
Melihat gelagat ayahnya, Odo paham kalau pemberian gelar Viscount memang telah dibicarakan mereka sebelumnya dan memiliki tujuan tertentu. Pemuda rambut hitam itu menurunkan tangannya, menoleh ke arah Raja Gaiel dan merasa pria tua tersebut juga memiliki pemikiran sendiri untuk merombak susunan bangsawan yang telah ada.
Midir Martanka menarik napasnya dalam-dalam dan membusungkan dada, merasa sudah terlalu terbawa suasana dan mengatakan hal yang sebenarnya tak perlu diungkapkan di depan banyak orang. “Baiklah, saya akan meminta kejelasan hal tersebut nanti. Yang Mulia, tolong maafkan ketidaksopanan saya karena telah berkata hal semacam itu di acara sakral ini. Saya siap menerima konsekuensinya nanti ….”
Pemimpin Wilayah Garados tersebut berlutut hormat kepada sang Raja, sebagai tanda permintaan maaf karena membantah keputusannya dan membuat acara tertunda. Melihat Archduke yang sependapat dengannya dengan cepat mundur, Hietza Ilan ikut meminta maaf.
“Maafkan ketidaksopanan saya, Yang Mulia. Saya hanya mengatakan hal tersebut untuk kepentingan Kerajaan Felixia dan Wilayah Luke ….”
Dart mengendus ringan mendengar itu, seakan-akan ia menertawakan tindakan memalukan bangsawan tersebut. Namun, dirinya tidak menyampaikan apa-apa karena bidang politik bukanlah keahlian pria yang tumbuh di medan perang itu. Mavis menyikut perut suaminya, merasa tak pantas seorang Marquess menertawakan bangsawan lain seperti itu di depan khalayak.
Sang Raja menghadap ke arah Odo, lalu dengan senyum ramah berkata, “Baiklah, mari kita lanjutkan prosesi pertunangannya …. Sungguh diriku tak menduga ada yang menolak keputusan ini dengan terang-terangan. Andai mereka tahu, diriku memberikan gelar Viscount sebenarnya hanya karena ingin berterima kasih karena Putra Sahabatku telah menyembuhkan penglihatan Tuan Putri mereka.”
“Eh?” Odo segera menatap Arteria, merasa seharusnya ia telah meminta sang Putri untuk menyembunyikan hal tersebut sampai acara pertunangan selesai.
“A-Arteria diam kok, Tuan Odo! Arteria tidak bilang apa-apa soal itu, Arteria bersumpah!”
Melihat gadis itu begitu panik, Odo segera paham kalau memang sang Tuan Putri tidak pandai menyembunyikan rahasia. Meski tidak memberitahu sang Raja secara langsung, dari reaksi tersebut pasti setiap orang bisa dengan mudah mengorek informasi darinya.
“Hah, sudahlah …. Dengan ini aku paham kau tidak pandai menyimpan rahasia,” ucap Odo dengan nada sedikit kecewa.
“Eeeh? Tolong jangan seperti itu, Tuan Odo! Arteria benar-benar tidak berkata apa-apa soal itu! Mulut Arteria sangat rapat!” Tuan Putri segera melepaskan tangan Odo dan mendekat ke arah sang Raja, lalu dengan cemas ia pun bertanya, “Kenapa Ayahanda bisa tahu? Arteria tidak bilang apa-apa soal itu dan Ayahanda tidak pernah menanyakannya, bukan? Iya, ‘kan?! Arteria tidak pernah bicara soal itu, ‘kan?!”
“Bicara apa kamu ini ….” Raja Gaiel dengan lembut mengelus kepala putrinya, lalu sembari tersenyum ringan ia menjawab, “Tentu saja Ayah tahu, engkau adalah Putri yang diriku cintai. Terlalu cepat bagimu untuk menyembunyikan sesuatu dari Ayah, wahai Tuan Putri kecil.”
“A-Apa Kakanda juga tahu?!”
“Ya, tentu tahu. Ayahanda tadi sudah membicarakan hal tersebut dengan Kakak dan yang lain sebelum masuk ke aula,” jawab Pangeran Ryan.
Ia sekilas melirik tajam ke arah Arca yang berdiri di sampingnya, memancarkan permusuhan yang tak jauh berbeda dengan apa yang ia berikan kepada Odo.
