Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 52 : Toward (Part 03)



 


 


“Tentu saja ....” Pemuda itu menghentikan tangan, menatap tajam dan dengan penuh ketetapan hati berkata, “Tidak ada alasanku untuk menyerah. Aku sudah memberitahukan alasannya pada bunda, sekarang hanya melaksanakannya. Bunda tahu, meski Bunda melarang aku tetap akan melakukan itu.”


 


 


“Bunda paham alasannya ....” Mavis sekilas mengingat pembicaraan sebelumnya di perpustakaan, mengerti alasan Odo sangat keras kepala ingin melakukan sesuatu untuk menolong orang-orang dan membuat hidup mereka lebih baik. Itu memang berupa bentuk penebusan pemuda itu karena datang ke dunia, namun rasa tidak rela memang masih tertinggal dalam benak Mavis dan ia pun berkata, “Bunda juga mengerti apa yang engkau rasa, putraku. Tapi, tetap saja ....”


 


 


Odo sudah tidak berharap ibunya itu benar-benar mendukungnya, sifat Mavis memang selalu seperti itu. Wanita rambut pirang tersebut lebih ingin mempertahankan kondisi pasif tanpa perubahan, sebuah kebahagiaan kecil dalam keluarga yang sangat berharga baginya. Itu berbeda dengan apa yang Odo rasakan sekarang, pemuda itu ingin membagi kebahagiaan itu untuk orang lain dan berharap akan mendapat balasannya di masa depan.


 


 


“Kalau bunda tetap tidak setuju, pura-pura saja tidak melihat apa-apa dan tidak mendengar perkataanku. Bunda bebas melarang, tapi aku tidak akan mematuhi itu.”


 


 


Mavis menatap cemberut, wanita pakaian hijau toska itu dengan kesal bertanya, “Apa kau sedang masa memberontak?”


 


 


“Eng?” Odo menatap heran mendengar itu.


 


 


“Bunda sering baca soal itu, ada waktu ketika anak cenderung membantah orang tua mereka. Itu terjadi saat puber ..., terutama saat mereka sudah mengenal lawan jenis.”


 


 


“Eh? Kok, rasanya pernah bahas seperti ini sebelumnya?” benak Odo dengan heran.


 


 


“Apa ada seseorang yang kau suka di kota itu? Fiola dan Julia juga pernah bilang ada orang yang menarik perhatianmu.”


 


 


Odo terdiam, sekilas mengerti kenapa Mavis tiba-tiba membahas hal seperti itu. Bagi seorang Ibu yang sudah melihat anaknya tubuh besar, tentu saja rasa seperti itu akan tubuh dan membuatnya berkata hal tersebut. Menghela napas dan memalingkan wajah, dengan resah pemuda itu berkata, “Kenapa malah balas itu? Asal Bunda tahu, aku belum bisa memberi Bunda cucu, loh.”


 


 


“Cu-Cucu?!” Mavis sampai berdiri dari tempat duduk, menatap cemas dan berjalan memutari meja ke arah putranya tersebut. Dengan wajah cemas penuh rasa kesal ia membentak, “Kau berpikir sampai seperti itu?!” Mavis memegang kedua pipi Odo, menghadapkan paksa wajah pemuda itu dan menatap tajam seakan ingin melahapnya.


 


 


“Enggak! Enggak!! Kenapa ditanggapi serius begitu! Lagi pula, bukannya aku akan menjadi tunangan Tuan Putri itu?! Kenapa malah Bunda bicara soal itu? Kalau aku benar-benar suka dan malah memilihnya ketimbang Tuan Putri, bagaimana?”


 


 


“Memilihnya?” Mavis menatap tajam.


 


 


“A—!”


 


 


“Neh, putraku. Siapa? Siapa yang engkau maksud?” Mavis menatap gelap dari dekat, benar-benar mengintimidasi putranya tersebut.


 


 


“Eh? Kok responsnya malah lebih menakutkan daripada waktu di perpustakaan?” benak Odo dengan keringat dingin.


 


 


Sekilas Odo memalingkan mata, memikirkan banyak hal dan ia menjawab, “Kalau aku sudah punya orang yang kusukai, apa yang akan Bunda lakukan?”


