Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 46 : Mutual-Evîn 6 of 10 “White filler flowers” (Part 01)



Malam sunyi. Pepohonan rimbun tertiup angin — Membuat suara gesekan dedaunan dan membawa aroma gosong yang masih menyengat. Tak jauh dari pemukiman, upacara pelepasan untuk mereka yang menjadi korban dilakukan pada sebuah lahan di dalam hutan. Makan mereka dibuat rapi, berjejer berdekatan dengan satu nisan dari papan kayu sederhana yang memiliki lubang lingkaran sempurna di tengahnya.


 


 


Dalam suasana hening, di depan pemakaman yang baru selesai dibuat tadi sore itu orang-orang Klista duduk bersimpuh. Mengenakan pakaian putih dengan selendang hitam, mereka tidak mengenakan alas kaki dan duduk di atas tanah dalam kesedihan. Suara isak tangis samar-samar terdengar dari kerabat mereka yang ditinggalkan.


 


 


Roro Nia’an duduk paling depan di antara mereka, mengangkat kedua tangan ke depan dada dan menjalin jari untuk mendoakan jiwa-jiwa. Gemerlap cahaya muncul di tengah petangnya hutan, itu bukan kunang-kunang melainkan pecahan jiwa yang baru benar-benar dilepaskan ke langit dari jasad mereka yang telah dikuburkan.


 


 


Putih murni kekuningan, tiap-tiap kepingan memancarkan terang  dan begitu polos. Itulah bentuk dari kepingan jiwa orang-orang Klista yang menjadi korban. Melayang ke udara, lalu menghilang terurai di langit.


 


 


Dalam keheningan tersebut, Odo berdiri di luar mereka yang melakukan upacara pelepasan. Bersandar pada salah satu pohon bersama Vil. Pemuda itu tidak ikut dalam upacara pelepasan seperti orang-orang Klista atau Lisia dan para bawahannya, ia hanya melihat layaknya orang asing yang tak percaya dengan hal-hal seperti keselamatan setelah kematian.


 


 


Memang Odo dijelaskan kalau upacara pelepasan merupakan bentuk untuk melepas jiwa dan roh dari raga mereka yang mati, supaya tidak digunakan untuk ritual kegelapan atau pemanggilan iblis. Namun saat mendapat penjelasan tambahan seperti permintaan bentuk keselamatan kepada para desa setelah kematian, pemuda itu menganggap ritual itu juga mengandung omong kosong lainnya.


 


 


“Kematian adalah kematian, tak ada keselamatan di dalamnya,” benak Odo saat melihat mereka berdoa dengan hikmat.


 


 


Dalam gemerlap cahaya yang melayang keluar dari permukaan makam-makam dan pergi ke langit, sekilas Odo mengamati dan paham kalau cahaya-cahaya itu memang benar jiwa yang tertinggal. Salah satu kepingan cahaya itu melayang ke dekat Odo. Mengangkat jarinya, ia membiarkan cahaya itu hinggap. Informasi seperti kenang, hasrat, dan sesal sekilas dirinya intip dari kepingan cahaya yang kemudian melayang pergi itu.


 


 


“Kira-kira ke mana mereka pergi, ya?” gumam Odo dengan wajah muram.


 


 


Vil sekilas melirik kecil, sedikit mengerti perasaan Odo yang masih sangat terikat dengan makhluk berumur pendek. Bagi Roh Agung kematian bukanlah akhir, terutama untuk Vil yang bisa terlahir kembali sebanyak yang dirinya mau selama masih diakui sebagai Penguasa Laut Utara Dunia Astral. Menyandarkan kepala pada pundak pemuda rambut hitam tersebut, ia sekilas menatap datar ke arah orang-orang yang sedang berdoa itu.


 


 


“Mereka hanya melepas .... Bentuk dari Roh hanya akan kembali ke alam, lalu jiwa akan menjadi bentuk kehidupan lain di waktu yang berbeda di masa depan,” ucap Vil sendu. Bukan karena kematian mereka, namun karena dirinya membayangkan Odo kelak pasti akan berakhir seperti mereka meski pun pemuda itu berumur pajang.


 


 


“Vil, apa kau percaya dengan konsep reinkarnasi? Terutama apa yang dianut orang-orang kekaisaran dan Ungea,” ucap Odo.


 


 


“Diriku hanya mengatakan apa yang terjadi pada jiwa-jiwa itu. Siklus kehidupan dan kematian memang ada, mereka semuanya kembali ke Aliran Kehidupan .... Perantara itu, dia benar-benar melakukan tugasnya dengan baik.”


