
.
.
.
.
Lampu-lampu kristal di taman bersinar terang, pada pagar serta dekat pilar-pilar Mansion. Cahayanya sampai memapar tanaman di taman bunga dan kebun herbal. Pada beberapa sudut halaman, tampak juga orang-orang yang datang dari luar kediaman seperti para penjaga dan tamu undangan, serta beberapa bawahan mereka.
Berjalan keluar dari Mansion dan menuju ke bangku di antara kebun dan taman, pemuda rambut hitam itu duduk dan sejenak menarik udara segar di tempat tanpa wewangian menyengat para bangsawan. Mendongak dan menatap bintang di penghujung musim semi, ia merasa lebih nyaman berada di tempat tersebut daripada tempat penuh kemegahan.
Orang-orang yang berada di taman dan teras melihat ke arahnya dengan penuh rasa heran, tampak bertanya-tanya mengapa pemuda yang menjadi inti acara malah duduk di luar seperti itu. Tidak memedulikan mereka, Odo tetap berusaha menikmati angin malam yang berhembus sampai dirinya mengingat sesuatu.
“Ah, benar juga …. Bukannya sekarang aku harus ke tempat Canna?”
Pemuda itu berhenti mendongak, memikirkan cara untuk pergi tanpa menimbulkan masalah. Namun sebelum ia sempat bangun dari tempat duduk, salah seorang Shieal menghampirinya. Ia memiliki rambut keperakan, mata hijau, kulit pucat serta telinga dan ekor kucing. Dengan seragam pelayan layaknya para pelayan lainnya, ia sedikit mengangkat gaunnya dan membungkuk hormat kepada Odo.
“Ada apa, Mbak Julia?” tanya Odo sembari melirik ringan.
“Bukannya Tuan Odo seharusnya di dalam, kenapa Anda berada di sini?”
Julia ikut duduk di sebelah Odo, Nekomata tersebut menatap heran dari samping dan menunggu jawaban dari tuannya. Merasa sudah lama tak berbicara dengan salah satu perempuan yang merawatnya sejak kecil, Odo ingin melebarkan pembicaraan dan sedikit mengelak, “Mbak Julia sendiri kenapa di sini? Bukannya Mbak Julia harusnya di dapur membantu Mbak Fiola?”
“Urusan dapur sudah selesai kok! Setelah pesta ditutup, kita tinggal membersihkan ruangan dan alat makan ⸻” Merasa bukan untuk membicarakan hal tersebut ia menghampiri Odo, Julia lekas menatap datar Tuannya dan merasa pembicaraan telah dialihkan. Dengan sedikit kesal ia pun bertanya, “Tuan Odo, saya sudah dengar dari Fiola soal itu loh, pembicaraan Anda dengan Raja …. Apa Anda baik-baik saja?”
“Tentu, memangnya kenapa soal itu?” Pemuda itu hanya memasang ekspresi tenang, sekilas memalingkan pandangan dan menarik napas kecil.
“Tuan Odo … punya aura iblis. Mungkin setelah ini banyak bangsawan yang memusuhi Anda, atau bahkan ingin menyingkirkan Anda.”
“Ah, soal itu?” Odo kembali mendongak ke arah langit, menatap gugusan bintang di antara tirai hitam yang terbentang. Sembari memasang senyum penuh rasa lega ia pun berkata, “Mbak Julia tak perlu cemas. Aku punya pemikiran sendiri untuk masalah seperti itu.”
“Sungguh?” Julia meragukan.
“Hmm ….” Odo menoleh ke arah Julia, sedikit terlihat lega dan menjawab, “Karena itulah aku tidak menolak pertunangan ini. Meski ini di luar perkiraan, tapi kurasa tak buruk juga punya seorang pendamping.”
“Tak buruk?” Julia heran mendengar itu, lalu dengan penasaran bertanya, “Bukan hal yang membahagiakan? Apa Tuan Odo tak puas dengan Tuan Putri?”
“Bukannya tak puas, hanya saja aku belum kenal dengannya. Tiba-tiba harus bertunangan dengan seseorang yang tidak diriku kenal rasanya sedikit membuatku gelisah.”
Apa yang Odo katakan tidaklah berasal dari hati, melainkan perkataan yang terucap karena harus diucapkan di situasi tersebut. Pada dasarnya ia merasa tak terlalu peduli dengan pertunangan, ia pun tak merasa sesuatu seperti gelisah atau semacamnya.
