Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Epilog Arc 02 “Regalia of Felixia : Antequam Aurora” (Part 03)



“Paman?”


Ditatap oleh keponakannya sendiri, Pemuda itu hanya terdiam. Ia sama sekali tidak merasakan sebuah hubungan darah ataupun keluarga. Begitu asing, merasa tak peduli dan hanya memasang ekspresi datar kepada anak kecil tersebut.


Sang Pemuda itu sendiri paham, dari awal memang sudah ada yang salah dalam dirinya. Sejak saat itu, ada sesuatu yang hilang dari hatinya. Bukan hanya karena kecelakaan yang dialaminya dulu atau kejadian aneh waktu itu, tetapi banyak hal yang telah dirinya alami selama ini perlahan membuat cara pikirnya semakin rusak.


Menatap lurus ke arah Adiknya di sisi lain meja, Pemuda itu sekilas mengamati. Gaun bermerek yang dikenakan, tas mahal dari kulit hewan reptil dan jam tangan mewah. Namun dari semua perhiasan dan barang mewah yang dibawanya, Adiknya tersebut tidak memakai cicin pernikahan.


“Apa … itu benar? Suamimu … meninggal?” tanya Pemuda itu.


“Hmm ….” Sang Adik hanya mengangguk kecil, lalu dengan murung menjelaskan, “Itu sudah setengah tahun lalu. Milo … meninggal di perbatasan …. Menurut rekan-rekannya, waktu itu ada lima misil kendali yang menyerang markas pusat di perbatasan. Itu berhasil dilumpuhkan dengan pertahanan udara, namun naas salah satu misil malah jatuh ke gardu belakang tempatnya berjaga. Laporan yang aku terima juga tertulis kejadian itu mengerut enam korban, termasuk dia.”


Pemuda itu sama sekali tidak terlihat peduli ataupun empati meski telah mendengar kronologi kematian suami Adiknya. Menarik napas ringan, sang Pemuda masih memikirkan diri sendiri dan hanya berkata, “Begitu ya, tak disangka malah berakhir seperti itu.”


Sang Adik terkejut mendengar reaksi Kakaknya tersebut. Ia sempat memasang mimik wajah marah, lalu kembali redup dengan cepat karena dirinya paham sebagai seorang ibu tidak boleh mencontohkan hal buruk kepada putrinya. Apalagi seperti marah-marah kepada Kakaknya sendiri.


Menatap dengan menahan rasa kesal dan berusaha untuk berkompromi, sang Adik memasang senyum kaku dan menyindir, “Hanya itu reaksi Kakak? Padahal Adikmu baru saja menjadi Janda dan kebingungan …. Apa tidak ada kalimat lain yang ingin Kakak ucapkan?  Hati Kakak sudah mati rasa juga, ya? Atau memang dari awal Kakak tidak peduli pada suamiku?”


Pemuda itu sama sekali tidak mengubah mimik wajah, perkataan itu seakan tidak menyentuh hatinya dan hanya masuk ke dalam telinga. Setelah menghela napas, ia mulai menundukkan wajah dan menjawab, “Maaf, aku juga tidak tahu harus berkata apa. Rasanya … ini terasa tidak nyata. Jujur saja, asalkan kau baik-baik saja itu sudah cukup. Ini sudah cukup bagiku.”


Perkataan Kakaknya tersebut membuat sang Adik tersentak dan mulai merasakan hal aneh dalam benak, itu memberitahukannya bahwa Kakaknya tersebut sama sekali tidak berubah. Baik secara penampilan ataupun sikap. Ia selalu apatis terhadap orang lain kecuali keluarganya sendiri.


Dikuasai amarah dalam benak yang untuk sesaat naik, sang Adik pun tanpa menahan diri berkata, “Kakak memang tak pernah berubah, ya? Entah itu penampilan menjijikkan yang tak sesuai umur itu ataupun sikap mengerikan Kakak. Apa Kakak benar-benar manusia?”


Makian tersebut tetap tidak mencapai hati sang Pemuda. Jika perkataan itu bisa membuat hatinya tergerak atau bahkan tersakiti, ia mungkin akan memasang senyum tipis dan merasa lega karena bisa merasakan sensasi hidup. Namun itu sama sekali tidak, hanya hampa yang terasa dalam hatinya.