“Eh!? Kok bisa seperti itu? Bagaimana ini!? Nanti bisa-bisa Tuan Odo mengambil lagi penglihatan Arteria!” ucap Tuan Putri dengan panik.
Odo memalingkan pandangan, lalu dengan nada kesal berkata, “Aku tidak akan melakukan hal kejam semacam itu, hanya saja dengan ini semuanya menjadi pasti. Lain kali, aku tidak akan memberitahu rahasia ku padamu.”
“A⸻ Tolong jangan marah, Tuan Odo. Arteria tidak memberitahu siapa-siapa, Ayahanda dan Kakanda tahu sendiri ….”
Odo menatap datar, lalu setelah membunyikan lidah ia pun berkata, “Iya, iya, aku paham kok. Sangat paham …. Hem, sangat amat paham.”
“Kalau paham, kenapa wajah Tuan Odo masih terlihat marah begitu?”
Untuk sesaat, ketegangan di antara Tiga Keluarga Bangsawan Utama mencair karena tingkah polos sang Tuan Putri. Seakan-akan mengacuhkan kejadian sebelumnya dan para tamu yang masih ada di aula.
“Ehem! Yang Mulia ….” Wolnir Yhoan mengingatkan karena merasa acara tidak bisa dimulai kalau mereka terus bergurau seperti itu.
Raja Gaiel yang terbawa suasana ceria putrinya sedikit tersentak, sesaat lupa bahwa sekarang masih dalam pertengahan prosesi. Mavis dan Dart juga merasa demikian, mereka berdua segera kembali ke sebelah keluarga Rein untuk melanjutkan prosesi pertunangan.
Melihat mereka begitu santai, sekilas kening Odo berkedut dan menghela napas kecil. Ia menggandeng Arteria, lalu mengajaknya menuju posisi dan kembali berlutut kepada sang Raja untuk memasuki acara utama.
Butuh waktu sekitar lima menit sampai suasana kembali hening dan setiap orang menundukkan kepala dengan penuh hikmat. Perhatian mereka pun mulai tertuju kepada dua orang dari Pihak Religi yang akan memimpin prosesi, seorang perempuan rambut putih dan Archbishop.
Yang akan menjadi pemegang prosesi adalah Aldrich Ophelia, perempuan rambut putih yang secara hierarki menjabat sebagai Pontiff (Paus) di Kerajaan Felixia. Tidak banyak yang tahu bahwa dirinya lah yang memegang posisi tersebut. Bahkan untuk kalangan Pihak Religi di pusa, hanya segelintir orang yang benar-benar kenal dengan perempuan yang usianya lebih dari seratus tahun dan hampir menjadi seorang Deity tersebut.
Untuk membuka, kedua orang dari Pihak Religi itu berjalan ke arah Raja Gaiel. Menggantikan sang Raja yang menyingkir ke sebelah Archbishop, Aldrich Ophelia berdiri di hadapan sang Tuan Putri. Sembari memegang tongkat perak dengan kedua tangan, ia mengangkatnya ke depan dan membunyikan timbangan di ujungnya layaknya sebuah lonceng sebanyak tujuh kali.
“Simbol ketangkasan dan keberanian, Roh Agung Penguasa Baja, Nova El Luna, lindungilah bunga yang akan mekar ini dengan berkahmu. Berikanlah ia keteguhan untuk memilih jalannya sendiri. Biarkan ia tumbuh dewasa, mendapat berkah dari Yang Agung, Roh Kudus Oddya’ia …. Yang maha pengasih, Dewi kami semua rakyat Felixia …. Oh, wahai pembimbing dan pelindung daratan Michigan. Wahai penguasa semua kota, Yang Agung Asmali Oraș Mondial, lindungilah gadis ini di mana pun ia akan melangkah. Berkahi hubungan yang akan ia jalin, semoga gadis ini bisa membentuk bahtera yang mapan dan kukuh kelak di masa depan.”
Pontiff menurunkan tongkatnya, lalu memegangnya dengan tangan satu tangan. Archbishop melangkah ke depan, berlutut kepadanya dan mengangkat cawan berisi air suci dengan taburan 12 kelopak bunga musim semi di dalamnya.
