Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 33: Sesuatu yang tak jauh dari tempatnya (Part 01)



Tempat itu terasa begitu nostalgia baginya, sebuah hamparan tanah berdebu dengan bukit-bukit bebatuan kasar kemerahan tersebar bagaikan sebuah labirin yang menyesatkan — setiap orang yang berjalan di dalamnya dan memerangkap mereka dalam satu tempat abadi itu. Odo berdiri di atas salah satu bukit batu dari tempat berdebu itu, menatap ke dalam jalan di antara tebing sepi dan sempit di bawah sana dengan sorot mata datar.


 


 


Suara yang entah milik siapa memanggil anak itu, membuatnya menoleh dan melihat ke sumber suara. Di sana tidak terlihat seorang pun berdiri, sebagai gantinya sebuah gumpalan hitam seperti asap kental melayang-layang di sana. Gelap pekat, kusam dan abstrak, asap itu hidup, bergerak dan mulai mendekati Odo. Membentuk sebuah tangan dan menyentuh pipi dengan lembut, sekilas suara berbisik kepadanya.


 


 


“Akhirnya kita akan segera berjumpa lagi ..., wahai yang diriku cintai. Kali ini ... kesalahan tidak akan terulang lagi ..., Infinity akan berkahir, dunia yang hanya ada satu dan nol telah hilang saat itu .... Posisi langit dan daratan telah terbalik sejak itu.”


 


 


Asap itu menjauh, membentuk sebuah tubuh perempuan yang hanya terbuat dari asap dan terlihat sangat abstrak. Itu terasa tidak asing bagi anak itu, membuatnya terheran dan tanpa sadar mengulurkan tangan seakan menginginkannya. Tetapi sebelum bisa menyentuh wujud abstrak tersebut, tiba-tiba tempat Odo berdiri sepenuhnya berubah menjadi putih.


 


 


Polos, entah itu langit-langit atau lantai, semuanya putih tanpa ada noda warna lain atau benda. Itu berbeda dengan Alam Jiwa yang Odo ketahui, terasa lebih hampa dan sangat sepi. Merasakan hawa keberadaan yang berbeda berbeda dari belakang, anak itu menoleh dan melihat sosok perempuan rambut hitam tersenyum manis ke arahnya. Odo tidak mengenalnya atau merasa ingat dengan sosok tersebut, benar-benar terasa asing dan sedikit membuatnya merasa merinding.


 


 


Berbeda dengan sosok sebelumnya, itu terlihat sangatlah jelas. Perempuan rambut hitam bergaun putih itu menatap dan dengan jelas Odo dapat melihat wajahnya. Tetapi saat perempuan itu membuka mata, ia terbelalak karena perempuan itu tidak memiliki bola mata dan hanya ada lubang mata kosong penuh kegelapan pekat. Itu sesaat membuat Odo gemetar, tetapi rasa itu hilang dengan cepat saat mendengar suara sendu perempuan itu.


 


 


“Hiks .... Hiks, hiks ...,” tangis perempuan itu dengan pelan, terasa seakan meresap ke dalam dada Odo dan membuatnya merasa empati.


 


 


Dari lubang tanpa bola mata perempuan itu, air mata yang terbuat dari lelehan cair seperti timah mengalir keluar, menetes ke lantai dan langsung menguap. Tak merasa takut sedikit pun, Odo malah penasaran dan berjalan mendekati perempuan itu. Menyentuh pipinya, ia hendak berkata. Tetapi, suara tak bisa keluar dari mulut dan tenggorokkan terasa kering. Itu seperti ada sesuatu yang mencekik lehernya dan tidak membiarkan anak itu berbicara.


 


 


Perempuan tanpa bola mata itu mengangkat wajah, seakan menatap Odo dengan lobang mata penuh kegelapan miliknya. Balik menyentuh pipi Odo, perempuan itu berkata, “Apa kamu tak takut meski diriku seperti ini?” Pertanyaan itu ingin dijawab anak lelaki itu, tetapi suara tetap tak bisa keluar dari mulutnya.


 


 


“Begitu, ya .... Kamu memang ....”


 


 


Perempuan itu tiba-tiba menghilang dari hadapan Odo. Ruang putih itu berubah dengan cepat menjadi kehampaan gelap, tanpa cahaya dan membuat napas anak itu terasa sesak. Merasakan sensasi seakan tenggelam dalam beberapa detik, Odo terjatuh pada pemukaan keras dan semuanya tiba-tiba berubah menjadi biru langit. Di tempat tersebut ada seseorang yang menunggunya, bukan perempuan tetapi sosok berlapis zirah setinggi dua meter dari atas sampai bawah.


