Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 58 : Aswad 5 of 15 “To Love” (Part 01)



Hujan tak kunjung berhenti, ombak bertambah besar dan gemuruh di langit semakin sering terdengar bersama kilatan-kilatan petir. Mayat-mayat yang bergelimpangan di atas batu karang tersapu ombak, sedangkan yang ada di atas geladak mulai bergelindingan dan jatuh ke bawah karena badan kapal Korvet berguncang-guncang terkena ombak. Api yang sebelumnya menyala besar dan membakar kapal kayu di sebelah mulai padam. Itu meninggalkan bangkai kapal yang mulai tergenang air, separuh tenggelam dan semakin rusak karena membentur batu karang berkali-kali.


 


 


Dominasi suara gemericik hujan pada lantai besi dan ombak yang membentur dermaga alami, kesenyapan yang ada terasa suram di bawah badai. Pada anjungan kapal Korvet yang berlabuh pada bebatuan karang, berkumpul sang Tuan Putri ke-30 kerajaan Moloia bersama keempat Prajurit Peri.


 


 


Di dalam ruang kemudi tersebut, Tuan Putri berambut ungu cerah tersebut berdiri mendengarkan penjelasan Letda Laura dan rekan-rekannya. Air dari rambut dan pakaiannya menetes, hawa dingin semakin terasa dan sesekali ia menggigil. Namun, perempuan yang mengenakan gaun merah tua itu tetap memasang wajah serius dan terus meminta penjelasan secara rinci dari mereka.


 


 


“Itulah yang pemuda tersebut sampaikan pada saya. Ia menggunakan cara semacam telepati untuk memberi saya informasi tersebut. Kalau memang dia Unsur Hitam yang dimaksud oleh Rhea, lebih baik kita tidak membuat masalah dengannya, Master.”


 


 


Setelah mendengar penjelasan panjang Laura, sekilas Putri Ulla memalingkan pandangan dan bersandar pada dinding besi di belakangnya. Ia menutup mulut dengan telapak tangan dan bergumam, “Benarkah pemuda itu individu yang dimaksud Rhea? Singularity yang ditunggu-tunggu Mother dan tercantum dalam Inti Mahia Sistem?”


 


 


“Singularity?” Laura terlihat bingung, begitu pula keempat rekannya.


 


 


“Ya ....” Sosok dengan raga remaja berambut ungu itu menatap, berhenti bersandar dan mimik wajahnya mulai terlihat tertarik dengan apa yang disampaikan Laura. Sembari mengambil satu langkah ke depan ia berkata, “Sebuah keistimewaan atau juga disebut Oddity, keanehan yang bisa mengubah susunan semesta.”


 


 


Itu membuat para prajurit peri terdiam, dalam rasa tidak percaya yang bercampur cemas. Melihat sosok Master yang memberi mereka kekuatan bangkit dengan cara aneh sudah membuat para Prajurit Peri itu bimbang, ditambah hal tersebut itu membuat mereka semakin bingung harus melakukan apa.


 


 


“Master Or’iama, sekarang kita harus apa? Setelah Reaktor Fusi Mini kapal perang di sebelah meledak, kemungkinan besar para A.I di kerajaan sudah menerima sinyalnya dan akan mengadakan rapat penting terkait perang. Kalau kita tidak segera kembali, bisa-bisa daratan ini akan kembali ke masa perang lagi ....”


 


 


“Ah ....”  Perempuan dengan gaun merah itu memperlihatkan ekspresi tidak terlalu peduli pada hal tersebut, seakan telah memiliki hal lain yang lebih menarik untuk dilakukan. Memasang wajah sedikit cemberut, ia dengan suara ringan berkata, “Kemungkinan besar kita hanya punya waktu satu atau dua bulan lagi sebelum mereka mengambil keputusan akhir. Sangat jarang para A.I tersebut mengeluarkan keputusan yang sama, pasti akan terjadi perdebatan.”


 


 


“Kalau begitu, berarti kita harus segera kembali ke kerajaan?” tanya Laura.