Mengambil gayung kecil yang terbuat dari kayu hitam, ia mencipratkan air suci tersebut kepada Tuan Putri Arteria sebagai berkah untuknya. Sekilas para Roh Tingkat Rendah berkumpul dalam jumlah banyak, sampai-sampai bisa dilihat oleh orang biasa.
Arteria mengangkat wajahnya, menatap sang Pontiff dan mengucapkan ikrar, “Saya, Arteria vi Felixia, dengan penuh rendah hati bersyukur atas rahmat yang telah saya dapatkan. Atas nama Ayahanda dan mendiang Ratu, dengan segenap jiwa dan raga saya akan berusaha menjaga hubungan kami. Sebagai calon Ratu Kerajaan Felixia, saya berjanji akan menunaikan kewajiban sampai akhir hayat ini ….”
Pontiff mengembalikan gayung kayu ke cawan, lalu berjalan ke arah Odo Luke dan berdiri di hadapannya. Arteria yang telah mengucapkan ikrar segera berdiri, begitu pula Archbishop yang membawa cawan berisi air suci.
Merasa ada yang janggal, Odo mengangkat wajahnya dan untuk pertama kalinya ia bertatap mata dengan Aldrich Ophelia sedekat itu. “Fase sebelum Deity?” tanya Odo mempertimbangkan ekspresi penuh keraguan perempuan di hadapannya.
Aldrich Ophelia memegang tongkatnya dengan kedua tangan, namun ia tidak mengangkatnya dan malah menundukkan kepala. Dengan risau ia pun mengungkapkan, “Sepertinya memang benar, diriku tak layak untuk memberikan rahmat atau bahkan mendoakan engkau …. Sesungguhnya, malah diriku lah yang ingin mendapatkan rahmatmu.”
Perkataan Pontiff membuat semua orang yang mendengarnya terkejut, terutama Wolnir Yhoan yang begitu paham arti dari apa yang disampaikannya. “Ja-Jadi benar, Pemuda itu orang yang disebutkan dalam Catatan Dunia …. Itu tidak diragukan lagi, Pontiff sendiri yang mengatakannya secara langsung seperti ini,” benak pria tua tersebut dengan mimik wajah perlahan tersenyum.
Odo sesaat menarik napas dalam-dalam. Perkataan yang dirinya dengar membuatnya yakin bahwa unsur keberadaan individu bernama Aldrich Ophelia memang mirip dengan sang Kaisar Urzia. Sejenak terdiam untuk mempertimbangkan situasi, pemuda itu pun bertanya, “Lapisan Akashi berapa yang telah kau capai? Konsep Semesta? Atau baru Konsep Dunia?”
“Bukan keduanya, diriku baru mencapai Konsep Manusia …. Itu pun baru sebagian saja yang diriku kuasai, karena itulah bentuk keabadian yang didapat tidaklah sempurna dan wujud fisik ini begitu rapuh. Diriku masih lah seorang Mortal.”
Mendengar jawaban tersebut, Odo sempat merasa telah mengajukan pertanyaan yang salah. Namun, dengan pembicaraan singkat tersebut ia telah memenuhi syarat Spekulasi Persepsi untuk memprediksi perkembangan pembicaraan yang akan terjadi.
Setelah mendapat beberapa kesimpulan di dalam kepala, ia sedikit memasang senyum tipis dan berkata, “Kalau begitu, lakukan saja kewajibanmu sekarang ini. Kau datang ke tempat ini mengikuti salah satu aliran takdir Catatan Dunia, ‘kan?”
Odo kembali menundukkan kepala, siap untuk didoakan seperti apa yang didapat Arteria sebelumnya.
Namun, Aldrich Ophelia masih terdiam saat melihat sosok yang memiliki pengetahuan dan pendekatan spiritual lebih tinggi darinya berlutut menundukkan kepala seperti itu. Rasa ragu yang begitu kuat tidak bisa hilang dari benaknya.
Apa yang Odo tanyakan sebelumnya adalah Lapisan Bab Pengetahuan Dunia. Bagi mereka yang meneliti dan melakukan pendekatan secara spiritual melalui Akashi Chronicles atau sering juga disebut Akashi Record, itu merupakan tolak ukur pengetahuan orang-orang yang berdedikasi mencapai Awal Mula melalui pendekatan spiritual atau teologi.
