Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 63 : Aswad 10 of 15 “Unlasting Love” (Part 05)



“A ⸻‼”


 


 


Amarah dalam benak Kaisar menjadi nyata, aura merah gelap seketika berkobar di sekitar tubuhnya layaknya api pada tempat pembakaran yang meruncing-runcing. Terkena angin dari hembusan aura kematian tersebut, Kedua Jenderal kekaisaran yang sedari tadi tak terlalu paham isi pembicaraan seketika lumpuh. Mereka berdua ambruk ke tanah, lalu dengan cepat kehilangan kesadaran tanpa bisa berkata apa-apa.


 


 


“Lantas kenapa engkau menciptakannya?! Beraninya engkau menyebut penyelamatku tersebut seperti itu‼”


 


 


Aura merah gelap yang menyelimuti Kaisar dengan cepat memadat dan membentuk sebuah kerangka tulang tangan raksasa, ukuran telapaknya bisa dengan muda menggenggam orang dewasa dalam satu kepalan. Aura yang terus terpancar dari tubuh Kaisar seketika membentuk sendi, daging, lalu kulit manifestasi dari wujud tangan kematian tersebut.


 


 


Ketika proses perwujudan tersebut selesai, sebuah manifestasi tangan raksasa sepanjang empat meter dengan jelas tampak keluar dari punggung Kaisar. Kuku panjangnya mencapai 50 sentimeter dan terlihat sangat tajam, memiliki kulit merah keriput dan memancarkan partikel merah gelap yang membuat semua bentuk kehidupan di sekitarnya mati.


 


 


Semua unsur hara dari tanah tempat Kaisar berdiri seketika mati, daun pepohonan dalam radius lebih dari seratus meter dengan cepat berguguran dan ranting-rantingnya mengering. Suara-suara serangga yang sebelumnya terdengar ramai seketika tak terdengar, suasana dalam hutan seketika pada detik tersebut berubah sunyi ⸻ Hanya suara gemercik sungai yang masih terdengar mendominasi.


 


 


Odo sama sekali tidak terpengaruh. Meski semua bentuk kehidupan di dekat sang Kaisar dengan pasti kehilangan energi kehidupannya karena terserap oleh manifestasi tangan kematian tersebut, pemuda itu tetap berdiri tanpa terkena efeknya. Aitisal Almaelumat dalam kondisi pasif menetralkan partikel-partikel merah gelap, benar-benar menghapus informasi destruktif dan membuatnya hanya menjadi sebatas hembusan angin saat menyentuh kulit.


 


 


Amarah Kaisar semakin memuncak saat melihat pemuda itu malah masih berdiri dengan santainya dan masih bisa memasang senyum dingin. Kausar Mao Naraka menggerakan tangan kematian, lalu mengayunkannya secara langsung ke arah Odo.


 


 


Tetapi tanpa bisa membunuh pemuda itu, manifestasi dari wujud kematian tersebut hanya mendarat pada di atas kepala pemuda itu tanpa bisa melukainya. Kuku-kuku tajam seakan tak berarti, unsur penghapus kehidupan sama sekali tidak memberikan dampak.


 


 


Hembusan angin dari ayunan tersebut membuat partikel merah gelap tersebar semakin luas, membuat pepohonan lainnya seketika layu dan bahkan sampai membuat ikan-ikan yang berenang di sungai mati dan mayatnya terapung di pinggiran.


 


 


“Kekuatan yang disebut Lord of Life and Death itu adalah salah satu Kode Khusus yang pernah aku miliki. Mustahil ia bisa menyerang mantan tuannya,” ucap Odo seraya memegang tangan raksasa tersebut.


 


 


Tepat saat telapak tangan pemuda itu menyentuh permukaan tangan manifestasi kematian tersebut, seketika wujud fisiknya lenyap dan terurai kembali menjadi aura merah gelap yang kembali menyelimuti sang Kaisar.


 


 


Gadis rambut hitam sangat panjang tersebut seketika terperangah, tak percaya salah satu wujud puncak kekuatannya bisa dilenyapkan semudah itu. Rasa takut mulai bercampur bersama amarahnya, membuat sang Kaisar tanpa sadar mundur satu langkah.