 


 


“Tidak ....” Perempuan rambut ungu itu menyeringai kecil, meletakkan jari telunjuk ke depan mulut dan berkata, “Ada sesuatu yang ingin diriku ini lakukan sebelum kembali. Selagi diri bisa kembali ke dunia, ada sesuatu yang ingin diriku ini pastikan.”


 


 


“Memastikan ... apa?” Laura sedikit cemas melihat ekspresi itu, melangkah mundur dan menelan air liur dengan berat.


 


 


Cahaya petir yang menyambar di luar sekilas masuk melalui jendela, sekilas membuat wajah sosok perempuan rambut ungu panjang sepunggung itu terlihat jelas. Berdiri di dalam kegelapan ruangan, sang Tuan Putri mengangkat tangannya dan menunjuk Letda berambut pirang di hadapannya, lalu bertanya, “Purwarupa, apa engkau membawa senjata pendukung untuk menggunakan Parva Nuclear?”


 


 


“Ja-Jangan bilang ... Anda ....”


 


 


“Ya, seperti yang engkau pikirkan. Kalau ia tidak bisa mencegah hal seperti ini, berarti ia bukanlah Singularity yang disebut Rhea. Kita lakukan uji coba padanya, tes kecil ini pasti akan menarik.”


 


 


Perempuan dengan gaun dan rambut basah itu melangkah ke kanan, merentangkan kedua tangannya ke samping dan berputar. Dalam senyum penuh rasa puas, ia mendongak ke atas dan terus mengambil langkah ke kanan dan kiri seakan menari-nari.


 


 


“Apa yang engkau tunggu?” Perempuan rambut ungu itu berhenti, berdiri tegak dan menatap lurus mata Laura. Sembari memasang senyum lebar ia berkata, “Ayo kita mulai persiapannya, diriku ini tak sabar ingin memastikan itu! Diriku tak sabar ingin menyaksikannya! Salah satu dari Wujud rahasia dunia ini!”


 


 


««»»


 


 


Pada lantai satu toko Ordoxi Nigrum, beberapa orang berkumpul mengerjakan tugas yang Odo berikan kepada mereka. Semua daun jati pada karung telah dibentuk menjadi wadah, ditumbuk rapi dan dibawa ke dapur oleh Isla untuk digunakan besok. Setelah selesai membuat wadah, mereka semua segera lanjut mengolah bahan makanan untuk membuat Nungget yang akan dijual nanti.


 


 


Ritta mengurus bagian penggilingan daging dan mengukusnya, sedangkan Elulu dan Isla mengolah daging yang telah lembut untuk dicampur dengan bahan lain, lalu dilapisi kuning telur dan tepung panir. Semua Nugget yang telah jadi disusun pada nampan-nampan, lalu akan disimpan ke dalam lemari pendingin di dapur supaya tahan sampai besok.


 


 


Membantu pada bagian yang berbeda, Mattari mendapat tugas untuk membuat Mayones dan saus-saus tambahan lain bersama adiknya, Sittara. Mereka berdua duduk pada salah satu meja di depan, memasukkan bahan-bahan ke dalam baskom kayu dan mengocoknya secara manual.


 


 


Berbeda dengan para perempuan yang bekerja dengan kompak dan teratur, Matius dan Totto sama sekali tidak mendapat tugas dan hanya duduk pada salah satu meja sampai teh herbal mereka habis. Mereka melamun, ingin membantu para perempuan namun tidak tahu harus melakukan apa.


 


 


Pada ruangan yang sama di lantai satu, Mavis dan Fiola hanya terdiam tanpa melempar komentar atau bahkan mengeluarkan suara untuk mereka yang bekerja. Hawa dingin yang terasa tidak membuat mereka terusik, aura tipis dari Mana yang terpancar menghangatkan tubuh setelah kehujanan. Suara gemericik dari air yang turun dengan deras, dari jendela terlihat jelas hujan sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda meski sudah lebih dari lima jam berlalu.


