
Sebagai Imam Utama, Andreass Rein juga tidak memiliki wewenang untuk melarang setiap kalangan atas itu. Ia hanya bisa membiarkan dan memilih untuk tidak memperburuk hubungan Pihak Religi dengan Pemerintah Kota.
Di antara mereka, Nanra dan Kirsi juga ikut serta di dalamnya setelah berganti pakaian di dalam Gereja Utama. Berbaur bersama dengan orang-orang puritan, mereka menyantap makan siang dengan lahap setelah berendam di dalam air cukup lama.
Lantunan alat musik tradisional kembali terdengar dan pesta kecil tersebut berlanjut sampai matahari akan turun nanti. Di tengah keramaian, Nanra sekilas menatap ke arah atap Gereja Utama dan merasa ada seseorang yang mengawasinya dari sana.
Tidak melihat apa-apa, gadis itu hanya tersenyum kecil dan kembali menemani Kirsi yang masih terlihat gugup dengan karena belum terbiasa dengan lingkungan barunya. Tidak seperti tempat lama Kirsi, tempatnya berdiri sekarang terpapar langsung oleh sinar matahari dan dirinya bisa berdiri tegak tanpa menundukkan wajah.
Di luar keramaian Gereja Utama, Odo Luke berdiri di atas anak tangga menuju tempat tersebut. Sekilas ia memasang senyum tipis, terlihat lega karena kedua anak perempuan yang bekerja di tempatnya melakukan pembaptisan tanpa masalah.
Sembari menuruni anak tangga, ia membuka telapak tangan kanannya dan dengan sorot mata datar ia pun bergumam, “Syukurlah, tanpa ku mereka pasti baik-baik saja …. Sekarang tinggal dua hal lagi yang perlu aku cek …, sebelum menghadapi masalah utama.”
Telapak tangan kanannya mengeluarkan cairan biru bercahaya, mengalir ke anak tangga dan dengan cepat menggenang. Saat menginjak anak tangga dimana air tersebut berkumpul, seketika sosok pemuda itu hilang dari tempatnya tanpa ada satu pun yang menyadari kehadirannya.
.
.
.
.
Pelabuhan Kota. Saat matahari hampir mencapai puncak, keramian orang di sekitar dermaga mulai memudar. Hanya ada beberapa penjual ikan asongan yang masih terlihat menggelar lapak kecil mereka. Para pengepul kebanyakan telah pergi ke pasar utama untuk menjual hasil laut, sedangkan nelayan-nelayan pulang untuk berangkat lagi ke laut saat malam nanti.
Selain para pedagang kecil yang menjual hasil laut sisa yang tidak terlelang atau dibeli pengepul, terlihat beberapa buruh kasar yang sedang menatap hasil laut pada gudang-gudang yang berjajar di daerah pelabuhan. Barisan gudang tersebut ada yang milik serikat nelayan, serikat dagang, pemerintah, dan ada juga yang milik pribadi.
Di antara jajaran tersebut, ada sebuah gudang baru yang merupakan milik Perusahaan Umum Ordoxi Nigrum. Dari luar bangunan tersebut memang tak jauh berbeda dari gudang-gudang di sekitarnya, dominan terbuat dari kayu dan batu bata yang kukuh. Namun meleihat masuk ke dalam memalui pintu geser, sebuah penataan unik dapat terlihat jelas.
Di dalam memiliki sekat-sekat kayu dan membagi gudang luas tersebut menjadi beberapa ruang, terdiri dari tempat produksi, penyimpanan dan pencatatan. Dalam tata letak yang dipakai, bagian tengah gudang adalah koridor di antara sekat-sekat, lalu bagian penyimpanan berada paling depan dan di belakangnya adalah pencatatan. Untuk produksi, itu diletakkan pada satu ruang di bagian paling belakang.
Struktur tersebut berfungsi untuk mempermudah keluar masuknya barang. Untuk bagian pencatatan, itu berada di tengah karena hasil produksi harus melalui pendataan terlebih dahulu sebelum disimpan atau diperjualbelikan.
Sumber cahaya pada tempat tersebut adalah lampu-lampu kristal yang menggantung di plafon kayu. Tidak seperti gudang pada umumnya, langit-langit tempat tersebut ditutupi kayu hitam dengan ukiran struktur sihir yang mengalirkan sumber tenaga ke alat-alat sihir yang berada di tempat tersebut.
