
Catatan: Cerita ini benar-benar tidak cocok untuk anak di bawah 18 tahun. Cerita ini tidak bermaksud menggunjing atau merendahkan kelompok, ras, agama, atau pihak manapun. Penulis tidak memiliki maksud buruk dalam pembuatannya.
Itu adalah desa kecil yang cukup makmur, berada di dekat hutan yang berbatasan langsung dengan daerah perbukitan dan tidak terlalu jauh dari Kota Mylta. Desa tersebut memiliki beberapa hektar lahan gandum, sayur, sampai kebun anggur yang bisa dipanen setiap akhir musim panas. Pada desa tersebut juga terdapat peternakan sapi dan domba, dengan komoditas diutamakan pada susu perah dan bulu domba yang dicukur setiap tahunnya.
Meski hanya memiliki kurang dari dua puluh kepala keluarga yang hampir sepertigaannya adalah Demi-human, setiap warga di desa tersebut punya peran penting masing-masing dan semuanya memiliki kewajiban yang merata. Entah itu di lahan, peternakan atau mengandalkan keahlian, setiap warga dengan rukun saling menyokong satu sama lain dalam menjalani hidup.
Kepala desa di tempat tersebut adalah pak tua yang bijak dan juga merupakan sosok tetua di tempat tersebut. Meski sering dibebani pajak berupa ¼ hasil lahan setiap musim panen, desa tersebut bisa dikatakan kondisinya biasa-biasa saja dan warganya sejahtera jika dibandingkan wilayah lain. Ya, desa tersebut sangatlah biasa tanpa kelebihan layaknya desa-desa kecil lainnya di wilayah kekuasaan Marquess Luke.
Awal musim gugur itu adalah waktu yang cocok untuk memanen hasil tanam seperi gandum dan anggur. Pada musim tersebut gandum sudah menguning, anggur juga telah mendapat musim kemarau yang sesuai untuk menyesuaikan kematangannya. Pada pagi hari yang sedikit berkabut, para petani terlihat memanen hasil tanam di ladang dan kebun. Sedangkan para peternak pergi ke kandang sedari pagi-pagi buta, untuk memerah sapi dan melakukan pencukuran tahunan para domba.
“Kenapa Tuan Tanah menarik pajak sangat besar kali ini, ya?”
“Katanya Lord Dart ingin melakukan ekspedisi ke Dunia Astral. Menurut anak saya yang bekerja sebagai pelayan di Mansion, sepertinya Lord ingin mencari bahan obat untuk istrinya.”
“Untuk Master Mavis?”
“Ya ....”
“Kita memang seharusnya senang karena Master mungkin bisa pulih dengan itu, tapi kalau kita mendapat beban seperti ini ....”
“Hmm, memang. Penjagaan desa juga belakangan berkurang, para prajurit sebagian besar ditarik untuk ekspedisi.”
Di sela pekerjaan mereka, para petani mengobrol dan mengeluh tentang kebijakan yang dilakukan Tuan Tanah, Dart Luke. Penarikan pajak yang lebih besar dari biasanya pada beberapa minggu lalu membuat perekonomian desa terganggu, lebih tepatnya hampir seluruh wilayah Luke juga mengalami hal serupa. Ekspedisi Dunia Astral itu benar-benar membuat kondisi wilayah yang dipimpin oleh Marquess Luke mengalami kondisi tidak seimbang, menjadi rapuh dan mudah diruntuhkan secara militer dan ekonomi.
Memang sebagian besar orang-orang di bawah kekuasaan wilayah tersebut sering terdengar mengeluh seperti itu sejak kebijakan yang diberlakukan, tetapi tak bisa melakukan banyak hal tentang hal tersebut. Tak ada yang bisa mengubahnya, kebijakan penguasa adalah mutlak dan secara tidak sadar mereka sangat patuh dengan hal tersebut.
Pada pinggiran parit dari sistem irigasi ladang sayur di seberang ladang gandum, duduk seorang anak gadis berumur enam tahun. Warna rambutnya sangat berbeda dengan anak lain di desa, putih terang bagai benang perak dan kulitnya sedikit pucat. Sorot mata violet dari anak gadis itu sangat polos, terkesima melihat Ayahnya yang sedang memanen kentang dengan warga desa lain.
“Nanra, tolong ambilkan keranjang itu!” pinta ayahnya di antara warga yang sedang memanen.
Gadis kecil itu bangun dengan tergesa-gesa. Seakan memang sudah menunggu permintaan ayahnya itu, ia membersihkan gaun dan segera mengambil keranjang anyaman di dekatnya. Menuruni tanah miring dari tanggul sungai di belakangnya, anak gadis itu meloncati parit sempit kering dan berjalan tertatih di atas tanah yang tidak rata karena tidak memakai sandal.
“Ini, Papah ~!” ucapnya dengan riang seraya memberikan keranjang yang dibawa dengan kedua tangannya.
“Hmm, terima kasih .... Nanra, lain kali kalau mau ikut Papah, lebih baik pakai alas kaki, ya. Nanti kalau ada ranting tajam atau duri, kamu bisa luka.”
“Lupa!” jawab gadis itu dengan lugu.
Salah satu petani mendekati pria rambut cokelat itu, lalu menyikut ringan pinggangnya. Sembari tersenyum lebar, sahabat ayah gadis kecil tersebut menatap Nanra dan berkata, “Haha, Nanra sangat berbakti, ya! Masih kecil sudah bantu Papahnya.”
Gadis itu menundukkan wajah, tersipu malu dan memegang bagian depan gaun dengan kedua tangan. Melirik ke arah pria itu, ia berkata, “Ti-Tidak juga, Paman ....”
Menoleh ringan ke arah Ayah Nanra, petani itu kembali berkata, “Orga, kamu dapat anak yang berbakti! Sialan, beruntung sekali kau! Sudah dapat istri cantik, anak juga dapat yang seperti ini!”
“Haha, terima kasih.”
“Jangan malah terima kasih, dasar sialan! Beruntung sekali kau ini!”
