
Perkataan itu membuat Odo sangat terkejut. Tetapi berkat pembuatan alat sihir yang diserahkan kepada Auto Senses, lingkaran sihir tidak pecah dan proses tetap berlangsung tanpa memedulikan kondisi mental Odo yang tertekan mendengar perkataan Reyah.
Odo menoleh ke arah Reyah dengan tatapan tidak percaya, matanya terbuka lebar dan mulutnya sedikit menganga. “Dua kali ...? Dunia ini kiamat dua kali?” tanyanya dengan suara gemetar. Pada saat mendengar perkataan Reyah, mimpi yang sebelumnya Odo lihat kembali terlintas dalam benaknya.
Melihat anak berambut hitam itu terbelalak dalam rasa takut yang tak jelas, Reyah mulai khawatir. Memang banyak rahasia yang tak bisa dirinya katakan pada Odo sekarang, tetapi setelah anak itu setuju membuat kontrak, Reyah merasa kalau ada beberapa hal yang boleh dikatakan pada anak itu. Mengubah posisi duduk dengan menghadap ke arah anak tersebut dari samping, Reyah berkata, “Odo ..., mungkin ini terdengar aneh .... Engkau tahu, diriku mungkin bisa menjawab semua keraguanmu selama ini. Tetapi, ada juga yang tak bisa diriku jawab ....”
“Hah, apa? Kok, tiba-tiba .... Apanya yang tak bisa? Bukan tak mau?” tanya Odo dalam rasa kacau.
“Iya ..., ada beberapa rahasia dunia yang tak boleh siapa pun tahu tentang itu. Asal engkau tidak menanyakan hal itu, diriku mungkin bisa menjawab semua keraguanmu ..., terutama tentang dunia ini ....”
Melihat Reyah lebih serius dari biasanya, Odo berhenti melanjutkan proses pembuatan alat sihir dan menghentikan perintah pada Auto Senses, lingkaran sihir yang terbentuk di atas gelang menghilang dan tanda-tanda pemrosesan struktur sihir benar-benar lenyap. Ia mengambil gelang yang diletakkan di atas lantai tersebut, lalu memasukannya kembali ke dalam dimensi penyimpanan miliknya yang ada pada Rune di atas punggung tangan kanan. Mengubah posisi duduk dengan bersila menghadap ke arah Reyah, anak berambut hitam itu menatap tajam ke arah sang Dryad seraya bertanya, “Kenapa kau tiba-tiba mau membertahu rahasiamu?”
Pertanyaan yang keluar dari Odo sangat wajar, sebelumnya Reyah mengelak karena dirinya belum mendapat posisi aman dengan membuat perjanjian dengan Odo. Meski sekarang janji itu belum ditepati, tetapi jaminan atas posisi yang diinginkan Roh Agung tersebut telah didapatnya dari anak di hadapannya tersebut.
“Itu karena engkau telah menerima diriku ini .... Engkau datang ke tempat ini lagi, meminta bantuan diriku dan saling bertukar kata seperti sekarang .... Itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk diriku membertahu rahasia yang bisa diriku ungkap padamu ....”
Mencerna perkataan tersebut, Odo mendapat beberapa spekulasi akan rahasia yang kemungkinan besar bisa memecahkan keraguannya. Meski begitu, masih ada rasa tidak percaya yang nanti keluar dari Reyah saat dirinya bertanya pada Roh Agung tersebut.
“Memang benar Reyah banyak sekali membantuku .... Tapi, dia cenderung lebih memegang kendali dan sering mengarahkan. Rasanya dia memanipulasi, dan .....”
Setelah mempertimbangkan beberapa hal, Odo sejenak menarik napas dan diam sesaat. Suasana hening, seperti sebuah ketenangan sebelum badai akan datang. Menatap Reyah dengan tanpa memedulikan wajah Roh Agung tersebut yang terlihat semakin cemas akan sesuatu, Odo melontarkan pertanyaannya.
“Kenapa kau tidak bisa memberitahukan semuanya?”
“....” Reyah tak menjawab. Dari itu, Odo menyimpulkan tiga hal yang mungkin bisa ada. Pertama, Ia memang tidak bisa menjawab karena ada belenggu atau larangan mutlak seperti halnya para Roh Agung yang tak bisa datang ke dunia nyata tanpa syarat tertentu. Kedua, ada semacam kode larangan yang membatasi Roh Agung karena rahasia yang disimpannya menyangkut sekala dunia. Ketiga, dia tidak menjawab karena memang sedang menyembunyikan sesuatu dan tidak mau membertahukannya. Memikirkan kemungkinan tersebut dari jawaban diam Dryad itu, Odo menghela napas dan mulai memikirkan pertanyaan lain untuk menyempitkan kemungkinan.