Pada saat itu, sang Pemuda pun menyadarinya. Bahwa dirinya tidak lagi menganggap wanita di hadapannya itu sebagai keluarga. Adik kecil yang selalu ia banggakan dan bisa dirinya andalkan telah hilang dari dirinya.


Kehilangan rasa tertarik dalam pembicaraan dan berhenti berharap, Pemuda itu menatap lurus dengan wajah murung dan berkata, “Entahlah, aku juga mulai meragukannya. Seperti yang kau lihat, aku sama sekali tidak menua. Kalau saja diriku tidak memegang perusahaan itu, sekarang ini aku mungkin sudah ditangkap dan benar-benar dibedah untuk penelitian.”


“Kakak ….”


Untuk pertama kalinya sang Adik merasa takut kepada Kakaknya. Perlahan dan dengan pasti, niat untuk meminta bantuan kepadanya mulai hilang. Namun saat anaknya menarik pakaiannya dan kembali bertanya, “Kenapa Mama marah sama Paman?” Itu membuatnya tertegun dan kembali pada tujuan awal saat dirinya mengajak Kakaknya bertemu.


“Tak apa, Mama hanya sedang berbincang kecil. Kami bertengkar karena sangat akrab loh, jadi jangan kemas. Ayo, makan saja es krim kamu … nanti keburu meleleh.”


“Itu gelato loh,” sambung sang Pemuda.


“Eh? Aku tahu itu! Lagi pula apa bedanya, sama-sama dari susu, ‘kan!? Ah⸻!”


Melihat ibunya kembali membentak, mata sang anak berkaca-kaca dan menangis.


“Ma-Mama marah …! Uwah~! Ja-Jangan marah …. Lia anak baik, ‘kan? Mama jangan marah sama Lia ….”


Pembicaraan pun terhenti untuk sesaat, menunggu wanita itu menenangkan putrinya sampai tertidur karena lelah menangis. Setelah hampir setengah jam berlalu, ia kembali menatap ke arah sang Pemuda dan berniat untuk langsung membicarakan hal penting. Saling menatap, yang pertama membuka mulut dan berkata adalah sang Adik.


“Aku ingin meminta bantuan. Apa boleh⸻?”


“Tentu saja boleh.”


“Kak, aku belum selesai bicara! Dengarkan aku sampai selesai, jangan asal terima seperti itu dong! Karena sifatmu itu aku jadi gak suka dan pergi dari rumah!”


“Kurang lebih aku paham apa yang ingin kau katakan.” Pemuda itu memalingkan pandangan keluar jendela, memasang mimik wajah sedikit kesal dan kembali berkata, “Setelah suamimu meninggal, kau yang tinggal bersama Ibu dan Ayah mertuamu mulai tidak betah, ‘kan? Dianggap sebagai orang asing dan pengganggu. Akhirnya, malah pergi dari rumah mendiang suamimu itu dan memilih hidup mandiri bersama putri mu. Namun, kau tidak menyangka membesarkan seorang anak sendirian akan sangat berat, apalagi dalam kondisi masyarakat saat ini.”


Ucapan Pemuda itu sangat tepat, seakan-akan telah membaca pikiran lawan bicaranya. Dengan wajah sedikit pucat dan keringat dingin mulai bercucuran, sang Adik bertanya, “Kenapa … Kakak bisa tahu?”


Kembali menatap Adiknya, Pemuda itu kembali menghela napas dan dengan santai menjawab, “Sebelum ke sini, aku sempat memikirkan banyak kemungkinan. Setelah melihat putri dan raut wajah kau tadi, diriku mempersempitnya dan itu kesimpulan yang bisa aku ambil. Kau juga punya banyak beban pikiran, ya.”


“Cara bicara Kakak seperti A.I yang Kakak ciptakan, mirip mesin. Jangan-jangan yang bicara di denganku sekarang adalah robot yang mirip Kakak.”


“Kasarnya, aku asli Kakak biologis mu. Yah, tak aneh juga kau berpikir seperti itu. Basis mereka adalah diriku sih, salinan dari jaringan neutron dan berbagai hal lainnya.”