“Hmm, berarti Anda ingin lebih kenal lebih dalam lagi dengan ⸻” Sebelum Julia menyelesaikan kalimatnya, ia merasakan ada hawa asing yang mendekat dan segera menoleh ke arah Mansion. Melihat Putri Arteria keluar bersama sang Pangeran, sang Nekomata pun paham dengan statusnya dan segera pamit, “Maaf, Tuan Odo …. Saya baru ingat ada sesuatu yang perlu dilakukan. Saya pergi dulu.”
“Hmm ….”
Julia bangun dari tempat duduk, sekilas membungkuk sebagai tanda hormat dan segera berjalan kembali ke Mansion. Saat ia berpapasan dengan Tuan Putri dan Pangeran sebelum naik ke teras, sekilas Nekomata tersebut memberikan tatapan tak suka dan segera berjalan melewati mereka tanpa memberikan hormat.
Pangeran Ryan tampak heran saat mendapat tatapan sinis darinya, namun Putri Arteria tidak mengubah ekspresinya dan tetap melihat ke arah pemuda rambut hitam yang duduk di taman. Dengan sorot mata yang tampak tidak memantulkan cahaya, ia menatap lurus dan mulai terlihat heran.
Odo menoleh ke arah mereka, memberikan senyum tipis dan mulai mengamati. Apa yang Tuan Putri Arteria kenalan terlihat berbeda dengan tadi siang, begitu pula sang Pangeran.
Arteria mengenakan sebuah Royal Dress tanpa lengan warna biru, namun pada pundak terdapat sebuah jubah panjang sampai punggung dan pada bagian dada disatukan oleh sebuah bros berlambang kepingan salju. Dengan sepatu hak yang tak terlalu tinggi, ia turun dari teras dan segera berjalan ke arah Odo.
Melihat adiknya tidak sabar untuk menghampiri pemuda itu, sekilas mimik wajah Pangeran tampak tak suka tampak. Layaknya putra dari keluarga bangsawan lainnya, Pangeran Ryan juga mengenakan setelan berupa jas formal berwarna merah dengan tambahan dasi cravat dan celana cokelat gelap untuk bawahannya. Segera mengikuti Arteria, ia langsung menatap tajam ke arah Odo.
Sampai di tempat pemuda rambut hitam tersebut, Putri Arteria sedikit mengangkat gaunnya dengan kedua tangan dan sekilas membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Mendapatkan hal tersebut, Odo tidak bangun dan hanya mengangguk ringan karena tak tahu tata kerama memberi salam di kalangan bangsawan.
“Adinda sudah memberi salam, paling tidak bangun dan balas!” ucap Pangeran dengan nada kesal.
Mendapat bentak seperti itu, Odo hanya menatap ringan dan memang tak terlalu peduli formalitas yang ada. Tanpa memedulikan Pangeran Ryan, pemuda itu menggeser duduknya dan berkata, “Silahkan duduk, Tuan Putri ….”
Arteria tampak bingung, sekilas melirik ke arah kakaknya. Namun saat tahu Pangeran Ryan sedang kesal, perempuan rambut biru tersebut mengurungkan niatnya untuk bertanya. Merapikan gaunnya, ia duduk di bangku taman tersebut. Sekilas ia gemetar kedinginan saat bokong menyentuh permukaan bangku, merasa ada yang sedikit basah saat duduk.
Namun beberapa saat kemudian, rasa hangat mulai terasa dari pemuda rambut hitam di sebelahnya. Putri Arteria menoleh dengan heran, bertanya-tanya dalam benak bagaimana caranya pemuda itu bisa mengubah suhu udara di sekitarnya dengan sangat cepat.
“Apa Tuan Odo juga pandai di bidang sihir api?” tanya Arteria seraya sedikit mendekatkan wajahnya.
“Begitulah …. “ Odo menatap mata Tuan Putri untuk kesekian kalinya, merasa kalau matanya memang bisa melihat banyak hal sebagai ganti penglihatan normal yang direbut untuk Kontrak Jiwa. Ikut mendekatkan wajah, pemuda itu balik bertanya, “Anda punya mata yang bagus, ya? Memangnya diriku di mata Tuan Putri seperti apa? Sebelumnya Anda pernah memanggil diriku raksasa, bukan?”
“Eh?” Putri Arteria segera menjauh, mulai tersipu malu dan dengan sedikit gagap menjawab, “A-Arteria hanya bisa melihat bentuk jiwa makhluk hidup … dan Tuan Odo tampak seperti raksasa.”