 


 


“Apa ... maksudnya?” Sekilas Odo melirik ke arah perempuan yang bersandar padanya.


 


 


“Wajarnya pemakaman ada dua jenis jika jiwa atau jasad tak ingin digunakan untuk sihir kegelapan, yaitu dengan cara penguburan dan kremasi. Kremasi menghancurkan jiwa, roh, dan raga secara paksa. Jiwa melayang dalam proses pembakaran, roh menjadi energi alam, dan raga menjadi abu. Namun dalam pemakaman seperti yang dilakukan suku Klista ini ....”


 


 


“Jasad menjadi sepenuhnya milik alam?”


 


 


“Hmm, setelah jiwa dilepaskan, maka jasad menjadi milik makhluk yang ada di dalam tanah. Mereka ... hanya melepas jiwa sepenuhnya kembali ke dalam Aliran Kehidupan.”


 


 


Odo sesaat terdiam mendengar penjelasan seperti itu. Bukan berarti dirinya tak pernah tahu tentang jenis pemakaman atau pelepasan jiwa, namun itu pertama kalinya ia melihat hal seperti itu secara langsung. Pemakaman dengan cara dikubur membuat Odo sekilas teringat tentang sesuatu di masa lalu, baik itu kenangannya sendiri atau kenangan yang didapatnya dari Raja Iblis.


 


 


Di tengah isak tangis yang mulai pecah di tempat itu di penghujung upacara pelepasan, pemuda rambut hitam tersebut hanya memberikan tatapan datar dan balik bersandar pada Vil. Kornea matanya sekilas berubah hijau, menganalisis dengan dingin semua apa yang ada di hadapan dan bertinkah seakan dirinya hanya seorang pengamat.


.


.


.


.


Selesai upacara pelepasan, semua orang kembali ke pemukiman untuk beristirahat setelah apa yang mereka lakukan seharian. Di tengah langkah kaki orang-orang, pemuda rambut hitam tersebut memanggil menepuk pundak Lisia dan memanggilnya, “Nona, bisa bicara sebentar?”


 


 


Lisia sedikit tersentak kaget karena sedang melamun. Berbalik dan menatap dari dekat karena kurangnya pencahayaan, perempuan rambut merah itu baru sadar kalau yang memanggilnya itu adalah Odo. “Ada apa? Huh .... Anda membuat saya kaget,” ucapnya seraya menarik napas dan menenangkan diri.


 


 


“Ini soal pembicaraan tadi sore. Aku dan Vil mau kembali ke kota, jujur Mbak Minda dan Mbak Imania pasti cemas di sana. Kalau mereka lapor yang tidak-tidak ke Bunda pasti tambah runyam masalahnya.”


 


 


Lisia sedikit muram saat mendengar itu. Terdiam sesaat, orang-orang berjalan melewati mereka berdua dan ia masih tidak mengucapkan sesuatu. Saat semua orang meninggalkan Odo dan Lisia sendiri, perempuan rambut merah itu mengangkat wajah dan menatap.


 


 


Cahaya langit berbintang masuk, terpotong-potong dedaunan cemara dan menyinari wajah mereka dengan samar. Dengan nada sedikit sedih dan cemas perempuan rambut merah itu berkata, “Hmm, baiklah. Untuk urusan di sini ..., biar saya yang menanganinya. Lagi pula, saya sudah memutuskannya.”


 


 


“Apa tidak masalah? Bukannya Nona se—?”


 


 


Lisia menyela, “Anda sendiri yang menyarankannya, ‘kan?”


 


 


“Benar juga.”


 


 


“Apa ... Anda baik-baik saja pergi malam-malam?”


 


 


“Hmm, kurasa tak masalah. Penglihatanku cukup tajam.”


 


 


Odo  terdiam, tersenyum dengan wajah pucatnya dan sedikit memalingkan pandangannya. Dengan suasana hati yang masih belum selaras, mereka memutuskan beberapa hal tersebut. Apa yang mereka putuskan adalah untuk memindah suku Klista ke dekat Mylta dan membentuk sebuah desa baru di sana. Dengan kata lain, pemukiman di dataran tinggi yang ada akan ditinggalkan dan itu akan menyangkut persetujuan dari pemerintah Rockfield.


 


 


Berjarak lebih dua puluh meter dari tempat Odo dan Lisia, Vil menatap datar dalam kegelapan. Gelang Dimensi yang dikenakannya memancarkan cahaya ungu redup, menandakan kekuatan pemuda rambut hitam yang tertanam pada benda tersebut aktif. Itu berfungsi bukan sekali pakai, namun semacam Checkpoit  yang dapat diisi kembali jika berada di dekat Odo dalam jangka waktu tertentu.