Canna yang baru selesai melakukan penyetelan alat sihir keluar dari ruang produksi di ujung gudang, menurunkan lengan jubahnya dan sejenak menarik napas lega. Mengingat tempat tersebut belum beroperasi, tidak ada orang lain selain dirinya. Meski begitu, penyihir dengan warna rambut putih mencolok tersebut merasa tidak sendirian karena roh tingkat rendah tersebar di penjuru ruangan. Terperangkap dalam struktur sihir bagaikan labirin bagi mereka.
Kembali menoleh ke ruang produksi, di dalam sana terlihat beberapa mesin semi-otomatis yang sumber tenaganya dari Reaktor Sihir yang hampir mirip dengan apa yang ada di toko. Perbedaan Reaktor Sihir yang dipasang di gudang hanya ada dua, yaitu tempat dan jangkauan strukturnya.
Reaktor Sihir di tempat tersebut dipasang pada loteng gudang dan strukturnya dibentuk seperti akar terbalik, menjalar dari pusat pada bagian atas ke mesin-mesin di bawah. Dalam jangkauannya, itu tidak bisa mencapai seluruh bagian gudang karena tempatnya terlalu luas dan hanya berfokus pada ruang produksi. Karena hal tersebut, lampu-lampu kristal hanya dipasang tempat di atas ruang produksi dan tiap sekat tidak memiliki atap penutup.
Apa yang nanti dibuat di dalam ruang produksi sendiri adalah olahan hasil laut dari ikan, kerang, sampai udang. Mesin-mesin semi-otomatis di tempat tersebut merupakan alat penggiling daging, berjumlah empat buah. Desainnya sederhana seperti alat penggiling daging yang ada di toko, namun ukurannya lebih besar dan diletakkan menyatu dengan dinding gudang yang memiliki konektor benang-benang kuarsa yang dibungkus kulit hewan dan terhubung dengan Reaktor Sihir.
Selain alat penggiling, di tempat produksi terdapat juga sebuah meja memanjang dengan tempat duduk yang menyatu untuk tempat pengolahan daging giling menjadi produk hasil laut. Pada salah satu sudut ruang juga terdapat sekat tambahan untuk dapur.
Kompor yang diletakkan di sana pun menyatu dengan dinding dan bentuknya sama dengan apa yang ada di toko, namun lebih besar dan dikhususkan untuk merebus serta mengukus. Lalu di atas kompor tersebut, terdapat pipa logam penghisap asap yang terhubung dengan cerobong asap di luar.
Produksi utama dari olahan gudang tersebut tidaklah hal yang spasial, namun mengutamakan konsep cepat saji untuk disajikan, tahan lama dan tentu berbahan utama hasil laut. Dalam proses produksi hanya memerlukan tenaga kerja sekitar lima orang, harus memiliki pengalaman dengan dapur dan bisa menggunakan alat masak. Selain itu, tidak diperlukan kemampuan atau pengetahuan lain.
Canna menatap bingung, penasaran dengan apa yang ingin Odo buat dengan ruang produksi tersebut. “Olahan yang cepat saji dan tahan lama, terbuat dari bahan laut. Memangnya ada masakan di Felixia yang seperti itu,” gumam penyihir tersebut sembari meletakkan tangannya ke depan mulut dan berpikir.
Ia sedikit mengangkat jubah, lalu berjongkok di depan ruang produksi dan memikirkannya. Mengamati tiap mesin yang ada, tata letak sampai alat-alat dapur yang disediakan. Tidak bisa menebaknya, perempuan rambut putih tersebut kembali berdiri dan bergumam, “Apa itu masakan dari dunia sebelumnya? Menu di toko juga tidak pernah diriku dengar di mana pun.”
“Tidak juga, makanan-makanan seperti itu seharusnya ada di Moloia.”
“Kyaa‼” Canna seketika kaget dan meloncat ke dalam ruang produksi. Ia segera bangun dan menoleh panik, menatap kecut dengan kening dikerutkan. “Ke-Kenapa Ayahanda malah ada di sini?” tanyanya dengan gemetar. Menarik napas dalam-dalam, perempuan itu berusaha tenang.
Pemuda yang tiba-tiba datang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Odo, ia terlihat sedang memegang sebuah perkamen dengan tangan kanannya dan menatap ramah. Sembari tersenyum ringan ia pun menjawab, “Hanya checking. Meski gudang ini harganya lebih murah, tapi untuk semua furnitur di dalamnya sangat mahal. Mana mungkin aku tidak melakukan kontrol ....”
