Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Epilog Arc 02 “Regalia of Felixia : Antequam Aurora” (Part 01)



[Sebuah kisah dari ingatan yang direbut darinya, kepingan dari Dunia Sebelumnya. Kenangan yang telah ada sebelum Dunia tempat Odo hidup  tercipta]


“Umat manusia mampu mewujudkan apa yang mereka inginkan!”


Layaknya sosok paling berkuasa dan mulia di dunia, mereka dengan angkuh menyatakan hal tersebut. Mampu ⸻ Dengan kata lain, manusia memiliki kemauan yang kuat untuk mencapai sesuatu yang mereka damba-dambakan dalam hidup.


Meskipun sepanjang hidup tidak bisa menunaikan apa yang ingin dicapai, manusia bisa menurunkannya kepada generasi selanjutnya.


Mengambil contoh dalam sejarah, Socrates menurunkan pemikirannya kepada Plato, lalu seorang filsuf dan matematikawan Yunani itu pun menjadi panutan banyak peneliti di masa depan. Pemikiran nenek moyang diturunkan kepada cucu dan cicit mereka, mengalami perubahan dan terus berkembang di setiap zaman.


Layaknya sebuah api harapan, ilmu pengetahuan dan pemahaman dipercayakan kepada banyak orang untuk menyinari dunia. Selama umat manusia masih ada, itu akan terus berlangsung dan menuntun mereka menuju jalan yang benar.


Namun, ada kalanya siklus perkembangan ilmu pengetahuan tersebut terhambat dan pada akhirnya terhenti. Sebuah ketakutan akan pengetahuan, teror ketika mereka menemukan hal baru dan tidak bisa memahaminya membuat umat manusia terhenti.


Dalam psikologi, ada secara garis besar ada tiga hal normal yang membuat makhluk hidup merasa takut. Pertama adalah rasa takut untuk disakiti, hal ini wajar karena memang setiap makhluk hidup yang bisa merasakan sakit untuk menghindarinya. Yang Kedua adalah rasa takut terhadap kematian, akhir dari setiap makhluk hidup.


Entah itu orang puritan yang rela melepas segalanya ataupun orang yang sudah menyerah pada dunia sekalipun, ketakutan ketika ajal di depan mata tidak bisa dihindari karena itu merupakan salah satu bagian dari jiwa manusia itu sendiri. Sumber dari rasa takut kepada kematian adalah rasa sakit, ketakutan pertama manusia.


Lalu, yang penyebab ketakutan yang terakhir adalah rasa takut dari hal yang tidak mereka ketahui. Ini merupakan hal paling dasar dari semua jenis ketakutan yang ada, ketidaktahuan.


Jika dihadapkan dengan kematian, manusia bertanya-tanya setelah mereka mati apa yang akan terjadi. Mereka tidak akan tahu hal tersebut, karena itulah mereka takut. Untuk mengatasi rasa takut tersebut, sebuah kepercayaan muncul dan sebuah paham tentang adanya dunia setelah kematian ataupun reinkarnasi muncul.


Hampir pada saat yang bersamaan, pendekatan secara ilmiah untuk menguak Tuhan pun dimulai pada saat itu juga. Bukan untuk berselisih, melainkan demi menuntun umat manusia menuju ke tempat yang lebih baik.


Ada kalanya pemikiran manusia menjadi angkuh, lalu ada kalanya juga mereka lebih berpasrah diri kepada pencipta. Itu hanya tergantung bagaimana kondisi yang ada di lingkungan mereka mempengaruhi, seperti itulah manusia.


Awal Abad 17 Masehi, kepercayaan kepada Tuhan lebih dominan di daratan Eropa. Lebih dari seribu tahun sejak Penyelamat Manusia turun, banyak orang melupakan ajarannya. Pada masa tersebut, perlahan dan dengan pasti orang-orang puritan semakin mendominasi.


Lalu, pada akhirnya mereka mulai mempengaruhi pemerintahan dan memberikan harapan lain kepada Umat Manusia atas rasa takut mereka terhadap hal yang tidak diketahui. Seni dari masa lalu dibangkitkan, lalu kelak di masa depan zaman itu disebut Renaisans.