 


 


“Se-Sebenarnya engkau ini siapa sebenarnya? Kata sosok itu, engkau adalah sosok yang ditunggu-tunggu para Iblis, didambakan para makhluk ilahi dan sosok yang ditakuti para monster. Kata dia juga, engkau adalah makhluk yang setara dengan Dewa Tertinggi! Jika engkau punya kekuatan sebesar itu, mengapa engkau tidak melakukan apa-apa dan berpura-pura menjadi makhluk lemah?! Meski kau telah datang ke dunia ini, mengapa kau hanya diam saja!”


 


 


Apa yang diucapkan sang Kaisar membuat Odo sekilas tersentak, kembali memasang wajah murung karena kesalahpahaman tersebut. Memang dirinya terlihat sangat kuat karena bisa meniadakan semua serangan selama itu bisa ditangkap oleh matanya dan dianalisis. Namun selain hal tersebut, Odo bukanlah makhluk maha kuasa yang bisa bertindak sesukanya. Batas seorang manusia masih ada pada dirinya.


 


 


Menurunkan tangan, Odo menatap datar dan menjawab, “Aku hanyalah makhluk yang disebut mereka Ayahanda, bukan makhluk yang memiliki kuasa lebih seperti para Dewa Tertinggi atau makhluk pemegang Takhta Dunia yang bisa membuat apapun sesukanya.”


 


 


“Ayah …?” Kaisar mengingat salah satu cara sosok Tak Bernama dan para Korwa memanggil pemuda pemegang Unsur Hitam tersebut.  Namun karena amarah yang sedang naik sampai otak, ia tak bisa berpikir jernih dan malah mengira kalau Odo sedang mempermainkannya.


 


 


“Jangan mengalihkan pembicaraan‼” benak Kaisar.


 


 


Odo membuka kedua telapak tangannya ke depan, memasang ekspresi datar dan dengan tatapan yang tampak hampa ia mulai menjelaskan, “Jika Ibu dari dunia adalah Dewa Sejati yang menciptakan dunia ini, maka diriku adalah Ayah dari dunia ini.”


 


 


“Ayah … dari dunia? Engkau?”


 


 


Fakta tak masuk akal tersebut membuat Kaisar tambah gemetar, sampai-sampai aura merah gelap yang menyelimutinya perlahan terurai dan terlihat seperti kobaran api kecil yang tak ganas.


 


 


Odo menurunkan kedua tangannya. Sembari berjalan menuju gadis rambut hitam sangat panjang tersebut, pemuda itu mengulurkan tangan kanannya dan berkata, “Aku pernah mencapai Awal Permulaan dan mengambil sesuatu yang bisa dibentuk menjadi dunia ini. Kau tahu kalau yang mengandung seorang anak adalah ibu, bukan? Namun sumber dari kehidupan dan apa yang membuat anak tersebut bisa ada dalam kandungan berasal dari sang Ayah. Dunia ini diambil dari salah satu bagian yang sebenarnya dimiliki jiwaku, karena itulah aku adalah Ayahanda.”


 


 


“I-Itu tak mungkin! Jangan membual hal tak masuk akal seperti itu‼ Engkau pasti hanya ingin menipu diriku!” bantah sang Kaisar. Dalam benaknya, apa yang dikatakan pemuda itu terasa begitu benar tanpa kebohongan dan pada waktu yang sama itu membawakan rasa takut kepadanya.


 


 


“Ayahanda yang mereka sebut selalu merujuk padaku, itu adalah hal pasti. Tetapi, sayang sekali aku masih bingung sebenarnya siapa yang mereka sebut Ibunda. Mungkin saja, sosok yang disebut Ibunda itu lebih dari satu.”


 


 


Satu demi satu kepingan fakta mulai terkumpul dalam kepala Kaisar. Setiap kali pemuda itu membuka mulutnya dan mengungkapkan sesuatu, Kaisar seakan dipaksakan pada kenyataan-kenyataan yang ingin dirinya hindari selama ratusan tahun dirinya hidup tanpa kehadiran sosok Tak Bernama.