 


 


“Dasar pembohong ulung,” benak Vil sembari memalingkan pandangan dari mereka. Meski dirinya tidak mendengar pembicaraan dua orang itu, namun dirinya kurang lebih paham kalimat apa yang akan Odo berikan pada perempuan rambut merah tersebut.


 


 


««»»


 


 


Di dalam hutan yang sunyi dengan suara lolongan serigala yang sesekali terdengar, Odo memacu kereta kudanya di dalam kegelapan. Lingkaran sihir samar-samar terlihat di dalam kornea pemuda itu, memberinya penglihatan malam yang setara dengan makhluk nokturnal. Meski hanya dibantu pencahayaan lentera minyak yang digantung pada kereta, mereka melaju dengan lancar seakan tidak ada kendala sama sekali.


 


 


Memang bahaya untuk memacu kuda di malam hari, terutama di daerah pegunungan. Namun dengan kekuatan pemuda itu yang memanipulasi informasi penglihatan kedua kuda yang menarik keretanya, ia secara langsung mengarahkan mereka seakan-akan kedua kuda tersebut paham apa yang ingin Odo perintahkan dan harus melaju ke arah mana. Melalui Reins (tali kuda), pemuda itu menghantarkan informasi untuk mengendalikan mereka.


 


 


Duduk di sebelah pemuda rambut hitam tersebut, Vil hanya terdiam dengan tatapan sedikit heran. Alisnya mengerut, sesekali melirik, dan memasang wajah penasaran yang bercampur rasa heran.


 


 


“Apa?” tanya Odo merasa tidak tenang dengan tatapan tersebut.


 


 


“Bukannya ... struktur sihirmu rusak? Tadi ... diriku juga sempat cek tubuhmu dan banyak sekali struktur sihirmu mati, loh.”


 


 


“Hmm, terus?” Odo kembali melihat ke depan, menghela napas ringan dan menyipitkan mata karena tahu pertanyaan seperti itu pasti akan ditanyakan VIl.


 


 


“Lah, kenapa bisa pakai sihir?” Vil menunjuk kedua kuda yang menarik kereta mereka, lalu dengan nada heran bertanya, “Kamu mengendalikan kuda-kuda itu supaya bisa jalan lancar di kegelapan dengan sihir, ‘kan?”


 


 


“Ah, ini Aitisal Almaelumat. Apa aku belum menjelaskannya dengan rinci, ya?”


 


 


“Kekuatan untuk memanipulasi informasi .... Itu semacam sihir, ‘kan?”


 


 


Vil mendekatkan posisi duduknya sampai bahunya menempel dengan bahu pemuda itu. Karena secara signifikan indra penciuman ikut meningkat, Odo mencium aroma wangi dari perempuan rambut biru tersebut. Sekilas dalam benak bertanya-tanya mengapa bisa Vil sewangi itu padahal belum mandi beberapa hari, namun karena merasa tidak tepat waktunya Odo segera memalingkan pandangan dan kembali fokus ke depan.


 


 


“Eng, itu bukan sihir sebenarnya,” ucap Odo ringan. Kembali melirik ringan, ia menjelaskan, “Sihir cenderung menggunakan Mana dan sebuah struktur atau formula sihir untuk mengaktifkannya. Tapi, kekuatanku itu lebih semacam menggunakan kaki dan tangan, aku bebas memakainya seperti bernapas.”


 


 


“Eh?” Vil terkejut, alisnya berkedut dan sedikit menjauh dengan ekspresi enggan.


 


 


Mendapat reaksi seperti itu, Odo kembali fokus ke depan dan berkata, “Yah, jujur tentang struktur sihirku yang rusak itu sebenarnya salah paham juga. Aku bisa memanipulasi informasi dan memperbaikinya dengan mudah.”


 


 


“EH?!” Vil benar-benar terkejut dan segera mendekat kembali. Dada perempuan itu sempat menempel pundak Odo, membuatnya melirik ringan dengan ekspresi datar.


 


 


Setelah pindah duduk sedikit menjauh dari Vil karena beberapa alasan pemuda rambut hitam itu berkata, “Saat melawan salah satu orang Moloia, aku sempat bertemu orang yang tak cocok dilawan dengan kondisiku kalau menggunakan sihir. Karena itu, aku memanipulasi informasi dalam tubuhku dan memindahkannya untuk fokus ke pertarungan tangan kosong. Yah, tepatnya aku mengurangi aktivasi sihir untuk meningkatkan kekuatan fisik, melakukan Booster dengan menggunakan vitalitas dan akhirnya struktur menjadi mati.”