Untuk sesaat pembicaraannya terhenti, sang Adik merasa kembali ragu untuk meminta bantuan meski dirinya yang telah meminta Kakaknya datang. Dalam lubuk hatinya, ia merasa takut untuk tinggal bersama Kakaknya tersebut.


Bukan hanya karena kepribadian atau perusahaan yang dipegang oleh Kakaknya tersebut, namun juga alasan mengapa dirinya memilih untuk meninggalkan rumah pada beberapa tahun lalu.


“Kak, soal itu ….”


“Apa kau takut tinggal dengan seorang pembunuh seperti ku?” ujar sang Pemuda tanpa rasa ragu.


Ia benar-benar tidak memedulikan pelanggan lain ataupun salah satu versi Sistem Keamanan Publik yang ada di kafe. Semua sistem itu yang menciptakan adalah dirinya, tak mungkin para A.I menyerang atau meringkus penciptanya. Karena itulah dengan tanpa ragu ia mengatakan kata tabu seperti “Pembunuh” di tengah publik.


“Eng, tentu aku saja takut …. Meski saat itu persidangan mengatakan Kakak berada dalam pengaruh orang lain, serta bahkan ada kemungkinan pihak ketiga yang melakukannya dan Kakak dijebak …. Tetap saja, aku tahu kebenarannya. Sampai sekarang aku pun sedikit merasa berdosa karena tidak melaporkan itu kepada pihak berwajib. Waktu itu … aku tidak mau membuat Ayah dan Ibu semakin cemas.”


Pembunuhan yang mereka bicarakan adalah sebuah Kasus Pembantaian Seluruh Anggota Kelas pada sebuah universitas ternama, terjadi beberapa tahun lalu tepat sebelum Perang Dunia Ketiga mencapai klimaks. Waktu itu untuk beberapa alasan, demi memenuhi standar supaya bisa mewarisi perusahaan ayahnya sang Pemuda dituntut melanjutkan pendidikannya. Meski harus memasuki kelas yang berisi orang-orang yang lebih muda beberapa tahun darinya, ia menjalani itu tanpa protes dan cukup antusias di awal.


Namun pada semester akhir sebelum wisuda, insiden itu pun terjadi. Dengan sebuah pistol rakitan, sang Pemuda menembak seluruh orang di dalam kelas termasuk Dosen. Awalnya, dalam tuntutan jasa penutut umum itu dikatakan sebagai kejahatan pembunuhan murni dan penyalahgunaan senjata api. Namun entah siapa yang mengatakannya, sebuah spekulasi lain muncul. Dikatakan bahwa sang Pemuda yang melakukan tindak kejahatan sedang dipengaruhi orang lain dan bukan atas kehendaknya sendiri.


Sidik jari pada senjata rakitan pun ditemukan bahwa itu pernah dipegang oleh orang selain dirinya, membuat argumen semakin menguat. Meninjau kepribadian sang Pemuda selama belajar terbilang disiplin dan rajin meski memiliki latar belakang naas karena sempat mengalami kecelakaan parah, argumen kembali menguat. Pada akhirnya, diputuskan bahwa kejahatan tersebut dilakukan oleh orang lain dan bukan murni ulah dirinya.


Selama hampir satu bulan setelah insiden dilakukan penyelidikan, diketahui bahwa bercak darah dari olah TKP pun menunjukkan bawah sang Pemuda juga diserang dengan senjata api. Namun, ia hanya mendapat luka ringan di kepala.


Dalam hitungan bulan saja, Pemuda itu pun lolos tanpa catatan hukum yang berarti dalam kehidupannya di masyarakat meski telah membunuh seluruh anggota kelas tersebut. Konflik eksternal yang dialami negara saat itu pun membuat kasus tersebut serta dokumen penyelidikannya menjadi buyar sehingga sulit untuk diselidiki ulang. Kasus pun benar-benar ditutup sekitar empat tahun lalu, tepat setelah pengaruh mulai Oarlam Orgin mencapai puncaknya.


Meski secara hukum Kakaknya dinyatakan tidak bersalah, sang Adik tahu bahwa yang telah melakukan kejahatan tersebut adalah Kakaknya. Dua hal yang meyakinkan hal tersebut adalah pistol rakitan yang pernah dirinya lihat di rumah dan kondisi fisik Kakaknya tersebut yang bisa dikatakan tidak normal.


