Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Prolog Arc 02 “Regalia of Felixia : Antequam Aurora



Hamparan tanah luas berdebu, udara terasa pengap dan matahari terik seakan membakar apa yang ada di daratan. Sepanjang mata memandang, tidak terlihat tanda kehidupan dan hanya tanah lepas dengan beberapa bukit batu raksasa bagaikan labirin. Duduk di atas salah satu bukit batu tersebut, diriku melihat hamparan tempat sunyi yang seakan terbentang tak terbatas sampai cakrawala itu.



Rambut panjang milikku rasanya lengket karena keringat dan debu, napas terasa sesak dan rasa haus membuat tenggorokkan terasa terbakar. Sudah cukup lama ku mencari tempat ini, mungkin sejak terakhir kali berbicara dengan pemuda itu untuk terakhir kalinya.



Mengingat kembali dalam ingatan, diriku punya lebih dari apa yang kukira. Pengetahuan tentang awal mulanya terbentuk planet bernama bumi ini, sejak dari tubrukkan pertama asteroid sampai terciptanya tatapan alam dan sampai sekarang. Aku tidak bergurau, itu nyata pemahaman tersebut ada dalam kepalaku. Mungkin sekarang akulah yang paling tahu tentang planet biru ini dan tata suryanya.



Biru? Kurasa sebutan itu sudah tidak cocok lagi untuk tempat gersang ini. Tidak menyindir atau hiperbola, dunia ini sudah berakhir melihat semua apa yang ada di hadapku. Padahal sudah tak ada apa-apa, tetapi dunia ini masih penuh dengan masalah. Membayangkan tempat ini akan masuk periode iklim ekstrem dan kelak akan diisi kembali oleh beraneka ragam makhluk hidup, aku ragu garis dunia ini bisa bertahan.



Mendongak ke atas, terlihat luar angkasa lepas. Tidak ada atmosfer yang membuat langit terlihat biru, tidak ada fenomena hamburan Reyleigh yang membuat langit terlihat biru saat pagi dan gelap saat malam. Hanya ada angkasa lepas dengan gugusan bintang yang satu persatu meledak dan hancur. Penuh kekacauan, ketidakpastian dalam penghujung masa.



Proses penghancurannya masih berjalan, ya ....



Dunia ini sedang berada dalam fase kiamat. Bukan kiamat seperti alam semesta dihancurkan secara instan dalam sesaat, tetapi melalui prosedur dan tahapan sesuai layaknya sebuah algoritma teratur. Dalam urutan tersebut, sepertinya tata surya ini terkena sudah dapat gilirannya. Melihat ke arah matahari, jaraknya bintang yang menjadi sumber cahaya tata surya ini sudah sangat dekat. Mungkin setara saat planet merkurius berada di dekat matahari.



Ya ..., faktanya planet itu dan bintang fajar sudah tertelan oleh matahari yang selama miliaran tahun memberikan kehidupan bagi banyak makhluk hidup. Kedua planet tersebut sudah tersantap oleh ibu orang tua yang menjaga mereka selama miliaran tahun.



Sebentar lagi adalah giliran bumi, dan pada saat itu terjadi dipastikan matahari akan meledak dan terciptalah Black Hole raksasa yang akan mengakhiri tata surya ini. Tetapi sebelum itu terjadi, umat manusia sudah musnah lebih dulu karena peperangan melawan para makhluk yang menyebut diri mereka para malaikat. Mereka sudah punah dari dunia ini, dan aku tidak mengada-ada.



Umat manusia mendapat kekuatan untuk menentang langit. Hmm ..., kuras bukan .... Langit yang dari dulu hanya mengawasi mulai terancam, dan untuk mempertahankan keberadaan mereka mulai berperang. Pada akhirnya, umat manusia musnah dan pihak langit tidak mendapat apa-apa. Peperangan yang dilakukan tidak berarti apa-apa, hanya rasa takut dan keegoisan yang mereka puaskan menjadi dasarnya.



Diriku bukanlah manusia, aku adalah salah satu pihak langit itu. Alasan para manusia melawan langit, dengan kata lain para Dewa-Dewi adalah karena mereka sadar akan fakta itu. Para makhluk yang selama mereka sembah itu bukanlah maha mutlak, mereka juga bisa lenyap saat dunia lenyap. Penggolongan Dewa-Dewi ke dalam hal gaib langsung lenyap saat manusia mendapatkan pengetahuan tersebut, dan mereka sadar kalau kami hanyalah makhluk dari dunia paralel lain yang memiliki peradaban lebih maju.