Setelah bercanda kecil, mereka pun melanjutkan pekerjaan. Nanra kembali ke ujung lahan, menaiki tanah miring setinggi satu meter dan duduk menghadap ke arah ladang. Tersenyum ringan, ia dengan ceria duduk di sana sembari melihat Ayahnya.
Para petani bisa memanen hasil lahan sampai dua kali dalam setahun, sepanjang musim semi sampai pertengahan musim gugur masa mereka bisa menanam. Hasil-hasil lahan tersebut biasanya akan dibeli oleh pedagang dari kota yang datang ke desa, atau terkadang penduduk sendiri datang ke kota yang bisa ditempuh dalam waktu seharian penuh dari desa.
Mereka cenderung melakukan barter dalam sistem jual beli, jarang melakukan transaksi dengan dasar laba dengan uang karena memang mereka tidak memiliki cukup pendidikan untuk memahami semua itu. Cara bertanam, pengolahan lahan, alat-alat, dan bahkan sampai sistem pemerintahan mereka percaya adalah sebuah pemberian besar dari Tuan Tanah. Karena hal tersebut, kebanyakan warga desa sangat menghormati pemerintah atas apa yang mereka dapat.
Di tambah terkenalnya Tuan Tanah mereka yang biasa ditinggi-tinggikan sebagai Pahlawan dan teman dekat Raja, sebagian besar orang di wilayah Luke memiliki rasa hormat besar pada Tuan Tanah mereka.
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, matahari sudah mulai naik sampai ke puncak tertingginya dan kabut yang ada sudah benar-benar tersingkir. Di bawah hari yang cukup berawan, para petani yang bekerja di ladang dan kebun berkumpul pada tempat penuh saung yang terletak di antara kedua jenis lahan tersebut.
Para istri datang dari rumah membawa Rantang —panci bersusun dan bertutup untuk tempat makanan yang dilengkapi tangkai, untuk pegangan dan pengait. Rantang makanan itu terbuat dari bahan kayu dan dibuat oleh salah seorang pengrajin di desa, itu pun idenya berasal dari sosok yang para penduduk wilayah Luke kenal sebagai Master.
Duduk bersama di saung-saung yang ada, mereka menyantap makan siang dan saling bercanda gurau di waktu istirahat. Hanya ada empat belas keluarga yang mengurus lahan seluas hampir empat ratus hektar, sebagian keluarga lainnya di desa tersebut adalah peternak dan pengrajin.
Lahan yang mereka garap orang-orang itu oleh pada dasarnya bukanlah milik mereka. Para penduduk desa meminjam itu dari pemerintah untuk mengolah lahan, karena itulah diberlakukan sistem pajak yang juga berfungsi sebagai biaya sewa.
Keluarga Nanra ada di antara mereka, duduk bersama di atas salah satu saung yang terbuka dari kayu dengan atap jerami gandum kering dan saling bergurau dengan bahagia. Ibu dari gadis kecil itu bernama Plurena, sosok wanita menawan berambut pirang yang bisa dikatakan bunga desa karena kecantikannya. Rambutnya yang panjang diikat kepang cepol, ia mengenakan gaun abu-abu cerah panjang sampai betis dan kakinya yang kotor menandakan ia tidak mengenakan alas kaki saat datang.
Berdiri di pangkuan ibunya, Nanra memeluknya dan bertingkah manja. “Nanra, jangan berdiri seperti di atas pangkuan Mama seperti itu,” ucap Plurena sembari menurunkan anak kecil itu. Tetapi saat kakinya berpijak pada lantai layu saung, ia segera naik ke atas pangkuan ibunya dan kembali berdiri di sana.
“Anak ini ....” Orga tersenyum ringan melihat tingkah anaknya itu yang sangat lengket dengan Ibunya. Memegang tubuh kecil Nanra, ia mengangkat putrinya tersebut dan memindahkannya ke pangkuannya sendiri.
“Sudah, sudah, Mamah sedang menyiapkan makan siang kita. Kalau kamu nakal terus, kapan kita makan?”
“Nanra tidak nakal! Nanra anak baik!”
“Ya, ya ....”
Itulah salah satu keseharian mereka di desa tersebut. Meski dalam kesederhanaan, mereka tidak pernah merasa kekurangan. Memiliki keluarga, hidup bahagia dan saling berbagi. Bagi Orga dan Plurena, berakhirnya perang sangat berarti besar bagi mereka dan desa. Para orang dewasa di tempat tersebut sebagian besar sudah merasakan pahit dan sakitnya tumbuh di masa peperangan, dan bersyukur anak-anak mereka tidak perlu merasakan masa penuh kesulitan itu.
Tetapi pada saat itu mereka belum sadar, sesuatu yang lahir dari berakhirnya peperangan tidaklah seluruhnya baik. Kejahatan tidak selalu datang dari sesuatu yang jelas terlihat.
Mereka belum sadar, rasa iri dan dengki dari mereka yang tidak bisa mendapatkan hidup layak meski telah berjuang mempertaruhkan nyawa. Darah dialirkan, tulang digerakkan sampai patah dan kehilangan banyak hal. Dari seluruh pengorbanan yang ada, yang mereka dapat tidak sepadan dan membuat dengki mulai bergejolak. Membuta orang-orang seperti mereka tidak kehilangan nurani, berubah menjadi sosok yang bahkan lebih mengerikan dari peperangan.
Para penduduk desa itu juga belum sadar, bahwa kebahagiaan mereka tidak akan bertahan lebih lama lagi. Sebab segala sesuatu yang membuat setiap orang terlena itu pasti tak akan membawa hal baik.
.
.
.
.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya saat Ekspedisi Dunia Astral Pertama telah dimulai seminggu yang lalu. Penjagaan dan keamanan wilayah Luke benar-benar berkurang karena hampir seluruh prajurit ditarik untuk mengikuti ekspedisi, bahkan desa di dekat Kota Mylta tersebut hanya dijaga oleh lima prajurit karena kurangnya personel.