 


 


“A-Apa yang engkau bicarakan? Ibunda? Ayahanda?  Apa yang engkau maksud?”


 


 


Aura marah gelap sepenuhnya hilang dari tubuh Kaisar, gadis tersebut melangkah mundur menjauhi Odo yang perlahan melangkah ke arahnya. Rasa takut benar-benar membuat gadis yang terlihat sangat rapuh itu jatuh dalam keputusasaan.


 


 


Melihat ketakutan yang terlihat jelas dalam raut wajahnya, Odo menghentikan langkah dan segera menurunkan tangannya yang terulur ke depan. Memalingkan pandangan dengan sedikit rasa sesal, pemuda itu berkata, “Maaf, kau tak perlu memikirkannya. Aku terlalu memaksakan kenyataan padamu. Meski kau telah hidup ribuan tahun, kurasa bukan berarti mentalmu bisa menerima fakta semacam itu.”


 


 


Odo menutup wajahnya dengan telapak tangan kanan, lalu menghela napas dan kembali berkata, “Ini hanya tanggung jawabku yang sudah mengambil sesuatu dari Awal Permulaan dan meninggalkannya begitu saja …. Sebagian besar ini adalah kesalahanku. Mereka membuat dunia ini dengan tidak sempurna, karena itulah dunia penuh dengan kekacauan.”


 


 


“Diriku tetap tak paham‼” Aura merah gelap kembali berpijar kuat dari raga sang Kaisar, pada saat yang sama manifestasi tangan kematian seketika terbentuk penuh. Dalam rasa bingung dan amarah yang bercampur aduk, Kaisar mengumpulkan partikel hitam di tengah telapak tangan manifestasi kematian.


 


 


“Apa yang engkau sebenarnya bicarakan?! Dari tadi engkau bicara seakan dunia pernah benar-benar Kiamat dan engkau berasal dari dunia sebelum kiamat itu‼ Sebenarnya engkau ini apa?!”


 


 


“Begitu rupanya, kau bahkan belum mendengar fakta itu dari Mahia. Sepertinya anak itu benar-benar menyembunyikan banyak hal darimu, ya?” Odo sama sekali tidak gentar melihat partikel penghancur dalam jumlah banyak seperti itu berkumpul pada satu titik. Memasang ekspresi datar seakan tidak lagi peduli pada pembicaraan, ia malah memprovokasi, “Kau tahu, Kaisar Mao Naraka …. Memangnya kau gunakan untuk apa umur panjang itu, wahai sang Deity? Obsesimu pada Mahia terlalu berlebihan, sampai-sampai tak melihat semua kenyataan yang ada di sekitarmu.”


 


 


“Kenyataan …? Kenyataan apa?” Kaisar tetap bersikukuh tak ingin menerima fakta-fakta yang diucapkan Odo.


 


 


“Kenyataan bahwa dunia ini sangat rapuh dan usianya sudah hampir mencapai ujung. Kenyataan bahwa mereka yang berkorban mati-matian menyelamatkan dunia ini selalu gagal di akhir karena kebodohan orang-orang yang tinggal di dalamnya‼ Kenyataan bahwa sebenarnya engkau dari awal telah diincar oleh Mahia dan dimanfaatkan demi membangun altar untukku muncul di dunia ini. Lalu …, kenyataan bawah Mahia itu sama sekali tak memedulikanmu atau dunia ini ….”


 


 


Semua apa yang dikatakannya itu benar-benar persis dengan apa yang dirasakan Kaisar sekarang, seakan pemuda itu memang benar-benar tahu apa yang telah dirinya lalui dengan sosok Tak Bernama. Mendengar itu dari orang yang membuatnya marah, partikel hitam yang ada di sekitar sang Kaisar semakin cepat berkumpul pada satu titik di tengah telapak tangan manifestasi kematian.


 


 


“A-Apa yang engkau bicarakan?! Kalau dia tidak peduli, mana mungkin diriku ada di sini‼ Dia adalah keluargaku! Tidak mungkin dia tidak peduli padaku!”


 


 


“Benar ….”


