Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 50 : Mutual-Evîn 10 of 10 “To ....” (Part 05)



 


 


 


 


Kediaman Keluarga Luke terlihat ramai, para pelayan dan pekerja di Mansion tersebut sudah kembali masuk pada masa kerja mereka sekitar dua hari yang lalu. Tanpa mendapat perintah jelas dari Kepala Pelayan, para pelayan tersebut segera melaksanakan tugas rumah tangga menggantikan para Shieal yang selama musim dingin melakukannya. Mereka bangun sebelum matahari terbit, merapikan tempat tidur mereka di ruang khusus para pelayan dan segera melaksanakan kewajiban di Mansion tersebut.


 


 


Lizardman yang telah keluar dari masa hibernasi mereka dan datang ke Mansion segera membereskan benalu dari tanaman herbal dan bunga-bunga di taman. Sakat mereka bereskan dan tanaman-tanaman utama disiram pada pagi hari ketika matahari baru saja naik ke atas. Selain pekerjaan tersebut, para Lizardman juga melakukan pekerjaan kasar lainnya yang sangat memerlukan otot seperti mengangkat persediaan tepung, minyak, dan kentang ke gudang penyimpanan.


 


 


Udara masih sedikit berkabut, langit terlihat sedikit mendung dan suhu terasa rendah di pagi hari meski sinar cahaya terlihat terang mulai muncul di ufuk timur. Burung-burung berkicau, beberapa ada yang bertengger pada pagar besi dan mereka membuat melodi suara alam yang menenangkan di musim semi.


 


 


Pada kamarnya, Odo Luke merasakan kesunyian yang seakan membuat hati kosong. Ia tidak masuk dalam kategori orang-orang yang mulai sibuk di awal musim semi, sendirian di dalam kamar tanpa suara yang membuat suasana terasa tenang namun membawa rasa gelisah yang aneh. Membaringkan tubuhnya di atas tempat, pemuda itu merentangkan kedua tangannya dengan tatapan gelisah.


 


 


“Ya, laporkan saja apa yang diakukan Arca. Kau bisa melaporkan itu tanpa menggerakkan mulut dan langsung mengirim isi kepalamu ke sini, ‘kan? Kalau kau melakukan itu seharusnya adikmu aman, Arca tidak akan menolak perintahku. Kunci saja tanda keberadaanku supaya kau bisa melacakku dengan mudah kalau ingin berkomunikasi denganku.”


 


 


Koneksi kekuatan Radd Sendangi diputus Elulu dan suara berhenti bergema di dalam kepala Odo. Jenis kekuatan yang digunakan oleh mata-mata Arca tersebut secara rinci sebenarnya bukanlah mengirimkan suara, namun mengirimkan isi pikiran dari individu ke individu lain atau bahkan bisa digunakan dalam sekala ruangan tertutup.


 


 


Dengan kata lain, tanpa menggerakkan mulut sebenarnya lawan komunikasi juga bisa menangkap informasi jika informasi tersebut dipikirkan dengan jelas. Namun hal tersebut hanya berlaku untuk pengguna sebagai pusat, lawan komunikasi yang menerima informasi memang harus berbicara untuk memperkuat informasi yang akan dikirimkan. Secara sederhana, kekuatan Elulu lebih mirip dengan sebuah telepon yang bisa menghubungkan beberapa orang sekaligus dengan pengguna kekuatan sebagai administrator yang dapat mengawasi isi percakapan.


 


 


Odo sejenak memikirkan percakapan sebelumnya, menatap langit-langit dengan sorot mata datar dan penuh beban pikiran. Pemuda rambut hitam itu menutup sebelah matanya dengan lengan kanan, melihat langit-langit kamar dari atas tempat tidur.


 


 


Dengan nada kesal ia pun bergumam, “Untuk diteliti senjatanya, ya? Tak ingin ada dendam, ya? Menjamin keselamatan, ya? Haaaah .... Lama-lama aku ahli soal ini, berbohong dan terus berbohong. Apa karena aku tidak takut lagi dibohongi, jadi aku bisa dengan entengnya berbohong seperti ini?”