Pemuda itu berjalan masuk, melihat memindai barang-barang yang ada di dalam ruang produksi dan memastikan apa yang tercantum dalam perkamen ada semua di tempat tersebut. Melihat Odo tidak bisanya memegang catatan seperti itu, Canna sedikit penasaran dan mendekat untuk melihat isinya.
“Eng?”
Kening Canna seketika mengerut, terlihat bingung dengan isi kertas perkamen yang hanya ada urutan angka yang terlihat acak semua. Tidak sempat menanyakan hal tersebut, Odo menggulung perkamen dan memasukkannya ke dalam dimensi penyimpanan pada sarung tangan.
“Semuanya sudah dikirim, Pak Tua itu memang bisa diandalkan soal urusan ini. Orang yang mendalami bidangnya dan menjadi profesional memang berbeda,” gumam pemuda itu sembari meletakkan kedua tangannya ke pinggang.
“Yang melakukan penyetelan Sirkuit Sihir dan sirkuitnya itu saja, loh.”
“Hmm ….” Odo berbalik ke arah Canna, meletakkan tangan kirinya ke atas kepala perempuan itu dan mengusap dengan lembut. “Kerja bagus, penyihir Expert Tingkat Kedua memang jago,” pujinya sembari tersenyum.
Mendapat pujian yang terdengar tak tulus tersebut, kening Canna semakin mengerut namun dirinya tidak bisa menolak saat kepalanya diusap. Sembari memalingkan pandangan ia mengeluh, “Sanjungan terus Ayahanda berikan, tak pernah diriku diberi hadiah. Rasanya seperti diperas doang!”
“Makanya nanti malam aku ke Lokakarya Hulla. Apa Mbak Luna dan adik tingkatmu ada juga di sana nanti malam?” tanya Odo sembari mengangkat tangannya dari Canna.
“Hmm, mereka ada di sana. Saat diriku sampaikan teori-teori dari Ayahanda, mereka juga tertarik dan katanya ingin diskusi bersama. Kurasa tidak masalah kalau mereka ikut diskusi, ‘kan?”
Namun tidak memiliki tempat lain untuk berdiskusi hal-hal semacam itu, Odo mengangguk dan berkata, “Tak masalah, nanti sekitar pukul delapan atau tujuh aku akan ke sana.”
Mengambil satu langkah dan berputar, perempuan rambut putih tersebut dengan ketus berkata, “Jangan telat, loh.”
“Akan ku usahakan.”
Odo berjalan keluar dari ruang produksi, lalu menatap keluar pintu geser ⸻ Melewati perahu-perahu yang berlabuh dan memandang jauh ke arah lautan. Sekilas ia menghentikan langkah dan terdiam, terlihat sedang memikirkan sesuatu dan membisu.
“Ayahanda, ada apa?” tanya Canna setelah menutup pintu sekat ruang produksi.
“Tak apa ….” Pemuda itu berbalik menghadap Canna, lalu setelah memikirkan hal lain ia bertanya, “Omong-omong, apa kau punya kenalan untuk diajak bekerja di tempat ini? Meski Arca atau Totto berhasil mengajak imigran gelap, aku tidak bisa mempercayakan tempat ini kepada mereka.”
Sembari memiringkan kepalanya dan menatap heran Canna bertanya, “Bukannya Ayahanda ingin mempercayakan urusan di sini kepadaku?”
“Yah, memang.” Odo sekilas memegang leher bagian sampingnya sendiri, lalu setelah menghela napas pemuda itu berkata, “Tapi kalau dipikir lagi, kurasa itu terlalu berat. Berarti kau akan bekerja di bagian arsip toko dan tempat ini.”
“Ayahanda bisa menyerahkan arsip toko kepada Nanra. Kalau pun terasa terlalu berat untuk anak kecil, perintahkan saja Elulu untuk membantu.”
Odo sejenak terdiam, paham hal masuk akal yang disampaikan Canna dan dirinya juga telah memikirkan hal tersebut. Apa yang pemuda itu cemaskan adalah hal lain. Menarik napas sejenak, ia menatap datar dan kembali bertanya, “Kau penyihir, ‘kan? Bekerja seperti ini hanya selingan untuk mengumpulkan dana penelitian, bukan? Aku ingin pekerja yang punya waktu luang.”