“Raksasa? Raksasa seperti apa?”
“Api raksasa yang warnanya bisa berubah-ubah.”
Odo sesaat terdiam, tahu mengapa bentuk jiwanya bisa berubah-ubah seperti itu. Menarik napas dalam-dalam dan sejenak terdiam, ia memalingkan pandangan dari Tuan Putri dan menatap ke depan. “Perubahan warna mungkin karena para makhluk di dalam Alam Jiwaku dan ukurannya kemungkinan besar karena koneksi dengan Dunia Kabut,” benak pemuda itu dengan mimik wajah sedikit muram.
Namun saat merasakan tatapan tajam dari Pangeran Ryan, Odo lekas menatap ke arahnya dan berkata, “Kenapa Anda berdiri terus, Pangeran? Silahkan duduk di sebelah Putri.”
Pangeran Ryan berdiri beberapa langkah di hadapan Odo, menatap ke arah pemuda yang duduk santai tersebut dan membunyikan lidahnya. “Kau ini apa? Kenapa bisa anak usia delapan tahun seperti bisa secerdas itu dan memiliki hawa iblis? Apa kau inkarnasi iblis? Jika benar seperti itu, aku peringatkan kau jika berani mencelakakan Adinda!” ucapnya seraya menunjuk Odo dengan kesal.
“Anda bisa menentukan itu sendiri dan melihatnya langsung ….” Odo memasang senyum ringan, meletakkan telunjuknya depan mulut seraya kembali berkata, “Apakah aku ini inkarnasi iblis atau bukan, kau bisa menentukannya sendiri. Sebagai seorang kakak, wajar untuk curiga saat adiknya didekati orang seperti itu. Kau bebas untuk itu, Pangeran.”
“Kakanda ….” Arteria tidak mau bangun dan menatap kesal ke arah Pangeran Ryan. Dengan nada menggerutu ia pun menyampaikan, “Kakanda masuk saja dulu! Arteria mau bicara dengan Tuan Odo sebentar! Kenapa sih Kakanda tak suka padanya, Tuan Odo itu orang baik!”
“Tapi! Dia itu orang yang bahkan bisa hidup lagi setelah dibunuh loh! Mana mungkin kamu akan bahagia dengannya, Adinda!”
Odo sekilas mengerutkan kening dan menurunkan jarinya saat mendengar itu, tampak kesal setelah mendengar alasan Pangeran Ryan tak menyukainya adalah karena itu. Bangun dari tempat duduk, pemuda rambut hitam tersebut menatap lurus ke arah Pangeran.
Perbedaan tinggi badan membuat Odo tampak lebih besar di hadapan Pangeran Ryan, membuat remaja rambut merah tersebut melangkah ke belakang dan mulai takut.
“Kau tahu, Pangeran Ryan. Mati itu bukanlah sesuatu yang nyaman dan setiap orang pun tak menginginkannya ….” Melangkah ke depan dan mengangkat tangannya ke pundak kanan Pangeran, Odo mendekatkan mulutnya ke telinganya dan menegaskan, “Karena itu, jangan bicara seakan aku ini orang gila yang suka dibunuh. Aku juga marah saat dipenggal dan ditusuk.”
Pangeran Ryan langsung menyingkirkan tangan Odo dari pundak, melangkah mundur dan menatap tajam. Mimik wajahnya lebih cenderung tampak takut daripada marah, lalu dengan sedikit gemetar ia pun membentak, “Meski bukan orang gila! Kau takkan bisa membahagiakan Arteria! Orang semacam kau takkan bisa mengerti dirinya!”
“Huh!” Odo mengendus kasar, memberikan tatapan rendah dan dengan nada kesal bertanya, “Jadi, apa kau bisa memahami adikmu? Apa kau benar-benar telah memahami adikmu dan tahu segala tentangnya? Bahkan tadi kau sama sekali tidak tahu kalau aku bertemu dengannya, ‘kan?”
Pangeran Ryan tersentak, merasa didorong mundur oleh argumennya sendiri. Memikirkan hal tersebut dan mulai merenung, Putra dari seorang selir tersebut merasa tidak tahu segalanya tentang Arteria. Bahkan setelah adiknya tersebut membuat Kontrak Jiwa, ia merasa semakin tak mengenalinya.
