghampiri Lisia dan sekilas melempar senyum tipis. “Memang ..., kalau situasi seperti ini sifat asli orang-orang mudah nampak ke permukaan, ya?” ujarnya dengan ringan. Mengulurkan kedua tangannya ke arah perempuan rambut merah tersebut, Odo memegang kedua sisi pipinya dan mengusap air mata yang mengalir dengan jari. “Hmm, air mata memang tak cocok untukmu. Tersenyumlah!” ucap pemuda itu dengan senyum yang terkesan hampa.
Lisia berhenti gemetar, namun air matanya malah mengalir dengan deras. Dalam benaknya seperti ada sesuatu yang lepas keluar, membuat tubuhnya terasa ringan dan tanpa ragu langsung memeluk Odo. Lalu—
“Odo!! Odo ...! Hiks ... Odo .... Aku .... Aku! Odo ....” Dengan sendu ia menangis lepas mendekap pemuda rambut hitam tersebut, tanpa bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam benaknya secara jelas. Rasa lega yang datang setelah ketakutan membuat tubuhnya lemas, suara pun semakin lirih terdengar.
Odo tak balik memeluk, hanya diam dan sekilas memasang ekspresi muram. Apa yang terjadi sekarang sangat jauh dari apa yang pemuda itu perkirakan, membuatnya sedikit kesal karena beberapa rencananya kemungkinan besar akan mengalami kendala. Tanpa menunggu Lisia berhenti menangis, Odo melepaskan pelukannya dan memegang kedua sisi pundak perempuan rambut merah tersebut.
“Berhenti menangis, kau pemimpin kota ini, ‘kan?”
Perkataan pemuda itu membuat Lisia tersentak, segera mengusap air matanya dan mengangguk untuk menguatkan perasaannya. “Baiklah,” ujarnya lirih.
Odo segera menatap ke arah orang-orang yang berkumpul, memandang rendah mereka dan berkata, “Padahal aku sudah mati-matian melawan para Elf sialan itu, tapi kalian yang ada di sini malah menyalahkan orang yang bahkan tidak ada di tempat. Apa kalian tidak malu? Apa kalian benar-benar bangsa Felixia?” Kornea pemuda itu berubah kemerahan, aura intimidasi yang begitu kuat terpancar dan membuat orang-orang di hadapannya gemetar.
Mengangkat tangannya ke arah beberapa orang dari Pihak Pemerintah Kota, Odo menggunakan manipulasi Mana secara langsung dan menyelimuti tangan kanannya dengan aura biru tua. Itu dengan cepat membentuk sebuah pedang dalam genggaman, memancarkan tekanan udara di sekitarnya dan garis-garis merah pada tubuh Odo mulai nampak dengan jelas.
Melangkah ke depan, ia memasang kuda-kuda pedang satu tangan untuk mengangkat senjatanya dan menyalurkan Mana dalam jumlah yang tidak sedikit ke tangan kanan. Aliran Mana padat yang terlihat seperti sekumpulan pita biru mulai nampak di sekitar mata pedang, berputar spiral dengan pancaran cahaya terang.
Menyipitkan mata dan hendak mengayunkan pedangnya ke depan, dengan tegas Odo berkata, “Aku bekerja keras dan mempertaruhkan nyawa bukan untuk para pengecut seperti kalian. Para hama seperti kalian, sekarang ma—!” Fiola menahan tangan Odo, sebelum pemuda itu mengayunkan pedangnya dan melancarkan tebasan yang bisa merambat di udara.
Fiola terlihat marah, menggenggam erat pergelengan Odo dan bertanya, “Apa yang ingin kau lakukan, Tuan Odo?!”
Menoleh ke arah Huli Jing yang menahan tangannya, Odo sekilas mengendus ringan dan memasang ekspresi menghina. Tersenyum kecil dan menghilangkan aura intimidasi, pemuda rambut hitam itu berkata, “Kau tidak lihat, hah?” Pemuda itu menghilangkan pedang hasil pemadatan Mana, mengubahnya menjadi partikel cahaya dan kembali menyerapnya ke dalam tubuh. Melepas paksa tangan dari genggaman Fiola, Odo memalingkan pandangan dan segera menaik napas dalam-dalam.
“Anda sebenarnya kenapa?” Fiola sedikit cemas melihat gelagat Odo, memegang pundak kanannya dan memaksa pemuda itu menghadap. “Sikap Tuan dari tadi aneh, loh! Memangnya apa yang terjadi?” tanya Huli Jing tersebut.
“Kau tahu, Mbak Fiola ....” Odo menatap tajam dengan mata merahnya, lalu dengan volume ditinggikan berkata, “Aku lelah! Padahal aku sudah mempertaruhkan nyawa berkali-kali! Membuang sirkuit sihir yang telah kubangun sampai dua kali demi menolong orang-orang! Tapi, apa yang malah kulihat ini!? Padahal baru sebentar saja aku sudah dianggap mati!”