Melihat mimik wajah cemas Adiknya, sang Pemuda sedikit memalingkan pandangan dan berkata, “Aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Sungguh, waktu itu aku hanya ingin memastikannya.”


Mendengar hal ambigu tersebut, sang Adik mengerutkan kening dan bertanya, “Memangnya apa yang ingin Kakak pastikan?”


“Apakah aku bisa mati atau tidak …. Aku tidak ingin mati kesepian, karena itu aku melakukan hal itu. Aku benar-benar ingin mati waktu itu.”


“Lalu, apa Kakak ….”


“Seperti yang kau lihat, aku tidak mati. Meski menembak kepalaku sendiri, aku masih hidup. Jujur waktu itu aku sangat berharap mati saja, membereskan kekacauan setelahnya sangat menyusahkan. Kenapa bisa … aku masih hidup sampai sekarang?”


“Entahlah, jangan tanya aku ….”


Sang Adik menunjukkan ekspresi mengasihani Kakaknya, merasa nasibnya tersebut tak jauh menyedihkannya dengan dirinya sekarang. Banyak hal berjalan tidak sesuai rencana dan angan-angan, seakan-akan Tuhan menertawakan usaha mereka kakak beradik tersebut.


Menatap lurus ke arah Pemuda di hadapannya, sang Adik kembali bertanya, “Kak, apa yang ingin Kakak lakukan … setelah ini?”


“Apa yang kau maksud?”


“Kalau Kakak tak bisa mati dan tak menua seperti itu, kemungkinan besar Kakak akan terus hidup sampai ratusan tahun. Apa Kakak sudah coba untuk mencari tahu penyebabnya, kenapa tubuh Kakak sampai seperti itu? Kakak tidak pernah makan buah Khuldi atau semacamnya, ‘kan?”


“Sayang sekali aku bukan Adam dan tidak pernah makan yang begituan. Lagi pula, Khuldi itu membuat manusia hidup dan menjadi tidak kekal loh.”


“Terus kenapa bisa Kakak seperti itu? Pernah coba untuk menelitinya dengan teknologi medis yang ada? Kakak punya kenalan orang-orang ahli medis ternama di dunia, ‘kan?”


Pemuda itu menarik napas dalam-dalam, menundukkan wajah dan menjawab, “Aku sudah melakukannya. Dengan teknologi paling mutakhir milik rekanku, itu pun percuma. Kesimpulan yang didapat hanya kondisi seperti manusia normal pada umumnya. Layaknya waktu diputar yang diputar ulang, setelah mati aku kembali normal. Benar-benar konyol.”


Sang Adik tertegun mendengar itu, merasa Kakaknya tersebut menghadapi masalah yang lebih rumit jika dibandingkan dirinya. Ingin mengubah suasana yang terasa tidak menyenangkan yang perlahan menguat, wanita itu mengganti topik pembicaraan dengan sebuah pertanyaan.


“A-Apa Kakak mendengar beritanya? Katanya sejak sebulan yang lalu ada yang merantas jaringan internet dunia dan menyiarkan sesuatu loh. Mereka mengaku bahwa diri mereka adalah para Tuhan yang telah mengawasi perkembangan dunia ini sejak zaman prasejarah dan membimbing umat manusia. Me-Menurut Kakak, itu bagaimana?”


Anehnya, malah topik berat itu yang dirinya pilih. Mungkin karena efek berita yang dirinya dengar sebelum menemui Kakaknya atau memang dipengaruhi hal lain, namun dengan jelas ia menanyakan hal yang tidak dirinya ingin tanyakan sekarang.


“Paling Cuma anak-anak hacker yang ingin tenar dan unjuk gigi. Kondisi dunia belum pulih sepenuhnya, makanya mereka bisa dengan mudah membajak jaringan. Buktinya toh mereka tidak bisa membajak jaringan yang aku buat. Yah, mereka memang menyerang jaringan ku tapi gagal sih.”


Apa yang Pemuda itu ucapkan hanyalah kebohongan besar. Sebenarnya, rasa cemas dengan pasti hinggap di hatinya. Topik yang iseng diangkat Adiknya untuk mengganti suasana adalah hal yang sang Pemuda pikirkan dalam-dalam selama beberapa minggu terakhir.