 


 


Odo menyatukan kedua telapak tangannya seperti sedang berdoa, postur tersebut benar-benar mirip seperti saat ia hendak masuk ke dalam mode Pseudo-God. Itu juga membuat Kaisar mengira kalau  pemuda itu benar-benar berniat untuk bertarung melawannya.


 


 


 


 


“Memang benar. Dia peduli, namun hanya untuk memanfaatkanmu! Kau tahu kota Gahon yang menjadi tempat pemanggilan Monster Iblis itu sampai sekarang tidak bisa ditempati penduduk, ‘kan? Kota itu telah berdiri selama seribu tahun lebih, dibangun oleh Kaisar Pertama sendiri! Menyiram bibit yang dimaksud Mahia adalah memberi makan Jiwaku dengan jiwa dari  para makhluk yang mati gentayangan! Dari awal Mahia dan aku hanyalah sebuah koin dengan dua sisi berbeda. Aku dan Mahia takkan pernah bisa bertemu, karena pada dasarnya kami adalah satu jiwa yang hanya berbeda sisi saja‼ Dulu jiwaku adalah bagian dari jiwanya, namun sekarang jiwanya adalah bagian dari jiwaku setelah Ritual Pemanggilan yang para Korwa lakukan! Itu hanyalah sebuah alat untuk membalik kondisi jiwa kami yang seperti koin ini‼ Ini hanya untuk tindakan egois dari jiwa rapuh itu‼ Kau hanya dimanfaatkan‼ Terima itu, dasar sialan!”


 


 


“Diam …. Tulup mulutmu …. Sudah ….” Kaisar menggelengkan kepalanya, benar-benar tak ingin menerima fakta yang Odo sampaikan. Dengan mimik wajah penuh rasa takut ia tetap membantah, “Itu …. Hal seperti itu tidak mungkin ⸻”


 


 


“Memang itu yang terjadi‼” bentaknya dengan tegas. “Faktanya adalah kondisiku sekarang! Awalnya aku kira yang bersemayam di jiwaku adalah Dewi sialan itu, tapi kalau Mahia pernah muncul di dunia ini berarti yang ada di dalam jiwaku memang dia! Dia memanfaatkanmu‼ Kalau anak itu benar-benar menyatu dengan jiwaku, berarti satu-satunya pilihan yang tersisa adalah mati!” lanjut pemuda itu dengan suara lantang.


 


 


“Ma-Mati?” Satu kata di akhir itu benar-benar tak dikira akan dilontarkan oleh pemuda tersebut. Amarahnya mulai padam, diganti dengan rasa bingung yang keluar dari mulutnya dalam bentuk pertanyaan.


 


 


“Dia ada di dalam engkau, bukankah keinginannya telah terkabul? Kenapa engkau harus mati? Bukannya itu alasan engkau menciptakannya? Untuk membuatmu kembali terlahir ke dunia ini?”


 


 


“Memangnya siapa yang ingin hidup lagi.” Odo menatap penuh amarah. Giginya mengertak, kening mengerut dan tatapannya berkobar-kobar penuh rasa benci. Menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri, mimik wajahnya dengan cepat menampakkan ekspresi menyesal dan berkata, “Mana mungkin juga aku membiarkan makhluk penuh kutukan itu tetap berkeliaran di dunia ini! Aku mengambil bagian dari Awal Permulaan untuk meninggalkan jejak di dunia yang akan terbentuk, bukan mengutuknya! Akan aku pastikan dia lenyap bersamaku bersama semua informasi itu! Saat kami benar-benar lenyap, pasti si Dewi itu akan melakukan sesuatu untuk memperbaiki dunia ini ….”


 


 


“A ⸻! Diriku tak mengerti! Kenapa kalian harus lenyap? Bukankah kalian ingin bersama dan hidup bahagia?! Sebenarnya apa yang kau inginkan? Diriku tak paham! Ia, sosok Tak Bernama itu sangat mencintaimu …. Latas kenapa … engkau malah ….”


