Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 62 : Aswad 9 of 15 “Yang menyedihkan dari masa lalu” (Part 08)



 


 


 


“Ka-Karungnya .... Tolong, Tuan .... Karungnya .... Itu berisi kenangan ibuku.”


 


 


Mendengar apa yang diucapkan oleh gadis kecil dalam bopongannya, Odo sekilas menatap datar dan berjalan untuk mengambil karung tersebut. Ia membungkuk, menyentuh karung tersebut dan memasukkannya ke dimensi penyimpanan.


 


 


“Sudah aman, kau tak perlu cemas,” ucapnya seraya kembali berdiri. Tanpa berkata apa-apa lagi, pemuda itu melangkahkan kaki dan hendak pergi dari bakai kota.


 


 


“Tu-Tunggu sebentar, Tuan Odo! Kami butuh Anda untuk membuat laporannya!” panggil salah satu penjaga.


 


 


Langkah kaki Odo terhenti, menoleh dengan kesal dan menjawab, “Jelaskan saja ke Iitla atau Lisia nanti saat mereka datang ke kantor kalian. Bilang juga aku ingin bicara sesuatu, suruh mereka dagang ke tokoku saat sore nanti setelah tutup.” Kedua penjaga tersebut bungkam, tidak protes lagi dan benar-benar tak bisa membantah perkataan dari putra Lord mereka.


 


 


Pemuda rambut hitam itu pergi dari balai kota membawa gadis Demi-human tipe macan tutul salju tersebut. Ia tidak menuju ke distrik perniagaan untuk membawanya pulang ke toko Ordoxi Nigrum, melainkan kembali ke jalan menuju pelabuhan untuk membawa gadis kecil tersebut ke panti asuhan Inkara.


 


 


Sembari berjalan menyusuri jalan dengan pencahayaan minim, Odo menatap gadis yang dibopongnya dan bertanya, “Namamu siapa? Keluargamu tinggal di mana?”


 


 


“A-Aku .... Namaku Mirin Kirsi, Tuan .... Aku tidak punya tempat tinggal, tapi aku biasa tidur di depan kantor pemerintahan saat sudah tutup,” jawabnya dengan sura pelan.


 


 


Samar-samar Odo menyadarinya, paham kondisi gadis kecil berusia sekitar 7 tahunan tersebut. Namun ingin memastikannya, pemuda itu kembali bertanya, “Kalau orang kedua tuamu, mereka tinggal di mana?”


 


 


“Aku .... Sudah tidak punya keluarga. Aku tak tahu siapa Ayahku ... Ibuku sudah sakit parah musim dingin tahun, lalu dia meninggal bulan lalu. Ka-Karung itu satu-satunya peninggalan ibuku. A-Apa Tuan membawanya? Itu berisi kenangan ibuku ....”


 


 


Mata gadis itu sudah tidak bisa melihat dengan baik karena lemas, mengulurkan tangan kecilnya yang gemetar dan mencari-cari karung kain miliknya. Wajahnya semakin pucat, napasnya terengah-engah dan darah mengalir dari hidupnya.


 


 


Langkah kaki Odo terhenti, mengingat kembali musim dingin tahun lalu saat dirinya menolong keluarga Demi-human yang sekarang bekerja untuknya. Merasakan ada yang lebih membutuhkan pertolongan waktu ini, rasa sesal menyerang benaknya dan sekilas membuat ekspresi sedih nampak pada wajahnya.


 


 


“Tuan tidak apa-apa ...?” ucap gadis kecil itu sembari menyentuh wajah Odo dengan tangan kecilnya yang dingin.


 


 


Pemuda itu kembali menatap gadis kecil tersebut, memasang senyum kaku dan menarik napas dalam-dalam. Dengan suara lembut menahan rasa sedihnya, pemuda rambut hitam itu berkata, “Tidurlah dengan nyenyak, Mirin Kirsi.” Aitisal Almaelumat aktif, langsung membuat gadis kecil itu mengantuk dan dengan cepat tertidur lelap.


 


 


Kembali melangkahkan kaki, pemuda itu berjalan cepat menuju panti asuhan Inkara. Tak sampai sepuluh menit, ia sampai di depan pagar panti asuhan dan langsung meloncatinya  dengan mudah. Ia berjalan cepat di halaman, lekas mengetuk pintu berkali-kali dengan sikunya.


 


 


“Mbak Siska! Tolong bangun sebentar! Mbak! Bangun! Buka pintunya! Cepat buka pintunya!” teriak Odo dengan keras. Ia terus mengetuk pintu dan memanggil-manggil dengan suara lantang.


