Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 45 : Mutual-Evîn 5 of 10 “Red Rot” (Part 04)



Hari mulai menjelang sore, kemerahan mulai menyinari pemukiman yang porak-poranda tersebut. Sebab suhu sedikit naik daripada biasanya, kabut tidak muncul dan membuat pemukiman menunjukkan bentuk rusaknya cukup jelas.


 


 


Di dalam bangunan utama, Lisia memilih ikut membantu orang-orang untuk merawat mereka yang terluka. Mengalihkan pikirannya, menyibukkan diri dan berusaha melupakan rasa sedih dalam benak.


 


 


Ikut membawa baskom berisi air, mengganti perban dan memberikan ramuan sederhana untuk luka bakar. Memang tidak banyak yang mengalami luka. Namun selain luka fisik, mental orang-orang Klista itu juga perlu mendapat perawatan dengan diajak bicara dan mengalihkan pikiran mereka dari rasa sedih.


 


 


Merapikan kain kasa bekas perban, perempuan rambut merah itu terduduk dengan wajah muram dan tatapannya terlihat kosong. Anak buah Lisia tidak ada yang berani mengajaknya bicara sejak perempuan itu berdebat dengan Odo, Iitla Lots atau orang-orang yang biasanya menegur Lisia tidak ikut dengannya kali ini. Mereka sedang sibuk mengurus persiapan eksekusi pimpinan bandit, Tox Tenebris, di kota Mylta.


 


 


Vil masuk ke aula sembari membawa kotak kayu berisi lusinan Potion milik Odo yang sebelumnya disimpan dalam Gelang Dimensi. Menjadi pusat perhatian, Roh Agung rambut biru itu dengan suara keras berkata, “Ini obatnya! Siapa yang lukanya paling parah? Kata Odo prioritas dari itu yang harus disembuhkan terlebih dahulu!”


 


 


Seorang perempuan Klista berwajah pucat mendekat, lalu berkata, “Nona .... Adikku! Hampir seluruh tubuhnya terkena luka bakar .... Tolong ..., tolong adikku ....” Ia memelas sampai berlutut di depan Vil.


 


 


Memasang senyuman ringan, Roh Agung itu berkata, “Tentu saja, Odo juga mengharapkan itu.”


 


 


Vil segera meletakkan kotak berisi botol-botol ramuan di dekat pintu, lalu mengambil satu dan membawa itu bersama perempuan tersebut menuju adik yang disebutkannya tadi. Sampai pada salah satu sudut ruang aula, sekilas Vil tertegun melihat kondisi anak laki-laki dengan luka bakar di sekujur tubuhnya itu.


 


 


Wajah, kedua tangan, perut, pinggang, dan kaki kiri, hampir 55% tubuhnya menderita luka bakar parah. Napas anak itu terengah-engah, matanya tidak bisa terbuka karena daging yang saling merekat, bahkan kasur lipat tempatnya berbaring kotor penuh dengan daging matang yang merekat dan mulai mengeluarkan aroma tak sedap. Bernanah dan membuat Vil sedikit enggan untuk mendekat.


 


 


“A-Apa adikku bisa sembuh?” tanya perempuan dengan wajah pucat tersebut.


 


 


“Tentu saja ... Akan diriku akan mengusahakannya.”


 


 


Vil duduk di sebelah anak laki-laki yang terbaring sengsara itu. Meletakkan Potion ke lantai, Roh Agung tersebut menyatukan kedua jari kelingking dan telunjuknya, lalu mulai mengaktifkan sihir untuk memperkuat efek ramuan.


 


 


Lingkaran sihir muncul di bawah Potion, cairan obat dalam botol kaca mulai melayang keluar dan memancarkan cahaya gemerlap. Cairan itu Vil kendalikan dengan sihir airnya dan meningkatkan efeknya yang digunakan bersama sihir penyembuh, lalu perlahan mengarahkannya pada kulit anak laki-laki yang tubuhnya penuh luka bakar tersebut.


 


 


“Akh!! Sakit ...!! Kak! Sakit!!”


 


 


Ia merintih kesakitan, kejang-kejang menahan perihnya obat itu saat menyentuh lukanya. Perempuan wajah pucat yang melihat itu cemas. Namun setelah beberapa detik kemudian, jeritan berhenti dan wajah tenang nampak dari anak laki-laki tersebut. Luka yang ada memang tidak sembuh secara instan, namun proses pemulihannya berjalan belasan kali lebih cepat dan luka bakar yang diderita anak itu mengering— Sehingga dagingnya tidak melekat satu sama lain dan mengakibatkan infeksi.