“Apa rahasia yang tak bisa kau katakan itu menyangkut para Dewa-Dewi?” tanya Odo.
“Ya, rahasia itu menyangkut para Dewa-Dewi. Lebih tepatnya, tatanan dunia, peraturan, fakta, sistem, keberadaan, serta hal-hal lain yang membangun struktur singularitas alam semesta ini ....”
“Berhubungan dengan keberadaan yang lebih superior, ya? Berarti, kemungkinan besar itu semacam kode mutlak baginya .... Semacam ketetapan .... Tidak, mungkin lebih tepatnya sebuah titah?” Kembali memikirkan berbagai hal lain, Odo menyusun spekulasi dan pertanyaan dalam pikirannya.
“Apa yang terjadi kalau kau memberitahukan rahasia itu pada orang lain?” tanya Odo.
“Diriku akan lenyap .... Lalu, penerus dari penjaga Pohon Suci akan kembali tercipta tanpa adanya unsur kepribadian diriku ini yang tersisa ....”
Odo sesaat terdiam mendengar itu. Arti dari apa yang diucapkan Reyah juga mengatakan kalau Roh Agung tersebut tak ingin menghilang, oleh karena itu Ia bersikeras untuk tidak mengatakan rahasia tersebut secara langsung kepada Odo. Melihat wajah cemas Reyah, Odo tahu kalau sekarang Roh Agung tersebut sedang tidak berbohong sekarang. Dari hal tersebut, anak berambut hitam itu mendapat pertanyaan lain untuk mencari celah dari larangan yang ada pada Reyah.
“Kalau penyampaian rahasianya selain menggunakan perkataan, apa kau akan tidak melanggar larangannya?”
“Tetap ..., diriku akan lenyap. Itu bukan semacam larangan .... Tapi ..., fakta kalau orang di sekitar diriku tahu ..., terutama engkau, maka diriku akan lenyap pada saat itu juga dan diriku yang lain akan lahir sebagai bentuk dari perwujudan Pohon Suci.”
“Tidak ada celah, ya ....”
Reyah melihat Odo dengan wajah yang perlahan kecemasannya luntur. Memasang senyum kering ke arah anak tersebut, Ia berkata, “Engkau tak perlu mengkhawatirkan diriku, tanya saja yang ingin engkau tahu .... Kalau diriku tak bisa menjawabnya, diriku ‘kan diam ... seperti sebelumnya.”
Seketika otak anak tersebut terngiang kembali perkataan gadis aneh dalam mimpi, terutama tentang orang-orang bernasib naas yang dibicarakan dalam mimpi tersebut. Kali ini Odo dapat dengan jelas mengingat kembali mimpi yang belum lama dirinya lihat itu, sebuah pemandangan dari peradaban yang hancur dan gadis aneh yang berkata sesuatu hal yang tak jelas. Merasa ada yang mirip dengan hal tersebut, Odo berusaha menyusun spekulasi untuk membuat pertanyaan yang menyempitkan kemungkinan yang membuat dirinya tidak tenang.
“Apa kita pernah bertemu? Lebih tepatnya sebelum diriku reinkarnasi ....”
“Belum .... Diriku belum pernah bertemu engkau .... Terlebih lagi, diriku tahu engkau merupakan jiwa yang direinkarnasikan karena itu sudah ditetapkan dan banyak sekali yang meramalkan hal tersebut.”
“Ditetapkan? Diramalkan? Oleh siapa?” tanya Odo dengan cepat.
“Para Dewa .... Tetapi, bukan itu yang diriku percaya. Alasan diriku yakin kalau engkau adalah sosok yang diramalkan itu adalah karena hal itu ada dalam ingatan tertua dari susunan Pohon Sakral di seluruh dunia, di sana tertulis dengan jelas kalau engkau akan lahir dan membawa perubahan bagi dunia ini ....”
“A-Apa maksudnya? Maksudmu aku sudah diramalkan akan lahir di dunia ini?” tanya Odo cemas. Wajahnya yang tenang berubah panik, dihantui perkiraan-perkiraan lain yang mengalir di dalam kepala dengan sangat cepat. Dalam hitungan detik, Odo memperkirakan lebih dari belasan kemungkinan dari apa yang dikatakan Reyah.