Hal yang tidak dipahami, sesuatu yang belum bisa dijelaskan dengan tingkat ilmu pengetahuan umat manusia saat ini memang benar-benar ada. Bukti nyata dari hal tersebut adalah tubuh Pemuda itu sendiri.


Sekelompok individu yang mendeklarasikan bahwa diri mereka adalah Tuhan yang bertugas untuk membimbing umat manusia mungkin adalah kebenaran. Merantas jaringan internet global, secara rutin menyiarkannya tanpa bisa diketahui sumbernya sinyal berasal dari mana. Itu sudah membuktikan bahwa mereka mampu mengguncang dunia.


Namun apa yang Pemuda itu cemaskan bukanlah hal tersebut, melainkan tujuan mereka saat setelahnya. Arti di balik deklarasi mereka.


Sang Pemuda bukan berarti tidak mempercayai hal tersebut, berita yang sering didengarnya belakangan ini pun selalu berkaitan dengan pernyataan para individu misterius itu.


Rasa takut terhadap hal yang tidak diketahui merupakan rasa takut terbesar umat manusia. Hal tersebut masih melekat kuat dalam dirinya, lalu perlahan mendorong Pemuda itu untuk melakukan sesuatu.


“Kalau mereka benar-benar Tuhan, apa yang akan Kakak lakukan?” tanya sang Adik.


“Eng, bagaimana ya?” Pemuda itu memalingkan pandangan, lalu dengan nada setengah hati berkata, “Aku akan memohon mereka untuk memutar balik waktu dan mengembalikan tubuhku ke kondisi normal. Manusia seharusnya tetap menjadi manusia, tak perlu memegang kekuatan atau kekuasaan yang lebih besar dari diri mereka. Kita harus paham kodrat kita sebagai manusia, hanya sebuah komponen kecil dari dunia yang luas ini.”


“Eng, aku tak paham apa yang Kakak maksud. Seperti biasanya Kakak suka bicara aneh seperti itu.”


“Apa iya? Yah, ini hanya cara pandang ku. Kau tak perlu memikirkannya.” Pemuda itu mengambil kopi yang sudah mulai dingin, lalu meminumnya sedikit. Seraya kembali meletakkannya ke meja ia pun bertanya, “Jadi mau bagaimana? Kau sudah yakin ingin tinggal bersamaku atau tidak?”


Pembicaraan kembali ke topik utama, membahas soal permintaan sang Adik. Pada akhirnya, ia dan putrinya memilih untuk kembali tinggal bersama sang Kakak. Meski masih banyak keraguan, wanita tersebut berpikir itu adalah pilihan yang terbaik untuk putrinya.


.


.


.


.


Langkah menuju stasiun kereta bawah tanah terasa hening di antara mereka. Sang Adik hanya berjalan menggendong putrinya di depan, sedangkan Kakaknya hanya terdiam tanpa memulai pembicaraan. Keputusan telah diambil dan tidak ada yang perlu diperbincangkan kembali, karena itulah mereka saling diam.


Namun dalam langkah kaki tersebut, sebuah mimpi buruk yang telah lama dilupakan kembali naik ke permukaan. Saat sang Pemuda dan Adiknya turun ke stasiun bawah tanah, dalam kerumunan sang Pemuda kembali melihat perempuan yang pernah dirinya temui waktu itu.


Perempuan yang mengajaknya bicara sebelum kecelakaan, yang juga mengayunkan kapak ke arahnya saat di rumah sakit. Satu individu yang memegang kebenaran tentang tubuhnya, sosok itu dengan jelas berdiri di antara kerumunan orang di bawah paparan lampu stasiun bawah tanah.


Langkah Pemuda itu terhenti, menatap dengan kedua mata terbuka dan napasnya mulai terengah-engah dalam rasa takut. Perempuan rambut putih itu balik menatap ke arahnya dengan mata merah menyala, perlahan menggerakan mulut dan seakan mengatakan.


“Apa yang telah kau capai selama ini?”


Itu persis seperti rasa takut sang Pemuda, layaknya sebuah waktu dan kesempatan yang menuntut pertanggungjawaban atas apa yang dirinya telah lakukan di masa lampau.


Adiknya yang cemas memanggil, “Kak?”