Itu masih pertengahan musim semi, saat masa tanam sudah dimulai kembali setelah salju meleleh. Pada hari normal tanpa ada sesuatu yang spesial, serta tanpa adanya hal yang janggal atau aneh para penduduk desa melakukan rutinitas harian mereka dengan bersahaja. Tidak terkecuali keluarga Nanra, layaknya warga lain mereka melakukan keseharian di ladang yang kali ini ditanami sayuran seperti wortel dan kol.
Pada pagi hari memang tak ada hal yang membuat para warga desa cemas. Tetapi saat menjelang malam, sebuah bunyi lonceng peringatan yang berdentang kencang di desa membuat suasana berubah mencekam dengan cepat. Obor-obor yang dipasang pada beberapa sudut desa tiba-tiba mati, bukan karena angin tetapi disengaja.
Kuda di kandang meringkik, sapi dan kerbau melenguh. Para ayam dan kambing pun membuat suara berisik. Meski suara-suara hewan ternak semakin menjadi dan jelas-jelas bisa membangunkan para penduduk desa, tetapi tak ada satu pun orang atau penjaga yang keluar untuk memeriksanya. Hal tersebut tidaklah bisa dipungkiri, para penjaga yang ditugaskan di gerbang masuk desa telah terbunuh oleh beberapa orang yang terlihat seperti bandit.
Mereka mengenakan pakaian seperti tentara bayaran, baju halkah dengan rangkap rompi kulit dan zirah ringan, serta membawa senjata tajam seperti pedang dan kapak perang. Di antara mereka ada juga yang membawa busur dan panah, serta tombak dan pisau. Dilihat dari perlengkapan mereka yang matang, dengan jelas para bandit itu telah merencanakan penyerangan terhadap desa dari jauh-jauh hari.
Seorang pria yang menggunakan zirah ringan kembali dari arah peternakan yang berada di bagian paling depan desa. Ia membawa pedang berlumur darah bersama dengan tiga rekannya. Membuka penutup mulut, ia berkata, “Bos, orang yang berjaga di peternakan sudah kami bereskan. Kuda mereka juga sudah kami lukai kakinya, dengan ini kemungkinan mereka kabur akan berkurang.”
Mendengar itu, pria berbadan kekar besar yang merupakan Bos para bandit itu memasang wajah puas dan menyeringai gelap. Ia tidak mengenakan kain penutup wajah seperti para anak buahnya, tidak mengenakan zirah dan hanya baju halkah dengan rompi kulit tipis. Pada punggung Bos bandit tersebut, terdapat pedang dua tangan berukuran besar.
“Bagus .... Semua, kita selesaikan ini sebelum matahari terbit .... Jangan sampai ada yang lolos! Jarah semuanya!”
“Ya!” jawab para bandit dengan serentak.
Jumlah keseluruhan kelompok bandit tersebut tidaklah lebih dari dua puluh orang termasuk bos mereka. Itu termasuk jumlah yang cukup banyak untuk kelompok bandit dan cukup untuk menjarah satu desa kecil. Ditambah perlengkapan lengkap yang ada, jelas-jelas mereka bukanlah bandit recehan yang biasa bersembunyi di gunung.
Menoleh ke arah seorang prajurit yang dibiarkan hidup olehnya, pria besar berambut merah gondrong itu menatap rendah. Prajurit muda itu telah dilucuti zirahnya, ditelanjangi sepenuhnya dan benar-benar dipermaukan layaknya hewan. Pada tubuhnya terdapat beberapa luka memar, gigi depannya rontok dan dua jari telunjuknya telah dipotong.
“Oi, bagaimana rasanya, prajurit terhormat? Rasanya apa saat dikalahkan dengan mudah oleh kami para bandit rendahan?! Hah?!! Pasti frustrasi, bukan?! Padahal sudah berlatih dengan bangga menjadi prajurit untuk melayani Tuanmu, tapi malah berakhir menyedihkan seperti ini!”
Prajurit itu menatap tajam mendengar makian Bos bandit itu, mulutnya yang dibungkam kain membuatnya tak bisa membalas makian tersebut. Air mata berlinang, penuh kebencian yang dengan jelas terpancar pada sorot mata prajurit muda tersebut. Mendapat tatapan itu, pria kekar berbadan besar tersebut meludahi wajah prajurit muda itu.
“Cuih! Kesetiaan, ya .... Kesetiaan lubang pantat, lo!” maki Bos bandit itu. Ia menggertakkan giginya dengan murka, lalu berteriak, “Padahal mau mati tapi tetap saja!! Haaah! Para prajurit memang menyedihkan. Kau pikir dengan setia seperti itu bisa diangkat menjadi ksatria?!”
Melihat sorot mata prajurit muda itu yang sama sekali tidak berubah, Bos bandit tersebut menghela napas panjang dan memasang wajah jijik. “Sudahlah, dasar sampah,” ucapnya seraya mengangkat kaki kirinya ke atas wajah prajurit yang duduk terikat itu. Menarik napas dan mengumpulkan tenaga dalamnya, dengan hentakkan keras ia menginjak kepalanya dengan sepatu besi dan —
Crakktark!!!
Kepala prajurit itu hancur seperti tomat yang terlindas gerobak di pinggir jalan. Darahnya berceceran di lantai pos jaga, isi kepalanya terlihat dan tengkoraknya remuk seperti bubur daging. Mengangkat kaki dari kepala prajurit itu yang hancur itu, Bos bandit tersenyum lebar seakan menikmati tindakkan itu.
“Uwah, menjijikkan~!”
Berbalik dan beranjak dari tempat tersebut, ia berjalan memasuki desa untuk ikut ambil bagian bersama anak buahnya yang sedang menjarah dan bersenang-senang. Suara jeritan mulai terdengar, rintihan kesakitan membuat desa yang tadinya terlihat damai itu berubah menjadi mengerikan dalam seketika.
Salah satu penduduk desa berlari kabur dari kejaran beberapa bandit, menggendong bayi kembarnya dengan cemas ia benar-benar frustrasi dan mati-matian berlari. Panah melesat dengan cepat ke arahnya dan menusuk kepala sang ibu tersebut. “To ... long,” itulah kata terakhirnya sebelum meregang nyawa, lalu ambruk dengan mengenaskan dan menjatuhkan bayi kembarnya.
