
Odo sekilas memejamkan matanya, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga sang gadis yang memapahnya dan berbisik, “Kalau mau bicara denganku, ikuti prosedur yang ada. Kau yang seorang pemimpin paham hal semacam itu, ‘kan?”
“Karena diriku seorang pemimpin, prosedur semacam itu diriku lewati,” jawab sang gadis tanpa ragu.
Mendengar hal semacam itu, Odo menghela napas dan berhenti meminjam pundak gadis itu untuk berdiri. Pemuda itu berdiri sendiri meski hanya dengan kaki kanan karena sebagian tubuhnya masih lumpuh. Ia membungkuk untuk mengambil sarung tangan di jalan, lalu kembali memakainya.
Menghadap ke arah sang gadis, dengan tatapan dasar ia bertanya, “Kau, memangnya ingin apa datang ke sini?”
Gadis itu meletakkan tangan kananya ke depan dada, menatap dengan sorot mata kosong dan menjawab, “Alasan diriku datang ke tempat seperti ini adalah untuk engkau, membawa Unsur Hitam ke kekaisaran merupakan prioritas utama kedatanganku.”
Odo sejenak terdiam, menutup kedua telinga dengan telapak tangan dan berusaha mempercepat pemulihan sel-sel dalam tubuh dibantu dengan Auto Senses. Kembali menghela napas dan menatap malas gadis rambut hitam sangat panjang tersebut, Odo menurunkan kedua tangannya dari telinga dan kembali bertanya, “Setelah membawaku, memangnya apa yang ingin kau lakukan?”
Mengulurkan tangan kanannya ke arah Odo, dengan ekspresi datar gadis budak tersebut menjawab, “Menjadikan engkau suamiku.”
Perkataan tersebut membuat Lisia, Arca, Aprilo dan yang lainnya terkejut. Bahkan Fai Fengying dan orang-orangnya tak menduga gadis tersebut akan mengatakan hal seperti itu. Gadis budak satunya mendekat mulutnya ke telinga sang Perwira Tinggi dari kekaisaran, lalu dengan suara pelan berbisik, “Kita sudahi dulu ini, Tuan Fai. Kalau dilanjutkan, bisa-bisa Yang Mulia membunuh semua orang di sini untuk membawanya ke kekaisaran.”
“Aku juga merasa seperti itu.” Fai segera berjalan ke arah sang gadis rambut hitam sangat panjang tersebut, memegang bahunya dari belakang dan berkata, “Kita sudahi dulu, akan percuma kalau dianya tidak mau ikut kita.”
Gadis berbalut Hanfu merah tipis tersebut menoleh, memberikan tatapan tajam dan berkata, “Jangan mengganggu kami, Fai. Engkau ingin diriku bunuh sekali lagi?” Perkataan tersebut membuat Fai Fengying tersentak, segera mengangkat tangannya dari sang gadis dan melangkah mundur dengan keringat dingin mulai bercucuran.
Kembali menatap ke arah Odo, gadis rambut hitam sangat panjang itu bertanya, “Maukah engkau ikut denganku?”
Odo Luke tidak langsung menjawab, hanya menatap datar gadis di hadapannya tersebut. Ia sangat paham siapa sebenarnya makhluk di hadapannya tersebut, entah itu gelar asli yang disandangnya ataupun entitas macam apa gadis tersebut. Merasa lelah dengan semua masalah yang datang seakan tidak ada habisnya sejak kemarin, Odo sekilas menghela napas panjang.
“Apa kau masih perawan?” tanya Odo dengan sorot mata tak peduli.
Gadis itu sedikit memiringkan kepala, lalu dalam rasa heran bertanya, “Mengapa engkau menanyakan hal semacam itu?”
“Itu salah satu standarku, aku tak mau barang bekas,” jawab Odo. Cara bicaranya tersebut benar-benar seakan hanya memandang perempuan hanya sebagai properti, barang untuk dipakai dan tidak lebih dari itu.
Dengan sangat jelas gadis itu paham — Pemuda di hadapannya tersebut sama sekali tidak sedang bercanda atau berbohong soal itu, hanya menanyakannya seperti halnya bertanya pada penjual apakah itu barang bekas atau masih baru. Memasang senyum menyindir, dalam tawa kecil sang gadis menjawab, “Fu~fu~ Tak perlu cemas, diriku belum tidur dengan pria lain. Tidak seperti dirimu yang sudah pernah—”
“Kalau kekasih?” tanya Odo sebelum gadis itu menyelesaikan perkataannya.