“Benar .... Dalam ingatan tertua tersebut, dengan kata lain, ingatan itu berasal dari masa Awal Kiamat .... Sejak saat itu, Pohon Sakral berikrar bahwa akan mengambil kembali jati dirinya dengan seorang anak muda berambut hitam yang kelak akan menjadi Raja dari segala Raja. Pada masa dimana semuanya semakin damai, penghakiman akan kembali diturunkan, dan pada saat itukah jalur takdir akan kembali dan bergerak maju ....”
“A-Apaan itu? Raja? Aku bukan Raja, tahu ....”
Reyah menatap tajam ke arah Odo. “Memang, tapi kelak engkau pasti akan mendapatkan gelar tersebut ..., itu pasti,” ucapnya dengan penuh rasa percaya.
“Kenapa kau yakin kalau aku anak yang disebutkan itu ...? Bukannya masih banyak anak berambut hitam di luar sana?” Odo berusaha mengelak, pikirannya mulai kacau dan tak ingin menerima kenyataan meskipun sedikit demi sedikit dirinya sadar akan maksud yang ada.
“Tidak ..., itu tidak perlu ditanyakan lagi, Odo. Anak yang disebut adalah engkau, dari ciri-ciri yang disebutkan dan kronologi yang ada, tidak salah lagi itu engkau. Saat engkau pertama kali datang, dirimu ragu untuk membunuh diriku ini padahal diriku serius untuk membunuhmu .... Itu sudah menjadi fakta kuat. Dalam ramalan para dewa dan yang lainnya, meski tak dikatakan waktu dan tempatnya, ada tiga persamaan mutlak .... Pertama, anak tersebut berambut hitam. Kedua, dia tak bisa membunuh orang yang tidak menentangnya .... Dan yang paling membuktikannya, engkau merupakan jiwa yang direinkarnasikan ....”
Odo tak bisa langsung mempercayai perkataan Reyah, tetapi setelah dipikir kembali, dirinya tak menemukan perkataan yang tepat untuk membantah hal tersebut. Mengingat saat dirinya merasa ragu melawan Reyah, mengingat perkataan-perkataan dari sosok yang mengaku sebagai Dewa Tertinggi saat dirinya pertama kali mati, Odo benar-benar tidak bisa membantah fakta tersebut karena dalam lubuk hatinya merasa kalau apa yang dikatakan Reyah ada benarnya.
“Re-Reyah ..., aku paham mengapa kau selalu membantuku dan alasannya juga. Ka-Karena itu ..., boleh aku tanya itu padamu? Tolong jawab dengan jujur dan jangan mengelak ..., kumohon?” Wajah Odo bertambah pucat. Ia sudah sadar jawaban dari pertanyaan yang dirinya akan ajukan, tetapi dalam benak Ia masih tidak bisa percaya kalau fakta tersebut adalah benar.
“Kalau memungkinkan, diriku akan menjawabnya ....”
“Apa itu Awal Kiamat? Jelaskan dengan rinci ..., kumohon ....”
Reyah terkejut mendengar pertanyaan tersebut karena hal itu tidak dikiranya akan keluar dari mulut Odo. Menarik napas dan menghembuskannya, Reyah menatap dengan tajam, dan menjawab, “Awal Kimat, terdiri dari dua kata dan memiliki dua makna .... Ini lebih sering digunakan oleh para Dewa dan makhluk berumur panjang, tak ada manusia atau makhluk berumur pendek yang tahu istilah ini, mereka lebih sering menyebutnya masa sebelum Peperangan Dewa dan Iblis .... Dua makna dalam kalimat ini adalah .... Awal, berarti awal dari zaman baru, menandakan sebuah awal dari tatanan semesta baru .... Kiamat ..., pada saat awal dimulai, ada sesuatu yang berakhir, dan itu adalah akhir dari Kiamat, akhir dari proses penghancuran dunia .... Dengan kata lain, zaman ketika dunia ini masih pertama kali tercipta kembali ....”
Jawaban itu memberitahukan hampir semua yang Odo ingin ketahui. Ingin membuat jelas semuanya, Odo menarik napas dan berusaha menerima kenyataan. Menatap Reyah dengan tatapan penuh ketakutan, Odo bertanya untuk membuat semua keraguannya jelas.
“Apa ..., dunia ini adalah Dunia Paralel seperti yang kukira?”
“Kurasa bukan ..., dunia ini bukanlah dunia paralel .... Dunia ini ... merupakan dunia ketiga. Engkau tahu maksudnya, ‘kan? Terlebih lagi, di luar semesta ini hanya ada kehampaan dan ketiadaan ....”