Melihat itu, Bos bandit menghampiri bawahannya yang memanah dan membentak, “Oi! Jangan bunuh yang perempuan! Itu bisa dijual ke orang-orang konglomerat atau bandar!”
“Uhawha! Maaf, bang bos!” ucap bandit yang membawa panah dan busur. Ia berbadan kurus dan memiliki mata sedikit sipit, dengan jelas ia berasal dari kekaisaran melihat paras wajahnya tersebut.
“Pungut bayinya! Nanti itu juga bisa dijual!”
“Oke, oke!”
Mereka, para bandit sudah tidak menganggap penduduk desa sebagai orang. Para bandit itu hanya menganggap penduduk desa tersebut sebagai objek untuk menghasilkan uang, barang dan bahkan setara dengan ternak atau hasil buruan. Mereka memang seperti itulah pada dasarnya, sekumpulan orang-orang tamak yang dulunya adalah tentara bayaran dan sama sekali tidak memedulikan rasa kemanusiaan atau rasa loyal. Yang mereka percaya hanyalah uang dan kekuatan, kepuasanlah yang mereka dambakan.
Terlihat ada beberapa penduduk desa yang berusaha melawan, mereka berkumpul di tengah desa dan berusaha melawan dengan alat pertanian. Tetapi layaknya sekawanan semut, mereka tidak berdaya di hadapan para bandit. Memang semut pun bisa menumbangkan gajah jika bekerja sama, tetapi itu berlaku jika jumlah mereka lebih banyak.
Di hadapan para bandit yang sudah terlatih untuk bertarung secara berkelompok, para penduduk desa itu bahkan lebih lemah dari sekawanan semut. Belatung, di hadapan para bandit mereka hanyalah belatung yang tinggal menjadi pakan burung.
Ditebas, dipenggal, dipermalukan dan dihina. Mereka benar-benar mempermainkan hidup para penduduk desa tersebu. Para pria dan orang tua dibunuh tanpa belas kasihan, anak-anak ditangkap dan dibuka matanya lebar-lebar untuk dipaksa melihat ibu mereka ditiduri oleh pria lain. Sorak-sorak penuh kegilaan mengisi seisi desa, bersamaan dengan kobaran-kobaran api yang mulai dinyalakan.
Pemandangan dan tindakkan menjijikkan itu bagaikan hiburan bagi para bandit, mereka berpesta di tengah desa yang mulai dibakar tersebut. Ladang yang baru saja ditanam, kandang ternak, sampai rumah-rumah, penjuru desa mulai terlahap api merah yang dinyalakan oleh orang-orang bagaikan iblis itu.
Pada salah satu rumah di desa yang belum dimasuki oleh para bandit, Orga mengintip keluar dari sela dinding kayu. Bunyi lonceng peringatan beberapa jam lalu dan jeritan mengerikan dari luar membuatnya menggigil ketakutan, gemetar tidak karuan sampai kakinya lemas. Bersama dengan istri dan anaknya yang sudah dirinya dibangunkan, pria itu memucat dan bingung harus berbuat apa. Dalam ruangan rumahnya yang gelap, pria itu hanya bisa menahan napas dan berharap tidak ditemukan oleh para bandit.
“Sayang ....” Plurena memegang erat tangan suaminya yang gemetar.
Orga menoleh, ia paham kalau dirinya tak boleh menunjukkan rasa takut di depan keluarga dan membuat mereka cemas. Memaksakan senyuman pada wajah penuh ketakutan dan ketidakberdayaan itu, pria tersebut berkata, “Jangan cemas. Kita pasti keluar dari sini .... Sepertinya mereka para bandit benar-benar berniat menjarah seluruh isi desa kita.”
“Kenapa? Bukannya ini dekat dengan kota? Kenapa bisa kita diserang?”
“Entahlah, mungkin ... karena mereka mendengar kabar ekspedisi itu mereka ....”
“Kita harus bagaimana? Aku tak ingin mati apalagi menjadi mainan mereka .... Orga, kita harus bagaimana?”
Wanita itu benar-benar ketakutan. Meski di dalam ruang dengan pencahayaan minim dari lentera kecil, Orga dengan jelas melihat wajah istrinya itu menunjukkan ekspresi tersebut. Pria itu hanya bisa terdiam, ia sangat paham kalau dirinya sangat lemah dan tidak berdaya. Dirinya pun bahkan tak bisa menggunakan pedang, apa lagi berdiri melawan para bandit.
“Mamah? Papah?”
Mendengar suara lirih anak kecil yang berdiri di antara mereka, kedua orang dewasa itu terdiam dan langsung tertegun paham kalau mereka tidak pantas bersikap seperti itu di depan anak mereka. Plurena berlutut dan memeluk tubuh kecil putrinya itu, dengan gemetar dan erat ia lirih berbisik, “Jangan cemas .... Mamah dan Papah pasti melindungimu, Nanra ....” Saat itu gadis kecil tersebut tidak terlalu paham apa yang dibicarakan oleh ibunya itu, ia hanya mengerti kalau ibunya itu sedang ketakutan.
Balik memeluk, Nanra berkata, “Hmm, Mamah ....”
Segera menggendong anaknya, wanita rambut pirang ikat kepang cepol itu menatap suaminya dan mengangguk. Tidak memedulikan harta benda yang ada di rumah kecil mereka, kedua orang itu keluar melalui pintu belakang sembari membawa Nanra.
Mengendap-endap di bawah bayangan bangunan, mereka mencari celah dari para bandit yang sedang berulah. Kobaran api membuat mereka tidak bisa bersembunyi. Berpapasan dengan beberapa bandit yang berkeliaran di tengah desa, Orga dan keluarganya bertiarap bersama dalam kegelapan di antara semak-semak.