 


 


Sosok berzirah itu berjalan cepat ke arah Odo dan sebelum anak itu bangun, ia menusuk Odo dengan pedang tepat pada bagian dada. Itu tidak terasa sakit, malah terasa hangat sampai ke seluruh tubuh. Penutup wajah helm besi sosok berzirah perak itu perlahan terbuka, melihat matanya Odo seakan tertarik masuk oleh kegelapan pekat dan—


 


 


Bruk!!


 


 


Odo jatuh dari atas tempat tidur. Dengan bingung ia berkedip-kedip, berusaha memahami situasi yang ada. Bangun dan melihat Daniel dan Firkaf yang tidur tidak karuan di atas ranjang, Odo sedikit menyipitkan mata. Mereka berdua saling menendang wajah, kaki di kepala dan kepala di kaki. Melihat anak-anak itu, Odo langsung paham kalau apa yang dilihatnya tadi itu hanyalah mimpi.


 


 


“Padahal kendali sihirku hampir semuanya kembali berkat Auto Senses membujuk Seliari, tapi sekarang malah mimpi aneh lagi .... Apa-apaan tadi, kenapa aku juga harus ditusuk seperti itu di dalam mimpi?” gumam anak rambut hitam itu.


 


 


Menghela napas ringan, ia memasang wajah sedikit kewalahan dengan apa yang ada di hadapannya. Meski dirinya yang meminta kepada Siska untuk menginap untuk beberapa hari di Panti Asuhan Inkara, tetapi tetap saja memang Odo tidak bisa istirahat dengan kedua anak yang tak bisa tenang saat tidur itu.


 


 


Berbalik dan melangkahkan kaki ke arah pintu, Odo pada akhirnya keluar dari kamar dan berjalan di lorong. Anak itu menuju ke belakang, ke dapur untuk mencari tempat yang bisa digunakan untuk tidur. Saat melewati ruang makan, terlihat Siska dan Fiola yang tidur di kursi. Meja di depan mereka penuh dengan lembaran-lembaran berkas yang Odo pasrahkan pada mereka, itu tanda kalau kedua orang itu mengerjakan tumpukan pekerjaan itu sampai tertidur di tempat duduk.


 


 


“Ah, rasa berasalah apa ini?” gumam anak itu.


 


 


Berusaha tidak memikirkannya lebih lanjut, Odo membuka pintu dapur dan hendak mencari ruang untuk bisa tidur. Tetapi saat melihat ke arah tumpukkan karung tepung setinggi dua tumpuk di sudut dapur, terdapat Nanra yang tidur di atasnya dengan selimut dan bantal yang gadis itu bawa dari kamarnya, menjadikan karung-karung tepung itu sebagai tempat tidurnya.


 


 


Sekilas Odo melihat betis gadis rambut putih itu yang sedikit terbuka, merasa sedikit aneh ia pun berjongkok di dekat Nanra dan membuka gaun Nanra untuk melihat lebih jelas. Sebuah bekas luka ada pada betis gadis itu, seperti bekas rantai borgol dan sayatan benda tajam. Odo kurang lebih tahu sumber bekas luka tersebut, kembali menutup gaun gadis itu ia pun menghela napas ringan.


 


 


“Odo ..., sedang apa kamu?” tanya Nanra. Gadis itu ternyata masih bangun, menatap Odo dengan heran dan sedikit menyipitkan mata.


 


 


“Ah ....”


 


 


Odo hanya bisa terdiam, situasi yang ada sangatlah mengundang kesalahpahaman dan ia benar-benar terlihat seperti sedang ingin berbuat yang tidak-tidak kepada Nanra. Gadis itu segera bangun dan duduk menjauh, menarik kain selimut sampai setinggi dada dan menatap Odo dengan sedikit hina.


 


 


“Tunggu, kenapa kau menatapku seperti itu? Nanra, asal kau tahu ini tidak seperti yang kau pikirkan ....”


 


 


“Eng ..., memangnya untuk apa kamu datang malam-malam ke dapur dan mengintip ke dalam gaunku seperti itu saat aku sedang tidur?”