 


 


Mavis sedikit terkejut mendengar itu, mengangkat tangan dari wajah Odo dan hanya berdiri di sebelah pemuda itu duduk. Dengan ekspresi pasrah ia berkata, “Bunda ... akan membiarkannya.”


 


 


Jawaban itu terasa aneh. Meski ia berkata seperti itu, namun ekspresi dan aura Mavis sama sekali tidak terlihat rela. Itu benar-benar membuat Odo bingung dan kembali memikirkan perasaan ibunya itu.


 


 


“Bunda rasa ....” Mavis meletakkan tangan kanannya ke atas kepala Odo, sembari mengusapnya ia berkata, “Kebahagiaanmu memang prioritas .... Putraku, engkau telah memberitahukan rahasia yang sulit engkau ungkapkan itu. Tentu saja Bunda ingin menghargainya dan memenuhi keinginanmu. Kalau kau mau, Bunda bisa membujuk Ayahmu untuk membatalkan rencana pertunangan itu.”


 


 


Odo tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu. Menarik napas dalam-dalam dan meletakkan pekerjaan ke atas meja, pemuda itu mengubah posisi duduk dan menghadap ibunya tersebut. Dengan tatapan serius ia berkata, “Kurasa itu tak perlu. Bunda tahu, aku bukanlah orang yang paham hal seperti itu. Aku bisa dibilang kurang peka, hal seperti itu masih sangat asing bagiku. Aku tidak tahu mana yang disebut cinta, atau mana yang hanya disebut nafsu. Lagi pula ....”


 


 


“Lagi pula?”


 


 


“Aku masih ingin menenggelamkan diri dalam pengetahuan. Aku ingin meneliti, aku ingin merakit, aku ingin mempelajari sihir lebih dalam.”


 


 


“Itu?” Mavis melihat ke arah bola-bola kaca yang ada di atas meja, sedikit merasa heran dan bertanya, “Mau sampai berapa banyak kau buat? Apa kau suka membuat alat sihir seperti itu, putraku?”


 


 


“Ya, aku cukup suka. Paling tidak aku ingin membuat lima buah lagi. Ada variasi atribut air, api, petir, dan juga pancaran energi kehidupan untuk mempercepat pertumbuhan tanaman.”


 


 


“Memangnya untuk apa?” Mavis kembali menatap putranya, lalu dengan sedikit resah ia menarik kursi dari kolom meja dan duduk di dekat pemuda itu. “Dan juga, dari mana kau bisa membuat bola-bola kaca sebanyak itu? Memangnya Mansion ini ada alat untuk membuatnya?”


 


 


“Bukan aku yang membuatnya.” Odo mengambil salah satu bola kaca dengan kecenderungan warna buru, lalu mengamati permukaan alat sihir itu dan menjawab, “Semua ini dikerjakan oleh orang di distrik pengrajin kota itu, di bengkelnya Paman Osel .... Kov Osel yang mengerjakannya.”


 


 


“Kov Osel?” Mavis sedikit memalingkan pandangan, lalu mengingat-ingat sesuatu tentang bengkel tersebut, “Rasanya ... Bunda pernah mendengar nama itu.”


 


 


“Itu, loh.” Odo mengacungkan jari telunjuknya ke depan dan berkata, “Pandai besi yang telah dipercaya untuk perawatan senjata di gudang tiap tahunnya.”


 


 


“Ah, Dwarf itu? Bunda ingat, pedang-pedang sekali pakai yang sering digunakan ayahmu juga ditempa olehnya kalau tidak salah.”


 


 


Perkataan itu sekilas membuat Odo menurunkan kedua tangan ke pangkuan, memasang ekspresi datar dan menghela napas. Keluarga Luke memang dikenal sebagai Pedang Kerajaan dengan keahlian pedang tingkat tinggi, namun hal tersebut bertolak belakang dengan sifat dasarnya yang sama sekali tidak menghargai sebuah pedang. Dalam aliran keluarga Luke, pedang hanya berperan sebagai alat yang bisa diganti dengan mudah dan bisa dikatakan pengguna serta pedangnya tidak terikat sama sekali.