“Tunggu sebentar, Tuan Odo. Tenang dulu .... Itu kesalahan saya karena tidak bisa melacak keberadaan Anda dengan—”
“Padahal baru beberapa jam saja, mereka sudah mencari orang untuk dijadikan kambing hitam! Rasanya apa yang telah kulakukan ini percuma! Kalau tahu seperti ini, aku biarkan saja kota ini dihancurkan para Elf dari Moloia itu! Benar kata Bunda! Lebih baik kalangan atas bertingkah layaknya kalangan atas saja! Tak perlu dekat-dekat dengan kasta bawah dan berlagak sok baik! Orang-orang seperti itu hanyalah sekumpulan pengecut yang egois, dengan moral bobrok dan hanya memikirkan diri sendiri! Itu juga benar katamu, Mbak Fiola! A—!”
“Odo!!” bentak Fiola.
Suara tersebut memecah suasana yang ada, membuat pemuda rambut hitam itu terdiam sesaat dan menutup rapat-rapat mulutnya dengan kesal. Memperlihatkan ekspresi tanpa menyesal sama sekali, Odo kembali berbalik menghadap orang-orang dan menatap satu orang yang dilihatnya menjadi pusat dari suara-suara kecaman di antara mereka. Dengan jelas pemuda itu menatap tajam sang Wakil Walikota, Wiskel Porka.
Itu membuat pria tua tersebut gemetar, melangkah mundur dalam kerumunan dan keringat dingin mulai bercucuran. Tanpa berkata apa-apa, Odo memalingkan pandangan dan segera berjalan ke arah bangunan toko untuk masuk ke dalam.
“Tunggu dulu, Tuan Odo .... Anda mau ke—”
“Tidur! Kau bubarkan mereka dan jelaskan saja sesukamu! Kerumunan ini terjadi karena ulahmu, ‘kan?!” tukas pemuda itu dengan kesal. Saat melewati Mavis yang berdiri dengan cemas melihat putranya semarah itu, sekilas Odo bergumam, “Memang lebih baik aku mati saja dan tak usah mengurus semua ini ....”
“Ah, pasti Opening toko besok bakal bubar. Kenapa juga buat kehebohan gak perlu seperti ini? Orang-orang memang suka sekali melakukan hal menyusahkan. Sungguh, rasanya ini menyebalkan,” benak pemuda ini seraya berjalan masuk, melewati Arca dan Elulu di dekat pintu.
Fiola dengan jelas bisa mendengar apa yang pemuda itu pikirkan, membuatnya terbelalak dan seketika menyimpulkan satu hal. “Tadi itu hanya kebohongan,” gumamnya dengan suara pelan. Segera menatap ke arah Lisia, Huli Jing tersebut paham alasan Odo bersikap seperti itu di hadapan orang-orang.
Ketika menyadari hal tersebut, seketika Fiola benar-benar merasa tak berguna dan hanya bisa menjadi beban bagi pemuda rambut hitam tersebut. Menarik napas dalam-dalam, ia segera menatap ke arah semua orang dan hendak menjelaskan kesalahpahaman yang telah dirinya buat. Itu dirinya lakukan dengan rasa sesal, hanya melaksanakan tugas untuk membersihkan kekacauan yang dirinya sebabkan.
««»»
Belasan kilometer ke barat kota Mylta, pada hutan pepohonan oak di kaki Pegunungan Perbatasan wilayah Luke. Dalam gelapnya jalan setapak yang tidak terlalu jauh dari rute utama perdagangan, dua orang perempuan berjalan tertatih-tatih melewati medan berlumpur. Gaun pelayan yang mereka kenakan menambah langkah semakin sulit, sampai harus melepas sepatu dan menjinjingnya.
Kedua orang tersebut adalah Di’in dan Ra’an, dua orang dengan pangkat militer cukup tinggi di kerajaan Moloia. Sebelum Lisiathus Mylta kembali ke kota pesisir, atas perintah Odo mereka memanfaatkan keributan untuk pergi dari kota sebelum menjadi bulan-bulanan dan disalahkan hanya karena berasal dari Moloia.
Kedua perempuan itu juga membawa senapan mereka masing-masing pada punggung, serta juga amunisi dan beberapa bahan peledak. Pada pinggang mereka melingkar sabuk peralatan dengan tas kantung kecil berisi alat-alat militer, lalu pisau tempur dan juga mereka mengenakan sarung tangan dengan bahas khusus pada kedua tangan. Apa yang kedua perempuan itu tinggal di toko hanyalah pakaian dan beberapa alat rusak yang sudah tidak bisa digunakan.
Sampai pada titik yang cukup jauh dari kota pesisir, kedua perempuan itu keluar dari jalan setapak dan masuk pada rute utama perdagangan di mana jalannya tidak terlalu becek. Tetap mencangking sepatu mereka dan berjalan tanpa alas kaki, dua perempuan itu sedikit menghela napas lelah.
Dalam suasana sepi di hutan, Ra’an sedikit menggerung dan mulai terlihat malas berjalan di atas tanah becek. “Dia benar-benar memprediksinya, ya? Tak kusangka kekacauan seperti itu akan terjadi. Kalau kita tetap di sana, bisa-bisa kita berdua diseret dan dipenggal langsung. Benar begitu, Letnan?” celetuknya ringan untuk memulai pembicaraan.