 


 


Sejenak Odo memejamkan mata, menghela napas panjang dan kembali membukanya. Duduk di atas tempat tidur, pemuda itu melihat isi kamar. Itu benar-benar berbeda jika dibandingkan dengan sebelum dirinya meninggalkan Mansion, kamarnya terlihat begitu sepi tanpa ada barang-barang pribadinya, kecuali pakaian pada lemari.


 


 


Kertas-kertas berisi lingkaran sihir dan hasil percobaan dibuang dari kamar. Labu ukur, tabung reaksi, gelas beaker, mortar dan alue, batang pengaduk, dan berbagai alat-alat untuk membuat ramuan serta sihir Alkimia juga disingkirkan dari ruangan. Turun dari tempat duduk dan berjalan ke meja di sudut kamar, Odo menarik laci dan di sana bahkan tidak ada kertas atau alat tulis.


 


 


“Haaah .... Aku memang membuat Ibu sampai marah seperti itu, sih ....”


 


 


Pemuda itu mengambil kursi dari depan meja dan duduk, menarik napas dalam-dalam dan kembali melakukan kalkulasi untuk situasi yang ada sekarang. Memang Odo bisa dikatakan menjadi tahanan rumah karena membangkang larangan Mavis, namun tetap saja ada banyak rencana yang harus tetap berjalan meski dirinya tidak menyentuhnya secara langsung.


 


 


“Menjadikan Arca rekan memang pilihan tepat, untung dia tipe orang seperti itu. Tapi sekarang ..., masalahnya memang soal itu. Kalau aku tidak bisa mendapatkan kepercayaan Ibu sepenuhnya, kemungkinan besar aku akan di sini sampai Ayah pulang dari Ibukota.”


 


 


Sekilas Odo menyipitkan mata, memikirkan berbagai cara untuk mendapat kepercayaan Ibunya. Mendapat hasil yang paling memungkinkan untuk hal tersebut, Odo sekilas memasang wajah tak suka karena cara tersebut pasti secara signifikan akan mengubah cara pandang Mavis terhadap dirinya.


 


 


“Proten .... Kalau aku bilang seperti itu di depan Ibu, kira-kira bagaimana reaksinya.”


 


 


Memejamkan mata sejenak, pemuda itu mengurungkan niat untuk melakukan hal itu. Ia berdiri dan sejenak meloncat-loncat kecil untuk peregangan, lalu berjalan ke arah jendela kamar dan membukanya bersama gorden. Melihat ke luar, halaman terlihat dan para Lizardman di sana sedang merawat taman yang terbengkalai selama musim dingin.


 


 


“Mereka makhluk berdarah dingin, ya. Jenis reptil, jadinya waktu musim dingin kemungkinan besar mereka hibernasi. Jelas saja waktu di kota meski ada Demi-human lain, para Lizardman tidak ada ....”


 


 


Sejenak Odo mengalihkan pikiran, menyegarkan isi kepala dan menghirup aroma harum serbuk sari yang tersebar di musim semi. Angin bertiup halus, menyentuh tubuh dan wajahnya seakan membawa kehangatan, lalu masuk ke dalam ruang kamarnya untuk mengganti udara dengan yang segar.


 


 


Sadar dirinya tidak punya waktu untuk menikmati momen seperti itu, Odo sedikit menyipitkan mata dan menatap datar ke halaman. Menghela napas sekali, pemuda rambut hitam itu membiarkan jendela terbuka dan segera melangkah ke arah pintu untuk keluar.


 


 


Membuka pintu kamar, Odo langsung bisa melihat Minda yang berjaga di depan. Daripada berjaga, perempuan rambut hitam itu lebih tepat disebut sedang mengawasi Tuan Mudanya. Pemuda yang mengenakan kemeja putih dan celana hitam itu menatap datar perempuan dengan seragam pelayan tersebut. Tidak ada rasa kesal atau semacamnya, hanya menatap datar seakan dirinya sudah tidak memiliki rasa percaya pada perempuan rambut hitam lurus tersebut.