Meringkuk, mereka melihat keluarga tetangga dibantai oleh para bandit. Kelapa keluarga yang merupakan teman dekat Orga dibacok punggungnya saat melindungi putranya, lalu sang istri ditangkap oleh bandit dan mulai ditelanjangi.
Anak laki-laki dari keluarga itu menangis penuh rasa benci kepada para bandit, menatap dan berusaha menyerang mereka dengan batu di genggaman tangan. Badannya kecil, amat rapuh dan ringan. Dengan sekali tendang pada wajah, tubuh anak laki-laki itu dibuat bonyok tanpa bisa membalaskan dendam ayahnya dan kehilangan kesadaran.
“Maaf .... Maaf ....”
Orga dan Plurena hanya bisa menutup mulut rapat-rapat dan tetap bersembunyi di balik semak-semak. Putri mereka yang hendak menangis mereka bungkam, dalam ketakutan tanpa bisa berbuat apa-apa dan hanya bersembunyi. Mati-matian menahan suara, berbaring tanpa bergerak sedikit pun di balik semak-semak. Waktu terasa begitu lama bagi mereka, suara rintihan dan jeritan bagaikan mimpi buruk yang tak henti-henti.
Tetangga, kerabat, teman, kenalan, kepala desa, dan suara-suara dari orang-orang yang Orga dan Plurena kenal seakan menghujani mereka dengan ribuan rasa bersalah dan ketidakberdayaan. Rasa benci dan murka dengan jelas tumbuh dalam benak, tetapi rasa ingin melindungi anak yang sangat kuat tetap membuat mereka terdiam dan berharap pagi segera datang.
Pemandangan paling buruk yang dilihat mereka adalah pertunjukkan bejat para bandit yang menggilir para wanita desa di depan anak-anak kecil. Dengan keji, layaknya hewan dan bahkan lebih rendah dari itu mereka melakukannya secara bergantian setelah membunuh semua pria dan orang tua di desa.
Seseorang pria berbadan besar datang ke tempat para bandit itu yang sedang bersenang-senang dengan gila. Ia adalah Bos dari kelompok bandit, berambut gondrong, terlihat sangar di mata Nanra dan keluarganya. Gadis kecil yang berbaring di semak-semak dalam pelukan kedua orang tuannya itu mengompol saking takutnya pada pria yang datang.
“Oi, oi! Kalian malah senang-senang dulu! Lakukan itu di markas, dasar bajingan!” Bos bandit itu berkata dengan penuh rasa puas atas hasil dari jarahan. Tersenyum lebar, ia menatap salah satu rekannya.
“Jangan begitu, dong! Bang Bos, semua orang dewasa sudah kami bunuh. Para wanita dan anak-anak seperti yang terlihat, mereka sudah ditangkap. Yah, kalau ada yang kabur entah! Paling tidak biarkan kami berpesta sampai pagi!”
Bos bandit itu menatap ke arah para perempuan dan anak-anak yang terikat tidak jauh dari tempatnya berdiri, mereka belum tersentuh sama sekali tidak seperti lima wanita yang dipermainkan para bandit. Melihat anak-anak dan para perempuan tersebut, pria gondrong itu sama sekali tidak melihat mereka sebagai orang tetapi sebagai barang dagangan.
“Hmm, perempuan dan anak kecilnya masih kurang. Padahal saat awal rencana seharusnya jumlah mereka tidak segini. Apa ada yang sedang keluar desa .... Bukan, kurasa tidak karena itu.”
Sebelum menyerang mereka memang telah memata-matai desa tersebut sejak musim dingin dan menunggu penjagaan mulai melunak sampai musim semi. Alasan mereka mengincar desa tersebut sangat sederhana, penjagaan pada desa yang berpotensi mendapat ancaman tinggi pasti akan kuat penjagaannya. Tetapi, kalau sebaliknya pasti berbeda dan akan cenderung rapuh. Seperti perkiraan para bandit, desa yang tidak memiliki potensi diserang malah menjadi paling rapuh.
Menatap tajam rekan di sebelah, Bos bandit bertanya, “Apa kalian tidak membunuhnya?”
“Membunuh para perempuan? Apa bos benar-benar menghitungnya? Kalau tidak salah jumlah perempuan di tempat ini—” Bandit itu ikut terkejut saat memastikan kalau jumlahnya memang kurang. Memegang dagu dengan tangan kiri dan memainkan belati dengan tangan kanan, ia bergumam, “Hmm, memang kurang. Apa ada yang membunuhnya?”
“Jangan tanya balik, cecunguk! Tch! Tadi di depan ada juga orang bodoh yang membunuh satu perempuan. Kalau dikurangi itu, tetap saja kurang!”
“Yah, kurang satu atau dua gak masalahlah!”
“Tch! Dasar bego!”
Bos bandit itu melihat ke tempat Nanra dan keluarganya bersembunyi, seakan-akan dirinya tahu kalau ada orang di balik semak-semak itu. Ia menatap tajam, tanpa berkedip dan terus menatap dalam-dalam ke arah mereka. Orga dan Plurena gemetar dan berusaha tetap diam, mati-matian menahan suara seraya memeluk putri mereka dan berdoa dalam benak supaya para bandit itu tidak menemukan mereka.
Doa tak terkabul, harapan sirna saat bos bandit itu menunjuk ke arah mereka seraya berkata, “Di sana masih ada orang. Tangkap mereka!” Tubuh mereka bertiga seakan disambar petir saat mendengar itu, tak bisa bergerak dan gemetar kacau dalam ketakutan.
“Ah, Bos juga menyadari mereka, ya?” Bandit berbadan kurus itu tersenyum licik, menatap sipit sembari memainkan belati dengan jemarinya.
“Hah? Kalau sudah tahu kenapa tidak ditangkap?!” bentak Bos bandit kesal.
“Bos rajin banget. Kita itu bandit, paling tidak butuh hiburan seperti ini. Pasti mereka saking takutnya sampai tidak bisa bergerak! Uwaahaha!! Melihat orang-orang dekat mereka dilecehkan dan diperkosa seperti itu! Dibunuh! Disiksa!! Ini hiburan yang hebat!!”