Odo sangat tahu akan hal itu, tahu, paham, bahkan sangat mengerti artinya. Dunia⸻tepatnya semesta tempatnya berada sekarang adalah semesta yang sama dengan yang dulu dirinya pernah tinggali. Tempatnya sekarang berada bukanlah dunia paralel seperti dalam komik atau novel yang pernah dirinya baca dulu. Memahami fakta itu, hal tersebut juga berati kalau dunia tempat tinggal di kehidupan sebelumnya sudah berakhir, sudah kiamat. Fakta tersebut membuat Odo tertekan, bahkan lebih dari saat dirinya diberitahu bahwa dirinya telah mati. Wajahnya memucat dan keringat dingin mulai bercucuran dan jatuh ke atas lantai kayu.
Ia memang ingin menolak fakta itu mentah-mentah, tetapi apa yang ada dalam pikirannya mencegahnya melakukan itu. Budaya, sistem pemerintahan, gelar kebangsawanan, arsitektur bangunan, dan bahkan sampai bahasa, semua apa yang dilihatnya di dunianya sekarang sangat mirip dengan dunianya dulu⸻ bahkan itu bisa dikatakan sama. Odo memang sering merasa, “Kalau memang dunia ini benar dunia yang berbeda, mengapa semuanya begitu persis?” Meskipun itu sesekali terlintas dalam benak, Ia cenderung mengacuhkannya dan hanya menganggap kalau semua itu hanyalah hal-hal yang sering ditemuinya dalam cerita pada novel atau film kartun yang sering ditonton. Faktanya hal itu bukanlah kemiripan, tetapi memang semua yang dianggapnya mirip adalah sama persis dengan apa yang ada di dunianya dulu sebelum reinkarnasi, di dunia sebelum kiamat.
“Berakhirnya semesta dan aku tinggal di semesta baru setelah kiamat .... Hah, apa-apaan ini? Bahkan cerita sci-fi yang pernah kubaca tidak separah ini ....”
Wajah Odo benar-benar terlihat pucat dan lemas, keringat dingin bercucuran, dan matanya menguning seperti orang yang kurang sehat. Stres seketika membuat anak itu kehilangan kondisi prima sampai-sampai tubuhnya yang kuat menjadi sangat terbebani. Meletakkan kedua tangan ke atas lantai dan membungkuk, menundukkan kepala, anak itu sesekali menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
“O-Odo ..., engkau tak apa? Apa lebih baik is⸻”
“Tak usah, Reyah .... Kita lanjutkan pembicaraan ini .... Kita harus melanjutkannya ..., harus ....”
Odo mengangkat kepala dan menegakkan posisi duduknya. Menatap Reyah dengan wajah pucat, anak itu kembali berkata, “Kurang lebih aku paham kalau dunia ini merupakan dunia yang sama ... dengan dunia tempatku hidup dulu ..., dan kurang lebih ini jauh ke masa depan dari apa yang kutahu .... Tapi ..., Reyah ..., duniaku itu tidak ada sihir .... Meski ada hal gaib, itu pun belum terbukti nyata, tetapi mengapa dunia ini bisa ada sihir ...? Itu sangat tidak masuk akal .... Ya ..., kalau kau menjawab itu karena mukjizat, aku tak bisa protes ....”
“Odo ..., sebaiknya engkau istirahat dulu ....” Reyah cemas, melihat darah mulai mengalir dari kedua lubang hidung anak berambut hitam di depannya. Mengusap mimisan tersebut, Odo berkata, “Jangan cemas ..., kita lanjut saja. Kumohon, Reyah .... Ini sangat penting bagiku ....”
Tatapan tajam anak itu membuat Reyah gentar, itu begitu menusuk dan membuat perasannya bergetar. Memantapkan keyakinannya kembali, Roh Agung tersebut berkata, “Baiklah ..., kita lanjutkan ....”
“Kalau begitu ..., tolong beritahu aku mengapa dunia ini ada sihir? Dan mengapa hal-hal diluar akal sehat yang kutahu ada? Monster, Roh, Iblis, dan makhluk-makhluk lainnya dalam duniaku dulu hanya fiksi dan tidak nyata .... Kenapa sekarang ....”
“Itu bisa saja karena Rekonstruksi Dunia ..... Mungkin engkau pernah mendengar teks kuno ini di kehidupanmu yang sebelumnya, ‘Jika sudah terlalu canggih, suatu teknologi tak bisa dibedakan dengan sihir atau bahkan keajaiban ....’ Dari teks kuno yang tersimpan dalam susunan Pohon Sakral tersebut, diriku berspekulasi kalau peradaban dan sihir yang ada sekarang ini merupakan perkembangan dari semesta sebelumnya yang telah hancur .... Mungkin engkau yang pernah hidup di zaman sebelum kiamat itu tahu maksud sebenarnya dari perkataan itu ....”