Keajaiban, Sihir, dan bahkan Mukjizat ⸻ Mereka yang malas dan menyerah untuk berpikir menggolongkan hal-hal yang belum bisa dipahami tersebut tanpa berusaha untuk menguak kebenarannya. Selama hampir tiga abad lebih, ketika Kepercayaan menguasai susunan pemerintahan, Ilmu Pengetahuan dan Seni mengalami kemunduran pesat. Terjadi antara Abad 14 sampai 17 Masehi.


Memang tidak banyak pengetahuan yang hilang pada masa tersebut. Namun dalam ilmu pengetahuan, tidak ada perkembangan sudah menjadi kemunduran besar bagi umat manusia.


“Manusia seharusnya memiliki pola pikir yang bebas! Ilmu pengetahuan tidak pernah bertentangan dengan Kepercayaan!” itulah pesan yang ingin disampaikan perjuangan Galileo Galilei, seorang mahasiswa kedokteran pada abad sekitar 15 masehi yang mendalami astronomi dan matematika.


Meski sejak dahulu kala banyak yang mengemukakan bahwa Matahari merupakan pusat dari tata surya, namun pada masa tersebut malah paham bumi adalah pusat jagat raya lebih dominan. Karena pengaruh dari gereja yang menekankan hal tersebut, masyarakat menganggap itu adalah benar dan paham yang lain sesat.


Galileo pun bernasib serupa dengan pemegang pemahaman lainnya. Lalu, pada akhirnya Galileo yang mendukung teori dari Nicolaus Copernicus dalam pemahaman itu berujung harus dibatasi dalam penelitiannya dan berakhir menjadi tahan rumah.


Meski dalam kekangan, pada awal abad 16 Galileo berhasil menyempurnakan teleskop dengan dua lensa milik Lippershey. Beberapa ratus di masa depan nanti, penemuan tersebut menjadi cikal bakal teropong modern yang bahkan bisa melihat jarak ratusan tahun cahaya dari bumi.


Itulah kekuatan manusia yang sesungguhnya, mereka bisa mewariskan usaha kepada generasi selanjutnya. Meski anak atau pun saudara tidak mau melakukan hal tersebut, orang lain yang bahkan dirinya tidak kenal akan melanjutkan kehendak dari sang pencetus.


Saling bersaing, berseteru atas hak paten, berlomba dalam waktu dan dana yang terbatas, bahkan sampai mempertaruhkan harga diri serta nyawa mereka dalam penelitian. Mereka yang ingin terbang layaknya burung dan ditertawakan karena usaha yang mereka lakukan, kelak di masa depan akan membuahkan hasil lebih nyata dan lebih bermanfaat daripada yang menertawakan mereka.


Sejak dulu sampai sekarang, orang yang bisa menggapai sesuatu adalah orang tua dengan pemikiran bijak mereka yang tidak membuang sifat kekanak-kanakan. Mereka terus bermimpi, obsesi terus ada dalam diri dan tidak lapuk dalam kata menyerah.


Kebanyakan anak kecil saat ditanya tentang cita-cita pasti akan menjawab dengan bangga dan memilih hal yang menurut mereka paling hebat. Pilot, dokter, presiden, penguasa, artis, seniman dan banyak hal lainnya. Namun ketika mereka dewasa, mimpi tersebut perlahan akan dilupakan dan mereka akan meyakinkan diri sendiri dengan sebuah kalimat ….


“Inilah aku. Lihat ke depan dan inilah memang dunia tempatku tinggal. Inilah kenyataan yang ada. Apa yang bisa aku lakukan sekarang?”


Lalu, mereka pun akan terbangun dari mimpi dan menjadi orang dewasa. Hidup di masyarakat, layaknya seekor burung yang sayapnya patah mereka berjalan di atas tanah dan mematuk cacing serta serangga.


Mayoritas manusia akan seperti itu, hanya beberapa saja yang bisa mempertahankan sifat kekanak-kanakan mereka dan terus bermimpi sampai mereka besar, bahkan sampai tua dan masuk ke liang lahat.


