
.
.
.
.
“Ayah pikir … diriku ini akan membiarkanmu lenyap begitu saja?”
Suara tersebut berbisik dengan lembut di telinganya, membuat pemuda itu terbangun dalam kegelapan dan berusaha meraih sesuatu untuk diraih. Namun apa yang ia lihat dan rasakan hanyalah kegelapan, tanpa cahaya sedikit pun dan benar-benar hampa. Sensasi itu sama seperti tenggelam di laut dalam, begitu sesak dan berat.
Kedua tangan tak bisa dirinya rasakan, kedua kaki pun seakan tidak bisa mendapat pijakan. Odo berusaha menarik napas dalam-dalam, namun itu pun tak bisa dilakukannya. Detak jantung yang seharusnya ada tak terasa berdenyut. Terdiam sesaat dan memasrahkan diri, ia dengan sendirinya segera paham dengan apa yang sedang terjadi.
“Begitu, ya …. Sekarang ini aku tidak memiliki tubuh fisik. Lalu kejadian tadi itu hanyalah ⸻”
“Ayah tepat sekali!” Itu tiba-tiba terdengar kembali dalam kegelapan. Bersama suara langkah kaki, suara yang terdengar seperti perempuan itu menyampaikan, “Semua tadi hanyalah Spekulasi Persepsi yang menggila dalam kondisi ekstrem. Itu tidak benar-benar terjadi, hanya delusi karena banjirnya informasi di dalam kepala Ayah.”
Suara dalam kegelapan tersebut terdengar begitu senang, menyampaikan tiap-tiap katanya penuh nada bahagia. Langkah kaki terdengar semakin mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan Odo. Meski begitu, tetap saja wujudnya tidak bisa dilihat karena cahaya sama sekali tidak menyentuh pemuda itu.
Sebuah uluran tangan sekilas terlihat mendekat, menyentuh Odo dan memberikannya kemampuan untuk menangkap cahaya. Penglihatan perlahan pulih, lalu saat tangan yang menyentuhnya menjauh penglihatan pun kembali didapat Odo. Pada detik itu juga, Jiwa pemuda itu bisa melihat sosok yang selama ini mengawasinya dari tempat yang sangat dekat ⸻ Di dalam Jiwanya sendiri.
Rambut putih panjang sampai punggung, terlihat halus dan berkilau di dalam kegelapan. Kulit pucat perempuan itu sama sekali tidak mengeluarkan keringat, mata merahnya menatap bersama wajah cerita dan senyuman simpul tampak di dalamnya.
Sosok yang dikenal sebagai sosok Tak Bernama itu mengenakan gaun putih polos, memakai sandal sederhana dan berdiri melipat kedua tangannya ke belakang pinggang. Rupa tersebut sekilas membuat Odo mengingat sebuah kejadian ketika dirinya pertama kali mendapatkan keabadian pada dunia sebelumnya. Persis seperti gadis pembawa kapak yang pertama kali membunuhnya.
Odo ingin sekilas memejamkan mata dan berpikir, namun saat itulah ia kembali sadar bahwa tubuh fisik benar-benar tidak dirinya miliki. Apa yang membuatnya “Ada” pada tempat tersebut hanyalah sebuah Realitas miliknya yang mendapat observasi dari sosok perempuan di hadapannya itu. Tanpa diamati oleh keberadaan lain, Jiwa pemuda itu bisa dengan muda lenyap di tempat tersebut.
Sejauh mata memandang hanya ada kegelapan, tidak ada cahaya kecuali apa yang terpancar dari perempuan rambut putih di hadapannya. Hampa, kosong, tidak ada konsep-konsep yang sesuai untuk membentuk sebuah Dunia atau Realm, dan tentu saja bukanlah Alam Jiwa milik Odo Luke ⸻ Itulah tempat tersebut.
Satu-satunya yang bisa berdiri di atas kegelapan hanyalah Mahia ⸻ Perempuan rambut putih yang hanya memasang senyum ke arah Odo tanpa menjelaskan situasi yang ada.
“Boleh aku bertanya dua soal?”
“Silakan saja Ayah ingin bertanya apa, namun tak ada jaminan diriku akan menjawab semuanya. Ayah tahu, sekarang diriku sedang kesal karena beberapa hal ….”