 


 


“Jangan bilang seperti itu ke orangnya, Bunda. Harga diri seorang pandai besi bisa terluka kalau mendengar itu,” ucap Odo dengan nada datar.


 


 


Ekspresi putranya sekilas membuat Mavis heran, lalu ia pun bertanya, “Apa kau juga bisa belajar menempa?”


 


 


“Tidak ....” Menggelengkan kepala, pemuda itu menatap datar dan menjawab, “Aku tidak pandai soal itu.”


 


 


“Apa kau pernah mencobanya?”


 


 


“Belum.”


 


 


“Hmm?” Mavis heran, sedikit mencondongkan posisi duduknya ke depan dan bertanya, “Lalu kenapa kau tahu tidak pandai soal itu?”


 


 


 


 


“Mata dan tangan?”


 


 


“Ya ....” Odo menarik napas dalam-dalam, terlihat sangat enggan untuk menjelakannya. Sadar kalau ibunya menunggu penjelasan, pemuda rambut hitam itu pada akhirnya membuka mulut dan berkata, “Mataku tidak terlalu tahan dengan cahaya terang, lalu bentuk tanganku juga bisa berubah kalau terus digunakan untuk menempa. Bunda pasti pernah mendengarnya dari Ayah, seorang yang menyukai pedang tapi sudah pensiun kebanyakan akan menjadi penempa. Mereka berhenti bukan karena ingin, namun tangan mereka memang sudah tidak bisa lagi dengan baik mengayunkan pedang. Kalau aku menempa di usiaku seperti ini, persepsiku akan mengarah ke situ.”


 


 


“Hmm ....” Mavis sedikit terlihat heran dan tidak paham dengan logika semacam itu, lalu dengan ragu ia bertanya, “Jadi kau ingin menjadi ahli pedang dan meneruskan aliran pedang keluarga Luke ini, ya? Bukannya kau suka sihir, putraku?”


 


 


“Tentu saja, aku pewaris satu-satunya.” Odo tersenyum tipis, sedikit memasang wajah penuh percaya diri dan balik bertanya, “Kalau bukan aku, memangnya siapa?”


 


 


“Putraku, apa kau tidak masalah meninggalkan sihir?”


 


 


Odo sejenak terdiam, sekali lagi memasang wajah enggan untuk menjawab. Sadar kalau ibunya sedang dalam suasana hati yang kurang baik, pemuda itu berusaha untuk tidak mengelak dan menjawab, “Sebenarnya aku tidak suka menggunakan kalimat ini, tapi kurasa situasi ini tepat untuk menggunakannya. Seseorang pernah berkata, ‘kalau bisa, kenapa tidak keduanya?’ Mendalami sihir dan teknik pedang, kalau aku bisa kenapa tidak keduanya?”


 


 


Mavis paham pemikiran seperti itu dan percaya kalau Odo bisa melakukan keduanya. Putranya tersebut dengan jelas bisa mengusai Teknik Langkah Dewa yang merupakan salah satu teknik langkah andalan Dart Luke. Memikirkan beberapa hal lain dan mempertimbangkan hal itu, Mavis pun bertanya, “Bukannya itu menguras tenagamu? Mempelajari dua hal sekaligus seperti itu ....”


 


 


“Tidak juga. Buktinya sejauh ini aku bisa mempelajari beberapa jenis sihir. Kalau ada waktu dan Ayah mau mengajariku, kurasa itu tidak mustahil.”


 


 


“Lalu saat kau pergi ke Akademi, kau ingin masuk ke jurusan apa, putraku? Jalur militer dengan tahapan Ksatria? Atau Penyihir?”


 


 


“Eh? Akademi?” Odo sama sekali tidak memikirkan hal tersebut, tertegun dengan kedua mata terbuka dan bingung harus berkata apa.


 


 


Mavis menghela napas ringan melihat ekspresi putranya, merasa memang kalau pemuda itu terlalu terlena dengan kepuasannya dengan pengetahuan. Menyandarkan tubuh ke kursi, wanita itu dengan nada lelah berkata, “Kau harus sekolah, tentu saja anak bangsawan butuh itu, bukan? Bunda paham kalau dirimu itu sangat cerdas dan bahkan Bunda rasa tidak perlu sekolah juga tidak masalah, namun di sana juga banyak hal yang tidak bisa dipelajari sendiri. Kau bisa mencari teman, meneliti dan belajar banyak hal baru.”