Mabuk akan sesuatu dan mencurahkan seluruh hidupnya demi hal tersebut. Bergantung pada satu tali, terus memanjat sampai tali tersebut putus dan dirinya jatuh dari tempat yang tinggi. Itulah orang-orang yang berdedikasi pada pengetahuan dan impiannya.


Abad ke 20 masehi, jauh dari cerita orang-orang menakjubkan dari masa lalu. Pada hari dimana ia memutuskan untuk mengacuhkan hal penting bagi dunia dan dirinya, Pemuda yang belum paham apa-apa itu perlahan membuka matanya.


Meski pun ia menganggap dirinya sendiri membosankan, sial dan tidak memiliki bakat, ia tidak menyadari fakta tersebut. Bahwa dirinya termasuk orang-orang yang mabuk ilmu pengetahuan dan masih memiliki sifat kekanak-kanakan. Egois, mementingkan diri sendiri dan hanya melihat apa yang diinginkan saja.


Malam dari ruang rawat inap sebuah rumah sakit, jendela yang menghadap ke arah rembulan terbuka lebar. Angin dingin masuk, menerpa tubuhnya yang tergeletak di atas lantai. Dengan jelas dan dengan sangat cepat Pemuda itu langsung memahami hal tersebut, bahwa inilah salah satu ingatan yang telah direbut darinya.


“Aku … Odo Luke? Bukan ….! Aku⸻ aeahfiu cei0j mpaej!”


Namanya sendiri tidak bisa diucapkan dengan jelas, seakan-akan itu ditolak oleh dunia. Segera bangun dan melihat sekeliling, perlahan-lahan ingatan mengalir ke dalam kepala dan memberitahu tentang kenyataan yang ada.


Waktu, tempat dan kondisi, ia sangat mengenal semua itu dan perlahan terhubung dengan ingatan yang telah ada. Melihat pakaian yang dikenakan penuh bercak darah dan lubang bekas benda tajam, Pemuda itu segera mengerti.


“Memang benar sepertinya, ayunan kapak waktu itu bukan untuk membunuh ku. Ini … awal keabadian yang diberikan kepadaku? Kapak pengambil dan pemberi informasi, sejak saat inilah jiwaku terkunci dan menjadi tidak terhancurkan ⸻?”


Sebelum selesai berpikir, tubuhnya bergerak sendiri seakan telah mengikuti naskah yang ada. Menuruti alur yang telah dirinya lakukan di masa lalu, sensasi tersebut mirip seperti menonton film dari sudut pandang orang pertama dengan visual reality. Namun, tentu saja itu lebih nyata dari sekadar gambaran visual.


Berdiri dan duduk di atas tempat tidur, ia termenung tanpa melakukan apa-apa selama beberapa jam. Apa yang bisa Pemuda itu lihat hanya kakinya sendiri dan lantai penuh darah yang mulai mengering, serta rasa bingung yang mulai mengisi benaknya atas hal yang telah terjadi.


Saat matahari mulai terbit dan sinarnya mulai masuk ke dalam kamar, Pemuda itu berhenti melamun. Pada saat itu ia menyadarinya, salah satu indra telah hilang. Hangat matahari tidak bisa dirasakannya, hanya menyentuh kulit tanpa memberikan apa-apa kepadanya.


Pintu diketuk dan seorang perawat masuk. Ia lekas berteriak dan membuat Pemuda itu menoleh ke arahnya. Perawat benar-benar terbelalak, menatap tidak percaya dan segera berlari memanggil dokter untuk melaporkan hal tidak wajar tersebut.


Pemuda yang seharusnya sekarat dan dinyatakan lumpuh sekarang terbangun kembali dalam kondisi normal secara medis. Meski ada beberapa kejanggalan seperti kamar penuh darah dan pakaiannya terdapat bekas tebasan senjata tajam, namun tidak diragukan lagi ia kembali sehat.


Peristiwa tersebut yang angkat ke dalam berita, dikatakan dalam media basa bahwa ada seorang Pemuda ajaib bisa kembali sehat setelah mengalami kecelakaan mengenaskan. Itu pun mengundang perhatian banyak orang, terutama mereka dari kalangan ahli medis yang mengajukan permintaan penelitian kepada sang Pemuda.