 


 


Bagi Mavis kebersamaan yang ada di dalam ruangan sedikit membawa rasa hangat, membuat benaknya merasakan denyut aneh dan senyuman mulai nampak pada raut wajahnya. Bagi wanita rambut pirang itu, pemandangan tersebut sedikit berbeda dengan para pelayan yang bekerja di Mansion¸ terasa sedikit keikhlasan di dalamnya dan mereka mencurahkan keringat bukan hanya karena untuk mendapat upah semata.


 


 


Di tengah lamunannya, tiba-tiba suara pintu terbuka, ia mendengar beberapa suara langkah kaki mengacaukan melodi hujan. Wanita yang duduk mengangkat kedua kakinya ke atas kursi itu segera menoleh. Mata birunya melihat putranya datang bersama beberapa orang, sekilas terkejut dan dalam benar bertanya-tanya.


 


 


Pelindung udara tak kasatmata Odo hilangkan, melangkah masuk dan berkata, “Sudah selesai membuat wadahnya, ya? Cepat juga ....”


 


 


Pemuda itu datang bersama kedua perempuan Moloia, mereka berdua berjalan masuk setelah Odo dan terlihat sedikit muram. Namun bukan hal tersebut yang membuat Mavis penasaran, melainkan Batita yang digendong putranya tersebut. Mavis tahu anak kecil yang dibawa Odo itu anak salah satu wanita yang sedang bekerja di dapur, tetapi ia tidak mengira akan melihat sosoknya menggendong anak orang lain seperti itu.


 


 


“Oh, apa Suigin bangun?” tanya Matius seraya bangun dari tempat duduk dan segera berjalan ke arah Odo.


 


 


“Hmm, dia tadi merengek di kamar, jadi aku ajak ke sini.”


 


 


“Ohoh, apa mengompol lagi?”


 


 


“Eng, kayaknya enggak. Ranjangnya gak basah, sih.” Odo menyerahkan anak kecil yang cenderung pasif itu kepada ayahnya, lalu dengan senyum tipis berkata, “Mungkin dia ingin menyusu pada ibunya.”


 


 


“Sepertinya tidak kok, Tuan.” Matius mengangkat tinggi putrinya, lalu menciumi pipi anak kecil itu dengan manja. Dengan penuh rasa bahagia pria itu rambut pirang itu berkata, “Kamu ingin bermain dengan papah, ‘kan? Suigin kecilku, muah~!”


 


 


Suigin terlihat sangat enggan. Mimik wajah anak yang biasanya terlihat malas dan mengantuk itu dengan cepat berubah memerah, matanya berkaca-kaca dan terlihat ingin menangis. Matius berhenti menciuminya saat melihat itu, menggendong anaknya dengan benar dan berkata, “Seperti memang dia ingin sama ibunya.”


 


 


 


 


“Terima kasih, Tuan.” Pria rambut pirang itu segera berbalik, berjalan ke arah dapur dan berkata, “Sayang, Suigin sepertinya kangen sama kamu! Duh, dasar manja ~ Mirip banget sama kami sih anak ini~!”


 


 


“Eh?” Isla segera mencuci tangannya di wastafel, mengeringkan dengan celemek dan keluar dari dapur. Suigin segera mengulurkan kedua tangan ke Isla, seakan memang ia lebih betah bersama ibunya dari pada ayahnya.


 


 


“Ya ampun ....” Isla segera menggendong putrinya, lalu dengan wajah mengantuk dan lemas yang khas ia berkata, “Padahal baru sebentar ditinggal ....”


 


 


Segera memalingkan pandangannya dari keluarga itu, Odo menoleh ke belakang dan menatap Di’in dan Ra’an dengan sorot mata datar. Ia sekilas menghela dan dengan nada sedikit menekan berkata, “Bisa kalian menggantikannya di dapur? Kalian sudah pernah mencobanya tadi pagi, ‘kan?”


 


 


“Membantu di dapur? Bukannya waktunya sudah sangat terbatas?” Di’in terlihat cemas, sorot matanya gelisah dan menekan, “Daripada melakukan hal tak berguna seperti ini, lebih baik kita laporan itu ke pemerintah kota! Kita harus mengevakuasi orang-orang di kota ini ....”