 


 


Perkataan itu seketika membuat mimik wajah marah Odo pudar. Benar seperti yang diucapkan Kaisar, Mahia dan dirinya juga ingin hidup dengan bahagia. Namun, hal semacam itu bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan makhluk penuh dosa dari dunia sebelumnya.


 


 


“Memang benar, kami ingin hidup bahagia. Entah itu anak itu atau aku, kami sama-sama mengharapkan kebahagiaan. Mungkin Mahia akan senang selama ia bersamaku. Meski dunia porak-poranda dan dipenuhi penderitaan, anak itu pasti akan bisa tetap tertawa dan berbicara kepadaku seakan tidak terjadi apa-apa.”


 


 


“Kalau begitu kenapa? Kenapa engkau tak bisa bersamanya?! Dia melakukan banyak hal untuk kau! Dia mengorbankan banyak hal demi bisa bertemu dengan kau! Engkau juga ingin hidup bahagia sama sepertinya! Lalu kenapa?!”


 


 


“Aku bukanlah orang yang bisa mengacuhkan orang-orang saat dunia kacau!” bentak Odo. Ia dengan murka menunjuk lurus ke arah sang Kaisar, lalu dengan nada kasar berkata, “Apa yang ada padaku dan Mahia adalah Kutukan Dunia‼ Sesuatu yang berlawanan dengan Berkah milik Langit‼ Kalau kami tetap ada, dunia ini pasti akan hancur dalam waktu dekat‼”


 


 


“Diriku tak paham! Kenapa bisa seperti itu?! Kutukan? Bukannya di matamu Kutukan hanya sebatas informasi? Engkau bisa melakukan sesuatu pada hal itu, ‘kan? Engkau pasti bisa! Buktinya engkau bisa dengan mudah melenyapkan kekuatanku tadi!”


 


 


Odo kali ini hanya terdiam mendengar perkataan tersebut. Pada detik itu juga, dirinya paham bahwa hanya hidup tanpa mencari pengetahuan memang membuat seseorang menjadi bebal. Berbeda dengan Reyah, Rhea, Korwa, atau Raja Iblis Kuno yang mau menerima perkataan demi perkataan dan memikirkannya, Kaisar terkesan menolak kenyataan yang tidak diharapkan dan terus mengelak.


 


 


Menghela napas dalam-dalam dan mengambil keputusan dalam benak, pemuda itu dengan nada tak peduli menjawab, “Benar seperti katamu, itu sebatas informasi. Kutukan itu adalah virus untuk semua semesta ini. Dunia ini sudah sakit, karena itulah banyak penderitaan yang dialami penghuninya.”


 


 


“Virus?” Kaisar kembali dibuat bingung dengan satu kata tersebut.


 


 


“Unfar, sesuatu yang kalian sebut Mana …. Itu adalah kutukan yang terbawa dari dunia sebelumnya. Selama ada Mana di dunia ini, penderitaan akan selalu muncul.”


 


 


“Mana …?” Partikel hitam dengan sempurna selesai berkumpul menuju telapak tangan manifestasi kematian sang Kaisar. Namun ia tak menghilangkan pemadatan partikel penghancur tersebut, menjaganya tetap stabil. Dengan ekspresi bingung, gadis rambut hitam itu kembali bertanya, “Bukannya Mana hanyalah energi kehidupan dari makhluk hidup? Itu bisa ditemukan di mana saja, bahkan di balik batu sekalipun … Itu … dari awal ada di dunia. Kenapa bisa ….”


 


 


“Mana bisa mengubah bentuk makhluk hidup, memberi kekuatan dan membuat seseorang bisa melampaui batasnya dengan mudah. Tetapi, lambat laun apa yang diubah Mana bukanlah kekuatan fisik belaka, itu mengubah kepribadian seseorang dan jiwanya,” jelas Odo.


 


 


Pemuda itu berhenti menyatukan kedua telapak tangannya, benar-benar menghilangkan niat untuk bertarung. Memasang wajah muram, ia kembali menjelaskan, “Satu generasi tak masalah menggunakan Mana dengan metode yang kalian sebut sihir. Generasi kedua tak terlihat dampaknya. Namun setelah belasan sampai puluhan generasi, perubahan akan semakin terlihat. Engkau yang telah hidup melewati beberapa generasi pasti menyadarinya, bahwa orang-orang semakin cepat putu asa dan membawa kehancuran untuk yang lain. Jika itu berlanjut, dunia akan dihancurkan oleh penghuninya sendiri …. Itu pasti akan terjadi, kelak di masa depan yang tak jauh.”