Ia tertawa, pria congkak yang mengenakan zirah ringan berwarna gelap itu benar-benar terbahak dalam kegilaan. Tersenyum lebar bersama para bandit lain dan menatap mata Orga yang bersembunyi di balik kegelapan, bandit congkak itu menjilat bibirnya sendiri. Tatapan itu benar-benar membuat Orga ketakutan setengah mati. Mendengar langkah kaki yang semakin mendekat, tubuhnya bertambah gemetar.
“Uwah .... Hobimu bejat. Dasar rusak.” Bos bandit menepuk punggung rekannya itu.
“Bicara apa bos ini, kita dari dulu para bandit memang sudah rusak.”
“Ahaha! Benar juga! Benar juga! Di dunia yang sudah gila ini memang kita seperti itu!”
Suara-suara mereka terdengar mengerikan di telinga Orga. Menggertakkan gigi dan menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah, pria itu bangun dari semak-semak dan berdiri di hadapan para bandit yang mendekat.
“Aku menyerah!! Kumohon! Hentikan semua ini!”
Para bandit yang mendekat sentak terhenti, menatap bingung lalu mulai menertawakan keberanian pria itu. Mereka benar-benar terbahak dan menghinanya, sama sekali tidak memedulikan keberanian pria yang berdiri di hadapan mereka meski dengan kaki yang tak bisa berhenti gemetar.
“Apa-apaan orang ini?! Berlaga sok berani?!”
“Koyol! Konyol sekali! Apa dia pikir seorang pahlawan?!”
“Aku tak pernah melihat orang sedungu ini?! Bos, apa yang kita lakukan padanya?”
“Bunuh saja! Ah, kalau wanita dan anak kecil di semak itu jangan dibunuh, tangkap mereka!”
“Iya, ya!”
Orga gemetar kacau saat para bandit bersenjata itu mendekat. Tetap berdiri dan merentangkan kedua tangannya ke samping, pria itu berkata, “Tolong ... biarkan mereka pergi .... Kumohon .... Kalian bisa melakukan apa saja padaku, tapi tolong lepaskan mereka .... Kumohon!!” Pria itu terus memelas dan memohon ampun meski perkataannya tidak didengarkan para bandit, dengan wajah menyedihkan dan tak berdaya.
Seorang bandit yang mengepungnya mendekat, lalu menebas tangan kanan Orga dan memotongnya. Pria itu terjatuh dan meringkuk di atas tanah dengan kesakitan, darah berceceran dan pria itu menjerit sunyi tanpa suara. Plurena berdiri panik melihat suaminya. Menemukan sosok perempuan cantik yang keluar dari balik semak sembari menggendong anak, beberapa bandit bersiul dan menyeringai bagai binatang.
“Bos, sepertinya dia kelas kakap? Boleh buat kami?”
“Mau garap bareng?”
“Hah! Terserah saja ....”
Bos bandit itu tidak tertarik seperti anak buahnya, baginya mereka semua tidak lebih dari barang dagangan. Berbalik meninggalkan orang-orang itu, kaki kanannya dipegang oleh Orga yang merangkak sampai tempatnya. “Tolong ... jangan sentuh mereka ...,” pria itu memohon dari lubuk hatinya yang terdalam, meski itu kepada orang yang paling dibencinya. Melihat pria itu tidak lebih dari seekor serangga, Bos bandit itu menendang kepala pria itu dengan kaki kiri dan membuat lehernya patah. Wajah Plurena langsung terbelalak melihat itu, air mata jatuh bersama dengan harapannya yang sirna.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!! TIDAK! TIDAK! ORGA! JANGAN TINGGALKAN KAMI!! ORGAAA!!”
Wanita itu merengek ke arah mayat suaminya, membawa anak dalam gendongan yang juga menangis kencang. Para bandit langsung menjatuhkan wanita itu, menjambak anaknya dan memisahkan paksa dari ibunya. Nanra merengek, terus memanggil-manggil ibunya dan meronta sekuat tenaga dari para bandit yang menangkapnya.
Kedua tangan Plurena di tahan ke tanah, ditindihi dan mulai ditelanjangi. Rambut wanita itu dijambak sampai ikatannya lepas, lalu kepalanya dibentur-benturkan ke tanah oleh para bandit. Saat wanita itu berhenti melawan, orang-orang biadab itu mulai menurunkan celana dan berdebat siapa yang akan pertama kali meniduri Plurena.
Pada mata gadis kecil berambut putih itu, mereka semua adalah iblis berbentuk orang yang sangat mengerikan. Rasa takut dalam diri Nanra berganti menjadi amarah. Ia melepaskan diri dari salah satu bandit yang menangkapnya dan berlari ke arah para bandit di dekat ibunya, lalu memukulnya sekuat tenaga.
Pukulan itu sama sekali tidak berasa. Menoleh dengan wajah sangar, bandit yang dipukul itu mengayunkan tangannya dan menghajar purut Nanra. Tubuh gadis itu terpelanting dan terbanting ke tanah, meringkuk dengan napas sesak dan terengah-engah karena pukulan itu sampai muntah.
Dengan tatapan samar dan mulai buram, Nanra melihat ke arah ibunya dan berusaha meraih tangan wanita yang selalu memberikannya kehangatan itu. Plurena menggerakkan bibirnya dan berkata sesuatu. Di tengah suara meriah para bandit yang masih berdebat, dengan jelas anak gadis itu mendengar perkataan ibunya.
“Maaf ..., Nanra.”
Kata itu tersampaikan dengan jelas kepada gadis itu. Sebelum tubuhnya dijamah oleh para pria selain suaminya, Plurena merampas belati dari salah satu bandit dan menusuk lehernya sendiri dengan itu. Itu tepat dilakukannya di depan Nanra, terbakar membekas dalam kelopak mata anak gadis itu dan membuat amarahnya membara seketika.
“Ah! Dia malah bunuh diri!”
“Tch! Sialan!”
“Oi, anaknya juga lumayan.”
“Pindah?”