Apa yang dikatakan Reyah benar-benar membuat Odo membatu. Teknologi yang terlalu canggih sehingga sampai dianggap sihir, itu bukanlah gurauan atau lelucon semata. Sihir yang dirinya pelajari, pahami, dan digunakannya, Odo sadar kalau itu sedikit mirip dengan bahasa pemrograman yang pernah dipelajarinya di bangku sekolah pada kehidupannya dulu. Dari awal pembentukan lingkaran sihir yang mirip dengan skrip program, serta sampai pengaktifan sihir yang sangat mirip dengan perintah eksekusi dalam bahasa program. Mantra seperti aktivikasi suara, penerapan Rune yang mirip dengan membuat jalur elektron dalam motherboard atau papan digital, caranya membuat sihir dan berfungsinya program otomatis yang diterapkannya menggunakan pengetahuannya diri kehidupan sebelumnya sehingga terciptanya Auto Senses, kalau dilihat dari sisi lain, sesuatu yang bernama sihir memang tidak nol kemungkinannya kalau itu merupakan perkembangan sangat pesat dari teknologi yang dirinya tahu dari kehidupan sebelumnya.
Dari semua itu, pemikiran Odo mulai terpusat pada satu hal yaitu, Inti Sihir. Faktor tersebut tidak ada di kehidupannya dulu, itu menjadi hal yang membangun mengapa dunianya sekarang bisa ada hal-hal yang dulunya dianggap fiksi bisa menjadi nyata. Hampir setiap makhluk memiliki Inti Sihir, meskipun tingkatannya berbeda-beda, tetapi semuanya memiliki karakteristik sama untuk menampung dan pusat operasional Mana, yang juga faktor yang juga dulunya dianggap hal fiksi bagi Odo.
“Re-Rekontruksi Dunia ..., kau mengatakan itu tadi, ‘kan? Sebenarnya ..., apa yang ditata ulang dari dunia? Dan juga, ini dunia ketiga, ‘kan? Kalau begitu, tempatku berasal itu dunia pertama atau dunia kedua?” tanya Odo dengan tatapan yang mulai kosong. Pikirannya mulai gila karena semua fakta yang didapatnya sangat membuatnya terkejut. Hal itu bukan berarti Odo benar-benar terpukul atau apa atas fakta yang didapat, tetapi dirinya merasa terbebani atas fakta bahwa Ia adalah jiwa yang berasal dari dunia sebelum kiamat.
“....” Reyah terdiam tak menjawab pertanyaan, ada beberapa dari pertanyaan yang Odo lontarkan tidak boleh setiap orang di dunia tahu hal tersebut. “Odo ..., sebaiknya kita sudahi dulu pembicaraan ini .... Engkau ...,” ucap Reyah dengan cemas melihat wajah anak itu yang semakin pucat.
“Kenapa ...? Aku baik-baik saja. Kita lanjutkan pembicaraannya .... Kumohon, Reyah.” Odo menegakkan posisi duduknya kembali, melihat lurus Dryad itu dengan tatapan pudar.
“Odo ..., diriku paham engkau punya tubuh yang kuat, karena diriku sendiri yang sudah memberi beberapa peningkatan untuk tubuhmu itu menggunakan Bijih dan Buah Pohon Suci. Tapi, asal engkau tahu ..., ketahanan yang ada padamu hanya secara fisik yang meningkat, kondisi mental dan ketahanannya tak termasuk dalam peningkatan .... Diriku sangat paham engkau tipe orang yang sangat cerdas dan selalu berpikir cepat ..., karena itu ... pasti sekarang engkau sedang memikirkan berbagai hal sampai membuatmu stres ....”
“Sudahlah!! Aku bilang lanjutkan!” Amarah Odo yang sedang labil meledak, tatapan anak itu berubah tajam dan tekanan sihir meningkat dengan seketika. Ia merapatkan giginya, membuka sedikit mulut dan bibirnya melebar, terlihat seperti tersenyum dengan mengerikan, dan napasnya terengah-engah.
Reyah merasa ngeri melihat ekspresi itu. Ia menelan ludah dengan berat dan mengangguk setuju atas permintaan Odo. “A-Apa lagi yang ingin engkau tanyakan ..., Odo?” tanya Reyah dalam ketakutan.