Odo menghela napas ringan, memalingkan pandangan dan berkata, “Bukan berarti aku ingin berdebat atau semacamnya, hanya saja ini juga membuatku gelisah.”
“Gelisah?” tanya Pangeran Ryan.
Odo menatap ke arah bunga-bunga yang kuncup di taman, sedikit menyipitkan matanya dan menjawab, “Aku juga tiba-tiba mendengar keputusan pertunangan itu, mereka tidak memedulikan pendapatku. Lagi pula, aku tidak terlalu mengenal Putri Arteria ….”
Untuk sesaat Pangeran terdiam, angin berhembus ringan dan menerpa tubuh mereka. Dalam rasa bimbang dalam benak, remaja rambut merah tersebut mengangkat wajah dan berkata, “Apa kau berjanji akan membahagiakan Arteria?”
“Entahlah, aku tak tahu ….” Odo kembali menatap ke arah Pangeran, lalu dengan senyum tipis menambahkan, “Namun diriku akan berusaha untuk membahagiakannya.”
Jawaban yang keluar dari Odo kali ini juga bukan berasal dari hati, hanya kalimat yang keluar dari mulut karena situasi yang ada cukup memungkinkan. Arteria yang bisa melihat bentuk jiwa dari makhluk hidup sesaat melihat wujud kebohongan dalam jiwa pemuda rambut hitam itu, namun ia tidak mengatakannya dan tetap duduk seraya menundukkan wajah.
Ryan masih tak bisa menyukai calon tunangan adiknya. Memalingkan pandangan dan berbalik, ia mulai berjalan pergi seraya berkata, “Aku akan terus mengawasi kau, Odo Luke! Awas saja kalau kau berani membuat Adinda menangis!” Ia pun pergi dengan suasana hati bercampur aduk. Berusaha ingin mempercayai perkataan Odo karena tak bisa melakukan apa-apa terhadap pertunangan, namun pada saat yang sama masih merasa tak tenang.
Melihat kakaknya naik ke teras dan pergi kembali ke ruang pesta, Putri Arteria menghela napas lega. Ia lekas menatap ke arah Odo dan berkata, “Tolong maafkan Kakanda, Tuan Odo …. Ia sebenarnya orang yang lembut, hanya saja kalau menyangkut saya⸻”
“Tak masalah,” ucap pemuda rambut hitam itu dengan cepat. Odo berbalik ke arah Arteria, menatap lurus mata Tuan Putri tersebut dengan sorot mata datar. “Kau sekarang Dewi Asmali, ‘kan?” tanyanya serius.
Putri Arteria sempat tersentak mendengar hal tersebut, ia menggelengkan kepala dan menjawab, “Bu-Bukan! Saya masih Arteria! Nona Dewi memang mengawasi Arteria dari dalam, namun sekarang Arteria masih bangun dan berbicara dengan Tuan Odo. Me-Memang saat di aula beliau sempat muncul sekilas …, namun sekarang diriku Arteria.”
Sebenarnya Odo bertanya hanya untuk mengetes, bukan berarti dirinya bisa membedakan kesadaran siapa yang muncul ke permukaan dan berbicara dengannya sekarang. Melihat gelagat seperti itu, Odo merasa kalau memang pergeseran kepribadian bisa dengan mudah dilakukan oleh Tuan Putri Arteria. Seperti halnya saat Odo melempar kontrol tubuhnya ke Seliari.
“Hmm, eng …. Aku paham.” Odo mengangguk-angguk ringan, memalingkan pandangan dan sekilas menarik napas ringan. Kembali duduk ke bangku dan menyandarkan punggung ke belakang, ia mendongak ke atas dan melihat gugusan bintang dengan rasa lega.
Ekspresi rindu mulai terlihat, lalu perlahan Odo merasa ingin mengungkapkan isi benaknya dan berkata, “Kau tahu, Tuan Putri. Cahaya gugusan bintang di langit sana itu berasal dari masa lalu. Pada jarak jutaan sampai miliaran tahun cahaya, itu baru sampai ke tempat kita dan bisa dilihat seperti itu. Mungkin saja sekarang sumber cahaya tersebut telah padam tanpa kita ketahui.”
Arteria ikut menatap ke arah gugusan bintang meski dirinya tak bisa melihat gugusan tersebut, merasa heran dan bingung mendengar perkataan Odo. Sebelum ia kehilangan penglihatan normalnya, perempuan itu pun tak terlalu sering memandangi bintang.