 


 


Tanpa berkata apa-apa, Odo berbalik ke samping dan melangkahkan kaki di lorong. Minda mengikuti pemuda itu, tanpa mengeluarkan suara dari mulutnya dan hanya memasang ekspresi muram penuh rasa bersalah. Perempuan itu jelas-jelas merasa kalau melaporkan duel itu pada Mavis memang kesalahan besar karena membuat atmosfer Mansion seakan kembali seperti sebelum Odo Luke lahir di kediaman tersebut. Terasa tegang, sedikit terasa kesedihan dan terkesan abu-abu.


 


 


Pemuda rambut hitam itu melangkahkan kakinya menuju dapur di bagian belakang Mansion. Membuka pintu tanpa mengetuk, Odo langsung melihat datar ke dalam dan menemukan sesuatu yang membuatnya memasang ekspresi sedikit enggan. Di sana ada seekor Julia yang sedang mengendus-endus kemeja putih dari keranjang pakaian kotor. Ia begitu bergairah mengusap-usapkan kemeja ke wajah, mencium aroma seseorang yang kemarin menggunakan pakaian itu.


 


 


“A—!” Julia langsung menoleh dengan panik, perempuan yang mengenakan gaun pelayan pendek itu berusaha menjelaskan, “Tu-Tuan Odo? Tunggu .... Ini bukan seperti yang And lihat .... Tolong dengarkan saya  ....” Tubuh Julia gemetar, wajahnya menjadi semerah delima, dan ia pun segera berjalan ke arah Odo sembari membawa kemeja yang tadi diendus-endus.


 


 


Sekilas memalingkan mata dari tatapan berkaca-kaca gadis kucing tersebut, Odo mengacungkan jari telunjuk dan berkata, “Tenang saja, aku paham. Itu, ‘kan? Yang ada pada kucing di musim semi? Hasrat berkembang biak atau semacamnya.”


 


 


“Bukan!!” Julia tambah mewah wajahnya, ia mengangkat kemeja yang dibawa dan berkata, “Sudah kubilang bukan itu! Coba cium ini! Ada aroma om-om tercampur!”


 


 


“Ah ....” Odo menatap datar gadis kucing berambut putih keperakan di hadapannya, lalu dengan nada sedikit ragu ia berkata, “Tentu saja ada, itu sebenarnya bukan milikku.”


 


 


“Eh?” Julia terkejut sampai ekornya berdiri tegak.


 


 


“Waktu aku duel dengan Arca, kemejaku rusak parah. Kemeja itu milik Pak Iitla. Katanya tidak sopan telanjang dada saat menemui Bunda, karena itu dia meminjamkannya.”


 


 


Wajah Julia langsung memucat, sedikit membiru menahan rasa mual. Ia langsung melemparkan kemeja yang dibawa ke lantai, lalu berlari kencang ke kamar mandi pelayan yang ada di dapur dan —


 


 


“Uuuueeeeeeeeeeekkkkkk~!! Uuueeekkkk~! Uuueekkk!!”


 


 


Demi-human tipe kucing itu benar-benar muntah, suaranya sampai terdengar ke seisi dapur meski pintu kamar mandi tertutup. Alis Odo berkedut mendengar suara yang terdengar seperti kucing muntah itu, memalingkan pandangan dan sekilas melihat ke arah Minda untuk melihat ekspresinya. Seakan tidak terpengaruh, perempuan rambut hitam itu hanya memasang ekspresi datar.


 


 


Melihat ke arah kompor yang secara mekanisme api dihasilkan oleh kristal api yang dikombinasikan dengan mekanisme sihir udara, Odo sekilas teringat dengan dapur di penginapan Porzan. “Kalau diamati memang jenis kompornya berbeda,” gumam pemuda itu sembari berjalan ke arah kompor di sudut ruang dapur tersebut.


 


 


Kompor yang secara mekanisme seperti kompor gas itu menyatu dengan meja masak, memiliki empat tungku penyangga yang terbuat dari logam anti karat untuk tempat meletakkan peralatan masak. Di atas setiap tungku terdapat pipa besi berbentuk corong lebar, berfungsi mengarahkan asap yang dihasilkan saat memasak ke satu tempat dan membuangnya keluar melalu cerobong asap.