“Jangan-jangan aku dipecat, nih?!”
“Bukan!” Kedua alis Odo sekilas berkedut saat mendengar gurauan tersebut. Kembali berbalik dan melangkah ke arah pintu utama gudang, pemuda itu menjelaskan, “Kau datang ke kota ini untuk mencari dana penelitian, ‘kan? Kelak kau akan kembali ke Miqutor untuk lanjut menuntut ilmu, bukan? Kalau begitu, aku tak bisa membuatmu tertahan di sini. Kau harus melanjutkan pendidikan dan menjadi penyihir hebat.”
Canna mempercepat langkah dan berjalan di sebelah Odo. Sembari menoleh ke arah pemuda itu, penyihir rambut putih tersebut bertanya, “Apa Ayahanda sedang berlagak sebagai orang tua lagi?”
Langkah kaki Odo kembali terhenti sebelum sampai pada pintu utama, begitu pula Canna. Menatap ke arah salah satu sosok Korwa di sebelahnya, pemuda itu dengan nada sedikit ragu menjawab, “Itu benar …, paling tidak aku ingin melakukan hal layaknya orang tua untukmu. Kalau kau Korwa, berarti kau memeriksa salinan peta genetik milikku, ‘kan? Peta genetik dari tubuh utama ku …. ”
“Hmm ….” Ekspresi kana berubah murung, memalingkan ke arah perahu-perahu besar di dermaga dan berkata, “Karena itulah engkau adalah Ayahanda, waktu itu saya sudah pernah bilang ….”
“Paling tidak biarkan Ayahmu ini melakukan sesuatu layaknya seorang Ayah. Karena itu aku memerintah …. Tuntutlah ilmu setinggi mungkin! Hiduplah penuh kebahagiaan!”
“Sekarang … aku sudah bahagia.” Canna menundukkan wajahnya, gemetar dan kembali mengingat saudari-sadarinya yang telah berbuat banyak dosa dan menghilang dari dunia. Menahan air mata dan mengangkat wajah, perempuan itu dengan nada tersedu-sedu berkata, “Ayahanda tahu, diriku sangatlah beruntung jika dibandingkan para Korwa lain …. Mereka …. Mereka lebih berhadap bisa berada di sisi Ayah lebih daripada diriku …. Namun, diriku yang keluar dari susunan mereka malah yang memenuhi kondisi untuk berdiri di samping Ayahanda seperti ini ….”
“Aku tahu ….”
Odo terdiam, bisa merasakan dan memahami apa yang telah dilalui oleh para Korwa untuk mengumpulkan jiwanya sehingga bisa terlahir kembali ke dunia. Bagi yang menciptakan mereka mungkin para Korwa hanyalah sebatas alat, untuk salah satu proses penting perubahan dunia.
Namun untuk Odo sendiri, ia merasakan sebuah ikatan kuat dengan mereka. Basis utama para Korwa adalah orang yang sangat pemuda itu kenal di kehidupan sebelumnya, orang yang mengingatkannya tentang arti menjadi makhluk hidup.
“Aku katakan ini sekali lagi, Canna.” Pemuda rambut hitam itu menatap tajam ke arah perempuan yang dirinya ajak bicara, memasang senyum lebar dan menyampaikan, “Kau harus bahagia. Untuk jatah para saudarimu, kau harus hidup dengan penuh rasa bangga dan bahagia di dunia ini. Mereka berjuang dan mengorbankan nyawa karena yakin akan mendapat itu, hanya kau yang bisa memberikan arti di balik kematian mereka.”
“Mau berapa kali Ayahanda bilang seperti itu, diriku sudah paham kok.”
“Sebanyak mungkin, aku akan terus mengingatkanmu dan memintamu untuk terus bahagia. Kau tak perlu terbebani kewajiban yang mereka tinggalkan, hanya hiduplah dengan bahagia itu sudah cukup untuk mereka, Canna.”
\========================================
Catatan :
Paringatan!
Dilarang promo pada lapak ini!!
Sekali lagi, dilarang!
Promo lah pada tempat yang benar!
Aku hanya ingin buat cerita! Paham!
Kalau udah baca ini tetap promo di kolom komentar ....
Aku bakal berhenti jadi orang baik dan nyolot kalian!!
Cerita ini bukan ladang kalian buat spam promo sana sini!!
Aku ngetik ribuan kata bukan untuk ladang kalian!
Paham!