Fakta bahwa Odo menanyakan hal tersebut meyakinkan Ophelia bahwa pemuda itu memiliki pengetahuan yang lebih tinggi darinya.
“Ini terlalu berat bagiku, mendoakan sosok yang lebih tinggi⸻”
“Aku menghormati tradisi dan peraturan yang ada di Kerajaan Felixia,” potong Odo. Ia mengangkat wajahnya, lalu kembali menegaskan, “Entah apa yang kau pikirkan itu fakta atau bukan, lakukan dulu kewajibanmu sekarang. Setelah selesai barulah kau bisa memikirkan keraguanmu sepuasnya ….”
Ophelia melihat sekitar, perlahan menangkap apa yang pemuda itu ingin sampaikan kepadanya. Tatapan heran Archbishop, mimik wajah cemas Raja Gaiel, serta rasa heran orang-orang yang menyaksikan membuat Ophelia paham maksud perkataan Odo Luke.
Pada akhirnya Ophelia mengangkat tongkatnya ke atas kepala pemuda rambut hitam tersebut, lalu dengan kedua tangan gemetar mulai mendoakan, “Simbol ketangkasan dan keberanian, Roh Agung Penguasa Baja, Nova El Luna, lindungilah tulang muda ini dengan berkahmu. Berikanlah keyakinan untuknya memilih jalannya sendiri dan pasangannya. Biarkan ia tumbuh dewasa, mendapat berkah dari Yang Agung, Roh Kudus Oddya’ia …. Yang maha pengasih, Dewi kami semua rakyat Felixia …. Oh, wahai pembimbing dan pelindung daratan Michigan …. Wahai penguasa semua kota, Yang Agung Asmali Oraș Mondial, lindungilah pemuda ini selama perjalanannya menuju ke tempat harapan. Berkahi hubungan yang akan pemuda ini jalin, semoga ia bisa memimpin bahtera yang mapan kelak di masa depan.”
Odo perlahan mengangkat wajahnya, menatap sang Pontiff dan mengucapkan ikrar pertama, “Saya, Odo Luke, dengan penuh rendah hati bersyukur atas rahmat yang telah saya dapatkan. Atas nama Ayahanda dan Ibunda, dengan segenap jiwa dan raga saya akan berusaha menjaga hubungan kami. Sebagai pasangan calon Ratu Kerajaan Felixia, saya akan menunaikan kewajiban sampai akhir hayat ini ….”
Ikrar pertama diucapkan tanpa masalah. Namun saat Pontiff mengambil gayung dan menciptakan air suci kepada Odo, hal mengejutkan terjadi. Air tersebut bereaksi saat menyentuh tubuh pemuda itu, membuat keberadaan makhluk dari dimensi tingkat tinggi dalam Alam Jiwanya terpicu dan aktif.
Kornea mata Odo berubah keemasan, lalu di atas kepalanya mulai berkumpul partikel cahaya yang perlahan membentuk Halo sebagai simbol seorang malaikat.
Namun sebelum itu terbentuk dengan sempurna, Odo langsung mengayunkan tangannya ke atas kepala dan menghancurkan pembentukan lingkaran cahaya tersebut layaknya mengusir nyamuk yang berkumpul di musim hujan.
Meski simbol dari malaikat lenyap sebelum orang-orang menyadarinya, namun bagi mereka yang berada di dekat Odo dan melihatnya sadar akan hal tersebut. Hawa keberadaan dan kekuatan yang sesaat terpancar darinya, hal tersebut membuat Pontiff, Archbishop, Raja Gaiel dan Tuan Putri Arteria tampak tak percaya. Mereka baru pertama kalinya melihat ada orang yang bisa dengan mudah mengakses dimensi tingkat tinggi hanya karena terciprat air suci.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.
Tapi!
Dilarang promo di cerita ini!
Oke?
Bukannya pelit, hanya saja secara pribadi aku tidak suka orang yang suka melanggar batas-batas kebebasan dalam hal berkarya.
Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.
Di Facebook sudah ada tempat khusus.
Jadilah orang yang mencerminkan literasi tinggi, bukan tambah kayak pedagang asongan yang asal masuk ke bus.