 


 


“Siapa yang akan percaya omong kosong itu‼”


 


 


Sekali lagi sang Kaisar membantah fakta yang disampaikan Odo. Sorot matanya menggelap, lalu kembali mengumpulkan partikel merah gelap dan memadatkannya di atas telapak tangan manifestasi kematian. Dengan kukuh tak ingin mempercayai apa yang disampaikan pemuda itu, Kaisar kembali terus membantah, “Pasti engkau hanya membual karena tak ingin ikut bersama diriku ke kekaisaran! Semua yang engkau katakan itu pasti hanya sebatas bualan belaka‼”


 


 


“Tak masalah kau menganggap kenyataan ini omong kosong, tak masalah juga kau mengacuhkan hal yang telah kau dengar ini.” Odo benar-benar terlihat tak peduli. Sembari memalingkan pandangan, pemuda itu kembali memprovokasi, “Aku memberitahukan ini padamu hanya karena kau pernah dekat dengan Mahia, aku hanya ingin berterima kasih karena telah menemaninya. Tetaplah dungu sampai akhir dunia ini, wahai kaisar menyedihkan.”


 


 


“Engkau …‼”


 


 


Kaisar Mao Naraka selesai membuat objek penghapus mutlak pada telapak tangan manifestasinya. Bola padatan partikel berwarna merah gelap tersebut hanya sebesar bola pingpong, namun energi yang terpusat dan susunan informasinya benar-benar padat. Itu bukanlah sebuah anak lubang hitam seperti yang diciptakan Anti-Matter, namun lebih cenderung seperti kumpulan informasi khusus yang bisa menghapus apa saja.


 


 


Melihat itu, Odo langsung paham kalau bola energi kecil tersebut bisa dengan mudah menghapus jiwanya beserta keberadaan Mahia di dalam Alam Jiwanya. Seakan memang dari awal pembicaraan hanya untuk memancing sang Kaisar mengeluarkan salah satu kekuatan dari Kode Khusus yang dimilikinya, Odo seketika tersenyum pulas.


 


 


Pemuda itu merentangkan kedua tangannya ke samping, lalu dalam rasa lega dan lapang dada berkata, “Kau tak perlu melakukan apa-apa, kewajiban ini adalah milikku. Kau hanyalah alat yang digunakan Mahia, kembalilah ke negerimu‼ Kaisar Menyedihkan‼”


 


 


“Diam ….”


 


 


“Dasar menyedihkan …. Sungguh, kau perempuan yang menyedihkan.”


 


 


“Diam kau!‼”


 


 


Sang Kaisar langsung mengayunkan telapak tangan manifestasinya dan memukulkan padatan energi penghancur ke tubuh Odo. Tanpa menghindar sama sekali, pemuda itu malah tersenyum dan menerimanya dari depan.


 


 


Saat bola energi merah gelap tersebut menyentuh tubuhnya, seketika konstruksi fisik Odo hancur dan retakan menjalar pada setiap inci raganya. Realitas yang membuat pemuda bernama Odo Luke menjadi “Ada” seketika dihapus.


 


 


Bola berisi informasi pembongkaran itu dalam hitungan detik masuk ke dalam tubuh pemuda itu sebelum ia hancur sepenuhnya, lalu menyerang jiwa Odo dan membuat informasi pembentuk jiwanya terurai dalam seketika. Namun pada waktu kurang dari 000,1 detik sebelum jiwa Odo lenyap sepenuhnya, sebuah unsur yang ada pada Jiwa Odo menyerap informasi penghancur tersebut dan membalikkan efeknya.


 


 


Realitas milik Odo yang terhapus seketika terbentuk ulang, lalu ⸻


 


 


Segalanya.


 


 


Menjadi gelap.