“Jawab pertanyaanku tadi. Apa yang ditata ulang dari dunia ini? Apa saja yang berubah?” tanya Odo dengan suara kelam dan berat. Itu terasa bukan seperti orang bertanya, tetapi lebih mirip seperti sedang menginterogasi.
“Di-Diriku tak tahu .... Dunia sebelum kiamat sangatlah terbatas informasinya ..., mungkin engkau lebih tahu apa saja yang be-berubah di dunia ketiga ini ....”
“Dunia ketiga, ya? Jadi ..., duniaku yang dulu itu dunia ke berapa? Kedua? Pertama?”
“Ma-Maaf .... Diriku sendiri tak tahu itu .... Ya-Yang ada dalam teks kuno, engkau disebutkan hanya sebagai jiwa yang direinkarnasikan ....”
“Teks kuno .... Memangnya tugas apa yang diberikan pada anak berambut hitam yang diramalkan itu? Apa dia datang untuk menyelamatkan dunia atau semacamnya?”
“Bukan ..., dia datang tidak untuk menyelamatkan dunia. Anak berambut hitam itu hanya dikatakan sebagai Pembawa .... Tidak jelas lagi tentang dirinya ....”
Melihat Reyah selalu menjawab dalam ketakutan, Odo mengatur pernapasannya dan menenangkan diri. Tekanan sihir anak itu menurun drastis pada saat Ia mengatur napas yang terengah-engah, lalu anak berambut hitam tersebut menurunkan amarahnya dan memasang wajah tenang kembali.
“Maaf ..., Reyah. Aku menakutimu, ya ...?”
“Ta-Tak apa, Odo .... Engkau meski kesakitan ..., tapi tetap ingin tahu .... Sifat itu ..., diriku sangat suka ....”
“Kesakitan ...?”
Odo sama sekali tidak sadar kalau wajahnya menunjukkan ekspresi yang dikatakan Roh Agung tersebut. Memang anak itu sekarang sedang merasakan rasa sakit pada kepalnya sampai terasa ingin meledak, tetapi dirinya seharusnya menahan itu supaya tak terlihat pada wajah. “Apa ... itu terlihat dari wajahku?” tanya Odo.
“Ya .... Engkau sangat kesakitan .... Ekspresi yang engkau miliki mengatakan hal itu, Odo .... Sangat terpukul, tak ingin percaya, dan ketakutan ....”
Odo lekas menutup wajahnya dengan tangan, lalu menunduk dan berusaha lebih menenangkan diri. Tanpa dirinya sadari, ternyata wajahnya sudah sangat basah karena air mata dan darah mimisan, serta keringat dingin yang mengalir tanpa disadarinya.
“Kita lanjutkan, Reyah ....” Odo mengusap semua itu dari wajahnya, menyekanya dengan lengan pakaian dan kembali menatap ke arah Reyah. “Kau tadi bilang tak tahu apa yang berbeda dari dunia sebelum kiamat dan dunia ini, bukan?” tanya Odo.
“Y-Ya .... Diriku tak tahu, informasi tentang itu sangatlah terbatas. Yang diriku tahu ..., memang dulu pernah terjadi dua kali kiamat di semesta ini.”
“Apa kau yakin tidak ada dunia paralel atau semacamnya?”
“Kalau yang engkau maksud dunia paralel itu semesta yang benar-benar berbeda, jawabannya memang tidak ada. Di alam semesta ini ..., memang ada satu tatanan dunia yang terdiri dari berlapis-lapis dimensi yang juga bisa disebut dunia. Tetapi, pada saat kiamat, segalanya telah hancur ....”
“Berlapis-lapis? Apa maksudmu ada yang namanya dunia lain?”
“Tentu saja ada, memangnya sekarang engkau berada di mana?”
Odo terbelalak, kata dunia lain yang dimaksud Reyah adalah dimensi yang berbeda dan bukanlah dunia paralel yang benar-benar berbeda. Memahami hal tersebut, Odo menarik napas dan kembali memikirkan pertanyaan lain.
“Kalau begitu ..., bisa kau jelaskan susunan semesta ini? Terutama bagian dimensi.”
“Maaf ..., diriku tak bisa menjelaskan semua susunan semesta ini karena ada banyak hal juga yang masih diriku belum tahu .... Kalau Hierarki Dimensi, diriku mungkin bisa memberitahukannya padamu ....”
“Hierarki ... Dimensi? Tunggu, berarti dimensi ini bukan seperti cermin yang tertata secara horizontal dan tatanan informasinya seimbang? Tapi sebuah dimensi bertingkat dengan tatanan informasi yang berbeda?”