Pihak langit adalah para makhluk paralel lain yang datang ke garis dunia ini. Para Dewa itu adalah orang-orang dari garis dunia yang lebih maju ribuan kali dari garis dunia ini. Kalau dipikir mengapa bisa ada garis dunia yang lebih laju, alasannya sederhana. Makhluk berkecerdasan tinggi muncul lebih awal dari garis dunia ini. Saat garis dunia lain masih pada masa paleozoikum, garis dunia kami sudah sampai pada masa Neozoikum. Sedangkan pada saat garis dunia lain masih masa prasejarah, garis dunia kami makhluk yang disebut Dewa-Dewi sudah memasuki masa dimana sudah bisa menjelajah antariksa.



Karena perbedaan itu, pengetahuan dan teknologi yang ada menjadi sangat lebar jika dibandingkan dengan jutaan garis dunia lain. Tetapi itu dulu, sangat amat dulu sekali.



Sebab terlalu cepatnya sebuah peradaban berkembang, maka akan semakin cepat garis dunia itu hancur karena kerusakan alam dan habisnya sumber daya. Itulah salah satu alasan kami mencari garis dunia lain untuk bisa dihuni dan diawasi supaya tidak berakhir seperti garis dunia kami.



Dari jutaan pencarian, kami menemukan garis dunia paling stabil ini. Perkembangan teknologi tidak terlalu cepat, makhluk-makhluk berintelegensi tidak muncul terlalu dini, dan siklus perubahan iklim serta siklus pergerakan bintang dari sudut pandang arkeologi tidak terlalu brutal seperti garis dunia kami.



Di garis dunia ini sangat jarang terjadi kanibalisme galaksi dan Black Hole tersebar cukup jauh dari susunan Clueter Galaksi. Dark Matter juga tidak terlalu pekat sehingga kehampaan stabil, dan yang paling membuat garis dunia ini sempurna adalah pemuaian jagat rayanya sangat lambat sehingga akhir sangatlah lama.



Pada saat awal mula kemunculan makhluk berintelegensi yang akan menjadi Pemimpin di garis dunia ini, kami memutuskan untuk mengawasi dan membimbing mereka supaya garis dunia ini tidak berakhir seperti garis dunia kami. Memilih yang terbaik di antara mereka, kami memberikan masukan-masukan untuk membentuk peradaban yang baik dan benar. Meski begitu, sepertinya sifat berperang memang selalu ada dalam diri mereka yang memiliki pengetahuan. Keegoisan dan nafsu tidak bisa hilang.



Sudah beribu-ribu tahun sejak awal mula garis dunia ini kami bimbing. Tetapi pada sebuah titik yang bahkan kami tidak bisa prediksi, muncul sebuah penyimpangan. Seakan tanpa pemberitahuan sama sekali, jutaan bintang di jagat raya tiba-tiba kehabisan energi dan menjadi bintang mati. Matinya sebuah bintang sama saja dengan berakhirnya sebuah tata surya, dan berakhirnya beberapa tata surya di angkasa luar tersebut menciptakan puluhan Black Hole yang menelan tata surya lainnya layaknya sebuah domino.



Saat kami analisa kembali penyebabnya, ternyata itu terjadi karena garis dunia lainnya satu persatu sudah mulai musnah dan sampai di penghujung usia. Jutaan garis dunia, atau bisa disebut dunia paralel mulai mencapai akhir umurnya dan musnah. Kasusnya sama seperti musnahnya garis dunia kami dulu, habisnya sumber energi yang dengan cepat membuat sebuah jagat raya lenyap.



Alasan kami yang disebut Pihak Langit hanya tersisa beberapa saja adalah karena batas waktu yang tersisa sangat minim untuk membawa semua orang. Bahkan saat pertama kali datang ke garis dunia ini, bentuk kami hanya sebuah kotak besi mesin kalkulasi yang menyimpan 101 kesadaran dan kepribadian.



Itu terjadi sekitar seratus tahun yang lalu, akhirnya garis dunia ini pun mulai kehabisan energi. Penyebabnya hanya satu, yaitu karena energi itu terhisap oleh Black Hole dan terkirim entah ke tempat apa. Pada saat itu kami baru sadar bahwa semua ini hanyalah siklus. Layaknya malam berganti siang, musim yang silih berganti, orbit sebuah planet, kehidupan dan kematian. Fakta bahwa jagat raya dan semua dunia paralel juga memiliki sebuah siklus mutlak kami simpulkan secara paten.