 


 


“Mbak Minda, yang mendisain ini Bunda, ‘kan?”


 


 


“Hmm, Nyonya yang membuat desainnya,” jawab Minda dengan sepontan.


 


 


Saat Odo menoleh ke arah perempuan yang berdiri di belakangnya tersebut, perempuan itu segera menutup mulutnya sendiri dengan tangan kanan dan memalingkan pandangan. Odo menghela napas saat mendapat reaksi seperti itu, berusaha tidak memedulikannya dan kembali mengamati kompor.


 


 


Menyentuh permukaan dingin alat itu, Odo dengan cepat paham bahan apa saja yang digunakan untuk membuatnya. “Logam campuran semua, ya. Bunda memang hebat kalau soal seperti ini. Jelas saja di gudang ada beragam jenis logam,” gumam pemuda itu.


 


 


“Se ... dang apa Anda, Tuan Odo?” tanya Julia sehabis keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat sedikit pucat, bukan hanya karena terlalu banyak mengeluarkan isi perutnya namun karena beberapa hal lain juga.


 


 


“Eng, tidak apa.”


 


 


“Hmmm?” Julia menatap heran, segera menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pusing dan berjalan ke arah Odo. Ikut melihat ke arah kompor yang biasa digunakan untuk memasak tersebut, Nekomata itu dengan nada ringan berkata, “Kalau mau buat roti pakai perapian, loh. Di panggang di sana.”


 


 


Julia menunjuk ke arah perapian yang biasa digunakan untuk memanggang adonan roti. Melihat perapian dengan api menyala kecil tersebut, Odo dengan heran bertanya, “Belum buat rotinya?”


 


 


“Sudah dari tadi .... Memangnya semua roti di atas meja itu apa?” ucap Julia seraya menunjuk ke arah meja persegi panjang di tengah dapur. Di atasnya memang berjejer rapi nampan besi dengan berbagai jenis roti yang baru saja diangkat, beberapa masih ada yang mengepulkan asap.


 


 


Odo sekilas tersenyum kecil karena dari awal sudah tahu roti-roti tersebut, lalu dengan nada ringan ia bergurau, “Aku tidak sadar, tadi ada penampakan menarik, sih.”


 


 


“Penampakan? Memangnya tadi ada penampakan apa, Tuan ... O .. do? Eh?! Maksudnya saya?!”


 


 


Julia baru menyadarinya, wajah perempuan itu lekas kembali merah dan ekornya berdiri tegak dengan semua bulunya mengembang. Ia menatap kesal, mengembungkan sebelah pipinya dan memalingkan pandangan.


 


 


“Mbak Julia memang asyik kalau dikerjain, ya.”


 


 


“Gak lucu!”


 


 


Odo berjalan ke arah meja dengan roti-roti di atasnya, mengamati dengan cermat dan menganalisis cara pembuatan serta bahannya. Merasa tidak mendapat informasi yang sesuai, pemuda itu mengambil salah satu roti dan mencuilnya untuk dimakan. Tidak menghabiskan itu dan meletakkannya kembali ke atas nampan, pemuda itu mengambil roti jenis lain dan melakukan hal yang sama.


 


 


Dua jenis, tiga jenis dan saat di jenis roti ke lima, pundak Odo dipegang erat dari belakang oleh Julia. Dengan tegas Nekomata itu menegur, “Sedang apa Anda! Itu tidak sopan! Kalau mau makan, habiskan semua! Jangan dicuil seperti itu, Tuan Odo!”


 


 


 


 


Julia dan Minda sekilas merasa ada yang salah dengan ekspresi seperti itu, sedikit cemas dengan kondisi mental Tuan Muda mereka. Odo kembali mengambil jenis roti lain, lalu kali ini memakannya sampai habis. Dari semua roti di atas nampan, Odo mencicipi 12 jenis roti yang merupakan keseluruhan jenis yang ada di atas meja.


 


 


Selesai memakan itu, pemuda itu sejenak terdiam dan kembali menatap ke arah barisan roti yang mulai dingin tersebut. “Apa Mbak Julia membuat semua ini sendirian?” tanya Odo.