Di’in melirik kecil ke arah perempuan rambut pendek sebahu di sebelahnya, lalu semarbi memasang wajah cemberut membalas, “Sebelum itu, bukannya lebih tidak masuk akal lagi dia bisa berubah jadi tengkorak raksasa dan menghentikan Parva Nuclear?” Letnan Dua tersebut sedikit memalingkan pandangan, menarik napas dalam-dalam dan menggelengkan kepala. “Dia bahkan membunuh Laura dan yang lainnya dengan sangat mudah,” lanjutnya dengan nada sedikit muram.
“Bukannya mereka musuh Letnan? Tidak masalah, ‘kan?”
Perkataan Ra’an memang benar, para Prajurit Peri tersebut merupakan musuh sekaligus objek dendamnya. Namun dalam benak Di’in, Laura dan para Prajurit Peri itu juga adalah sosok yang berperan besar dalam hidupnya. Merekalah yang membuat diri Ra’an menjadi seperti sekarang, sebagai seorang Letnan yang mendapat kepercayaan besar dari Rhea.
“Kurasa ..., benar katamu,” ujar Di’in dengan nada sedikit lesu.
Melihat ekspresi tersebut, Ra’an sempat bingung dan merasa tak mengerti hubungan yang ada di antara Letnannya tersebut dengan para Prajurit Peri. Memilih tidak melanjutkan topik pembicaraan itu, perempuan rambut pirang tersebut berkata, “Ngomong-omong, Letnan. Pakai gaun seperti ini rasanya menyusahkan, ya?”
“Hmm?” Di’in melirik kecil rekannya tersebut, perempuan rambut cokelat ikat kucir tunggal tersebut dengan nada gurau menjawab, “Kalau kita pakai seragam militer, bisa-bisa saat ketemu orang lokal kita ditangkap, tahu. Ini juga bisa disebut penyamaran!”
Dengan senyum kecil Ra’an membalas, “Sepasang pelayan yang berjalan di tengah hutan malam-malam begini juga sudah mencurigakan, loh.”
“Hee-hmm, benar juga.”
Melihat senyum yang nampak pada Letnannya tersebut, sekilas Di’in lega dan merasa tak masalah untuk masuk ke topik utama. Memasang wajah sedikit serius, perempuan rambut pirang tersebut berkata, “Pemuda itu telah menepati janjinya dan berhasil mencegah para Prajurit Peri itu memulai peperangan. Mungkin ini terdengar aneh, tapi sekarang adalah giliran kita menepati janji ....”
“Ya ....” Ra’an segera memasang ekspresi serius, lalu kembali mengonfirmasi tugas yang diberikan oleh individu yang dipercayai oleh Rhea. “Kita sekarang akan pergi ke Hutan Pando untuk melakukan kontak dengan The Witch of Orgin yang telah mengenal pemuda itu. Kita akan menetap di sana sampai awal musim panas, lalu kembali ke kota pesisir,” ucap Ra’an dengan senyum kecil.
Sembari sekilas mengangkat kedua pundaknya, Di’in menambahkan, “Tugas kita adalah misi penjagaan, salah satu kereta kerajaan kemungkinan besar lewat di sekitar daerah tersebut. Kita harus memastikannya selamat sampai tujuan, karena kemungkinan besar akan ada kendala.”
Perasaan aneh mengisi mereka, sesuatu yang disebut kebanggaan membuat kedua perempuan itu melangkah dengan tanpa ragu. Tak seperti tugas-tugas yang sering mereka dapat selama berada di Fraksi Pengembangan Teknologi dan Militer yang cenderung diwarnai dengan hal-hal kotor, apa yang mereka dapat kali ini terasa begitu cerah tanpa harus memikirkan busuknya konflik saudara di Moloia.
\============================
Catatan :
Next bakal sedikit fokus ke Build lagi! Ke relasi antar karakter, lalu akan masuk ke bagian yang mungkin benar-benar topik permasalahan akhir dari arc ini! Semoga saja gak melar-melar lagi! Cepek *** pengin selesain Arc 02 ini!
Ingin tahu kenapa kali ini update telat? Sebenarnya ada beberapa alasan ….
Pertama, perubahan jadwal shift di dunia nyata. Kali ini updatenya bakal pindah antara minggu, senin, atau selasa.
Kedua, laptop author habis kena virus format besar-besaran. Sampai harus reinstal windows. Untuk ada file-file yang selamat. Kalau enggak, mungkin seri ini bakal drop. Sungguh, untung folder berisi file-file novel selamat.
Yang terakhir, CF sabtu dan minggu kemarin.
Ya, sorry kalau telat. Aku juga manusia yang butuh liburan.
Senin depan aku usahakan bakal update lebih dari lima part, lebih dari 11.000 kata.
Yah, itung-itung tebusan:v
Kalau pun ada yang masih menunggu seri ini, karena entah mengapa aku sekarang sedang frustasi.
Bukan karena novel, tapi kondisi di dunia nyata.
See You Next Time!