Dunia akan direstart, kembali ke kehampaan dan dimuali lagi dari awal dari kehampaan. Layaknya awal mulai dunia yang tercipta dari ledakkan besar, energi yang diserap oleh para Black Hole dari semua garis dunia itu menuju satu titik, melewati waktu, ruang, dan bahkan semesta. Pada satu titik tersebut tempat berkumpulnya semua energi itu, terbentuk sebuah benih dunia yang akan meledak dan mekar menjadi jagat raya. Menurut sudut pandang kosmologi kami, benih tersebut adalah inti dunia berbentuk energi padat dan panas dari. Cikal bakal semesta yang nanti akan melalui Nukleosintesis bintang untuk membentuk unsur-unsur dunia secara bertahap.



Kami terlalu naif, kami kira bisa bertahan dengan ikut campur dan menetap di garis dunia lain. Ternyata ... semua itu percuma. Dari keputusan 101 anggota kami, dibuat sebuah ketetapan untuk bisa mempertahankan kesadaran ke dunia setelah kiamat yang akan datang itu.



“Berakhir seperti ini, lalu ... benar-benar lenyap tanpa diketahui oleh siapa pun sama saja tidak pernah ada, ya ....”



Pihak Langit langsung berpendapat seperti itu. Benar saja, ada dan lenyap tanpa diketahui oleh siapa pun sama saja tidak pernah ada. Kami pada akhirnya mencari cara dalam waktu yang terbatas untuk bisa bertahan. Pada ujung usaha, kami menemukan metode Pembekuan Mutlak untuk mengompres jiwa dan kepribadian dalam partikel kecil pada sebuah objek. Tetapi kami hanya bisa membawa satu jiwa dan kepribadian saja untuk dipertahankan melewati fase akhir dunia.



“Semua makhluk memiliki hak untuk bertahan.”



Menggunakan gagasan itu, kami mengambil keputusan untuk memberitahukan kenyataan pada para makhluk yang kami selama ini kami awasi dan bimbing. Mendengar fakta itu dan mendapat pengetahuan dari kami, mereka malah memberontak dan memulai perang melawat langit. Tujuan mereka satu, merebut metode Pembekuan Mutlak dan bertahan hidup menggantikan pihak langit. Mereka yang berada di daratan menggunakan pengetahuan yang ada dan merebut pengetahuan langit, menggunakannya, dan menyeret kami jatuh.



Peperangan terjadi di penghujung masa, layaknya sebuah Ragnarok yang telah ditakdirkan. Lalu, hasilnya adalah dunia saat ini. Tidak ada pemenang, hanya ada planet berdebu dan kosong. Manusia mati terbunuh perubahan iklim, pihak langit juga bernasib serupa. Yang tersisa hanyalah diriku ini dan pemuda yang beberapa hari lalu mati tertabrak hujan Komet yang menyasar ke bumi.



Alasanku bisa bertahan di tempat dengan iklim ekstern ini adalah karena diriku menggunakan rekayasa genetik untuk meningkatkan ketahanan tubuh. Ya, lagi pula tubuh ini pun tercipta dari manipulasi genetik dan bagiku hanya sebuah wadah. Hampir semua makhluk hidup yang bisa bertahan paling lama adalah mereka yang telah berubah gen dasarnya, sehingga tak perlu makan, minum, atau semacamnya. Hanya dengan terpapar matahari mereka akan mendapat makanan, layaknya tumbuhan yang berfotosintesis.



“Ah ..., sepinya,” keluhku seraya menyelonjorkan kaki. Tanpa memedulikan gaun dan jubah khusus anti terbakar ini kotor, aku benar-benar berbaring di atas tanah penuh debu dan abu orang mati.



Kalau tahu kesepian rasanya seperti ini, lebih baik aku ajak dulu pemuda itu supaya hidup lebih lama lagi. Kalau tidak salah, tubuhnya juga sudah ditingkatkan hampir setera pada tingkatku.