Dalam segi normal, dimensi atau matra itu memiliki pembangun informasi tertentu, terdiri dari panjang, lebar, tinggi, luas, dan informasi lain sebagai pembentuk sebuah dimensi. Semakin kompleks informasi yang ada, maka semakin sempurna dimensi tersebut, dimensi yang berada di luar tiga dimensi disebut juga alam metafisis atau dunia hakikat yang memiliki fundamental mengenai konsep keberadaan dan realitas. Dalam hal tersebut, masuknya konsep hierarki yang dikatakan Reyah berarti bahwa tiap dimensi memiliki kepadatan informasi yang berbeda-beda secara bertingkat.
“Hmm, benar .... Informasi yang membangun tiap dimensi di dunia ini berbeda. Bukannya engkau pernah mengalami efek dari perbedaan tersebut?”
“Efek ...?”
“Ya ..., efek hasil saat makhluk dari dimensi yang susunannya berbeda masuk ke dimensi lainnya. Engkau berasal dari dunia nyata yang pada dasarnya terdapat perbedaan kompleks dalam susunan informasi pembentuknya, karena hal tersebut ..., saat engkau masuk ke Dunia Astral, engkau langsung mengalami kontradiksi dalam beberapa informasi pembentuk keberadaan yang ada dan mengakibatkan ruang di sekitarmu mengalami distorsi yang tak wajar yang memang sudah menjadi sifat dari Dunia Astral .... Hal tersebut juga berlaku sebaliknya .... Dunia nyata adalah tempat yang bisa dikatakan lebih stabil karena secara Hierarki Dimensi berada lebih atas dari Dunia Astral. Karena hal tersebut ..., Roh yang memiliki informasi lebih kompleks tetapi susunannya lebih rendah tidak bisa mempertahankan keberadaannya lama-lama di dunia nyata ..., karena pada dasarnya strukturnya berbeda. Meski ada pengecualian seperti ada beberapa Roh tingkat rendah yang bisa hidup di dunia nyata, tetapi itu terjadi karena konsep kesadaran mereka yang lemah dan membuat Roh tingkat rendah bersatu dengan alam di dunia nyata. Alasan engkau sudah tidak mengalami distorsi saat berada di sini juga karena hal tersebut, diriku merombak tubuh dan informasi pembangun padamu untuk bisa beradaptasi di Dunia Astral ini tanpa mengubah sifat matefisis yang sudah ada pada diri engkau ....”
Penjelasan Reyah tersebut dapat dipahami dengan sangat jelas oleh Odo karena pada dasarnya dirinya juga memiliki beberapa pengetahuan tentang konsep dimensi. Menarik napas dalam-dalam dan kembali berpikir sampai keringat dingin mengucur, anak berambut hitam itu menyusun teori dalam kepalanya dan memikirkan beberapa pertanyaan lainnya.
“Reyah ..., mungkin ini menjadi pertanyaan terakhirku kali ini ..., jadi tolong jawab dengan jelas ....”
“Ya ....”
“Berapa jumlah dunia⸻ lebih tepatnya dimensi di semesta ini?”
“Eng ..., diriku sendiri tak tahu jumlah pastinya. Tetapi, sejauh ini Pohon Sakral telah tumbuh pada lebih dari 7.439 dimensi dalam Lima Besar Lapisan Dunia.”
“Haahk.” Odo sampai sesak napas mendengar itu. “A-Apa lagi itu Lima Besar Lapisan Dunia ...?” tanyanya.
“Itu adalah susunan lapisan dimensi yang memiliki informasi kompleks dan memiliki sifat mengikat dimensi lain. Lebih sederhananya, itu semacam Cluster Dimensi yang mengelompokkan dimensi menjadi kesatuan besar .....”
“E-Eeh ..., apa-apaan itu? Ada juga yang seperti itu juga?”
“Kurasa di dunia nyata juga sudah banyak yang tahu, masa engkau tidak bisa menebaknya?”
“Ya ..., kurang lebih aku tahu, tapi hanya saja .... Masih tidak masuk akal.”
“Begitu, ya .... Kalau cara pandang dari dunia nyata mungkin itu lebih sering disebut dengan Lima Dunia Utama. Terdiri dari Alam Kematian, Dunia Astral, Dunia Nyata, Kayangan, Surga, dan Arsh. Pada setiap dunia itu juga memiliki lapisan dimensi yang berbeda-beda yang jumlahnya tak sedikit .... Sebenarnya di setiap dunia juga memanggil dunia lainnya dengan cara yang berbeda-beda ..., tapi kurang lebih memang seperti itu adanya ....”