“Hah! Seleraku bukan yang begituan!”
Bos bandit menghampiri Nanra, berjongkok di hadapan anak gadis yang menatap penuh kebencian ke arahnya. Tersenyum ringan, pria gondrong tersebut menghajar gadis itu sampai kepalanya terbanting ke tanah dan kesadarannya pun menghilang dengan cepat.
Setelah itu, seperti anak-anak dan perempuan lain yang ditangkap oleh para bandit, Nanra dibawa ke markas mereka yang ada di sekitar daerah dataran tinggi. Hari-hari yang ada baginya setelah itu adalah neraka. Ditahan dalam lubang dengan dinding dan lantai batu dalam sebuah gua, diperlakukan seperti hewan peliharaan oleh orang-orang yang membuat kedua orang tuanya meninggal.
Mereka kurung dalam sebuah gua yang merupakah markas para bandit, menunggu ada bandar atau orang-orang yang tertarik dengan mereka dan dibeli untuk dijadikan pekerja kasar atau untuk bahan prostitusi. Kemungkinan paling buruk yang bisa didapat mereka adalah dijual ke luar kerajaan dan dijadikan budak tanpa hak sama sekali di sana.
Seminggu, sebulan, satu musim, tak jelas Nanra berada di ruangan gelap dan beraroma pengap nan busuk itu. Lantai batu yang dingin, cahaya yang masuk melalui sela-sela ventilasi udara di langit-langit, dan piring-piring kayu kosong berdebu. Di tempat tersebut hanya tersisa beberapa orang saja, tidak sebanyak pertama kali mereka dimasukkan ke dalam penjara yang terletak dalam lubang gua tersebut.
Sebagian besar dari mereka telah dijual, digunakan oleh para bandit untuk berpesta atau diseret untuk hiburan orang-orang tak beradab itu sampai mati. Dalam tempat menjijikkan itu, Nanra meringkuk melipat kakinya ke depan dan duduk di pojokkan tanpa bergerak sedikit pun. Badannya kurus sampai seperti tinggal kulit saja, bola matanya masuk ke dalam dan kelopaknya kempot.
Mengangkat wajah dan menatap seperti orang mati, di dalam tempat pengap itu masih terlihat ada beberapa orang yang saling peduli. Seorang gadis yang sedikit lebih tua darinya terlihat dengan cemas mendekap dua bayi kembar dan yang terdiam tanpa menangis. Nanra melihat kedua bayi itu sama sekali tidak bergerak, menganggap gila gadis itu karena terus menggendong mayat.
Menyeringai kecil, dirinya sadar kalau dirinya sendiri juga sudah gila dan kacau. Ia meringkuk, berharap hidupnya cepat berakhir dan terbebas dari neraka dunia itu. Sempat dirinya berpikir untuk mengakhiri hidup dengan potongan batu stalagmit yang tergeletak. Tetapi saat merasakan sakitnya tusukan dari batu tajam runcing di tangannya, gadis itu mengurungkan niat untuk menusuk lehernya sendiri dan hanya meringkuk di tempat tersebut.
Penutup di langit-langit lubang gua tempat mereka ditahan terbuka. Seorang pria bandit menuruni tangga kayu dan melihat ke arah mereka. Setiap kali ada orang datang ke tempat tersebut, itu pasti berarti ada satu orang yang akan pergi dari tempat itu. Nanra kenal dengan pria tersebut, dia adalah Bos bandit yang memukulnya sampai pingsan dan menangkapnya.
Pria gondrong itu melihat ke kanan dan kiri, memelototi perempuan dan anak-anak yang ketakutan karena kedatangannya. Salah satu anak laki-laki berlari ke per besar itu dan berusaha menusuknya dengan batu runcing. Dengan ayunan tangan, badan anak laki-laki itu ditinju pria itu sampai terpental dan membentur dinding.
“Tch! Kalau kau seperti itu terus nilai jualmu bisa berkurang, bocah tengil!”
Pria kekar itu kembali mengamati orang-orang di dalam lubang gua. Saat melihat Nanra yang meringkuk di pojok tanpa bergerak sedikit pun, pria itu menyeringai. Bos bandit tersebut mendapat barang yang akan dijual untuk kali ini.
“Akh, kalau tidak salah pesanannya anak berumur kurang sepuluh tahun, ya. Dasar pedagang paedofil ... Kenapa orang-orang dari kekaisaran suka sekali yang seperti ini?”
Pria gondrong itu menghampiri Nanra dan berdiri di hadapannya. Menatap rendah anak gadis itu tidak lebih dari sekadar barang dagang, ia menarik tangannya dan memaksanya berdiri. Dengan lemas, anak gadis itu pasrah digandeng kasar pria itu.
Ia dibawa keluar dari lubang oleh pria itu. Saat dipermukakan yang menunggunya bukanlah cahaya harapan. Itu adalah neraka lain, di sana terlihat seorang konglomerat berpakaian khas Kekaisaran Urzia dengan tampang yang jelas-jelas bukanlah orang baik. Di belakang pria gendut itu, terlihat dua orang pengawal yang membawa tombak dengan mata pisau melengkung seperti bulan di tangan mereka.
Dalam gua tersebut benar-benar disulap oleh para bandit sebagai markas, terdapat kursi dan meja, rak-rak senjata dan beberapa kotak persediaan lain. Di belakang Nanra, selain ada lubang tertutup papan, ada juga sebuah tembok kayu yang terlihat seperti pembatas ruang.
“Bagaimana? Apa ini cukup?” ucap Bos bandit. Ia berjalan ke arah pria gendut itu membawa Nanra, lalu duduk di atas kotak kayu dan menatap pelanggannya itu.
“Hmm, rambut putih alami, ya .... Cukup langka .... Kulit pucat itu, pasti nikmat saat dilukai sedikit demi sedikit. Ah~ diriku tak sabar.”
Pria konglomerat berpakaian kimono berjumbai itu menjilat bibirnya sendiri, terlihat bagaikan babi rakus dengan tubuhnya yang gemuk. Nanra yang berdiri di dekat Bos bandit hanya menatap datar dengan mata mati, tidak peduli lagi dengan nasib yang menantinya nanti di tangan pria itu.