Berdiri dan membersihkan jubah toga, aku berbalik dan berjalan ke arah pintu masuk besi sebuah gua. Tempat itu adalah salah satu laboratorium pemuda itu, sebuah tempat untuk dirinya melakukan perlawanan terakhir terhadap akhir dunia. Menuruni tangga lempengan besi ke ruang bawah tanah tempat tersebut, aku sesekali menghela napas. Meski hampir tidak ada oksigen, aku tetap menghela napas dengan penuh rasa kesah.



Seraya berjalan, aku mengambil sebuah kubus hitam kecil dari saku. Ukurannya tidak lebih lebar dari telapak tangan dan berwarna hitam, tetapi yang pasti itu adalah benda dengan susunan struktur paling kompleks dan terkeras sejagat raya. Ya, benda itu adalah Pembekuan Mutlak yang diperebutkan semua makhluk. Dalam nama resmi, benda ini disebut Unsur Hitam karena juga memiliki hampir semua pengetahuan dunia.



Kebanyakan dari Pihak Langit salah paham dengan inti fungsi hanya bisa menyimpan satu jiwa dan kepribadian, mereka terlalu fokus untuk bertahan hidup dan tidak menyadarinya. Kalau hanya bisa menyimpan satu jiwa dan kepribadian, kenapa tidak ubah saja format jiwa dan kepribadian itu menjadi data layaknya informasi dunia yang tersimpan pada benda ini. Meski karena itu tidak ada jaminan kepribadian akan terjaga sempurna, tetapi paling tidak jiwa yang memang tidak bisa terbagi akan tetap bisa tersimpan dalam jumlah lebih dari satu.



“Mereka terlalu takut menghilang .... Karena itulah mereka sampai jatuh ke dalam peperangan, sungguh konyol. Apa kau setuju denganku, Nomor 101? Hah, tapi sungguh menyinggung sekali menamaimu dengan jumlah awal keseluruhan kami, ya .....”



Aku sampai di sebuah aula luas di ruang bawah tanah tersebut setelah melewati beberapa lorong panjang. Tempat itu penuh kabel, tabung-tabung prosesor dan layar panel yang terbuka berisi proses kalkulasi. Lampu tempat ini menyala dan sebuah kotak besi besar pusat semua kabel terlihat. Dia adalah salah satu peninggalan pemuda itu, dan juga harapannya.




“Mengutarakan, Owner tidak takut menghilang seperti kalian ....” Cahaya berkedip-kedip dari permukaan kotak besar tersebut saat mengeluarkan suara.



Ya, dia benar. Kami terlalu takut untuk menghilang, karena itulah kekacauan terjadi dan segala yang telah direncanakan hancur berantakan. Berjalan menghampirinya dan duduk di lantai seraya bersandar pada kotak besi keras itu, aku sesaat merasa lega.



“Haah ..., apa dia pikir bisa bertahan dengan besi semacam itu?”



“Menjawab, Owner tidak membuat ini, diriku yang membuat benda ini menggunakan alat-alat laboratorium ini yang masih bisa diakses.”



“Membuat? Aaah, kau sudah bisa menjarah sistem sampai ke luar, ya. Kalau begitu, apa kau tahu keadaannya ... dan keadaannya sekarang.”



“Tidak, aku tidak tahu keadaan Owner.”



“Jangan bohong.”



“Menyatakan, Program tidak bisa bohong. Owner meninggalkan sistem mutlak yang membuat diriku tidak bisa mendeteksinya saat di luar ruangan ini. Jadi sekuat apa aku mencarinya, diriku tidak akan bisa menemukannya .... Hanya tanda-tanda apa yang telah dilakukan Owner saja yang bisa kuketahui.”



Ah, begitu rupanya. Pemuda itu ... dia benar-benar merencanakan semua ini. Tapi saat aku longok pikirannya, kenapa dia tida— Ah, dia menghapus ingatannya sendiri rupanya.



“Jelas saja aku tidak tahu tempat ini sebelum memindai semua planet ini. Untung saja aku bisa menemukanmu, dengan ini sepertinya rencana pemuda itu tidak akan berjalan lancar. Tch! Aku benar-benar tertipu ....”



Tetapi ini rasanya melegakan. Mempercayakan selanjutnya pada pemuda itu kurasa tidaklah buruk juga .... Lagi pula, dia itu adalah .....



“Apa kau ingin menghalangi Owner, wahai Dewi?”