 


 


Tak sampai lima menit, sebuah balasan dari dalam terdengar, “Iya! Tunggu sebentar!”


 


 


Bunyi kunci yang diputar terdengar dan pintu panti asuhan dibuka oleh Siska dari dalam. Melihat pemuda itu membawa gadis penuh luka memar, kedua mata perempuan rambut pirang tersebut yang tadinya terlihat mengantuk seketika terbuka lebar dan panik.


 


 


“A-Apa yang terjadi? Siapa anak itu? Kenapa dia—?”


 


 


“Biarkan aku masuk dulu, aku ingin memberinya obat.”


 


 


Odo langsung masuk ke dalam panti asuhan, lalu meminjam salah satu kamar untuk membaringkan Mirin. Siska segera kembali menutup pintu, lalu bergegas menuju dapur mengambil kain untuk mengompres gadis kecil tersebut dan meminjam pakaian dari lemari untuknya.


 


 


Nesta bangun karena kamar tempatnya tidur digunakan untuk merawat gadis tersebut, lalu Nanra juga bangun karena mendengar suara gaduh. Melihat anak yang dibawa Odo, mereka berdua sempat cemas karena dia adalah seorang Demi-human. Setelah Odo meminumkan Potion kepada Mirin Kirsi, Siska mengelap tubuh gadis kecil itu dan mengganti pakaiannya yang kumuh.


 


 


Setelah semua hal mereka lakukan untuk gadis tersebut, barulah Odo menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis kecil itu di balai kota. Ia memberitahukan latar belakangnya, tentang apa yang terjadi soal mendiang ibu gadis kecil itu yang seorang ******* dan meninggal pada awal tahun setelah menderita demam sejak musim dingin tahun lalu.


 


 


Mendengar hal tersebut, Siska sempat meneteskan air mata dan meminta Odo untuk membiarkannya tinggal di panti asuhan untuk dirawat. Karena memang alasan tersebut ia membawa Mirin Kirsi ke panti asuhan, Odo dengan cepat setuju dan mempercayakannya kepada Siska.


 


 


««»»


 


 


 


 


Dalam kepala Odo, sang suara sang Putri Naga terdengar, “Tinggal bunuh saja mereka semua, kenapa kamu harus melawan kehendakmu sendiri? Dari sudut pandang seekor Naga Agung, makhluk-makhluk rendahan seperti tadi memang pantas mati.”


 


 


Odo mengerutkan keningnya dan memalingkan pandangan ke samping, ia merasa Seliari hanya memperkeruh suasana hati. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya sekaligus, pemuda rambut hitam itu menjawab, “Aku akan sama seperti mereka kalau melakukan hal seperti itu. Aku bukan orang dungu yang merasa paling benar, yang main kekerasan dengan kekuatan yang kumiliki.”


 


 


“Bicara apa kamu ini? Bukannya tadi kamu jelas-jelas pakai kekerasan, Odo.”


 


 


Pemuda itu terdiam, mengingat kembali apa yang telah dirinya lakukan kepada orang-orang yang membuatnya kesal beberapa saat lalu dan memang dirinya menyelesaikan semua itu dengan kekerasan. Untuk sekian kalinya Odo kalah berdebat dengan Seliari, lekas diam dan tidak mengutarakan argumen.


 


 


Menyusuri jalan menuju distrik perniagaan yang sepi saat dini hari, pemuda itu kembali melihat sekitar dan mengumpulkan informasi untuk syarat pengaktifan Spekulasi Persepsi. Tak seperti beberapa jam yang lalu, jalan yang dilewatinya benar-benar sepi dan karena semua orang sudah tertidur.


 


 


Cahaya pada tiap bangunan padam, para gelandangan terlihat menjadikan gang, kios, dan gerobak sebagai tempat tidur mereka. Kembali merasa kasihan pada orang-orang yang tidur beratapkan langit tersebut, pemuda itu meletakkan tangannya ke dada dan menggertakkan giginya dengan kencang.


 


 


“Padahal kamu selalu bilang tak peduli dengan mereka dan mengaku bukan orang baik, namun memang pada dasarnya kamu adalah orang baik ya, Odo ....”


 


 


Mendengar apa yang dikatakan Seliari di dalam kepalanya, pemuda rambut hitam itu tidak membalasnya dan segera menarik napas untuk menenangkan diri. Persis seperti apa yang dikatakan Putri Naga tersebut, secara sifat dasar Odo Luke adalah lelaki perasa yang dengan mudah merasa iba kepada orang lain. Namun pada saat yang sama, rasa Iba tersebut hanyalah keegoisan yang dengan cepat hilang tertimpa emosi lain.