 


 


Anak itu membuka matanya, menatap berkaca-kaca dan mulai menangis. Dengan suara pelan, ia memanggil, “Kakak ....”


 


 


“S-Syukurlah .... Syukurla—”


 


 


Vil menghentikan perempuan itu dan berkata, “Jangan memeluknya dulu, lukanya belum benar-benar kering.”


 


 


“A ..., te-terima kasih Nona. Saya sungguh sangat berterima kasih padamu. Apa yang bisa saya berikan pada And—”


 


 


“Tak perlu apa-apa,” potong Vil. Tersenyum ringan ia pun berkata, “Odo tidak mengharapkan sesuatu dari menolong orang lain. Sudah menjadi kewajiban seorang pemimpin membantu rakyatnya.”


 


 


Perempuan berwajah pucat itu langsung terpana, sosok Vil di hadapannya itu bagaikan penyelamat di matanya. Segera bersujud, penuh rasa terima kasih ia berkata, “Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Anda dan Tuan Odo ....”


 


 


Vil yang mendapat perkataan itu sama sekali tidak mengubah ekspresinya, hanya memasang senyuman ringan yang terkesan tidak alami. Roh Agung itu merasa memang orang-orang Klista itu persis seperti yang Odo ungkapkan, mereka cenderung terlalu terpaku pada adat dan jarang mendapat perlakukan buruk atau baik dari orang lain sebab sikap tertutup mereka dengan orang luar.


 


 


Segera bangun, dalam benak Vil berkata, “Jika diperlakukan buruk mereka akan membalas lebih buruk, namun jika diperlakukan baik mereka akan selalu mengenang kebaikan, itu salah satu ciri dari suku yang tertutup dari dunia luar, ya.”


 


 


“Kalau begitu, diriku tinggal dulu. Masih ada yang lain.” Vil berbalik dan meninggalkan perempuan dan anak laki-laki itu.


 


 


“Terima kasih! Nona ...! Saya janji kelak pasti akan membalas kebaikan ini ....”


 


 


Saat Roh Agung tersebut hendak mengambil Potion untuk menyembuhkan yang lainnya, Lisia berdiri menghadangnya. Perempuan rambut merah itu menatap muram, tidak senang dengan apa yang dilakukan Vil.


 


 


“Apa ... ini perintah Tuan Odo?” tanya Lisia dengan tatapan gelap.


 


 


“Hmm, semua Potion itu miliki Odo. Katanya berikan saja semua pada orang-orang Klista supaya pemulihan pemukimannya cepat selesai.”


 


 


“Bahkan di situasi seperti ini dia ingin cari murka dan kehormatan ...?”


 


 


Vil sedikit terkejut mendengar perkataan seperti itu keluar dari seorang pewaris keluarga bangsawan. Menghela napas dengan niat menyindir, ia berkata, “Nona Lisiathus Mylta, sepertinya Anda salah paham soal Odo. Pria itu ... sama sekali tidak memedulikan harga diri seorang bangsawan atau pencapaian.”


 


 


“Lalu kenapa dia ada di tempat ini? Kenapa meski dia tahu kalau orang-orang Moloia itu akan menyerang pemukiman ini dia tidak melapor? Pasti dia ingin mendapat per—!”


 


 


“Odo sama sekali tidak tahu soal penyerangan desa ini sebelum sampai di teritorial Rockfield,” potong Vil.


 


 


“Lalu untuk apa kalian datang ke sini?”


 


 


“Kami hanya ingin menyelesaikan tugas yang tidak bisa kalian selesaikan beberapa minggu ini.”


 


 


“Hah?” Lisia menatap heran, merasa perempuan di hadapannya selalu berkelit dan mulai kesal.


 


 


“Bandit .... Saat kalian sibuk dengan masalah politik soal hubungan antar kota, Odo lebih cemas dengan bandit yang bisa saja berkembang karena pimpinan mereka masih ada yang berkeliaran. Karena itu ... kami ke sini. Odo cemas kalau ada orang tak bersalah dijarah dan dibantai lagi. Apa kau peduli dengan hal semacam itu, Nona Lisia?”


 


 


“Te-Tentu saja!” Jawaban itu keluar dari Lisia dengan rasa ragu, sedikit melangkah mundur dan mulai gemetar. Menatap seakan mencari-cari kesalahan lawan bicarannya.