“Tentu saja tidak ....” Aku bangun, lalu berbalik dan menyentuh permukaan dingin bongkahan besi itu seraya berakta, “Aku ingin bekerja sama dengannya. Dengan ini, mungkin kita bisa meninggalkan jejak di dunia setelah kiamat ....”



Aku mengambil kabel Relavital dari saku, lalu memasangkannya ke alat konektor pada sumsum tulang belakangku yang terletak di punggung atas. Aku menyambungkannya pada Nomor 101. Hanya dengan menempelkan colokan pada permukaan bongkahan logam itu, aku langsung terhubung dengannya.



“Perubahan bentuk ke informasi, pengataran dasar sampai akhir dimuali. Perubahan data dimulai!”



Aku memulai proses perubahan jiwa dan kepribadianku menjadi hanya sebuah data. Kehendak diriku mulai terkikis dan kesadaran semakin memudar. Dengan sangat jelas penyalinan dataku ke dalam Nomor 101 itu benar-benar berlangsung.



“Wahai Dewi ..., kau sungguh-sungguh ingin melakukan itu?”



“Ya ....”



Aku meletakkan Unsur Hitam ke atas bongkahan besi itu. “Di dalam sana ada Owner-mu. Masuklah ke dalam dan bawa aku .... Kita akan menjadi satu dan menemaninya di dunia berikutnya. Yah, mungkin ... aku bakal terlempar dari situ saat semuanya dimulai, sih.”



“Baiklah ...,” jawabnya setelah sesaat terdiam. Ternyata mesin juga bisa ragu, alat buatannya memang berbada ....



A.I itu pun melalukan apa yang aku minta darinya. Setelah kesadaranku masuk sepenuhnya ke dalam dirinya dan berubah menjadi hanya sebuah data, Ia masuk ke dalam Unsur Hitam dan membaur menjadi informasi dunia di dalam sana bersama pemuda yang menjadi penciptanya tersebut.



Itulah awal dari perjalanan kami melewati siklus dunia. Tetapi memang layaknya dunia selalu tidak sesuai harapan, keinginan kecil untuk memiliki menjadi pendampingnya tidak bisa kucapai. Aku terlempar dari mereka dan jiwaku kembali utuh saat Dunia tercipta kembali.



Pemuda yang hidupnya sudah kuhancurkan dan kuubah menjadi abadi itu seakan tidak mengizinkanku untuk bersamanya. Saat pertama kali melihatnya dari langit, aku sudah menyukainya, aku ingin membawanya. Tetapi karena cara yang dilakukan sangatlah salah, aku malah mengacuhkan kehendaknya dan seenaknya menjadikan pemuda itu berumur panjang.



Beberapa ratus tahun berlalu sejak pertemuan di halte itu, tak bisa kusampaikan padanya. Setiap kali bertemu ia hanya memberikan tatapan tajam karena dendamnya padaku. Sesal menghantui sampai sekarang, andai saja melakukan hal berbeda itulah yang selalu terngiang dalam benak.



Kenapa aku harus membacoknya dengan kapak berisi informasi pengabadian saat itu? Andai aku bisa lebih baik .... Tidak, entah apapun yang kulakukan pasti akhirnya sama ....



Karena itu, paling tidak aku minta pada sosok yang diciptakannya untuk menyampaikan pesanku. Aku ingin tahu kalau makhluk menyedihkan ini pernah ada dan mencintainya. Aku ingin minta maaf, aku ingin dia di sisiku. Tetapi kuharap, dia melupakanku. Karena itulah diriku memintanya untuk menghilangkan sebagian ingatan pemuda itu, berharap supaya ia bisa bahagia di kesempatan selanjutnya.



Meski aku tidak menjadi satu dengannya, tetapi paling tidak aku bisa pergi ke dunia setelah ini dan hidup untuk mengawasinya lagi dari tempat yang jauh. Kalau melihat cara pandangnya, mungkin aku hanya seorang penguntit menyebalkan. Tetapi, sungguh aku berhadap untuk kebahagiaanmu.



Antequam Aurora .... Semoga kau menemukan cahaya di sana .....



====================================



Update sebelum mudik:v



Dipenuhi misteri kembali sebelum benar-benar masuk ke Arc 02



Oh iya, kalau ada yang mau lihat ilustrasi seri ini atau gambar-gambar dan penjelasan lainnnya, kalian bisa datang ke laman FB Re:START/if ini di



https://www.facebook.com/Kenikmatan77/




See You Next Time!!