Sekilas gadis tersebut menampakkan mimik wajah kesal, sedikit menghapus ekspresi datar yang dominan padanya. Tambah tajam menatap, gadis rambut hitam sangat panjang itu menunjuk ke arah Odo dan menjawab, “Kekasihku yang pertama dan terakhir adalah sang Kaisar Pertama.”
Odo terdiam dan memikirkan kenapa gadis itu menyebut sang Kaisar Pertama seraya menunjuknya. Sadar kalau apa yang dimaksud oleh gadis itu adalah ‘Sesuatu’ yang bersemayam dalam Alam Jiwanya, Odo memasang ekspresi heran dan kembali bertanya, “Kalau tidak salah Kaisar Pertama itu bukannya perempuan? Seingatku dia seharusnya perempuan.”
“Memangnya ada masalah dengan hal itu?”
Odo langsung tercengang dan keningnya berkedut, sekilas memalingkan pandangan dengan hela napas resah. “Dia lesbian toh,” benak pemuda rambut hitam itu seraya menggelengkan kepala. Kembali menatap ke arah sang gadis, Odo menjawab, “Tak masalah, itu hakmu. Aku tidak punya alasan untuk melarang hal semacam itu.”
“Kembali ke pertanyaan awal, apakah engkau mau menjadi suamiku?”
Pertanyaan serupa yang diajukan untuk kedua kalinya itu benar-benar mengganggu Odo, apalagi diungkapkan di tempat umum dan tepat di hadapan orang-orang yang dirinya kenal. Meletakkan telapak tangan kanannya ke atas ubun-ubun gadis itu, Odo mengusap kepalanya dan berkata, “Aku tolak tawaranmu. Coba patuhilah prosedur sebelum kau ingin bicara hal semacam itu denganku, kau seorang penguasa, ‘kan?”
Perkataan tersebut sedikit mengingatkan sang gadis dengan masa lalunya, membuat matanya sedikit berkaca-kaca dan merasakan sebuah nostalgia dalam benak. Mengangkat wajah dan menatap Odo, ia tanpa protes menjawab, “Baiklah, lain kali akan diriku lakukan.”
“Kau tidak menyerah, ya?” Odo mengangkat tangannya dari kepala gadis itu, memasang ekspresi muram dan berkata, “Aku sudah menolakmu, loh. Apa kalimatku kurang jelas?”
“Memangnya kenapa kalau engkau menolak? Dirimu ada di hadapanku, pada waktu yang sama dan ada di tempat yang bisa kugapai, memangnya alasan apa yang membuat diriku menyerah sekarang?”
Perkataan, cara pandangan dan tekad yang ada dalam mata gadis itu terlihat begitu teguh. Meski samar-samar Odo merasakan aura serta aroma seperti menatap tumpukan mayat dari ketika berdiri di hadapan gadis itu, namun perasaan murni tersebut satu-satunya hal yang membuatnya terlihat seperti makhluk hidup. Mengingat hal yang sangat mirip dengan hal semacam itu, tanpa sadar Odo bergumam, “Lord of Life and Death, Kode Khusus dengan dua digit.”
“Sudah lama diriku tak mendengar hal semacam itu.” Sembari tersenyum ringan sang gadis berjalan melewati Odo, lalu saat berdiri di sebelahnya ia sekilas berkata, “Diriku kira hanya dirinya yang menyebut Kutukan ini hanyalah sebatas susunan informasi seperti itu.”
Fai Fengying dengan tergesa-gesa mengejar gadis tersebut, begitu pula budak dan para pengawal perwira tersebut. Sekali lagi Aprilo, Arca, dan yang lainnya dibuat bingung dengan hubungan mereka yang terasa sangat aneh.
“Tunggu sebentar!” panggil Lisia menghentikan orang-orang dari kekaisaran itu.
Fai Fengying segera menoleh, lalu dengan ekspresi tergesa-gesa bertanya, “Ada apa, Nona Lisia?”