 


 


“Saya hanya memanggangnya, adonan dan isiannya sudah dibuat para pelayan lain sebelum matahari terbit,” jawab Julia. Gadis kucing itu mendekat ke sebelah Odo, lalu dengan penasaran bertanya, “Tuan Odo, boleh saya tanya sesuatu?”


 


 


“Eng?”


 


 


“Kenapa ... Anda membuat Nyonya Mavis sampai marah seperti itu?”


 


 


Pertanyaan itu membuat Odo dan Minda terkejut. Sekilas melirik ke arah perempuan di sebelahnya, pemuda itu merasa memang seperti itulah sifat Julia. Mengambil salah satu roti dari atas nampan, dengan nada sedikit lemas Odo Luke menjawab, “Mbak Julia  .... Apa Mbak Julia tahu tentang Swampman?”


 


 


“Swamp ... man? Maaf, saya tidak pernah mendengarnya.”


 


 


“Kalau begitu mari kita sedikit melakukan eksperimen pikiran menggunakan dasar itu.” Odo membagi dua roti lonjong yang diambilnya, lalu meletakkan dua bagian itu berjejeran di atas nampan. Isi cokelat kental dari roti tersebut mulai mengalir keluar. Mengambil salah satunya, pemuda rambut hitam itu kembali berkata, “Misalnya Mbak Julia sedang pergi untuk memancing di dekat rawa saat hujan, lalu tersabar petir dan meninggal.”


 


 


“Eh?” Julia terkejut karena Odo tiba-tiba berkata seperti itu, lalu dengan kesal ia berkata, “Saya tidak akan mati hanya tersambar petir.”


 


 


“Ini misal.” Odo melirik datar, lalu memakan sepotong roti yang tadi dibagi menjadi dua dan menelannya dengan cepat. Mengambil potongan roti satunya, pemuda itu berkata, “Pada saat yang sama setelah Mbak Julia mati, pada rawa di dekat Mbak Julia, sambaran petir secara spontan menata ulang molekul yang ada dan secara kebetulan mengambil bentuk Mbak Julia yang telah mati. Inilah yang disebut Swampman. Tentu karena molekul ini tertata ulang persis seperti Mbak Julia, ia akan melakukan hal yang sama seperti Mbak Julia. Berjalan ke Mansion ini, melakukan pekerjaan rumah dan bahkan memanggang roti seperti ini.”


 


 


“Itu ... terdengar menyeramkan, ya ....” Ekor dan telinga Julia terlihat sedikit lemas, perempuan rambut putih keperakan itu menatap datar dan sedikit membayangkan apa yang diucapkan Odo tadi.


 


 


“Menyeramkan? Menurutku, ini malah menyedihkan. Baik untuk Mbak Julia atau si Swampman itu sendiri.”


 


 


“Eng?” Ekor Julia berdiri tegak bersama ekspresi kesalnya, lalu dengan cemberut ia berkata, “Saya disamakan tingkatnya dengan imitasi?”


 


 


Odo menatap datar perempuan di sebelahnya itu dan berkata, “Sebenarnya dalam kehidupan tidak ada yang lebih tinggi atau rendah, hanya masalah persepsi yang membedakan nilainya. Eksperimen pikiran Swampman ini salah satunya. Dalam contoh lain yang lebih sederhana, kita ambil roti-roti ini ....”


 


 


Odo memegang sepotong roti dengan tangan kanan, lalu melihat isian cokelatnya yang meleleh keluar. “Roti itu?” tanya Julia sembari menatap roti yang dipegang pemuda itu.


 


 


“Hmm ....” Odo memakan potongan roti tersebut, lalu menjilati cokelat sisa pada jari telunjuk dan tengahnya. Menatap perempuan di sebelahnya, pemuda itu bertanya, “Dari semua roti di sini, jenis apa yang paling Mbak Julia suka?”


 


 


“Eng ....” Julia melihat tangannya ke depan perut, memiringkan kepala dan ekornya bergerak kenan dan kiri. Menemukan pilihannya, ekor Julia berdiri tegak dan ia berkata, “Roti kering isi keju itu!”