Itu membuat sang Pemuda tersentak dan menoleh. Saat ia kembali melihat ke arah kerumunan orang-orang, di sana sudah tidak ada lagi perempuan itu.


“Tadi … sepertinya aku melihat kuntilanak,” ungkap sang Pemuda.


“Kuntilanak? Di zaman seperti ini Kakak masih percaya takhayul seperti itu? Dasar aneh.”


“Haha, benar juga. Mana mungkin ada yang begituan ya.”


Meski rasa cemas masih menyelimuti sang Pemuda, mereka pada akhirnya tetap naik kereta untuk kembali ke Kota Uji Coba seperti yang telah disepakati. Namun sebelum sampai di pemberhentian yang dituju, tiba-tiba terjadi kendala pada alat transportasi dan mereka harus berhenti pada stasiun yang berjarak empat pemberhentian dari tempat tujuan.


Pemuda dan Adiknya terpaksa keluar, naik ke permukaan untuk mencari alat transportasi alternatif. Tempat mereka berada sekarang adalah perbatasan antara kota, di mana jangkauan Sistem Keamanan Publik rendah dan rute transportasi cukup jarang.


“Huh, tak disangka-sangka kita malah harus berjalan sampai dua kilometer untuk sampai ke halte. Kenapa juga ada acara kerusakan jalur segala sih,” keluh sang Adik.


Merasakan hal yang berbeda, Pemuda itu malah tampak takut dengan apa yang akan menimpa mereka. Pertanda telah muncul seperti waktu itu, seakan memberitahukannya bahwa hal sangat buruk akan segera terjadi.


Berjalan pada trotoar yang dikelilingi bangunan-bangunan tak terlalu tinggi, sang Pemuda tampak selalu waspada dan terus melihat ke sekeliling. Matanya berenang ke sana kemari, seperti orang paranoid yang hatinya benar-benar dikuasai rasa gelisah.


“Kenapa Kakak begitu terus dari tadi sih? Haha, jangan-jangan Kakak masih takut keluar rumah sama seperti dulu?” gurau sang Adik.


“Eh? Ah …, mungkin iya⸻!!!”


Dengan sangat tiba-tiba, bulu kuduk sang Pemuda berdiri dan rasa takut langsung menguasai tubuhnya dalam hitungan detik. Meski belum melihatnya secara langsung, instingnya telah mengetahui keberadaan perempuan itu dan memberi peringatan kepadanya.


Perlahan menoleh ke depan, di sana dengan jelas berdiri seorang perempuan rambut putih, dengan gaun putih, dan memiliki kulit pucat. Ia berjalan mendekat dan senyum melebar pada wajahnya.


Perempuan itu bukanlah ilusi atau keberadaan yang hanya bisa dilihat oleh sang Pemuda. Sang Adik dengan jelas melihatnya, merasakan ketakutan yang sama dan mulai gemetar. Meski perempuan rambut putih itu terlihat seperti seorang manusia, unsur tidak diketahui dengan jelas dirasakan mereka darinya.


“Selamat sore, wahai Pemuda yang menjadi cadangan kami.”


Mendengar suaranya dan memastikan teror yang terpancar darinya, Pemuda itu langsung menunjuk dan dengan lantang membentak, “Jangan mendekat!”


Awalnya ia melakukan itu untuk menarik perhatian banyak orang dan memanfaatkan kesempatan yang ada untuk kabur bersama Adiknya. Namun ketika dirinya sadar di sekitar tempat itu sudah tidak ada orang lain kecuali mereka, itu sudah terlambat. Benar-benar sunyi, terasa sangat tidak wajar seakan-akan situasi tersebut memang sengaja dibuat oleh perempuan rambut putih itu.


Bau amis darah yang bercampur busuk begitu menyengat hidung, suasana sepi bahkan sampai ke dalam-dalam bangunan di sepanjang jalan. Semua itu membuat isi pikiran sang Pemuda dipenuhi spekulasi buruk tentang nasib orang-orang yang seharusnya tinggal di perbatasan antar kota.


Salam sekali tidak memedulikan peringatan sang Pemuda, perempuan itu merentangkan kedua tangan ke depan dan berkata, “Diriku hanya datang untuk mengabari engkau. Tatap diriku ini dan lihat baik-baik, tak perlu cemas seperti itu! Oh, wahai jiwa yang ter⸻”


“Abaikan limit, serial kode 826! Koordinat arah sembilan, head shot!”