“Bisa kalian ikut saya ke kantor? Saya ingin memastikan kembali tujuan kalian datang ke kota ini. Sebagai Walikota Pengganti, saya berhak tahu rinciannya.”
Fai Fengying tidak bisa mengacuhkan permintaan tersebut, namun pria itu juga terlihat ingin segera mengejar salah satu budaknya. Gadis rambut hitam sangat panjang menghentikan langkahnya, kembali berbalik dan menatap ke arah sang Perwira Tinggi dan berkata, “Tak masalah, Fai. Ikuti saja permintaan gadis itu, diriku dan Yue Ying akan pergi ke penginapan dulu.”
“Saya ingin kau juga ikut!” ucap Lisia dengan tegas. Dari semua orang kekaisaran tersebut, dirinya merasa gadis tersebutlah yang paling harus diinterogasi terlebih dulu setelah apa yang sebelumnya ia lakukan.
“Manusia, apa kau tak sayang nyawamu?” Gadis rambut hitam sangat panjang tersebut menatap Lisia dengan sorot mata merahnya, seakan bersinar dalam kegelapan layaknya pemangsa di bawah langit malam. Budak satunya segera mengangkat rambut gadis itu yang terurai ke jalan dan menggulungnya, lalu mendekatkan mulut ke telinga dan berbisik, “Yang Mulia, saya mohon jangan membuat keributan. Tempat ini bukan Magetsu, kalau identitas Anda terbongkar bisa-bisa perang akan melebar ke Felixia ini ....”
“Memangnya diriku peduli. Kekaisaran dibentuk olehnya, karena itu segalanya harus digunakan untuk mewujudkan kehendak beliau.” Gadis rambut hitam itu membuka telapak tangannya ke arah Lisia. Aura aneh seperti pita merah mulai menjalar dari dalam lengan pakaiannya, melingkar spiral di sekitar pergelengan tangan kanannya.
“Matila—!”
“Hei ....” Odo segera berdiri di depan Lisia.
Mulut gadis budak rambut hitam tersebut tertutup rapat, menatap heran Odo yang berdiri di depan Lisia dan menghalanginya. Pemuda rambut hitam itu ikut mengulurkan tangannya ke arah sang gadis berbalut kain tipis itu, lalu dengan tatapan datar berkata, “Kau tak ingin menjadi musuhku, bukan? Turunkan tanganmu, kau pasti pernah mendengar peribahasa di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, ‘kan?”
Odo melirik ke arah Lisia, lalu dengan nada datar bertanya, “Ke mana?”
Perempuan rambut merah tersebut masih gemetar mendapat intimidasi dari sang gadis rambut hitam. Sedikit menundukkan wajahnya, Lisia menjawab, “Barak, ke barak saja.”
“Baiklah! Ayo ke barak dan selesaikan kesalahpahaman ini, saya benar-benar tak ingin cari masalah di kota ini,” ucap Fai Fengying seraya berjalan ke arah para budak berasma ketiga pengawalnya.
Lisia memegang kencang baju pemuda itu dari belakang, terasa jelas tangan kanan gadis rambut merah tersebut begitu gemetar ketakutan. Menempelkan keningnya ke punggung Odo, ia dengan cemas bertanya, “Anda juga akan ikut, ‘kan?”
“Maaf, aku ada perlu lain.” Saat Lisia berhenti memegang erat bajunya dan mengambil satu langkah ke belakang, Odo berbalik menghadap ke arah perempuan rambut merah itu dan menepuk kepalanya dua kali. “Sekarang kau pemimpin kota ini, ‘kan? Selesaikan ini dengan caramu sendiri. Kalau takut, minta saja bantuan Paman Iitla atau orang yang kau percaya di barak,” ucap pemuda tersebut sembari tersenyum ringan.
Lisia menganggukkan kepalanya dengan penuh keraguan, lalu mengangkat wajahnya dan berkata, “Baiklah, akan saya usahakan.” Menarik napas dan berusaha untuk tidak gemetar, gadis itu berjalan ke arah sang Perwira Tinggi dari kekaisaran tersebut. Seraya meninggikan suaranya Lisia berkata, “Tolong ikut saya sebentar! Kita akan ke barak!”