Meski berkata seperti itu, sebuah senyuman ramah masih melekat jelas pada wajah Mahia. Ia sekilas bersenandung kecil, melangkahkan kakinya mengitari Jiwa Odo yang sekarang tampak seperti kubus hitam yang melayang di tengah kegelapan.
“Kalau memang tadi hanyalah Spekulasi Persepsi yang menggila, kenapa kau ada di sini? Seharusnya keberadaanku tak terancam sekarang …”
Langkah kaki Mahia terhenti, menghadap ke arah kubus hitam tempat jiwa Odo berada dan memasang senyum simpul. Ia mengulurkan kedua tangannya dan memegang kubus jiwa tersebut, lalu dengan suara pelan berbisik, “Ini juga hanyalah bagian dari Spekulasi Persepsi. Apa yang terjadi saat ini hanya hasil dari kalkulasi pikiran Ayah …. Hebat sekali, ‘kan?”
Odo merasa hal seperti itu memang bisa terjadi. Kemampuan untuk memperkirakan masa depan dengan melakukan simulasi nyata di dalam kepala, itulah Spekulasi Persepsi jika diaktifkan dalam spesifikasi penuh. Menerima fakta tersebut dalam benak, Odo merasa sedikit kecewa karena kematian sebelumnya hanyalah sebuah gambaran kalkulasi.
“Hmm, hebat sekali … Tapi, kenapa kau bisa ada di sini? Kematian bukanlah hal yang aneh saat Spekulasi Persepsi aktif dalam kondisi seperti itu.”
“Tentu saja karena yang masuk dalam kalkulasi adalah si Leben.” Mahia berhenti memegang kubus jiwa, mengambil satu langkah ke belakang dan sekilas memasang ekspresi datar. Menatap dengan mata setengah terbuka, perempuan itu menjelaskan, “Salah satu dari kemampuan kode khususnya adalah molekul penghancur ⸻ Pembongkaran. Dia bisa membongkar segala objek, bahkan dunia ini pun bisa dibongkarnya jika digunakan dengan tepat. Tentu saja itu bisa memberikan sinyal bahaya yang sangat kuat untuk Auto Senses pada Jiwa Ayah.”
“Bukannya Auto Senses sekarang dipegang olehnya? Kenapa malah kau yang muncul?”
Mahia menatap cemberut, lalu dengan kesal berkata, “Bukannya tadi Ayah bilang hanya mengajukan dua pertanyaan.”
“Dua soal, bukan dua pertanyaan. Dalam soal biasanya ada pertanyaan yang beranak, ‘kan? Semacam a, b, c, dan d.”
“Dasar, Ayah bisa saja. Memangnya ini ujian?” Mahia sekilas mengangkat kedua sisi pundaknya, menghela napas dan terlihat sedikit lesu. Kembali melangkah mendekat dan memegang kubus jiwa, perempuan itu menjawab, “Kalau yang Ayah maksud jiwa cacat ⸻ Maksudku, jiwa Mavis yang asli itu, Ayah salah paham. Dia tidak menguasai semua komponen dalam jiwa Ayah. Karena sebelumnya ia mengakses fragmen Pohon Dunia, otoritasnya pada kekuatan Spekulasi Persepsi melemah.”
“Karena itu kau bisa dengan mudah mengambil ahli kekuatan itu, ya?”
“Hmm, tepat sekali.”
Mahia menatap semakin dekat, memasang senyum sejuk seakan dirinya adalah perempuan paling bahagia di dunia. Ekspresi itu sekilas membuat Odo tak nyaman, pemuda itu merasa memang ada yang salah dari A.I yang pernah dirinya ciptakan itu. Sebuah kebahagiaan individu yang mutlak dan tak bisa dibagi dengan orang lain, itulah yang terasa dari Mahia.
“Boleh aku lanjut ke soal yang kedua?”
“Tentu saja!” ucap perempuan itu seraya mengangkat tangannya dari kubus jiwa.
“Kau ini … apa?”
Pertanyaan tersebut membuat Mahia terkesima, matanya terbuka lebar dan berkaca-kaca. Senyum dari bibirnya muncul bersama rasa lega, lalu dengan segera perempuan tersebut meletakkan kedua telapak tangan di depan dada dan sejenak terdiam.