“Boleh diriku cicipi dulu dia?”
“Cicipi?” tanya Bos bandit bingung.
“Ah ....” Pria konglomerat itu berdiri dan mendekati Nanra, lalu langsung menarik gaun kumuh dan menelanjanginya. Tubuh gadis kecil itu terekspos jelas di hadapan pria gemuk itu, ia lekas menjilatinya bagai binatang dan benar-benar menjijikkan. Dada, kemaluan, leher, tengkuk, dan kelopak matanya, semua itu dilihat oleh pria itu. Nanra sama sekali tidak beraksi, ia gadis itu sudah tidak memedulikan hal seperti itu lagi.
“Menjijikkan .... Dia belum mandi, loh.”
“Tak perlu cemas, itu hobiku.”
“Uwah, aku tak paham pemikiran orang berduit.”
Sebelum tubuh Nanra dijamah lebih jauh lagi, tiba-tiba salah satu bandit masuk dari mulut gua dan berteriak, “Bos!! Kita diserang! Tempat kit—!!” Kelapanya langsung terpenggal sebelum perkataan selesai, menggelinding di lantai gua dan berhenti tepat di depan kaki Bos bandit.
Sosok yang masih berdiri setelah bandit yang melapor itu tumbang adalah sosok yang membuat orang-orang di dalam gua merinding. Itu adalah kekuatan yang mutlak, tak terbantah dan mereka benar-benar disadarkan akan adanya kasta hanya dengan melihatnya. Pedang satu tangan berlumur darah, mata biru menyala dan rambut abu-abu gelap yang dikucir panjang. Sosok itu adalah Ahli Pedang, Dart Luke.
“Ketemu juga, kalian para berengsek .... Beraninya merusuh di daerahku dan menculik rakyatku .....”
Pria dengan mata biru yang seakan menyala dalam kegelapan itu mulai melangkahkan kakinya. Meski tanpa zirah pelindung dan hanya mengenakan rompi kulit biasa, ia tetap dengan ringannya melangkahkan kaki menuju para bandit.
“Serang dia!! Bawa semua senjata!!”
Bos bandit segera mengambil pedang dua tangan andalannya. Bersiap dengan para anak buahnya untuk menyerang. Serangan jarak jauh seperti panah dan lemparan tombak berbelok tanpa bisa menyentuh sang Ahli Pedang, itu merupakan salah satu dari efek alat sihir berbentuk kalung yang dikenakannya. Beralih ke serangan jarak dekat, para bandit menyerbu secara serentak.
Di hadapan Dart Luke, semuanya tidak berguna. Ia adalah sosok yang berdiri di puncak seni pedang dan master dari berbagai senjata tajam. Dalam hitungan detik, semuanya dipenggal dan kelapa mereka menggelinding di lantai meninggalkan badan mereka yang tak bernyawa. Tanpa terkecuali, bahkan Bos bandit pun tak berkutik di hadapannya.
Ada seorang bandit yang dibiarkannya hidup untuk ditangkap, pria konglomerat yang meringkuk di lantai pun tidak ia bunuh. Melihat pakaian pria gendut itu, Dart bergumam, “Begitu, ya .... Sebagian besar memang ada hubungannya dengan Kekaisaran.” Pria itu mengibaskan pedangnya untuk membersihkan darah yang melekat pada mata pedang, lalu menyarungkan senjatanya.
Saat hendak menginterogasi pria dari kekaisaran itu, sekilas mata Dart bertemu dengan sorot mata Nanra. Pada saat itu, dalam diri gadis rambut putih yang kehilangan harapan dan tujuan hidup muncul suatu percikkan dalam benak. Kebencian, rasa itu begitu kuat sekaligus begitu hampa. Menoleh melihat Bos bandit yang sudah menjadi mayat, gadis itu menyeringai kacau seakan gila. Kembali melihat ke arah Dart yang menyeret orang konglomerat keluar dari gua, gadis kecil itu kembali menyeringai.
Dalam benak Nanra memutuskan untuk tetap membenci. Itu satu-satunya alasannya untuk tetap hidup, ia akan terus membenci mereka dan mulai menyalahkan para bangsawan atas apa yang dideritanya. Memang itu sangat tidak masuk akal untuk membenci sosok yang menyelamatkannya dan dirinya paham itu, tetapi hanya dengan tersebut dirinya bisa menjalani hidup kembali. Gadis itu butuh alasan untuk tetap berjalan dan terus hidup. Mata kosongnya hidup kembali, bara amarah mulai berkobar dalam dirinya.
“Kinkarta! Urus sisanya!!” ucap Dart sebelum pergi dari gua. Setelah pria itu keluar, para prajurit Kerajaan Felixia masuk untuk menolong orang-orang yang ada di dalam dan juga merekalah yang membawa Nanra keluar dari tempat itu secara fisik. Jiwa gadis itu seakan sudah pergi ke tempat lain, menanamkan kebenciannya pada bangsawan dan menjadikannya alasan hidup.
Apa yang diselamatkan Dart dari tempat itu tidaklah banyak, hanya beberapa anak dan perempuan yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Anak-anak dikirim ke panti asuhan, dan untuk para wanita diberi kebebasan untuk memilih mau pergi ke jalan puritan atau ke pelacuran demi bertahan hidup.
Itulah apa yang terjadi pada Nanra, gadis kecil berambut putih itu sebelum berakhir di Panti Asuhan Inkara. Itu tidaklah aneh atau kasus yang jarang, perampasan desa kecil dan anak-anak serta wanita diculik untuk diperjualbelikan. Dunia ini memang seperti itu, hal tersebut sangat jelas melekat dalam akal sehat mereka.
Mereka yang bahagia dan terpenuhi tak akan paham perasaan mereka yang selalu sengsara dan kekurangan. Layaknya bunga yang mekar dengan indah, mereka takkan tahu kotoran yang menjadi pupuk tanah tempat mereka mekar.