Gadis rambut hitam yang tetap membuka telapak tangan kanannya ke arah Odo hanya terdiam melamun, menatap penasaran ke arah pemuda rambut hitam tersebut. Menurunkan tangannya dan sekilas memejamkan mata, gadis dengan kalung rantai budak di lehernya itu bertanya, “Kenapa engkau berpura-pura seperti itu? Seharusnya dirimu bukan orang baik atau suka tinggal di tempat semacam ini, ‘kan?”
“Memangnya sejak kapan aku menjadi orang baik?”
Balasan tersebut membuat kedua mata gadis itu sekilas terbuka lebar, memasang senyum lepas dan mengendus ringan. Sembari berbalik dan melangkahkan kaki pergi dari tempat tersebut, dengan suara lepas ia berkata, “Benar juga! Diriku juga sama .... Dasar munafik.”
Bersama budak satunya dan ketiga ahli bela diri yang mengawal, mereka pergi mengikuti Lisia melewati jalan utama menuju ke arah barak. Sebelum mengikuti mereka Fai Fengying menatap ke arah Odo, membungkukkan tubuhnya dengan rasa terima kasih dan terlihat begitu lega. Tanpa berkata apa-apa, Perwira Tinggi itu segera berbalik dan mengikuti mereka untuk melalui pemeriksaan ulang.
“Padahal punya anak buah sopan begitu, tapi sifatnya malah kayak bocah,” gumam Odo seraya menarik napas lelah.
Saat ia berbalik dan hendak melangkah pergi, Arca dan orang-orang dari serikat dagang menatap ke arahnya dengan tatapan meminta penjelasan. Odo tidak memberitahukan apa-apa untuk menjawab rasa penasaran mereka, pemuda rambut hitam itu hanya menggaruk bagian belakang kepalanya dan berkata, “Kalian bisa pergi ke toko dulu, aku akan ke sana sekitar pukul 11 nanti. Ada tempat yang perlu aku kunjungi malam ini.”
Arca menatap datar putra dari keluarga Luke tersebut, benar-benar menunggunya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi dan kenapa bisa seorang Perwira Tinggi dari negeri tetangga bisa mencarinya. Namun seakan tidak memedulikan rasa penasaran tersebut, Odo malah berjalan ke arah Arca dan menepuk pundaknya seraya berkata, “Kau tidak lupa pesan bahan-bahan untuk besok, ‘kan? Kalau lupa berarti toko tutup di hari keduanya, loh.”
“Serius, Odo? Kau malah menanyakan hal yang sudah pasti seperti itu?” ucap Arca seraya melirik datar ke arah Odo. Sekilas rasa kesal bergejolak dalam benak, merasa tak mendapat rasa percaya dari pemuda yang dirinya nilai tinggi tersebut.
Sembari kembali melangkah, Odo sekilas memasang wajah muram dan berkata, “Aku juga tak tahu. Jangan anggap aku tahu segalanya, apa yang kuucapkan tadi hanya mengikuti alur mereka saja ....”
“A—! Kau tadi hanya membual di hadapannya? Kau suruh aku percaya itu?!”
Tanpa menjawab pertanyaan Arca, pemuda rambut hitam itu berjalan memasuki keramaian yang ada dan menghilang dalam kegelapan malam. Baik Arca atau Aprilo, tidak ada di antara mereka yang bisa membayangkan hubungan semacam apa yang pemuda rambut hitam itu miliki dengan salah satu Jenderal dari kekaisaran tadi.
Menggertakkan gigi dengan kesal, Arca melangkahkan kakinya dan berjalan ke arah distrik perniagaan. “Ayo, tuan-tuan! Kita selesaikan dulu urusan kita,” ucapnya dengan sedikit mangkel.
“Apa ini tak masalah, Tuan Arca?” ucap Aprilo seraya berjalan mengikuti putra dari keluarga Rein tersebut, bersama rekan-rekannya.
“Tak apa! Dia sepertinya ingin mengurus hal semacam itu sendirian sampai akhir. Kalau dia sampai mengemis minta tolong untuk masalah semacam itu, aku takkan membantunya!”
Di dalam lalu-lalang banyak orang dekat ari mancur, Odo menghentikan langkahnya dan merasa sedikit lega karena Arca tidak mendesaknya untuk menjelaskan masalah seperti itu. Dengan wajah muram putra tunggal keluarga Luke tersebut melangkahkan kakinya, merasa lelah dan jenuh karena terus menerus mendapat masalah.