Meski telah dilakukan beberapa penelitian pada tubuhnya menggunakan teknologi mutakhir, namun tetap tidak ditemukan keanehan. Pada dokter dan peneliti hanya bisa menyebut kesembuhannya adalah keajaiban Pemuda itu bisa kembali normal saat itu. Bahkan para psikiater pun menyerah untuk mencari tahu melalui sudut pandang mereka.


Sekitar dua tahun berselang setelah insiden tersebut, Pemuda itu akhirnya bisa pulang dari pusat penelitian dan tinggal bersama keluarganya.


Dari yang terakhir kali dirinya ingat, banyak hal berubah pada keluarganya.


Adiknya yang dirinya kenal sudah menginjak bangku SMA dan tampak dewasa, tumbuh menjadi seorang gadis cantik dan ceria.


Ayahnya telah sukses dalam karier pekerjaan, mencapai posisi manajer inti dalam perusahaan besar tempatnya bekerja dan bahkan bisa membuat perusahaan miliknya sendiri.


Bahkan, ibunya yang dulu selalu sibuk bekerja sekarang selalu berada di rumah karena memilih pensiun dini setelah ekonomi keluarga membaik.


Meski itu seharusnya menjadi hal yang membahagiakan bagi sang Pemuda, ia tidak bisa tersenyum ataupun mengucapkan selamat. Semua apa yang didapat keluarganya benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang menimpa dirinya.


“Lihat saja! Daripada tinggal di rumah ini! Aku akan lebih sukses di luar sana! Aku tidak butuh kalian! Dasar sialan! Kerja saja terus sampai mati! Puji saja Adikku terus jika itu membuat kalian senang!!”


Umpatan isi hati tersebut menghantui isi pikirannya, membuat Pemuda itu kehilangan jati diri dan merasa malu pada dirinya sendiri. Bahkan saat duduk di meja makan bersama anggota keluarganya, ia sama sekali tidak bisa menatap mata mereka. Hanya menunduk, memakan nasi dan lauk tanpa berkata apa-apa.


Keluarganya pun tahu dan memaklumi, bahwa luka paling besar yang diderita putra mereka bukanlah secara fisik. Meski dalam benak mereka benar-benar bersyukur ia bisa selamat dan kembali, namun tetap saja rasa bersalah karena tidak bisa melakukan apa-apa membuat noda hitam dalam keluarga tersebut.


Selama satu tahun setelah ia kembali, sang Pemuda hanya berdiam di kamarnya dan mulai menutup diri menjadi layaknya orang introvert. Duduk di depan komputer, menggerakan tangan serta jemari dia atas keyboard dan mouse.


Ia terus membaca artikel-artikel melalui internet, bermain game layaknya orang kecanduan, dan terkadang membaca pelajaran-pelajaran yang dulu dirinya dapat selama masih kuliah. Ketika ia berusaha melakukan hal produktif seperti mencoba membuat karya tulis ilmiah ataupun artikel kecil pada blog, semua itu pada akhirnya hanya bertahan sesaat dan ditinggalkan ketika bosan.


Pada sebuah titik dalam kehidupannya yang menyedihkan itu, dirinya merasa lelah hidup dan berpikir untuk mengakhirinya. Benar-benar merasa tak berarti, waktu yang dirinya miliki seakan dikuras habis untuk hal yang tidak berguna dan tanpa tujuan yang jelas.


Satu hari setelah ia membulatkan diri untuk mengakhiri hidup, Pemuda itu memutuskan untuk keluar dari kamar dan ingin untuk terakhir kali melihat keluarganya. Pada sebuah makan malam ia duduk bersama mereka, mengangkat wajahnya dengan kaku dan mengucapkan kalimat dengan canggung.


“Te … rima … kasih ... banyak, Ibu. Makanannya … enak ….”