 


 


“Apa-apaan itu?” Vil benar-benar tercengang, menghela napas resah dan menggelengkan kepala. Menatap pemuda rambut hitam itu dengan sorot mata datar, ia berkata, “Tak wajar juga ada batasnya, tahu.”


 


 


 


 


“Tetap saja tidak wajar .... Berarti, kalau kamu terus latihan fisik, kekuatan sihirmu juga bisa naik, ‘kan?”


 


 


“Hmm, memang bisa.”


 


 


“Haah, memang tak bisa dinalar.” Mengangkat kedua kaki ke atas tempat duduk dan menekuknya, Vil menatap ke depan dengan ekspresi sedikit muram. Melirik ke arah pemuda di sebelahnya, Roh Agung itu memastikan, “Itu ... kekuatan Raja Iblis, ‘kan? Apa tidak ada efek sampingnya?”


 


 


“Sejauh ini tidak ada. Tapi ....”


 


 


“Tapi?”


 


 


Odo sempat terdiam, hanya menatap ke depan dan seperti sedang mencari penjelasan yang tepat. Melihat pemuda itu dari samping, sekilas Vil memasang ekspresi lega karena pemuda itu tak usah mengalami masa depan yang suram karena struktur sihirnya rusak.


 


 


Mendapat kata-kata yang sesuai, Odo sekilas melirik dan mulai menjelaskan, “Aku pernah menjelaskan kekuatanku ini di perpustakaan, informasi yang aku manipulasi itu akan bersifat permanen. Memang aku bisa saja memanipulasi ulang, tapi itu hanya mewarnai kertas penuh tinta dengan tinta lagi. Tubuhku ... kalau dipakai kekuatan itu terus-menerus mungkin akan rusak, seperti kertas yang terendam tinta.”


 


 


Vil terkejut, menurunkan kedua kakinya dan kembali mendekat ke Odo. Dengan cemas ia berkata, “Bu-Bukannya itu bahaya?”


 


 


“Memang, karena itu aku perlu untuk mencari cara yang lebih tepat lagi. Cara ini belum sempurna.”


 


 


“Apa bisa diatasi?”


 


 


“Ya, kalau aku memisah kondisi tubuh dasar dengan kondisi tubuh yang bisa dimanipulasi informasinya, mungkin efek samping penggunaan berlanjut bisa dicegah.”


 


 


“Memisah?” Vil benar-benar bingung dengan itu, sedikit memiringkan kepalanya ke kanan dan sama sekali tidak bisa menebak apa yang ingin pemuda lakukan.


 


 


“Ah, bagaimana menjelaskannya, ya. Kalau diumpamakan, itu semacam mengukus daging dengan daun jati. Kondisi dasar adalah daging, sedangkan kondisi luar yang akan dimanipulasi informasinya adalah bungkus daun jati, keduanya adalah tubuhku. Panas dari luar adalah manipulasi dan efeknya, dengan adanya lapisan pelindung daging tidak akan gosong dan malah matang. Kalau sudah selesai, bungkus juga bisa diganti.”


 


 


Vil sesaat terdiam mendengar penjelasan seperti itu. Keningnya mengerut dan ekspresinya sedikit heran, tidak mengerti mengapa pemuda itu menjelaskan dengan perumpamaan seperti itu. Berhenti menatap pemuda itu, Vil menatap ke depan dan mencermati perkataan pemuda itu.


 


 


“Hmm, kurang lebih diriku bisa melihat gambarannya. Tapi ... kenapa perumpamaannya makanan? Meski aku tak perlu makan, tapi diriku juga punya selera makan, loh.”


 


 


“Lapar?” Odo melirik.


 


 


“Enggak, hanya saja entah mengapa jadi ingin makan daging.”


 


 


Kembali fokus ke depan, ia berkata, “Di gelang itu ada daging, loh. Ruang MM-44 kalau tidak salah, sisa kemarin-kemarin.”


 


 


“Sungguh?” Vil memegang gelang yang dipakainya pada lengan kanan. Wajahnya terlihat senang sampai air liur sedikit mengalir keluar. Namun setelah menjadi sesuatu, ekspresinya berubah datar dengan cepat dan ia pun berkata, “Eh, apa gak basi?”


 


 


“Tenang saja, bahan makanan tidak akan busuk di ruang penyimpanan.”


 


 


“Ah, benar juga, ini menggunakan konsep dimensi dan waktu terpengaruh.” Menatap Odo dengan tatapan berharap, Vil bertanya, “Hmm, boleh aku makan?”


 


 


“Makan saja. Tapi hati-hati, ya. Aromanya bisa saja mengundang monster.”