 


 


Odo sejenak terdiam, memikirkan soal itu dan memasukkannya ke dalam susunan rencana untuk dipertimbangkan. Dengan sedikit cemas pemuda itu bertanya, “Kapan ... aku akan dikirim ke Akademi? Dan juga, Akademi yang mana memangnya?”


 


 


“Tentu saja Miquator .... Kira-kira, kisaran usia 14 tahun kau akan Bunda titipkan ke sana.”


 


 


Ekspresi Odo terlihat hampa saat mendengar itu, ia terlihat tidak tertarik dan memalingkan pandangan dengan muram.“14 tahun, ya .... Apa ... aku masih ada sampai saat itu?” benak Odo,


 


 


Fiola yang berdiri di seberang meja tahu isi kepala pemuda itu, kedua matanya terbuka dan benar-benar terkejut. Ia ingin bertanya langsung apa maksud pikiran Odo. Namun mempertimbangkan perasaan Mavis, Huli Jing tersebut menutup mulut rapat-rapat.


 


 


Odo duduk tegak, lalu dengan antusias bertanya, “Bunda, boleh aku minta sesuatu?”


 


 


“Eng ....” Mavis menegakkan posisi duduk, menatap datar dan berkata, “Kira-kira bunda bisa menebaknya ....”


 


 


“Aku ingin kembali ke kota Mylta lagi! Aku ingin segera menyelesaikannya!”


 


 


“Haaah ....” Mavis menggelengkan kepala dengan rasa lelah, lalu dengan suara pelan berkata, “Sudah Bunda duga.”


 


 


“Kumohon! Biarkan aku pergi!”


 


 


Pemuda itu menatap dengan penuh semangat, seakan telah menemukan sesuatu yang menarik di dalam kepalanya. Melihat ekspresi itu sekilas Mavis tersenyum, menarik napas ringan dan dengan sedikit resah berkata, “Terserahlah. Bunda menyerah ....”


 


 


“Sungguh?! Boleh?!”


 


 


“Ya .... Tapi!” Mavis mengacungkan jari telunjuk ke depan, lalu berkata, “Putraku, kau harus memenuhi satu syarat.”


 


 


“Syarat?”


 


 


“Bunda harus ikut denganmu.”


 


 


“Eh?” Odo menganga bingung mendengar itu.


 


 


Tersenyum ringan, wanita dengan paras mudah itu berkata, “Tenang saja, hanya Bunda yang ikut.”


 


 


“Nyonya?!” Fiola yang mendengar itu segera berlari ke arah mereka, lalu menolak keputusan itu, “Kenapa Anda malah ikutan? Bukannya Tuan Odo dilarang, tapi kenapa mala—”


 


 


“Diamlah ....” Mavis menatap datar Huli Jing tersebut, lalu dengan nada sedikit gelap berkata, “Diriku sudah beberapa kali mempercayakan Odo pada kalian para Shieal, tapi apa hasilnya? Odo malah melakukan banyak hal berbahaya. Lalu apa salahnya kalau diriku mengawasi putraku ini sendiri?”


 


 


Perkataan itu terdengar masuk akal tetapi tidak bisa diterima, baik oleh Odo maupun Fiola. Imania dan Julia yang mendengar itu pun memasang ekspresi datar mendengar perkataan seperti anak kecil tersebut. Segera menatap ke arah Odo, wanita rambut pirang itu bertanya, “Tidak masalah, ‘kan?”


 


 


“Tapi ....”


 


 


“Kalau begitu, kau tidak boleh pergi? Akan Bunda pasang sihir pengekang di Mansion ini supaya kau tidak bisa keluar.”


 


 


“Ba-Baiklah ....”


 


 


“Hmm, bagus~” Mavis mengacungkan jempol dan dengan tersenyum dengan cerita, dengan ekspresi dan sifat yang sama sekali tidak cocok untuk seorang ibu.