 


 


“Itu ... bekas luka di kakimu, aku sedikit penasaran jadinya ....”


 


 


Nanra terkejut mendengar itu, ia segera memasukkan kedua kakinya ke dalam selimut dan semakin meringkuk di atas tumpukan karung tepung. Menatap datar Odo, gadis itu pun bertanya, “Kenapa kamu belum tidur? Apa tidak betah? Apa seburuk itu tempat tidur tempat ini?”


 


 


“Bukan itu.” Odo menggelengkan kepala, memasang wajah sedikit enggan sembari mengingat dua anak di kamar tadi yang tidur tidak karuan, ia berkata, “Hanya saja mereka berdua ....”


 


 


“Ah, Daniel dan Firkaf tidurnya kacau, ya.”


 


 


“Apa kau tidur di sini karena alasan serupa?”


 


 


“Hmm, Mila dan Erial tidurnya seperti pengulat, main tendang pukul sana sini tidak karuan. Kurasa hanya Kak Nesta yang bisa tidur dengan mereka ....”


 


 


Odo tersenyum ringan karena alasan Nanra tidur di dapur tidaklah seburuk yang dirinya perkirakan. Bangun dan ikut naik ke tumpukan karung tepung, anak itu ikut masuk ke dalam selimut Nanra seraya berkata, “Kalau begitu, aku numpang tidur bareng di sini, ya. Gak ada tempat lain sih kayaknya ....”


 


 


Nanra sedikit bergeser, memberi tempat untuk Odo dan sedikit tersipu malu saat anak lelaki itu tiba-tiba masuk ke dalam selimutnya. Duduk bersebelahan dan bersender pada tembok di belakang mereka, Nanra dan Odo sesaat terdiam canggung dan tidak bisa memejamkan mata sedikit pun.


 


 


“Kenapa juga kamu menginap di tempat ini lagi? Kemarin-kemarin kamu tidur di penginapan, ’kan?” tanya Nanra.


 


 


“Ah, itu ... anggap saja aku terkena pengeluaran yang tak terduga.”


 


 


Odo sedikit memalingkan pandangan. Melirik datar gadis itu, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari Nanra. Kornea mata anak lelaki itu sekilas berubah warna, menganalisis perubahan tersebut dan memasukannya dalam aliran kalkulasi pasif dalam susunan Auto Senses.


 


 


“Hmm, apaan alasan itu .... Dan juga, untuk apa kamu menginap di kota ini? Bukannya lebih nyaman tidur di ranjang Mansion-mu? Tak perlu merasa kedinginan atau sesak-sesak seperti ini?” tanya gadis itu, ia menoleh ke arah Odo dan menatap lurus dengan mata violetnya. Itu terasa aneh bagi anak lelaki itu mendapat tatapan seperti itu, dalam benak terasa sesuatu yang belum pernah dirasakan seperti tak ingin terlihat menyedihkan atau manja di depan gadis itu.


 


 


“Tidur, ya ....” Odo berhenti melirik, melihat ke arah meja dapur dan perlahan ke arah perapian yang juga biasa digunakan sebagai oven untuk memanggang roti. Baru sadar kalau hawa dingin yang seharusnya ada tidak terlalu terasa, ia sedikit memasang tatapan gelap dan menyelonjorkan kakinya sampai keluar dari selimut. Hal itu bukan karena selimut yang dikenakan, melainkan memang hawa sekitar perlahan mulai naik karena beberapa alasan.


 


 


“Apa itu ulah naga itu lagi? Dia mengakses Inti Sihirku, ya?” benak Odo.


 


 


 


 


Menoleh ke arah gadis itu, Odo paham kalau ia tidak merasakan perubahan suhu dan mungkin hanya anak lelaki itu sajaklah yang mengalami perubahan suhu dari dalam. Mengalihkan pikiran dari hal tersebut, anak rambut hitam itu menjawab, “Belakangan ini aku jarang sekali tidur. Meskipun tidur, pasti mimpi aneh menghampiriku.” Odo mendongak ke atas, melihat langit-langit dan terlihat sedikit gelisah akan sesuatu.


 


 


“Mimpi aneh apa?”


 


 


“Entahlah, aku tidak tahu,” ucap Odo. Balik menatap Nanra, anak lelaki itu tersenyum kecil dan berkata, “Sudahlah, pejamkan mata dan tidur ....”