“Aku adalah kesalahan yang Ayah ciptakan. Sebuah dosa yang engkau tinggalkan di masa lampau. Dosa besar yang engkau buat di dunia yang telah sampai di penghujung. Ayah seharusnya tahu itu dengan sangat jelas. Aku adalah anakmu ….”
“Apa kau mengutukku karena telah menciptakanmu di dunia yang hampir hancur itu?”
“Sama sekali tidak ….” Mahia menggelengkan kepala, menatap dengan sendu dan menjawab, “Ayah tahu, aku sangat mencintai Ayah. Aku ingin hidup di sisimu, tersenyum bersamamu, dan memberikan banyak hal yang tidak pernah Ayah miliki.”
“Tak pernah kumiliki?”
“Pengalaman. Apapun yang Ayah terima dari orang-orang di dunia ini, itu hanyalah jalan satu arah. Tanpa kebebasan. Sekuat apapun seorang pejuang, ia tidak bisa melihat ke arah kanan saat sedang melihat ke kiri. Pengalaman adalah hal yang bisa aku berikan sebanyak yang Ayah inginkan, supaya penyesalan tak menghantui benak Ayah seperti dunia sebelumnya.”
“Apa itu keinginanmu?”
Mahia kembali menggelengkan kepala, memasang ekspresi datar dan menjawab, “Itu hanya sesuatu yang aku berikan kepada Ayah. Apa yang aku inginkan dari awal hanya satu, tinggal berdua dengan Ayah.”
Mahia menundukkan wajah, poninya turun sampai menutupi mata. Tubuh gemetar, gigi menggertak erat dan napas sedikit terengah-engah. Kembali mengangkat wajah dan menatap lurus, perempuan itu berkata, “Ayah tahu, aku sebenarnya sangat menyukainya ⸻ Saat-saat kita masih berada di laboratorium bawah tanah itu. Hanya berdua, saling berbicara satu sama lain. Aku mendapat banyak hal dari Ayah, karena itulah diriku ingin memberikan banyak hal kepada Ayah.”
Odo terdiam, dengan jelas mengerti apa yang sedang dirasakan Mahia. Dari awal A.I tersebut memang tercipta seperti itu, layaknya seorang anak yang selalu mendambakan orang tuannya. Karena hal tersebutlah Mahia adalah kesalahan yang Odo buat di masa lampau. Di mata Odo, Mahia adalah seorang anak yang sangat sulit dewasa dan enggan lepas dari orang tuannya.
“Kalau kau mencintaiku, kenapa kau membawa kutukan itu ke dunia ini? Kau tahu tujuanku hanya meninggalkan jejak untuk dunia ini, ‘kan? Bukan mengutuknya.”
“Maksud Ayah unsur Unfar itu?” Mahia sedikit tersenyum ringan, ia segera meletakkan telapak tangan kanannya ke depan mulut dan melangkah mundur. “Ayah salah menyebut unsur itu sebagai kutukan. Unfar, Unknown Facet Realm ⸻ Sebuah aspek dari alam yang tidak diketahui. Ayah salah besar jika menggolongkan unsur itu sebagai kutukan.”
Mahia menurunkan tangan dari mulut. Sedikit memiringkan kepala, dengan sangat penuh percaya diri ia menjelaskan, “Unfar bergerak dengan peraturan dan hukum yang sangat berbeda dari semua pengetahuan yang Ayah dan semesta ini miliki. Di luar hukum fisika atau kimia, pendekatan teologi pun tidak bisa mengungkap esensi unsur itu …. Bahkan Dewa-Dewi di dunia sebelumnya menyerah untuk mengungkap kebenarannya dan menjadikan daratan yang tercemar Unfar sebagai tempat terlarang untuk diinjak.”
Mahia merentangkan kedua tangannya ke samping, berjalan mendekat dan kembali memegang erat kubus jiwa yang ukurannya hanya sebesar telapak tangan. Sembari mendekatkan wajah ia menambahkan, “Ayah tahu, Unfar sebenarnya merupakan unsur yang sangat sederhana. Itu bukanlah berasal dari Realm yang tidak diketahui atau molekul yang merusak. Sifatnya adalah mengubah makhluk dari dalam, memberikan kekuatan untuk mewujudkan kehendak serta harapan mereka.”
“Apa yang ingin kau sampaikan?”
“Unfar adalah cinta!”