 


 


“Ugh!” Vil terdiam, selera makannya seketika hilang dan wajahnya berubah kesal. Memalingkan pandangan, ia dengan jengkel berkata, “Hmm, tak jadi ....”


 


 


Suasana berubah senyap sesaat, tanpa ada percakapan dan hanya suara lolongan yang sesekali terdengar menemani perjalanan. Odo cukup menikmati ketenangan itu, pikirannya bisa fokus menyusun beberapa rencana supaya hal seperti sebelumnya tidak terjadi lagi. Namun belum sampai lima menit, Vil kembali memulai pembicaraan.


 


 


“Odo, berarti kamu membohongi mereka, dong!”


 


 


Odo melirik datar, dalam benak ia merasa, “Nih Roh Agung ternyata banyak omong, ya. Aku kira dia tipe pendiam .... Eng, kurasa bukan itu. Apa ini yang disebut orang pendiam kalau ngomong pasti gak habis-habis?”


 


 


“Kamu membohongi mereka,” ucap Vil kembali.


 


 


“Aku tidak bohong,” bantah Odo. Menatap datar dengan suasana hati sedikit kesal, pemuda itu menegaskan, “Asal kau tahu, aku tidak pernah bilang satu kali pun kalau struktur sihirku rusak. Mereka yang seenaknya membuat kesimpulan.”


 


 


Vil tersenyum ringan, memalingkan wajahnya dengan tidak percaya dan berkata, “Sepertinya kamu memang tipe orang yang seperti itu, ya?”


 


 


“Hah?” Kening Odo mengerut, kembali menatap ke depan dan bertanya, “Seperti apa memangnya?”


 


 


Vil memasang ekspresi datar, sedikit melirik kecil dan menjawab, “Kata Mavis, ada dua tipe orang penipu di dunia ini. Yang menipu dengan kebohongan dan kata-kata indah, lalu yang satunya adalah orang yang menipu dengan kebenaran.”


 


 


“Hah?”


 


 


“Kamu mengumbar kebenaran yang abstrak dan membuat orang salah paham, membuat mereka meyakini kesalahpahaman itu benar dan kamu menipu.”


 


 


Odo terdiam sesaat. Ia tahu apa yang dimaksud Vil, memang kebenaran adalah hal yang paling efektif untuk memanipulasi dan menipu orang lain. Mempermainkan fakta dan membuat orang salah menafsirkan juga merupakan salah satu penipuan. Sedikit melirik, pemuda itu berkata, “Kejam .... Jadi salahku, nih? Mereka yang seenaknya mengambil keputusan, loh.”


 


 


“Hahah, benar juga.”


 


 


Vil tertawa ringan, mengangguk beberapa kali dan tersenyum lepas. Odo yang melihat itu hanya bisa terheran, ia tidak pernah melihat Roh Agung itu bercanda. Terlihat hidup, penuh gairah dan semangat, hal seperti itu berbeda dari apa yang Odo ketahui tentang dirinya.


 


 


Vil sedikit duduk menjauh dari Odo, lalu kembali membuat topik pembicaraan lainnya, “Ngomong-omong, apa tidak masalah gelang ini diriku pegang terus? Ini ... penuh dengan barang-barangmu, ‘kan?”


 


 


“Tak masalah .... Kalau tiba-tiba terjadi sesuatu, aku tak perlu susah-susah melepasnya dan oper ke kamu.” Odo mengangkat lengan kanan, menunjukkan belas kemerahan pada kulitnya dan berkata, “Itu ... ukurannya kurang pas ke lenganku, sih.”


 


 


Vil sedikit menyingsingkan lengan blusnya, menyentuh permukaan hitam gelang tersebut dan merasakan ukiran Rune yang kasar. Mengangguk satu kali, ia berkata, “Hmm,  benar juga. Lenganku kecil jadinya mudah masuk memang.”


 


 


“Oh ....” Odo hanya menjawab acuh.


 


 


“Ngomong-omong, Odo.”


 


 


“Apa lagi?” Kening pemuda itu mengerut, mulai benar-benar risih.


 


 


“Diriku pernah mendengarnya dari Mavis. Biasanya dalam hubungan pria dan wanita, faktor finansial dipegang oleh wanitanya.”


 


 


“Terus?”


 


 


“Eng, enggak.”


 


 


“Eh?”


 


 


Odo tidak paham apa yang hendak Roh Agung itu bicarakan. Berusaha tidak memedulikan hal semacam itu, ia fokus ke depan dan mulai menjawab perkataan Vil seminimal mungkin. Selama perjalanan, pemuda itu pun hanya menjawab pertanyaan Vil dengan satu kata saja.