 


 


Odo hanya memasang ekspresi datar, sama sekali tidak mengindahkan perintahan tersebut dan berbalik menghadap kedua perempuan Moloia tersebut. Menyipitkan mata dengan tajam, pemuda rambut hitam itu menegaskan, “Sudah kubilang tadi, patuhi saja perintahku. Yang membuat situasi ini pada dasarnya adalah kalian, jangan banyak protes dan percaya saja pada perkataanku .... Kenapa ... orang-orang Moloia selalu saja cepat meragukan sesuatu? Padahal tadi sudah bilang percaya padaku. Kalian tahu, lama-lama itu menyebalkan.”


 


 


Di’in tersentak, menunduk tanpa bisa membalas. Ia merasa tidak bisa membalas perkataan pemuda itu atau melakukan sesuatu untuk menangani situasi yang ada. Memalingkan pandangan ke arah Ra’an, rekannya tersebut juga memasang ekspresi serupa.


 


 


“Baiklah ....”


 


 


Bersama Ra’an, perempuan rambut cokelat ikat kucir itu berjalan ke arah dapur dengan ekspresi muram. Melewati Odo, menundukkan kepala dan membisu dalam langkahnya. Sorot mata Odo mengikuti kedua perempuan itu melangkah, sedikit menyipitkan mata dan berkata, “Cobalah lebih menikmati kewajiban yang kalian dapat. Aku beri satu kalimat yang cocok untuk kalian ....”


 


 


Kedua perempuan itu berhenti, kembali menoleh ke arah Odo dan menatap heran. Mengangkat tangan kanannya dan menunjuk mereka, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Jangan pilih pekerjaan yang tak kalian sukai! Karena kewajiban di dalamnya adalah salah satu cara hidup, membentuk identitas kalian sendiri.”


 


 


Mimik wajah Di’in seketika terlihat kesal mendengar perkataan semacam itu, ia menatap tajam dan dengan ketus membalas, “Bicara seakan hal itu mudah! Itu perkataan orang yang dari awal sudah kuat, orang yang mampu memilih jalan dengan kekuatan mereka sendiri.”


 


 


“Apa benar begitu?” Odo berhenti menunjuk, lalu dengan seringai kecil berkata, “Apa kau benar-benar yakin beranggapan orang lemah tak mampu memilih jalannya sendiri?”


 


 


Mulut Di’in hanya terbuka, tanpa bisa mengeluarkan kalimat dan mulai menutup kembali dengan kaku. Wajahnya mulai mengerut, merasa tidak bisa menang dalam berdebat. Apa yang pemuda rambut itu katakan itu terdengar selalu benar, namun bukan berarti hal benar itu baik atau cocok untuk orang seperti dirinya.


 


 


Memilih tidak memperpanjang perdebatan, perempuan ikat kuncir itu berbalik dan pergi ke arah dapur. Ra’an tetap berdiri di tempatnya dan menatap ke arah Odo, tidak mengikuti Di’in karena merasakan hal berbeda dalam benak.


 


 


Wajahnya seakan mengharapkan sesuatu, ia mengambil satu langkah ke Odo dan bertanya, “Apa ... kau ingin menciptakan dunia seperti itu? Sebuah dunia di mana orang-orang bebas memilih jalan mereka sendiri ...”


 


 


“Bukan ....” Odo menjawab tanpa ragu, memasang senyum kecil dan menambahkan, “Aku hanya ingin memberi kesempatan untuk mereka yang ingin memilih jalan mereka sendiri. Masa depan bukanlah sesuatu yang diberikan orang lain, namun harus dicapai dengan tangan sendiri.”


 


 


Kalimatnya menyentuh benak Ra’an, membuat dada perempuan rambut pirang itu berdegup kuat. Hasrat dan cara pandang yang begitu murni, hal tersebut mulai menumbuhkan rasa kagum kepada pemuda itu. Ia memang belum bisa mempercayai Odo sepenuhnya, tetapi apa yang ingin dilakukannya itu terasa tidak terlalu buruk bagi Ra’an.