Saat sampai di persimpangan jalan utama menuju ke pelabuhan, Odo berpapasan dengan Nanra dan Canna yang hendak pulang. Sebelum mereka berpisah di persimpangan tersebut karena tempat tinggal mereka berbeda, kedua perempuan itu segera menatap ke arah pemuda rambut hitam berwajah muram tersebut.
“Kamu habis apa, Odo? Kok muram begitu?” ucap Canna seraya berjalan mendekat. Perempuan rambut putih ikat kepang tunggal itu mengamati dari dekat, merasa sedikit heran dan kembali bertanya, “Dapat masalah lagi?”
“Ya, begitulah.” Odo sekilas memalingkan pandangan, menghela napas lelah dan mengeluh, “Entah mengapa ..., rasanya masalah suka sekali menghampiriku.”
Nanra ikut mendekat, menatap pemuda itu dengan ekspresi wajah mengantuk. Sembari terangguk-angguk lemas, gadis itu bertanya, “Memangnya ... masalah ... apa lagi yang kamu dapat kali ini?”
Odo dan Canna sedikit khawatir dengan gadis tersebut. Saling menatap satu sama lain dengan ekspresi cemas, Odo segera menawarkan, “Apa perlu aku mengantarnya pulang? Sekalian satu arah, aku ada perlu di sekitar pelabuhan.”
“Yah~ Padahal sayanya yang ingin diantar pulang sama Odo,” canda Penyihir Expert Tingkat Kedua tersebut. Kembali melangkahkan dan pergi, lalu melambaikan tangan kanannya sembari tertawa kecil dan berkata, “Kalau begitu Odo antar saja dia pulang, di Atelier saya juga ada perlu lain. Masih banyak tugas yang Ayahanda berikan, sih. Ngomong-omong, saya juga sudah melihat Reaktor Sihir di basement toko dan sepertinya tak terlalu sulit untuk perawatannya.”
“Ayahanda?” Nanra yang mengantuk berat samar-samar mendengar ucapan tersebut. Menatap ke arah Odo, gadis rambut putih keperakan tersebut bertanya, “Apa Kak Canna punya orang tua angkat? Dia juga yatim piatu, ‘kan?”
Odo tidak menjawabnya, hanya memasang senyum tipis untuk mengacuhkan pertanyaan tersebut. Berdiri di depan Nanra, pemuda rambut hitam itu berlutut dan menawarkan, “Ayo naik ke punggungku, akan ku gendong sampai panti asuhan.”
“Eeeh~ Aku masih kuat jalan, kok.”
Nanra memalingkan pandangannya yang sedikit buram. Kesadaran gadis itu seakan melayang-layang, tubuhnya sempoyongan dan bisa ambruk dengan mudah jika disenggol sedikit. Meski begitu, ia terlalu malu untuk digendong pemuda yang mendapat tempat di hatinya tersebut.
“Tak memaksakan diri, berdiri saja gentayangan begitu.”
“Eng, baiklah. Tapi bukan berarti aku mau gendong, loh. Kamu yang memaksa ....”
Gadis itu langsung lemas dan ambruk ke punggung Odo, lekas memejamkan matanya dan tertidur lelap dengan cepat. Odo Luke hanya memasang senyum ringan, lalu menggendong gadis itu dan segera berdiri. Setelah menghela napas ringan, ia mulai berjalan menuju panti asuhan Inkara untuk mengantarnya pulang.
“Sepertinya dia memang memaksakan diri, ya ....”
Sembari melangkahkan kaki, sekilas sorot mata Odo berubah gelap. Ia kembali merenung dan memikirkan pertanyaan gadis budak yang dilontarkan di akhir. Odo sangatlah paham kalau dirinya sendiri bukanlah orang baik, namun hanyalah seorang munafik dan pembohong besar.
“Tch!” Membunyikan lidahnya sekali, sorot matanya terlihat semakin kesal. “Bukan. Aku yang membuatnya memaksakan diri, menggunakan rasa bersalah karena telah menusukku waktu itu.,” sanggahnya pada ucapannya sendiri.