Perkataan tersebut untuk sesaat membuat suasana makan keluarga itu menjadi hening. Beberapa saat kemudian, dengan lembut ibunya pun berkata, “Kalau mau tambah, silakan ambil saja. Masih banyak kok, tak perlu malu-malu ….”


Ayahnya yang biasanya tampak sangar dan tegas pun tersenyum pada saat itu. Meski tidak mengatakan apa-apa, ia dengan jelas merasa senang karena putranya perlahan mulai bangkit lagi meski memerlukan waktu yang lama.


Adik perempuan yang duduk di sebelahnya langsung menepuk punggung Kakaknya. Lalu dengan senyum lebar, ia pun bergurau, “Aku kira Kakak jadi bisu karena kecelakaan itu! Hehe, akhirnya bicara juga …. Dasar, Kakak ini. Makan yang banyak cepat, supaya gak kurus kayak gitu!”


“Hmm ….”


Pemuda itu kembali melanjutkan menyantap makanannya, tidak tahu harus membalas apa kepada keluarganya yang masih tetap berharap. Dalam lubuk hatinya, rasa sakit mulai menyerang.


Sungguh, betapa sombongnya ….


Betapa bodohnya ….


Sangat menyedihkan.


Mengingat semua tindakan saat kecil dan remaja, ia tak bisa menahan tangis dan mulai tersedu-sedu. Air mata mengalir deras, penyesalan yang dirinya tahan benar-benar meleleh menjadi tangisan layaknya seorang anak kecil.


Pada detik itu, keputusannya untuk mengakhiri hidup pun ia urungkan. Pemuda itu merasa kematian hanya akan membawa rasa sedih bagi keluarganya, menambah rusak hubungan yang telah ada.


Yang pertama memeluknya itu adalah sang Ibu, lalu diikuti Adik dan Ayahnya. Itu memang benar-benar keluarga yang rukun dan saling mengisi satu sama lain, benar-benar berbeda dari ingatan yang Odo Luke ketahui tentang masa lalunya.


Namun, sebuah ingatan yang diambil pasti memiliki alasan dan maksud yang jelas. Dengan sangat pasti, ada sebuah hal yang disembunyikan.


Sekitar setengah tahun setelahnya, Adik Pemuda itu hampir menyelesaikan pendidikan SMA dan hendak melanjutkan ke perguruan tinggi. Sebuah hal yang sangat jarang terjadi pada saat itu. Adiknya tersebut mendatangi kamar Kakaknya di lantai atas, lalu berkonsultasi tentang perguruan yang menurutnya sesuai dengan jurusan yang ingin diambil.


“Kamu … ingin … masuk Geodesi? Bukannya dulu … katamu … ingin jadi dokter?”


“Hmm, apa aku pernah bilang begitu? Lupa, ehehe ….”


Ingin melakukan sesuatu untuk Adik layaknya seorang Kakak pada umumnya, setelah sekian lama Pemuda itu berpikir dengan keras untuk orang lain. Ia memutar kursi tempatnya duduk ke arah monitor komputer, lalu mulai melakukan research kilat terkait jurusan yang Adiknya inginkan.


Rekomendasi, pembahasan, jumlah paper ilmiah tiap tahun yang dibuat, jumlah pendaftar, jarak dari rumah, fasilitas, serta biaya pendidikan, semua itu ia olah datanya dan dibuat sebuah daftar singkat untuk Adiknya. Tak butuh waktu sampai setengah jam, Pemuda itu bisa mendapat rekomendasi terbaik terkait universitas yang cocok untuk Adiknya.


“Menurut ku, kalau mau yang paling bagus itu di ITB. Akreditasi di sana sudah A, tidak diragukan lagi pasti maksimal fasilitasnya lengkap. Tapi, yah … pasti saingannya banyak. Di UGM juga bisa, tapi katanya juga masuk ke sana cukup sulit. Yang cukup mudah aksesnya dari rumah kita hanya UNDIP yang memenuhi standar baik untukmu, di sana juga tidak kalah fasilitasnya. Karena negeri, tentu saja di sana banyak saingan.”