 


 


Odo melihat ke arah nampan berisi barisan roti isi keju yang ditunjuk Julia, lalu kembali mengajukan pertanyaan, “Dari semua roti isi keju di atas nampan itu, Mbak Julia ingin ambil yang mana?”


 


 


“Eh?” Julia mengambil salah satu roti, lalu sembari menunjukkannya ke arah Odo ia berkat, “Kurasa ini ....”


 


 


“Kalau begitu ....” Odo mengambil itu dari Julia, lalu kembali meletakkan roti tersebut di atas nampan bersama roti sejenis. Menatap Nekomata tersebut, Odo bertanya, “Kalau aku meletakkan roti kembali ke nampan seperti ini dan Mbak Julia keluar dari ruangan, lalu setelah lima menit kembali lagi, apa Mbak Julia bisa membedakannya dengan yang lain?”


 


 


“Tentu saja bisa! Saya melihatnya! Meski keluar, posisinya sudah tahu,” jawab Julia.


 


 


“Kalau saat keluar, tanpa sepengetahuan Mbak Julia ternyata aku mengganti rotinya?”


 


 


“Hmmm ....” Julia sedikit memikirkan teka-teki seperti itu meski dirinya tidak tahu untuk apa hal tersebut. “Aroma— Benar juga, kejunya terlalu tajam,” ucapnya bingung.


 


 


“Tidak bisa membedakan?”


 


 


“Hmm, kalau saya memberi tanda pasti bisa membedakan.”


 


 


“Bukan itu masalahnya.” Odo sedikit tersenyum tipis, menghela napas dan menjelaskan eksperimen pikiran tersebut, “Ini soal barang identik yang dianggap sama. Kalau saja Mbak Julia pergi ke toko pengrajin kaca, lalu melihat barisan rapi gelas hias dan ingin membeli salah satunya. Namun, Mbak Julia tidak membawa uang yang cukup. Saat hari berikutnya, Mbak Julia datang lagi ke toko itu dengan uang yang cukup dan melihat barang yang sama yang Mbak Julia cari. Tentu Mbak Julia langsung membelinya. Namun, sebenarnya itu hanyalah jenis barang yang sangat identik dan tanpa sadar Mbak Julia membeli gelas hias yang berbeda. Karena sangat mirip dan tidak begitu paham perbedaannya dengan yang lain, tentu saja Mbak Julia tidak mempermasalahkan itu, bukan? Seperti halnya roti keju itu, asal enak tentu tidak masalah .... Mbak Julia tetap akan memakannya.”


 


 


“Eng, memang .... Tapi, ujung-ujungnya maksud pembicaraan ini apa? Swampman, bukan? Memangnya apa yang penting dari itu?”


 


 


Odo menghela napas karena merasa penjelasannya tersebut tidak ditangkap dengan baik oleh Nekomata berambut putih keperakan itu. Sekilas memalingkan pandangan, pemuda itu dengan sedikit enggan menjelaskan, “Swampman adalah konsep pengenalan untuk membedakan objek identik. Seidentik apapun sebuah objek atau individu, pasti kalau mengenalkan dengan jelas perbedaan akan terlihat .... Tiap objek memiliki definisi mereka tersendiri yang membuat perbedaan jelas, yang membuat sama adalah soal bagaimana orang lain menangkap definisi itu.”


 


 


“Apa ... yang sebenarnya ingin Tuan Odo katakan?” Julia memiringkan kepalanya, ekor gadis kucing itu membentuk tanda tanya dan ia pun bertanya, “Kenapa berbelit seperti ini? Eng, kalau tidak salah pembicaraan awal tadi soal kenapa Tuan membuat marah Nyonya, bukan?”


 


 


Odo menatap datar, lalu dengan jelas bertanya, “Mbak Julia .... Kalau sebenarnya Mavis Luke yang sekarang hanyalah seorang Swampman, apa yang akan Mbak Julia lakukan?”


 


 


“Eh?” Julia terkejut, dengan sedikit gagap ia berkata, “Ma-Mana mungkin, bukannya itu hanya perumpamaan?”