Sistem Keamanan Publik langsung mematuhi perintah sang Pemuda. Senjata api ringan yang tersembunyi dalam kamera pengawas di sekitar tempatnya langsung membidik kepala perempuan itu, lalu menembak dengan sangat akurat. Timah panas benar-benar masuk ke kepalanya dan darah terciprat ke trotoar, membuat perempuan itu tumbang dengan cepat.


“A-Apa yang Kakak lakukan! Kenapa kau menembak nya!!” bentak sang Adik sampai membuat putrinya yang digendong terbangun dan menangis keras.


“A-Aku tidak bermaksud, tadi sudah aku peringatkan tapi dia⸻!”


“Tenang saja, hanya satu tembakan di kepala tidak akan membunuh diriku.”


Perempuan rambut putih itu kembali bangkit. Timah yang bersarang pada kepala perlahan keluar didorong daging, lalu luka pada kepalanya pun dalam hitungan detik kembali tertutup seakan-akan tembakan sebelumnya tidak pernah ada. Hanya bekas darah pada trotoar dan butiran timah sajalah yang menjadi bukti ia pernah tertembak.


“Ke-Kenapa kau masih hidup? Apa-apaan kau ini …?” Pemuda itu melangkah mundur bersama Adiknya, menatap penuh rasa takut dan tidak bisa berpikir jernih.


“Tentu saja masih hidup. Jika diriku bisa memberi keabadian kepadamu, tentu saja diriku juga memilikinya ….” Perempuan itu menyeringai, lalu sembari mengangkat telunjuknya berkata, “Ah, jangan cemas. Diriku datang tidak untuk mengambil itu. Keabadian itu sudah menjadi milik engkau, terserah mau bagaimana engkau mengembangkan atau menggunakannya untuk apa bukan menjadi urusan diriku lagi.”


Senyuman manis yang perempuan itu perlihatkan terlihat mengerikan di mata kakak beradik tersebut. Itu bukan sekadar seperti melihat hantu atau sejenisnya, lebih mengerikan meski seharusnya wujudnya terlihat layaknya seorang perempuan berparas cantik.


“Siapa kau ...? Kenapa kau⸻ AKh?!”


Galah hitam yang datang entah dari mana langsung menunjam leher sang Pemuda, hampir membuat kepalanya putus dan tubuhnya pun terpelanting ke belakang. Darah berceceran ke mana-mana, sebagian terciprat ke wajah adiknya dan anak yang ia gendong.


“Ka-Kakak!”


Sang Adik tidak bisa bergerak dari tempat, kakinya terlalu lemas dan perlahan terduduk ketakutan. Putrinya yang dalam dekapan terus menangis, memeluk Ibunya yang juga tidak berdaya.


“Berisik sekali anak itu, diamlah!”


Hanya dengan menjentikkan jari, perempuan itu membuat tubuh anak kecil itu meledak dalam dekapan ibunya. Hancur terpencar dan berceceran di trotoar. Layaknya sebuah semangka yang jatuh dari tempat tinggi, warna merah pun berserakan dengan kacau.


Ibu kehilangan putrinya tersebut langsung gemetar dalam kegilaan, matanya seketika dipenuhi kegelapan. Air matanya mulai mengalir bercampur darah, lalu dengan sekuat tenaga menjerit.


“Akkhhhhh!!! Tidak!! Tidak!! Putri ku!! Liaaaa!!!! Lia!! Lia! Lia!! Tidak!! Tidak mungkin! Kenapa …!! Kenapa kau melakukan itu!!! Putri ku …!! Putri ku! Tidak! Tidak! Tidak! Ini tidak mungkin! Tidak mungkin! Kenapa ini terjadi!! Putri ku! Putri ku ...!!”


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.


Tapi!


Dilarang promo di cerita ini!


Oke?


Bukannya pelit, hanya saja secara pribadi aku tidak suka orang yang suka melanggar batas-batas kebebasan dalam hal berkarya.


Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.


Di Facebook sudah ada tempat khusus.


Jadilah orang yang mencerminkan literasi tinggi, bukan tambah kayak pedagang asongan yang asal masuk ke bus.