Saran-saran universitas tersebut terdengar tidak meyakinkan, membuat sang Adik malah tambah bimbang dan berkata, “Kalau kasih saran yang tegas dong! Jangan tapi-tapi terus! Kalau ini ya ini, Kakak laki-laki, ‘kan?”


“Kalau begitu …, aku sarankan yang dekat … saja.”


Sang Adik sempat tersentak, ia paham kalau Kakaknya tampak cemas. Meski ibu mereka selalu di rumah, ia sudah mulai sakit-sakitan sejak dua tahun yang lalu. Jika satu anggota pergi jauh, kemungkinan besar tidak ada yang merawatnya saat penyakitnya kambuh karena sang Ayah juga disibukkan dengan pekerjaannya. Sang Adik pun paham tidak bisa mempercayakan hal tersebut kepada Kakaknya.


“Hmp! Baiklah! Aku tidak akan jauh-jauh! Uh, dasar Kakak ini, tidak bisa diandalkan sih! Aku bisa cemas nantinya!”


Meski telah mengekang Adiknya, Pemuda itu merasa lega. Seraya memasang senyum tipis, ia pun berkata, “Syukurlah ….” Ia sendiri paham itu adalah hal yang kejam dan egois. Meski dulu dirinya pergi dari rumah tanpa memikirkan yang lain, namun sekarang ia malah menahan Adiknya sendiri untuk tidak pergi menuntut ilmu ke tempat yang lebih baik.


Sebenarnya, ada banyak rekomendasi universitas untuk Adiknya di luar negeri. Dengan fasilitas yang lebih memadai. Namun, ia tidak mengatakan hal tersebut karena tak ingin membuat Adiknya menyesal. Sebab, ada kalanya harapan tidak sesuai kenyataan dan rencana yang telah tersusun rapi.


Tindakan tersebut mungkin pilihan yang terbaik. Tidak ada yang menjamin pendidikan tinggi akan mendatangkan kebahagiaan, tidak ada yang memastikan bahwa berilmu bisa memberikan masa depan yang menjanjikan. Manusia boleh berusaha sepuas mereka, namun hasil sejak awal sudah ditentukan dan hanya tinggal cara mereka memilih.


Tahun pun berganti, Adiknya pun mengambil ujian untuk masuk ke universitas terdekat supaya bisa berangkat dari rumah dan diterima tanpa kendala yang berarti. Pada waktu-waktu tersebut pula, sang Pemuda memberanikan diri untuk kembali menatap masa depan.


Setelah sekian lama, ia melangkah keluar dari rumah dan secara bertahap berbaur dengan masyarakat. Ia mencoba bekerja di perusahaan milik ayahnya, belajar tentang bisnis lebih dalam lagi dan sedikit demi sedikit keluar dari cangkang. Meski hanya sebatas duduk di balik meja untuk mengurus dokumen serta laporan, ia dengan pasti kembali menjadi bagian dari masyarakat.


Tetapi saat dirinya merasa bisa kembali melangkah, yang menunggunya di ujung jalan nantinya adalah jurang. Pemuda itu benar-benar memilih melupakannya dan tidak berusaha untuk mengingat, alasan utama mengapa dirinya diberikan kesempatan kedua dan kembali hidup.


Ia benar-benar menyingkirkan jauh-jauh ingatan tentang perempuan rambut putih yang waktu itu ditemuinya pada sebuah halte, yang mengayunkan kapak ke arahnya dan membuat hidupnya sempat berantakan.


Kejanggalan itu dirinya rasakan belasan tahun kemudian, ketika masa berubah dan orang-orang di sekitarnya semakin menua. Sebuah hukuman atas kemalasan perlahan merangkak dari kakinya.


Seakan-akan itu hidup, ketakutannya pun perlahan bertanya, “Apa yang telah engkau capai selama ini?”


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.


Tapi!


Dilarang promo di cerita ini!


Oke?


Bukannya pelit, hanya saja secara pribadi aku tidak suka orang yang suka melanggar batas-batas kebebasan dalam hal berkarya.


Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.


Di Facebook sudah ada tempat khusus.


Jadilah orang yang mencerminkan literasi tinggi, bukan tambah kayak pedagang asongan yang asal masuk ke bus.