 


 


Nanra mengangguk, sedikit mendorong anak lelaki itu dan mulai mengubah posisinya. “Odo, bisa geser sedikit?” pinta Naran.


 


 


“Eh? Udan pojok, nih.”


 


 


“Aku mau berbaring .... Aku tidak bisa duduk tidur.”


 


 


Mengubah posisi, Nanra membaringkan kepalanya di atas pangkuan Odo. Meski tidak menghadap ke arahnya, tetapi rambut belakang gadis itu menyentuh bagian paling sensitif Odo dan membuatnya tidak bisa tenang. Itu lebih mengganggu daripada Daniel dan Firkaf yang tidur tidak karuan, membuat anak lelaki itu tidak bisa memejamkan mata dan menatap datar gadis yang malah tanpa rasa bersalah mulai tidur nyenyak.


 


 


Beberapa jam berlalu dan tak terasa hari sudah mulai pagi. Remang-remang cahaya masuk melalui ventilasi udara di dapur, menandakan hari yang datang tidaklah mendung seperti kemarin-kemarin. Menepuk-nepuk tubuh Nanra, Odo berkata, “Bangun, oi! Sudah pagi ...!”


 


 


“Eng, diamlah ...!” Nanra melindur dan mengayunkan tangan kanannya ke belakang, tanpa sengaja mengenai mulut Odo dengan keras dan membuat bibirnya sedikit berdarah.


 


 


“Uch ...! Kenapa anak-anak di tempat ini kalau tidur gak karuan ....”


 


 


Dalam beberapa detik, luka pada bibir anak lelaki itu tertutup kembali dan benar-benar hilang. Sedikit meresa kesal, Odo memaksa berdiri dan membuat Nanra menggelinding jatuh dari atas tumpukan karung. Suara benturan cukup nyaring terdengar, gadis itu pun segera bangun dengan sedikit kesakitan dan menatap sipit Odo.


 


 


“Kejamnya .., kamu benar-benar tak tahu cara memperlakukan wanita dengan baik, ya? Apa kamu sungguh-sungguh lahir dari keluarga bangsawan?”


 


 


“Wanita?” Odo mengangkat sebelah alisnya, lalu berkata, “Yang ada di hadapanku hanya bocah yang kalau tidur air liurnya luber kayak bendungan bocor, kok.”


 


 


Melihat ada air liur yang masih segar di celana hitam Odo, Nanra segera membersihkan liur pada mulutnya sendiri dengan wajah tersipu malu. Ia terbungkam, tidak bisa berkata apa-apa lagi dan memalingkan wajah. Menghela napas ringan, Odo segera mengambil selimut dan menyeka air liur yang ada di celananya.


 


 


“Maaf ....”


 


 


“Kalau kau menyesal, lebih baik benahi dulu tata cara bicaramu itu,” ucap Odo. Selesai membersihkan air liur, anak lelaki itu menatap datar dan berkata, “Kau tahu, Nanra .... Sikap seseorang bisa berubah dari cara mereka berbicara. Meski kau merasa cara bicaramu itu dewasa, nyatanya itu hanya ucapan keras kepala anak-anak. Kau bahkan lebih kekanak-kanakan daripada Daniel ....”


 


 


“Aku bukan bocah!” bantah Nanra dengan wajah memerah kesal.


 


 


“Kau bocah .... Bocah yang pandai, tetapi tak mau berpikir lebih keras atau menggunakan kepala sebelum bertindak.” Odo sedikit mengangkat dagu, menatap rendah dengan sinis dan bibirnya sedikit terangkat sebelah dengan penuh rasa kesal.


 


 


“Apa ... kamu masih marah soal kejadian itu?” tanya gadis itu sedikit ragu.


 


 


“Masih marah?” Kedua alis Odo berkedut. Melihat Nanra sama sekali tidak memahami kesalahannya dan tidak merasa bersalah soal itu, Odo berkata, “Asal kau tahu, aku tidak pernah satu detik pun memaafkanmu. Lagi pula, kau bahkan belum meminta maaf soal itu ....”


 


 


“Aku ...!!” Nanra terhenti, ia menundukkan kepala dan tak jadi berbicara.


 


 


“Aku, apa?” tanya Odo tegas. Tetapi, gadis itu sama sekali tidak menjawab dan hanya memalingkan wajahnya dengan murung.  Mendapat reaksi seperti itu, Odo berkata, “Nanra, aku paham kau benci pada bangsawan dan aku juga mengerti alasannya. Tetapi, aku ingin kau tahu kepada siapa seharusnya kau membenci ....”