 


 


“Bohong ....” Vil menatap datar, mengintimidasi dan berkata, “Asal engkau tahu, mata seorang pemimpin yang peduli pada rakyat tidak akan seperti itu.”


 


 


“Memangnya siapa kau seakan tahu segalanya? Kau bukan Shieal seperti Nona Fiola atau Nona Julia, ‘kan? Hak apa yang membuatmu bisa bicara seperti itu?!” ucap Lisia dengan nada tinggi.


 


 


“Hak, ya .... Diriku memang tak punya hak terkait Dunia Nyata ini, satu-satunya hak yang diriku punya tentang kerajaan Felixia hanya sebagai senjata sang Penyihir Cahaya.”


 


 


 


 


“Ah, diriku belum memperkenalkan diri dengan benar, ya ... Maaf, Nona Lisiathus Mylta. Diriku adalah Roh Agung mantan Penguasa Laut Utara Dunia Astral, Vil.”


 


 


“Ro-Roh Agung? Kenap—? Jadi kabar tentang Tuan Odo yang membawa Roh Agung bersamanya benar .... Dia ... melakukan Kontrak Jiwa?”


 


 


“Salah .... Dia tidak mengurangi jangka hidupnya untuk mempertahankan bentukku di dunia ini. Diriku berada di dunia ini karena keberadaan kami terikat. Bukan karena kontrak saling memaksa seperti itu, namun atas Mutualisme di antara kami.”


 


 


“Apa ... maksudmu?”


 


 


“Engkau tak perlu tahu lebih dari itu, Nona Lisiathus Mylta. Sejak awal dirimu orang asing, sama sekali tidak ada hubungan dengan Odo. Pasti ... itu lebih baik untuk kalian.”


 


 


Vil berjalan melewati perempuan rambut merah itu dan menuju kotak kayu berisi lusinan Potion. Tersenyum ringan, Roh Agung itu kembali menawarkan, “Siapa lagi selanjutnya?” Beberapa orang langsung menjawab dan meminta untuk lebih dahulu disembuhkan. Ada juga beberapa perempuan Klista yang membawakan ramuan itu supaya Vil tidak bolak-balik.


 


 


Lisia hanya terdiam di tempatnya, dalam benak merasa seperti orang jahat yang hanya bisa menyalahkan orang lain tanpa bisa melakukan sesuatu. Rasa bangga karena rencana pembasmian bandit berhasil sirna sepenuhnya. Hal seperti prestasi mengalahkan Raja Iblis Kuno yang juga mengangkat nama keluarganya tidak lagi membuatnya senang, Lisia mulai membenci dirinya sendiri dan merasa tidak berguna.


 


 


Di tengah keruhnya batin perempuan itu, seseorang menepuk pundaknya dari belakang dan berkata, “Nona Lisia, bisa minta waktu sebentar?”


 


 


“Hii ...!” Lisia tersentak dan berbalik, melangkah mundur seraya memberikan tatapan takut pada pemuda rambut hitam tersebut. “A-Ada apa, Tuan Odo?” ucapnya gentar.


 


 


“Kau tak perlu menatapku sampai sebegitunya ....” Odo mendekat dan segera menggandeng tangan perempuan itu. “Huh, biarlah. Ayo ikut aku sebentar, pemakamannya sudah selesai dan mereka bingung mau melakukan apa setelah ini,” ucap pemuda itu sembari menarik Lisia keluar dari aula.


 


 


“Tu-Tunggu ....”


 


 


Sampai di teras depan, perempuan itu terkejut karena para bawahannya mulai merapikan bangunan-bangunan yang ambruk dan memilah kayu-kayu yang masih bisa dipakai lagi. Ada juga para perempuan Klista yang ikut membantu, tentu saja bukan bekerjaan berat seperti mengangkat kayu dan hanya membersihkan puing-puing.


 


 


“Untuk sementara aku perintahkan mereka untuk merapikannya setelah mengubur korban-korban. Nanti malam kata Tetua sepertinya akan diadakan upacara pelepasan. Ya, aku kurang paham hal seperti itu, sih.”


 


 


“La-Lalu untuk apa Anda bertanya pada saya? Bukannya semuanya sudah selesai? Anda suda—!”


 


 


“Aku bukan pemimpin mereka,” potong Odo. Melepaskan tangan perempuan rambut merah itu, ia menatap lurus matanya.