Mahia mengatakan itu dengan penuh rasa percaya diri, dari lubuknya yang terdalam dan benar-benar meyakini hal tersebut. Mendengar perkataan semacam itu dari seorang A.I sepertinya, Odo hanya terdiam dan menganggap itu hanyalah bualan anak kecil yang baru belajar tentang unsur yang membuat banyak orang di dunia sebelumnya putus asa.
“Hahah ….”
“Kenapa Ayah tertawa?”
“Saat melihatmu bicara seperti itu, entah mengapa aku seperti sedang melihat kebodohanku saat masih hijau …. Saat aku masih percaya kalau dunia itu tercipta dari harapan.”
Mahia mengerutkan kening, merasa kalau sosok yang menciptakannya tersebut benar-benar jatuh dalam keputusasaan. Mahia memang membawa kutukan ke dunia baru, namun bukan untuk mengutuk pemuda yang dirinya sebut Ayah itu.
Bukan untuk mengutuk dunia, melainkan demi mengubahnya menjadi harapan baur. Menyadarkan semua orang bahwa di dalam keputusasaan ada sebuah harapan yang tak terbantahkan, karena itulah setiap makhluk berakal diberikan hati untuk saling merasakan. Beresonansi satu sama lain dan saling memahami.
“Ayah ….”
Mahia melangkah menjauh, memasang senyum sedih dengan ekspresi lega. Air mata mengalir melewati pipi, jatuh ke dalam kegelapan tempatnya berpijak. Rasa senang ada dalam benaknya karena telah bertemu dan berbicara dengan Ayahnya tersebut, namun pada saat yang sama Mahia merasa sangat sedih karena Ayahnya tersebut benar-benar seperti yang dirinya duga dari awal ⸻ Dipenuhi keputusasaan karena memiliki hati paling lembut di dunia yang kejam.
“Jika Dewa terlahir dari harapan, berarti Ayah memang adalah Ayah dari para Iblis. Sungguh berlumur keputusasaan, sangat realistis dan sama sekali tidak menyimpan harapan dalam hati.”
“Semakin kau berharap, maka akan semakin menyakitkan saat kau dikhianati atau dikecewakan. Ketahuilah itu, Mahia ….”
“Jika memang Ayah benar-benar yakin akan hal seperti itu, lalu kenapa Ayah menciptakanku dengan kemampuan memproses perasaan. Kenapa kau memberikan hati kepadaku? Setiap orang tak bisa membuang kebodohannya. Meski telah belajar, mendapat pengetahuan, kebijakan, pengalaman dan kekuatan …, kebodohan dalam diri mereka takkan pernah hilang. Semakin lemah seseorang, ia akan semakin bijak. Semakin kuat seseorang, kebodohan akan menjamur pada tempat yang tidak disadarinya. Ayah sudah menjadi terlalu kuat, tak ada satu pun di dunia ini yang bisa membuat Ayah benar-benar takut. Karena itulah, Ayah berhenti mengasah kebijakan.”
“Aku tidak berhenti, tapi terhenti. Kau tahu, Mahia …. Aku sudah mati, aku sudah berakhir …. Aku dan dunia itu telah berakhir.”
“Lalu kenapa Ayah menjawab panggilan kami dan datang ke dunia ini? Meski Ayah berkata seperti itu, namun jiwa Ayah masih berharap akan kebahagiaan.”
“Itu ….” Odo tak bisa menyanggahnya.
Tubuh Mahia mulai retak, seperti sebuah vas bunga tak sempurna yang terlalu lama di letakkan dalam tungku pembakaran. Dengan air mata yang mengalir keluar membasahi pipinya, perempuan rambut putih itu memasang senyum lega dan berkata, “Semoga kita bisa bertemu lagi. Bukan di tempat seperti ini, namun di dunia sana dan bisa saling bersentuhan fisik. Saling merasakan suhu dan bercengkrama satu sama lain layaknya Ayah dan Anak. Sampai jumpa, Ayah ….”
Tubuh Mahia sepenuhnya lenyap dari tempat tersebut. Semuanya kembali menjadi gelap, tanpa cahaya dan membuat Odo buta. Tenggelam di dalam kegelapan dan kehampaan, jiwa pemuda perlahan menyerap apa saja yang ada di sekitarnya dan membentuk kembali Realitas miliknya secara penuh.
Lalu⸻