 


 


Odo tersenyum tipis, mengacungkan jarinya ke depan mulut dan berkata, “Kalau aku yang berdiri di depan Mbak Julia ini sebenarnya Swampman dan Odo Luke yang asli dari awal sudah tidak ada, apa yang akan Mbak Julia lakukan? Apa Mbak Julia tidak akan mempermasalahkannya? Atau mulai sekarang akan mengubah sikap Mbak Julia padaku?”


 


 


“Ja-Jangan bicara seperi itu!” Julia mulai tak bisa menganggap itu sebagai pembicaraan kecil, dengan cemas ia menegur, “Lama-lama menyeramkan, tahu! Sudah! Sudah!”


 


 


“Ahaha, maaf, maaf, Aku cuma bercanda, Mbak Julia memang asyik kalau dijahili.”


 


 


“Uuuuhh~!”


 


 


Dalam pembicaraan itu, Minda yang hanya mendengarkan mereka tidak bisa menangkap hal tersebut hanya sebatas gurauan belaka. Baik soal Mavis atau Odo adalah Swampman, hal tersebut membuat perempuan rambut hitam itu terdiam melamun memikirkannya.


 


 


Sekilas Odo melirik, memberikan tatapan datar saat melihat ekspresi perempuan rambut hitam itu dan melempar senyum kecil. Minda yang menyadari itu tersentak, benar-benar gemetar dan tidak mengerti apa tujuan dari Tuan Mudanya tersebut. Dengan suara ragu, ia pun memberanikan diri dan bertanya, “Kalau Tuan Muda, apa yang akan Anda lakukan kalau Nyonya sebenarnya adalah Swampman?”


 


 


“Ehm?” Odo berbalik dan melihat ke arah Minda, lalu tanpa ragu menjawaba, “Tentu saja aku akan mencintainya layaknya dirinya yang asli .... Mbak Minda tahu, Swampman adalah pengganti dari keegoisan yang asli. Kalau ditolak, bukannya itu terlalu menyedihkan?”


 


 


Minda terkejut, ia sama sekali tidak memikirkan hal tersebut dan tertegun sesaat. Kembali menatap Odo, dengan rasa penasaran ia bertanya, “Kalau Tuan Muda adalah Swampman dan tidak diterima oleh semua orang yang dikenal oleh Odo Luke, apa yang Anda lakukan?”


 


 


Sesaat Odo terdiam mendapat pertanyaan seperti itu, ia lebih dalam lagi paham pola pikir Minda sekarang dan cara pandangnya. Sembari tersenyum tipis, pemuda rambut hitam itu menjawab, “Kalau memang mereka ingin aku pergi, aku dengan lapang dada akan pergi. Kalau mereka ingin aku menderita, aku dengan senang hati menerima penderitaan itu.”


 


 


“Namun ....” Sebelum menyelesaikan perkataan, Odo memasang tatapan tajam dan dengan nada serius ia berkata, “Aku tidak akan menerima kematian. Sebagai Swampman aku akan terus hidup, karena hidupku ini dari awal sudah bukan milikku seorang.”


 


 


Minda dan Julia terkejut mendengar jawaban seperti itu. Tidak memedulikan ekspresi mereka, pemuda rambut hitam tersebut melangkahkan kaki dan berjalan menuju ke arah pintu untuk keluar dari dapur. Sembari melampaikan tangan tanpa menoleh, Odo berkata, “Yah, itu tidak mungkin terjadi, sih.”


 


 


“Kenapa?” tanya Minda.


 


 


Menoleh dengan senyuman tipis, pemuda itu dengan percaya diri menjawab, “Karena aku adalah Odo Luke yang asli.”


 


 


\=====================


 


 


Catatan :


Beberapa CH ke depan akan masa transisi sebelum masuk ke pokok masalah akhir dari Arc 02


 


 


Tambahan :


 


 


(1) Swampman adalah subjek dari eksperimen pemikiran filosofis yang diperkenalkan oleh Donald Davidson dalam makalahnya tahun 1987 "Knowing One's Own Mind".