 


 


“....!” Lisia hanya terdiam, memalingkan pandangan dan semakin merasa tidak berguna.


 


 


Melihat itu Odo sedikit paham kalau semuanya tidak akan berjalan jika Lisia masih murung seperti itu. Sekilas memejamkan mata dan mencari-cari cara yang tepat menggunakan Spekulasi Persepsi, pemuda itu membuka mata dengan jawaban pilihan yang telah didapat.


 


 


“Apa kau mau melempar tanggung jawab ini, Nona? Aku paham kau masih terpukul. Aku kagum kau masih berdiri di tempat ini untuk menolong mereka yang selamat .... Tidak termakan amarah dan memerintah bawahanmu untuk mengejar orang-orang Moloia itu. Kalau hal serupa terjadi pada orang-orang di kediamanku, aku pasti termakan amarah dan mengejar mereka sampai ke ujung dunia untuk menghakimi para bajingan itu.”


 


 


Lisia tidak berani menatap mata Odo, tambah memalingkan pandangan dan berkata, “Anda terlalu melebih-lebihkannya, saya hanya pengecut.”


 


 


“Bukan,” tegas Odo. Memegang bahu perempuan itu dan memaksanya untuk saling bertatapan mata, ia dengan tegas berkata, “Kau bukan pengecut. Pengecut itu adalah orang yang tahu sesuatu dan bisa melakukan sesuatu tapi hanya berdiam diri saja tanpa mau melawan! Nona Lisia memilih untuk di sini, memberikan bantuan pada mereka dengan prajurit yang Nona bawa. Itu sudah lebih dari cukup untuk mereka yang sekarang tidak memiliki pria karena hampir semuanya menjadi korban. Bahkan ... orang tua.”


 


 


Menundukkan wajah, Lisia kembali beralasan, “Meski Anda bilang seperti itu ..., memangnya saya bisa apa? Orang seperti saya ....”


 


 


“Nona pewaris keluarga Mylta, seharusnya Nona bisa membuat keputusan untuk pemukiman ini.”


 


 


“Kepu ... tusan?”


 


 


“Nona bisa memilih, untuk membangun pemukiman ini dari awal lagi atau membuat para Klista urbanisasi ke Mylta. Melanjutkan pemukiman tanpa pria yang cukup ... kurasa itu bukan pilihan yang tepat.”


 


 


“Kalau mereka pindah ke kota ..., memangnya mereka mau tinggal di mana? Di sana ... tidak ada tempat yang cocok untuk mereka.”


 


 


“Ak—” Perkataan Odo terhenti, memalingkan pandangan dan ragu untuk mengungkapkan sarannya.


 


 


“Apa Anda punya saran?” tanya Lisia.


 


 


“Bangun saja .... Bangun saja pemukiman baru di dekat Mylta. Dia, Tetua Suku kerabat Nona, bukan? Pasti ada alasan yang tepat untuk memberikan hak tanah kepadanya dan membangun sebuah desa baru. Aku tadi juga sudah bicara dengan Tetua, katanya dia tidak keberatan.”


 


 


“Begitu, ya .... Anda sudah menyiapkan semuanya.”


 


 


Lisia menatap datar, sama seperti sorot mata yang sebelumnya dirinya perlihatkan saat berdebat dengan pemuda itu di dalam bangunan utama. Odo mengerti perempuan itu merasa dikendalikan dan tak suka dengan itu. Namun, pilihan lain memang tidak ada bagi Odo karena perempuan itu sendiri tidak melakukan inisiatif.


 


 


“Kalau Nona tidak ingin, itu tak masalah. Kau, benci dikendalikan, ‘kan? Maka lakukan saja apa yan—”


 


 


“Saya tak keberatan .... Sebelumnya, itu bukan berarti saya keberatan atau tidak setuju. Hanya saja ... rasa menyedihkan selalu mengikuti saran Tuan Odo dan tak pernah mengambil keputusan besar. Saat ingin mengambil keputusan sendiri, hal ini malah terjadi dan saya hanya bisa menyalahkan Tuan Odo .... Saya ....”


 


 


Odo hanya terdiam. Tanda Lisia mengatakan isi hatinya sudah cukup untuk membuat pemuda itu merasa lega.


 


 


\==============================================


 


 


Catatan:


 


 


Entah mengapa semakin jauh dari kata selesai Arc 02 ini.


 


 


See you!