Odo langsung membaringkan tubuhnya ke belakang dan menutup wajahnya dengan lengan. Terkapar di atas lantai dengan napas terengah-engah, Ia berkata, “Sudah cukup ..., Reyah .... Hanya itu yang ingin aku tahu .... Selebihnya, aku cari sendiri nanti ....”
“Cukup ...? Cari sendiri ...? Kenapa tiba-tiba malah ....”
“Apa!? Apa kau ingin aku bertanya lagi?”
“Ti-Tidak juga .... Hanya saja ..., sepertinya rasa ragu dalam dirimu masih ....”
“Kalau begitu, memangnya kau bisa membertahu ini? Mengapa aku bisa ada di sini meski duniaku telah berakhir? Kenapa harus aku? Untuk apa aku bereinkarnasi? Apa tujuannya? Apa ini hukuman? Berkah? Atau hanya karena rasa iseng para dewa yang bosan? Kenapa aku masih bisa masih hidup!!?”
Reyah terdiam dan menundukkan kepalanya. Ia melatakan kedua tangan ke atas pangkuan, lalu memasang wajah sedikit sedih. Itu untuk kedua kalinya Odo membentaknya seperti itu.
“Kau tahu , Reyah?” Dryad tersebut mengangkat kepalanya dan mulai mendengarkan kembali. “Apa kau tahu apa yang kurasakan saat mati?” tanya Odo.
“Diriku ... tak tahu .... Bahkan diriku tidak terlalu paham konsep kematian ....”
“Saat Aku mati, aku merasa sedikit lega, sekilas aku merasa, ‘ah , ternyata mati itu tak semengerikan yang kukira, ternyata itu hanya berlangsung sekilas ....’ Tapi ... setelah itu, sialan itu malah berkata kalau aku tidak bisa masuk Surga atau Neraka. Dan yang lebih konyolnya lagi, dia malah mereinkarnasi diriku ini ke dunia yang jauh di masa depan ini seperti ini ..., dunia tanpa keluargaku dulu, tanpa teman, tanpa hal-hal ya⸻”
Odo berhenti berbicara, dirinya sendiri sadar kalau Ia tidak terlalu bersedih setelah tahu kalau dunianya dulu telah berakhir. Yang membuat Odo tertekan adalah fakta bahwa dirinya masih ada sekarang ini setelah dunia berakhir dan harus hidup di dunia barunya sekarang dengan fakta bawah dirinya merupakan orang dari dunia lama. Memang tak ada yang berubah secara drastis setelah mengetahui fakta-fakta dari Reyah, tetapi tetap saja ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa bertindak seperti sebelumnya. Masih ada rasa penasaran dan keraguan yang menyesakkan napas, memusingkan kepala, dan membuat jantung terasa sakit.
“Apa ... engkau bersedih setelah tahu keluargamu di kehidupan sebelumnya telah tiada?” tanya Reyah. Meski Roh Agung tersebut tidak paham arti dari kata keluarga, dia melontarkan perkataan itu tanpa sadar bahwa dirinya merasa tertarik dengan hal tersebut.
Odo sesaat terdiam, memikirkan matang-matang jawaban dari pertanyaan Reyah. Semakin dirinya berusaha mengingat kenangan indah di kehidupan sebelumnya, kenangan-kenangan dalam ingatannya terasa semakin pudar dan tak jelas. Menghela napas sekali, Odo menjawab, “Tidak juga ....”
Mengangkat lengan dari wajah dan mulai bangun dengan tubuh gentayangan, Odo berdiri dan menatap lemas ke arah Reyah yang masih duduk bersimpuh menghadapnya. Tatapan pada anak itu tidaklah kosong, tetapi terisi oleh sesuatu hal negatif dan terasa sangat berbeda dengan sebelumnya. Biru matanya memang terang, tetapi tatapan tajamnya seperti kegelapan yang amat tajam dan kejam.
“Reyah ..., bisa kau keluarkan aku dari sini dulu? Aku ingin pergi cari angin sebentar .... Untuk kristal sihirnya ..., kurasa itu kita bahas nanti saja ....”
Reyah tidak bisa menolak permintaan itu. Tanpa bertanya lebih lanjut apa yang ingin Odo lakukan di luar Pohon Suci, Dryad tersebut memindahkannya keluar dengan lingkaran sihir yang terbentuk tepat pada lantai yang anak itu pijak.