 


 


“Diriku rasa, pilihan yang diambil sekarang memang sangat tepat. Meski kamu memiliki hubungan dengan Raja Iblis Kuno itu, sifatmu sangat berbeda dengannya ....”


 


 


Perkataan Seliari itu membuat langkah kaki Odo terhenti, memasang ekspresi tak suka dan berkata, “Bicara saja terus seolah kau memahami semuanya. Memangnya tahu apa kau soal pria yang rela dicap sebagai penjahat sampai akhir hayatnya itu?” Pemuda itu kembali melangkahkan kaki, tanpa memedulikan jawaban apa yang nanti keluar dari Seliari.


 


 


Saat sampai di depan toko Ordoxi Nigrum, sang Putri Naga tersebut baru menjawab dengan sanggahan, “Kejahatan adalah kejahatan, bukan? Apapun dalih dan alasan di baliknya, itu tak berubah. Kenapa kamu sangat ingin membela makhluk sepertinya? Apa karena dia memanggilmu Ayahanda?”


 


 


Odo memasang wajah kesal, lekas berjalan ke sebelah toko dan saat hendak menaiki anak tangga ia berkata, “Terserah kau, dasar kadal pari ....”


 


 


“Odo!!”


 


 


Kening pemuda itu mengerut kencang saat mendengar suara keras bergema dalam kepalanya. “Apaan? Tak usah teriak segala,” keluh Odo.


 


 


“Bukan itu, dari dalam .... Di lantai satu toko ada hawa yang aneh.”


 


 


Mendengar apa yang disampaikan Seliari, Odo mulai menyadari hawa keberadaan yang tak wajar tersebut. Odo kembali mengingat gadis budak yang sebelumnya dirinya temui di balai kota waktu malam. Dalam kepala pemuda itu, sebuah kesimpulan dari hasil kalkulasi seketika muncul dan memberikannya sebuah jawaban jelas.


 


 


“Serius? Kali ini aku gak jadi tidur lagi ....”


 


 


Niat pemuda itu untuk tidur di lantai tiga pupus, ia segera berbalik dan berjalan menuju pintu masuk lantai satu. Memegang gagangnya dan ternyata memang pintu tersebut tidak dikunci, perkiraan yang Odo dapat menjadi pasti dan membuatnya semakin kesal dengan semua masalah yang ada.


 


 


Pemuda itu membuka pintu toko, melihat ke dalam dan langsung memasang ekspresi datar ketika melihat orang-orang yang ada di sana. Pada lantai toko terbaring Lisia, Arca, Aprilo dan Butler pribadinya, lalu kedua pedagang dari serikat Lorian. Melihat mereka tak bernapas dan benar-benar menjadi mayat tanpa jiwa, sekilas rasa panik membuat mimik wajah datar Odo berubah murka.


 


 


Dengan cepat ia menatap tiga orang yang duduk pada salah satu meja di dalam toko. Mereka terlihat telah menunggu kedatangannya sejak beberapa jam lalu. Ketiga orang tersebut mengenakan pakaian khas dari kekaisaran, orang-orang yang tak asing bagi Odo sendiri. Dua budak yang pernah ia temui di balai kota beserta seorang Perwira Tinggi yang membawa mereka.


 


 


Tersenyum tipis dengan bibir merahnya, seorang gadis budak rambut hitam sangat panjang bangun dari tempat duduknya. Sembari ditemani oleh gadis budak satunya yang membawakan rambutnya yang terurai sangat panjang, ia mengulurkan kedua tangannya ke depan dan dengan lega berkata, “Akhirnya engkau datang, calon suamiku .... Diriku kira mereka berbohong soal engkau yang akan datang ke tempat ini.”


 


 


Odo tak membalas perkataan tersebut, ia sangat paham kalau gadis itu memang tidak sedang main-main soal ingin membawanya ke kekaisaran. Melihat ekspresi cemas pria rambut hitam bernama Fai Fengying yang merupakan seorang Perwira Atas dari kekaisaran, dengan segera Odo paham kalau identitas gadis budak yang berbicara tersebut memang memiliki status yang lebih tinggi darinya.


 


 


Menatap datar gadis budak rambut hitam sangat panjang tersebut, Odo memastikan, “Apa ... kau Kaisar Kedua itu? Gadis Abadi, Cai Zi Shou ... Mao Naraka.”


 


 


“Wah~ wah~” Gadis itu memegang kalung rantai pada lehernya, lalu menggunakan kekuatannya ia membunuh kalung tersebut hanya dengan sentuhan. Usia dari kalung besi tersebut langsung direngut, lapuk dan hancur menjadi butiran abu sampai pada bagian rantainya.