 


 


“Diriku kenal orang sepertimu.” Ra’an tersenyum kecil, seraya berbalik dan melangkah ke dapur ia berkata, “Semoga kau bisa mempertahankan idealismemu itu sampai akhir.”


 


 


Suasana menjadi canggung karena pembicaraan itu. Melihat kedua perempuan Moloia tersebut pergi ke dapur dan membantu Elulu tanpa beban sedikit pun, Isla dan Matius yang dilewati mereka sedikit menatap datar dengan raut wajah tak suka. Tidak hanya mereka, hampir semua orang di tempat tersebut merasa terganggu karena keberadaan mereka berdua.


 


 


Fiola sekilas memancarkan nafsu membunuh, mengingat kejadian saat di dermaga pada musim dingin tahun lalu. Segera bangun dari tempat duduk dan menghampiri Odo, perempuan rambut cokelat itu bertanya, “Tuan Odo, kenapa anda peduli pada mereka? Orang-orang itu dari Moloia, ‘kan? Bukannya lebih baik kita tahan dan diinterogasi?”


 


 


“Huh?” Odo memasang ekspresi tidak peduli, memalingkan pandangan dan dengan nada lelah berkata, “Sudah kubilang mereka bukan musuh. Lagi pula, kalau soal informasi yang diperlukan, itu sudah kudapat. Mbak Fiola tidak usah memikirkan hal-hal rumit, serahkan saja padaku ....”


 


 


Odo berjalan melewati Huli Jing itu, pergi ke arah salah satu meja dan mulai menyusun tiga kursi secara memanjang. Melepaskan sepatunya, pemuda rambut hitam itu membaringkan tubuh di atas susunan kursi tersebut dan menutup mata dengan lengan. Melihat itu semua orang terdiam, menatap heran akan tingkah pemuda itu.


 


 


“Kok malah tidur, sih?” Alis Fiola berkedut, sorot matanya berubah gelap dan terlihat marah.


 


 


“Aku belum tidur tadi malam ....” Pemuda itu sedikit mengintip dari balik lengan kemeja, lalu dengan nada malas berkata, “Paling tidak beri aku waktu sejam untuk istirahat. Hujan-hujan begini enak buat tidur, loh.”


 


 


Fiola tertegun mendengar itu, amarahnya seketika padam dan rasa bersalah mulai muncul dalam benak. Ia tahu pemuda itu sama sekali tidak tidur setelah melihat hasil apa yang dilakukannya semalaman. Segera melihat ke arah Mavis, Huli Jing itu terkejut ketika tahu ekspresi sendu nampak pada wanita rambut pirang tersebut.


 


 


Menurunkan kedua kakinya dari atas kursi dan menyentuh permukaan lantai kayu dengan tanpa alas, dengan suara lemas Mavis bertanya, “Bukannya lebih nyaman kalau kamu tidur di atas, Putraku? Di sana bukannya ada tempat tidur?”


 


 


Odo kembali bangun dengan raut wajah lemas, lalu segera melepas jubahnya yang berlubang dan menggunakan itu sebagai selimut. Meringkukkan tubuhnya, dengan suara berdengung ia menjawab, “Aku malas naik ke atas lagi, di sini saja tak masalah. Asal tidak berisik aku bisa tidur ....”


 


 


Mavis hanya menatap putranya, sedikit memasang senyum kecil yang mencerminkan kesedihan. Fiola tidak tahu apa yang ada dalam benak majikannya tersebut, namun yang jelas wanita rambut pirang itu sangatlah memikirkan putranya. Menarik napas ringan, Fiola kembali duduk ke tempatnya pada meja yang sama dengan majikannya tersebut.


 


 


“Terima kasih, Fiola,” ucap Mavis tanpa melihat ke arah Huli Jing tersebut.


 


 


“Tak masalah, Nyonya.”


 


 


««»»