Lalu setelah ia kehilangan ibunya, malam menjadi sesuatu yang tidak dirinya sukai. Itu mengingatkannya dengan hari terakhirnya bersama mendiang Ratu, juga mengingatkannya dengan hari dimana dirinya harus membuat Kontrak Jiwa di tengah rasa sedih dan kehilangan penglihatan normal.
“Apa Tuan Odo suka dengan bintang ?” tanya Tuan Putri.
“Tidak juga, aku lebih suka bulan.” Odo memejamkan mata, menghembuskan napas dengan berat dan berkata, “Itu mengingatkan ku dengan banyak hal buruk. Apa yang aku suka dari bintang hanya karena mereka menerangi malam, sebab itulah aku lebih suka bulan daripada bintang.”
“Menerangi malam?” Arteria menoleh ke arah Odo dengan rasa heran, lalu sedikit mendekatkan wajah dan berkata, “Bagi Arteria, malam dan pagi hari sama saja. Meski disinari cahaya atau tidak, semuanya terlihat gelap dan hanya cahaya kehidupanlah yang menjadi petunjuk langkah kaki Arteria.”
Odo menyipitkan mata dan menoleh ke arah Arteria dengan ekspresi datar. Berhenti bersandar, pemuda itu meletakan tangannya ke dagu dan bertanya, “Apa kau tak suka dengan penglihatanmu yang sekarang?”
“Tentu saja!” Arteria menjawab tanpa ragu. Mengembungkan kedua pipinya dan melipat kedua tangan ke depan, ia dengan kesal berkata, “Siapa juga yang mau menjadi buta! Meski Arteria bisa melihat berbagai macam bentuk jiwa, itu tak setara dengan penglihatan normal!”
Odo tak bisa sepenuhnya memahami perkataan tersebut, karena dalam benak ia merasa bisa melihat wujud jiwa juga merupakan sebuah nilai positif dan dapat berguna pada beberapa kesempatan. Menatap ke arah taman, pemuda rambut hitam tersebut kembali bertanya, “Bukannya itu luar biasa? Pasti kau juga bisa melihat para roh tingkat rendah yang beterbangan di tempat ini, ‘kan? Warna mereka sangat indah seperti pelangi, bukan?”
Arteria menatap apa yang Odo lihat. Memang benar seperti apa yang pemuda itu katakan, bentuk jiwa mereka tampak indah di antara warna jiwa tumbuhan. Melayang-layang dan berkelompok, saling bersentuhan di udara seakan menari-tari dengan gembira.
“Apa Tuan Odo juga bisa melihat para roh?”
“Begitulah ….” Odo memasang senyum tipis, kembali menatap ke arah Arteria dan menambahkan, “Kurang lebih seperti itu, mereka tampak samar seperti pembiasan cahaya.”
“Apa Anda punya Mata Batin?”
Mendengar pertanyaan Arteria, Odo sekilas mulai merasa kalau kekuatannya untuk melihat para roh juga bisa digolongkan ke dalam kategori Mata Batin meski dengan tingkat rendah. Melihat lurus ke mata Arteria, ia merasa kalau kedua mata Tuan Putri juga dapat digolongkan ke dalam hal tersebut.
“Kalau dipikir-pikir lagi, aku rasa memang begitu. Apa matamu juga demikian? Mata Batin yang didapat setelah Kontrak Jiwa?” tanya Odo penasaran.
“Arteria rasa ini juga merasa seperti itu, Kakek Yhoan juga berkata seperti itu ….” Perempuan rambut biru tersebut menyentuh bagian kantung mata kanan, merasa tak suka dengan penglihatannya sekarang dan berkata, “Mata Batin kebanyakan didapat seseorang sejak lahir, namun tak jarang ada kasus kekuatan mereka bangkit saat dewasa atau bahkan dari sebuah kejadian tertentu. Seingat Arteria, itulah yang Kakek Yhoan katakan.”
“Yhoan …. Archbishop itu rasanya tahu banyak,” benak Odo
Melihat ekspresi sedih Arteria, sekilas dalam benak Odo merasa ingin membantu perempuan yang tampak begitu lemah tersebut. Ia menonaktifkan sihir penguatan pada sarung tangan kanan dan melepaskannya. Setelah memasukannya ke saku celana, ia mulai meregangkan jemari tangan kanan sembari bertanya, “Apa kau ingin menukar kemampuanmu itu dengan penglihatan normal?”
\=================
Dilarang promo di cerita ini!