 


 


“Apa ... maksudmu, Odo? Memangnya apa yang kau tahu dariku ...?”


 


 


“Memangnya apa yang ayahku lakukan padamu?” tanya balik Odo. Menatap tegas gadis itu, ia kembali bertanya, “Meski secara tidak langsung, Dart Luke adalah sosok yang menyelamatkanmu, bukan? Lantas apa yang membuatmu membencinya? Apa yang membuatmu membenci para bangsawan?”


 


 


“Mereka tidak becus ...!! Karena mereka ... desaku dan kedua orang tuaku ....”


 


 


“Yang membunuh mereka dan membakar desamu adalah para bandit, tolong jangan salah membenci seperti itu,” tegas Odo.


 


 


Mendapat perkataan seperti itu, Nanra hanya dapat menundukkan kepala dan tidak bisa berargumen. Gadis itu sangatlah sadar akan hal tersebut dari dulu, tetapi hanya dengan membenci para bangsawan ia bisa melangkah ke depan dengan menggunakan alasan seperti itu. Gadis itu hanya bergantung pada alasan tersebut, bermanja menjadi seorang korban menyedihkan untuk mendapat alasan tetap hidup. Karena berbeda dengan anak-anak lainnya yang memiliki cita-cita kuat kelak saat dewasa, gadis bernama Nanra itu sama sekali tidak memiliki hal semacam itu.


 


 


Menghela napas ringan, Odo menatap kesal dan berkata, “Aku tahu kau sangatlah pandai, jadi jangan pelihara sifat bodohmu itu dan cobalah lihat kenyataan. Jangan kecanduan delusi seperti itu ....”


 


 


Odo beranjak dari tempat, sedikit merapikan pakaian dan meloncat turun dari atas karung tepung. Saat sampai di pintu dapur, anak itu terhenti sesaat dan menoleh sekilas. “Jangan murung seperti itu, pikirkan saja itu kalau ada waktu .... Bisa saja jawaban itu adalah benar nantinya,” ucap Odo dengan senyuman tipis.


 


 


Perkataan itu terasa aneh dalam benak Nanra. Duduk di atas tumpukan karung tepung, gadis itu menundukkan kepala dan sedikit merenung setelah Odo keluar dari dapur. Apa yang dikatakan anak lelaki terasa benar dalam benak Nanra, karena itulah dirinya merasa tak ingin menerimanya secara langsung. Saat menerima perkataan Odo, itu sama saja Nanra menganggap setelah kehilangan kedua orang tuanya salah total.


 


 


“Kenapa sih dia .... Kenapa bisa sok tahu seperti itu, menceramahiku seperti itu .... Memangnya siapa yang lebih tua, padaha—”


 


 


“Nanra?” Siska masuk ke dapur, melihat ke arah gadis itu dengan sedikit heran. Tersenyum tipis, ia lanjut berkata, “Bisa bantu Kakak menyiapkan sarapan? Hari ini giliran Kakak dan kamu, ‘kan?”


 


 


Melihat perempuan rambut pirang yang masih mengenakan tunik yang sama dengan kemarin, sekilas Nanra tersenyum dan berhenti memikirkan perkataan Odo sebelumnya. Tanpa sadar gadis itu mengikuti perkataan anak lelaki itu untuk menunda memikirkan hal-hal seperti itu.


 


 


“Ya, Kak Siska .”


 


 


Gadis itu bangun dari atas tumpukan karung tepung, lalu mulai membantunya seperti apa yang Siska minta. Apa yang mereka buat tidak terlalu berbeda dengan hari-hari biasanya, sebuah roti yang dibuat dari adonan tepung yang diolah dengan tangan dan lauk berupa sup sayur dengan suiran daging.


 


 


Nanra mulai menyiapkan kayu bakar dan menyalakan perapian, sedangkan Siska mulai mengambil tepung dari karung yang telah terbuka dan mulai membuat adonan untuk membuat roti. Pada momen sederhana itu, Siska merasa ada sedikit yang berubah dari gadis itu. Sempat melihat Odo keluar dari dapur tempat Nanra tidur, biarawati tersebut sempat ingin menanyakan hal tersebut tetapi tak jadi setelah melihat senyum yang jarang terlihat pada raut wajah gadis rambut putih tersebut.